Wednesday, August 26, 2026

Thought for the Day - 26th August 2026 (Wednesday)




Prahlada was a great devotee of God. Bali, his grandson, was a great emperor and devotee. It is said that pleasure is an interval between two pains; between two entities that are good, there is one entity which is bad. In between, the father of Bali, Virochana, was a rationalist and atheist. In the world, there are any number of persons who derive inspiration from Prahlada and Bali. There are also many who take the cue from Virochana. The Jagat (world) will not be what it is if such variations did not exist. All through history, the devotees of God have had to endure many ordeals and privations, but they never lost their faith in God. They have stood out as ideals and examples to mankind. Bali was one such great exemplar. Onam is celebrated as the sacred day when Bali achieved liberation. It is also the day when Vamana was born. It is also the day when each year Bali visits the earth to experience the love of the people and participate in their rejoicings. Hence, people should not be content with enjoying food and raiment but should try to experience the bliss of the Spirit. 


-- Divine Discourse  Sep 15, 1986

Bali demonstrated through his tyaga svabhava (sacrificing nature) that if one sacrifices everything, one will attain moksha (liberation).


Prahlada adalah seorang bhakta Tuhan yang agung. Sedangkan Bali, cucunya, adalah seorang maharaja sekaligus bhakta Tuhan yang agung. Dikatakan bahwa kesenangan adalah jeda di antara dua penderitaan; demikian pula, di antara dua pribadi yang baik terdapat satu pribadi yang buruk. Di tengah-tengah mereka terdapat Virochana, ayah Bali, yang merupakan seorang rasionalis dan ateis. Di dunia ini, tidak terhitung banyaknya orang yang memperoleh inspirasi dari Prahlada dan Bali. Ada pula banyak orang yang mengambil teladan dari Virochana. _Jagat_ (dunia) tidak akan menjadi seperti sekarang jika keberagaman seperti itu tidak ada. Sepanjang sejarah, para bhakta Tuhan harus menghadapi berbagai cobaan dan penderitaan, tetapi mereka tidak pernah kehilangan keyakinan kepada Tuhan. Mereka tampil sebagai teladan dan contoh bagi umat manusia. Bali adalah salah satu teladan agung tersebut. Onam dirayakan sebagai hari suci ketika Bali mencapai pembebasan. Hari itu juga merupakan hari kelahiran Vamana. Hari itu juga diyakini sebagai saat ketika setiap tahun Bali mengunjungi bumi untuk merasakan kasih sayang masyarakat dan turut serta dalam kegembiraan mereka. Oleh karena itu, manusia hendaknya tidak merasa cukup hanya dengan menikmati makanan dan pakaian, tetapi hendaknya berusaha mengalami kebahagiaan Sang Jiwa.


-- Divine Discourse  15 September 1986

Bali menunjukkan melalui _tyaga svabhava_-nya (sifat suka berkorban) bahwa jika seseorang mengorbankan segala sesuatu, ia akan mencapai _moksha_ (pembebasan).

Tuesday, August 25, 2026

Thought for the Day - 25th August 2026 (Tuesday)




Embodiments of Divine Love! Innumerable waves arise from the vast ocean. The waves appear to differ in form from one another. But these multifarious waves are not different from the ocean. In all the waves, the nature and qualities of the ocean are immanent. Likewise, the innumerable beings which you see in this boundless Cosmos appear to be different from one another, but all of them emerged from the same Cosmic source whose form is Sat-Chit-Ananda (Being-Awareness-Bliss). When rain pours down from the sky, pure water falls on the earth, mountains, rivers and the sea. But the pure water acquires the colour and taste of the region or spot where it falls. Likewise, prophets and messiahs, coming down in different parts of the world at different times, imparted their message in terms appropriate to the time, the place and the conditions of the people concerned. Religions cannot be considered different from each other for this reason. All religions have taught only what is good for humanity. Religion should be practised with this awareness. Listen, O valiant child of Bharat! If the minds are pure, how can any religion be bad? 


-- Divine Discourse  Dec 25, 1991

The primary duty of human beings is to recognise that the paths indicated by different religions may vary, but the goal is one. 


