Wednesday, September 23, 2026

Thought for the Day - 23rd September 2026 (Wednesday)



The scriptures declare that the Divine descends to the earth in human form to allay the sufferings of those who are sick of body or of mind. Man today seeks to have a vision of the Supra-human Transcendental Being. This is sheer folly because as long as one has the feeling that he is a human being, he can aspire to see God only in human form and is not entitled to see His transcendental form. When one transcends the sense of his humanness, he acquires the privilege to envision the Transcendental Divinity. That is the reason why Rama and Krishna came as Avatars in human form. To claim that when you close your eyes and meditate, you see an effulgent light is only a delusion. There are innumerable things that are not visible to your naked eyes and which are beyond your ken. How do you expect to see them or know them? You know only the human form. So, at the outset, try to understand humanness. You must understand the Life Principle that animates the human. From the Life Principle (Jiva Tatva), you should seek to enquire into the nature of the Divine (Para Tatva).


-- Divine Discourse Jun 26, 1994

To understand Divinity, which is beyond the human level, man should also rise to that state which is beyond the human level.


Naskah-naskah suci menyatakan bahwa Tuhan hadir berinkarnasi ke dunia dalam wujud manusia untuk meredakan penderitaan pada mereka yang sakit secara jasmani maupun pikiran. Manusia pada saat sekarang mencari untuk mendapatkan pandangan wujud Transendental yang melampaui manusia. Hal ini merupakan kekeliruan karena selama seseorang masih memiliki perasaan bahwa ia adalah manusia, maka ia hanya dapat berharap untuk melihat Tuhan dalam wujud manusia dan belum memiliki kapasitas untuk melihat wujud-Nya yang transendental. Ketika seseorang mampu melampaui kesadaran kemanusiaannya, ia memperoleh keistimewaan untuk membayangkan Keilahian Transendental. Itulah sebabnya mengapa Rama dan Krishna hadir sebagai Avatar dalam wujud manusia. Untuk menyatakan bahwa ketika engkau memejamkan mata dan bermeditasi, engkau melihat cahaya yang sangat terang hanyalah sebuah khayalan. Ada begitu banyak hal yang tidak dapat dilihat oleh mata jasmani dan berada di luar jangkauan pengetahuanmu. Bagaimana engkau dapat berharap untuk melihat atau mengetahuinya? Engkau hanya mengetahui wujud manusia. Oleh karena itu, pertama-tama berusahalah memahami hakikat kemanusiaan. Engkau harus memahami prinsip hidup yang menghidupkan manusia. Dari pemahaman terhadap prinsip hidup _(Jiva Tatva)_, engkau hendaknya menyelidiki dan memahami hakikat Tuhan (Para Tatva).


-- Divine Discourse 26 Juni 1994

Untuk memahami keilahian yang melampuai tingkat manusia, manusia juga harus harus bangkit menuju keadaan yang melampaui tingkat kemanusiaannya.

Tuesday, September 22, 2026

Thought for the Day - 22nd September 2026 (Tuesday)



People feel distressed when someone among their kinsfolk is ill. If such is the affection they bear towards relations who are associated with them for brief periods, how much more love should one have towards the eternal Lord? One should regard love for God as the greatest treasure one can have. When you love God, you will have love towards all because the Divine is in everyone. Therefore, bear in mind: Love all; serve all. The best way to serve God is to love all and serve all. Your devotion will get diluted if you entertain differences between people. Devotion to Rama or Krishna becomes meaningless if you do not practise their teachings. The worship of the Lord should be accompanied by leading a godly life. Only then can bliss be experienced. Today, people carry on a routine reading of scriptural texts like the Gita or the Bible. This serves no purpose unless they lead pure and sacred lives. They should fill their hearts with the love of God and share that love with others.


-- Divine Discourse Aug 21, 1994

Redeem your lives through love. Let love become your life-breath and the sole goal of your life.


