Friday, May 1, 2026

Thought for the Day - 1st May 2026 (Friday)



Buddha taught that we should not have anger, we should not find others’ faults, and we should not harm others because all are embodiments of the pure, eternal principle of the Atma. Have compassion towards the poor and help them to the extent possible. You think those who do not have food to eat are poor people. You cannot call someone poor just because he does not have money or food to eat. Truly speaking, nobody is poor. All are rich, not poor. Those whom you consider poor may not have money, but all are endowed with the wealth of Hridaya (the heart). Understand and respect this underlying principle of unity and divinity in all and experience bliss. Do not have such narrow considerations as so and so is your friend, so and so is your enemy, so and so is your relation, etc. All are one, be alike to everyone. That is your primary duty. This is the most important teaching of Buddha. 


-- Divine Discourse, May 13, 2006

Buddha taught that the principle of unity of the Atma was the only true principle in the world. One who realised it by using his spiritual intelligence was a true Buddha, he said. 


Buddha mengajarkan bahwa kita tidak seharusnya menyimpan kemarahan, kita seharusnya tidak mencari-cari kesalahan orang lain, dan kita seharusnya tidak menyakiti siapapun karena semuanya adalah perwujudan dari prinsip Atma yang suci dan kekal. Milikilah welas asih kepada mereka yang kekurangan dan bantulah mereka semaksimal mungkin. Engkau berpikir bahwa mereka yang tidak memiliki makanan untuk dimakan adalah orang miskin. Engkau tidak bisa menyebut seseorang miskin karena ia tidak memiliki uang atau makanan untuk dimakan. Berbicara yang sebenarnya, tidak ada seorangpun yang miskin. Semuanya adalah kaya, tidak miskin. Bagi mereka yang engkau anggap miskin mungkin tidak memiliki uang, namun semua dari mereka diberkati dengan kekayaan hati (Hridaya). Pahamilah dan hormati prinsip yang mendasari kesatuan dan keilahian dalam setiap makhluk dan alamilah kebahagiaan yang sejati. Jangan terjabk dalam pandangan sempit seperti ini teman, ini musuh, ini kerabat dan sebagainya. Semuanya adalah satu, bersikaplah sama kepada setiap orang. Itu merupakan kewajibanmu yang utama. Ini adalah ajaran terpenting dari sang Buddha. 


-- Wacana Swami, 13 Mei 2006

Buddha juga mengajarkan bahwa prinsip kesatuan Atma adalah satu-satunya kebenaran sejati di dunia ini. Seseorang yang mampu menyadarinya melalui kecerdasan spiritualnya adalah Buddha yang sejati.

Tuesday, April 28, 2026

Thought for the Day - 28th April 2026 (Tuesday)



For man, there are two kinds of states in this world. They are: Hita (Pleasant) and Ahita (Unpleasant). Whether the state is pleasant or unpleasant depends on your innermost attitude or outlook. The same object becomes pleasant once and unpleasant on another occasion! The thing welcomed with great fondness at one time becomes hateful at another time, and there is not the desire even to see it. The condition of the mind at those times is the reason to wean so. Hence, everyone must train their mind to be pleasant always. The waters of a river leap from mountains, fall into valleys, and rush through gorges; besides, tributaries join it at various stages, and the water becomes turbid and unclean. So too, in the flood of human life, speed and power increase and decrease. These ups and downs can happen at any moment during life. No one can escape these; they may come at the beginning of life, at the end or in the middle. So, what man must firmly convince himself is that life is necessarily full of ups and downs, and that, far from being afraid and worried over these, one should welcome them. One should not only feel like this, but should be happy and glad, whatever happens! Then, all troubles, whatever their nature, will pass away lightly and quick! 


-- Ch 3, Dhyana Vahini

Faith in God can ensure equanimity and balance. 


Bagi manusia, ada dua jenis keadaan dalam hidup ini: hita (menyenangkan) dan ahita (tidak menyenangkan). Namun, apakah sesuatu terasa menyenangkan atau tidak, sebenarnya bergantung pada sikap batin dan cara pandang kita sendiri.  Objek yang sama bisa terasa sangat menyenangkan di suatu waktu, tetapi di waktu lain justru terasa tidak menyenangkan. Sesuatu yang dahulu disambut dengan penuh kegembiraan bisa berubah menjadi hal yang dihindari, bahkan tak ingin lagi dilihat. Perubahan ini bukan karena bendanya, melainkan karena keadaan pikiran kita saat itu! Oleh karena itu, setiap orang harus melatih pikiran mereka untuk selalu tetap tenang dan positif dalam segala keadaan. Ibarat air sungai yang mengalir dari pegunungan, jatuh ke lembah, melewati jurang, lalu bercampur dengan berbagai aliran lain hingga menjadi keruh. Demikian pula kehidupan manusia, kadang mengalir deras, kadang melambat; kadang jernih, kadang keruh. Naik turunnya kehidupan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Itu bisa terjadi di awal kehidupan, di tengah, maupun di akhir. Yang perlu kita yakini dengan mantap adalah bahwa hidup memang penuh dengan pasang surut. Alih-alih takut atau cemas menghadapinya, kita justru perlu menerimanya dengan lapang. Bahkan lebih dari itu, belajar untuk tetap merasa tenang dan bersyukur dalam keadaan apa pun. Ketika sikap ini tumbuh, segala kesulitan—apa pun bentuknya—akan terasa lebih ringan dan cepat berlalu! 


