Friday, May 29, 2015

Thought for the Day - 29th May 2015 (Friday)

Vikshepa is an affliction of the mind that consists of worldly distractions; various spiritual exercises (sadhanas) are undertaken to overcome it and realise the Divine. The sadhanas include meditation, concentration and performance of good deeds for achieving purity of mind. When one succeeds in overcoming Vikshepa, one is confronted with avarana (akin to a thick covering in which one is enveloped). This covering is known as maya (delusion). It envelops everything in the universe. The eyes with which one can see everything that is outside cannot see themselves. Likewise, Maya, which reveals the entire universe, cannot reveal the Divine. Because we are enveloped in Maya, we seek worldly pleasures and do not seek our own Divine essence. ‘Yaddhrushyam than-nashyathi - Whatever is perceptible, is perishable.’ In the pursuit of fleeting and impermanent pleasures, we are throwing away the permanent, the unchanging and the real elements in human life.


Vikshepa adalah sebuah penderitaan dari pikiran yang terdiri dari ganggungan duniawi; berbagai jenis latihan spiritual (Sadhana) dilakukan untuk mengatasi hal ini dan menyadari keillahian. Latihan spiritual (sadhana) termasuk meditasi, konsentrasi, dan melakukan perbuatan baik adalah untuk bisa mendapatkan kemurnian pikiran. Ketika seseorang berhasil dalam mengatasi Vikshepa maka ia akan dihadapkan dengan Aravana (mirip dengan penutup tebal yang membungkus seseorang). Pembungkus ini disebut dengan maya (khayalan). Maya membungkus segala sesuatu yang ada alam semesta ini. Maya digunakan seseorang untuk melihat segalanya yang ada di luar namun tidak bisa melihat di dalam dirinya sendiri. Sama halnya, Maya yang mengungkapkan seluruh alam semesta, tidak bisa mengungkapkan Tuhan. Karena kita dibungkus oleh Maya, kita mencari kesenangan duniawi dan tidak mencari dasar keillahian di dalam diri kita. “Yaddhrushyam than-nashyathi – Apapun yang nampak jelas, adalah mudah rusak’. Dalam mengejar kesenangan sesaat dan tidak kekal, kita sedang membuang yang kekal dan tidak berubah yang merupakan unsur yang sebenarnya dalam kehidupan manusia. (Divine Discourse, 17 March 1983)

-BABA

No comments:

Post a Comment