Tuesday, February 10, 2026

Thought for the Day - 10th February 2026 (Tuesday)



Satsang is much more beneficial than doing penance, going on pilgrimages or doing meditation. What is the real meaning of Satsang? People think that Satsang denotes the company of good people and listening to their teachings. But this is not the true meaning of Satsang. Sat means Truth that has no change in the past, present or future. Trikalabadhyam Satyam (Truth is that which remains unchanged in the three periods of time – past, present and future). It cannot be obliterated or hidden by history. That Truth is Divinity. Living in the awareness of Divinity is Satsang. Sat is also denoted by Tat, which connotes Divinity. So, Satsang means living in Divinity that is changeless, attributeless, formless, immortal, infinite, ever united, and unique as one only. To live always in divine consciousness is the real purport of Satsang.


- Divine Discourse, Apr 17, 1993

Converse with God who is in you; derive courage and consolation from Him. He is the Guru most interested in your progress. 


Satsang adalah jauh lebih bermanfaat daripada melakukan olah tapa, mengunjungi tempat-tempat suci atau melakukan meditasi. Apa yang menjadi makna sejati dari Satsang? Banyak orang berpikir bahwa Satsang berarti berada di tengah-tengah orang-orang yang baik dan mendengarkan ajaran mereka. Namun ini bukanlah arti sejati dari Satsang. Sat berarti Kebenaran yang tidak mengalami perubahan di masa lalu, hari ini atau di masa depan. Trikalabadhyam Satyam (Kebenaran adalah yang tetap sama dalam tiga periode waktu yaitu masa lalu, masa kini dan masa depan). Kebenaran tidak bisa dihapus atau disembunyikan oleh sejarah. Kebenaran itu adalah Tuhan. Hidup dalam kesadaran Tuhan adalah arti sejati dari Satsang. Sat juga berarti Tat, yang memiliki makna keilahian. Jadi, Satsang berarti hidup dalam keilahian yang bersifat kekal, tanpa karakterisstik, tanpa wujud, abadi, tanpa batas, selamanya satu, dan tunggal. Untuk bisa selalu hidup dalam kesadaran Tuhan adalah tujuan sejati dari Satsang.


- Divine Discourse, Apr 17, 1993

Berbicaralah dengan Tuhan yang bersemayam di dalam dirimu; dapatkan keberanian dan penghiburan dari-Nya. Tuhan adalah Guru yang paling peduli terhadap kemajuanmu.

Monday, February 9, 2026

Thought for the Day - 9th February 2026 (Monday)



Don’t criticise or condemn others. If you deceive your friends, they, in turn, will cheat you. If you disobey your parents, your children will pay you back in the same coin. If you hurt others, they will hurt you in retaliation. Reaction, resound and reflection are inherent in man’s mind. Hence, you should discerningly follow the maxim: “Hurt never; help ever”. There are some sinful persons who cavil not only at other men but even against God. This seems to be their very nature, although God never harms anyone at any time. In this context, the lowest category of people is those who take sadistic pleasure in hurting other people without any provocation whatsoever. They may be compared to the moths, whose nature is to damage all clothes indiscriminately, whether it is a valuable saree costing one thousand rupees, or whether it is a worthless, soiled rag in the kitchen. This highly despicable tendency on the part of some persons to harm others is traceable to their bad thoughts. We try to dispel foul odours from our living rooms and toilets by using substances like air-fresheners, incense sticks, and other deodorants. Similarly, we should try to counteract our bad thoughts with good ones.


- Divine Discourse, May 24, 1990

Good thoughts will eventually lead us to the fulfilment of our lives, while bad thoughts will degrade us to the level of beasts. 


