Friday, March 20, 2026

Thought for the Day - 20th March 2026 (Friday)



People in the world attach value to all kinds of objects, ideals and personalities. God, however, is not attracted by external appearances but values only the inner spiritual urges. Parvati was the most beautiful woman in the world. Conscious of her charms, she wished to wed the Lord Himself. But the Lord does not succumb to external attraction. Disappointed by her failures, Parvati embarked on a very severe penance. Indifferent to sun and rain, wind and weather, Parvati concentrated her thoughts on the Lord, wearing out her body in her tapas. Because of the penance, she lost all her beauty. All her physical powers were gone. At that moment, the Lord accepted her as one half of His body. What is the inner meaning of this episode? Prakriti (Nature) is Parvati. This Prakriti is filled with various kinds of pride: the pride of wealth, strength, beauty, knowledge, virtues, power and penance. It is only when man gets rid of these eight categories of pride will he become acceptable to God. So long as ego prevails, the power of the Spirit will not be cognised. Without realising the power of the Spirit, man cannot experience the bliss of the Divine.


- Divine Discourse, Mar 27, 1990

So long as your heart is not clean, God will have no place in your heart. 


Manusia di dunia memberikan nilai pada semua jenis objek, nilai-nilai yang dianggap ideal, serta kepribadian. Tetapi Tuhan tidak melihat semua itu. Tuhan hanya melihat dorongan ketulusan batin. Parvati merupakan perempuan yang paling cantik di dunia. Menyadari kecantikannya, ia ingin mendekati dan mendapatkan Tuhan sendiri. Tetapi Tuhan tidak terpengaruh oleh daya tarik lahiriah. Karena kecewa atas kegagalannya, Parvati menjalani tapa yang sangat berat. Parvati tidak menghiraukan panas, hujan, angin, dan cuaca. Ia memusatkan seluruh pikirannya kepada Tuhan, hingga tubuhnya menjadi lemah karena pertapaannya. Karena tapa brata yang dilakukannya, Parvati kehilangan semua kecantikan dan kekuatan fisiknya. Pada saat itulah, Tuhan menerimanya sebagai separuh dari diri-Nya. Apa makna yang ada dibalik kisah ini? Prakriti (alam) adalah simbol dari Parvati. Prakriti ini diliputi dengan berbagai jenis kesombongan seperti: kesombongan karena kekayaan, kekuatan, kecantikan, pengetahuan, kebajikan, kekuasaan dan tapa brata. Hanya ketika manusia melepaskan kedelapan bentuk kesombongan ini maka barulah ia dapat diterima oleh Tuhan. Selama masih ada ego, kekuatan dari Atma tidak dapat disadari. Tanpa menyadari kekuatan dari Atma, manusia tidak bisa mengalami kebahagiaan Tuhan.


- Divine Discourse, 27 Maret 1990

Selama hatimu tidak bersih maka Tuhan tidak memiliki tempat di dalam hatimu.

Tuesday, March 17, 2026

Thought for the Day - 17th March 2026 (Tuesday)



If a sculptor could create out of an inanimate piece of stone a living image of God, cannot human beings, vibrant with life, manifest the living Divinity that resides in them? What is the reason for this incapacity to realise the Divinity within? It is because we do not realise the soiled cover in which it is wrapped up. If our clothes get dirty, we change them because we are ashamed to appear in dirty garments. If our house is dirty, we try to clean it so that visitors may not get a bad impression. But when our minds and our hearts are polluted, we do not feel ashamed. Is it not strange that we should be so much concerned about the cleanliness of our clothes or our homes, but are not concerned about the purity of our hearts and minds, which affect our entire life? To purify our hearts and minds, the first thing is that we have to lead a righteous life. Our actions must be based on morality. Indulging in abusing others or inflicting pain on others is not a sign of human nature. The evil that we do to others ultimately recoils on us.


- Divine Discourse, Apr 2, 1984

True spirituality lies in removing bad and animal qualities and developing virtues. 


