Wednesday, September 30, 2026

Thought for the Day - 30th September 2026 (Wednesday)



Embodiments of love! It is very easy to see diversity in unity; anyone can do that. It requires a lot of effort to recognise unity underlying the entire diversity that exists in this world. Man today should try to acquire the knowledge of the Atmic principle that is uniformly present in all. One who knows the principle of Atma knows everything. Consider all human beings in this world as one and recognise the oneness of the entire mankind. Religions are many, but the goal is one. Clothes are many, but yarn is one. Jewels are many, but gold is one. Cows are many, but milk is one. There is unity in the entire creation of God, but man causes many divisions in it. Unity of the entire mankind is the need of the hour. When you develop unity, there will be purity in your heart. Where there is purity, there is Divinity. Unity, purity, and Divinity are closely interlinked and interdependent.


-- Divine Discourse May 31, 2008

Study of scriptures, performing rituals, doing worship, and so on do not signify true spirituality. Recognising the unity of the Atmic principle is true spirituality.


Perwujudan kasih! Adalah sangat mudah untuk melihat keberagaman dalam kesatuan; siapapun dapat melakukan hal itu. Dibutuhkan usaha yang sangat besar untuk menyadari kesatuan yang mendasari seluruh keberagaman yang ada di dunia ini. Manusia pada saat sekarang harus mencoba untuk mencari pengetahuan pada prinsip Atma yang hadir secara sama dan merata dalam diri semua makhluk. Orang yang mengetahui hakikat Atma sesungguhnya mengetahui segala sesuatu. Pandanglah seluruh umat manusia di dunia ini sebagai satu dan kenalilah kesatuan seluruh umat manusia. Agama memang banyak, tetapi tujuannya adalah satu. Pakaian memang banyak, tetapi benangnya adalah satu. Perhiasan memang banyak, tetapi emasnya adalah satu. Sapi memang banyak, tetapi susunya adalah satu. Ada kesatuan dalam seluruh ciptaan Tuhan, tetapi manusia menciptakan begitu banyak pembagian di dalamnya. Kesatuan seluruh umat manusia merupakan kebutuhan yang sangat penting pada zaman sekarang. Ketika engkau mengembangkan kesatuan, akan tumbuh kemurnian dalam hatimu. Ketika terdapat kemurnian, di sanalah terdapat Keilahian. Kesatuan, kemurnian, dan Keilahian saling berkaitan erat dan saling bergantung. 


-- Divine Discourse 31 Mei 2008

Mempelajari naskah-naskah suci, melaksanakan ritual, melakukan pemujaan, dan berbagai kegiatan lainnya belum dengan sendirinya menunjukkan spiritualitas yang sejati. Mengenali kesatuan dari prinsip Atma adalah spiritualitas yang sejati.

Tuesday, September 29, 2026

Thought for the Day - 29th September 2026 (Tuesday)



Arjuna once charged Dharmaraja with callous indifference to the sufferings of his other brothers, Draupadi and her children; he flung arrows of scorn at him for his blind adherence to ‘morality and righteousness’. Dharmaraja, with no sign of resentment, replied calmly, “Patience, tolerance, love—these alone can bring success; of what use is victory if it is gained by falsehood and ferocity? Such a war will breed wars forever. We should always act as if we are in the presence of God, as if God is watching and weighing every thought, word, and deed. See yourselves in all, see all in yourselves; that is the road to lasting peace and joy. Let us not seek the outer empire; let us become rulers of the inner empire. Let us not try to defy the outer enemy, leaving the inner foe to grow in power. We have Krishna with us; who can defeat us? We shall win through winning His Grace.” Never stray from the path of right, whatever the trouble or temptation. Do not allow faith to be upset. If you attach importance to riches or children or fame or fortune, you are thereby announcing that you are devoted, not to God, but to riches, children and the rest. If you are devoted to God, how should you manifest that devotion? By manifesting divine qualities, divine virtues, divine love and divine strength, become Sai, be Sai.


-- Divine Discourse Sep 26, 1972

You cannot destroy anger by anger, cruelty by cruelty, hatred by hatred. Anger can be subdued only by forbearance; cruelty can be overcome only by non-violence, hatred yields only to charity and compassion.


