Tuesday, January 25, 2011

Thought for the Day - 25th January 2011 (Tuesday)

If you crave for the fruit of your acts at every step, you are overpowered by passion. If the fruit is not available, then, gradually, laxity and disgust overpower the spiritual aspirant and the repetition of the Name and meditation will slowly dry up. This is the restless, passionate, Rajasic Path. For some, the Lord will come to memory only in times of danger or acute suffering or when one is the victim of loss or pain. At such times, such a person prays and vows to arrange ritualistic worship (Puja), offer some particular food, or build a temple to the Lord, etc. One will be calculating the quantity of food placed before the Lord, the tribute offered at His feet, the number of prostrations performed, and the number of times one went around the shrine and ask for proportionate rewards! For those who adopt this attitude in meditation, and follow the dull, Thamasic path, the mind and intellect can never be pure.

Jika engkau menginginkan buah (hasil) dari tindakan-tindakanmu di setiap langkah, engkau akan dikuasai oleh hawa nafsu. Jika hasil tersebut tidak didapatkan, maka secara bertahap, kelalaian akan mengalahkan para pencari spiritual dan pengulangan NamaTuhan dan meditasi perlahan akan mengering. Ini adalah jalan Rajasik. Beberapa orang menganggap, Tuhan akan datang ke memori mereka hanya pada saat bahaya atau penderitaan akut atau ketika seseorang menderita kehilangan atau sakit. Pada saat seperti itu, orang-orang berdoa dan melakukan tirakat untuk melakukan ibadah ritual (Puja), mempersembahkan beberapa makanan tertentu, atau membangun sebuah kuil bagi Tuhan, dll. Seseorang akan menghitung berapa jumlah makanan yang dipersembahkan di hadapan Tuhan, berapa persembahan yang diberikan di kaki-Nya, berapa kali sujud dilakukan, serta berapa kali seseorang pergi ke tempat suci dan selanjutnya memohon imbalan yang sebanding! Bagi mereka yang menggunakan sikap ini dalam meditasi, dan mengikuti jalan yang bodoh ini, jalan Thamasik, pikiran dan intelek mereka tidak pernah menjadi murni.

-BABA

No comments:

Post a Comment