Tuesday, February 17, 2026

Thought for the Day - 17th February 2026 (Tuesday)



Consider this example: Here is a person whose form can be described in terms of various physical features. But, does this description in terms of height and weight reveal anything about his internal qualities like forbearance, peacefulness, compassion, love, and sacrifice? Are these qualities not very real and significant? He is prized mainly for these qualities, not for his physical features. To judge him only in physical terms is meaningless. His formless virtues are more important. When one is judged on the basis of his qualities, the form is irrelevant. The utter ridiculousness of judging a person solely on the basis of his physical form was demonstrated by Sage Ashtavakra to the learned pundits in Emperor Janaka’s court. When all of them laughed on seeing the crooked figure of Ashtavakra, the sage laughed even louder at all of them. When they asked him for an explanation, he told them that the scholars who laughed at his deformed figure were no better than cobblers who judged things by the nature of the skin. Ashtavakra told them, punditah samadarshinah (the truly wise person sees the Divine in all beings). “I laughed at all of you because I wondered how the Emperor happened to esteem you all as scholars.” This means that those who judge anything on the basis of the external form are utterly foolish. 


- Divine Discourse, Mar 7, 1997

Let us not be carried away by the “seen.” We must make efforts to perceive the “seer.” 


Perhatikan contoh ini: ada seseorang yang mana bentuknya dapat dijelaskan melalui berbagai ciri fisiknya. Namun, apakah penjelasan fisik ini yang berkaitan dengan tinggi dan berat badan dapat mengungkapkan semua tentang kualitas batinnya seperti ketabahan, kedamaian, welas asih, kasih, dan pengorbanan? Bukankah kualitas-kualitas yang disebutkan tadi sangat nyata dan bermakna? Seseorang dihargai terutama karena kualitas-kualitas ini, dan bukan pada ciri fisiknya. Dengan menilai seseorang hanya pada ciri fisiknya adalah tidak ada gunanya. Karena nilai-nilai luhur dalam dirinya yang tidak berbentuk adalah jauh lebih penting. Ketika seseorang dinilai pada nilai luhurnya ini maka bentuk fisiknya menjadi tidak relevan. Benar-benar sebuah kekonyolan menilai seseorang hanya berdasarkan pada bentuk fisiknya yang pernah ditunjukkan  oleh Rsi Ashtavakra kepada para cendekiawan di istana Raja Janaka. Ketika semua cendekiawan menertawakan bentuk fisik yang bengkok dari Rsi Ashtavakra, reaksi dari Rsi Ashtavakra  malah tertawa lebih keras pada semua cendekiawan tersebut. Ketika mereka meminta penjelasan, Rsi Ashtavakra mengatakan pada mereka bahwa cendekiawan yang menertawakan bentuk fisiknya adalah tidak lebih baik daripada tukang sol sepatu yang menilai sesuatu pada kulitnya saja. Rsi Ashtavakra mengatakan pada mereka, punditah samadarshinah (seseorang yang benar-benar bijaksana melihat kualitas ketuhanan dalam semua makhluk). “Aku menertawakan anda semuanya karena aku heran bagaimana raja menganggap anda semuanya sebagai terpelajar.” Hal ini berarti bahwa mereka yang menilai sesuatu atas dasar pada wujud luarnya adalah benar-benar bodoh. 


- Divine Discourse, Mar 7, 1997

Janganlah kita terhanyut pada “apa yang terlihat”. Kita harus berusaha untuk menyadari sang “saksi abadi - Atma”.

Monday, February 16, 2026

Thought for the Day - 16th February 2026 (Monday)



You declare that you have surrendered, but that is just a verbal statement. If you sit in a car, you go along with it; on a cycle, you move with it; on a horse, you go wherever the horse takes you. But, in this case, you say, and perhaps you believe that you have placed yourselves in My hands, and so, you are going along the path I have laid down. But, your mind and your heart are not fully in Me and so, the surrender is only in name. As a sign of this deed of surrender and in order to sustain it, nothing more is enjoined than constant remembrance of the Name. No regimen of exhausting Sadhana (spiritual discipline) is prescribed. Smarana (remembrance) is enough. You have sung Bhajans extolling the Names which summarise the Glory all through the night. But this is only an appetiser. Bhajan must become an unbroken stream of bliss on your tongues and in your hearts; it must confer on you the uninterrupted awareness of Soham — of the Unity of I and He, of ‘This’ with ‘That’. It is called Akhanda Hamsa Japa—uninterrupted repetition of the Hamsa mantra, Soham. It will ensure freedom from anxiety, fear and grief. 