Arjuna pernah menuduh Dharmaraja tidak peduli terhadap penderitaan saudara-saudaranya yang lain, Draupadi, dan anak-anaknya; Arjuna melontarkan kecaman kepadanya karena dianggap terlalu buta mengikuti apa yang disebutnya sebagai “moralitas dan kebenaran”. Namun, Dharmaraja, tanpa menunjukkan sedikit pun rasa tersinggung atau marah, menjawab dengan tenang: “Kesabaran, toleransi, dan kasih -- hanya ketiga hal inilah yang dapat membawa keberhasilan; apa gunanya kemenangan jika kemenangan itu diperoleh melalui kebohongan dan keganasan? Perang semacam itu hanya akan melahirkan perang demi perang untuk selamanya. Kita harus selalu bertindak seolah-olah kita berada di hadapan Tuhan, seolah-olah Tuhan sedang menyaksikan dan menilai setiap pikiran, perkataan, dan perbuatan kita. Lihatlah dirimu di dalam diri semua makhluk, dan lihatlah semua makhluk di dalam dirimu; itulah jalan menuju kedamaian dan suka cita yang langgeng. Janganlah kita mengejar kerajaan di luar diri kita; marilah kita menjadi penguasa atas kerajaan batin. Janganlah kita berusaha mengalahkan musuh di luar diri, sementara musuh di dalam diri justru kita biarkan semakin kuat. Kita memiliki Krishna bersama kita; siapa yang dapat mengalahkan kita? Kita akan menang dengan memperoleh kasih karunia-Nya.” Jangan pernah menyimpang dari jalan kebenaran, apa pun kesulitan atau godaan. Jangan biarkan keyakinan kita terguncang. Jika engkau memberikan perhatian utama kepada kekayaan, anak-anak, ketenaran, keberuntungan, sesungguhnya engkau sedang menunjukkan bahwa pengabdianmu bukanlah kepada Tuhan, melainkan kepada kekayaan, anak-anak, ketenaran, atau keberuntungan tersebut. Jika engkau benar-benar mengabdikan diri kepada Tuhan, bagaimana seharusnya pengabdian itu diwujudkan? Dengan mewujudkan sifat-sifat Ilahi, kebajikan Ilahi, kasih Ilahi, dan kekuatan Ilahi, jadilah Sai, hiduplah sebagai Sai.


-- Divine Discourse 26 September 1972

Engkau tidak dapat menghancurkan kemarahan dengan kemarahan, kekejaman dengan kekejaman, atau kebencian dengan kebencian. Kemarahan hanya dapat ditundukkan dengan kesabaran; kekejaman hanya dapat diatasi dengan tanpa kekerasan; dan kebencian hanya dapat diluruhkan dengan kemurahan hati serta kasih sayang.

Monday, September 28, 2026

Thought for the Day - 28th September 2026 (Monday)



Deha + Atma (body + Spirit) is Dehatma. Jiva + Atma (Life + Spirit) is Jivatma. Param + Atma (the Supreme + Self) is Paramatma. Although Deha (the body), Jiva (the individual), and Param (the Supreme) are different terms, Atma (Spirit) is common and is equally present in all three. The Atma is all-pervading. That is termed Sat (Being). It may be likened to sugar, which retains its sweetness in whatever way it may be used, be it coffee, tea, milk, payasam or anything. The name coffee, tea and so on changes, but the sweetness of the sugar is the same. Chit (Awareness) is subject to change and movement. When you mix sugar in water, you have neither sugar nor water, but only syrup. When Sat, which represents the Divine and Chit, which represents the Life Principle, come together, you have Ananda (Bliss). This is Sat-chit-ananda. It is like an ocean in which the myriad creatures come into existence and disappear like the waves. Their names and forms vary, but essentially they are the same as the ocean. They are all living beings which have emerged from Sat-chit-ananda.


-- Divine Discourse Jun 26, 1994

People are immersed in dualism, separating God from themselves. Through love, this sense of separation can be ended.


