Thursday, May 28, 2026

Thought for the Day - 28th May 2026 (Thursday)



When I see the long lines of people going to church every Sunday, I am glad; but, when I find you talking apologetically of your visits to temples and sages, I dislike it. Why not assert that you had been to a temple or sage, boldly, with heads erect? Why yield to worry and misery, claiming all the time that you are a believer in God? When a bus is speeding along, a cloud of dust follows it; when it halts, the passengers get the dust all over. But, how far can you travel without bringing the bus to a halt? The one consolation is: you need not always speed along the mud road; better roads are in store. The mud road is the Samithi Road (managed by the village Panchayat); the metalled road, which comes later, is the Zilla Parishad Road; at last, you get on into the asphalt road, the road of the Highways Department, where the bus will not drag behind it any cloud of dust. The mud road is the karma marga (road of activity), the metalled road is upasana marga (road of worship and contemplation), and the asphalt road is jnana marga (road of divine knowledge and wisdom). Join the jnana marga soon; then, there will be no dust. In spiritual matters, faith is the basic requisite for progress. That faith has to be guarded carefully. Yield to the Lord, who is more kin to you than your own parents; yield to no other. Do not allow your faith to falter with every passing gust of wind.


-- Divine Discourse, May 23, 1966

Your duty is to carry on sadhana undisturbed by what others may say, holding fast to the certitude of your own experience 


Ketika Aku melihat panjangnya antrean manusia yang pergi ke Gereja setiap hari Minggu, Aku merasa senang. Tetapi ketika Aku melihat ada orang yang berbicara dengan rasa malu atau seolah meminta maaf karena pergi ke Kuil atau menemui orang suci, Aku tidak menyukainya. Mengapa tidak dengan berani mengatakan bahwa engkau pergi ke Kuil atau menemui seorang bijak, dengan kepala tegak dan penuh keyakinan? Mengapa harus hidup dalam kecemasan dan kesedihan, sementara terus mengaku percaya kepada Tuhan? Ketika sebuah bus melaju kencang di jalan tanah, debu akan beterbangan di belakangnya. Saat bus berhenti, para penumpang akan terkena debu itu. Tetapi bagaimana mungkin seseorang dapat menempuh perjalanan jauh tanpa sesekali menghentikan bus? Namun ada satu penghiburan: kamu tidak akan selamanya berjalan di jalan berlumpur; jalan yang lebih baik telah menantimu. Jangan lumpur adalah jalan samithi (dikelola oleh desa Panchayat); setelah itu ada jalan berbatu yang lebih baik, yaitu Jalan Zilla Parishad. Dan pada akhirnya, engkau akan sampai pada jalan beraspal milik Departemen Jalan Raya, di mana bus tidak lagi meninggalkan kepulan debu di belakangnya.  Jalan tanah itu adalah karma marga (jalan tindakan dan aktivitas). Jalan berbatu yang lebih baik ibarat upasana marga (jalan pemujaan dan kontemplasi). Dan jalan aspal yang halus ibarat jnana marga (jalan pengetahuan dan kebijaksanaan spiritual). Segeralah menapaki jnana marga, maka debu kehidupan tidak lagi mengganggu perjalananmu. Dalam kehidupan spiritual, keyakinan adalah syarat utama untuk maju. Keyakinan itu harus dijaga dengan sungguh-sungguh. Berserahlah kepada Tuhan, yang bahkan lebih dekat daripada orang tuamu sendiri; jangan berserah kepada yang lain. Jangan biarkan keyakinanmu goyah hanya karena tiupan angin yang lewat sekilas.


-- Wejangan Sai, 23 Mei 1966

Kewajibanmu adalah tetap menjalankan sadhana dengan tenang tanpa terganggu oleh apa yang dikatakan orang lain, sambil berpegang teguh pada keyakinan yang lahir dari pengalaman batinmu sendiri.

