Monday, June 15, 2026

Thought for the Day - 15th June 2026 (Monday)


 

There are millions of people who serve their fellowmen with God’s Name on their lips. “Neither by penance, nor pilgrimage, nor study of scriptures, nor by japa can one cross the ocean of life. One can achieve it only by serving the pious.” Service is very important. Serve everybody with the conviction that God dwells in all. As you serve others, you must kill your ego. It cannot be called service if it is done with the feeling that “I am serving others.” Do all actions to please God - Sarva karma Bhagavad preetyartham. This is the attitude one should have while serving others. There are many who take part in service activities, but how many are able to enjoy the benefits derived therefrom? First, you should understand the term “service”. True service is that which is done with divine feelings, forgetting oneself. Service should be done as an offering to God. Service has value only when it is done with daivabhimana (love for God) and not dehabhimana (attachment to body). Even a small act of service done with the sole intention of pleasing God will acquire great significance.


-- Divine Discourse, Feb 24, 2002

Seva is the worship you offer to the God in the heart of everyone


Ada jutaan orang yang melayani sesama dengan Nama Tuhan di bibir mereka. Dikatakan: “Bukan melalui tapa, bukan melalui perjalanan suci, bukan melalui mempelajari kitab-kitab suci, dan bukan pula hanya melalui pengulangan Nama Tuhan (japa), seseorang dapat menyeberangi samudra kehidupan. Hal itu dapat dicapai melalui pelayanan kepada orang-orang yang suci dan berbudi luhur.” Pelayanan (seva) memiliki kedudukan yang sangat penting. Layanilah setiap orang dengan keyakinan bahwa Tuhan bersemayam dalam diri semua makhluk. Ketika engkau melayani orang lain, engkau harus mengikis egomu. Tindakan melayani tidak dapat disebut pelayanan sejati apabila pelayanan dilakukan dengan perasaan: “Aku sedang membantu orang lain.” Lakukan semua tindakan hendaknya untuk menyenangkan Tuhan: Sarva Karma Bhagavad Preetyartham_. Inilah sikap batin yang seseorang harus miliki ketika sedang melayani orang lain. Banyak orang terlibat dalam berbagai kegiatan pelayanan, tetapi berapa banyak yang benar-benar mendapatkan manfaat spiritual dari pelayanan tersebut? Pertama-tama, engkau harus memahami arti pelayanan yang sesungguhnya. Pelayanan sejati adalah pelayanan yang dilakukan dengan kesadaran Ilahi, melupakan dirinya sendiri. Pelayanan harus dilakukan sebagai persembahan kepada Tuhan. Pelayanan memiliki nilai hanya jika dilakukan dengan daivabhimana (cinta kepada Tuhan), bukan dengan dehabhimana (keterikatan pada tubuh). Bahkan sebuah pelayanan yang kecil, apabila dilakukan semata-mata untuk menyenangkan Tuhan, akan memiliki nilai yang sangat besar.


-- Wejangan Sai, 24 Februari 2002

Seva adalah pemujaan yang engkau persembahkan kepada Tuhan yang bersemayam di dalam hati setiap orang.

Sunday, June 14, 2026

Thought for the Day 14th June 2026 (Sunday)


 

The one who seeks preyas (sensual pleasures) is concerned with the body, while the one concerned with the Atma seeks shreyas (spiritual well-being). Today, ninety-nine per cent of the population is involved in sensual desires and not in spiritual bliss. Education today is mainly concerned with sensory pursuits. All occupations are related to the achievement of sensual desires. All enjoyments are related to the senses. Even the acquisition of wealth is for enjoying trivial sensual pleasures. There is doubtless a need for some concern about physical comforts. “Even the body is essential for the realisation of Dharma,” says the scripture. The demands of the body have to be satisfied. Society has to be served. Family responsibilities have to be discharged. The body is the basis for all these. But this should not be the ultimate goal of life. The former relates to the external phenomenal world and is concerned with worldly desires. Together with this, there should be the yearning for a higher shreyas (spiritual life). The pursuit of preyas is negative. The quest for shreyas is positive. Without association with the positive, preyas is of no use, however much there may be worldly goods. It is only when one yearns for shreyas that even preyas leads to fulfilment.



