Monday, July 27, 2020

Thought for the Day - 27th July 2020 (Monday)

Speech is charged with tremendous power. When, through speech, we communicate to a person something that upsets their balance or shocks them into grief, the words completely drain off their physical strength and mental courage. The person falls on the ground, mentally unable to stand their ground. On the other hand, when, through speech, we communicate something happy or unexpectedly cheering, the person gets the strength of an elephant. Words don’t cost anything but they are priceless. So, they have to be used with care. They must be employed not for gossip, which is barren, but for pure and productive purposes only. The ancients recommended the vow of silence in order to purify speech of its evils. A mind turned inward toward an inner vision of God and speech turned outward toward outer vision of the Lord — both will promote spiritual strength and success. 


Kemampuan bicara diberkati dengan kekuatan yang sangat besar. Ketika melalui perkataan kita berkomunikasi dengan seseorang tentang sesuatu yang mengganggu keseimbangan mereka atau mengejutkan mereka ke dalam kesedihan, maka kata-kata itu benar-benar menguras kekuatan fisik dan keberanian mental. Orang tersebut akan jatuh dan secara mental tidak akan mampu berdiri tegak kembali. Sebaliknya, ketika melalui perkataan kita berkomunikasi sesuatu yang menyenangkan atau tanpa disadari bersifat menggembirakan, orang tersebut mendapatkan kekuatan seekor gajah. Kata-kata tidak memerlukan biaya namun kata-kata sangatlah berharga. Jadi, perkataan harus digunakan dengan sangat hati-hati. Kata-kata harus tidak digunakan untuk bergosip yang mana bersifat tandus, namun hanya digunakan untuk hal yang bersifat murni dan produktif. Para leluhur merekomendasikan tapa diam untuk menyucikan perkataan dari kesalahannya. Pikiran yang diarahkan ke dalam menuju pada pandangan Tuhan di dalam diri dan perkataan diarahkan pada penampakan Tuhan di luar – keduanya akan meningkatkan kekuatan dan keberhasilan spiritual. (Ch 18, Vidya Vahini)

-BABA

Thought for the Day - 26th July 2020 (Sunday)

To adore Name and Form is against the basic teaching of Vedanta; for, you must educate yourself into ignoring the evanescent, temporary and superficial. Unless you have discovered your identity with all, and the identity of all within oneself, you cannot win the waveless calmness, the steady flame! Give up the fancy for the fantastic objective world, give up until you reach the stage, when there is no "giver-gift-giving," when there is no "beginning-continuing-ending." Sage Narada learnt from sage Sanathkumara that he can acquire Shanti (peace) only when he knows that he is an embodiment of Shanti! Ashanti (restlessness) is something that possesses one like a phobia which has no grounding! Shake it off! You are free! It is the role that is tragic; not the actor! Remind yourself that it is a play and that you are playing the role of a tragic hero! Sage Narada learnt this and his equanimity was never again disturbed! 


Memuja Nama dan Wujud adalah bertentangan dengan dasar ajaran dari Vedanta; karena, engkau harus mendidik dirimu sendiri untuk mengabaikan yang fana, sementara, dan palsu. Kecuali engkau telah menemukan identitasmu di dalam semuanya, dan identitas semuanya di dalam dirimu sendiri, engkau tidak bisa memiliki ketenangan mantap atau nyala api yang tidak tergoyahkan! Lepaskan khayalan pada dunia yang indah ini, lepaskan semuanya ini sampai engkau mencapai sebuah tahapan ketika tidak ada lagi "pemberi sesuatu – pemberian – memberikan sesuatu," Ketika tidak ada "awal – pertengahan - akhir." Resi Narada belajar dari Resi Sanathkumara bahwa dia dapat mendapatkan Shanti (kedamaian) hanya ketika dia mengetahui bahwa dia adalah perwujudan dari Shanti! Ashanti (kegelisahan) adalah sesuatu yang dimiliki seseorang seperti sebuah fobia yang tidak berdasar! Goyangkanlah hal itu! Engkau akan bebas! Ini adalah peran yang tragis; dan bukan pemerannya! Ingatkan dirimu sendiri bahwa itu adalah sebuah sandiwara dan bahwa engkau sedang bermain peran pahlawan yang tragis! Resi Narada belajar hal ini dan ketenangannya tidak pernah lagi terganggu! (Divine Discourse, Jan 14, 1971)

-BABA

Thought for the Day - 25th July 2020 (Saturday)

The point of view is most often warped; the direction in which thought flows is, ‘How much can I get out of all this, what benefit can I derive from membership, how beneficial it will be for my status, profession, and contacts.’ This has to be changed full circle. The problem should be framed as: ‘How much can I give my fellowmen through this membership? What can I contribute to the fulfilment of its ideals?’ All are eager to take, none is earnest about giving. The reason is absence of love; love that transcends caste, creed, colour, and the fences erected by man between men. Fill your hearts with love, distribute that love to all. Love grows with every gift of love; remember, the heart that pours out love is ever full! God is present in your heart as Love and you are only drawing from Him, when sharing with others. Expansion is love; expansion is life. Contraction is death! 


