Wednesday, March 4, 2020

Thought for the Day - 4th March 2020 (Wednesday)

The spiritual aspirant should note the distinction between the conduct of the natural (sahaja) person and the spiritual aspirant. The natural person has no fortitude (sahana), is conceited (ahamkara), and is full of desires relating to the world (jagat), by which the person is trying to have a contented existence. Aspirants engaged in contemplation of the Lord (Sarveswara-chintana) as ceaselessly as the waves of the sea (sagara), accumulate the wealth (dhana) of equality and equal love to all, and are content in the thought that all is the Lord’s and nothing is theirs. Unlike the natural person, the spiritual seeker won’t easily bend before grief or loss, anger or hatred or selfishness, hunger, thirst or fickleness. Quarreling at every tiny little thing, losing one’s temper, becoming sad at the slightest provocation, getting angry at the smallest insult, worried at thirst, hunger, and loss of sleep — these can never be the characteristics of a true spiritual aspirant! 


Peminat spiritual harus memberikan catatan perbedaaan diantara tingkah laku manusia biasa (sahaja) dan peminat spiritual. Manusia biasa tidak memiliki ketabahan (sahana), congkak (ahamkara), dan penuh dengan keinginan yang terkait dengan duniawi (jagat), yang mana orang tersebut mencoba untuk memiliki keadaan yang memuaskan. Peminat spiritual terlibat dalam perenungan pada Tuhan (Sarveswara-chintana) tanpa hentinya seperti halnya gelombang di lautan (sagara), mengumpulkan kekayaan (dhana) dari kesetaraan dan kasih yang sama kepada semuanya, dan senang dalam pemikiran bahwa semuanya adalah milik Tuhan dan tidak ada milik mereka. Tidak seperti orang biasa, para peminat spiritual tidak dengan mudah tunduk dihadapan duka cita atau kehilangan, kemarahan atau kebencian atau mementingkan diri sendiri, lapar, haus atau cepat goyah. Bertengkar setiap waktu untuk hal-hal yang sepele, kehilangan kesabaran, menjadi bersedih pada hasutan sekecil apapun, menjadi marah pada penghinaan terkecil, cemas saat haus, lapar dan tidak bisa tidur – hal-hal ini tidak akan pernah bisa menjadi karakteristik dari peminat spiritual yang sejati! (Prema Vahini, Ch 59)

-BABA

No comments:

Post a Comment