Jika seorang pemahat dapat membuat arca Tuhan yang hidup dari sebongkah batu yang tidak bernyawa, tidakkah manusia yang diliputi getaran kehidupan dapat mewujudkan kualitas keilahian yang terpendam dalam dirinya? Apa alasan dibalik ketidakmampuan manusia dalam menyadari keilahian di dalam dirinya? Ini karena kita tidak menyadari lapisan kotor yang menyelimuti keilahian itu. Ambilah contoh, jika pakaian kita kotor, kita menggantinya segera karena kita merasa malu tampil dengan pakaian yang kotor. Jika rumah kita kotor, kita segera berusaha membersihkannya sehingga tamu yang datang tidak mendapatkan kesan yang buruk. Namun ketika pikiran dan hati kita tercemar, kita tidak merasa malu. Bukankah hal yang aneh ketika kita begitu peduli dengan kebersihan pakaian dan rumah kita, namun kita tidak memberikan perhatian dan kepedulian pada kesucian hati dan pikiran kita, yang mana mempengaruhi seluruh hidup kita? Untuk memurnikan hati dan pikiran kita, hal pertama yang harus kita lakukan adalah menjalani hidup yang benar. Tindakan kita harus berdasarkan pada moralitas. Terlibat dalam menghina atau menyakiti orang lain bukanlah tanda dari sifat manusia. Kejahatan yang kita lakukan pada orang lain pada akhirnya nanti akan kembali pada diri kita sendiri.


- Divine Discourse, 2 April 1984

Spiritualitas yang sejati terletak pada menghilangkan sifat-sifat buruk dan kebinatangan serta mengembangkan kebajikan.

Monday, March 16, 2026

Thought for the Day - 16th March 2026 (Monday)



Thoughts are the very vital breath of man. It is by harbouring the evil thoughts of hatred, envy, anger and ego that man brings his own downfall. Man harbours evil thoughts to harm his fellow men. But the harm that these thoughts cause to his fellow man boomerangs on himself with ten times its strength. By abusing, criticising, hunting and scandalising his fellow men, man in fact is abusing, criticising, hunting and scandalising the Lord Himself. Utterly ignorant of the presence of Divinity in others, man indulges in such heinous conduct. The man who takes the sword shall perish by it; the man who wounds another will be wounded in turn; the man who abuses another will be abused in return. As is the thought, so is the consequence. As is the feeling, so is the result. Utterly ignorant of the power of the mind and its might, we underestimate the supreme importance of the mind. Our whole life rests on the mind. We should make earnest efforts to understand the power of the mind.


- Divine Discourse, May 23, 1993

What man sees is like seeds sown in the heart. Evil scenes give rise to evil thoughts. Good scenes evoke good thoughts.


Pemikiran adalah nafas vital yang sangat penting bagi manusia. Dengan memelihara pemikiran-pemikiran yang jahat seperti kebencian, iri hati, kemarahan dan ego manusia sejatinya membawakan kehancuran bagi dirinya sendiri. Manusia memelihara pemikiran jahat untuk menyakiti sesamanya. Namun, rasa sakit yang ditimbulkan oleh pemikiran tersebut kepada orang lain pada akhirnya akan kembali kepada dirinya sendiri dengan kekuatan sepuluh kali lipat. Dengan mencela, mengkritik, gemar mencari-cari kesalahan, menjatuhkan, atau mempermalukan sesamanya, sebenarnya ia sedang mencela, mengkritik, gemar mencari-cari kesalahan, menjatuhkan, atau mempermalukan Tuhan itu sendiri. Karena tidak menyadari bahwa Keilahian hadir dalam diri setiap orang, manusia melakukan tindakan yang demikian buruk. Orang yang menggunakan pedang akan binasa oleh pedang itu sendiri; orang yang melukai orang lain akan terluka pada gilirannya; orang yang menghina orang lain akan dihina kembali. Sebagaimana pemikirannya, maka begitulah akibatnya. Sebagaimana perasaannya maka begitulah hasilnya. Karena tidak memahami kekuatan dan kedahsyatan pikiran, kita sering meremehkan betapa pentingnya pikiran dalam kehidupan. Seluruh hidup kita tergantung pada pikiran. Kita harus melakukan usaha yang sungguh-sungguh untuk memahami kekuatan dari pikiran.


