Tuesday, May 19, 2026

Thought for the Day - 19th May 2026 (Tuesday)



Most men spend the lifetime allotted to them or earned by them in the partaking of rich but harmful food and drink and indulge in glamorous but more harmful pastimes. What a pathetic waste of precious stuff! Though belonging to the animal genus, man has much more than his fellow beings in physical, mental, and moral equipment. He has memory, language, conscience, reverence, awe, wonder, and an inexplicable sense of discontent, the precursor of detachment. He has the glorious chance of visualising his identity with the Mystery that is manifested as this universe. But he is so sunk in ignorance that he behaves as though he is an animal like the rest and wallows in grief and vice. It is as if fire has forgotten its capacity to burn or water its nature to wet; man has forgotten his nature to reach out into Godhood, his capacity to seek and secure the truth of the universe of which he is a part, his capacity to train himself by virtue, justice, love, and sympathy to escape from the particular to the universal. Man can indeed attain the consummation and climax of merging with the unchanging that is behind all this change.


-- Divine Discourse, Jul 02, 1966

Uncontrolled living habits, unrestrained social behaviour—these are extolled as signs of freedom. It is only freedom to slide into the animal from which man has risen.


Kebanyakan manusia menghabiskan masa hidupnya yang diberikan atau diperolehnya hanya untuk menikmati makanan dan minuman yang mewah namun merusak, serta hiburan yang tampak menarik tetapi justru lebih membahayakan. Betapa menyedihkan pemborosan atas kehidupan yang begitu berharga ini! Walaupun dalam sudut pandang biologis, manusia memang termasuk kerajaan hewan (animal kingdom atau animal genus), ia memiliki jauh lebih banyak kemampuan dibandingkan makhluk lainnya, baik secara fisik, mental, maupun moral. Manusia memiliki ingatan, bahasa, hati nurani, rasa hormat, kekaguman, rasa takjub, dan juga suatu ketidakpuasan batin yang sulit dijelaskan, yang sebenarnya menjadi awal dari sikap tanpa keterikatan. Manusia memiliki kesempatan luar biasa untuk memvisualisasikan identitasnya dengan Misteri yang termanifestasi sebagai alam semesta ini. Namun manusia begitu tenggelam dalam ketidaktahuan sehingga manusia berperilaku seolah-olah ia adalah binatang seperti yang lain dan berkubang dalam kesedihan dan keburukan. Keadaan ini bagaikan api yang lupa bahwa sifatnya adalah membakar, atau air yang lupa bahwa sifatnya adalah membasahi. Manusia telah melupakan hakikat dirinya: mencapai sifat ketuhanan, kemampuannya dalam mencari dan memahami kebenaran alam semesta yang menjadi bagiannya, serta melatih dirinya melalui kebajikan, keadilan, kasih, dan simpati agar dapat melampaui keterikatan pribadi menuju kesadaran universal. Sesungguhnya manusia mampu mencapai puncak tertinggi kehidupannya, yaitu bersatu dengan Yang Abadi dan Tidak Berubah di balik seluruh perubahan dunia ini.  


-- Wacana Swami, 02 Juli 1966

Pola hidup yang tidak terkendali dan perilaku sosial tanpa batas sering dipuji sebagai kebebasan. Padahal itu hanyalah kebebasan untuk jatuh kembali ke tingkat kebinatangan, dari mana manusia sebenarnya telah berkembang.

Monday, May 18, 2026

Thought for the Day - 18th May 2026 (Monday)



Once, Krishna thought of testing the nature of Yudhishthira and Duryodhana. First, He called Yudhishthira and said, “I have a task to perform. For that, I need a very mean-minded person who is given to untruthful and evil ways. Can you bring such a person?” Afterwards, Krishna called Duryodhana and said to him, “Duryodhana! A great task is to be performed. For that, a noble person is required who is pure, kind-hearted and virtuous.” Both of them agreed to perform the tasks assigned to them by Krishna. Yudhishthira went in one direction and Duryodhana in another direction in search of the persons asked for by Krishna. After some time, Yudhishthira came back and said most humbly to Krishna, “Oh Lord! There is no wicked person in our kingdom. I am the only one who has some wickedness or the other. Please make use of me.” Some time after this, Duryodhana also came back and said to Krishna, “Krishna! A thoroughly noble person is nowhere to be seen in this kingdom. I think I am the only such person. If You tell me the task, I will surely perform it.” In the egoistic outlook of Duryodhana, all appeared to be wicked. In the humble nature of Yudhishthira, all appeared to be good. Hence, whatever the colour of the glasses that you wear, everything will appear to you of that colour.


