Sunday, June 21, 2026

Thought for the Day - 21st June 2026 (Sunday)

 

We must shape ourselves into fit instruments for the spiritual pilgrimage. There are four classes of persons; those who pay attention to their own faults and the excellences of others (the best); those who highlight their own excellences as well as the excellences of others (the middlings); those who pay attention only to their own excellence and only to the faults of others (the worse type) and those who present their own faults as excellences and the excellences of others as faults (the worst). Each one can discover for himself the group to which he belongs. Remember this - when one is yearning to become aware of the Full, the Sacred, the Prema, the Atma, the Bhagawan, he has to prepare himself for the first and the best group—discovering his own faults and observing only excellences in others. This is the most desirable sadhana. Man is suffering today because he is engrossed in the external world, with no sadhana or steady practice to correct his vision. What can ten baths a day do to cleanse a person when his mind is fouled by evil thoughts? What can the shaven head and the ochre clothes do to foster spirituality when his mind is riddled by desires and wants?

-- Divine Discourse, Apr 05, 1981
Instead of criticising others and finding faults with the actions of others, subject yourself to vigilant scrutiny, understand yourself well, and correct your own faults; do not be like the dancer who blamed the drummer for her wrong steps.


Kita harus membentuk diri menjadi alat yang layak untuk menempuh perjalanan spiritual. Ada empat golongan manusia: golongan pertama adalah golongan terbaik dimana mereka memberikan perhatian pada kesalahan dalam dirinya dan melihat kebaikan dalam diri orang lain. Golongan kedua adalah golongan menengah dimana mereka yang melihat kelebihan dalam dirinya sendiri dan juga menghargai kelebihan orang lain. Golongan ketiga adalah golongan yang lebih rendah dimana mereka yang hanya melihat kelebihannya sendiri dan hanya memperhatikan kesalahan orang lain. Golongan keempat adalah golongan yang paling rendah adalah mereka yang menganggap kesalahannya sendiri sebagai suatu kebaikan, dan justru menganggap kebaikan orang lain sebagai kesalahan. Setiap orang dapat merenungkan dan menemukan dirinya termasuk golongan yang mana. Ingatlah hal ini: ketika seseorang merindukan untuk menyadari Yang Maha Sempurna, Yang Suci, Prema (Kasih Ilahi), Atma (Diri Sejati), dan Bhagawan (Tuhan), ia harus mempersiapkan dirinya untuk mencapai golongan pertama dan yang tertinggi, yaitu mampu mengenali kesalahannya sendiri serta melihat kebaikan pada diri orang lain. Inilah salah satu bentuk sadhana (latihan spiritual) yang diidamkan. Penderitaan manusia saat ini muncul karena ia terlalu tenggelam dalam dunia luar dan tidak melakukan sadhana atau latihan yang terus-menerus untuk memperbaiki cara pandangnya. Apa gunanya mandi sepuluh kali sehari untuk membersihkan tubuh jika pikirannya masih dipenuhi pikiran buruk? Apa gunanya kepala yang dicukur dan pakaian warna safron yang dikenakan sebagai tanda kehidupan spiritual, jika batinnya masih dipenuhi keinginan?

-- Wejangan Sai, 5 April 1981
Daripada mengkritik orang lain dan mencari-cari kesalahan dalam tindakan mereka, lakukanlah pengawasan yang waspada terhadap diri sendiri. Kenalilah dirimu dengan baik dan perbaikilah kesalahanmu sendiri. Jangan seperti seorang penari yang menyalahkan penabuh genderang karena langkah tariannya sendiri yang salah.


Saturday, June 20, 2026

Thought for the Day - 20th June 2026 (Saturday)



The natural colour of this kerchief is white. As you use it, it becomes dirty and stained. Its colour also changes because of the dirt accumulated on it. Similarly, when a child is born, its heart will be pure, unsullied, as clear as crystal and as pure as glittering gold. But when metals like silver, copper and brass are added to pure gold, it loses its lustre and value. It becomes impure. The true nature of man is immortal, eternal, peaceful and blissful. Such a nature of man gets polluted by worldly desires, by his activities and by his attachment to kith and kin. He himself is responsible for the erosion of values in his life. Today, we don’t find any trace of human values in human beings. Human values do not come from outside. They cannot be acquired. They are already there in every person. Man is not able to recognise this. He speaks untruth, undertakes wrong activities, looks at forbidden things and entertains wrong thoughts. He has lost his purity. How can we call a person a human being if they lack human values?


