Saturday, October 18, 2014

Thought for the Day - 18th October 2014 (Saturday)

Man is the image of God. Scriptures declare, God appears in human form (Daivam maanusha rupena). Though God has no separate form, Avatars descend from time to time to show how human lives can be divinised. I have often declared that God does not come down as Avatar to relieve individuals of their troubles and sorrow and to confer joy and happiness on them. Difficulties, troubles and worries come in the natural course as a consequence of your past actions. The Gita declares: Human beings are bound by merits and demerits (Karma) from previous lives (Karmaanubandheeni manushya loke). As is your action, so is the reaction. When you stand before a mirror and offer salutations, the salutation is reflected by the image. If you scowl at the mirror, the harshness is reflected back at you.

Tuhan bukanlah entitas yang terpisah. Manusia dapat diibaratkan sebagai bayangan Tuhan. Kitab suci menyatakan, Tuhan muncul dalam bentuk manusia (Daivam maanusha rupena). Meskipun Tuhan tidak memiliki wujud yang terpisah, Avatar turun dari waktu ke waktu untuk menunjukkan bagaimana kehidupan manusia dapat meningkat menjadi divine. Aku sering mengatakan bahwa Tuhan tidak turun sebagai Avatar untuk meringankan individu dari kesulitan dan penderitaan mereka dan untuk memberikan sukacita dan kebahagiaan pada mereka. Kesulitan, masalah dan kekhawatiran datang dalam proses alamiah sebagai konsekuensi dari tindakan masa lalu-mu. Gita menyatakan: Manusia terikat oleh keuntungan dan kerugian (Karma) dari kehidupan sebelumnya (Karmaanubandheeni manushya loke). Sebagaimana aksimu, maka demikianlah reaksinya. Ketika engkau berdiri di depan cermin dan memberikan salam, salam tercermin oleh cermin. Jika engkau menampakkan raut muka yang tidak senang/cemberut di cermin, maka demikianlah yang dipantulkan kembali padamu. (Divine Discourse, Sep 3, 1988)

-BABA

No comments:

Post a Comment