Perwujudan Kasih Tuhan! Tidak terhitung banyaknya gelombang muncul dari samudra yang luas. Gelombang-gelombang itu tampak berbeda satu sama lain dalam bentuknya. Namun, berbagai macam gelombang tersebut pada hakikatnya tidak berbeda dari samudra. Dalam setiap gelombang, sifat dan karakteristik samudra hadir di dalamnya. Demikian pula, tidak terhitung banyaknya makhluk yang engkau lihat di alam semesta yang tidak terbatas ini tampak berbeda satu sama lain, tetapi semuanya muncul dari sumber Kosmis yang sama, yang hakikatnya adalah Sat-Chit-Ananda (Kebenaran-Kesadaran-Kebahagiaan). Ketika hujan turun dari langit, air yang murni jatuh ke bumi, gunung, sungai, dan laut. Namun, air yang murni itu memperoleh warna dan rasa sesuai dengan wilayah atau tempat di mana ia jatuh. Demikian pula, para nabi dan utusan Tuhan yang hadir di berbagai belahan dunia pada masa yang berbeda menyampaikan pesan mereka sesuai dengan waktu, tempat, dan kondisi masyarakat yang mereka hadapi. Karena alasan inilah, agama-agama tidak seharusnya dianggap berbeda satu sama lain. Semua agama hanya mengajarkan apa yang baik bagi umat manusia. Agama hendaknya dipraktikkan dengan kesadaran ini. Dengarlah, wahai putra-putri Bharat yang gagah berani! Jika pikiran manusia murni, bagaimana mungkin agama apa pun menjadi buruk? 


-- Divine Discourse  25 Desember 1991

Tugas utama manusia adalah menyadari bahwa jalan yang ditunjukkan oleh berbagai agama mungkin berbeda, tetapi tujuannya adalah satu.


Monday, August 24, 2026

Thought for the Day - 24th August 2026 (Monday)





There are two truths that must be accepted by every pilgrim or devotee: (1) Devotion has to be full, free, and comprehensive. (2) Divinity must be conceived as full, free, and comprehensive. On the other hand, devotion today is almost always only ‘part-time’. That is to say, whenever disease, defeat, or disappointment happen to assail you, you turn to God and pray for His Grace; but when you are happy, prosperous, healthy, and in good shape, you ignore God and claim that they are all due to your own abilities and achievements. God is ignored in sunshine; He is wanted only when there is night. Devotion must persist and flourish, unaffected by time, place or circumstance. God too has to be experienced in His fullness, and the Ananda of that experience should be made one’s permanent possession. It is impossible to experience God and also talk about Him. Words like Sarvajna (all-knowing) and Sarvavyapi (all-pervasive) are used by people since elders and saints have used them from ancient times; it is impossible for anyone to have the fullest and the most comprehensive experience of these qualities of the Divine, and also speak about that experience. 


-- Divine Discourse Aug 30, 1974

Sincere devotion, unshaken faith—they can never fail to earn Grace. 


Ada dua kebenaran yang harus diterima oleh setiap peziarah atau bhakta: (1) Bhakti haruslah utuh, bebas, dan menyeluruh. (2) Ketuhanan harus dipahami sebagai sesuatu yang utuh, bebas, dan menyeluruh. Sebaliknya, bhakti pada hari ini hampir selalu hanya bersifat “paruh waktu”. Artinya, ketika penyakit, kekalahan, atau kekecewaan datang menimpa, kita berpaling kepada Tuhan dan berdoa memohon Anugerah-Nya; namun, ketika kita bahagia, sejahtera, sehat, dan berada dalam keadaan baik, kita mengabaikan Tuhan dan menganggap bahwa semua itu merupakan hasil dari kemampuan dan pencapaian kita sendiri. Tuhan diabaikan saat matahari bersinar; Tuhan dicari hanya ketika saat gelap dan malam. Bhakti harus tetap teguh dan berkembang, tanpa dipengaruhi oleh waktu, tempat, ataupun keadaan. Demikian pula, Tuhan harus dialami dalam kepenuhan-Nya, dan Ananda yang diperoleh dari pengalaman tersebut, hendaknya menjadi milik seseorang secara permanen. Tidak mungkin mengalami Tuhan dan membicarakan tentang Tuhan. Kata-kata seperti Sarvajna (Yang Mahatahu) dan Sarvavyapi (Yang Mahahadir dan meliputi segala sesuatu) digunakan oleh manusia karena para sesepuh dan orang-orang suci telah menggunakannya sejak zaman dahulu; adalah mustahil bagi siapapun untuk memperoleh pengalaman yang sepenuhnya utuh dan menyeluruh mengenai sifat-sifat Ketuhanan tersebut, dan juga membicarakan pengalaman itu. 