-- Ch 3, Dhyana Vahini

Keyakinan kepada Tuhan akan menumbuhkan keseimbangan dan ketenangan batin.

Monday, April 27, 2026

Thought for the Day - 27th April 2026 (Monday)



God has provided everything for man’s good in the world. But there is one condition that must be observed. The result of your actions will be according to their nature, whether they are good or bad. Men today want to reap the fruits of good deeds without performing good deeds. This is impossible. Nor can they escape the consequences of their evil actions. God is only a witness. From now on, develop good thoughts, do good actions and redeem your lives. You must start with Karma Marga (Path of Action) and end with Jnana Marga (Path of Knowledge). In between, there is Upasana Marga (Path of Worship). This is the path you must follow today. For this, you must get the conviction that God is omnipresent. When you have that conviction, you will not indulge in falsehood or practice deception, you will not abuse others or cause harm to them, you will acquire all virtues. 


-- Divine Discourse, Feb 27, 1995

Develop the firm conviction that God is within you, and you are Divine.


Tuhan telah menyediakan segala sesuatunya bagi kebaikan manusia di dunia. Namun ada satu syarat yang tidak bisa diabaikan. Hasil dari perbuatanmu akan sesuai dengan sifat dari perbuatan tersebut, apakah perbuatan itu baik datau buruk. Manusia pada hari ini ingin mendapatkan buah perbuatan baik dengan tanpa menjalankan perbuatan baik. Hal ini adalah tidak mungkin. Demikian pula, tidak ada seorangpun dari manusia yang bisa melepaskan diri dari akibat perbuatan buruk mereka. Tuhan hanyalah sebagai saksi saja. Mulai dari sekarang, pupuk pemikiran yang baik, lakukan perbuatan baik dan perbaiki arah hidupmu. Engkau harus mulai dengan jalan tindakan (karma marga) dan mengakhirinya dengan jalan pengetahuan (jnana marga). Diantara kedua jalan tersebut adalah jalan pemujaan (upasana marga). Ini adalah jalan yang harus engkau jalani hari ini. Untuk itu, tanamkan keyakinan yang kuat bahwa Tuhan hadir di mana-mana. Ketika engkau memiliki keyakinan itu, engkau tidak akan berbohong atau menipu, tidak akan menyakiti atau merugikan orang lain, dan secara alami kebajikan akan tumbuh dalam dirimu. 


-- Divine Discourse, 27 Februari 1995

Pupuklah keyakinan yang mantap bahwa Tuhan ada di dalam dirimu, dan hakikat dirimu adalah ilahi.

Sunday, April 26, 2026

Thought for the Day - 26th April 2026 (Sunday)



There are three types of approaches towards the Lord: the eagle type, which swoops down on the target with a greedy swiftness and suddenness, which, by its very impact, fails to secure the object coveted; the monkey type, which flits hither and thither, from one fruit to another, unable to decide which is tasty; and the ant type, which moves steadily, though slowly, towards the object, which it has decided is desirable. The ant does not hit the fruit hard and make it fall away; it does not pluck all the fruits it sees; it appropriates just as much as it can assimilate and no more. Do not fritter away the time allotted to you for sojourning on Earth in foolish foppery and fanciful foibles, which always keep you outdoors. When are you going to walk indoors into the warmth and quiet of your own interior? Retire into solitude and silence, now and then; experience the joy derivable only from them. 


-- Divine Discourse, Oct 26, 1961

When the fruit is ripe, it will fall off the branch of its own accord. Similarly, when vairagya (renunciation) saturates your heart, you lose contact with the world and slip into the lap of the Lord. 