Jangan mengkritik atau mencela orang lain. Jika anda menipu temanmu, maka merekapun juga akan menipumu. Jika anda melawan orang tuamu, maka anak-anakmu nantinya akan memperlakukanmu dengan cara yang sama. Jika anda menyakiti yang lainnya, mereka akan membalas dengan menyakitimu. Reaksi, gema dan pantulan adalah hukum yang melekat dalam pikiran manusia. Oleh karena itu, anda dengan penuh kebijaksanaan untuk mengikuti prinsip ini: “Jangan pernah menyakiti; selalu membantu”. Ada beberapa orang penuh dosa yang gemar mencari-cari kesalahan, tidak hanya pada orang lain namun bahkan pada Tuhan. Hal ini seolah-olah menjadi sifat alami mereka, walaupun Tuhan tidak pernah menyakiti siapapun dan kapanpun juga. Dalam hal ini, kategori manusia yang paling rendah adalah mereka yang menikmati kekejaman dalam menyakiti orang lain tanpa alasan apapun. Mereka ini dapat diibaratkan seperti ngengat yang sifat alaminya adalah merusak semua pakaian tanpa membedakan, apakah pakaian ini adalah pakaian yang sangat mahal maupun kain lusuh yang ada di dapur. Kecendrungan yang sangat tercela ini yang ada pada beberapa orang untuk menyakiti orang lain adalah bersumber dari pemikiran buruk yang ada dalam diri mereka. Kita berusaha untuk menghilangkan bau-bau tidak sedap di ruang tamu dan kamar mandi dengan menggunakan pengharum ruangan, dupa dan pewangi lainnya. Sama halnya, kita berusaha untuk melawan pemikiran buruk kita dengan pemikiran yang baik dan luhur. 


- Divine Discourse, 24 Mei 1990

Pemikiran yang luhur pada akhirnya akan menuntun kita pada pemenuhan hidup, sedangkan pemikiran buruk akan menjatuhkan kita pada tingkat binatang.

Sunday, February 8, 2026

Thought for the Day - 8th February 2026 (Sunday)



With determination, man can touch the sky and conquer the world. But today, man is losing this strength. What is the reason for this? He is losing his mastery over the senses. The more sensual he is, the lesser the lifespan. Today’s man is losing his physical strength and consequently destroying his inner strength completely. To remain immortal and retain youth, the power of the senses should be developed by controlling them. There should be no body-attachment. If on one hand, man loses control over the senses and on the other, he develops body-attachment, what then will be his plight? These two can be compared to two holes in a pot filled with water. Water filled in such a pot gets drained. Similarly, the pot of our heart is filled with the nectarous grace of God. Man has to foster his heart. But without forbearance and sympathy, he has drilled holes into it. Consequently, his lifespan has decreased. In this limited life span, what good deeds can he do? How can he work for the welfare of society? God-given strength should be utilised properly by Satsangam (Good Company), Satpravartana (Good conduct) and by Seva (Service). Only then can your strength improve.


- Divine Discourse, Oct 02, 2000

Man’s life, though sacred, virtuous, beautiful, and praiseworthy, is short. In this limited life span, man has to engage himself in good actions.

 

Dengan keteguhan hati, manusia dapat menyentuh langit serta menaklukkan dunia. Namun hari ini, manusia sedang kehilangan kekuatannya. Apa alasan penyebab dari keadaan ini? Jawabannya adalah karena manusia kehilangan kemampuan untuk menguasai indranya. Semakin besar manusia mengikuti hawa nafsunya maka semakin pendek masa hidupnya. Hari ini manusia kehilangan kekuatan fisiknya dan akibatnya juga menghancurkan kekuatan batinnya sepenuhnya. Agar bisa tetap abadi dan awet muda, kekuatan indra harus dikembangkan dengan mengendalikannya. Seharusnya tidak ada keterikatan pada tubuh. Jika pada satu sisi manusia kehilangan kendali pada indranya dan pada sisi lainnya mengembangkan keterikatan pada tubuh, maka apa yang akan menjadi penderitannya? Kedua bagian tadi dapat diibaratkan seperti bejana yang berisi air dengan memiliki dua lubang. Air yang ada dalam bejana akan terus mengalir keluar. Sama halnya, bejana dari hati kita terisi dengan anugerah Tuhan yang manis seperti nektar. Manusia harus memelihara hatinya. Namun karena manusia kehilangan ketabahan dan simpati, ia justru membuat lubang pada hatinya. Sebagai akibatnya, masa hidupnya menjadi menyusut dan berkurang. Dalam masa hidup yang terbatas ini, apa perbuatan baik yang dapat ia lakukan? Bagaimana ia dapat bekerja untuk kesejahtraan masyarakat? Kekuatan yang diberikan Tuhan harus digunakan dengan sebaik-baiknya dengan Satsangam (pergaulan suci), Satpravartana (perilaku luhur) dan dengan Seva (pelayanan). Hanya dengan demikian kekuatan anda meningkat.


