Saturday, May 9, 2026

Thought for the Day - 9th May 2026 (Saturday)



The swimmer in the river has to push aside the waters in front to the sides and to kick the waters to the back so that he can move forward straight and fast. Forcing the water back is the act that takes him forward. That is to say, do not attach importance to it, throw it back, give it up, renounce; that alone can help you to progress, even an inch. Instead, man collects and stores, accumulates and takes pride in what he holds firm, regardless of the preciousness of the human trait of renunciation. So, we sink in material possessions, victories, and vagaries. We do not float or swim across the temptations. We must try to discover and learn the means of progress. We may well ask, how can a man sunk in relative knowledge become aware of Atma? But there is no reason for despair or for condemning ourselves as mean and low. For when small men take big decisions, they earn encouragement from the great. When the tiny squirrel decided to share in building the passage across the sea, did it not receive the blessings of Lord Rama? The squirrel knew that its help could only be infinitesimal, but the feeling of dedication which prompted it won the grace of God.


-- Divine Discourse, Jan 08, 1983

Faith and self-confidence are essential for spiritual progress.

 

Perenang yang berenang di sungai harus menepis air yang ada di depannya ke samping dan mendorong air ke belakang agar ia dapat bergerak maju dengan lurus dan cepat.  Dengan mendorong air ke belakang, ia bisa maju ke depan. Maknanya adalah: jangan melekat pada sesuatu, lepaskanlah, tinggalkanlah, relakanlah. Hanya dengan cara itulah seseorang dapat benar-benar maju, walau hanya selangkah. Namun malahan manusia justru gemar mengumpulkan, menyimpan, dan membanggakan apa yang dimilikinya, tanpa menyadari betapa berharganya sifat pengorbanan dan pelepasan. Akibatnya, kita tenggelam dalam harta benda materi, kemenangan, dan berbagai gejolak duniawi. Kita tidak mampu mengapung atau berenang melewati godaan-godaan kehidupan. Kita harus berusaha untuk menemukan dan mempelajari cara untuk maju. kita mungkin mulai mempertanyakan, bagaimana seseorang yang tenggelam dalam pengetahuan duniawi dapat menyadari Atma? Tetapi tidak ada alasan untuk putus asa atau merendahkan diri sendiri sebagai makhluk yang hina dan lemah. Karena ketika orang kecil mengambil keputusan yang besar, mereka akan memperoleh dukungan dari yang lebih hebat. Ketika tupai yang kecil memutuskan untuk ikut membantu membangun jembatan menyeberangi lautan, bukankah ia menerima berkah dari Sri Rama? Tupai itu secara jelas mengetahui bahwa bantuannya sangatlah kecil, namun perasaan pengabdian yang mendorong tindakannya mampu membuatnya memperoleh rahmat Tuhan. 


- Divine Discourse, Jan 08, 1983

Keyakinan dan kepercayaan diri adalah mendasar untuk kemajuan spiritual.

Friday, May 8, 2026

Thought for the Day - 8th May 2026



Affection for mother and reverence for father are necessary. But parents and preceptor are transient. Even friends are impermanent. God alone is permanent and unfailing, and God alone should have the permanent place in the heart. The human body acquires its sacredness from the fact that it is the abode of the Divine. The Gita refers to the body as kshetra (sacred field) and the Divine Indweller as the Kshetrajna. Because of the sacredness of the body, it should be used properly as an instrument of the Divine. Man should develop faith in God. Without faith, life will be meaningless. Man can have no happiness or satisfaction in life without God’s grace. Men today are too immersed in affairs of the world and have no peace of mind. They can have peace only from the supreme embodiment of peace, God. He is the abode of infinite love and enduring peace. God’s love should be secured by chanting the Lord’s name. You should be grateful to your mother for endowing you with a body which enables you to chant the Lord’s name.