Deha + Atma (Tubuh + Atma) adalah Dehatma. Jiva + Atma (Hidup + Atma) adalah Jivatma. Param + Atma (Yang Tertinggi + Atma) adalah Paramatma. Walaupun Deha (tubuh), Jiva (individual), dan Param (Yang Tertinggi) adalah istilah yang berbeda, Atma adalah sama dan hadir secara setara dalam ketiganya. Atma adalah memenuhi semuanya. Keadaan ini disebut Sat (Keberadaan). Hal ini dapat diibaratkan seperti gula yang tetap menjaga rasa manisnya dalam apapun cara yang digunakan, apakah gula tersebut dicampurkan ke dalam kopi, teh, susu, payasam, atau minuman dan makanan lainnya. Nama-nama seperti kopi, teh, susu, dan sebagainya memang berbeda, tetapi rasa manis gula tetap sama. Chit, yaitu Kesadaran adalah mengalami perubahan dan gerakan. Ketika gula dicampurkan ke dalam air engkau tidak lagi melihat gula dan air secara terpisah, melainkan terbentuk sirup. Ketika Sat, yang melambangkan Tuhan, dan Chit, yang melambangkan Prinsip hidup, bersatu, maka muncullah Ananda, yaitu Kebahagiaan Ilahi. Inilah yang disebut Sat-Chit-Ananda. Hal ini dapat diibaratkan seperti lautan, tempat berbagai makhluk hidup muncul dan kemudian menghilang seperti gelombang. Nama dan bentuk mereka berbeda-beda, tetapi pada hakikatnya semuanya sama dengan lautan itu sendiri. Semua makhluk hidup telah muncul dari Sat-Chit-Ananda.


-- Divine Discourse 26 Juni 1994

Manusia tenggelam dalam pandangan dualistis dengan memisahkan Tuhan dari dirinya sendiri. Melalui kasih, rasa keterpisahan ini dapat diakhiri.

Friday, September 25, 2026

Thought for the Day - 25th September 2026 (Friday)



When we develop love for God, the mind can be controlled very easily. On the other hand, if the mind is not turned towards God, it can never be controlled. Whatever you do, consider it as God’s work. Everything happens as per the Will of God. Do not think that your will alone can make things move. If that be the case, why are you not able to exercise any control over certain events that take place in your life? Understand that everything moves as per the Divine Will. If something good happens to you, consider it as the will of God. If something bad were to happen, accept that also as the will of God. There is certainly some purpose behind whatever He does, which you cannot comprehend. Whatever He does is for your own good. Hence, leave everything to His will. Sukha-duhkhe same kritva labhalabhau jayajayau (one should remain equal-minded in happiness and sorrow, gain and loss, victory and defeat). Whatever may happen, consider it as an act of divine love and welcome it wholeheartedly.


-- Divine Discourse Jul 22, 2008

Keep your mind directed towards God at all times. Only then can you experience peace. 


Ketika kita mengembangkan kasih kepada Tuhan, pikiran dapat dikendalikan dengan sangat mudah. Sebaliknya, jika pikiran tidak diarahkan kepada Tuhan, pikiran tidak akan pernah dapat dikendalikan. Apa pun yang engkau lakukan, anggaplah sebagai pekerjaan Tuhan. Jangan berpikir bahwa hanya kehendakmu sendiri yang dapat menggerakkan segala sesuatu. Jika memang demikian, mengapa engkau tidak mampu mengendalikan berbagai peristiwa tertentu yang terjadi dalam hidupmu? Pahamilah bahwa segala sesuatu bergerak sesuai dengan Kehendak Tuhan. Jika sesuatu yang baik terjadi kepadamu, anggaplah itu sebagai kehendak Tuhan. Jika sesuatu yang buruk terjadi, terimalah itu juga sebagai kehendak Tuhan. Pastinya terdapat beberapa tujuan di balik apa pun yang dilakukan-Nya, yang tidak dapat engkau pahami. Apa pun yang dilakukan-Nya adalah demi kebaikanmu sendiri. Oleh karena itu, serahkanlah segala sesuatu kepada kehendak-Nya. Sukha-duhkhe same kritva labhalabhau jayajayau  (seseorang hendaknya tetap seimbang dalam kebahagiaan dan penderitaan, keuntungan dan kerugian, kemenangan dan kekalahan). Apa pun yang terjadi, pandanglah sebagai ungkapan kasih Tuhan dan sambutlah dengan sepenuh hati.


-- Divine Discourse 22 Juli 2008

Arahkanlah pikiranmu kepada Tuhan setiap saat. Hanya dengan demikian engkau dapat mengalami kedamaian. 

