Thursday, March 14, 2019

Thought for the Day - 7th March 2019 (Thursday)

To light a lamp, you need four things - a container, oil, a wick and a match box. If any one of these is missing, you cannot light the lamp. This lamp can, however, remove only the outside darkness. How is the darkness in the heart to be removed? It can be dispelled only by the Light of Wisdom (Jnana Jyothi). How is this Light of Wisdom, this spiritual light, to be lit? This also needs four elements - detachment (Vairagya) is the container, devotion (Bhakti) is the oil, one-pointed concentration (Ekagrata) is the wick and knowledge of the Supreme Truth (Jnana) is the match stick. Without these four, the light of spiritual wisdom cannot shine. Of these, primary requisite is the spirit of vairagya (renunciation). Without detachment, all knowledge of scriptures is of no avail. What is this detachment? It is absence of attachment to the body. Give up the ego-feeling, which makes one think of the "I" all the time.


Untuk menyalakan sebuah pelita, engkau memerlukan empat unsur – sebuah wadah, minyak, sumbu dan korek api. Jika salah satu dari keempat ini tidak ada maka engkau tidak bisa menyalakan pelita. Cahaya dari pelita ini hanya dapat menghilangkan kegelapan yang ada di luar diri. Bagaimana engkau menghilangkan kegelapan yang ada di dalam hati? Ini dapat dihilangkan hanya dengan menyalakan pelita kebijaksanaan (Jnana Jyoti). Bagaimana menyalakan pelita spiritual, pelita kebijaksanaan? Hal ini juga memerlukan empat unsur. Tanpa keterikatan (Vairagya) adalah sebagai wadah. Bhakti adalah sebagai minyaknya. Fokus pada satu titik (Ekagrata) adalah sumbunya. Pengetahuan tentang kebenaran yang tertinggi (Jnana) adalah korek apinya. Tanpa keempat ini maka tidak akan bisa menyalakan pelita spiritual. Diantara keempatnya, prasyarat pertama adalah semangat tanpa keterikatan (Vairagya). Tanpa adanya unsur tanpa keterikatan maka pengetahuan naskah suci adalah tidak ada gunanya. Apa itu tanpa keterikatan? Tanpa keterikatan artinya tidak adanya keterikatan pada badan jasmani. Ego perasaan yang membuat seseorang berpikir ‘aku’ sepanjang waktu harus dilepaskan. (Divine Discourse, 9 Nov 1988) (Divine Discourse, Nov 9, 1988)

-BABA

No comments:

Post a Comment