Saturday, February 13, 2016

Thought for the Day - 12th February 2016 (Friday)

Quarreling at every tiny little thing, losing one’s temper, becoming sad at the slightest provocation, getting angry at the smallest insult, worried at thirst, hunger, and loss of sleep — these can never be the characteristics of an aspirant. Rice in its natural state and boiled rice — can these two be the same? The hardness of natural rice is absent in the boiled one. The boiled grain is soft, harmless, and sweet. The unboiled raw grain is hard, conceited, and full of delusion. Both types are souls (jivis) and humans no doubt, but those immersed in external illusions (avidya-maya) are ‘people’, while those immersed in internal illusions (vidya-maya) are ‘spiritual aspirants’. God has neither internal illusions nor external illusions; He is devoid of both. The one who has no external illusions, becomes a spiritual aspirant, and when they are devoid of internal illusions too, they can be termed as God. Such a person’s heart is truly the seat of God.


Bertengkar untuk hal-hal yang sepele, cepat kehilangan kesabaran, menjadi sedih karena provokasi kecil, menjadi marah karena terhina sedikit saja, cemas karena haus, lapar, dan kurang tidur — semua hal ini tidak akan pernah bisa menjadi ciri dari peminat spiritual. Beras dalam keadaan sesungguhnya dan nasi yang telah dimasak — dapatkah kedua hal ini menjadi sama? Kerasnya beras akan menjadi hilang setelah dimasak. Biji padi yang telah dimasak bersifat lembut, tidak berbahaya dan manis. Sedangkan biji padi yang tidak dimasak adalah keras, congkak, dan penuh dengan khayalan. Tidak diragukan lagi bahwa kedua jenis ini adalah jiwa (jivi) dan manusia, namun bagi mereka yang tenggelam dalam khayalan lahiriah (avidya-maya) adalah ‘orang biasa’, sedangkan bagi mereka yang tenggelam dalam khayalan batin (vidya-maya) adalah ‘peminat spiritual’. Tuhan tidak memiliki khayalan lahir dan juga khayalan batin; Tuhan sama sekali tanpa keduanya. Seseorang yang tidak memiliki khayalan lahiriah, menjadi peminat spiritual, dan ketika mereka sama sekali tanpa khayalan batin juga, mereka dapat digolonggkan sebagai Tuhan. Hati dari orang seperti ini sejatinya adalah singgasana Tuhan. (Prema Vahini, Ch 59)

-BABA

No comments:

Post a Comment