-- Divine Discourse, Oct 5, 2000

Peace is the outcome of our actions and thoughts. If our thoughts are pure, our actions will also be pure. When actions are pure, life itself becomes holy.


Warna alami saputangan ini adalah putih. Namun, setelah digunakan berulang kali, saputangan tersebut menjadi kotor dan bernoda. Warnanya pun tampak berubah karena kotoran yang melekat padanya. Sama halnya, ketika seorang anak lahir, hatinya masih suci, tanpa noda, jernih seperti kristal, dan murni seperti emas yang berkilau. Akan tetapi, ketika logam lain seperti perak, tembaga, dan kuningan dicampurkan ke dalam emas murni, emas itu kehilangan kilau dan nilainya. Ia menjadi tidak murni. Sifat sejati manusia sesungguhnya adalah abadi, penuh kedamaian, dan kebahagiaan. Namun, sifat luhur tersebut menjadi tercemar oleh berbagai keinginan duniawi, dengan tindakannya, serta keterikatan terhadap keluarga dan kerabat. Manusia sendirilah yang menjadi penyebab terkikisnya nilai-nilai dalam hidupnya. Saat ini, kita tidak menemukan jejak nilai-nilai kemanusiaan dalam diri manusia. Padahal, nilai-nilai kemanusiaan tidak datang dari luar dan tidak perlu dicari di tempat lain. Nilai-nilai tersebut telah ada di dalam diri setiap manusia sejak awal. Namun, manusia gagal mengenali nilai-nilai ini. Ia berbicara tidak jujur, melakukan perbuatan yang salah, melihat hal-hal yang tidak pantas, dan membiarkan pikiran-pikiran negatif berkembang. Dengan demikian, kemurnian dirinya perlahan memudar. Lalu, bagaimana seseorang dapat disebut sebagai manusia sejati apabila kekurangan nilai-nilai kemanusiaannya?


-- Wejangan Sai, 5 Oktober 2000

Kedamaian merupakan hasil dari tindakan dan pemikiran kita. Apabila pemikiran kita murni, tindakan kita pun akan murni. Ketika tindakan menjadi murni, hidup itu sendiri menjadi suci.

Friday, June 19, 2026

Thought for the Day - 19th June 2026 (Friday)



When a person suffers from a severe stomachache due to appendicitis, the doctor operates upon him and removes the appendix. Can we say, the doctor is cruel when he cuts the stomach of a patient? No, no. He cuts his stomach out of his compassion for the patient. The pain inside the body has to be cured by causing pain to the body from outside. Similarly, the tests given by God are only to help man to bear the consequences of his actions. Everything God does is for the good of man and not to harm him. Why? God is absolutely selfless, without selfishness and self-interest; in fact, He actually does not know what selfishness and self-interest are. Some people attribute partiality, selfishness and self-interest to even acts of God. It is only their imagination. This imagination is the cause of their delusion. So long as your heart is filled with bhrama (delusion), you cannot experience Brahma (God)! You cannot have thoughts of Brahma unless you drive away bhrama from your heart! Your heart has only a single chair in it. It is neither a double-seated sofa nor a musical chair! When you remove bhrama from your heart, Brahma will occupy it. It is not possible to make bhrama and Brahma sit on the same chair in your heart. But due to the impact of Kali Yuga, people are trying to make both of them sit on the same chair! They may make any amount of effort, but Brahma will not enter their heart so long as bhrama is there!


-- Wejangan Sai, Jun 28, 1996

Love always gives and never receives. Such selfless Love is only with God. 