- Divine Discourse, Oct 02, 2000

Hidup manusia, meskipun suci, luhur, indah dan patut dimuliakan, sesungguhnya sangat singkat. Dalam masa hidup yang terbatas ini, manusia harus menyibukkan dirinya dalam perbuatan yang luhur.

Saturday, February 7, 2026

Thought for the Day - 7th February 2026 (Saturday)



To be good, to do good and to see good is the primary duty of every human being! The wealth we may earn, the prosperity we may acquire, and the mansions we may build are all transient and temporary. Our conduct is the most important thing in our life. Our conduct is the one which lays the foundation for our future life. It is only when we can shape our present conduct along a proper path that our future can hopefully be peaceful and happy. In this context, take a small incident from the Ramayana as an example. Sita, wanting to be close to Rama, was willing to sacrifice all her ornaments, her wealth and every one of her possessions. Because of this supreme sacrifice, it was possible for her to go close to Rama. But in the forest at Panchavati, the moment Sita developed an attraction to the golden deer, Rama became distant from her. If our worldly desires and worldly attachments become stronger, we move further away from God. If we cut out the worldly desires, we get closer and closer to Paramatma!


- Divine Discourse, May 19, 1977

If you wish to become eligible for God’s Love, then your actions must be consistent with Love. 


Menjadi baik, berbuat baik, dan melihat kebaikan adalah kewajiban utama setiap manusia! Kekayaan yang kita hasilkan, kesejahtraan yang kita daoatkan, dan rumah besar yang kita bangun semuanya ini bersifat sementara dan tidak kekal. Perilaku kita adalah hal yang paling penting di dalam hidup kita. Perilaku kita inilah yang meletakkan dasar bagi masa depan hidup kita. Hanya ketika kita bisa membentuk perilaku saat ini di atas jalan yang benar maka masa depan kita dapat diharapkan menjadi damai dan bahagia. Dalam konteks ini, ambillah sebagai sebuah contoh peristiwa kecil dari kisah Ramayana.  Sita sangat ingin dekat dengan Rama dan rela mengorbankan seluruh perhiasannya, kekayaannya dan semua harta bendanya. Karena pengorbanan yang begitu besar inilah maka memungkinkan bagi Sita untuk dekat dengan Rama. Namun saat Sita berada di hutan Panchavati, dimana Sita mengembangkan ketertarikan pada kijang emas, Rama menjadi jauh darinya. Jika keterikatan kita menjadi semakin kuat, kita bergerak menjauh dari Tuhan. Jika kita memotong keinginan duniawi kita, maka kita semakin dekat dan semakin dekat pada Paramatma!


- Divine Discourse, May 19, 1977

Jika anda berharap untuk menjadi menerima kasih Tuhan, maka tindakan anda harus selaras dan sejalan dengan kasih.

Friday, February 6, 2026

Thought for the Day - 6th February 2026 (Friday)



In the Kali Age, man has acquired great fame, riches and comforts, but he lacks peace and a sense of security. The reason for this sorrow is the lack of patience and sympathy (sahana and sahanubhuti) amongst the members of the family living in a house. Why does man lack these two qualities? The rise in selfishness and the use of intelligence for one’s own self-interests has brought about this decline. Man has become selfish, and he no longer thinks of contributing to others’ happiness. Patience and sympathy are like the life force for a man, akin to inhalation and exhalation. A man without these can be considered lifeless. Having acquired a number of degrees and having amassed wealth, what has man really achieved? What every man in a family should aspire to achieve are the two virtues of patience and sympathy.  Today, they build a house with four walls and call it a home. However, it was not so in the olden days. Five to six families lived together in a small hut peacefully, and it became a home. There is a lot of difference between a house and a home. When there is sahana and sahanubhuti among members of the family, it is home. Because of the absence of these, the bhavanam (house) has become vanam (forest). 


