Saturday, February 23, 2013

Thought for the Day - 22nd & 23rd February 2013

Date: Friday, February 22, 2013

The greatest obstacle in the path of surrender is egoism (ahamkaram) and Attachment or Possessiveness (mamakaram). This is ingrained in your personality since ages and its tentacles go deeper and deeper with the experience of every succeeding life. It can be removed only by the twin detergents of discrimination and renunciation. Devotion is the water to wash away this dirt of ages, and the soap of japam, dhyaanam and yoga (repetition of God's name, meditation and communion) will help to remove it quicker and more effectively. Slow and steady progress will surely win the race in this one; quicker means of travel can spell disaster. Proceed step by step in your spiritual practices - placing one steady step before you take the next. Do not waver or slide back two paces with one step forward. Cultivate deep faith - that will make your progress steady!

Hambatan terbesar dalam surrender  (pasrah total) adalah egoisme (ahamkaram) dan kemelekatan atau posesif (mamakaram). Hal ini sudah mendarah daging dan mengakar dalam kepribadianmu sejak zaman dahulu kala dengan keberhasilan kehidupan yang engkau alami. Hal ini hanya dapat dibersihkan dengan deterjen kembar yaitu diskriminasi dan renunciation (melepaskan kehidupan duniawi). Pengabdian (bhakti) adalah air yang digunakan untuk membersihkan kotoran pada zaman ini, sabunnya adalah japam, dan dhyaanam serta yoga yang akan membantu untuk membersihkannya lebih cepat dan lebih efektif. Kemajuan yang mantap secara perlahan-lahan pasti akan memenangkan hambatan ini; artinya dengan cara lebih cepat dapat mengatasi segala cobaan. Engkau hendaknya meneruskan langkah demi langkah dalam praktek spiritualmu - ambillah satu langkah yang mantap sebelum engkau mengambil langkah berikutnya. Janganlah goyah atau tergelincir dua langkah dari satu langkah maju yang telah dilakukan. Kembangkanlah keyakinan yang mendalam - yang akan membuat kemajuan langkah spiritualmu lebih mantap!
-BABA

Date: Saturday, February 23, 2013

Have you not heard the story of the lion suffering from a wound in the foot? A slave who was fleeing through the forest saw it and when he approached it with sympathy, the lion put out its paw. He then slowly pulled out the thorn that had caused all that pain and left the place, only to be arrested later and taken to Rome. There, they decided to throw him into the amphitheatre and let loose upon him a lion that had been recently captured. It was, however, the same lion which the slave had saved and so, its gratitude did not allow it to harm its saviour. See, even animals exhibit gratitude, not only the pet animals, but even the wild ones like the lion. Express your gratitude to the Creator who has poured into you nectar that grants immortality! Be grateful to the Lord for endowing you with powers of discrimination, detachment and evaluation.

Apakah engkau tidak pernah mendengar kisah penderitaan singa yang terluka kakinya? Seorang budak yang melarikan diri melalui hutan melihatnya dan ketika ia mendekati singa tersebut dengan penuh simpati, singa itu kemudian memberikan kakinya. Dia kemudian perlahan-lahan mengeluarkan duri yang telah menyebabkan semua rasa sakit dari singa itu dan meninggalkan tempat itu, selanjutnya ia ditangkap kemudian dibawa ke Roma. Di sana, mereka memutuskan untuk melemparkannya ke amphitheater (gedung pertunjukan) dan membiarkannya dengan seekor singa yang telah ditangkap baru-baru ini. Ternyata disana ada singa yang sama yang telah diselamatkannya dan singa tersebut berterima kasih kepadanya dengan tidak menyakiti sang juru selamatnya. Lihatlah, bahkan hewan mampu memperlihatkan rasa terima kasih, tidak hanya hewan peliharaan, tetapi bahkan hewan liar seperti singa. Engkau hendaknya mengucapkan rasa terima kasih-mu kepada Sang Pencipta yang mana Beliau telah memberkati kita dengan nektar keabadian! Bersyukurlah kepada Tuhan karena Beliau memberkati engkau dengan kekuatan diskriminasi, tanpa kemelekatan, dan evaluasi.
-BABA


No comments:

Post a Comment