Adalah sudut pandang yang paling sering dibengkokkan; arah pemikiran yang muncul adalah, ‘Berapa banyak yang bisa saya dapatkan dari semuanya ini, apa keuntungan yang bisa dapatkan dari keanggotaan di sini, bagaimana keanggotaan ini bisa memberi dampak pada status saya, profesi saya dan hubungan saya.’ Bentuk pemikiran ini sepenuhnya harus dirubah. Masalahnya harus dibingkai menjadi seperti ini: ‘Berapa banyak yang saya dapat berikan untuk sesama melalui keanggotaan ini? Apa yang dapat saya kontribusikan untuk mencapai tujuannya?’ semuanya sangat berhasrat untuk mengambil dan tidak ada seorangpun yang berhasrat untuk memberi. Alasan dari hal ini adalah tidak adanya kasih sayang; kasih yang melampaui kasta, keyakinan, warna kulit, dan batasan yang dibangun oleh manusia diantara manusia. Isilah hatimu dengan kasih, sebarkan kasih itu kepada semuanya. Kasih tumbuh bersama dengan setiap pemberian kasih; ingatlah, hati yang mencurahkan kasih adalah selalu penuh dengan kasih! Tuhan bersemayam di dalam hatimu sebagai kasih dan engkau hanya mengambil dari-Nya ketika berbagi dengan yang lain. Pengembangan adalah kasih; pengembangan adalah hidup. Penyempitan adalah kematian! (Divine Discourse, Jan 18, 1971)

-BABA

Thought for the Day - 24th July 2020 (Friday)

Mere spinning like a top, until you can spin no longer, and then falling helpless and inert, is dreary devastating existence. The top has no faith in itself; it has to be handled and twirled by another. Be self-confident, that is to say, have confidence in your Self. For, that Self is divine; it has in it all the strength, all the sweetness of the Atman, which is but a wave of the ocean of Paramatman (Supreme Reality). In order to ensure happiness and peace, administrators contrive five-year plans, and build bridges, dams, factories and schools. But without the cleansing of the spirit, the strengthening of detachment, the promotion of compassion and kinship, economic progress promotes only hatred, faction and envy. Self-confidence, self-control and self-knowledge - these alone can lead man to peace and joy. 


Hanya berputar-putar seperti halnya gasing, sampai engkau tidak dapat berputar lagi dan akhirnya jatuh tidak berdaya dan tidak bertenaga adalah sebuah keadaan yang sangat buruk. Gasing tidak memiliki keyakinan pada dirinya sendiri; gasing harus dipegang dan diputar oleh orang lain. Milikilah kepercayaan diri yang artinya miliki kepercayaan pada dirimu yang sejati (atma). Karena, diri yang sejati itu adalah Tuhan yang memiliki semua kekuatan, semua rasa manis dari Atman, yang tiada lain adalah gelombang lautan dari Paramatman (kenyataan yang tertinggi). Dalam upaya untuk memastikan kebahagiaan dan kedamaian, penyelenggara menyusun rencana lima tahun, dan membangun jembatan, waduk, pabrik, dan sekolah. Namun tanpa membersihkan jiwa, penguatan akan tanpa keterikatan, pengembangkan welas asih dan persaudaraan, kemajuan ekonomi hanya meningkatkan kebencian, perpecahan, dan iri hati. Kepercayaan diri, pengendalian diri, dan pengetahuan tentang diri – hanya inilah yang dapat menuntun manusia pada kedamaian dan suka cita. (Divine Discourse, Jan 14, 1971)

-BABA

Thought for the Day - 23rd July 2020 (Thursday)

Resolve to emulate those who do better than yourself and earn equal appreciation. Strive to acquire knowledge, wisdom and success that you aspire, righteously. That is the real ambition. Instead, if you wish for the downfall of others who are successful, that very intent reveals your brutish nature. It will lead you to perdition for sure. Praising oneself and condemning others are also as deadly as envy. Attempting to hide one’s meanness and wickedness, wearing the mask of goodness, justifying one’s faults and exaggerating one’s attainments — these are also definitely poisonous traits. Equally poisonous is the habit of ignoring the good in others and assiduously seeking only their faults. Never speak words that demean anyone. When we are friendly with someone and like them, whatever they do is certain to strike us as good. When the wind changes and the same person is disliked, even the good they do feels wrongful to us. Both these reactions are not commendable! 


Putuskan untuk berusaha meneladani mereka yang melakukan hal yang lebih baik dari dirimu sendiri dan mendapatkan penghargaan yang sama. Berusahalah untuk mendapatkan pengetahuan, kebijaksanaan, dan keberhasilan yang engkau impikan dengan jalan yang benar. Itu adalah ambisi yang benar. Sebaliknya, jika engkau mengharapkan kejatuhan orang lain yang sukses maka itu menunjukkan sifatmu yang brutal. Hal ini pastinya akan membawamu pada kehancuran. Memuji diri sendiri dan menghina orang lain adalah juga mematikan seperti halnya iri hati. Berusaha untuk menyembunyikan keburukan dan kejahatan diri, memakai topeng kebaikan, membenarkan kesalahan serta melebih-lebihkan pencapaian diri – kedua hal ini pastinya merupakan sifat yang beracun. Sama beracunnya dengan kebiasaan mengabaikan kebaikan dalam diri orang lain dan asyik hanya mencari kesalahan orang lain. Jangan pernah untuk mengucapkan kata-kata yang merendahkan siapapun juga. Ketika kita bersahabat dengan seseorang dan menyukai mereka, apapun yang mereka lakukan pastinya kita anggap baik. Bila keadaan berubah dan orang yang sama tidak disukai, bahkan kebaikan yang dilakukannya kita anggap salah. Kedua reaksi ini adalah tidak terpuji! (Ch 17, Vidya Vahini)

-BABA

Wednesday, July 22, 2020

Thought for the Day - 22nd July 2020 (Wednesday)

The seer should not attach oneself to the seen; that is the secret to break free. The contact of senses with objects arouse desire and attachment; this leads to effort and either elation or despair; then, there is fear of loss or grief at failure and the train of reactions lengthens. With many doors and windows kept open to all the winds that blow, how can the flame of the lamp within survive? That lamp is the mind, which must burn steadily unaffected by the dual demands of the world outside. Complete surrender to the Lord is one way of closing the windows and doors, for then, in that attitude of complete surrender to God (Saranagati), you are bereft of ego and so, you are not buffeted by joy or grief. Complete surrender makes you draw upon the grace of the Lord for meeting all the crises in your life and so, it renders you heroic, well prepared for the challenges of life! 


