When I see the long lines of people going to church every Sunday, I am glad; but, when I find you talking apologetically of your visits to temples and sages, I dislike it. Why not assert that you had been to a temple or sage, boldly, with heads erect? Why yield to worry and misery, claiming all the time that you are a believer in God? When a bus is speeding along, a cloud of dust follows it; when it halts, the passengers get the dust all over. But, how far can you travel without bringing the bus to a halt? The one consolation is: you need not always speed along the mud road; better roads are in store. The mud road is the Samithi Road (managed by the village Panchayat); the metalled road, which comes later, is the Zilla Parishad Road; at last, you get on into the asphalt road, the road of the Highways Department, where the bus will not drag behind it any cloud of dust. The mud road is the karma marga (road of activity), the metalled road is upasana marga (road of worship and contemplation), and the asphalt road is jnana marga (road of divine knowledge and wisdom). Join the jnana marga soon; then, there will be no dust. In spiritual matters, faith is the basic requisite for progress. That faith has to be guarded carefully. Yield to the Lord, who is more kin to you than your own parents; yield to no other. Do not allow your faith to falter with every passing gust of wind.
-- Divine Discourse, May 23, 1966
Your duty is to carry on sadhana undisturbed by what others may say, holding fast to the certitude of your own experience
Ketika Aku melihat panjangnya antrean manusia yang pergi ke Gereja setiap hari Minggu, Aku merasa senang. Tetapi ketika Aku melihat ada orang yang berbicara dengan rasa malu atau seolah meminta maaf karena pergi ke Kuil atau menemui orang suci, Aku tidak menyukainya. Mengapa tidak dengan berani mengatakan bahwa engkau pergi ke Kuil atau menemui seorang bijak, dengan kepala tegak dan penuh keyakinan? Mengapa harus hidup dalam kecemasan dan kesedihan, sementara terus mengaku percaya kepada Tuhan? Ketika sebuah bus melaju kencang di jalan tanah, debu akan beterbangan di belakangnya. Saat bus berhenti, para penumpang akan terkena debu itu. Tetapi bagaimana mungkin seseorang dapat menempuh perjalanan jauh tanpa sesekali menghentikan bus? Namun ada satu penghiburan: kamu tidak akan selamanya berjalan di jalan berlumpur; jalan yang lebih baik telah menantimu. Jangan lumpur adalah jalan samithi (dikelola oleh desa Panchayat); setelah itu ada jalan berbatu yang lebih baik, yaitu Jalan Zilla Parishad. Dan pada akhirnya, engkau akan sampai pada jalan beraspal milik Departemen Jalan Raya, di mana bus tidak lagi meninggalkan kepulan debu di belakangnya. Jalan tanah itu adalah karma marga (jalan tindakan dan aktivitas). Jalan berbatu yang lebih baik ibarat upasana marga (jalan pemujaan dan kontemplasi). Dan jalan aspal yang halus ibarat jnana marga (jalan pengetahuan dan kebijaksanaan spiritual). Segeralah menapaki jnana marga, maka debu kehidupan tidak lagi mengganggu perjalananmu. Dalam kehidupan spiritual, keyakinan adalah syarat utama untuk maju. Keyakinan itu harus dijaga dengan sungguh-sungguh. Berserahlah kepada Tuhan, yang bahkan lebih dekat daripada orang tuamu sendiri; jangan berserah kepada yang lain. Jangan biarkan keyakinanmu goyah hanya karena tiupan angin yang lewat sekilas.
-- Wejangan Sai, 23 Mei 1966
Kewajibanmu adalah tetap menjalankan sadhana dengan tenang tanpa terganggu oleh apa yang dikatakan orang lain, sambil berpegang teguh pada keyakinan yang lahir dari pengalaman batinmu sendiri.