Monday, September 8, 2014

Thought for the Day - 8th September 2014 (Monday)

The Lord resides not only in the hearts of devotees, but also in the hearts of the evil-minded. Once the child Prahlada approached his mother, Lilavati, and told her, "Mother, there is only one difference between me, who is a devotee of Hari and my father, who hates Hari. Ever contemplating on the nectarous sweetness of the Lord, repeating His name, and constantly remembering Him, I am immersed in the bliss of love of the Lord, like one intoxicated. My father, in his hatred of Narayana, has turned his heart into stone and installed Him in it." The Lord, who dwelt in the heart of Prahlada, who loved Narayana, and the Lord who was in the heart of Hiranyakasipu, who hated Narayana, was one and the same. One has to live in faith to experience happiness. Realising that the Divine is omnipresent, the devotees make their lives sublime by singing the glories of the Lord and ever dwelling on His name.

Tuhan berada tidak hanya di dalam hati bhakta-Nya, tetapi juga dalam hati mereka yang berpikiran buruk. Suatu ketika Prahlada kecil mendekati ibunya, Lilavati, dan mengatakan kepadanya, "Ibu, hanya ada satu perbedaan antara saya, yang adalah pemuja Hari dan ayah, yang membenci Hari. Dengan merenungkan manisnya nektar Tuhan, mengulangi Namanya, dan terus-menerus mengingat-Nya, saya tenggelam dalam kebahagiaan cinta-kasih Tuhan, seperti orang mabuk. Ayahku, dalam kebenciannya dengan Narayana, telah merubah hatinya menjadi batu dan menginstal Beliau di dalamnya." Tuhan, yang bersemayam di hati Prahlada, yang mencintai Narayana, dan Tuhan yang berada di hati Hiranyakasipu, yang membenci Narayana, adalah satu dan sama. Kita harus hidup dalam keyakinan untuk mengalami kebahagiaan. Menyadari bahwa Tuhan ada dimana-mana, para bhakta membuat hidup mereka mulia dengan menyanyikan kemuliaan Tuhan dan senantiasa mengingat nama-Nya. (Divine Discourse 15 Sep 1986)

-BABA

No comments:

Post a Comment