Ketika seseorang menderita karena mengalami sakit perut yang parah akibat radang usus buntu, dokter melakukan operasi untuk mengangkat usus buntu tersebut. Apakah kita dapat mengatakan bahwa dokter itu kejam karena ia menyayat tubuh pasien? Tentu tidak. Ia melakukan tindakan itu karena kasih sayang dan kepeduliannya terhadap pasien. Rasa sakit yang ada di dalam tubuh harus disembuhkan melalui tindakan yang dapat menimbulkan rasa sakit dari luar. Demikian pula, berbagai ujian yang diberikan Tuhan sesungguhnya bertujuan untuk membantu manusia menjalani dan menyelesaikan akibat dari perbuatannya sendiri. Apa pun yang Tuhan lakukan adalah demi kebaikan manusia, bukan untuk menyakiti manusia. Mengapa demikian? Karena Tuhan adalah kasih yang sepenuhnya tanpa pamrih, bebas dari ego, dan kepentingan pribadi; bahkan Tuhan tidak mengenal sifat mementingkan diri sendiri atau kepentingan pribadi. Namun, beberapa orang-orang yang menganggap bahwa Tuhan bersikap tidak adil, pilih kasih, atau memiliki kepentingan tertentu dalam tindakan-Nya. Anggapan tersebut hanyalah imajinasi mereka. Imajinasi ini adalah penyebab dari delusi mereka. Selama hatimu diliputi dengan bhrama (delusi) maka engkau tidak bisa mengalami Brahma (Tuhan)! Selama delusi masih menguasai hati, pikiran tidak akan dapat tertuju kepada Brahman. Hati manusia hanya memiliki satu tempat duduk. Hati bukanlah sofa yang dapat diduduki dua orang sekaligus ataupun kursi berpindah. Ketika bhrama dikeluarkan dari hati, maka Brahma akan bersemayam di dalamnya. Bhrama dan Brahma tidak mungkin menempati tempat yang sama dalam hati manusia. Akan tetapi, karena pengaruh Kali Yuga, manusia mencoba mempertahankan keduanya secara bersamaan. Sebesar apa pun usaha seseorang, Brahman tidak akan hadir di dalam hati selama masih ada delusi di sana.


-- Wejangan Sai, 28 Juni 1996

Kasih sejati selalu memberi dan tidak pernah menuntut balasan. Kasih tanpa pamrih seperti itu hanya dimiliki oleh Tuhan.

Thursday, June 18, 2026

Thought for the Day - 18th JUne 2026 (Thursday)



Even when Dharmaja’s wife was humiliated in the open court, he fixed his unwavering mind on Krishna. Even when Ashvatthama slaughtered the innocent Upapandavas, he continued thinking of God with a steady, pure, and unagitated mind. Bhima was bound hand and foot, and thrown into a river with venomous snakes. In such situations too, Dharmaja maintained his equipoise. This was because he was able to transcend both joys and sorrows and attain the non-dual principle of Godhead. It is only by the perception of the fundamental Truth that one develops a steady mind. The intellect transcends the mind, and the purity of the intellect is therefore reflected in the mind. It does not suffice if we confine ourselves merely to meditation or chanting in the name of sadhana. The cultivation of purity of the heart is the true sadhana we must undertake. In fact, purity of the heart is itself the attainment of wisdom, and it is in this state of wisdom that the mind remains unwavering. Dharmaja had attained this state. There are innumerable such devotees in this world. But there are others too whose equipoise is disturbed by the joys and sorrows of the world. To overcome this fickle nature of the mind, one has to realise one’s divine nature that fosters equanimity.


-- Divine Discourse, Oct 5, 2000

God will not be reflected in a mind full of likes, dislikes and desires, or a mind that is disturbed with impure thoughts. 