Wednesday, May 27, 2026

Thought for the Day - 27th May 2026 (Wednesday)



If the mind concerns itself with worldliness, then it is separated from the light of the atma and this separation causes mental perturbation. In order to have a vision of God you have to purify the inner instruments and conduct a virtuous life. We should keep our intelligence disengaged from worldly issues. Intelligence should not be made a tool to satiate physical and mental obsessions. On the other hand, it should be used for the revelation of Atma. It should only be a witness and remain unaffected by the surroundings. Then it is in a state of nivritti (inward path of renunciation). In this context, the sacrifice of work cannot be something which relates to nivritti. Sacrifice of one’s desires alone can be associated with nivritti. People sometimes refer to karma-phala-tyaga (renunciation of fruits of action) and say one must sacrifice the results of whatever work one does. If this is so, they argue no work needs to be done at all and they assert this is what the Bhagavad Gita teaches us. Nothing can be farther from truth. No one can sacrifice all work and yet live! The body is created for doing work. So everyone must perform work. But in doing such work, if your thoughts are sacred, you will do good work without seeking fruit thereof.


-- Summer Showers, Jun 11, 1973

It is only when the thoughts are good that the actions will be pure. When man’s actions are pure, society will be healthy and peaceful.

 

Jika pikiran terus dipenuhi urusan duniawi, maka ia akan terpisah dari cahaya Atma dan keterpisahan inilah yang menimbulkan kegelisahan batin. Untuk memperoleh pandangan terhadap Tuhan, seseorang harus menyucikan alat-alat batinnya dan menjalani kehidupan yang bajik. Kecerdasan manusia seharusnya tidak terus-menerus dipakai untuk urusan duniawi semata. Kecerdasan tidak boleh dijadikan alat untuk memuaskan obsesi fisik dan mental. Sebaliknya, kecerdasan harus digunakan untuk menyadari Atma. Ia harus menjadi saksi yang tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh keadaan di sekitarnya. Keadaan seperti inilah yang disebut nivritti, yaitu jalan batin menuju pelepasan. Dalam konteks ini, yang dimaksud bukan meninggalkan semua pekerjaan atau berhenti bertindak. Yang benar-benar harus dilepaskan adalah keinginan seseorang. Banyak orang memahami karma-phala-tyaga (melepaskan buah dari tindakan) secara keliru dan berkata bahwa seseorang harus melepaskan hasil dari apapun pekerjaan yang dilakoninya. Mereka berpikir bahwa ajaran itu berarti seseorang tidak perlu bekerja sama sekali, dan mereka menganggap itulah ajaran Bhagavad Gita. Pemahaman seperti itu sangat jauh dari kebenaran. Tidak ada seorang pun yang dapat meninggalkan semua pekerjaan namun tetap bisa hidup! Tubuh manusia memang diciptakan untuk bekerja. Karena itu, setiap orang harus melakukan tugas dan pekerjaannya. Namun ketika bekerja, jika pikiran dan niatnya suci, maka ia akan melakukan pekerjaan yang baik tanpa terikat pada hasil atau imbalannya.


-- Wacana Musim Panas, 11 Juni 1973

Hanya ketika pikiran seseorang baik, tindakannya akan menjadi murni. Dan ketika tindakan manusia menjadi murni, masyarakat akan hidup sehat dan damai.

Tuesday, May 26, 2026

Thought for the Day - 26th May 2026 (Tuesday)



Many look down upon acts like cleaning of streets, relief to the sick, feeding the hungry, and service to the poor and destitute as undignified. This is a grievous mistake. The supreme Lord of the three worlds, Sri Krishna Himself, when He came down to proclaim the divine destiny of man, rendered service to beasts and birds. He tended horses and cows with love. In the great Kurukshetra war, disinclined to wield the sword, He was content to figure as a mere charioteer. He made known thereby the ideal of selfless service. The underlying truth of karma yoga is the demonstration of the unity that subsumes the diversity in the universe. Nishkama karma (desireless action) demonstrates and promotes the love principle. There is no greater spiritual sadhana than service. The tendency to distinguish between the spiritual path, the path of service, and the path of knowledge, and regard them as separate is wrong. The three are not distinct; they are one. Seva (service) is spiritual knowledge. Seva is the primary means to acquire divine grace. Without being a devoted follower, you cannot become a worthy leader. Without being a kinkara (one who is ready to do any work), you cannot become a Shankara (the divine). Each one has to realise this truth. Service to society is the highest good.