Mereka yang melihat seharusnya tidak mengikatkan dirinya pada objek yang dilihat; itu adalah rahasia untuk bisa bebas. Kontak dari indera dengan objek akan memunculkan keinginan dan keterikatan; hal ini menuntun pada usaha dan bahkan pada kegembiraan atau keputusasaan; kemudian, muncul ketakutan akan kehilangan atau kesedihan karena kegagalan serta rangkaian reaksi yang memanjang. Dengan adanya banyak pintu dan jendela tetap terbuka pada semua angin yang berhembus, bagaimana nyala pelita di dalam diri akan tetap bisa bertahan? Nyala pelita itu adalah pikiran, yang mana harus terus menyala tanpa terpengaruh oleh tuntutan ganda dari dunia luar. Berserah penuh kepada Tuhan adalah satu jalan untuk menutup jendela dan pintu, karena itu dalam sikap berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan (Saranagati), engkau tanpa ego dan karenanya engkau tidak diterpa oleh suka atau duka cita. Berserah diri sepenuhnya membuatmu mengandalkan rahmat Tuhan untuk menghadapi semua krisis di dalam hidupmu dan karenanya menjadikan dirimu menjadi gagah berani, siap menghadapi tantangan hidup! (Divine Discourse, Jan 13, 1965)

-BABA

Thought for the Day - 21st July 2020 (Tuesday)

There are many who ridicule yogis (God-centred) as anti-social idlers who run away from their obligations and seek asylum in solitude and silence. But being near does not ensure usefulness. Being far does not imply uselessness. Viruses enter the very blood stream and surely, nothing can be nearer to you; yet, they are mortal enemies. Members of the same family are envious and suspicious of one another. It is not being near that counts. These yogis moved out into lonely spots and sought teachers of the inner path, much as young technicians do today, going abroad in order to learn skills that will help to build a better India. They go to seek the secret of eternal joy; they win it for themselves; and by their lives, they inspire others to win the precious secret. No one calls the man who has gone abroad to equip oneself better, as an engineer or doctor, selfish; why then should the man who undergoes greater deprivations to equip oneself better as an engineer of the mind, utilising its undoubted powers, not for bondage, but for liberation, be tarred as ego-centric? This only shows ignorance of true values. 


Ada banyak yang mengejek para Yogi (terpusat pada Tuhan) sebagai anti sosial yang melarikan diri dari kewajiban mereka dan mencari suaka dalam kesunyian dan keheningan. Namun dekat tidak memastikan kegunaan. Jauh tidak berarti tidak berguna. Virus memasuki setiap aliran darah dan secara pasti bahwa tidak ada yang bisa lebih dekat lagi denganmu seperti halnya virus; namun, virus itu adalah musuh yang mematikan. Anggota dari dalam keluarga yang sama saling dengki dan curiga satu dengan yang lainnya. Hal ini tidak menandakan kedekatan. Para Yogi ini pergi jauh menuju tempat kesendirian dan mencari guru pada perjalanan batin, sama seperti halnya pada teknisi muda lakukan saat sekarang, pergi ke luar negeri untuk belajar keterampilan yang akan membantu membangun India yang lebih baik. Mereka pergi mencari rahasia sukacita yang abadi; mereka mendapatkannya untuk diri mereka sendiri; dan dengan hidup mereka, mereka menginspirasi yang lain untuk mendapatkan rahasia yang berharga. Tidak ada seorangpun yang menyebut mereka yang pergi ke luar negeri untuk memperlengkapi dirinya menjadi lebih baik, sebagai seorang insinyur atau dokter, adalah seseorang yang mementingkan diri sendiri; lantas mengapa seseorang yang mengalami kesulitan yang begitu besar untuk memperlengkapi dirinya lebih baik sebagai seorang arsitek dari pikiran, menggunakan kekuatan yang tidak diragukan bukan untuk perbudakan namun untuk pembebasan dapat disebut sebagai ego sentris? Hal ini hanya menunjukkan kedunguan akan nilai-nilai yang benar. (Divine Discourse, Jan 13, 1965)

-BABA

Thought for the Day - 20th July 2020 (Monday)

No enemy can be so insidious as jealousy. It is a deadly virus. When one sees another more powerful, more knowledgeable, or with greater reputation, more wealth or more beauty, or even wearing better clothing, one is afflicted with jealousy. You may find it difficult to acknowledge and accept the situation. The mind seeks means to demean them and lower them in the estimation of people. This will pollute your character. Such propensities and evil tendencies should never strike root in the minds of pious and virtuous. Be ever vigilant that “envy-demon” does not possess you. Envy destroys all that is precious in you; it ruins your health and damages your digestive system. It even robs you of sleep, saps your physical and mental stamina and reduces you to the state of chronic consumptives! Hence, be happy and joyful when others are acclaimed as good and are respected for virtues and ideals they hold dear. Cultivate broad outlook and pure motives only. 


Tidak ada musuh yang membahayakan selain perasaan iri hati. Ini adalah virus yang mematikan. Ketika seseorang melihat yang lainnya lebih kuat, lebih berpengetahuan, atau lebih hebat reputasinya, lebih kaya atau lebih cantik, atau bahkan memakai pakaian yang lebih indah, maka seseorang itu akan terjangkiti perasaan iri. Engkau mungkin menemukan kesulitan untuk mengakui dan menerima keadaannya. Pikiran mencari cara untuk merendahkan mereka dalam penilaian orang. Hal ini akan menodai karaktermu. Kecenderungan jahat yang seperti ini seharusnya tidak pernah mengakar di dalam pikiran orang yang baik dan berbudi luhur. Selalulah waspada agar “iblis iri hati” tidak menguasaimu. Iri hati menghancurkan semuanya yang berharga di dalam dirimu; ini akan menghancurkan kesehatanmu dan merusak sistem pencernaanmu. Sifat iri hati ini bahkan merampas tidurmu, melemahkan stamina fisik dan batinmu serta menurunkanmu pada keadaan konsumtif yang kronis! Oleh karena itu, selalulah bahagia dan penuh suka cita ketika orang lain diakui sebagai orang baik dan dihormati karena kebaikannya dan ideal yang mereka pegang. Tingkatkan pandangan yang luas dan hanya niat yang suci. (Ch 17, Vidya Vahini)