Orang-orang merasa sangat sedih ketika seseorang dari kalangan keluarga atau kerabat mereka jatuh sakit. Jika demikian kasih sayang yang mereka miliki terhadap orang-orang yang hanya untuk sementara waktu hadir dalam hidup mereka, betapa jauh lebih besar seharusnya kasih sayang yang mereka miliki kepada Tuhan Yang Kekal? Seseorang harus memandang kasih sayang kepada Tuhan sebagai harta terbesar yang seseorang dapat dimiliki. Ketika engkau mencintai Tuhan, engkau akan memiliki cinta kepada semua orang, karena Yang Ilahi hadir di dalam diri setiap orang. Oleh karena itu, tanamkan dalam pikiran: Kasihi semua; layani semua. Cara terbaik untuk melayani Tuhan adalah mengasihi semua dan melayani semua. Bhaktimu akan menjadi lemah apabila engkau masih memelihara perbedaan-perbedaan di antara manusia. Pengabdian kepada Rama atau Krishna menjadi tidak bermakna apabila engkau tidak mempraktikkan ajaran-ajaran-Nya. Pemujaan kepada Tuhan harus disertai dengan menjalani kehidupan yang berlandaskan sifat-sifat Ilahi. Hanya dengan demikian seseorang dapat mengalami kebahagiaan. Saat ini, orang-orang secara rutin membaca kitab-kitab suci seperti Bhagavad Gita atau Alkitab. Kegiatan tersebut tidak akan membawa manfaat apabila mereka tidak menjalani kehidupan yang murni dan suci. Mereka hendaknya memenuhi hati dengan kasih kepada Tuhan dan membagikan kasih tersebut kepada orang lain.


-- Divine Discourse 21 Agustus 1994

Murnikan Hidupmu melalui kasih. Jadikan kasih sebagai napas hidupmu dan satu-satunya tujuan dalam hidupmu.

Monday, September 21, 2026

Thought for the Day - 21st September 2026 (Monday)



Constant contemplation on the form of the Lord and frequent repetition of the Lord’s name are the means by which the heart is filled with the love of God. When there is this love, the devotee is filled with inexpressible ecstasy. It was out of such ecstasy that Kulasekhara Alwar, the royal saint, exclaimed: “Oh Lord! People talk of moksha (liberation) as the means of redeeming life and getting rid of birth and death. I do not ask for such redemption. I shall be content with loving you and serving you in countless lives. Allow me to love You and serve You – that is the only blessing I seek from You and not moksha.” The universe is permeated with love. It is the embodiment of Vishnu. There is nothing in the cosmos, no place in it where He is not present. To regard the Universe as a manifestation of God and to experience it as such is real devotion. Sage Narada was the supreme exponent of this doctrine. He observed: Tyago bhavati, tripto bhavati, atmaramo bhavati - The lover of God renounces everything; he is supremely content. He is immersed in the bliss of the Self. Endow me with such love, Oh Lord!


-- Divine Discourse Jan 19, 1986

For the realisation of the Supreme (Paramartha), Bhakti (devotion) is the royal road.


Perenungan terus-menerus pada wujud Tuhan dan secara teratur melakukan pengulangan nama Tuhan merupakan sarana yang memenuhi hati dengan kasih kepada Tuhan. Ketika ada kasih seperti ini, seorang bhakta dipenuhi oleh kebahagiaan dan kegembiraan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Dalam keadaan kegembiraan seperti itulah Kulasekhara Alwar, seorang raja yang menjadi santo agung, berseru: “Oh Tuhan! Orang-orang berbicara tentang moksha (pembebasan) sebagai sarana untuk menyelamatkan hidup dan membebaskan diri dari kelahiran dan kematian. Aku tidak meminta penyelamatan seperti itu. Aku akan merasa bersyukur dengan dapat mencintai-Mu dan melayani-Mu dalam kehidupan yang tak terhitung jumlahnya. Izinkanlah aku mencintai-Mu dan melayani-Mu --itulah satu-satunya anugerah yang aku mohon dari-Mu, bukan moksha.” Seluruh alam semesta diliputi dengan kasih. Alam semesta merupakan perwujudan Vishnu. Tidak ada sesuatu pun di alam semesta, tidak ada tempat di dalamnya, di mana Vishnu tidak hadir. Memandang alam semesta sebagai manifestasi Tuhan dan mengalaminya demikian merupakan bhakti yang sejati. Resi Narada adalah tokoh utama yang mengajarkan prinsip ini. Narada menyatakan -- Tyago bhavati, tripto bhavati, atmaramo bhavati. "Pencinta Tuhan melepaskan segala sesuatu; ia mencapai kepuasan yang sempurna. Ia larut dalam kebahagiaan Sang Diri (Atma). Oh Tuhan, Anugerahkanlah diriku dengan kasih seperti itu!