- Divine Discourse, May 6, 1997
See that the splendour of the Lord, the cool rays of His grace, is not dimmed in the recesses of your heart


Kasih sayang kepada ibu dan rasa hormat kepada ayah adalah sebuah keniscayaan. Namun, orang tua maupun guru spiritual bersifat sementara. Bahkan teman pun tidaklah kekal. Hanya Tuhanlah yang Mahakekal dan takkan pernah mengecewakan, dan hanya Tuhanlah yang sepantasnya bersemayam secara abadi di dalam hati. Tubuh manusia memperoleh kesuciannya karena ia merupakan kediaman bagi Sang Ilahi. Bhagavad Gita menyebut tubuh sebagai kshetra (ladang suci) dan Sang Penghuni Ilahi di dalamnya sebagai Kshetrajna. Karena kesucian tubuh ini, ia harus dipergunakan dengan semestinya sebagai instrumen Ilahi. Manusia harus menumbuhkan keyakinan kepada Tuhan. Tanpa keyakinan, kehidupan akan kehilangan maknanya. Manusia tidak akan mereguk kebahagiaan atau kepuasan sejati dalam hidup tanpa berkat Tuhan. Saat ini, manusia terlalu terhanyut dalam urusan duniawi sehingga kehilangan kedamaian pikiran. Mereka hanya bisa memperoleh kedamaian dari Sang Perwujudan Kedamaian Tertinggi, yaitu Tuhan. Dia adalah samudra kasih yang tak terbatas dan kedamaian yang abadi. Kasih Tuhan haruslah diraih dengan senantiasa melantunkan Nama Suci-Nya. Engkau hendaknya berterima kasih kepada ibumu, karena melaluinya engkau dianugerahi raga yang memungkinkanmu untuk memuliakan Nama Tuhan.

- Divine Discourse, May 6, 1997
Jagalah agar kemuliaan Tuhan—pancaran kasih-Nya yang menyejukkan—tak meredup di dalam relung hatimu yang paling dalam

Saturday, May 2, 2026

Thought for the Day - 2nd May 2026 (Saturday)



God is Premaswarupa (Embodiment of Love); God is in every being; so the fruit of every life is full of the sweetness of that Prema. Like the bitter skin of the fruit, which is sweet, which casts the cover of ignorance over the precious juice within, so too, the bitter skin of envy, egoism, hate, malice, greed, lust, and pomp does not allow the sweetness to be patent to all. Every being is entitled to partake of that Prema, irrespective of nationality, colour, creed, or status in society. When God and God’s Prema are activating every atom, who can dare say, ‘Stand out’ to anyone? Isavasyamidam sarvam - All this is God, is Prema. The lights that Vyasa lit to reveal this great reality have become dim; no one is pouring oil into the lamp; all are interested in pursuing false ideals and fleeting pleasures. Vyasa taught Dharma (Righteousness) in the Mahabharata, Bhakthi (Devotion) in the Bhagavata, and Shanti and Prema (Peace and Love) in the 18 Puranas; he taught the knowledge of “knowledge, knower, and the known” in the Brahmasutra. He emphasised that harming others is the seed of sin and serving others the seed of merit. That is the lesson of Prema, pure and simple. 


- Divine Discourse, Jul 21, 1967

Prema (Love) is the spring that feeds the roots of all the virtues. 