— Divine Discourse Mar 05, 1995

Secular knowledge is no doubt necessary to eke out one’s living, but spiritual knowledge is essential if the purpose of life is to be fulfilled


Seseorang yang mengejar preyas (kesenangan indrawi) menaruh perhatian pada tubuh, sedangkan seseorang yang menaruh perhatian pada Atma, mengejar shreyas (kesejahteraan spiritual). Saat ini, sembilan puluh sembilan persen dari populasi terjerat dalam keinginan-keinginan indrawi dan bukan dalam kebahagiaan spiritual. Pendidikan saat ini terutama berfokus pada pengejaran indrawi. Semua pekerjaan berkaitan dengan pencapaian pada keinginan indrawi. Semua kenikmatan berkaitan dengan indra. Bahkan perolehan kekayaan pun ditujukan untuk menikmati kesenangan indrawi yang sepele. Tidak diragukan lagi, ada kebutuhan untuk memperhatikan kenyamanan fisik. "Bahkan tubuh pun penting untuk mewujudkan Dharma," demikian bunyi kitab suci. Kebutuhan tubuh harus dipenuhi. Masyarakat harus dilayani. Tanggung jawab keluarga harus ditunaikan. Tubuh adalah dasar untuk semua ini. Namun, ini tidak boleh menjadi tujuan akhir dari kehidupan. Yang pertama berkaitan dengan dunia fenomena eksternal dan berfokus pada keinginan duniawi. Bersamaan dengan itu, harus ada kerinduan akan shreyas (kehidupan spiritual) yang lebih tinggi. Pengejaran preyas bersifat negatif. Pencarian shreyas bersifat positif. Tanpa keterkaitan dengan yang positif, preyas tidak ada gunanya, betapapun banyaknya harta duniawi yang dimiliki. Hanya ketika seseorang merindukan shreyas, barulah preyas akan membawa pada pemenuhan.


— Divine Discourse, 5 Maret 1995

Pengetahuan sekuler memang diperlukan untuk mencari nafkah, tetapi pengetahuan spiritual sangat penting jika tujuan hidup ingin dipenuhi.


Saturday, June 13, 2026

Thought for the Day - 13th June 2026 (Saturday)



The body becomes healthy by exercise and work; the mind becomes healthy by upasana (devout contemplation) and namasmarana (remembrance of the Divine), by regular, well-planned discipline, joyfully accepted and joyfully carried out. Ahimsa (non-injury) is the rice; arpitam (dedication) is the gram; prayaschittam (expiation) the raisins; paschattapam (repentance) is the jaggery. Mix all these well with the ghee of sadgunam (virtue). That is the offering you should make to your Ishtadevata (chosen deity), not the paltry stuff you make out of articles got for a paisa in the shops! The Gopis knew this secret passage to the heart of the Lord, and they realised Him quick and fast. You have heard that Krishna is Murali-Madhava, and what exactly is the murali? You must be the murali (the flute). Let the breath of Krishna pass through you, making delightful music that melts the hearts. Surrender yourself to Him; become hollow, without vasana (tendencies), and become egoless, and desireless; then, He will Himself come and pick you up caressingly and place you, the flute, to His Lips and blow His sweet breath through you. Allow Him to play whatever song He likes.


-- Divine Discourse, Sep 06, 1963

Sanctify every word and deed by filling it with Prema for whatever Name and Form you give to the Lord you love.


Tubuh menjadi sehat melalui latihan dan kerja; demikian pula, pikiran menjadi sehat melalui upasana (kontemplasi atau pemujaan yang penuh pengabdian) dan namasmarana (pengingatan terus-menerus kepada Nama Tuhan), yang dilakukan melalui disiplin yang teratur, terencana, diterima dan dijalankan dengan sukacita. Ahimsa (tidak menyakiti) sebagai nasi; arpitam (pengabdian) sebagai kacang; prayaschittam (penebusan atau kesadaran untuk memperbaiki kesalahan) sebagai kismis; paschattapam (penyesalan yang tulus atas kesalahan) sebagai gula merah. Semua bahan tersebut harus dicampur dengan ghee dari sadguna (kebajikan dan karakter luhur). Itu adalah persembahan yang engkau harus buat kepada Ishtadevata (Tuhan dalam bentuk yang kita pilih dan cintai), bukan persembahan yang kecil nilainya karena hanya berupa barang-barang yang dibeli dengan uang di toko. Para Gopi memahami rahasia jalan menuju hati Tuhan ini, sehingga mereka dapat merasakan kehadiran Krishna dengan cepat dan mendalam. Engkau sering mendengar bahwa Krishna disebut Murali-Madhava, yaitu Krishna yang memainkan seruling. Namun, apakah makna sebenarnya dari seruling itu? Engkau sendiri harus menjadi seruling tersebut. Biarkan napas Krishna mengalir melalui dirimu dan menghasilkan melodi Ilahi yang meluluhkan hati. Untuk itu, engkau harus menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan, menjadi kosong dari vasana (kecenderungan, keinginan, dan kesan-kesan duniawi), bebas dari ego, serta terbebas dari keinginan; kemudian Tuhan sendiri akan memilihmu dengan penuh kasih, meletakkan dirimu di bibir-Nya, dan meniupkan napas Ilahi melalui dirimu. Biarkan Tuhan memainkan lagu apa pun yang dikehendaki-Nya.