-- Divine Discourse 19 Januari 1986

Bhakti (pengabdian) sebagai jalan utama menuju Realisasi Tertinggi (Paramartha)

Sunday, September 20, 2026

Thought for the Day - 20th September 2026 (Sunday)



Embodiments of love! Senses are like life principles for every man. Once you rein in your senses, your life will be peaceful. You should not only avoid evil talk, but should also talk less. Your speech should be short and sweet. Sages like Valmiki, Vyasa, and great devotees like Potana composed sacred texts and sanctified their lives. Emulate their ideals and make your life exemplary. Read sacred texts composed by such noble souls. Today, people read books which pollute the mind. It is a very bad practice. Be it reading, writing, seeing, or talking, let everything be good. Do not commit any mistake knowingly. You can experience Divinity in humanity by putting the senses to proper use. One can visualise the Divine manifestations and become Divine himself only through sacred use of the senses.


-- Divine Discourse Jul 05, 2001

True spiritual sadhana lies in controlling one’s senses. Without sense control, all spiritual sadhana will prove futile.


Perwujudan kasih! Indria-indria merupakan seperti prinsip hidup bagi setiap manusia. Ketika engkau mampu mengendalikan indriamu, maka hidupmu akan menjadi damai. Engkau tidak hanya menghindari pembicaraan yang buruk, tetapi juga kurangi berbicara. Perkataanmu hendaknya singkat, sederhana, dan manis. Para resi seperti Valmiki dan Vyasa, serta bhakta agung seperti Potana, telah menggubah kitab-kitab suci dan dengan demikian menyucikan kehidupan mereka. Teladanilah ideal-ideal mereka dan jadikan kehidupanmu sebagai kehidupan yang patut diteladani. Bacalah kitab-kitab suci yang ditulis oleh jiwa-jiwa mulia tersebut. Hari ini, orang-orang membaca buku-buku yang justru mencemari pikiran. Ini merupakan kebiasaan yang sangat buruk. Baik dalam membaca, menulis, melihat, maupun berbicara, hendaknya segala sesuatunya adalah baik. Jangan melakukan kesalahan dengan sengaja. Engkau dapat mengalami keilahian dalam diri umat manusia dengan menggunakan indria-indria secara tepat. Seseorang dapat melihat berbagai manifestasi Tuhan dan akhirnya menjadi Ilahi melalui penggunaan indria-indria secara suci.


-- Divine Discourse 5 Juli 2001

Sadhana spiritual yang sejati terletak pada pengendalian indria. Tanpa pengendalian indria, seluruh praktik sadhana spiritual akan menjadi sia-sia.

Saturday, September 19, 2026

Thought for the Day - 19th September 2026 (Saturday)



The heart of the devotee flows with love of the Lord through constant remembrance and recitation of His name. Out of this stream of love, devotion emerges. One who is nourished by the nectar of bhakti will have no desire for anything else. To be unaffected by joy or sorrow, gain or loss, praise or blame, and to remain steadfast and unwavering in faith - this is the hallmark of true devotion. Affection, attachment, and desire are natural qualities in man. When these qualities are directed towards God and when one is continuously engaged in good deeds, these qualities acquire purity and sacredness. Then a man becomes not only a great soul but can become divine. The devotee is ever conscious that the universe is a manifestation of the Divine and is permeated by the Divine. His life is based on the recognition of the immanence of God in everything. This state of mind is called Prema Advaitam (unity in Love). Through this love, the devotee experiences his oneness with the Divine. Enjoying the bliss of this experience, the devotee does not even desire moksha. Unremitting love of the Lord is everything for him. Such devotion is known as Ananya-bhakti.


-- Divine Discourse Jan 19, 1986

Devotion is the panacea for all ills. There is no Veda or Shastra superior to devotion. Divine love encompasses all sacred acts.