-- Divine Discourse 30 Agustus 1974

Ketulusan bhakti dan keteguhan keyakinan -- tidak akan pernah gagal memperoleh Anugerah Tuhan. 

Sunday, August 23, 2026

Thought for the Day - 23rd August 2026



When Rama, Sita and Lakshmana went to the forest and reached Chitrakuta mountain, Rama told Lakshmana to put up a hut in a place of his choice. Hearing these words, Lakshmana felt hurt and bent down his head with grief. Noting this, Sita asked Lakshmana, “Why are you perturbed, Lakshmana? Your brother did not say anything harsh. Why do you feel so sad?” Lakshmana said, “O, Mother! Have I ever had any choice of my own? The likes of Rama are mine. I have surrendered myself to Rama. The command of Rama is what I want to carry out. While it is so, how can I withstand the impact of Rama asking me to put up the hut at a place of my choice? Does it not amount to separation from Rama?” That is the intensity of the feelings of a true devotee towards the Lord. Your thoughts should always be centred on God. The world is like a passing cloud. But the relationship between you and God is permanent and eternal. 


-- Divine Discourse Oct 11, 1998

Unless man learns to surrender his ego with full satisfaction, in complete sincerity, with no reservations, to the Lord, he cannot realise Him, though He is resident in his own heart.


Ketika Sri Rama, Sita dan Lakshmana pergi ke hutan dan mencapai gunung Chitrakuta, Sri Rama mengatakan pada Lakshmana untuk membangun sebuah gubuk di tempat sesuai pilihannya. Mendengar arahan ini dari Sri Rama, Lakshmana menundukkan kepalanya dalam kesedihan. Menyadari akan hal ini, Sita menanyakan Lakshmana, “mengapa engkau menjadi gelisah, Lakshmana? Kakandamu tidak mengucapkan perkataan yang kasar sekalipun. Mengapa engkau merasa begitu sedih?” Lakshmana berkata, “O, Ibu! Apakah selama ini aku pernah memiliki pilihan sendiri? Rama adalah segalanya bagiku. Saya telah menyerahkan diriku sepenuhnya pada Rama. Perintah dari Sri Rama adalah yang aku kerjakan. Jika demikian, bagaimana saya bisa menerima kenyataan bahwa Rama memintaku mendirikan gubuk di tempat sesuai dengan pilihanku sendiri? Bukankah hal itu berarti aku harus berpisah dari Rama?” Demikianlah kuatnya perasaan seorang bhakta sejati terhadap Tuhan. Pikiranmu hendaknya selalu berpusat kepada Tuhan. Dunia ini bagaikan awan yang berlalu. Namun, hubungan antara dirimu dan Tuhan bersifat tetap dan abadi. 


-- Divine Discourse 11 Oktober 1998

Kecuali manusia belajar untuk menyerahkan egonya dengan penuh kerelaan, ketulusan yang sempurna, dan tanpa menyisakan keraguan atau keterikatan apa pun kepada Tuhan, ia tidak akan mampu menyadari-Nya, meskipun Tuhan bersemayam di dalam hatinya sendiri.

Saturday, August 22, 2026

Thought for the Day - 22nd August 2026 (Saturday)





The Lord resides not only in the hearts of devotees, but also in the hearts of the evil-minded. Once, child Prahlada approached his mother Leelavati, and told her, "Mother, there is only one difference between me, who is a devotee of Hari and my father, who hates Hari. Ever contemplating the nectarous sweetness of the Lord, repeating His name and constantly remembering Him, I am immersed in the bliss of love of the Lord like one intoxicated. My father, in his hatred of Narayana, has turned his heart into stone and installed Him in it." The Lord, who dwelt in the heart of Prahlada, who loved Narayana, and the Lord who was in the heart of Hiranyakashipu, who hated Narayana, was one and the same. Drinking deep the nectar of Divine Love, Prahlada quenched his heart's thirst and found bliss. Installing the Lord in his stony heart, Hiranyakashipu was unable to allay his burning thirst and experienced endless worries! It is said, man must live in faith. The one who lives in faith experiences happiness. And the man who experiences this happiness will be far from restlessness and live in peace. 