-BABA

Thought for the Day - 19th July 2020 (Saturday)

Remembrance of the Lord's name is the method of crossing over the ocean of the worldly life for this age; remembering the Lord by means of His Name is enough to save man. The Lord is Aanandamaya (of the nature of Bliss); He is also Aananda (divine bliss), which is to be tasted through the Name. It is Sat-Chit-Ananda (Being-Awareness-Bliss Absolute). You may doubt whether such a small word like Rama or Sai or Krishna can take you across the boundless sea of worldly life. People cross vast oceans on a tiny raft; they are able to walk through dark jungles with a tiny lamp in their hands. The raft need not be as big as the sea. The Name, even the Pranava (Om) which is smaller, has vast potentialities. The recitation of the Name is like the operation of boring, to tap underground water; it is like the chisel-stroke that will release the image of God imprisoned in the marble. Break the encasement and the Lord will appear. 


Mengingat nama Tuhan adalah metode dalam menyebrangi lautan kehidupan duniawi di zaman ini; mengingat Tuhan dengan sarana nama-Nya adalah cukup untuk menyelamatkan manusia. Tuhan adalah Aanandamaya (sifat alami kebahagiaan); Tuhan juga adalah Aananda (kebahagiaan Tuhan), yang harus dirasakan melalui nama suci Tuhan. Ini adalah Sat-Chit-Ananda (Kekal – Kesadaran – Kebahagiaan mutlak). Engkau mungkin ragu apakah nama yang begitu pendek seperti Rama atau Sai atau Krishna dapat membawamu menyeberangi lautan yang tidak bertepi dari kehidupan duniawi. Manusia menyeberangi lautan luas dengan menggunakan rakit yang kecil; manusia mampu berjalan melewati gelapnya hutan dengan sebuah lampu kecil di tangan mereka. Rakit yang dipakai tidak perlu sebesar lautan. Nama, bahkan Pranava (Om) yang mana lebih kecil, memiliki potensi yang besar. Pengulangan nama suci Tuhan adalah seperti operasi pengeboran untuk mengambil air di dalam tanah; ini adalah seperti pukulan dari pahat yang akan memperlihatkan wujud atau gambar Tuhan yang tersembunyi di dalam marmer. Hancurkan bungkusannya dan Tuhan akan muncul. (Divine Discourse, Jan 13, 1965)

-BABA

Thought for the Day - 18th July 2020 (Saturday)

The root cause of all anxieties and calamities of humanity is envy. In Bhagavad Gita Krishna warns, “Arjuna! You must be envy-less. Don’t get infected by envy.” Envy is invariably accompanied by hatred. These are twin villains like poisonous pests. They attack the very roots of one’s personality. A tree may be resplendent with flowers and fruits. But when the inimical worms set to work on the roots, imagine what happens to its splendour! Even as we look on admiringly at the tree’s beauty, its flowers fade, fruits fall off, and its leaves turn yellow and are scattered by the wind. At last, the tree dries up, it dies and falls! So too, when envy and hatred infect the heart and set to work, however intelligent and however highly educated one is, one falls! Hence learn to be happy and filled with joy when others are acclaimed as good and are respected for their virtues and ideals they hold dear! 


Akar penyebab dari semua kecemasan dan penderitaan manusia adalah iri hati. Di dalam Bhagavad Gita Krishna mengingatkan, “Arjuna! Engkau harus bebas dari iri hati. Jangan menjadi terjangkiti oleh iri hati.” Iri hati selalu ditemani dengan kebencian. Keduanya ini adalah penjahat kembar seperti hama yang beracun. Kedua sifat jahat ini menyerang pada akar yang paling dasar dari kepribadian seseorang. Sebuah pohon mungkin kelihatan begitu indah dengan bunga dan buah. Namun ketika ulat yang merugikan mulai menggerogoti akar pohon ini, bayangkan apa yang terjadi pada keindahan pohon ini! Bahkan ketika kita mengagumi keindahan dari pohon ini, bunganya mulai layu, buahnya berjatuhan, dan daunnya menguning serta tertiup oleh angin. Pada akhirnya, pohon itu mengering, mati dan tumbang! Begitu juga, ketika iri hati dan kebencian menjangkiti hati dan mulai bekerja, maka bagaimanapun cerdas dan bagaimanapun tingginya pendidikan seseorang, maka orang itu akan jatuh! Karena itu belajarlah bahagia dan isi dengan suka cita ketika yang lain diakui sebagai orang baik dan dihormati karena sifat-sifat mulia dan ideal yang mereka miliki! (Ch 17, Vidya Vahini)

-BABA

Thought for the Day - 17th July 2020 (Friday)

The Samudra-manthana (churning of the ocean) has great value for you because you too must churn the ocean of your heart and win immortal nectar for yourself. Your heart filled with satwa guna (purity and poise) is the ocean of milk. The steady contemplation of God, either as your own reality or as an ideal to be reached, is the Mandara mountain placed in it as the churning rod. Vasuki, the serpent that was wound around the churning rod as a rope, is the collection of all your senses. The rope (your senses) is held by both good and bad impulses, and both struggle through the churning process; eager for the results which each one of them set their heart on. The wise wait patiently for the appearance of the immortal Lord, with steady zeal and interest. The Grace of God is the tortoise Incarnation, for the Lord Himself comes to the rescue, once He knows that you are earnestly seeking the secret of Immortality: He comes, silently and unobserved, as the tortoise did, holding the manana (reflection) process unimpaired and serving as the steady base of all spiritual practice. 