- Divine Discourse, 23 Mei 1993

Apa yang dilihat manusia bagaikan benih yang ditanam di dalam hati. Hal-hal buruk yang kita lihat menimbulkan pemikiran buruk, sedangkan hal-hal baik yang kita lihat menumbuhkan pemikiran yang baik.

Sunday, March 15, 2026

Thought for the Day - 15th March 2026 (Sunday)


 

A Gopika once asked Radha how she felt when she saw Krishna, how her heart responded, what transformation occurred in her and what joy she experienced. Radha replied: “The moment I hear the melodious flute of Krishna, my heart becomes still, and I forget myself when I learn that Krishna is coming. I am lost in the music of His flute, and I am aware of nothing else. How can I describe to you my feelings when I am intoxicated by the magic of His melody?” The God-intoxicated devotees cannot describe their blissful experience in words. One who attempts to express it has no real experience of it at all. Those who regard themselves as devotees should recognise the vast difference between their narrow-minded attitude and the ineffable character of true devotion. They should resolve to shed petty attachments and develop steadfast devotion to God as the main object of their life. For this purpose, the company of the good is essential. Good thoughts are promoted only through association with the good.


- Divine Discourse, Jan 19, 1986

One who is filled with love of the Divine will not be attracted by anything else in the world.


Suatu hari seorang gadis pengembala sapi bertanya pada Radha tentang bagaimana perasaanya ketika melihat Sri Krishna, bagaimana hati menanggapinya, apa perubahan yang terjadi dalam diri dan apa bentuk suka cita yang terasa. Mendengar pertanyaan itu Radha memberikan jawaban: “Pada saat saya mendengar kemerduan alunan suara seruling Sri Krishna, hatiku menjadi tenang, dan saya lupa pada diriku sendiri ketika saya mengetahui bahwa Sri Krishna akan datang. Saya tenggelam dalam alunan musik seruling-Nya, dan saya tidak menyadari hal lainnya. Bagaimana saya dapat menggambarkan kepadamu tentang perasanku ketika saya begitu terpesona dengan keajaiban dari melodi-Nya?” Bhakta yang begitu larut tenggelam pada Tuhan tidak bisa menjabarkan kebahagiaan yang mereka rasakan dalam kata-kata. Seseorang yang berusaha untuk mengungkapkannya sesungguhnya sama sekali belum memiliki pengalaman nyata tentang hal itu. Mereka yang menganggap diri mereka sebagai bhakta seharusnya menyadari perbedaan yang begitu luas antara sikap mereka yang berpikiran sempit dan karakter yang tidak bisa dibayangkan dari bhakta sejati. Mereka harus memiliki tekad untuk melepaskan keterikatan yang bersifat remeh dan sepele untuk mengembangkan bhakti yang teguh pada Tuhan sebagai tujuan utama hidup mereka. Untuk tujuan ini, pergaulan dengan orang-orang yang baik adalah bersifat mendasar. Pemikiran baik yang dapat dipupuk hanya melalui pergaulan dengan orang-orang yang baik.


- Divine Discourse, 19 Januari 1986

Seseorang yang diliputi dengan kasih Tuhan tidak akan tertarik dengan apapun atau hal yang lainnya di dunia.  

Saturday, March 14, 2026

Thought for the Day - 14th March 2026 (Saturday)



If a man has a Champaka flower in his hand, the fragrance of that flower is carried by him wherever he goes. Likewise, he will be carrying a foul smell too, wherever he goes. It is the same with good or bad thoughts. They radiate their good or bad vibrations around them. Thoughts have so much power that when they are directed towards great objectives, they can be used to influence the world. When the mind is filled with good thoughts, such as truth, love, forbearance, and compassion, one’s life is filled with peace and serenity. If, on the other hand, one allows thoughts of hatred, envy, anger, and conceit to grow, life becomes perpetual misery. The face is the index of the mind. When you bear ill will towards anyone, your enmity alters your face and manners. When you entertain good and loving thoughts, your heart is filled with joy, and you experience an upsurge of happiness. If you fill your heart with love, your entire life becomes a saga of love.