Wednesday, September 23, 2026

Thought for the Day - 23rd September 2026 (Wednesday)



The scriptures declare that the Divine descends to the earth in human form to allay the sufferings of those who are sick of body or of mind. Man today seeks to have a vision of the Supra-human Transcendental Being. This is sheer folly because as long as one has the feeling that he is a human being, he can aspire to see God only in human form and is not entitled to see His transcendental form. When one transcends the sense of his humanness, he acquires the privilege to envision the Transcendental Divinity. That is the reason why Rama and Krishna came as Avatars in human form. To claim that when you close your eyes and meditate, you see an effulgent light is only a delusion. There are innumerable things that are not visible to your naked eyes and which are beyond your ken. How do you expect to see them or know them? You know only the human form. So, at the outset, try to understand humanness. You must understand the Life Principle that animates the human. From the Life Principle (Jiva Tatva), you should seek to enquire into the nature of the Divine (Para Tatva).


-- Divine Discourse Jun 26, 1994

To understand Divinity, which is beyond the human level, man should also rise to that state which is beyond the human level.


Naskah-naskah suci menyatakan bahwa Tuhan hadir berinkarnasi ke dunia dalam wujud manusia untuk meredakan penderitaan pada mereka yang sakit secara jasmani maupun pikiran. Manusia pada saat sekarang mencari untuk mendapatkan pandangan wujud Transendental yang melampaui manusia. Hal ini merupakan kekeliruan karena selama seseorang masih memiliki perasaan bahwa ia adalah manusia, maka ia hanya dapat berharap untuk melihat Tuhan dalam wujud manusia dan belum memiliki kapasitas untuk melihat wujud-Nya yang transendental. Ketika seseorang mampu melampaui kesadaran kemanusiaannya, ia memperoleh keistimewaan untuk membayangkan Keilahian Transendental. Itulah sebabnya mengapa Rama dan Krishna hadir sebagai Avatar dalam wujud manusia. Untuk menyatakan bahwa ketika engkau memejamkan mata dan bermeditasi, engkau melihat cahaya yang sangat terang hanyalah sebuah khayalan. Ada begitu banyak hal yang tidak dapat dilihat oleh mata jasmani dan berada di luar jangkauan pengetahuanmu. Bagaimana engkau dapat berharap untuk melihat atau mengetahuinya? Engkau hanya mengetahui wujud manusia. Oleh karena itu, pertama-tama berusahalah memahami hakikat kemanusiaan. Engkau harus memahami prinsip hidup yang menghidupkan manusia. Dari pemahaman terhadap prinsip hidup _(Jiva Tatva)_, engkau hendaknya menyelidiki dan memahami hakikat Tuhan (Para Tatva).


-- Divine Discourse 26 Juni 1994

Untuk memahami keilahian yang melampuai tingkat manusia, manusia juga harus harus bangkit menuju keadaan yang melampaui tingkat kemanusiaannya.

Tuesday, September 22, 2026

Thought for the Day - 22nd September 2026 (Tuesday)



People feel distressed when someone among their kinsfolk is ill. If such is the affection they bear towards relations who are associated with them for brief periods, how much more love should one have towards the eternal Lord? One should regard love for God as the greatest treasure one can have. When you love God, you will have love towards all because the Divine is in everyone. Therefore, bear in mind: Love all; serve all. The best way to serve God is to love all and serve all. Your devotion will get diluted if you entertain differences between people. Devotion to Rama or Krishna becomes meaningless if you do not practise their teachings. The worship of the Lord should be accompanied by leading a godly life. Only then can bliss be experienced. Today, people carry on a routine reading of scriptural texts like the Gita or the Bible. This serves no purpose unless they lead pure and sacred lives. They should fill their hearts with the love of God and share that love with others.


-- Divine Discourse Aug 21, 1994

Redeem your lives through love. Let love become your life-breath and the sole goal of your life.