Samudra-manthana (pengadukan lautan) memiliki nilai yang sungguh mendalam bagimu karena engkau juga harus mengaduk lautan hatimu dan mendapatkan nektar keabadian bagi dirimu sendiri. Hatimu diliputi dengan satwa guna (kesucian dan ketenangan) adalah lautan susu. Perenungan pada Tuhan yang tanpa henti, apakah sebagai kenyataanmu yang sejati atau sebagai ideal yang harus dicapai adalah gunung Mandara yang ditempatkan di dalamnya sebagai batang pengaduk. Vasuki adalah ular yang melilit batang pengaduk sebagai tali, adalah kumpulan dari semua inderamu. Tali adalah inderamu dipegang oleh keduanya yaitu dorongan kebaikan dan keburukan, dan keduanya berjuang melalui proses pengadukan; sangat berhasrat untuk hasilnya yang mana keduanya menetapkan hatinya. Orang bijak menunggu dengan tenang untuk kehadiran dari Tuhan yang abadi, dengan semangat dan minat yang kuat. Rahmat Tuhan adalah inkarnasi kura-kura dimana Tuhan sendiri datang untuk menyelamatkan, sekali Tuhan mengetahui bahwa engkau dengan sungguh-sungguh mencari rahasia keabadian: Tuhan datang dalam keheningan dan tidak teramati, seperti yang dilakukan oleh kura-kura, memegang proses manana (perenungan) dengan baik dan melayani seperti dasar yang kokoh untuk semua latihan spiritual. (Divine Discourse, Jan 13, 1965)

-BABA

Thursday, July 16, 2020

Thought for the Day - 16th July 2020 (Thursday)

The word surrender has been misinterpreted and people promote idleness in the name of surrender. We think that our mind, thought, and body have been surrendered to the Lord. Your mind is not under your own control and under such circumstances, how can you hold it and give it to the Lord? You have no control over your own body. If you have a small cut, blood oozes from your body and you run to a doctor. If this is your body and if you have complete control over it, why is it that you are not able to control the outflow of the blood? That being the case, to say that you have surrendered your mind and body to the Lord is a statement which is untrue. This word ‘surrender’ conveys that there is someone who gives and someone who accepts, and that you are surrendering to someone. There is a feeling of duality implied in this word surrender. The true meaning of surrender is the recognition of the fact that in everyone and everywhere God is present. 


Kata berserah telah salah diartikan dan orang-orang meningkatkan kemalasan atas nama berserah. Kita berpikir bahwa pikiran, pemikiran, dan tubuh kita telah diserahkan kepada Tuhan. Pikiranmu tidak ada di bawah kendalimu dan dalam keadaan seperti itu, bagaimana engkau dapat memegang pikiranmu dan menyerahkannya kepada Tuhan? Engkau tidak memiliki kendali pada tubuhmu sendiri. Jika engkau sedikit terluka dan darah keluar dari tubuhmu maka engkau akan bergegas pergi ke dokter. Jika ini adalah tubuhmu dan jika engkau sepenuhnya telah mengendalikan tubuhmu, mengapa engkau tidak mampu untuk mengendalikan darah yang keluar? Karena itu, dengan mengatakan bahwa engkau telah menyerahkan pikiran dan tubuhmu kepada Tuhan adalah sebuah pernyataan yang tidak benar. Kata ini ‘berserah’ menyampaikan makna bahwa ada seseorang yang memberi dan seseorang yang menerima, dan bahwa engkau berserah kepada seseorang. Ada sebuah perasaan dualitas yang tersirat dalam kata berserah ini. Makna yang sesungguhnya dari kata berserah adalah pengakuan akan kenyataan bahwa di dalam diri setiap orang dan dimana saja Tuhan hadir. (Ch 3, Summer Showers, 1974)

-BABA

Thought for the Day - 15th July 2020 (Wednesday)

Humanness is a combination of the body and consciousness. One has to embark on self-scrutiny as the first step in spirituality. Only then the reality can be comprehended. No one undertakes self-examination, though everyone is ready to condemn others. Only the person who is prepared to examine and punish himself for his lapses is competent to judge others. Students and devotees should realise that control of the senses is quite simple. What is necessary is not to encourage negative feelings when they arise and adopt positive attitudes. For instance, Buddha confronted the anger of a demon with his love and transformed him. Many students today are subject to depression and are confused in mind. The reason for this is their weakness owing to lack of self-confidence. When there is total faith in God, then there will be no room for depression. 


Kemanusiaan adalah sebuah gabungan dari tubuh dan kesadaran. Seseorang harus memulai dalam memeriksa pemikiran dan perasaan sebagai langkah awal dalam spiritual. Hanya dengan demikian kenyataan dapat dipahami. Tidak ada seorangpun menjalani pemeriksaan diri, walaupun setiap orang siap untuk menyalahkan orang lain. Hanya seseorang yang siap untuk memeriksa dan menghukum dirinya sendiri atas kesalahannya maka memiliki kompetensi untuk menghakimi yang lainnya. Para pelajar dan bhakta seharusnya menyadari bahwa pengendalian indera adalah cukup sederhana. Apa yang diperlukan adalah tidak mendorong perasaan-perasaan negatif ketika muncul dan membangkitkan sikap yang positif. Sebagai contoh, Buddha menghadapi kemarahan dari raksasa dengan kasihnya dan merubahnya. Banyak pelajar hari ini mengalami depresi dan kebingungan di dalam pikiran. Alasan dari ini adalah kelemahan mereka karena kurangnya rasa percaya diri. Ketika ada keyakinan penuh pada Tuhan, maka tidak akan ruang bagi depresi. (Divine Discourse, Sep 7, 1997)

-BABA

Thought for the Day - 14th July 2020 (Tuesday)

Cultivate love for God. Puranas (scriptures) and ancient sages have declared that the Divine incarnates to punish the wicked and protect the good. This is not correct. God incarnates to inculcate love in mankind and teach how love should be cultivated and practiced. Only when such love is developed people will be free from sorrow and trouble. Sins will be wiped out and fear will cease to haunt. The essence of all religions, all teachings and spiritual paths is only one thing: Love. Develop that Divine Love. Above all, whatever be your difficulties, whatever be the ordeals you have to undergo in any situation, do not give up God. God is One. Whether you are affluent or destitute, whether you are a scholar or an ignoramus, no matter whatever troubles you may be faced with or whatever spiritual practices you may adopt, whether you are regarded as a sinner or a saint, do not give up God ever, and realise that God is One. 


