Thursday, March 1, 2018

Thought for the Day - 1st March 2018 (Thursday)

It must be explained to people who come to Prasanthi Nilayam that silence is the very first rung of the ladder of spiritual endeavour and the hallmark of this place! From here, they must learn to make every place, wherever they are, a Prasanthi Nilayam. Loud talk disturbs those who practise namasmarana (remembrance of Lord's name) or meditation (dhyana) or recitation (japam)! Noise breeds further noise. This is a workshop, where damaged minds and hearts come for repair or overhaul. In workshops there will be the din of hammer, the clang of wheel, the whirr of engine and the clatter of chains. In this workshop, only the whisper of the Name of God should be heard. With new parts fitted and new coats of paint, cars emerge out of the workshop as good as new and they run smoothly, without trouble, for miles and miles. People must find Prasanthi Nilayam as a workshop for persons, who are weary, travel-worn, or about to enter upon a long journey.


Harus dijelaskan kepada setiap orang yang datang ke Prasanthi Nilayam bahwa keheningan adalah anak tangga pertama dalam tangga usaha spiritual dan tanda dari tempat ini! Dari sini, mereka harus belajar untuk membuat setiap tempat, dimanapun mereka berada sebagai sebuah Prasanthi Nilayam. Berbicara keras mengganggu mereka yang menjalankan namasmarana (mengingat nama Tuhan) atau meditasi (dhyana) atau pengulangan nama Tuhan (japam)! Kebisingan menghasilkan kebisingan yang lebih kuat. Prasanthi Nilayam adalah sebuah bengkel, dimana pikiran dan hati yang rusak datang untuk diperbaiki atau dirombak. Di dalam bengkel akan ada suara bising palu, dentang roda, deru mesin, dan suara bising rantai. Dalam bengkel ini, hanya bisikan nama Tuhan yang seharusnya di dengar. Dengan suku cadang dan lapisan cat yang baru, maka mobil keluar dari bengkel seperti halnya mobil baru dan berjalan dengan mulus, tanpa masalah untuk bermil-mil jauhnya. Setiap orang harus merasakan Prasanthi Nilayam sebagai sebuah bengkel bagi manusia, yang merasa lelah, bepergian atau akan melakukan perjalanan panjang. [Divine Discourse, Feb 24, 1965]

-BABA

No comments:

Post a Comment