Ada tiga jenis pendekatan menuju Tuhan: pendekatan pertama adalah seperti jenis elang yang terbang menukik ke bawah pada target dengan kecepatan dan penuh kerakusan yang mana justru sering gagal mendapatkan apa yang diinginkan; pendekatan kedua adalah jenis monyet yang melompat ke sana kemari, dari satu buah ke buah lain, tanpa pernah benar-benar memutuskan mana yang layak dipilih; dan pendekatan ketiga adalah jenis semut yang berjalan perlahan tetapi pasti menuju tujuan yang telah ditentukan. Semut tidak menghantam buah hingga jatuh sia-sia. Ia juga tidak mengambil semua buah yang dilihatnya. Ia hanya mengambil secukupnya, sesuai dengan kemampuannya untuk mencerna dan tidak lebih. Jangan habiskan waktu yang diberikan selama hidup di dunia ini untuk tingkah laku yang konyol dan khayalan yang tidak masuk akal, yang hanya membuatmu terus berada di luar dirimu sendiri. Kapan engkau akan masuk ke dalam, ke ruang batinmu yang hangat dan tenang? Sesekali, menyendirilah dalam keheningan dan ketenangan. Rasakan kebahagiaan yang hanya bisa di dapatkan dari keheningan tersebut. 


-- Divine Discourse, 26 Oktober 1961

Ketika buah matang akan jatuh dengan sendirinya dari pohon, demikian pula ketika vairagya (ketidakterikatan) memenuhi hatimu, engkau secara alami melepaskan keterikatan dunia dan berlabuh dalam pelukan Tuhan. 

Saturday, April 25, 2026

Thought for the Day - 25th April 2026 (Saturday)



Once, a Gopika went to a well to bring two pitchers of water. After placing one pitcher on her head, she wanted someone to place the other water-filled pitcher on the first one. At that time, Krishna came there, and she asked him to place the water-filled pitcher on the first one. Krishna refused to do so. Soon, another Gopika came along and helped the first Gopika. The Gopika carrying the two pitchers reached her home. Krishna followed her to the house and, without even waiting to be asked, He took the top pitcher from the Gopika's head and placed it down. She was surprised at Krishna's strange behaviour. She asked him: “Krishna, at the well, you refused to place the pitcher on my head when I appealed to you to help me. Now you take it down from the head without my asking. What is the inner meaning of this action?” Krishna replied: “Oh Gopika! I want to remove the burdens borne by people and not to add to them.” This shows that the Divine operates only to reduce the burdens of the people and not to increase them. 


-- Divine Discourse, Feb 20, 1992

When man obeys God’s command implicitly, all his burdens are taken care of.


Pada suatu hari, seorang Gopika (gadis penggembala sapi) pergi ke sumur untuk menimba dua kendi air. Setelah menempatkan satu kendi air di atas kepalanya, ia ingin meminta bantuan seseorang untuk menaruh kendi kedua di atas kendi pertama. Pada saat itu, Sri Krishna datang ke sana, dan Gopika tersebut meminta bantuan Krishna untuk menaruh kendi di atas kendi lain di atas kepalanya. Sri Krishna menolak untuk melakukannya. Segera, gadis lain lain datang untuk membantu Gopika tersebut. Gopika tersebut membawa dua kendi air tersebut sampai ke rumahnya. Sri Krishna mengikutinya sampai ke rumahnya dan tanpa diminta bantuan, Krishna mengambil kendi paling atas dari kepala Gopika dan menaruhnya dibawah. Gopika tersebut menjadi terkejut dengan tingkah laku aneh dari Krishna. Ia menanyakan kepada Krishna: “Krishna, pada saat di sumur, Engkau menolak untuk menaruh kendi air tersebut di atas kepalaku ketika aku meminta bantuan. Sekarang Engkau mengambil kendi air di atas kepalaku dan menaruhnya dibawah tanpa saya minta. Apa makna dari tindakan-Mu ini?” Krishna menjawab: “Oh Gopika! Aku ingin melepaskan beban yang ditanggung oleh orang-orang dan bukan menambahkannya.” Hal ini memperlihatkan bahwa kehendak Tuhan hanya untuk mengurangi beban manusia dan bukan menambahkannya. 


-- Divine Discourse, 20 Februari 1992

Ketika manusia mematuhi perintah Tuhan sepenuhnya, maka semua bebannya akan ditanggung.

Friday, April 24, 2026

Thought for the Day - 24th April 2026 (Friday)



Cleanse your mind of all animal and primitive impulses, which have shaped it from birth to birth. Otherwise, just as milk, poured into a pot used for keeping buttermilk, curdles quickly, all finer experiences of truth, beauty and goodness will get tarnished beyond recognition. Do not postpone this duty to yourself, especially now, when you have the chance of contacting Me. I do not find you offering Me what I look for; you bring things which are unworthy and impure. I feel very much when I find you so agitated and troubled with the cure so near at hand. Reduce your wants; minimise your desires. All these material knick-knacks are short-lived. When death deprives you of resistance, your kith and kin take off the nose-stud, and in their haste, they may even cut the nose to retrieve it! If you go on heaping desire upon desire, it will be impossible to depart gladly when the call comes. Rather, become rich in virtue, in the spirit of service, in devotion to the higher power. That is what pleases Me and saves you! 


