Sunday, September 2, 2018

Thought for the Day - 29th August 2018 (Wednesday)

Think deeply over the functions of a place of worship, say, the temple. Temples are centres of discipline, where the aspirant is guided step by step to attain a vision of the Truth. They are schools for the training of the spirit, academies for the promotion of scriptural studies, institutes of super-science, and laboratories for the testing of the values of life. They are hospitals for the treatment and cure not only of the ‘birth-death disease’, which has persisted in the individual for ages, but even the much more potent mental disorders that trouble those who do not know the secret of acquiring peace. Temples are gymnasia where people are reconditioned and their hesitant faith, waning conviction, and upsurging egotism are all cured. Temples are mirrors that reflect aesthetic standards and achievements. The purpose of the temple is to awaken the divinity in humanity, and to induce people to believe that the physical frames in which they live are themselves houses of God.


Pikirkan dengan lebih mendalam fungsi dari tempat ibadah, katakanlah tempat suci. Tempat suci adalah pusat dari disiplin, dimana peminat spiritual dituntun langkah demi langkah untuk mencapai sebuah pandangan kebenaran. Tempat suci adalah sekolah bagi jiwa, akademi untuk peningkatan pembelajaran naskah suci, Lembaga dari pengetahuan - super, dan laboratorium untuk menguji nilai kehidupan. Tempat suci adalah rumah sakit untuk penanganan dan penyembuhan tidak hanya untuk penyakit kelahiran-kematian yang ada pada individu begitu lama, namun bahkan lebih banyak gangguan jiwa yang kuat yang mengganggu mereka yang tidak mengetahui rahasia dalam mendapatkan kedamaian. Tempat suci adalah tempat olahraga dimana orang-orang diperbaharui dimana semuanya disembuhkan seperti keyakinan mereka yang bimbang, pendirian yang goyah serta ego yang meningkat. Tempat suci adalah cermin yang memantulkan standar estetis dan pencapaian. Tujuan dari tempat suci adalah untuk membangkitkan keilahian dalam diri manusia, dan juga meyakinkan manusia untuk percaya bahwa wujud fisik dimana mereka hidup adalah rumah Tuhan. [Dharma Vahini, Ch 10, The House of God]

-BABA

No comments:

Post a Comment