-- Divine Discourse, Nov 17, 1985

The spirit of service should be coupled with readiness for sacrifice. Only then can it be called selfless service, free from any taint of self-interest. 


Banyak orang memandang rendah tindakan seperti membersihkan jalan, membantu orang sakit, memberi makan kepada yang lapar, atau melayani kaum miskin dan terlantar. Pandangan seperti ini adalah kesalahan besar. Sri Krishna, Tuhan Yang Mahatinggi penguasa tiga dunia, ketika turun ke dunia untuk menyampaikan tujuan suci kehidupan manusia, justru memberikan pelayanan kepada hewan dan unggas. Dengan penuh kasih, Beliau merawat kuda dan sapi. Dalam perang besar Kurukshetra, Beliau bahkan tidak memilih mengangkat senjata, melainkan rela menjadi kusir kereta perang. Melalui itu semua, Krishna menunjukkan teladan pelayanan tanpa pamrih. Kebenaran mendasar dari karma yoga adalah menyadari kesatuan yang ada di balik keberagaman alam semesta ini. Nishkama karma (tindakan tanpa pamrih) menumbuhkan dan memperlihatkan prinsip cinta kasih. Tidak ada sadhana (latihan spiritual) yang lebih tinggi daripada pelayanan. Anggapan bahwa jalan spiritual, jalan pelayanan, dan jalan pengetahuan adalah tiga hal yang berbeda merupakan pemahaman yang keliru. Ketiganya sesungguhnya tidaklah berbeda namun merupakan satu kesatuan. Seva (pelayanan) adalah pengetahuan spiritual itu sendiri. Seva adalah sarana utama untuk memperoleh rahmat Tuhan. Tanpa menjadi seorang pengikut setia, seseorang tidak akan mampu menjadi pemimpin yang sejati. Tanpa menjadi kinkara (orang yang siap melakukan pekerjaan apa pun dengan rendah hati), seseorang tidak akan mampu menjadi Shankara (Tuhan). Setiap orang harus memahami kebenaran ini:

pelayanan kepada masyarakat adalah kebajikan tertinggi.


-- Wejangan Swami, 17 November 1985

Semangat pelayanan harus disertai kesiapan untuk berkorban. Hanya dengan itulah pelayanan dapat disebut sebagai pelayanan tanpa pamrih, yang bebas dari kepentingan pribadi.

Monday, May 25, 2026

Thought for the Day - 25th May 2026 (Monday)



The individual full of Aham (I-ness) loves to exercise authority over others. He will not like listening to others. Even if the others’ counsel is good for him, due to his stubbornness, he will not like it. Such individuals see everything through ‘a jaundiced eye’, coloured by the smoke of self-conceit. “My words are true,” “My opinion is correct,” “My deeds are right,” they feel, and thus they spend their days in such stubbornness! Such behaviour is very harmful for sadhakas (spiritual aspirants). The sadhaka must be eagerly looking forward to any helpful criticism or suggestion, or advice from any quarter. When he makes any mistake, he should not try to justify himself. It can lead to unwarranted argumentations and if he does not succeed in arguments, it will lead to vengeful fighting. Do not struggle to earn the esteem of the world. Do not feel humiliated or angry when the world does not recognise you or your merits. Learn these first and foremost, if you are an aspirant and put them into practice.  You should not fall into joy, when you are being praised; therein lies a deadly trap, which might even lead you astray and endanger your progress. Try to learn and absorb things that are good for you from the advice of others and behave accordingly. Train yourself to take insult and criticism as deviations and digressions. 