- Divine Discourse, Feb 21, 1974

The state of constant remembrance of God can come only through long practice; it will not be acquired suddenly. So, strive for it steadily. 


Anda menyatakan bahwa anda telah berserah diri, namun itu hanya pernyataan lisan saja. Jika anda duduk di dalam mobil maka anda bergerak bersamanya; jika anda duduk di atas sepeda, anda bergerak dengannya; jika anda duduk di atas kuda, anda pergi kemanapun kuda itu membawamu. Namun dalam hal ini anda berkata dan mungkin percaya bahwa anda telah menaruh diri anda di tangan-Ku, dan sehingga anda bisa berjalan di jalan yang telah Aku tetapkan. Namun, pikiran dan hati anda tidak sepenuhnya ada bersama-Ku, dan sehingga kata berserah diri hanya sebatas sebutan saja. Sebagai tanda dari tindakan berserah diri ini dan upaya dalam menjaganya, tidak ada lagi yang diperintahkan selain senantiasa mengingat nama suci Tuhan. Tidak ada program Sadhana (latihan spiritual) melelahkan yang ditetapkan. Smarana (mengingat) adalah cukup. Anda telah melantunkan Bhajan memuliakan nama suci Tuhan sepanjang malam. Namun ini hanyalah hidangan pembuka saja. Bhajan harus menjadi aliran kebahagiaan yang tiada terputus di lidah dan hatimu; bhajan harus menganugerahkan padamu kesadaran yang tidak terputus pada Soham – kesatuan antara aku dan Tuhan, antara ‘ini’ dengan ‘Itu’. Inilah yang disebut dengan Akhanda Hamsa Japa – pengulangan tanpa henti mantra Hamsa, Soham. Ini akan menjamin kebebasan dari kecemasan, ketakutan dan kesedihan. 


- Divine Discourse, Feb 21, 1974

Keadaan mengingat Tuhan secara terus menerus hanya bisa melalui latihan panjang; hal ini tidak bisa di dapat secara tiba-tiba. Jadi, berusahalah untuk mencapainya dengan tekun dan mantap.

Saturday, February 14, 2026

Thought for the Day - 14th February 2026 (Saturday)



If there is sugar at the bottom of a tumbler filled with water, you can make the whole water sweet by stirring the sugar and dissolving it in the water. Likewise, your heart is a cup. At the bottom, there is Divinity. Take the spoon of buddhi (intellect), stir the heart by the process of sadhana. Then the Divinity in the heart will circulate through the entire body. Then, every action of yours will be sweet, your speech will be sweet, your walking will be sweet, your looks will be sweet, and your thoughts will be sweet. You will be sweet all over. Realise that sweetness is within you. Turn your intellect inwards and stir it with love, then that sweetness will spread. Saint Ramadas proclaimed the same truth when he sang his song calling upon all devotees to share the sweetness of the name of Rama. “Here is the sweet of Rama’s name. Eat it and enjoy the bliss. Do not go after any other silly things sold in the bazaar. This sweet has been made out of the flour of the Vedas, mixed with the milk of the Vedic declarations, and is offered to you by the ancient sages. They made it with the sugar of inward contemplation and the ghee of pure thoughts and removed the taint of falsehood from it.” 


- Divine Discourse, Mar 07, 1997

Self-realisation is the goal. Love is the means. It is through the cultivation of Love that life can find fulfilment.