Tuhan adalah perwujudan kasih (premaswarupa); Tuhan ada dalam diri setiap makhluk; jadi buah dari setiap kehidupan adalah penuh dengan rasa manis dari prinsip kasih itu (prema). Seperti halnya rasa pahit pada kulit buah yang menutupi rasa manis sari buah yang ada di dalamnya, begitu juga rasa pahit dari kulit berupa sifat iri hati, egoisme, kebencian, kesombongan, ketamakan, nafsu, dan keangkuhan yang menutupi rasa manis kasih itu sehingga tidak tampak. Setiap makhluk berhak merasakan dan menikmati kasih Ilahi ini, tanpa memandang kebangsaan, warna kulit, keyakinan, maupun kedudukan sosial. Ketika Tuhan dan kasih-Nya menggerakkan setiap atom, siapa yang berani berkata kepada orang lain, “lebih menonjol dibandingkan yang lainnya”? Isavasyam idam sarvam - semua ini adalah Tuhan, semua ini adalah kasih. Pelita yang dinyalakan oleh Vyasa untuk mengungkap kebenaran agung ini kini mulai meredup; tidak ada lagi yang mengisi minyaknya; semua orang tertarik dan sibuk dalam mengejar mengejar gagasan yang semu dan kesenangan yang bersifat sementara. Vyasa mengajarkan kebajikan (dharma) dalam Mahabharata, pengabdian (bhakthi) dalam Bhagavata, dan Shanti serta Prema (kedamaian dan kasih) dalam 18 purana; Vyasa mengajarkan pengetahuan tentang “pengetahuan, yang mengetahui, dan yang diketahui” dalam Brahmasutra. Vyasa menekankan bahwa menyakiti yang lainnya adalah benih dari dosa, sedangkan melayani yang lainnya adalah benih dari kebajikan atau jasa. Itu adalah inti pelajaran tentang kasih yang bersifat suci dan sederhana. 


-Wacana Swami, 21 Juli 1967

Prema (kasih) adalah mata air yang memberikan kehidupan pada akar dari seluruh kebajikan.

Friday, May 1, 2026

Thought for the Day - 1st May 2026 (Friday)



Buddha taught that we should not have anger, we should not find others’ faults, and we should not harm others because all are embodiments of the pure, eternal principle of the Atma. Have compassion towards the poor and help them to the extent possible. You think those who do not have food to eat are poor people. You cannot call someone poor just because he does not have money or food to eat. Truly speaking, nobody is poor. All are rich, not poor. Those whom you consider poor may not have money, but all are endowed with the wealth of Hridaya (the heart). Understand and respect this underlying principle of unity and divinity in all and experience bliss. Do not have such narrow considerations as so and so is your friend, so and so is your enemy, so and so is your relation, etc. All are one, be alike to everyone. That is your primary duty. This is the most important teaching of Buddha. 


-- Divine Discourse, May 13, 2006

Buddha taught that the principle of unity of the Atma was the only true principle in the world. One who realised it by using his spiritual intelligence was a true Buddha, he said. 


Buddha mengajarkan bahwa kita tidak seharusnya menyimpan kemarahan, kita seharusnya tidak mencari-cari kesalahan orang lain, dan kita seharusnya tidak menyakiti siapapun karena semuanya adalah perwujudan dari prinsip Atma yang suci dan kekal. Milikilah welas asih kepada mereka yang kekurangan dan bantulah mereka semaksimal mungkin. Engkau berpikir bahwa mereka yang tidak memiliki makanan untuk dimakan adalah orang miskin. Engkau tidak bisa menyebut seseorang miskin karena ia tidak memiliki uang atau makanan untuk dimakan. Berbicara yang sebenarnya, tidak ada seorangpun yang miskin. Semuanya adalah kaya, tidak miskin. Bagi mereka yang engkau anggap miskin mungkin tidak memiliki uang, namun semua dari mereka diberkati dengan kekayaan hati (Hridaya). Pahamilah dan hormati prinsip yang mendasari kesatuan dan keilahian dalam setiap makhluk dan alamilah kebahagiaan yang sejati. Jangan terjabk dalam pandangan sempit seperti ini teman, ini musuh, ini kerabat dan sebagainya. Semuanya adalah satu, bersikaplah sama kepada setiap orang. Itu merupakan kewajibanmu yang utama. Ini adalah ajaran terpenting dari sang Buddha. 


-- Wacana Swami, 13 Mei 2006

Buddha juga mengajarkan bahwa prinsip kesatuan Atma adalah satu-satunya kebenaran sejati di dunia ini. Seseorang yang mampu menyadarinya melalui kecerdasan spiritualnya adalah Buddha yang sejati.

