Friday, April 3, 2026

Thought for the Day - 3rd April 2026 (Friday)



Jesus exhorted people by precept and example to cultivate the virtues of charity, compassion, forbearance, love, and faith. These are not separate and distinct qualities; they are only the many facets of the Divine in man, which he has to recognise and develop. People talk of the sacrifice of Christ as evidenced by his crucifixion. But, he was surrounded and bound, and crowned by the crowd who captured him with a crown of thorns, and later, nailed to the cross by his captors. A person bound and beaten by the police cannot say that he has sacrificed anything, for he is not a free man. Let us pay attention to the sacrifice that Jesus made while free, of his own volition. He sacrificed his happiness, prosperity, comfort, safety, and position. He braved the enmity of the powerful. He refused to yield or compromise. He renounced the ‘ego’, which is the toughest thing to get rid of. Honour him for these. He willingly sacrificed the desires with which the body torments man; this sacrifice is greater than the sacrifice of the body under duress. 


- Divine Discourse, Dec 24, 1972

The Incarnation comes to warn, guide, awaken, lay down the path, and shed the light of Love on it. But man has to listen, learn and obey with hope and faith. 


Yesus menasihati umat manusia, baik melalui ajaran maupun teladan hidup-Nya, untuk menumbuhkan kebajikan seperti amal, welas asih, ketabahan, kasih, dan keyakinan. Semua ini sebenarnya bukan sifat yang terpisah-pisah, melainkan berbagai sisi dari Keilahian yang ada dalam diri manusia, yang perlu disadari dan dikembangkan. Orang-orang membicarakan pengorbanan dari kristus sebagaimana dibuktikan dengan penyaliban-Nya. Namun, sebelum itu Ia dikepung, diikat, dimahkotai duri oleh banyak orang yang menangkap-Nya, dan kemudian dipakukan di kayu salib oleh para penangkap-Nya. Seseorang yang terikat dan dipukuli oleh aparat polisi tentu tidak dapat dikatakan sedang mengorbankan sesuatu, karena pada saat itu ia tidak lagi bebas. Karena itu, marilah kita memberi perhatian pada pengorbanan yang Yesus lakukan saat Ia masih bebas, atas kehendak-Nya sendiri. Ia mengorbankan kebahagiaan, kesejahtraan, kenyamanan, keamanan, dan kedudukannya. Ia menghadapi permusuhan dari orang-orang yang berkuasa. Ia menolak untuk menyerah atau berkompromi. Ia melepaskan ‘ego’, yang justru merupakan hal paling sulit untuk ditanggalkan. Untuk semua inilah Ia patut dihormati. Ia dengan sukarela mengorbankan keinginan-keinginan yang biasanya mengikat manusia melalui tubuh. Pengorbanan seperti ini jauh lebih besar daripada pengorbanan tubuh yang dilakukan dalam keadaan terpaksa. 


Wacana Swami, 24 Desember 1972

Inkarnasi datang untuk memperingatkan, membimbing, membangunkan, menunjukkan jalan, dan menyinari jalan itu dengan cahaya kasih. Namun manusia harus mendengarkan, belajar, dan menaati dengan harapan serta keyakinan.

No comments:

Post a Comment