Divine Discourse, Oct 26, 1961

You call Me by one name only and believe I have one form only. Remember, there is no name I do not bear; there is no form which is not Mine

 

Bersihkan pikiranmu dari semua dorongan binatang dan naluri primitif yang telah membentuknya dari kelahiran ke kelahiran. Jika tidak, seperti halnya susu yang dituangkan ke dalam wadah bekas menyimpan buttermilk lalu dengan cepat menggumpal, demikian pula pengalaman-pengalaman luhur tentang kebenaran, keindahan dan kebajikan akan menjadi ternoda hingga tidak dapat dikenali lagi. Jangan menunda kewajiban ini bagi dirimu sendiri, khususnya saat sekarang ketika engkau memiliki kesempatan untuk mendekat kepada-Ku. Aku tidak menemukan apa yang sebenarnya Aku cari dari persembahanmu; engkau justru membawa hal-hal yang tidak layak dan tidak murni. Sungguh menyedihkan melihatmu gelisah dan menderita padahalnya obatnya begitu dekat. Kurangi keinginanmu; perkecil keinginanmu. Semua benda-benda material ini bersifat sementara. Saat kematian datang dan engkau tak lagi berdaya, bahkan orang-orang terdekatmu akan melepaskan perhiasan darimu; dalam tergesa-gesa, bisa saja mereka melukai dirimu demi mengambilnya! Jika engkau terus menumpuk keinginan demi keinginan, akan sulit bagimu untuk pergi dengan tenang saat panggilan itu tiba. Sebaliknya, jadilah kaya dalam kebajikan, dalam semangat melayani, dan dalam pengabdian kepada kekuatan yang lebih tinggi. Itulah yang menyenangkan-Ku dan yang akan menyelamatkanmu! 


-- Divine Discourse, 26 Oktober 1961

Engkau memanggil-Ku hanya dengan satu nama dan mengira Aku hanya memiliki satu bentuk. Ingatlah, tidak ada nama yang bukan milik-Ku; tidak ada bentuk yang bukan milik-Ku.

Thursday, April 23, 2026

Thought for the Day - 23rd April 2026 (Thursday)



All the objects we offer God in worship, like leaf, flowers, water, and all others, have an allegorical significance. The word leaf does not refer to tulsi or any other leaf. Our body is a leaf. Our body is offered as a sacred leaf to God. Because this body is full of the three gunas, we consider it a leaf and make an offering of it to God. The word ‘pushpa’ stands for the flower of the heart. The flowers we talk of in the context of God do not refer to the earthly flowers that fade away. Similarly, the word fruit is the fruit of the mind. It means that we must do our deeds without expecting any reward, and if action is done in that spirit, it becomes a holy sacrifice. Water does not mean that which is drawn from the taps. It refers to the tears of joy that spring from the depths of your heart. You should not offer leaves gathered from trees, which are external, or flowers from plants in the garden, or water drawn from the well, or fruit from somewhere else, but all these from the tree of your body, which is sacred to God. Whatever offering you make, when you offer those things born out of the tree of your own body, then the full merit will be bestowed on you. 


Ch 17, Summer Showers in Brindavan 1972

The only way to overcome misery is by offering yourself to God


Semua objek yang kita persembahkan kepada Tuhan dalam sebuah ibadah, seperti halnya daun, bunga, air, dan semua hal lainnya memiliki makna simbolis yang mendalam. Kata daun bukan sekedar mengacu pada daun tulsi atau daun lainnya. Tubuh kita sendiri adalah daun itu. Tubuh kita ini dipenuhi dengan tiga guna dipersembahkan sebagai daun suci kepada Tuhan. Kata ‘pushpa’ mengandung makna bunga hati. Bunga yang kita bicarakan dalam konteks Tuhan tidak mengacu pada bunga duniawi yang layu. Sama halnya, kata buah adalah mengacu pada buah pikiran. Hal ini berarti kita harus melakukan perbuatan kita tanpa mengharapkan imbalan apapun, dan jika perbuatan dilakukan dalam semangat tersebut, maka perbuatan itu menjadi pengorbanan suci. Air juga bukan berarti air yang diambil dari keran atau sumur. Air ini mengacu pada air mata suka cita yang hadir dari kedalaman hati. Engkau seharusnya tidak mempersembahkan daun yang dikumpulkan dari pohon, yang mana bersifat di luar diri, atau bunga dari tanaman yang ada di kebun, atau air yang ada dari sumur, atau buah dari tempat lain, namun semua persembahan ini harusnya berasal dari pohon tubuhmu yang bersifat suci kepada Tuhan. Apapun persembahan yang engkau lakukan, ketika engkau mempersembahkan itu lahir dari pohon dirimu sendiri, maka pahala utuh akan diberkati padamu. 


Ch 17, Wacana Musim Panas di Brindavan 1972

Satu-satunya cara untuk mengatasi penderitaan adalah dengan mempersembahkan dirimu sendiri pada Tuhan.