Thursday, October 23, 2014

Thought for the Day - 23rd October 2013 (Thursday)

The festival of Deepavali is to express gratitude at the defeat of the Naraka (demonic) tendencies in man, which drags one down from Divinity. Naraka, whose death at the hands of Krishna is celebrated today, signifies hell. Narakaasura is the personification of all the traits of character that obstruct the upward impulses of man. The human being is a composite of man, beast and God, and in the inevitable struggle among the three for ascendency, you must ensure that God wins, suppressing the merely human and the lowly beast. The griha (home) where the Name of the Lord is not heard is a guha (cave), and nothing more. As you enter it, as you leave it and while you are in it, regularly perfume it, illumine it and purify it with the Name. Light it as a lamp at dusk and welcome it at dawn, as you welcome the Sun. That is the genuine Deepavali, the Festival of Lamps.

Perayaan Deepavali adalah untuk mengungkapkan rasa terima kasih pada kekalahan Naraka (setan) dalam diri manusia, yang menyeret seseorang turun dari tingkat Divinity. Naraka, yang kematiannya di tangan Krishna dirayakan hari ini, menandakan neraka. Narakaasura adalah personifikasi dari semua ciri-ciri karakter yang menghambat manusia naik ke atas menuju Divine. Manusia merupakan gabungan dari manusia, binatang, dan Tuhan, dan dalam perjuangan yang tak terelakkan di antara ketiganya, engkau harus memastikan bahwa Tuhan-lah yang menang, menekan sifat-sifat manusia dan binatang yang rendah. Griha (rumah) di mana nama Tuhan tidak terdengar adalah Guha (gua), dan tidak lebih dari itu. Sebagaimana engkau masuk di situ, demikian pula engkau meninggalkannya dan sementara engkau berada di dalamnya, secara teratur parfum itu, menerangi dan memurnikan dengan Nama Tuhan. Cahaya adalah lampu saat senja dan menyambutnya saat fajar, seperti engkau menyambut Matahari. Itulah Deepavali sebenarnya, Festival Lampu/Cahaya.

-BABA

No comments:

Post a Comment