Tingkatkan kasih untuk Tuhan. Purana (naskah suci) dan guru-guru suci zaman dahulu telah menyatakan bahwa inkarnasi Tuhan adalah untuk menghukum mereka yang jahat dan melindungi yang baik. Hal ini tidaklah benar. Tuhan berinkarnasi untuk menanamkan kasih dalam diri manusia dan mengajarkan bagaimana kasih seharusnya ditingkatkan dan dipraktikkan. Hanya ketika kasih yang seperti itu dikembangkan maka manusia akan bebas dari penderitaan dan masalah. Dosa akan dihapuskan dan ketakutan akan berhenti untuk menghantui. Intisari dari semua agama, semua ajaran dan jalan spiritual adalah hanya satu hal: kasih. Kembangkan kasih Tuhan. Diatas semuanya, apapun yang menjadi kesulitanmu, apapun cobaan yang engkau harus hadapi di dalam situasi apapun juga, jangan melepaskan Tuhan. Tuhan adalah Esa. Apakah engkau makmur atau miskin, apakah engkau terpelajar atau seorang tidak berpendidikan, tidak masalah apapun masalah yang engkau mungkin hadapi atau apapun jalan spiritual yang mungkin engkau jalankan, apakah engkau dianggap sebagai pendosa atau orang suci, jangan melepaskan Tuhan selamanya, dan sadrilah bahwa Tuhan itu adalah Esa. (Divine Discourse, July 29, 1988)

-BABA

Thought for the Day - 13th July 2020 (Monday)

The power of faith is illustrated in an incident from the life of Christ. Once a blind man approached Jesus and prayed: "Lord! Restore my sight." Jesus asked him: "Do you believe that I can restore your sight?” "Yes, Lord!" the man said. "If that is so, then open your eyes and see," said Jesus. The blind man opened his eyes and got his sight. Likewise, people pray to Swami to give something or other. Do you believe that I have the power to give what you seek? My response is dependent on your faith. People today are like an individual standing on the ground wishing to see the pilot of a plane moving in the sky. The only way the person can see the pilot is by getting into the plane. To experience God you have to aspire for a vision of God. That is the way to lead an ideal and blissful life. 


Kekuatan dari keyakinan digambarkan dalam sebuah kejadian dari hidup Jesus. Pada suatu hari ada seorang yang buta mendekati Jesus dan berdoa: "Tuhan pulihkan penglihatanku." Jesus menanyakannya: "Apakah engkau percaya bahwa Aku dapat memulihkan penglihatanmu?” "Ya Tuhan!" orang buta itu berkata. "Jika memang seperti itu, sekarang buka matamu dan lihatlah," kata  Jesus. Orang buta itu membuka matanya dan mendapatkan penglihatannya kembali. Sama halnya, orang-orang berdoa kepada Swami untuk memberikan sesuatu atau yang lainnya. Apakah engkau percaya bahwa Aku memiliki kekuatan untuk memberikan apa yang engkau inginkan? Respon-Ku tergantung dari keyakinanmu. Orang-orang saat sekarang seperti seseorang yang berdiri diatas tanah yang berharap bisa melihat pilot dari pesawat yang terbang diatas angkasa. Satu-satunya cara seseorang dapat  melihat pilot adalah dengan masuk ke dalam pesawat. Untuk mengalami Tuhan engkau harus menginginkan sebuah pandangan akan Tuhan. Itu adalah jalan untuk menuntun pada hidup yang ideal dan penuh kebahagiaan. (Divine Discourse, Sep 7, 1997)

-BABA

Thought for the Day - 12th July 2020 (Sunday)

Prayer does not mean petitioning to God. Prayer is an index of the experience of Atmic bliss; it’s a method to experience this bliss, share it and be immersed in it. Prayers must emanate from the heart. Prayer that is not heartfelt is utterly useless. The Lord will accept a heart without words, but He will not accept words and prayers that are not sincere and heart-felt. In fact, God Himself is described as Lord of the Heart (Hridayesha). Only when you have firm faith in this, you will be able to manifest your divinity. Regard your body as a temple in which the Trinity - Brahma, Vishnu and Maheshwara reside. There are no separate places like Vaikunta or Kailash where they dwell. These are delusions born out of ignorance. God is inside you, outside you, and around you. Don’t doubt this. If you doubt this, you cannot experience peace or happiness! Firmly recognise this truth and live accordingly. 