- Divine Discourse, Oct 02, 2000

The home is the temple where the family, each member of which is a moving temple, is nurtured and nourished. 


Di jaman kali ini, manusia telah mencapai ketenaran, kekayaan dan kenyamanan yang sangat besar, namun manusia kurang merasakan kedamaian dan rasa aman. Alasan dari penderitaan ini adalah kurangnya kesabaran dan simpati (sahana dan sahanubhuti) diantara anggota keluarga di dalam satu rumah. Mengapa manusia kurang memiliki kedua kualitas ini? Hal ini disebabkan karena meningkatnya sifat mementingkan diri sendiri dan penggunaan kecerdasan untuk kepentingan diri sendiri yang menyebabkan kemerosotan ini. Manusia telah menjadi mementingkan diri sendiri, dan manusia tidak lagi memikirkan bagaimana membahagiakan orang lain. Kesabaran dan simpati adalah seperti kekuatan hidup bagi manusia, seperti halnya tarikan dan hembusan nafas. Seseorang yang tidak memiliki kedua kualitas ini dapat dianggap sebagai manusia yang tidak bernyawa. Setelah mendapatkan berbagai gelar pendidikan dan mengumpulkan kekayaan, apa sebenarnya yang telah dicapai manusia? Yang harus diupayakan untuk dicapai oleh setiap anggota keluarga adalah menumbuhkan dua nilai kebajikan ini yaitu kesabaran dan simpati. Pada hari ini, manusia membangun rumah dengan empat dinding dan menyebutnya dengan tempat tinggal. Namun, pada jaman dahulu tidaklah seperti itu. Lima atau enam keluarga hidup bersama dengan damai dalam sebuah gubuk kecil, dan itu benar-benar menjadi sebuah tempat tinggal. Ada banyak perbedaan diantara rumah dan tempat tinggal. Ketika ada sahana dan sahanubhuti diantara anggota keluarga, maka itu adalah tempat tinggal. Karena tidak adanya kedua nilai kebajikan ini, bhavanam (rumah) telah berubah menjadi vanam (hutan). 


- Divine Discourse, Oct 02, 2000

Tempat tinggal adalah ruang sakral bagi keluarga, dimana setiap anggota keluarga adalah tempat suci yang bergerak yang dipelihara dan dirawat.

Thursday, February 5, 2026

Thought for the Day - 5th February 2026 (Thursday)



In all aspects, Rama translated every moment of his life to be an example of ideal behaviour. By showing equal affection to all, Rama attracted all the people. In His childhood, Rama spoke very little. He was conducting Himself in that manner in order to show the world the ideal that is contained in limited speech. Limited talking will always promote the divine strength in one and will also promote one’s memory. It creates respect for one in the community. If one talks too much, it will, to an extent, destroy one’s memory. Not only this, if one talks too much, the strength in the nerves will diminish and the person will become somewhat feeble. It is for this reason that all great saints were observing the path of silence whenever possible. By observing silence, one can get strength. Because the youth of today talk too much, it so happens that their memory becomes weak, and when they go to the examination hall, they forget what they have read. Amongst the many ideals which Rama has given to the young people, the first one is to talk less. 


- Divine Discourse, May 19, 1977

In the depth of silence, the divine voice can be heard! 