-- Divine Discourse, Apr 04, 1993

‘An egoistic person will think that he knows everything; others are ignoramuses. But one who knows everything is always humble. 


Suatu ketika Krishna ingin menguji sifat Yudhishthira dan Duryodhana. Pertama, Krishna memanggil Yudhishthira dan berkata, “Aku memiliki sebuah tugas untuk dikerjakan. Untuk itu, Aku membutuhkan seseorang yang sangat jahat, suka berbohong, dan berperilaku buruk. Bisakah engkau membawanya kepada-Ku?” Kemudian Krishna memanggil Duryodhana dan berkata, “Duryodhana! Ada tugas besar yang harus dilakukan. Untuk itu diperlukan seseorang yang mulia, berhati suci, penuh kebaikan, dan berbudi luhur.” Keduanya setuju untuk melaksanakan tugas yang diberikan Krishna kepada mereka. Yudhishthira pergi ke satu arah dan Duryodhana ke arah lain untuk mencari orang yang dimaksud oleh krishna. Setelah beberapa waktu, Yudhishthira kembali dan dengan rendah hati berkata kepada Krishna, “Oh Krishna, tidak ada orang jahat di kerajaan kita. Hanya saya yang masih memiliki kekurangan dan sifat buruk. Gunakanlah saya untuk tugas itu.” Beberapa saat kemudian, Duryodhana juga kembali dan berkata kepada Krishna, “Krishna! Tidak ada seorang pun yang benar-benar mulia di kerajaan ini. Saya rasa hanya saya satu-satunya orang seperti itu. Katakan tugasnya padaku, maka pastinya saya akan mengerjakannya.” Karena pandangan Duryodhana dipenuhi ego, ia melihat semua orang sebagai buruk dan jahat. Sebaliknya, karena kerendahan hati Yudhishthira, ia melihat semua orang sebagai baik. Karena itu, apa pun warna kacamata yang engkau pakai, begitulah warna dunia yang akan engkau lihat.


-- Wacana Swami, 04 April 1993

‘Orang yang egois akan merasa dirinya mengetahui segalanya dan menganggap orang lain bodoh. Tetapi seseorang yang mengetahui semuanya akan selalu rendah hati.' 

Sunday, May 17, 2026

Thought for the Day - 17th May 2026 (Sunday)




You have been reading about renunciation for a long time. You have been listening to many discourses. But how much have you been able to practice? If you question yourself, you will find that you have not moved even a single step forward; you are where you were. In spite of listening to and reading Vedantic texts, in spite of japa (chanting) and meditation, in spite of knowledge of sacred texts, your position is the same as it was. How can you make progress? You will reach noble heights only when you put your knowledge into practice. But students today are zero in practice and hero in bookish knowledge. You may hear and learn so many things. But your position is the same as it has been. Instead of learning a hundred things, it is very important to practice at least one. So, you should start practising. You get experience only through practice. Your hunger is not satiated merely by hearing the names of delicious items. You have to make an effort to eat. A beggar will never improve his condition simply by listening about the greatness of the economy. Pitch darkness can never be dispelled by listening to the power of light. Similarly, you can never become a Vedantin by learning about Vedanta.


- Divine Discourse, Apr 04, 1993

The ‘gandha’ (fragrance or essence) must be extracted from the ‘grantha’ (spiritual text); that is the test of scholarship. Do not transform the mastaka (brain) into a pustaka (book) instead.