-- Dhyana Vahini, Ch 14

There is no trace of ego in man at the time of birth, but it develops as he grows up. The feelings of ‘I’ and ‘mine’ are responsible for man’s bondage 


Seseorang yang dipenuhi oleh aham (rasa keakuan atau ego) selalu ingin menguasai orang lain. Ia tidak suka mendengarkan pendapat orang lain. Bahkan jika nasihat itu baik baginya, karena keras kepala, ia tetap menolaknya. Orang seperti ini memandang segala sesuatu dengan dengan penuh rasa curiga/sinis, pandangannya telah dikaburkan oleh asap kesombongan diri. Ia merasa: “Perkataanku pasti benar.” “Pendapatku paling tepat.” “Tindakanku selalu benar.” Dengan sikap keras kepala seperti itu, ia menjalani hidupnya. Perilaku semacam ini sangat berbahaya bagi seorang sadhaka (pencari spiritual). Seorang sadhaka seharusnya terbuka menerima kritik, saran, dan nasihat yang bermanfaat dari siapa pun. Ketika melakukan kesalahan, ia tidak boleh sibuk membenarkan dirinya sendiri. Sikap seperti itu hanya akan menimbulkan perdebatan yang tidak perlu. Jika gagal dalam perdebatan, hal itu dapat berubah menjadi kebencian dan pertengkaran. Jangan berjuang hanya untuk mendapatkan pujian dan penghargaan dari dunia. Jangan merasa hina atau marah ketika dunia tidak mengakui dirimu atau kemampuanmu. Inilah pelajaran yang pertama dan utama yang harus dipahami dan dipraktikkan oleh seorang pencari spiritual.  Engkau juga tidak boleh larut dalam kegembiraan ketika dipuji. Di balik pujian tersembunyi jebakan yang berbahaya, yang dapat menyesatkan dan menghambat kemajuan spiritualmu. Belajarlah menerima hal-hal baik dari nasihat orang lain dan terapkan dalam hidupmu. Latih dirimu untuk menerima hinaan dan kritik hanya sebagai gangguan sementara.


-- Dhyana Vahini, Ch 14

Pada saat lahir, manusia tidak memiliki ego. Namun ego berkembang seiring pertumbuhannya. Perasaan “aku” dan “milikku” itulah yang menjadi penyebab keterikatan manusia.

Sunday, May 24, 2026

Thought for the Day - 24th May 2026 (Sunday)



To inculcate the truth of spirituality, you can take the example of animals, which get sanctity and become objects of worship when they are in the company of the Divine. The snake, when it is around the neck of Lord Shiva, is worshipped by all. When it is encountered elsewhere, people do not hesitate even to kill it. Similarly, the mouse, which is the vehicle of Vinayaka, is an object of worship when it is with Vinayaka, but when it is seen in your house, you trap it and try to do away with it. This teaches the lesson that when we are in the company of God, we are held in high esteem. Just as the limbs are part of our body, we are all the limbs of the body of the cosmic form. The cosmic form is of thousands of heads, feet, hands and eyes. All the bodies of beings are His. If we develop strong faith in this, we can understand Divinity in its true spirit. When we see the Bull in the Shiva temple made of stone, we worship it. When we see a bull in our everyday life, we do not hesitate even to hit it. This is due to the ignorance of man who does not see God in every being. God is in every being, from an ant to an elephant!  