Doa bukan berarti mengajukan permohonan kepada Tuhan. Doa adalah sebuah tanda dari pengalaman kebahagiaan Atma; doa adalah sebuah metode untuk mengalami kebahagiaan ini, berbagi kebahagiaan dan tenggelam dalam kebahagiaan. Doa harus muncul dari hati. Doa yang tidak sepenuh hati sesungguhnya adalah tidak berguna. Tuhan akan menerima sebuah hati tanpa kata-kata, namun Tuhan tidak akan menerima kata-kata dan doa yang tidak tulus serta tidak sepenuh hati. Sejatinya, Tuhan sendiri disebutkan sebagai Tuhan yang bersemayam dalam hati (Hridayesha). Hanya ketika engkau memiliki keyakinan yang mantap dalam hal ini , engkau akan mampu mewujudkan ketuhanan. Anggaplah tubuhmu sebagai sebuah tempat suci dimana Tri Murti - Brahma, Vishnu, dan Maheshwara bersemayam. Tidak ada tempat-tempat yang terpisah seperti Vaikunta atau Kailash dimana ketiganya tinggal. Semua ini adalah khayalan yang muncul dari kedunguan. Tuhan ada didalam dirimu, diluar dirimu, dan disekitar dirimu. Jangan ragu akan hal ini. Jika engkau ragu akan hal ini, engkau tidak bisa mengalami kedamaian atau kebahagiaan! Sadari dengan mantap kebenaran ini dan hiduplah sesuai dengan kebenaran ini. (Divine Discourse, July 29, 1988)

-BABA

Thought for the Day - 11th July 2020 (Saturday)

The Supreme Lord has given you an unbroken garland of all the good and bad you accumulated from previous lives. Since birth, this invisible garland is worn by everyone around their neck, even though one cannot physically see this. The fruits of whatever good or bad you may have done in your past, has come with you when you are born. By doing a good act, you will not get an evil result and by doing a bad act, you will not accumulate good. Whatever kind of work you do, the result will correspond to that kind of work. Therefore, from today, make up your mind to do only good things and thus you will reap, in your future lives, the benefit of good things only! To imagine and to deceive ourselves into thinking that there is no one seeing us do a bad thing, is incorrect. God (Brahman) is present within your own heart and is always functioning as a witness! 


Tuhan yang tertinggi telah menganugerahkanmu sebuah kalung bunga yang tidak bisa putus dari semua akumulasi kebaikan dan keburukan dari kehidupan sebelumnya. Sejak dari lahir, kalung bunga yang tidak terlihat ini dipakai oleh setiap orang di leher mereka, walaupun seseorang tidak bisa melihatnya secara fisik. Buah dari apapun kebaikan atau keburukan yang telah engkau lakukan di masa lalu, telah datang bersamamu pada saat engkau lahir. Dengan melakukan perbuatan yang baik, engkau tidak akan mendapatkan hasil yang buruk dan dengan melakukan perbuatan yang buruk, engkau tidak akan mengumpulkan kebaikan. Apapun jenis pekerjaan yang engkau lakukan, hasilnya akan sesuai dengan jenis pekerjaan itu. Maka dari itu, mulai dari sekarang, buatlah pikiranmu hanya melakukan kebaikan saja dan oleh karena itu engkau akan mendapatkan hanya keuntungan dari kebaikan saja di kehidupan yang akan datang! Dengan membayangkan dan menipu diri sendiri dalam berpikir bahwa tidak ada yang melihat kita melakukan perbuatan yang buruk, adalah tidak benar. Tuhan (Brahman) bersemayam di dalam hatimu sendiri dan selalu berfungsi sebagai saksi! (Ch 3, Summer Showers 1974)

-BABA

Thought for the Day - 10th July 2020 (Friday)

For your prayers to reach God, affix the stamp of ‘faith’ and address it with ‘love’. With faith and love, your prayers will reach God regardless of distance. Also, your love for God must be pure and unsullied. Prepare yourself to face God’s tests. In life, all of you are tested on how much you are attached to ephemeral worldly attractions and how much you yearn for God. The sooner you pass these tests, the nearer you will get to God. There can be no spiritual advancement without passing God’s tests. If your love for God is a tiny fraction of your love for mundane gifts, how do you expect God to shower His grace on you? Turn your faith away from the temporal and the transient to the unchanging eternal reality. Out of the many hours you waste thinking about worldly attachments, if you think of God even for a few moments, how much more beneficial would that be? 


Agar doamu dapat mencapai Tuhan, tambahkan stempel ‘keyakinan’ dan menyampaikannya dengan ‘kasih’. Dengan keyakinan dan kasih, doamu akan mencapai Tuhan tanpa memandang jarak. Dan juga, kasihmu untuk Tuhan harus murni dan tidak ternoda. Persiapkan dirimu untuk menghadapi ujian dari Tuhan. Dalam hidup, semua darimu diuji terhadap berapa besar engkau terikat dengan daya tarik duniawi yang sementara dan berapa banyak engkau merindukan Tuhan. Semakin cepat engkau melewati ujian ini, maka semakin dekat engkau dengan Tuhan. Tidak akan ada kemajuan spiritual tanpa melewati ujian dari Tuhan. Jika kasihmu pada Tuhan hanya sebagian kecil saja dari kasihmu pada duniawi, bagaimana engkau bisa mengharapkan Tuhan mencurahkan rahmat-Nya padamu? Alihkan jauh keyakinanmu dari hal-hal yang bersifat sementara dan fana menuju pada kenyataan kekal yang tidak berubah. Dari begitu banyak waktu yang engkau sia-siakan untuk memikirkan keterikatan duniawi, jika engkau memikirkan Tuhan bahkan hanya untuk beberapa saat saja, berapa banyak keuntungan yang akan engkau dapatkan? (Divine Discourse, Sep 7, 1997)

-BABA

Thought for the Day - 9th July 2020 (Thursday)

Advesta Sarva Bhutanam (bear no ill-will against living being), Sarva bhuta hite ratah (always engage in promoting the well being of all beings), Samah shatrau cha mitre cha cha (consider foe and friend alike) - jewels like these contained in the Gita, are, as known to all, pointers to the need for Universal Love. By declaring that man shall not bear ill-will towards the entire world of living beings, the Gita is positing a lesson with invaluable inner meaning that in all beings and even in all things, there is a moving, revolving, and active illumining Principle which is the Divine, appropriately called as Atma. It is a wrong against God, this omnipresent Divine, to hate living beings, to injure them; that is to say, it is as bad as hating and injuring oneself - the reason being that the injurer is as much a living being with God as his core, as the injured. 


