Tuesday, April 17, 2018

Thought for the Day - 17th April 2018 (Tuesday)

Today people ignore the law of action and act as they please. It is easy to indulge in sinful deeds but is extremely difficult to bear the bad results they yield! Good and evil, happiness and misery, merit and sin depend on your actions. As is the action, so is the result. Hence the Upanishads teach - “Salute the action” (Tasmai Namah Karmane). Offer salutations to the actions you perform, so they become sacred, bring you good name and contribute to the welfare of the world. Since time immemorial, Bharatiyas offer respect to action, be it big or small, before undertaking it. A dancer pays her respects to the anklets she wears before commencing her performance. An illiterate lorry driver offers his obeisance to the steering wheel before driving the vehicle. Why salute the action? It is to discriminate and choose right actions and to give up the sense of ego or doership! This is the sacredness that our culture imparts to action.


Hari ini manusia mengabaikan hukum perbuatan dan bertindak sesuai dengan apa yang mereka senangi. Adalah mudah untuk larut dalam perbuatan yang penuh dosa namun sangatlah sulit sekali untuk menanggung hasil buruk yang dihasilkannya! Kebaikan dan keburukan, kebahagiaan dan penderitaan, pahala dan dosa tergantung dari perbuatanmu. Sebagaimana perbuatannya maka begitulah hasilnya. Oleh karena itu dalam Upanishad diajarkan  - “Hormati perbuatan” (Tasmai Namah Karmane). Persembahkan rasa hormat pada perbuatan yang engkau lakukan, sehingga perbuatan itu menjadi suci, serta memberikanmu nama baik dan memberikan sumbangsih bagi kesejahteraan dunia. Sejak zaman dahulu, para penduduk Bharatiya memberikan rasa hormat sebelum melakukan perbuatan, apakah perbuatan itu kecil atau besar. Seorang penari memberikan rasa hormat pada gelang kaki yang dipakainya sebelum memulai pertunjukkan tariannya. Seorang supir truk yang buta huruf memberikan hormat pada kemudinya sebelum menjalankan mobilnya. Mengapa memberikan hormat pada perbuatan? Adalah untuk membedakan dan memilih perbuatan yang benar dan melepaskan perasaan ego atau perasaan diri yang melakukan! Ini adalah kesucian dimana kebudayaan kita menanamkan pada perbuatan. [Divine Discourse, Apr 14, 2001]

-BABA

No comments:

Post a Comment