 

Jika ada gula di dasar gelas yang terisi dengan air, maka anda bisa membuat seluruh air tersebut menjadi manis dengan mengaduk gula itu dan melarutkannya di dalam air. Sama halnya, hati anda adalah sebuah cangkir. Di dasar hati anda, ada kualitas keilahian. Ambillah sendok _buddhi_ (kecerdasan), aduk hati dengan melalui proses _sadhana_. Kemudian kualitas keilahian di dalam hati akan mengalir ke seluruh tubuh. Kemudian, setiap perbuatan yang anda lakukan akan menjadi indah, perkataan anda menjadi indah, langkah anda menjadi indah, pandangan anda menjadi indah dan pemikiran anda juga menjadi indah. Anda akan menjadi keindahan sepenuhnya. Sadarilah keindahan itu ada di dalam diri anda. Arahkan kecerdasan anda ke dalam diri dan aduklah kecerdasan itu dengan kasih, kemudian keindahan itu akan menyebar. Guru suci Ramadas menyatakan kebenaran yang sama ketika beliau melantunkan lagunya yang mengajak semua bhakta untuk berbagi keindahan nama suci Rama. “Inilah keindahan dari nama suci Rama. Nikmatilah dan rasakan kebahagiaan dari nama suci Rama. Jangan mengejar hal-hal yang sepele yang dijual di pasar. Permen ini telah dibuat dari tepung Weda, yang dicampur dengan susu dari pernyataan-pernyataan Weda, dan dipersembahkan kepada anda oleh para guru-guru suci. Mereka membuatnya dengan gula kontemplasi ke dalam diri dan ghee pemikiran yang suci serta menghilangkan noda kepalsuan darinya.” 


- Divine Discourse, Mar 07, 1997

Menyadari Diri sejati adalah tujuan. Kasih adalah sarananya. Melalui peningkatan kasih maka hidup dapat menemukan pemenuhannya yang sejati.

Friday, February 13, 2026

Thought for the Day - 13th February 2026 (Friday)



Man does not mean the body alone. Man also has the mind, the intellect, and the Atma. It is the combination of all these that constitutes true humanness. When the balance among these four constituents is upset, man is plunged into troubles. When man maintains the balance among these four, the nation will prosper. The transformation of man is based on the transformation of his mind. When men are transformed, the nation is transformed. When nations change, the world is transformed. Hence, if the world must be changed, there must be a mental transformation at the individual level. The human mind should be filled with love. The mind is a remarkable entity. When it is filled with wisdom, it makes a man a saint. When it is associated with ignorance, it turns into an agent of death. Hence, it has been declared that the mind is the cause of human bondage or liberation. All changes in education and other spheres must begin with the transformation of the mind.


- Divine Discourse, Feb 13, 1997

The chaos and the confusion, the agony and the agitation that we witness in the country today are nothing but the manifestation of the distorted mind

 

Manusia tidak hanya terkait tubuh fisik saja. Manusia juga memiliki pikiran, kecerdasan dan Atma. Perpaduan dari semuanya ini yang menyusun kemanusiaan yang sejati. Ketika keseimbangan diantara keempat ini mengalami gangguan maka manusia akan mendapatkan masalah. Ketika setiap individu menjaga kesiembangan diantara keempat penyusun ini maka bangsa akan menjadi sejahtera. Perubahan pada manusia didasarkan pada pikirannya. Ketika setiap individu berubah maka bangsa akan berubah. Ketika bangsa berubah maka dunia juga akan berubah. Oleh karena itu, jika dunia harus berubah maka harus ada perubahan batin dalam setiap individu. Pikiran manusia seharusnya diliputi dengan kasih. Pikiran adalah kekuatan vital yang luar biasa. Ketika pikiran diliputi dengan kebijaksanaan, maka pikiran ini akan membuat manusia menjadi seorang yang suci. Namun ketika pikiran diliputi dengan ketidaktahuan maka pikiran berubah menjadi agen kematian. Karena itu, telah dinyatakan bahwa pikiranlah yang menjadi penyebab keterikatan atau pembebasan pada manusia. Semua perubahan dalam pendidikan atau bidang lainnya harus dimulai dengan perubahan dalam pikiran. 