- Divine Discourse, Jul 31, 1986

Bad thoughts make the willpower weak. Decline in willpower makes the desires stronger.


Jika seseorang memegang sekuntum bunga cempaka di tangannya, wangi bunga cempaka itu akan terus tercium di tangannya kemanapun dia pergi. Demikian juga, jika dia membawa bau busuk maka bau busuk itu akan tercium kemanapun dia pergi. Hal yang sama berlaku dengan pemikiran yang baik atau buruk. Pemikiran memancarkan getaran baik atau buruk di sekelilingnya. Pemikiran memiliki kekuatan yang besar sehingga ketika diarahkan pada tujuan yang mulia, maka pemikiran dapat digunakan untuk mempengaruhi dunia. Ketika pikiran diliputi dengan pemikiran yang baik seperti kebenaran, kasih, ketabahan, dan welas asih, maka hidup seseorang diliputi dengan kedamaian dan ketenangan. Sebaliknya, jika seseorang membiarkan pemikiran yang buruk seperti kebencian, iri hati, kemarahan, dan kesombongan tumbuh berkembang maka hidupnya menjadi terus menerus dalam penderitaan. Wajah adalah cerminan dari pikiran. Ketika engkau menyimpan kebencian terhadap seseorang, perasaan permusuhan akan tercermin pada wajah dan perilakumu. Sebaliknya, ketika engkau memiliki pemikiran yang baik dan penuh kasih, hatimu diliputi dengan suka cita, dan engkau mengalami peningkatan kebahagiaan. Jika engkau mengisi hatimu dengan kasih, seluruh hidupmu menjadi kisah kasih yang panjang.


- Divine Discourse, 31 Juli 1986

Pemikiran yang buruk dapat melemahkan kekuatan kehendak. Ketika kekuatan kehendak melemah maka keinginan menjadi semakin kuat.  

Friday, March 13, 2026

Thought for the Day - 13th March 2026 (Friday)



In the journey to the Divine, man has to reduce progressively his desires, which are the cause of all his difficulties. It is true that man cannot exist without desires. But they should be within reasonable limits. There can be no happiness without control of desires. Among the senses, two are most important: the eyes and the tongue. Because of their exceptional importance, the Lord has provided them with the means of restraining their activities. The Lord points out: “You silly man! Take note that I have provided natural means for closing the eyes and the mouth.” If you do not want to see anything undesirable, you can close your eyes with the eyelids. The ears and the nose have no such devices for closing them. The mouth has lips which can seal the tongue. Observe, therefore, restraint in speech and control the tongue. When the eyes roam freely, the tongue begins to wag without restraint. When the tongue is engaged in endless talking, the eyes want to look at every conceivable thing. When both these organs combine without restraint, life can become a calamity. Therefore, direct your eyes to good things alone.


- Divine Discourse, Mar 13, 1988

One way to reduce desires is to get absorbed in activity. Idleness encourages the mind to indulge in all kinds of thoughts.

 

