Friday, November 13, 2020

Thought for the Day - 11th November 2020 (Wednesday)

I have often told you that My Life is My Message. Avatars proclaim so and demonstrate their Divinity that way. They are children among children, men among men, and women among women, so that they may respond to their joy and sorrow and console them, and infuse confidence and courage into their drooping hearts. The Avatars appear among humans since birds, beasts, trees and the like have not slid into the unnatural and the strange. It is only humans who, pursuing the mirage of worldly happiness and sensual pleasure, have forgotten the task for which they have come to earth. Since God assumes human form in order to restore Dharma and lead man back into the path of virtue and wisdom, nothing can please God more than rigorous adherence to Dharma. One can stick to the path of Dharma if one is conscious of the Divine in everything that one sees or hears, touches or tastes. That will fill every moment of one’s life with the thrill of self-realisation. 



Aku sudah sering memberi tahumu bahwa Hidup-Ku adalah Pesan-Ku. Avatar menyatakan demikian dan mendemonstrasikan Keilahian mereka seperti itu. Mereka adalah anak-anak di antara anak-anak, pria di antara pria, dan wanita di antara wanita, sehingga mereka dapat menanggapi suka dan duka mereka dan menghibur mereka, dan menanamkan keyakinan dan keberanian ke dalam hati mereka yang terkulai. Avatar muncul di antara manusia karena burung, binatang, pohon, dan sejenisnya belum tergelincir ke dalam hal yang tidak wajar dan aneh. Hanya manusia yang, mengejar fatamorgana kebahagiaan duniawi dan kesenangan inderawi, telah melupakan tugas yang untuknya mereka datang ke bumi. Karena Tuhan mengambil bentuk manusia untuk memulihkan Dharma dan menuntun manusia kembali ke jalan kebajikan dan kebijaksanaan, tidak ada yang bisa menyenangkan Tuhan lebih dari kepatuhan yang ketat pada Dharma. Seseorang dapat tetap berpegang pada jalan Dharma jika seseorang menyadari Yang Ilahi dalam segala hal yang dilihat atau didengar, disentuh atau dicicipi. Itu akan mengisi setiap momen hidup seseorang dengan sensasi realisasi diri. (Divine Discourse, Nov 1970)

-BABA

 

No comments:

Post a Comment