Bahkan ketika istri Dharmaja dihina di hadapan seluruh sidang kerajaan, ia tetap memusatkan pikirannya dengan teguh kepada Krishna. Bahkan ketika Ashvatthama membunuh Upapandava yang tidak bersalah, Dharmaja tetap menjaga pikirannya tetap suci, tenang, dan tidak terguncang sambil terus mengingat Tuhan. Bahkan ketika Bhima diikat tangan dan kakinya lalu dilemparkan ke sungai yang dipenuhi ular berbisa, Dharmaja tetap mempertahankan keseimbangan batinnya. Hal ini terjadi karena Dharmaja telah melampaui suka dan duka serta mencapai kesadaran akan prinsip Ketuhanan yang tanpa dualitas. Hanya dengan menyadari Kebenaran yang mendasar maka seseorang dapat mengembangkan pikiran yang teguh dan tidak mudah tergoyahkan. Kecerdasan (buddhi) berada lebih tinggi daripada pikiran (manas), dan kemurnian dari kecerdasan akan tercermin dalam pikiran. Tidaklah cukup jika kita hanya membatasi diri pada meditasi, pengulangan Nama Tuhan (japa), atau pelayanan (seva) sebagai praktik sadhana. Sadhana yang sejati yang harus kita jalankan adalah usaha dalam menyucikan hati. Sesungguhnya, kemurnian hati itu sendiri merupakan kebijaksanaan sejati (jnana). Dalam keadaan kebijaksanaan seperti inilah pikiran menjadi mantap dan tidak mudah terguncang. Dharmaja telah mencapai keadaan tersebut. Ada banyak bhakta agung di dunia yang memiliki keteguhan batin seperti itu. Namun, ada juga orang yang ketenangannya mudah hilang karena kegembiraan maupun penderitaan duniawi. Untuk dapat mengatasi sifat pikiran yang berubah-ubah ini, seseorang harus menyadari hakikat Ilahinya sendiri, yang melahirkan ketenangan batin.


-- Wejangan Sai, 5 Oktober 2000

Tuhan tidak akan terpantul dalam pikiran yang dipenuhi oleh suka dan tidak suka, atau pikiran yang yang tercemar oleh ketidakmurnian.

Wednesday, June 17, 2026

Thought for the Day - 17th June 2026 (Wednesday)



It is generally thought that artha (the second Purushartha) refers to wealth, worldly possessions, and property. God-awareness is the real artha. This awareness means wealth of knowledge and not money or currency notes. Experiencing Divinity is in itself artha. This is what we have to attain and propagate. Contrary to popular belief, kama refers to the desire to attain liberation and not the worldly objects that are of a temporary nature. People do not understand the real meaning of kama and associate it with worldly pleasures and mundane desires. They should understand the real meaning of these terms, recognise the true goal of life and spread this knowledge. Moksha (liberation) is a state which is devoid of entry and exit, birth and death. Adi Shankara said, “There is an endless cycle of birth and death, and one has to stay in the mother’s womb again and again. This ocean of worldliness is difficult to cross. Oh compassionate Lord, protect me with Your boundless grace". He advised a scholar, “Oh foolish man! Worship Govinda, when the God of death beckons you, your knowledge of grammar will not help you in any way”. What is the way to moksha? Always remember God and meditate upon Him. Tread the sacred path and attain the highest divine state where there is no birth and death.


-- Divine Discourse, May 01, 1997

Man can realise God only through love for God. No amount of power and wealth can help man to attain the Divine.


