Saturday, March 18, 2017

Thought for the Day - 18th March 2017 (Saturday)

Man is saved by Vedanta, which is like the roar of the lion; it gives courage and enterprise; it makes one a hero. It does not whine or howl or cry. It instils the highest types of self-confidence. It is the strongest armour against the arrows of fate, a waterproof against the hailstorms of sensual pleasure. It is a curtain keeping out the mosquitoes of worry, which would otherwise rob you of sleep. With a Vedanta-saturated heart, you are a rock on the shore, unaffected by the waves of temptation. Vedanta challenges your spirit of adventure, your own reality. Board the train of spiritual discipline now and you will reach the terminus which is jnana (absolute knowledge of you and of all this). In a train journey you do not get down in the middle when some station attracts you. So too, in the spiritual journey the stations are karma (action), upasana (contemplation), and so on. You have to pass through them, but remember they are not the terminus. The terminus is Realisation.


Manusia diselamatkan oleh Wedanta, yang mana adalah seperti suara raungan singa; hal ini memberikan keberanian; dan membuat seseorang menjadi pahlawan. Ini bukanlah merengek atau melolong atau menangis. Namun menanamkan jenis kepercayaan diri yang paling tinggi. Ini adalah baju besi yang paling kuat terhadap panah nasib, tahan air terhadap hujan deras dari kesenangan sensual. Ini adalah tirai yang mencegah nyamuk kecemasan masuk, yang mana dapat mengganggu tidurmu. Dengan hati diliputi dengan Wedanta, engkau adalah batu karang di pantai, tidak terpengaruh dengan gelombang godaan. Wedanta menantang semangat petualanganmu yaitu kenyataanmu yang sejati. Naiklah ke dalam kereta api dari disiplin spiritual sekarang dan engkau akan mencapai terminal terakhir yaitu jnana (pengetahuan mutlak tentang dirimu dan semuanya ini). Dalam perjalanan kereta api, engkau tidak perlu turun di tengah perjalanan ketika beberapa terminal menarik dirimu. Begitu juga, dalam perjalanan spiritual maka stasiun karma (perbuatan), upasana (kontemplasi), dan sebagainya. Engkau harus melewati semuanya, namun ingatlah bahwa semuanya itu bukanlah terminal terakhir. Terminal terakhirnya adalah realisasi. [Divine Discourse, Feb 3 1964]

-BABA

No comments:

Post a Comment