Engkau telah membaca tentang ketidakterikatan duniawi sejak lama. Engkau juga telah mendengarkan begitu banyak wacana spiritual. Namun, seberapa banyak yang telah mampu engkau praktikkan? Jika engkau bertanya pada dirimu sendiri, engkau akan mendapati bahwa engkau belum melangkah maju bahkan satu langkah pun; engkau masih berada di tempat yang sama seperti sediakala. Meskipun telah mendengarkan dan membaca teks-teks Vedanta, meskipun telah melakukan japa (chanting/pengucapan Nama Tuhan) dan meditasi, serta memiliki pengetahuan tentang kitab-kitab suci, posisi batinmu tetap sama seperti sebelumnya. Bagaimana engkau bisa mengalami kemajuan spiritual? Engkau hanya akan mencapai puncak keluhuran jiwa ketika engkau mengejawantahkan pengetahuan tersebut ke dalam praktik nyata. Namun, para pencari spiritual saat ini sering kali menjadi 'pahlawan' dalam pengetahuan buku, tetapi 'nol' dalam praktiknya. Engkau boleh saja mendengar dan mempelajari begitu banyak hal, tetapi kondisi batinmu akan tetap jalan di tempat. Alih-alih mempelajari seratus hal, jauh lebih penting untuk mempraktikkan setidaknya satu hal saja. Oleh karena itu, mulailah praktik spiritual. Sebab, pengalaman batin hanya didapat melalui praktik nyata. Rasa lapar yang engkau rasakan tidak akan pernah terpuaskan hanya dengan mendengarkan nama-nama hidangan yang lezat; engkau harus menyantap hidangan tersebut. Seorang pengemis tidak akan pernah mengubah nasibnya hanya dengan mendengarkan keagungan teori ekonomi. Kegelapan yang pekat pun takkan pernah sirna hanya dengan mendengarkan penjelasan tentang kekuatan cahaya. Demikian pula, engkau tidak akan pernah menjadi seorang Vedantin sejati hanya dengan mempelajari teori tentang Vedanta.


- Divine Discourse, Apr 04, 1993

Sari pati (gandha) harus digali dan diserap dari kitab suci (grantha); itulah tolok ukur dari kebijaksanaan sejati. Jangan sampai engkau mengubah otakmu (mastaka) sekadar menjadi tumpukan buku (pustaka)

Friday, May 15, 2026

Thought for the Day - 15th May 2026 (Friday)



Desires are common to all, whether one is young or old, man or woman, a common man or a saint. However, it is very important to have good desires, such as the desire to reach an exalted position, the desire to lead a noble life, the desire to be a good student, or the desire to tread the divine path. It is quite natural for man to have desires as he has to live in the world. But there should be a limit to his desires. As his desires have crossed all limits due to the effect of Kali Yuga, he has lost his peace and is experiencing restlessness. Man's unlimited desires are like chains which bind and imprison him. He loses his freedom as he is bound by desires. Animals also have desires, but they are not limitless like those of man. Animals have a reason and a season, but man has no reason and no season. That is why man today is facing so many troubles and problems. Man has no dearth of food, raiment, and shelter. Then, what is the reason for his restlessness? It is only excessive desires that make him restless. Therefore, he must put a ceiling on his desires. Less luggage, more comfort makes travel a pleasure. Life is a long journey. In this long journey of life, you should not have excess luggage. This, in Vedantic parlance, is called renunciation (vairagya).


-- Divine Discourse, Apr 04, 1993

If you move towards God, the world will be away from you. If you move towards the world, you will become distant from God.

 

Keinginan adalah hal yang lumrah bagi semuanya, apakah seseorang itu adalah anak muda atau orang tua, laki-laki atau Perempuan, orang awam atau orang suci. Namun yang terpenting adalah memiliki keinginan yang baik, seperti keinginan untuk mencapai kedudukan yang mulia, menjalani hidup yang luhur, menjadi pelajar yang baik, atau menempuh jalan ketuhanan. Adalah hal yang wajar jika manusia memiliki keinginan, karena ia hidup di dunia. Tetapi keinginan itu harus memiliki batas. Karena pengaruh Kali Yuga, keinginan manusia telah melampaui batas sehingga ia kehilangan kedamaian dan terus hidup dalam kegelisahan. Keinginan manusia yang tidak terbatas adalah seperti rantai yang mengikat dan memenjarakan manusia. Hal ini membuat manusia kehilangan kebebasannya karena ia diperbudak oleh keinginannya. Binatang juga memiliki keinginan, tetapi tidak tanpa batas seperti halnya manusia. Binatang memiliki sebuah alasan dan musim, namun manusia tidak memiliki alasan dan musim. Itulah sebabnya mengapa manusia pada hari ini menghadapi begitu banyak masalah dan penderitaan. Manusia tidak kekurangan makanan, pakaian, ataupun tempat tinggal. Lalu apa penyebab kegelisahan hidupnya? Tidak lain adalah keinginan yang berlebihan. Karena itu, manusia harus membatasi keinginannya. Semakin sedikit bawaan, semakin nyaman perjalanan. Hidup adalah perjalanan yang panjang. Dalam perjalanan panjang kehidupan ini, jangan membawa terlalu banyak “beban”. Dalam ajaran Vedanta, sikap ini disebut vairagya atau pelepasan. 