Pada umumnya berpikir bahwa artha (Purushartha kedua) dipahami sebagai kekayaan, harta benda, dan kepemilikan duniawi. Namun, kesadaran Tuhan adalah artha yang sesungguhnya. Kesadaran ini merupakan kekayaan berupa pengetahuan dan bukan sekadar uang atau harta materi. Mengalami keilahian itu sendiri merupakan kekayaan yang harus dicapai dan dibagikan. Berlawanan dengan pemahaman umum, kama mengacu pada hasrat untuk mencapai pembebasan dan bukan pada keinginan terhadap kenikmatan duniawi yang bersifat sementara. Banyak orang tidak memahami makna sejati dari kama dan hanya menghubungkannya dengan kesenangan indria serta keinginan duniawi. Oleh karena itu, manusia harus memahami arti sebenarnya dari istilah-istilah ini, mengenali tujuan hidup yang sejati, dan menyebarkan pemahaman tersebut. Moksha (pembebasan) adalah keadaan yang terbebas dari masuk dan keluar, terbebas dari kelahiran dan kematian. Adi Shankara mengungkapkan: “ada siklus perputaran kelahiran dan kematian tanpa akhir dan harus berulang kali tinggal di dalam kandungan seorang ibu. Samudra kehidupan duniawi ini sangat sulit diseberangi. Wahai Tuhan Yang Maha Pengasih, lindungilah aku dengan anugerah-Mu yang tak terbatas.” Beliau juga menasihati seorang sarjana: “wahai manusia yang bodoh, pujalah Govinda. Ketika kematian datang menghampirimu, pengetahuan tata bahasa tidak akan dapat menolongmu.” Lalu, apakah jalan menuju moksha? Selalu mengingat Tuhan dan bermeditasi kepada-Nya. Menapaki jalan yang suci, dan mencapai keadaan Ilahi yang tertinggi, yaitu keadaan yang bebas dari kelahiran dan kematian.


-- Wejangan Sai, 01 Mei 1997

Manusia dapat menyadari Tuhan hanya melalui kasih kepada Tuhan. Tidak ada kekuasaan, dan kekayaan yang dapat membantu manusia mencapai Tuhan.

Tuesday, June 16, 2026

Thought for the Day - 16th June 2026 (Tuesday)



According to Indian culture, there are four Purusharthas (objectives) of man’s life, namely, Dharma, Artha, Kama and Moksha (righteousness, wealth, desire, and liberation). Not only in India, but these goals of life are prevalent in other countries also. Some say that Purusharthas are meant only for men and not women. Purusha does not mean man. It refers to the Atma and consciousness. Consciousness does not distinguish between men and women. The real Purusha is the Atma which is the same in all. It is generally thought that Dharma refers to charity. But this is not correct. Those deeds that help man to attain Divinity come under Dharma. The actions that induce bliss in the heart, manifest non-duality and advocate oneness constitute Dharma. The innermost feelings that reflect Divinity come under Dharma. Everyone must practice this Dharma. In fact, human life is destined for this very purpose. Man should realise the truth that he is born to manifest Divinity. Dharma does not refer to the stages of life like grihastha (householder stage) or sanyasa (renunciant stage). These are related to the world and not to the Atma. Man forgets his inherent humanness and gets caught up in worldly and mundane problems in his day-to-day life. As a result, his life remains disoriented to the Supreme Principle.


-- Divine Discourse, May 01, 1997

Life is best spent and human effort best directed when awareness of the Atma principle is sought to be attained.

 

Menurut budaya Bharat, terdapat empat Purushartha (tujuan utama kehidupan manusia), yaitu Dharma, Artha, Kama, dan Moksha (kebajikan, kekayaan, keinginan, dan pembebasan). Tujuan-tujuan kehidupan ini bukan hanya dikenal di India, tetapi prinsip serupa juga dapat ditemukan dalam berbagai peradaban di dunia. Ada sebagian orang yang beranggapan bahwa Purushartha hanya diperuntukkan bagi laki-laki dan bukan perempuan. Kata Purusha tidak berarti laki-laki, melainkan menunjuk pada Atma dan kesadaran murni. Kesadaran tersebut tidak membedakan laki-laki dan perempuan. Purusha yang sejati adalah Atma yang sama dan hadir di dalam semua makhluk. Banyak orang menganggap bahwa Dharma hanya berarti kegiatan amal atau memberi sedekah. Pandangan ini belum sepenuhnya tepat. Segala perbuatan yang membantu manusia menyadari dan mewujudkan sifat Ketuhanannya termasuk dalam Dharma. Tindakan yang menghadirkan kebahagiaan batin, menumbuhkan tanpa dualitas dan memupuk kesadaran akan kesatuan merupakan wujud Dharma. Perasaan terdalam yang memancarkan sifat-sifat Ilahi juga termasuk Dharma. Setiap manusia harus menjalankan Dharma ini, karena sesungguhnya tujuan kelahiran manusia adalah untuk mengungkapkan dan mewujudkan Keilahian yang ada dalam dirinya. Dharma tidak terbatas pada tahapan kehidupan seperti grihastha (tahap kehidupan berumah tangga) atau sanyasa (tahap pelepasan keduniawian). Tahapan tersebut berkaitan dengan peran seseorang di dunia, bukan dengan hakikat Atma. Manusia melupakan kemanusiaan dan sifat Ilahi yang melekat pada dirinya karena terlalu tenggelam dalam masalah-masalah duniawi dan persoalan kehidupan sehari-hari. Akibatnya, kehidupan menjadi kehilangan arah dan jauh dari tujuan dan prinsip tertinggi.


