Monday, May 10, 2021

Thought for the Day - 10th April 2021 (Saturday)

Among the preliminary qualifications for yearning to know Brahman, the first is discrimination (viveka) between the transitory and the eternal — in other words, the discovery that the Atma alone is beyond time and that all objects perceivable by the senses are only transitory. As a result of prolonged investigation, one has to gain this unshakable conviction and be established in it. The second qualification is renunciation of the desire to enjoy, here and hereafter, the fruits of one’s actions. This is also known as nonattachment (vairagya). One must reason and realise the transitoriness of joy and grief, which are the pollutants that affect the mind. One will be convinced, then, that all things are caught in a flux; they are all momentary, they yield only grief. Vairagya does not involve giving up hearth and home, wife and children, and taking refuge in forests. It involves only the awareness of the world as transitory and, as a consequence of this awareness, discarding the feelings of “I” and “mine”. 



Diantara kualifikasi awal dalam kerinduan untuk mengetahui Brahman, bagian pertama adalah kemampuan dalam membedakan (viveka) diantara yang bersifat sementara dan kekal – dengan kata lain, penemuan bahwa Atma saja yang melampaui waktu dan bahwa semua objek yang dapat dilihat oleh indera adalah yang bersifat sementara. Sebagai hasil dari investigasi yang berkepanjangan, seseorang harus mendapatkan keyakinan yang tidak tergoyahkan dan mantap di dalamnya. Kualifikasi yang kedua adalah melepaskan keinginan untuk menikmati, di dunia dan di akhirat, buah dari perbuatan seseorang. Hal ini juga dikenal sebagai tanpa keterikatan (vairagya). Seseorang harus mempertimbangkan dan menyadari ketidakkekalan dari suka dan duka cita, yang mana adalah polutan yang mempengaruhi pikiran. Seseorang akan diyakinkan, kemudian, semua hal yang terjebak dalam perubahan; semuanya itu adalah bersifat sementara dan hanya menghasilkan kesedihan. Vairagya tidak berarti meninggalkan rumah, istri dan anak-anak serta mengasingkan diri ke dalam hutan. Vairagya hanya bermakna kesadaran bahwa dunia adalah sementara dan sebagai konsekuensi dari kesadaran ini, terlepasnya perasaan “aku” dan “milikku”. (Sutra Vahini, Ch 1)

-BABA

 

No comments:

Post a Comment