Dalam perjalanan menuju pada Tuhan, manusia harus mengurangi secara bertahap keinginan-keinginannya, yang mana keinginan ini merupakan penyebab dari semua kesulitan yang dialaminya. Adalah benar bahwa manusia tidak bisa ada tanpa keinginan. Namun keinginan tersebut harusnya ada dalam batas tertentu yang wajar. Tidak akan ada kebahagiaan tanpa pengendalian pada keinginan. Diantara indra, ada dua indra yang paling penting: mata dan lidah. Karena begitu pentingnya keberadaan dua indra ini, maka Tuhan telah menyediakan bagi keduanya sarana dalam membatasi kegiatannya. Tuhan menyampaikan: “Wahai manusia! Perhatikan bahwa Aku telah menyediakan sarana alami untuk menutup mata dan mulutmu.” Jika engkau tidak ingin melihat apapun yang tidak engkau inginkan, engkau dapat memejamkan matamu dengan kelopak mata. Indra yang lain seperti telinga dan hidung tidak memiliki sarana tersebut untuk menutup dirinya. Mulut memiliki bibir yang dapat menutup lidah. Karenanya perhatikan sikap menahan diri dalam berbicara dan kendalikan lidah. Ketika mata dibiarkan melihat kemana-mana dengan bebas maka lidah mulai berbicara tanpa terkendali. Ketika lidah terlibat dalam pembicaraan yang tanpa henti, mata ingin melihat setiap hal yang bisa dibayangkan. Ketika kedua Indera ini bergabung tanpa pembatasan maka hidup dapat berubah menjadi malapetaka. Maka dari itu, arahkan matamu hanya pada hal-hal yang baik.


- Divine Discourse, 13 Maret 1988

Salah satu cara mengurangi keinginan adalah dengan menyibukkan diri. Kemalasan mendorong pikiran untuk larut dalam berbagai macam pemikiran. 

Thursday, March 12, 2026

Thought for the Day - 12th March 2026 (Thursday)


 

The thought vibrations are the cause for man’s joy and sorrow, health and disease, woe and adversity, birth and death. Man’s life becomes meaningful if he conducts himself fully aware of the power of the thought vibrations. The entire world is suffused with mental vibrations. In fact, the whole world is the very manifestation of mental vibrations. Hence, it is necessary to direct our thoughts on noble paths. Man’s mind shines with resplendent purity if he cultivates noble thoughts, ideas and feelings. It is only by developing the purity of mind that we can ensure the purity of action. Only pure deeds can yield pure results. We sow the seed of thought and reap the fruit of action; we sow the seed of action and reap the fruit of nature; we sow the seed of nature, we reap the fruit of character; we sow the seed of character and reap the fruit of destiny. It is evident from this that our destiny rests on our thoughts. For man’s rise and for man’s fall, the thoughts are the cause.


- Divine Discourse, May 23, 1993

Man will be able to fulfil himself if he realises the subtle and mysterious workings of the mind.


Vibrasi atau getaran dari pemikiran adalah penyebab dari suka dan duka cita, kesehatan dan penyakit, kesengsaraan dan kesulitan, kelahiran dan kematian. Hidup manusia menjadi berguna jika tindakannya sendiri menyadari sepenuhnya kekuatan vibrasi dari pemikiran. Seluruh dunia diliputi dengan getaran batin. Sesungguhnya, seluruh dunia adalah perwujudan dari getaran batin. Oleh karena itu, adalah perlu untuk mengarahkan pemikiran kita pada jalan-jalan yang luhur dan mulia. Pikiran manusia bersinar dengan gemerlap kemurnian jika manusia memupuk pemikiran, ide, gagasan dan perasaan yang mulia. Hanya dengan memupuk kemurnian pikiran maka kita bisa memastikan adanya kemurnian dalam tindakan. Hanya dengan kemurnian tindakan maka kita bisa mendapatkan hasil yang murni. Saat kita menabur benih pemikiran maka kita akan menuai hasil berupa tindakan; saat kita menabur benih tindakan maka kita akan menuai hasil berupa sifat atau watak; saat kita menabur benih sifat atau watak maka kita akan menuai hasil berupa karakter; saat kita menabur benih karakter maka kita akan menuai hasil berupa takdir. Dari rangkaian ini jelas terlihat bahwa takdir kita tergantung dari pemikiran yang kita miliki. Bagi kebangkitan dan kejatuhan manusia, penyebabnya adalah pemikiran.


- Divine Discourse, 23 Mei 1993

Manusia akan mampu mencapai potensi diri sepenuhnya jika manusia menyadari cara kerja pikirna yang halus dan misterius