-- Wacana Swami, 04 April 1993

Jika engkau bergerak mendekat pada Tuhan, dunia akan menjauh darimu. Jika engkau bergerak mendekat pada dunia, engkau akan menjadi jauh dari Tuhan.

Wednesday, May 13, 2026

Thought for the Day - 13th May 2026 (Wednesday)



Whatever teachings that you hear and read, you should imbibe them in your heart. Once a Guru called his disciples and said to them, “My dear ones! I am giving all of you a sweet. See to it that it is not spoilt by ants, flies, mosquitoes, cats or rats.” Most of the students tried to preserve it in many ways. But only one student partook of it, digested it and derived strength from it. What is the inner meaning of this? It is not enough if you preserve the divine teachings in books; you should imbibe those nectarous teachings in your heart, digest them and experience them. Only then can you derive pushti and santhusthi (strength and happiness). You should treasure in your heart all the sacred teachings that you hear, read and understand. Whatever you have treasured in your heart, you should put it into practice in your life. Only then will you have fulfilment. Merely eating is not enough; you should digest what you eat. Similarly, merely hearing and reading is not enough; you should put it into practice and experience it in your daily life.


-- Divine Discourse, Jul 27, 1996

If what is learned is not put into practice, the student is like a cow that does not yield milk, a fruit lacking in taste, or a book bereft of wisdom. 


Apapun ajaran yang engkau dengar dan baca, engkau harus menyerapnya di dalam hatimu. Pada suatu hari seorang guru memanggil murid-muridnya dan berkata pada mereka, “para muridku yang terkasih! Aku memberikan setiap orang darimu sebuah manisan. Jagalah agar manisan tersebut tidak dirusak oleh semut, lalat, nyamuk, kucing, atau tikus.” Kebanyakan murid tersebut mencoba untuk menjaga manisan tersebut dengan berbagai cara. Namun hanya satu murid yang menghisap manisan tersebut dan mendapatkan manfaat darinya. Apa makna terdalam yang ada dalam kisah ini? Adalah tidak cukup bagimu jika hanya menjaga ajaran-ajaran Tuhan di dalam buku saja; engkau harus menyerap ajaran yang begitu manis itu ke dalam hatimu, mencerna dan mengalaminya. Hanya dengan demikian engkau dapat mendapatkan kekuatan (Pushti) dan kebahagiaan (santhusthi). Engkau harus menyimpan dalam hatimu semua ajaran-ajaran suci yang engkau dengar, baca dan pahami. Apapun yang telah engkau simpan di dalam hatimu, engkau harus menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari. Hanya dengan demikian engkau mendapatkan pemenuhan dalam hidup. Hanya dengan makan saja tidaklah cukup; engkau harus mencerna apa yang engkau makan. Sama halnya, hanya melulu mendengarkan dan membaca saja tidaklah cukup; engkau harus menjalankan dan mempraktekkannya dalam hidupmu sehari-hari. 


-- Wacana Swami, 27 Juli 1996

Jika apa yang dipelajari tidak dijalankan atau dipraktekkan, maka pelajar itu seperti sapi yang tidak menghasilkan susu, buah yang tidak menghasilkan rasa, atau buku yang tanpa kebijaksanaan.

Tuesday, May 12, 2026

Thought for the Day - 12th May 2026 (Tuesday)



A heart without love is a cemetery. Love demonstrates the existence of the Divine. It is all-pervasive. It is the basis for human unity. Only when selfishness goes, and faith in the Divine grows, will human unity be achieved. Hence, every human being should fill his heart with love. God is love; Love is God. Love is linked to love. When one is full of love, He is qualified for the state of Non-dualism or oneness with God (Poem). It is most vital for everyone to recognise and practice this Love Principle. This Love exists in good and bad, in the forest and in a palace, in attachment and in separation, in one’s conduct as well as in one’s speech, in the mind as well as in action. It is all-pervasive. The most powerful weapon to destroy the forces of evil rampant in the world today is love. Unfortunately, men are not pursuing the right path to acquire this sacred love. Love is the seed of love. It is also the branch, the flower, and the fruit! To enjoy the fruit of love, one must practice love!


-- Divine Discourse, Nov 23, 1996

Love is Righteousness. Love is Truth. The universe is based on love. 