-- Divine Discourse Sep 15, 1986

Through Love and Service, the mind is cleared of ego, and God is reflected therein. 


Tuhan bersemayam bukan hanya di dalam hati para bhakta, tetapi juga di dalam hati orang-orang yang berpikiran jahat. Pada suatu ketika, Prahlada kecil mendatangi ibunya, Leelavati, dan berkata: “Ibu, hanya ada satu perbedaan antara diriku, yang merupakan bhakta Hari, dan ayahku, yang membenci Hari. Aku senantiasa merenungkan kemanisan nektar kasih Tuhan, mengulang-ulang nama-Nya, dan terus-menerus mengingat-Nya, aku tenggelam dalam kebahagiaan kasih kepada Tuhan bagaikan seseorang yang mabuk oleh kebahagiaan. Ayahku, karena kebenciannya kepada Narayana, telah mengubah hatinya menjadi batu dan menempatkan-Nya di dalam hati itu. Tuhan yang bersemayam di dalam hati Prahlada yang mencintai Narayana, dan Tuhan yang ada dalam hati Hiranyakashipu yang membenci Narayana adalah satu dan sama. Dengan mereguk dalam-dalam nektar kasih Tuhan, Prahlada memuaskan dahaga hatinya dan mendapatkan kebahagiaan. Sebaliknya, Hiranyakashipu, yang menempatkan Tuhan di dalam hatinya yang telah menjadi batu, tidak mampu memadamkan dahaga batinnya yang membara dan justru mengalami kekhawatiran dan penderitaan yang tiada akhir! Dikatakan bahwa, manusia harus hidup dalam keyakinan. Seseorang yang hidup dalam keyakinan mengalami kebahagiaan. Dan seseorang yang mengalami kebahagiaan ini akan jauh dari kegelisahan dan hidup dalam kebahagiaan. 


-- Divine Discourse 15 September 1986

Melalui kasih dan pelayanan, pikiran dibersihkan dari ego, dan Tuhan terpantul di dalamnya.

Thursday, August 20, 2026

Thought for the Day - 20th August 2026 (Thursday)



Wherever faith and dedication to God are evident, forces that tend to ridicule it and diminish its strength also are found. Where an astika (theist) is, there a nastika (atheist) too will raise his head. Disbelief in God or Supreme Will can be only a pose assumed for the sake of personal aggrandisement or advertisement. It cannot stand the light of reason or of experience; even so-called atheists have Love in their hearts, honour Truth while dealing with Society, and live based on the eternal, basic principles of justice. So, they are believers in Sat-chit-ananda (Being, Awareness, Bliss Supreme). You have the duty to stand witness in your lives to the courage, the joy, the strength, the generosity, and the humility that true spirituality and faith can impart to man, when faced with disappointment, distress, defeat, defamation, and other calamities against which the atheist has no such shield. Gold gains in value when melted in the crucible. A piece of diamond, when it is cut into a many-faceted gem, is rendered more brilliant and more costly. A dull stone is not sought by all! Prahladha was subjected to torture by his irate father; but that only added to his lustre! 


-- Divine Discourse Aug 30, 1974

Every obstacle is a step that leads you to the Ananda (bliss) that can never be destroyed or taken away.


Dimanapun keyakinan dan dedikasi kepada Tuhan terlihat dengan jelas, di sana pula akan ditemukan kekuatan-kekuatan yang cenderung mencemooh dan melemahkannya. Di mana ada seorang astika (teis), di situ juga akan ada seorang nastika (ateis) yang akan menunjukkan kepalanya. Ketidakpercayaan pada Tuhan atau Kehendak Tertinggi hanyalah terkadang suatu sikap yang diambil demi membesarkan atau menonjolkan diri. Sikap tersebut tidak akan mampu bertahan di hadapan cahaya akal sehat maupun pengalaman; bahkan mereka yang disebut ateis memiliki kasih di dalam hati mereka, menghormati kebenaran saat berhubungan dengan masyarakat, dan hidup berdasarkan pada prinsip-prinsip dasar keadilan yang abadi. Jadi, mereka mempercayai pada Sat-chit-ananda (Kebenaran, Kesadaran, Kebahagiaan tertinggi). Engkau memiliki kewajiban untuk berdiri menyaksikan dalam hidupmu atas keberanian, suka cita, kekuatan, kemurahan hati, dan kerendahan hati yang dapat diberikan oleh spiritualitas dan keyakinan sejati kepada manusia ketika menghadapi kekecewaan, kesedihan, kekalahan, fitnah, serta berbagai penderitaan lainnya dimana seorang ateis tidak memiliki perisai seperti itu. Emas menjadi semakin berharga ketika dilebur di dalam tungku. Sebongkah berlian, ketika dipotong menjadi permata dengan banyak sisi, akan menjadi semakin berkilau dan semakin mahal. Batu yang kusam tidak akan dicari oleh siapa pun! Prahlada disiksa oleh ayahnya yang murka, tetapi penderitaan itu justru semakin menambah kemilau dan keagungan dirinya! 