-- Wejangan Sai, 6 September 1963

Sucikan setiap kata dan tindakan dengan memenuhi semuanya dengan Prema, kepada Tuhan dengan nama dan wujud apa pun yang engkau cintai

Friday, June 12, 2026

Thought for the Day - 12th June 2026 (Friday)




The votary of the Karma Marga (the Path of Action) performs many actions for the welfare of the world. He participates in yajnas and yagas (ritualistic sacrifices). He is engaged in service and charitable activities. All these forms of karma are fraught with certain difficulties. To perform sacrifices, one must be acquainted with the Vedic texts. This is not easy for laymen. The Jnana Marga (the Path of Knowledge) calls for knowledge of the scriptures and several other kinds of knowledge, which together lead to Atmajnana (Knowledge of the Self). Jnana has been defined as Advaita Darshanam (the awareness of the One Cosmic Consciousness). It means recognising unity in diversity. It is not easy to experience this unity. The path of Yoga, which is concerned with control of the mind, is equally difficult. It calls for rigorous control of the senses. One has to overcome many difficulties, trials and tribulations. Very few have the mental and spiritual strength to face these difficulties and ordeals. The path of Yoga is thus beset with many hurdles. Bhakti (the Path of Devotion) is the easiest path for all. It does not call for mastery of the scriptures. It does not enjoin the performance of rituals and sacrifices. The elusive quest for unity in diversity is avoided. By cultivating love for God, the senses come under natural self-discipline.


-- Divine Discourse, Mar 06, 1989

The foremost path is the path of complete surrender to the Lord for earning His love and grace.


Pengikut karma marga (jalan tindakan) melakukan banyak perbuatan untuk kesejahteraan dunia. Mereka mengikuti yajna dan yaga (upacara persembahan suci), melakukan pelayanan, serta berbagai kegiatan amal. Namun, semua bentuk karma tersebut memiliki tantangan tertentu. Untuk melaksanakan pengorbanan suci dengan benar, seseorang harus memahami kitab-kitab Weda. Hal ini tidak mudah bagi orang awam. Jnana marga (jalan pengetahuan) menuntut pemahaman mendalam terhadap kitab-kitab suci serta berbagai bentuk pengetahuan yang pada akhirnya membawa seseorang pada Atma Jnana, yaitu pengetahuan tentang Diri Sejati. Jnana didefinisikan sebagai Advaita Darshanam, yakni kesadaran akan satu kesadaran kosmis. Ini berarti mampu melihat kesatuan di tengah segala keberagaman. Pengalaman akan kesatuan ini bukanlah hal yang mudah untuk dicapai. Yoga marga (jalan pengendalian pikiran) juga merupakan jalan yang sulit. Jalan ini menuntut pengendalian yang ketat terhadap indra. Seorang pencari spiritual harus melewati banyak rintangan, ujian, dan kesulitan. Sangat sedikit orang yang memiliki kekuatan mental dan spiritual yang cukup untuk menghadapi seluruh proses tersebut. Oleh sebab itu, jalan yoga dipenuhi dengan berbagai tantangan. Bhakti marga (jalan pengabdian) merupakan jalan yang paling mudah dan dapat ditempuh oleh semua orang. Jalan ini tidak mengharuskan seseorang menguasai kitab-kitab suci. Jalan ini juga tidak mewajibkan pelaksanaan ritual dan pengorbanan. Upaya yang sulit untuk mencapai kesatuan dalam keberagaman dihindari. Ketika seseorang menumbuhkan kasih kepada Tuhan, indra-indranya secara alami akan berada dalam pengendalian diri.