Hati yang tanpa adanya kasih adalah sebuah kuburan. Kasih adalah bukti keberadaan Tuhan. Kasih bersifat meresapi segalanya dan merupakan dasar dari kesatuan umat manusia. Hanya ketika sifat mementingkan diri sendiri lenyap, dan keyakinan pada Tuhan tumbuh, kesatuan manusia dapat terwujud. Karena itu, setiap manusia hendaknya memenuhi hatinya dengan kasih. Tuhan adalah kasih; Kasih adalah Tuhan. kasih hanya dapat terhubung dengan kasih. Ketika seseorang penuh dengan kasih, maka ia layak mencapai keadaan tanpa dualitas, yaitu kesatuan dengan Tuhan (syair). Sangat penting bagi setiap orang untuk memahami dan mempraktikkan prinsip kasih ini. Kasih ini hadir dalam yang baik maupun yang buruk, di hutan maupun di istana, dalam kebersamaan maupun perpisahan, dalam perilaku maupun ucapan, di dalam pikiran maupun tindakan. Kasih meresapi semuanya. Senjata yang paling ampuh dalam menghancurkan kekuatan jahat yang merajalela di dunia saat ini adalah kasih. Namun sayangnya, manusia belum menempuh jalan yang benar untuk memperoleh kasih suci tersebut. Kaish adalah benih dari kasih itu sendiri. Kasih juga adalah cabang, bunga, dan buahnya. Jika ingin menikmati buah dari kasih, maka seseorang harus mempraktikkan kasih dalam hidupnya! 


-- Wacana Swami, 23 November 1996

Kasih adalah kebajikan. Kasih adalah kebenaran. Alam semesta di dasarkan pada kasih.

Saturday, May 9, 2026

Thought for the Day - 9th May 2026 (Saturday)



The swimmer in the river has to push aside the waters in front to the sides and to kick the waters to the back so that he can move forward straight and fast. Forcing the water back is the act that takes him forward. That is to say, do not attach importance to it, throw it back, give it up, renounce; that alone can help you to progress, even an inch. Instead, man collects and stores, accumulates and takes pride in what he holds firm, regardless of the preciousness of the human trait of renunciation. So, we sink in material possessions, victories, and vagaries. We do not float or swim across the temptations. We must try to discover and learn the means of progress. We may well ask, how can a man sunk in relative knowledge become aware of Atma? But there is no reason for despair or for condemning ourselves as mean and low. For when small men take big decisions, they earn encouragement from the great. When the tiny squirrel decided to share in building the passage across the sea, did it not receive the blessings of Lord Rama? The squirrel knew that its help could only be infinitesimal, but the feeling of dedication which prompted it won the grace of God.


-- Divine Discourse, Jan 08, 1983

Faith and self-confidence are essential for spiritual progress.

 

Perenang yang berenang di sungai harus menepis air yang ada di depannya ke samping dan mendorong air ke belakang agar ia dapat bergerak maju dengan lurus dan cepat.  Dengan mendorong air ke belakang, ia bisa maju ke depan. Maknanya adalah: jangan melekat pada sesuatu, lepaskanlah, tinggalkanlah, relakanlah. Hanya dengan cara itulah seseorang dapat benar-benar maju, walau hanya selangkah. Namun malahan manusia justru gemar mengumpulkan, menyimpan, dan membanggakan apa yang dimilikinya, tanpa menyadari betapa berharganya sifat pengorbanan dan pelepasan. Akibatnya, kita tenggelam dalam harta benda materi, kemenangan, dan berbagai gejolak duniawi. Kita tidak mampu mengapung atau berenang melewati godaan-godaan kehidupan. Kita harus berusaha untuk menemukan dan mempelajari cara untuk maju. kita mungkin mulai mempertanyakan, bagaimana seseorang yang tenggelam dalam pengetahuan duniawi dapat menyadari Atma? Tetapi tidak ada alasan untuk putus asa atau merendahkan diri sendiri sebagai makhluk yang hina dan lemah. Karena ketika orang kecil mengambil keputusan yang besar, mereka akan memperoleh dukungan dari yang lebih hebat. Ketika tupai yang kecil memutuskan untuk ikut membantu membangun jembatan menyeberangi lautan, bukankah ia menerima berkah dari Sri Rama? Tupai itu secara jelas mengetahui bahwa bantuannya sangatlah kecil, namun perasaan pengabdian yang mendorong tindakannya mampu membuatnya memperoleh rahmat Tuhan. 


- Divine Discourse, Jan 08, 1983

Keyakinan dan kepercayaan diri adalah mendasar untuk kemajuan spiritual.