Hati dari bhakta mengalir dengan kasih kepada Tuhan melalui pengenangan yang terus-menerus dan pengulangan nama suci Tuhan. Dari aliran kasih inilah munculnya bhakti. Seseorang yang telah memperoleh nutrisi dari nektar bhakti tidak lagi memiliki keinginan terhadap hal-hal lainnya. Untuk menjadi tidak terpengaruh oleh suka maupun duka, keuntungan maupun kerugian, pujian maupun celaan, serta tetap teguh dan tidak tergoyahkan dalam keyakinan – ini adalah tanda dari bhakti yang sejati. Kasih sayang, keterikatan, dan keinginan merupakan sifat-sifat yang secara alami terdapat dalam diri manusia. Ketika sifat-sifat tersebut diarahkan kepada Tuhan dan seseorang terus-menerus terlibat dalam perbuatan-perbuatan yang baik, maka sifat-sifat itu menjadi murni dan suci. Dengan demikian, manusia bukan hanya menjadi jiwa yang luhur, tetapi bahkan dapat mencapai keadaan Ilahi. Bhakta senantiasa menyadari bahwa alam semesta merupakan manifestasi dari Tuhan dan diliputi oleh Tuhan. Kehidupannya didasarkan pada pengakuan bahwa Tuhan hadir dan bersemayam dalam segala sesuatu. Keadaan pikiran seperti ini disebut Prema Advaitam, yaitu kesatuan dalam kasih. Melalui kasih ini, bhakta mengalami kesatuannya dengan Tuhan. Karena menikmati kebahagiaan dari pengalaman ini, bhakta bahkan tidak lagi menginginkan moksha, yaitu pembebasan. Kasih yang tidak pernah terputus kepada Tuhan adalah segalanya baginya. Pengabdian seperti itu yang dikenal sebagai Ananya-bhakti.


-- Divine Discourse 19 Januari 1986

Bhakti adalah obat bagi segala penyakit. Tidak ada Veda maupun Shastra yang lebih tinggi daripada bhakti. Kasih Tuhan mencakup seluruh perbuatan yang suci.

Friday, September 18, 2026

Thought for the Day - 18th September 2026 (Friday)



Bhakti (devotion) denotes a feeling of friendship coupled with awe. For one who is a creature of the gunas (satva, rajas, tamas), to understand what transcends the gunas, an attitude of humility and reverence is required. “Bhaja Sevayam” (worship the Divine through Seva). Bhakti calls for utilising the mind, speech, and body, and the three gunas, to worship the Lord. Devotion and love are inseparable and interdependent. Bhakti is the means to salvation. Love is the expression of bhakti. Narada declared that worshipping the Lord with boundless love is bhakti. Vyasa held that performing worship with love and adoration is bhakti. Garga Rishi declared that serving the Lord with purity of mind, speech, and body is bhakti. Yajnavalkya held that true bhakti consists in controlling the mind, turning it inwards, and enjoying the bliss of communion with the Divine. Another view of bhakti is the concentration of the mind on God and experiencing oneness with the Divine. Although many sages have expressed different views about the nature of bhakti, the basic characteristic of devotion is love.


-- Divine Discourse Oct 08, 1986

Among all forms of sadhana (spiritual pratices), Bhakti (devotion) is the easiest and holiest


Bhakti (pengabdian) menunjukkan perasaan persahabatan yang disertai dengan rasa kagum. Bagi manusia yang merupakan makhluk yang masih berada dalam pengaruh guna, yaitu sattva, rajas, dan tamas, diperlukan sikap rendah hati dan penuh penghormatan untuk dapat memahami sesuatu yang melampaui ketiga guna tersebut. “Bhaja Sevayam” berarti memuja Tuhan melalui Seva atau pelayanan. Bhakti menuntut penggunaan pikiran, perkataan, dan tubuh, serta ketiga guna, untuk memuja Tuhan. Bhakti dan kasih tidak dapat dipisahkan dan saling berkaitan. Bhakti merupakan sarana untuk menuju pembebasan. Kasih merupakan ungkapan dari Bhakti. Narada menyatakan bahwa memuja Tuhan dengan kasih yang tidak terbatas adalah Bhakti. Vyasa menyatakan bahwa melakukan pemujaan dengan kasih dan penghormatan adalah Bhakti. Resi Garga menyatakan bahwa melayani Tuhan dengan kesucian pikiran, perkataan, dan tubuh adalah Bhakti. Yajnavalkya berpandangan bahwa Bhakti yang sejati terdapat dalam mengendalikan pikiran, mengarahkannya ke dalam diri, dan menikmati kebahagiaan yang muncul dari penyatuan dengan Tuhan. Pandangan lain mengenai Bhakti adalah memusatkan pikiran kepada Tuhan dan mengalami kesatuan dengan Tuhan. Meskipun banyak resi memberikan pandangan yang berbeda mengenai hakikat Bhakti, karakteristik dasar dari Bhakti adalah kasih.