-- Wejangan Sai, 6 Maret 1989

Jalan yang paling utama adalah jalan penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan untuk memperoleh kasih dan anugerah-Nya. 

Thursday, June 11, 2026

Thought for the Day - 11th June 2026 (Thursday)



There is one common quality present in all living beings: Moha (attachment). This quality is present equally in human beings too. But humans alone have the competence to overcome this moha and attain moksha (liberation). The maya (illusion) which envelops man drives him to take to wrong courses. Maya has three qualities: Satwa, Rajas, and Tamas (purity, passion, and inertia). Through these qualities, man tends to forget his divinity and humanness and behaves like an animal. The three qualities of maya and the three forms of moha combine to make man a demon. The three forms of moha are the desire for wealth, attachment to the wife, and attachment to children. These three make man a slave to moha. The man who conquers these three desires can transcend moha. When moha declines, moksha becomes attainable. Liberation is the elimination of moha (attachment). Everyone should strive to bring these three desires under control.


- Divine Discourse, Apr 15, 1995

Once man frees himself from Moha (attachment), he will experience real happiness.


Ada satu sifat yang dimiliki oleh semua makhluk hidup, yaitu moha (keterikatan). Sifat ini juga terdapat pada manusia. Namun, manusia memiliki kemampuan khusus untuk mengatasi moha dan mencapai moksha (pembebasan). Maya (khayalan) yang menyelimuti manusia mendorongnya untuk menempuh jalan yang keliru. Maya memiliki tiga sifat atau guna, yaitu sattva (kemurnian), rajas (nafsu dan aktivitas), dan tamas (kemalasan dan kegelapan batin). Karena pengaruh ketiga guna ini, manusia sering melupakan hakikat ketuhanannya dan kemanusiaannya, lalu bertindak seperti binatang. Ketiga sifat maya dan tiga wujud moha bergabung sehingga dapat menjerumuskan manusia menjadi raksasa. Tiga bentuk moha adalah keinginan pada kekayaan, keterikatan pada istri, dan keterikatan pada anak-anak. Ketiga wujud ini dapat menjadikan manusia budak dari moha. Seseorang yang mampu menaklukkan ketiga keinginan tersebut akan melampaui moha. Ketika moha berkurang, maka moksha menjadi dapat dicapai. Pembebasan sejati adalah lenyapnya keterikatan (moha). Karena itu, setiap orang hendaknya berusaha mengendalikan ketiga bentuk keinginan dan keterikatan tersebut.


- Wejangan Sai, 15 April 1995

Ketika manusia membebaskan dirinya dari moha_ (keterikatan), ia akan mengalami kebahagiaan yang sejati.

Wednesday, June 10, 2026

Thought for the Day - 10th June 2026 (Wednesday)



On various occasions, the Lord subjects the devotees to different kinds of tests and trials with a view to raising them spiritually to a higher level. The Lord, who is the source of all wisdom, will confer illumination only on those who approach Him. Those who feel that Bhagawan has not seen them or spoken to them should ask themselves how close they are mentally to Bhagawan and how near they are to the Lord in their practices. Each one should engage themselves in the process of self-enquiry. The Lord has neither agraha (anger) nor anugraha (benevolence). Even when He appears to be harsh, there is grace in that harshness. When He appears to chastise, there is compassion in it. When He seems to be angry, there is love behind it. Only those who understand the nature of the Divinity can appreciate the ways of the Divine. The Divine resorts to certain kinds of punishments to make the devotee pursue the right path and enable him to lead an ideal life. Such punishments are for the devotee's good and well-being.


-- Divine Discourse, Mar 06, 1989

Regardless of time, space, or circumstance, one should feel closeness to God - that is true Bhakti.


