Wednesday, March 11, 2020

Thought for the Day - 11th March 2020 (Wednesday)

Devotees should consider the body as the field and good deeds as seeds and cultivate the name of the Lord, with the help of the heart as the farmer, in order to get the harvest, the Lord Himself. How can one get the crop without cultivation? Like cream in milk and fire in fuel, the Lord is in everything. Have full faith in this. As the milk, so the cream; as the fuel, so the fire; so also, as the spiritual discipline, so the direct experience (sakshatkara) of the Lord, right? Even if the attainment of liberation (mukti) isn’t directly realised as a consequence of taking up the Lord’s name, four fruits will clearly be evident to everyone who sincerely does the sadhana: 1. Company of the good and godly 2. Truth 3. Contentment and 4. Control of the senses. Through whichever of these gates one enters, whether one is a householder, recluse, or a member of any other class, one can reach the Lord without fail. This is certain. 


Para bhakta seharusnya menganggap tubuh fisik sebagai ladang dan perbuatan-perbuatan baik sebagai benihnya serta meningkatkan nama suci Tuhan, dengan bantuan dari hati sebagai petaninya dalam upaya untuk mendapatkan panen yaitu Tuhan sendiri. Bagaimana seseorang bisa menghasilkan panen tanpa adanya pengolahan? Seperti halnya krim di dalam susu dan api di dalam bahan bakar, Tuhan ada di dalam semuanya. Miliki keyakinan yang penuh dalam hal ini. Sebagaimana susunya maka begitulah krimnya; sebagaimana bahan bakarnya maka begitulah apinya; begitu juga, sebagaimana disiplin spiritualnya maka begitulah pengalaman langsung (sakshatkara) dari Tuhan, bukan? Sekalipun pencapaian dari pembebasan (mukti) tidak secara langsung didapatkan sebagai sebuah hasil dari mengambil nama suci Tuhan, empat hasil secara jelas menjadi bukti kepada setiap orang yang secara tulus melakukan sadhana: (1) Pergaulan yang baik dan benar, (2) Kebenaran, (3) Rasa syukur, dan (4) Pengendalian indera. Melalui salah satu gerbang yang mana saja seseorang masuki, apakah sebagai berumah tangga, pertapa, atau anggota dari golongan yang lain, seseorang dapat mencapai Tuhan tanpa adanya kegagalan. Ini adalah pasti. (Prema Vahini, Ch 60)

-BABA

No comments:

Post a Comment