-- Divine Discourse 8 Oktober 1986

Di antara semua bentuk sadhana (praktik spiritual), Bhakti adalah jalan yang paling mudah dan paling suci.

Thursday, September 17, 2026

Thought for the Day - 17th September 2026 (Thursday)



What is the aim of human life? What is a man’s duty? It is to discover this truth that God has endowed man with a body to render help to others - Paropakarartham idam shareeram. We live in a society, depending on it for our needs. But, forgetting what they owe to society, people lead selfish and self-centred lives. Service to society is the primary karma (duty). Concern for the welfare of all is bhakti (devotion). “Let all people be happy.” Awareness of this feeling is jnana (true knowledge). Without recognising the duty to serve society, without concern for the welfare of society, how can the all-encompassing desire for the happiness of all, which is devotion, arise in anyone? These three are intimately related like a flower, tender fruit, and ripe fruit. The fruit of devotion confers the wisdom which eliminates differences. Devotion is a fragment of the Divine. Without devotion, awareness of the Divine cannot be experienced. Equally, devotion without consciousness of the Divine can only breed ahamkara (egoism).


-- Divine Discourse Aug 21, 1994

You are all caskets of divine love; share it, spread it. Express that love in acts of service, words of sympathy, and thoughts of compassion.


Apakah tujuan hidup manusia? Apa kewajiban manusia? Tujuan hidup manusia adalah menemukan kebenaran bahwa Tuhan telah menganugerahkan tubuh kepada manusia untuk memberikan pertolongan kepada orang lain: Paropakarartham idam shareeram. Kita hidup dalam masyarakat dan bergantung pada masyarakat untuk memenuhi berbagai kebutuhan kita. Namun, dengan melupakan apa yang menjadi kewajibannya kepada masyarakat, manusia justru menjalani kehidupan yang egoistis dan berpusat pada kepentingan diri sendiri. Pelayanan kepada masyarakat adalah Karma (kewajiban) yang utama. Kepedulian terhadap kesejahteraan semua orang adalah Bhakti (pengabdian). “Semoga semua manusia berbahagia.” Kesadaran akan perasaan dan prinsip tersebut merupakan Jnana (pengetahuan sejati). Tanpa menyadari kewajiban untuk melayani masyarakat, dan tanpa kepedulian terhadap kesejahteraan masyarakat, bagaimana mungkin dalam diri seseorang dapat tumbuh keinginan yang mencakup semua makhluk untuk mencapai kebahagiaan bagi semuanya, yang merupakan wujud dari Bhakti? Ketiga hal ini saling berkaitan erat, seperti bunga, buah yang masih muda, dan buah yang telah matang. Buah dari Bhakti memberikan Jnana, yaitu kebijaksanaan yang menghapuskan perbedaan. Bhakti merupakan bagian dari Tuhan. Tanpa Bhakti, kesadaran akan Tuhan tidak dapat dialami. Sama halnya, Bhakti tanpa kesadaran akan Tuhan hanya dapat melahirkan Ahamkara (egoisme).


-- Divine Discourse 21 Agustus 1994

Engkau semua adalah wadah-wadah kasih Tuhan; bagikanlah kasih itu dan sebarkanlah. Wujudkan kasih tersebut melalui tindakan pelayanan, perkataan yang penuh simpati, dan pikiran yang penuh welas asih.