Wednesday, February 1, 2017

Thought for the Day - 31st January 2017 (Tuesday)

The root cause of all trouble is the uncontrolled, ill-directed mind. Like when the river Godavari is in floods, it rolls along, causing slips and slides, and devastates vast areas on both banks. Discriminatory wisdom (Viveka) and non-attachment (Vairagya) are the two bunds which tame the mad energy of the flood and lead the raging waters into the sea, which is, after all, the destination the waters seek. How can they be implanted? By the first three primary goals of life: righteousness, wealth, and desire-fulfillment (dharma, artha, and kama). The practice of dharma is the art of living. No attempt need be made to run away from the duties of one’s station and status. Remember, those duties have to be done as worship, as offerings of one’s intelligence, skill, qualities, thoughts and feelings to the feet of the Lord in a spirit of thankfulness for the chance given, without a trace of egoism or a sense of attachment to the fruits of the actions.


Akar penyebab dari semua masalah adalah tidak terkendali dan salah arahnya pikiran. Seperti halnya ketika sungai Godavari mengalami banjir maka sepanjang aliran airnya menyebabkan dan menghancurkan daerah yang luas di kedua tepinya. Kebijaksanaan dalam membedakan yang baik dan buruk (Viveka) dan tanpa keterikatan (Vairagya) adalah dua tanggul yang menjinakkan energi banjir yang mengamuk dan mengarahkan terjangan air yang deras itu menuju ke laut, yang merupakan tujuan dari semua aliran air. Bagaimana Viveka dan Vairagya dapat ditanamkan? Dengan tiga tujuan utama dari hidup: kebajikan, kesejahteraan dan pemenuhan keinginan (dharma, artha, dan kama). Menjalankan dharma adalah seni dalam hidup. Tidak ada usaha yang perlu dilakukan untuk menghindar dari kewajiban dan status seseorang. Ingatlah, kewajiban tersebut harus dijalankan sebagai ibadah, sebagai persembahan dari kecerdasan, keahlian, kualitas, pemikiran, dan perasaan seseorang di kaki Padma Tuhan dalam semangat rasa bersyukur atas kesempatan yang diberikan tanpa adanya jejak ego atau rasa keterikatan pada hasil dari perbuatan. (Divine Discourse, Apr 23, 1961)

-BABA

No comments:

Post a Comment