Dalam semua aspek kehidupan-Nya, Rama menerjemahkan setiap saat dari hidup-Nya menjadi sebuah teladan tingkah laku yang ideal. Dengan menunjukkan kasih sayang yang sama kepada semua orang, Rama menarik hati seluruh masyarakat. Pada masa kanak-kanak-Nya, Rama berbicara sangat sedikit. Cara hidup ini dijalani-Nya untuk menunjukkan kepada dunia betapa mulianya nilai yang terkandung dalam berbicara secukupnya. Berbicara secara terbatas akan selalu menumbuhkan kekuatan Ilahi di dalam diri seseorang dan juga memperkuat daya ingat. Sikap ini menumbuhkan rasa hormat dari lingkungan sekitar. Sebaliknya, berbicara terlalu banyak, sampai batas tertentu, dapat melemahkan daya ingat. Tidak hanya itu, terlalu banyak berbicara juga menguras kekuatan saraf sehingga seseorang menjadi lemah. Inilah sebabnya mengapa para resi dan orang suci yang hebat selalu menempuh jalan keheningan kapanpun memungkinkan. Dengan mempraktikkan keheningan, seseorang memperoleh kekuatan batin. Karena kaum muda masa kini terlalu banyak berbicara, daya ingat mereka menjadi lemah, dan ketika memasuki ruang ujian, mereka melupakan apa yang telah dipelajari. Di antara sekian banyak teladan yang diberikan Rama kepada kaum muda, yang pertama dan utama adalah sedikit berbicara. 


- Divine Discourse, May 19, 1977

Dalam kedalaman keheningan, suara Tuhan dapat di dengar!

Wednesday, February 4, 2026

Thought for the Day - 4th February 2026 (Wednesday)



Whether at home, or out in the street, or while travelling in a train, bus or plane, people are haunted by fear. The root cause for this ubiquitous fear is the absence of pure and sacred thoughts in the minds of people. The whole world appears like a maze filled with fear at every turn. The tragedy of Abhimanyu - son of Arjuna and hero of the Kurukshetra war, was that he knew how to enter the maze called Padma-vyuham, but he did not know how to get out of it. Likewise, you know how to enter the maze of worldly pleasures, but do not know how to get out of it. You will know the way out only when you submit your thoughts to the scrutiny of buddhi - the intellect. In the Kathopanishad, the body is compared to a chariot, the senses to horses, the mind to the reins, and the intellect to the charioteer. This means that the mind is in between the senses and the intellect. If the mind follows the dictates of the intellect, it will be safe. On the contrary, if it follows the whims and fancies of the senses, it will become a bond slave of the senses and a victim of endless sorrow and suffering. 


- Divine Discourse, May 24, 1990

The intellect must use its discriminative abilities and wean the mind away from bad thoughts. Otherwise, we are bound to grope in the darkness of ignorance. 


Baik di dalam rumah, atau di jalan, atau sedang dalam perjalanan di dalam kereta api, bus atau pesawat terbang, manusia dihantui dengan rasa takut. Akar penyebab dari ketakutan yang merajalela adalah karena tidak adanya pemikiran yang murni dan suci dalam pikiran manusia. Seluruh dunia tampak seperti labirin yang diliputi dengan rasa takut pada setiap sudutnya. Tragedi yang terjadi pada Abhimanyu – putra dari Arjuna dan pahlawan dalam perang Kurukshetra, dimana ia mengetahui cara memasuki labirin yang disebut dengan Padma-vyuham, namun ia tidak mengetahui cara keluar dari labirin tersebut. Sama halnya, anda mengetahui memasuki labirin kenikmatan duniawi, namun tidak mengetahui bagaimana cara keluar darinya. Anda akan mengetahui cara keluar hanya ketika anda menyerahkan pemikiran anda pada pemeriksaan mendalam dari buddhi - kecerdasan. Dalam naskah suci Kathopanishad, tubuh fisik diumpamakan sebagai sebuah kereta kuda, sedangkan indra adalah kuda-kudanya, pikiran adalah tali kekangnya, dan kecerdasan adalah kusirnya. Hal ini berarti bahwa pikiran ada diantara indra dan kecerdasan. Jika pikiran mengikuti arahan dari kecerdasan maka pikiran akan selamat dan aman. Sebaliknya, jika pikiran mengikuti keinginan dan dorongan dari indra, maka pikiran akan menjadi budak indra serta menjadi korban dari penderitaan serta kesedihan yang tiada akhir. 


- Divine Discourse, May 24, 1990

Kecerdasan harus menggunakan kemampuan memilahnya untuk menjauhkan pikiran dari pemikiran yang buruk. Jika tidak, kita akan terus meraba-raba dalam kegelapan ketidaktahuan.