Pada berbagai kesempatan, Tuhan menguji para bhakta dengan berbagai macam ujian dan cobaan dengan tujuan mengangkat mereka secara spiritual ke tingkat yang lebih tinggi. Tuhan, yang merupakan sumber segala kebijaksanaan, akan menganugerahkan pencerahan kepada mereka yang mendekat kepada-Nya. Mereka yang merasa bahwa Bhagawan tidak memperhatikan mereka atau tidak berbicara kepada mereka hendaknya bertanya kepada diri mereka sendiri, seberapa dekatkah mereka kepada Bhagawan secara batin dan seberapa dekatkah mereka kepada Tuhan dalam praktik spiritual mereka. Setiap orang hendaknya melakukan introspeksi dan penyelidikan diri (self-enquiry). Tuhan sesungguhnya tidak memiliki agraha (kemarahan) maupun anugraha (keberpihakan atau perlakuan istimewa). Ketika Tuhan tampak bersikap keras, sesungguhnya terdapat kasih karunia di balik ketegasan itu. Ketika Tuhan tampak menegur atau menghukum, sesungguhnya terdapat belas kasih di dalamnya. Ketika Tuhan terlihat marah, sesungguhnya kasihlah yang melatarbelakanginya. Hanya mereka yang memahami hakikat Ketuhanan yang dapat memahami cara kerja Tuhan. Kadang-kadang Tuhan menggunakan bentuk-bentuk hukuman tertentu agar seorang bhakta kembali ke jalan yang benar dan mampu menjalani kehidupan yang ideal. Hukuman-hukuman tersebut sesungguhnya diberikan demi kebaikan dan kesejahteraan bhakta itu sendiri. 


-- Wejangan Sai, 6 Maret 1989

Apa pun waktu, tempat, dan keadaan yang dihadapi, seseorang harus tetap merasakan kedekatan dengan Tuhan. Itulah bhakti yang sejati.

Tuesday, June 9, 2026

Thought for the Day - 9th June 2026 (Tuesday)



Kuchela went to Krishna to ask for many material gifts. But on seeing the Divine face of Krishna, he forgot all his desires. On his return to his native village, he found that big mansions had sprung up at the spot of his old dwelling. Kuchela’s wife came out, finely dressed and wearing many ornaments, and greeted her husband with the remark: “Lord, see what wonderful things Shri Krishna has given to you.” Kuchela looked at everything and said: “I did not ask Bhagawan for anything. I did not speak to him about our domestic situation. Is it necessary for me to say anything to the omnipresent, all-knowing Lord?” Kuchela then described in detail to his wife how Krishna had received him in His palace and how He hugged Kuchela to His bosom and showered His love on him. “How can I describe His loving kindness? Is there anyone like him who can confer all prosperity on one after receiving a fistful of parched rice? He is Love incarnate, and Love is He.” Today, the devotee behaves differently towards God. He goes with a mountain of desires to the temple and offers a small coconut. This is not what you should offer to God. What you should offer is a pure, unsullied heart.


-- Divine Discourse, Apr 15, 1995

God needs nothing for Himself. Whatever you offer is for your own sake.


Kuchela pergi menemui Krishna untuk memohon agar mendapatkan banyak benda-benda material sebagai hadiah. Namun ketika melihat kecemerlangan wajah Krishna, ia lupa semua keinginannya. Pada ia kembali pulang ke desanya, Kuchela mendapatkan rumah besar telah berdiri di tempat kediamannya yang lama. Istri Kuchela keluar dari rumah besar itu, berpakaian dengan rapi dan mengenakan banyak perhiasan, lalu menyapa suaminya dengan berkata: “suamiku, lihatlah betapa banyak hal menakjubkan yang telah diberikan Sri Krishna kepadamu.” Kuchela memandang semuanya dan berkata: “saya tidak meminta apapun pada Bhagawan. Saya tidak berbicara pada-Nya tentang keadaan di dalam rumah kita. Apakah perlu bagiku untuk mengatakan sesuatu kepada Krishna yang Maha Tahu dan ada dimana-mana?” Kuchela kemudian menjelaskan secara detail kepada istrinya bagaimana Krishna telah menerimanya di istana-Nya dan bagaimana Krishna memeluknya dan mencurahkan kasih-Nya. “Bagaimana saya dapat menjelaskan kebaikan kasih-Nya? Adakah orang seperti Krishna yang bisa memberikan semua kesejahtraan kepada seseorang setelah menerima segenggam nasi kering? Krishna adalah perwujudan kasih, dan kasih adalah Krishna.” Hari ini, bhakta berperilaku berbeda terhadap Tuhan. Bhakta itu pergi ke tempat suci dengan segudang keinginan dan mempersembahkan sebuah kelapa kecil. Bukan itu yang seharusnya engkau persembahkan kepada Tuhan. Hal yang seharusnya engkau persembahkan adalah hati yang murni dan tak ternoda. 


-- Wejangan Sai, 15 April 1995

Tuhan tidak membutuhkan apapun bagi diri-Nya. Apapun yang engkau persembahkan adalah untuk kepentingan dirimu sendiri.