- Divine Discourse, Feb 13, 1997

Kekacauan dan kebingungan,  penderitaan dan kegelisahan yang kita saksikan di negeri kita saat ini, tiada lain adalah wujud dari pikiran yang menyimpang

Wednesday, February 11, 2026

Thought for the Day - 11th February 2026 (Wednesday)



From ancient times and to some extent even today, the Chinese have observed one ritual every morning before beginning their day’s chores. They declare: “Difficulties are our friends. Let us invite them.” They have recognised that without trouble, no good can be realised. They start the day’s work with this thought before them. The Chinese also realise that true happiness comes from the satisfaction of a task well done. In Bharat, too, there is the dictum, Uddharet Atmana-Atmanam (Raise the self by the self). What is it that can raise the self? It is our own good conduct. Our good conduct is not for elevating the country, but for elevating ourselves. A whetstone is used for sharpening a knife, not for making the whetstone smoother. Likewise, in this world, your good conduct improves you, and as a result, the world. There is a proverb current in China: “The most delicious food is that got by hard labour.” What is got by arduous effort is relished with joy. One who enjoys his food without having laboured for it is an idler. In China, everyone works hard to earn his living. This cult of work should activate every human being.


- Divine Discourse, Feb 13, 1997

Make conscience your master. You can then face any difficulties in life and overcome them.


Dari jaman dahulu dan sampai batas tertentu hingga hari ini, masyarakat China telah memiliki satu ritual yang setiap pagi mereka jalankan sebelum memulai pekerjaan mereka. Mereka menyatakan: “Kesulitan-kesulitan yang ada adalah teman kita. Mari kita menyambutnya.” Mereka telah menyadari bahwa tanpa adanya masalah, tidak ada kebaikan yang dapat disadari. Masyarakat China memulai pekerjaan mereka dengan pemikiran yang seperti ini. Mereka juga menyadari bahwa kebahagiaan sejati muncul dari kepuasan karena telah menyelesaikan suatu tugas dengan baik. Di Bharat, juga terdapat pernyataan: “Uddharet Atmana-Atmanam (angkatlah dirimu oleh dirimu sendiri). Apa yang dapat mengangkat diri manusia? Jawabannya adalah perilaku baik kita sendiri. Perilaku baik kita tidak mengangkat bangsa, namun untuk mengangkat diri kita sendiri. Sebuah batu asah digunakan untuk mengasah sebuah pisau, dan bukan untuk batu asah itu menjadi semakin halus. Sama halnya, dalam dunia ini, perilaku baikmu akan meningkatkan dirimu, dan sebagai hasilnya dunia ikut mengalami peningkatan. Ada sebuah pepatah dalam China: “Makanan yang paling lezat dapat diperoleh dengan kerja keras.” Apa yang diperoleh dengan usaha yang berat akan dinikmati dengan suka cita. Seseorang yang menikmati makanannya tanpa bekerja keras adalah seorang pemalas. Di China, setiap orang bekerja keras untuk mendapatkan nafkah. Semangat kerja inilah yang seharusnya membangkitkan dan menggerakkan setiap manusia.


- Divine Discourse, Feb 13, 1997

Jadikanlah suara hatimu sebagai pemimpin. Sehingga anda mampu menghadapi berbagai kesulitan dalam hidup dan mengatasinya.

Tuesday, February 10, 2026

Thought for the Day - 10th February 2026 (Tuesday)



Satsang is much more beneficial than doing penance, going on pilgrimages or doing meditation. What is the real meaning of Satsang? People think that Satsang denotes the company of good people and listening to their teachings. But this is not the true meaning of Satsang. Sat means Truth that has no change in the past, present or future. Trikalabadhyam Satyam (Truth is that which remains unchanged in the three periods of time – past, present and future). It cannot be obliterated or hidden by history. That Truth is Divinity. Living in the awareness of Divinity is Satsang. Sat is also denoted by Tat, which connotes Divinity. So, Satsang means living in Divinity that is changeless, attributeless, formless, immortal, infinite, ever united, and unique as one only. To live always in divine consciousness is the real purport of Satsang.


- Divine Discourse, Apr 17, 1993

Converse with God who is in you; derive courage and consolation from Him. He is the Guru most interested in your progress. 