-- Divine Discourse, Apr 23, 1998

If we can really understand the secret of creation around us, our minds will not go after the attractions of the material world. There is nothing more wonderful or awe-inspiring than God’s creation 


Untuk menanamkan kebenaran spiritual, kita dapat mengambil contoh dari hewan-hewan yang memperoleh kesucian dan penghormatan ketika berada dalam hubungan dengan Tuhan. Ular, misalnya, ketika melingkar di leher Dewa Shiva, dipuja oleh banyak orang. Tetapi ketika ular ditemui di tempat lain, orang tidak segan untuk membunuhnya. Sama halnya dengan tikus yang merupakan wahana dari Vinayaka atau ganesha, menjadi objek pemujaan ketika terhubung dengan Vinayaka, namun ketika tikus terlihat di dalam rumahmu, engkau justru memasang perangkap dan berusaha menyingkirkannya. Dari sini kita belajar bahwa ketika seseorang berada dekat dengan Tuhan, ia akan dihormati dan dimuliakan. Sebagaimana anggota tubuh adalah bagian dari tubuh kita, demikian pula semua makhluk adalah anggota tubuh dari wujud kosmik (alam semesta) milik Tuhan. Wujud kosmik Tuhan memiliki ribuan kepala, kaki, tangan, dan mata. Semua tubuh dari setiap makhluk adalah milik-Nya. Jika kita memiliki keyakinan yang kuat terhadap kebenaran ini, maka kita akan mampu memahami Keilahian dalam makna yang sesungguhnya.  Ketika kita melihat lembu di kuil Shiva terbuat dari batu, kita memujanya. Ketika kita melihat lembu dalam kehidupan kita sehari-hari, kita tidak ragu untuk memukulnya. Perbedaan perlakuan ini disebabkan oleh kebodohan manusia yang belum mampu melihat Tuhan dalam setiap makhluk hidup. Tuhan bersemayam dalam setiap makhluk hidup, dari seekor semut sampai pada seekor gajah! 


-- Wejangan Swami, 23 April 1998

Jika kita benar-benar memahami rahasia ciptaan di sekitar kita, pikiran kita tidak akan mengejar daya tarik dari dunia material. Tidak ada yang lebih mengagumkan atau menakjubkan daripada ciptaan Tuhan.

Saturday, May 23, 2026

Thought for the Day - 23rd May 2026 (Saturday)



Regarding anger, the spiritual aspirant has to be vigilant even about the most minor matters that might provoke him, for if he is careless, he cannot progress in the least. Such persons must cultivate Saumya Prema Bhavam (gentle loving spirit). Then, the bad traits will diminish. Some aspirants become angrier still when someone discovers and announces to them the bad traits they possess. This makes matters worse! The sadhaka (spiritual aspirant) must always have the inward look; if he allows his mind to wander outward, he can never identify his own faults. Pride prevents the inward look and distracts the mind. When the aspirant is desirous of achieving success, he must gladly accept when someone points out his faults, and he must endeavour to rectify his faults and not repeat those any longer. That is the way to progress quick and fast on the path of meditation, and experience ananda (bliss).


- Dhyana Vahini, Ch 14

When anger is subdued, it is an indication that your Sadhana is on the right path. 


Dalam hal kemarahan, seorang peminat spiritual harus selalu waspada bahkan terhadap hal-hal kecil yang dapat memancing emosinya. Sebab, jika ia ceroboh dan tidak berhati-hati, ia tidak akan mampu mengalami kemajuan sedikit pun. Seorang peminat spiritual perlu mengembangkan Saumya Prema Bhavam — yaitu sifat penuh kasih yang lembut. Dengan demikian, sifat-sifat buruk perlahan akan berkurang. Ada beberapa peminat spiritual yang justru menjadi semakin marah ketika orang lain menngungkapan dan memberitahukan sifat buruk yang mereka miliki. Hal ini hanya akan memperburuk keadaan! Seorang sadhaka (peminat spiritual) harus senantiasa melihat ke dalam dirinya sendiri. Jika ia membiarkan pikirannya terus mengembara keluar, ia tidak akan pernah mampu mengenali kesalahannya sendiri. Kesombongan menghalangi seseorang untuk melakukan introspeksi dan membuat pikirannya mudah teralihkan. Ketika seorang peminat spiritual benar-benar ingin mencapai keberhasilan, ia harus dengan tulus menerima ketika ada orang yang menunjukkan kesalahannya. Ia juga harus berusaha memperbaiki kesalahan tersebut dan tidak mengulanginya lagi. Itulah jalan untuk maju dengan cepat dalam praktik meditasi dan merasakan ananda — kebahagiaan sejati.