-- Divine Discourse 30 Agustus 1974

Setiap halangan adalah sebuah langkah yang menuntunmu pada kebahagiaan (Ananda) yang tidak akan pernah dapat dihancurkan ataupun dirampas. 

Wednesday, August 19, 2026

Thought for the Day - 19th August 2026 (Wednesday)



God is all-powerful; God is everywhere; God is all-knowing. To adore such a formidable, limitless Principle, man spends a few minutes out of the 24 hours before an idol or image or picture! It is indeed ridiculous; it is practically futile. Adore Him so long as you have breath, so long as you are conscious. Have no other thought than God, no other aim than knowing His command, no other activity than translating that command into action. That is what is meant by surrender. Render yourself unto Him. When you intend to go on a journey, you hand over the keys of your car to the chauffeur and sit in comfort and security in the back seat, forgetting the possible troubles on the way. You have surrendered your life into the hands of that man, his intelligence, alertness, and skill. Some men do not fully surrender; they are too egoistic for that! They interrupt him every minute with tips, hints, and suggestions about driving; with questions and doubts regarding the condition of the car or the road! Be steady, have faith, and reach the goal safely. Life is the car, your heart is the key. God is the Sarathi (chauffeur). Surrender to Him and be rid of further bother: Travel safe and arrive happy.


-- Divine Discourse Feb 23, 1971

So long as there is this distinction in the mind of the individual between God and ‘I’, this cannot be accepted as complete surrender.


Tuhan Mahakuasa; Tuhan ada dimana-mana; Tuhan Mahatahu. Untuk memuja prinsip Tuhan yang Maha besar dan tidak terbatas, manusia hanya meluangkan beberapa menit dari 24 jam di depan arca atau gambar perwujudan suci Tuhan! Hal ini benar-benar konyol; dan praktis tidak ada gunanya. Pujalah Tuhan selama engkau bernafas, selama engkau sadar. Jangan memikirkan yang lain selain Tuhan, jangan memiliki tujuan lain selain mengenal kehendak-Nya, dan tidak ada aktivitas lain selain menerjemahkan perintah-Nya ke dalam tindakan. Itulah makna dari penyerahan diri sejati. Serahkan dirimu kepada-Nya. Ketika engkau berhasrat melakukan perjalanan, engkau menyerahkan kunci mobilmu kepada sopir dan duduk dengan nyaman dan aman di kursi belakang, melupakan kemungkinan masalah di perjalanan. Engkau telah menyerahkan hidupmu di tangan sopir tersebut dengan mempercayai kecerdasan, kewaspadaan, dan keterampilannya. Namun, beberapa orang tidak sepenuhnya berserah diri; mereka terlalu egois untuk itu! Merepa menyela dalam setiap menit dengan memberikan petunjuk, saran, dan nasihat tentang cara mengemudikan mobil; dengan pertanyaan dan keraguan mengenai kondisi mobil atau jalan! Karena itu, jadilah teguh, miliki keyakinan, dan sampai pada tujuan dengan selamat. Hidup adalah seperti mobil, hatimu adalah kuncinya. Tuhan adalah sebagai sopirnya (sarathi). Berserah diri pada Tuhan dan dan bebaskan diri dari segala kesulitan: selamat jalan dan sampai di tujuan dengan bahagia. 


-- Divine Discourse 23 Februari 1971

Selama masih ada perbedaan dalam pikiran antara Tuhan dan 'aku', hal ini belum bisa disebut sebagai penyerahan diri yang sempurna.