Sunday, May 10, 2015

Thought for the Day - 10th May 2015 (Sunday)

It is an arduous process for people to become aware of the ‘One’ that is their core. The gross body is the product of the food consumed. But within, there is a subtler force, an inner vibration named vital air (prana). The mind (manas) within is subtler still, and deeper and subtler than the mind is the intellect (vijnana). Beyond the intellect, people have in them the subtlest sheath of spiritual bliss (ananda). When one delves into this region of spiritual bliss, the reality, the Brahman or the One can be experienced. That awareness is indeed the most desirable. In the Taittiriya Upanishad, while teaching his son Brighu the Brahman phenomenon, Varuna says, “Son! Brahman cannot be seen through the eyes. Know that Brahman is that which enables the eyes to see and the ears to hear. He can be known only through extreme yearning in a cleansed mind and concentrated thought. No other means can help.”

Adalah proses yang sulit bagi orang-orang untuk menyadari 'Yang Esa' yang merupakan inti mereka. Badan kasar merupakan produk dari makanan yang dikonsumsi. Tetapi di dalamnya, ada kekuatan halus, getaran batin yang disebut udara (prana). Pikiran (manas) berada di dalamnya, dan lebih dalam dan lebih halus dari pikiran adalah intelek (vijnana). Melampaui intelek, orang-orang memiliki selubung yang paling halus yaitu kebahagiaan spiritual (ananda). Ketika seseorang menyelidiki wilayah kebahagiaan spiritual ini, realitas, Brahman, atau Yang Esa dapat dialami. Kesadaran inilah yang paling diinginkan. Dalam Taittiriya Upanishad, saat mengajar anaknya Brighu perwujudan Brahman, Varuna mengatakan, "Anakku! Brahman tidak dapat dilihat melalui mata. Ketahuilah bahwa Brahman adalah yang memungkinkan mata untuk melihat dan telinga untuk mendengar. Dia bisa diketahui hanya melalui kerinduan yang mendalam pada pikiran yang murni dan penuh konsentrasi. Tidak ada cara lainnya yang bisa membantu. (Sutra Vahini, Ch 2)

-BABA

No comments:

Post a Comment