Tuesday, April 28, 2026

Thought for the Day - 28th April 2026 (Tuesday)



For man, there are two kinds of states in this world. They are: Hita (Pleasant) and Ahita (Unpleasant). Whether the state is pleasant or unpleasant depends on your innermost attitude or outlook. The same object becomes pleasant once and unpleasant on another occasion! The thing welcomed with great fondness at one time becomes hateful at another time, and there is not the desire even to see it. The condition of the mind at those times is the reason to wean so. Hence, everyone must train their mind to be pleasant always. The waters of a river leap from mountains, fall into valleys, and rush through gorges; besides, tributaries join it at various stages, and the water becomes turbid and unclean. So too, in the flood of human life, speed and power increase and decrease. These ups and downs can happen at any moment during life. No one can escape these; they may come at the beginning of life, at the end or in the middle. So, what man must firmly convince himself is that life is necessarily full of ups and downs, and that, far from being afraid and worried over these, one should welcome them. One should not only feel like this, but should be happy and glad, whatever happens! Then, all troubles, whatever their nature, will pass away lightly and quick! 


-- Ch 3, Dhyana Vahini

Faith in God can ensure equanimity and balance. 


Bagi manusia, ada dua jenis keadaan dalam hidup ini: hita (menyenangkan) dan ahita (tidak menyenangkan). Namun, apakah sesuatu terasa menyenangkan atau tidak, sebenarnya bergantung pada sikap batin dan cara pandang kita sendiri.  Objek yang sama bisa terasa sangat menyenangkan di suatu waktu, tetapi di waktu lain justru terasa tidak menyenangkan. Sesuatu yang dahulu disambut dengan penuh kegembiraan bisa berubah menjadi hal yang dihindari, bahkan tak ingin lagi dilihat. Perubahan ini bukan karena bendanya, melainkan karena keadaan pikiran kita saat itu! Oleh karena itu, setiap orang harus melatih pikiran mereka untuk selalu tetap tenang dan positif dalam segala keadaan. Ibarat air sungai yang mengalir dari pegunungan, jatuh ke lembah, melewati jurang, lalu bercampur dengan berbagai aliran lain hingga menjadi keruh. Demikian pula kehidupan manusia, kadang mengalir deras, kadang melambat; kadang jernih, kadang keruh. Naik turunnya kehidupan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Itu bisa terjadi di awal kehidupan, di tengah, maupun di akhir. Yang perlu kita yakini dengan mantap adalah bahwa hidup memang penuh dengan pasang surut. Alih-alih takut atau cemas menghadapinya, kita justru perlu menerimanya dengan lapang. Bahkan lebih dari itu, belajar untuk tetap merasa tenang dan bersyukur dalam keadaan apa pun. Ketika sikap ini tumbuh, segala kesulitan—apa pun bentuknya—akan terasa lebih ringan dan cepat berlalu! 


-- Ch 3, Dhyana Vahini

Keyakinan kepada Tuhan akan menumbuhkan keseimbangan dan ketenangan batin.

Monday, April 27, 2026

Thought for the Day - 27th April 2026 (Monday)



God has provided everything for man’s good in the world. But there is one condition that must be observed. The result of your actions will be according to their nature, whether they are good or bad. Men today want to reap the fruits of good deeds without performing good deeds. This is impossible. Nor can they escape the consequences of their evil actions. God is only a witness. From now on, develop good thoughts, do good actions and redeem your lives. You must start with Karma Marga (Path of Action) and end with Jnana Marga (Path of Knowledge). In between, there is Upasana Marga (Path of Worship). This is the path you must follow today. For this, you must get the conviction that God is omnipresent. When you have that conviction, you will not indulge in falsehood or practice deception, you will not abuse others or cause harm to them, you will acquire all virtues. 


-- Divine Discourse, Feb 27, 1995

Develop the firm conviction that God is within you, and you are Divine.