Orang-orang merasa sangat sedih ketika seseorang dari kalangan keluarga atau kerabat mereka jatuh sakit. Jika demikian kasih sayang yang mereka miliki terhadap orang-orang yang hanya untuk sementara waktu hadir dalam hidup mereka, betapa jauh lebih besar seharusnya kasih sayang yang mereka miliki kepada Tuhan Yang Kekal? Seseorang harus memandang kasih sayang kepada Tuhan sebagai harta terbesar yang seseorang dapat dimiliki. Ketika engkau mencintai Tuhan, engkau akan memiliki cinta kepada semua orang, karena Yang Ilahi hadir di dalam diri setiap orang. Oleh karena itu, tanamkan dalam pikiran: Kasihi semua; layani semua. Cara terbaik untuk melayani Tuhan adalah mengasihi semua dan melayani semua. Bhaktimu akan menjadi lemah apabila engkau masih memelihara perbedaan-perbedaan di antara manusia. Pengabdian kepada Rama atau Krishna menjadi tidak bermakna apabila engkau tidak mempraktikkan ajaran-ajaran-Nya. Pemujaan kepada Tuhan harus disertai dengan menjalani kehidupan yang berlandaskan sifat-sifat Ilahi. Hanya dengan demikian seseorang dapat mengalami kebahagiaan. Saat ini, orang-orang secara rutin membaca kitab-kitab suci seperti Bhagavad Gita atau Alkitab. Kegiatan tersebut tidak akan membawa manfaat apabila mereka tidak menjalani kehidupan yang murni dan suci. Mereka hendaknya memenuhi hati dengan kasih kepada Tuhan dan membagikan kasih tersebut kepada orang lain.


-- Divine Discourse 21 Agustus 1994

Murnikan Hidupmu melalui kasih. Jadikan kasih sebagai napas hidupmu dan satu-satunya tujuan dalam hidupmu.

Monday, September 21, 2026

Thought for the Day - 21st September 2026 (Monday)



Constant contemplation on the form of the Lord and frequent repetition of the Lord’s name are the means by which the heart is filled with the love of God. When there is this love, the devotee is filled with inexpressible ecstasy. It was out of such ecstasy that Kulasekhara Alwar, the royal saint, exclaimed: “Oh Lord! People talk of moksha (liberation) as the means of redeeming life and getting rid of birth and death. I do not ask for such redemption. I shall be content with loving you and serving you in countless lives. Allow me to love You and serve You – that is the only blessing I seek from You and not moksha.” The universe is permeated with love. It is the embodiment of Vishnu. There is nothing in the cosmos, no place in it where He is not present. To regard the Universe as a manifestation of God and to experience it as such is real devotion. Sage Narada was the supreme exponent of this doctrine. He observed: Tyago bhavati, tripto bhavati, atmaramo bhavati - The lover of God renounces everything; he is supremely content. He is immersed in the bliss of the Self. Endow me with such love, Oh Lord!


-- Divine Discourse Jan 19, 1986

For the realisation of the Supreme (Paramartha), Bhakti (devotion) is the royal road.


Perenungan terus-menerus pada wujud Tuhan dan secara teratur melakukan pengulangan nama Tuhan merupakan sarana yang memenuhi hati dengan kasih kepada Tuhan. Ketika ada kasih seperti ini, seorang bhakta dipenuhi oleh kebahagiaan dan kegembiraan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Dalam keadaan kegembiraan seperti itulah Kulasekhara Alwar, seorang raja yang menjadi santo agung, berseru: “Oh Tuhan! Orang-orang berbicara tentang moksha (pembebasan) sebagai sarana untuk menyelamatkan hidup dan membebaskan diri dari kelahiran dan kematian. Aku tidak meminta penyelamatan seperti itu. Aku akan merasa bersyukur dengan dapat mencintai-Mu dan melayani-Mu dalam kehidupan yang tak terhitung jumlahnya. Izinkanlah aku mencintai-Mu dan melayani-Mu --itulah satu-satunya anugerah yang aku mohon dari-Mu, bukan moksha.” Seluruh alam semesta diliputi dengan kasih. Alam semesta merupakan perwujudan Vishnu. Tidak ada sesuatu pun di alam semesta, tidak ada tempat di dalamnya, di mana Vishnu tidak hadir. Memandang alam semesta sebagai manifestasi Tuhan dan mengalaminya demikian merupakan bhakti yang sejati. Resi Narada adalah tokoh utama yang mengajarkan prinsip ini. Narada menyatakan -- Tyago bhavati, tripto bhavati, atmaramo bhavati. "Pencinta Tuhan melepaskan segala sesuatu; ia mencapai kepuasan yang sempurna. Ia larut dalam kebahagiaan Sang Diri (Atma). Oh Tuhan, Anugerahkanlah diriku dengan kasih seperti itu!


-- Divine Discourse 19 Januari 1986

Bhakti (pengabdian) sebagai jalan utama menuju Realisasi Tertinggi (Paramartha)