Tuesday, March 3, 2015

Thought for the Day - 3rd March 2015 (Tuesday)

A matchstick produces fire. Where is the fire? Is it in the matchstick or the matchbox? Fire is latent in both and it is ignited when the stick and box come in contact. Similarly effulgence latent in the heart and the mind emerges as Divinity when the heart and the mind act in unison. Just as the same fire is latent in the matchbox and matchstick, the effulgence encased in the mind and the heart is the same. If the matchstick is dipped in water, no fire emanates from it, as the matchstick loses its capacity to aflame. Similarly, the human mind sunken in materialistic desires, loses its capacity to radiate the Divine Atmic splendour. When the matchstick is dried in the sun, it regains its original capacity. Similarly, the human mind steeped in sensual pleasures, regains its original potency and radiates divine effulgence when it is dried in the sun of detachment (Vairagya).
Sebuah batang korek api menghasilkan api. Dimana apinya? Apakah dalam batang korek api atau dalam kotak korek api? Api laten pada keduanya dan menyala ketika batang korek api dan kotak korek api bersentuhan. Demikian pula cahaya laten dalam hati dan pikiran muncul sebagai Divinity ketika hati dan pikiran bertindak serentak. Sama seperti api yang sama laten dalam kotak korek api dan korek api, cahaya yang terbungkus dalam pikiran dan hati adalah sama. Jika batang korek api dicelupkan ke dalam air, tidak ada api yang berasal dari itu, karena batang korek api kehilangan kemampuannya untuk menyala. Demikian pula, pikiran manusia yang tenggelam pada keinginan materialistis, kehilangan kemampuannya untuk memancarkan keindahan Atmic Ilahi. Ketika batang korek api dikeringkan di bawah sinar matahari, maka batang korek api mendapatkan kembali kapasitas aslinya. Demikian pula, pikiran manusia tenggelam dalam kesenangan sensual, mendapatkan kembali potensi aslinya dan memancarkan cahaya ilahi bila dikeringkan di bawah sinar matahari tanpa kemelekatan (Vairagya). (Divine Discourse, Summer Showers in Brindavan 1993, Ch 6)

-BABA

No comments:

Post a Comment