Tuhan telah menyediakan segala sesuatunya bagi kebaikan manusia di dunia. Namun ada satu syarat yang tidak bisa diabaikan. Hasil dari perbuatanmu akan sesuai dengan sifat dari perbuatan tersebut, apakah perbuatan itu baik datau buruk. Manusia pada hari ini ingin mendapatkan buah perbuatan baik dengan tanpa menjalankan perbuatan baik. Hal ini adalah tidak mungkin. Demikian pula, tidak ada seorangpun dari manusia yang bisa melepaskan diri dari akibat perbuatan buruk mereka. Tuhan hanyalah sebagai saksi saja. Mulai dari sekarang, pupuk pemikiran yang baik, lakukan perbuatan baik dan perbaiki arah hidupmu. Engkau harus mulai dengan jalan tindakan (karma marga) dan mengakhirinya dengan jalan pengetahuan (jnana marga). Diantara kedua jalan tersebut adalah jalan pemujaan (upasana marga). Ini adalah jalan yang harus engkau jalani hari ini. Untuk itu, tanamkan keyakinan yang kuat bahwa Tuhan hadir di mana-mana. Ketika engkau memiliki keyakinan itu, engkau tidak akan berbohong atau menipu, tidak akan menyakiti atau merugikan orang lain, dan secara alami kebajikan akan tumbuh dalam dirimu. 


-- Divine Discourse, 27 Februari 1995

Pupuklah keyakinan yang mantap bahwa Tuhan ada di dalam dirimu, dan hakikat dirimu adalah ilahi.

Sunday, April 26, 2026

Thought for the Day - 26th April 2026 (Sunday)



There are three types of approaches towards the Lord: the eagle type, which swoops down on the target with a greedy swiftness and suddenness, which, by its very impact, fails to secure the object coveted; the monkey type, which flits hither and thither, from one fruit to another, unable to decide which is tasty; and the ant type, which moves steadily, though slowly, towards the object, which it has decided is desirable. The ant does not hit the fruit hard and make it fall away; it does not pluck all the fruits it sees; it appropriates just as much as it can assimilate and no more. Do not fritter away the time allotted to you for sojourning on Earth in foolish foppery and fanciful foibles, which always keep you outdoors. When are you going to walk indoors into the warmth and quiet of your own interior? Retire into solitude and silence, now and then; experience the joy derivable only from them. 


-- Divine Discourse, Oct 26, 1961

When the fruit is ripe, it will fall off the branch of its own accord. Similarly, when vairagya (renunciation) saturates your heart, you lose contact with the world and slip into the lap of the Lord. 


Ada tiga jenis pendekatan menuju Tuhan: pendekatan pertama adalah seperti jenis elang yang terbang menukik ke bawah pada target dengan kecepatan dan penuh kerakusan yang mana justru sering gagal mendapatkan apa yang diinginkan; pendekatan kedua adalah jenis monyet yang melompat ke sana kemari, dari satu buah ke buah lain, tanpa pernah benar-benar memutuskan mana yang layak dipilih; dan pendekatan ketiga adalah jenis semut yang berjalan perlahan tetapi pasti menuju tujuan yang telah ditentukan. Semut tidak menghantam buah hingga jatuh sia-sia. Ia juga tidak mengambil semua buah yang dilihatnya. Ia hanya mengambil secukupnya, sesuai dengan kemampuannya untuk mencerna dan tidak lebih. Jangan habiskan waktu yang diberikan selama hidup di dunia ini untuk tingkah laku yang konyol dan khayalan yang tidak masuk akal, yang hanya membuatmu terus berada di luar dirimu sendiri. Kapan engkau akan masuk ke dalam, ke ruang batinmu yang hangat dan tenang? Sesekali, menyendirilah dalam keheningan dan ketenangan. Rasakan kebahagiaan yang hanya bisa di dapatkan dari keheningan tersebut. 


-- Divine Discourse, 26 Oktober 1961

Ketika buah matang akan jatuh dengan sendirinya dari pohon, demikian pula ketika vairagya (ketidakterikatan) memenuhi hatimu, engkau secara alami melepaskan keterikatan dunia dan berlabuh dalam pelukan Tuhan.