Wednesday, July 9, 2014

Thought for the Day - 9th July 2014 (Wednesday)

When Yajnavalkya resolved to go into the forest to live as an ascetic, he called his two wives before him and proposed to divide the riches he had earned between them. Before accepting her share, Maitreyi asked her husband whether the riches will help her to realise Truth and achieve immortality. When she understood that they will not, and in fact they are mere hindrances, she refused to be burdened. Nachiketa refused the gifts of empire, affluence, and years of healthy life. Prahladha taught the same lesson to his playmates. Buddha solved the mystery of suffering through renunciation of attachment as the first step in his Sadhana. All of them had implicit faith in the existence of God; their lives revolved on the axis of that faith.

Ketika Yajnavalkya memutuskan untuk pergi ke hutan, hidup sebagai seorang pertapa, ia memanggil kedua istrinya dan mengusulkan untuk membagi kekayaan yang telah mereka dapatkan. Sebelum menerima bagiannya, Maitreyi bertanya pada suaminya apakah kekayaan akan membantunya untuk mewujudkan Kebenaran dan mencapai keabadian. Ketika dia memahami bahwa kekayaan tidak bisa mencapai hal itu, dan pada kenyataannya hanya sebagai rintangan, ia menolak untuk dibebani. Nachiketa menolak hadiah dari kerajaan, kemakmuran, dan hidup sehat. Prahladha mengajarkan pelajaran yang sama untuk teman mainnya. Buddha memecahkan misteri penderitaan melalui penolakan terhadap kemelekatan sebagai langkah pertama dalam Sadhana-Nya. Semua dari mereka memiliki keyakinan yang tersirat dalam keberadaan Tuhan; hidup mereka berputar pada sumbu keyakinan itu. (Divine Discourse, July 19, 1970)

-BABA

No comments:

Post a Comment