Wednesday, September 10, 2014

Thought for the Day - 10th September 2014 (Wednesday)

Is it possible for anyone in this world to be free of any desire and expectation? Not quite! Some things (material and sensual) may be attractive to some persons and some big aims (non-physical and transcendental) may interest others. Almost all desires fall into one of the above categories. Then how is it possible to get rid of both kinds of desires? This is possible! In the Gita, the Lord has declared that He is present in all righteous actions. Therefore those who perform righteous actions can develop anapeksha (desirelessness). This means that when a man performs all actions as offerings to the Lord, they become desireless actions. The Lord is the One who from within, makes one act, speak, listen, see, etc. If a person performs all actions with the conviction that the indwelling Lord is the real Doer, then the actions become desireless. Hence to begin with every sadhaka should regard one’s actions as offerings to the Divine.

Apakah mungkin bagi siapa pun di dunia ini bebas dari keinginan dan harapan? Tidak! Beberapa hal (materi dan kenikmatan duniawi) mungkin menarik bagi beberapa orang dan beberapa tujuan besar (non-fisik dan transendental) mungkin menarik bagi yang lainnya. Hampir semua keinginan jatuh pada salah satu kategori di atas. Lalu bagaimana mungkin untuk menyingkirkan kedua jenis keinginan tersebut? Hal ini dimungkinkan! Dalam Gita, Tuhan telah menyatakan bahwa Beliau hadir dalam semua tindakan yang benar. Oleh karena itu orang-orang yang melakukan tindakan yang benar dapat mengembangkan anapeksha (tanpa keinginan). Ini berarti bahwa ketika seseorang melakukan semua tindakan sebagai persembahan kepada Tuhan, tindakan mereka menjadi tanpa keinginan. Tuhan adalah Beliau yang dari dalam, membuat seseorang bertindak, berbicara, mendengarkan, melihat, dll. Jika seseorang melakukan semua tindakan dengan keyakinan bahwa Tuhan adalah Sang Pelaku yang bersemayam di dalam diri, maka tindakannya menjadi tanpa keinginan. Oleh karena itu, untuk memulainya, setiap Sadhaka harus menganggap tindakannya sebagai persembahan kepada Tuhan. (Divine Discourse, August 30, 1993)

-BABA

No comments:

Post a Comment