-- Wejangan Sai, 01 Mei 1997

Hidup digunakan dengan sebaik-baiknya dan usaha manusia terarah dengan sebaik-baiknya ketika kesadaran pada prinsip Atma diupayakan tercapai.

Monday, June 15, 2026

Thought for the Day - 15th June 2026 (Monday)


 

There are millions of people who serve their fellowmen with God’s Name on their lips. “Neither by penance, nor pilgrimage, nor study of scriptures, nor by japa can one cross the ocean of life. One can achieve it only by serving the pious.” Service is very important. Serve everybody with the conviction that God dwells in all. As you serve others, you must kill your ego. It cannot be called service if it is done with the feeling that “I am serving others.” Do all actions to please God - Sarva karma Bhagavad preetyartham. This is the attitude one should have while serving others. There are many who take part in service activities, but how many are able to enjoy the benefits derived therefrom? First, you should understand the term “service”. True service is that which is done with divine feelings, forgetting oneself. Service should be done as an offering to God. Service has value only when it is done with daivabhimana (love for God) and not dehabhimana (attachment to body). Even a small act of service done with the sole intention of pleasing God will acquire great significance.


-- Divine Discourse, Feb 24, 2002

Seva is the worship you offer to the God in the heart of everyone


Ada jutaan orang yang melayani sesama dengan Nama Tuhan di bibir mereka. Dikatakan: “Bukan melalui tapa, bukan melalui perjalanan suci, bukan melalui mempelajari kitab-kitab suci, dan bukan pula hanya melalui pengulangan Nama Tuhan (japa), seseorang dapat menyeberangi samudra kehidupan. Hal itu dapat dicapai melalui pelayanan kepada orang-orang yang suci dan berbudi luhur.” Pelayanan (seva) memiliki kedudukan yang sangat penting. Layanilah setiap orang dengan keyakinan bahwa Tuhan bersemayam dalam diri semua makhluk. Ketika engkau melayani orang lain, engkau harus mengikis egomu. Tindakan melayani tidak dapat disebut pelayanan sejati apabila pelayanan dilakukan dengan perasaan: “Aku sedang membantu orang lain.” Lakukan semua tindakan hendaknya untuk menyenangkan Tuhan: Sarva Karma Bhagavad Preetyartham_. Inilah sikap batin yang seseorang harus miliki ketika sedang melayani orang lain. Banyak orang terlibat dalam berbagai kegiatan pelayanan, tetapi berapa banyak yang benar-benar mendapatkan manfaat spiritual dari pelayanan tersebut? Pertama-tama, engkau harus memahami arti pelayanan yang sesungguhnya. Pelayanan sejati adalah pelayanan yang dilakukan dengan kesadaran Ilahi, melupakan dirinya sendiri. Pelayanan harus dilakukan sebagai persembahan kepada Tuhan. Pelayanan memiliki nilai hanya jika dilakukan dengan daivabhimana (cinta kepada Tuhan), bukan dengan dehabhimana (keterikatan pada tubuh). Bahkan sebuah pelayanan yang kecil, apabila dilakukan semata-mata untuk menyenangkan Tuhan, akan memiliki nilai yang sangat besar.


-- Wejangan Sai, 24 Februari 2002

Seva adalah pemujaan yang engkau persembahkan kepada Tuhan yang bersemayam di dalam hati setiap orang.