Satsang adalah jauh lebih bermanfaat daripada melakukan olah tapa, mengunjungi tempat-tempat suci atau melakukan meditasi. Apa yang menjadi makna sejati dari Satsang? Banyak orang berpikir bahwa Satsang berarti berada di tengah-tengah orang-orang yang baik dan mendengarkan ajaran mereka. Namun ini bukanlah arti sejati dari Satsang. Sat berarti Kebenaran yang tidak mengalami perubahan di masa lalu, hari ini atau di masa depan. Trikalabadhyam Satyam (Kebenaran adalah yang tetap sama dalam tiga periode waktu yaitu masa lalu, masa kini dan masa depan). Kebenaran tidak bisa dihapus atau disembunyikan oleh sejarah. Kebenaran itu adalah Tuhan. Hidup dalam kesadaran Tuhan adalah arti sejati dari Satsang. Sat juga berarti Tat, yang memiliki makna keilahian. Jadi, Satsang berarti hidup dalam keilahian yang bersifat kekal, tanpa karakterisstik, tanpa wujud, abadi, tanpa batas, selamanya satu, dan tunggal. Untuk bisa selalu hidup dalam kesadaran Tuhan adalah tujuan sejati dari Satsang.


- Divine Discourse, Apr 17, 1993

Berbicaralah dengan Tuhan yang bersemayam di dalam dirimu; dapatkan keberanian dan penghiburan dari-Nya. Tuhan adalah Guru yang paling peduli terhadap kemajuanmu.

Monday, February 9, 2026

Thought for the Day - 9th February 2026 (Monday)



Don’t criticise or condemn others. If you deceive your friends, they, in turn, will cheat you. If you disobey your parents, your children will pay you back in the same coin. If you hurt others, they will hurt you in retaliation. Reaction, resound and reflection are inherent in man’s mind. Hence, you should discerningly follow the maxim: “Hurt never; help ever”. There are some sinful persons who cavil not only at other men but even against God. This seems to be their very nature, although God never harms anyone at any time. In this context, the lowest category of people is those who take sadistic pleasure in hurting other people without any provocation whatsoever. They may be compared to the moths, whose nature is to damage all clothes indiscriminately, whether it is a valuable saree costing one thousand rupees, or whether it is a worthless, soiled rag in the kitchen. This highly despicable tendency on the part of some persons to harm others is traceable to their bad thoughts. We try to dispel foul odours from our living rooms and toilets by using substances like air-fresheners, incense sticks, and other deodorants. Similarly, we should try to counteract our bad thoughts with good ones.


- Divine Discourse, May 24, 1990

Good thoughts will eventually lead us to the fulfilment of our lives, while bad thoughts will degrade us to the level of beasts. 


Jangan mengkritik atau mencela orang lain. Jika anda menipu temanmu, maka merekapun juga akan menipumu. Jika anda melawan orang tuamu, maka anak-anakmu nantinya akan memperlakukanmu dengan cara yang sama. Jika anda menyakiti yang lainnya, mereka akan membalas dengan menyakitimu. Reaksi, gema dan pantulan adalah hukum yang melekat dalam pikiran manusia. Oleh karena itu, anda dengan penuh kebijaksanaan untuk mengikuti prinsip ini: “Jangan pernah menyakiti; selalu membantu”. Ada beberapa orang penuh dosa yang gemar mencari-cari kesalahan, tidak hanya pada orang lain namun bahkan pada Tuhan. Hal ini seolah-olah menjadi sifat alami mereka, walaupun Tuhan tidak pernah menyakiti siapapun dan kapanpun juga. Dalam hal ini, kategori manusia yang paling rendah adalah mereka yang menikmati kekejaman dalam menyakiti orang lain tanpa alasan apapun. Mereka ini dapat diibaratkan seperti ngengat yang sifat alaminya adalah merusak semua pakaian tanpa membedakan, apakah pakaian ini adalah pakaian yang sangat mahal maupun kain lusuh yang ada di dapur. Kecendrungan yang sangat tercela ini yang ada pada beberapa orang untuk menyakiti orang lain adalah bersumber dari pemikiran buruk yang ada dalam diri mereka. Kita berusaha untuk menghilangkan bau-bau tidak sedap di ruang tamu dan kamar mandi dengan menggunakan pengharum ruangan, dupa dan pewangi lainnya. Sama halnya, kita berusaha untuk melawan pemikiran buruk kita dengan pemikiran yang baik dan luhur. 


- Divine Discourse, 24 Mei 1990

Pemikiran yang luhur pada akhirnya akan menuntun kita pada pemenuhan hidup, sedangkan pemikiran buruk akan menjatuhkan kita pada tingkat binatang.