- Dhyana Vahini, Ch 14

ketika kemarahan ditundukkan, ini merupakan tanda bahwa sadhanamu (latihan spiritual) ada di jalan yang benar.

Friday, May 22, 2026

Thought for the Day - 22nd May 2026 (Friday)



A river has two banks. But for this, the river may flow in all directions, flooding the fields and villages and causing untold hardship and disaster. If it has the bunds to regulate the course of flow, it will be useful for irrigation. In a similar manner, the river of life has to be contained between the two bunds of the eight-lettered axioms. One is, Shraddhavan labhate jnanam and the other is, Samsayatma vinashyati. Both these declarations are made by Lord Krishna in the Bhagavad Gita. The meaning of the first one is - “It is only by faith that one attains wisdom”, and the second one means - “A person who doubts everything will perish.” So long as one has doubt, one cannot achieve anything. If a person has no doubt and has full faith, he can achieve anything. The river of human life flowing between these two bunds reaches the goal of grace successfully. A tree that needs water is provided water only at the root. Though the root is not visible to your eyes as it is buried under the earth, it is the basis for the tree to thrive. If the root is dry, the tree becomes dead. Therefore, you have to safeguard the root. Similarly, you have to safeguard the root of life. Otherwise, it will get extinct. The root of life is to kill doubt. Therefore, these two eight-letter mantras are the essential needs for life.  


-- Divine Discourse, Apr 23, 1998

You have to deposit the money of faith and pure love in the Divine bank. Only then can you get the wealth of Divine grace. 


Sebuah sungai memiliki dua tepian. Tanpa adanya kedua tepi itu, air sungai akan mengalir ke segala arah, membanjiri ladang dan permukiman, serta menimbulkan kesulitan dan bencana yang besar. Tetapi jika sungai memiliki tanggul yang mengatur alirannya, maka airnya dapat dimanfaatkan untuk irigasi dan membawa manfaat. Sama halnya terkait dengan aliran sungai kehidupan yang harus dijaga di antara dua tanggul berupa dua ajaran suci yang terdiri dari delapan huruf. Yang pertama adalah “Shraddhavan labhate jnanam” dan yang kedua adalah  “Samsayatma vinashyati.” Kedua pernyataan ini disampaikan oleh Sri Krishna dalam Bhagavad Gita. Makna dari ajaran yang pertama adalah: “Hanya melalui keyakinan seseorang memperoleh kebijaksanaan.” Sedangkan makna ajaran yang kedua adalah: “Seseorang yang selalu meragukan segala sesuatunya akan hancur.” Selama seseorang masih dipenuhi keraguan, ia tidak akan mampu mencapai apa pun. Tetapi bila seseorang memiliki keyakinan penuh tanpa keraguan, ia dapat mencapai apa saja. Sungai kehidupan manusia yang mengalir di antara dua tanggul ini akan berhasil mencapai tujuan berupa rahmat Tuhan. Sebuah pohon yang membutuhkan air hanya disiram pada akarnya. Walaupun akar itu tidak terlihat karena tertanam di dalam tanah, akar merupakan dasar yang menopang kehidupan pohon. Jika akar mengering, pohon akan mati. Maka dari itu, akar harus dijaga dengan baik. Begitu pula dalam kehidupan manusia, akar kehidupan harus dijaga. Jika tidak, kehidupan rohani akan layu dan punah. Akar kehidupan itu adalah menghilangkan keraguan. Oleh sebab itu, kedua mantra suci ini merupakan kebutuhan yang sangat penting dalam hidup manusia. 


-- Wejangan Swami, 23 April 1998

Engkau harus menabungkan uang keyakinan dan kasih yang suci di ‘Bank Tuhan’. Hanya dengan demikian engkau bisa mendapatkan kekayaan berupa rahmat Tuhan.