Advesta Sarva Bhutanam (tidak ada niat jahat kepada makhluk hidup), Sarva bhuta hite ratah (selalu terlibat dalam meningkatkan kesejahteraan semua makhluk), Samah shatrau cha mitre cha cha (menganggap sama antara musuh dan teman) – permata seperti ini terdapat di dalam Bhagavad Gita, sebagaimana diketahui oleh semuanya menunjukkan pada kebutuhan akan kasih yang universal. Dengan menyatakan bahwa manusia tidak akan memiliki niat jahat kepada seluruh makhluk hidup yang ada di seluruh dunia, Gita mengajukan sebuah pelajaran dengan nilai yang tidak terhingga bahwa di dalam semua makhluk hidup dan bahkan dalam segala hal, ada prinsip penerangan aktif yang bergerak, berputar, dan prinsip itu adalah Tuhan yang dengan tepat disebut Atma. Adalah merupakan kesalahan dengan menentang Tuhan yang ada dimana-mana, dengan membenci makhluk hidup dan melukai mereka; artinya sama buruknya seperti membenci dan melukai diri sendiri – alasannya adalah yang melukai adalah makhluk hidup dengan Tuhan sebagai intinya dan sama halnya dengan yang dilukai. - Divine Discourse, Jul 29, 1969

-BABA

Wednesday, July 8, 2020

Thought for the Day - 8th July 2020 (Wednesday)

If you repeat 'God, God' but receive anger and lust, hate and envy into your heart, you cannot rise into Divinity, you will only slide into diabolism. When you are eager to place offerings before the Lord, instead of transitory materials, let your offering be Love. Love is the only comprehensive code of conduct. Love is no merchandise; do not bargain about its cost. Let it flow clear from the heart, as a stream of Truth, a river of wisdom. Let it not emanate from the head, nor from the tongue. Let it emerge, full and free, from the heart. This is the highest duty of each one of you, the noblest Godliness. Start the day with Love. Live the day with Love. Fill the day with Love. Spend the day with Love. End the day with Love. This is the way to God. 


Jika engkau mengulang-ulang Nama ‘Tuhan, Tuhan’ namun menerima amarah dan nafsu, kebencian dan iri hati di dalam hatimu, engkau tidak bisa naik menuju ketuhanan, engkau hanya merosot jatuh pada kultus iblis. Ketika engkau berhasrat untuk menaruh persembahan di hadapan Tuhan, sebagai ganti dari mempersembahkan material yang bersifat sementara, mari jadikan persembahanmu adalah kasih. Kasih adalah satu-satunya pedoman perilaku yang bersifat menyeluruh. Kasih bukanlah barang dagangan; jangan tawar menawar biayanya. Biarkan kasih itu mengalir dengan bening dari hati, sebagai aliran kebenaran, sebuah sungai kebijaksanaan. Jangan biarkan kasih keluar dari kepala, dan tidak juga lidah. Biarkan kasih itu muncul, penuh dan bebas dari hati. Ini adalah kewajiban tertinggi dari setiap orang darimu, nilai ketuhanan yang paling mulia. Awali hari dengan kasih. Jalani hari dengan kasih. Isi hari dengan kasih. Habiskan hari dengan kasih. Akhiri hari dengan kasih. Ini adalah jalan menuju Tuhan. - Divine Discourse, Jul 29, 1969

-BABA

Thought for the Day - 7th July 2020 (Tuesday)

The reality is cognisable everywhere; why, it is evident most in oneself, when you earnestly seek it. You can experience it, even while performing selflessly your duty to yourself and others. I shall indicate to you today, four directives for sanctifying your lives and purifying your mind, so that you can contact the God within you. Tyaja durjana samsargam (give up the company of the wicked); Bhaja Sadhu Samagamam (welcome the chance to be among the good); Kuru punyam ahoratram (do good deeds both day and night); and Smara nithyam-anityatam (remember which is lasting and which is not). When one does not attempt to transform oneself thus, one is likely to blame God for one’s sorrows, instead of blaming one’s own unsteady faith! Such a person blames God because he or she announces oneself as a devotee too soon, and expects plentiful grace. Grace cannot be claimed by such; God must accept the devotee as His own. 


Kenyataan yang sejati dapat dipercaya dimana saja; mengapa, ini adalah yang paling jelas di dalam dirimu sendiri, ketika engkau dengan sungguh-sungguh mencarinya. Engkau dapat mengalaminya, bahkan ketika engkau sedang melakukan kewajibanmu yang tanpa pamrih kepada dirimu sendiri dan juga orang lain. Aku akan menunjukkan kepadamu hari ini, empat petunjuk untuk menyucikan hidupmu dan memurnikan pikiranmu, sehingga engkau dapat terhubung dengan Tuhan di dalam dirimu. Tyaja durjana samsargam (lepaskan pergaulan dengan orang yang jahat); Bhaja Sadhu Samagamam (sambutlah kesempatan yang ada diantara orang baik); Kuru punyam ahoratram (lakukan perbuatan baik siang dan malam); dan Smara nithyam-anityatam (ingat yang mana kekal dan tidak kekal). Ketika seseorang tidak melakukan usaha untuk merubah dirinya sendiri, maka dia cenderung untuk menyalahkan Tuhan atas penderitaannya, dan bukannya menyalahkan keyakinannya yang goyah! Orang seperti itu yang menyalahkan Tuhan karena dia terlalu cepat menyebut dirinya sebagai seorang bhakta, dan mengharapkan rahmat yang berlimpah. Rahmat tidak bisa diklaim oleh orang seperti itu; Tuhan harus menerima bhakta sebagai milik-Nya sendiri. - Divine Discourse, Jul 02, 1985

-BABA

Thought for the Day - 6th July 2020 (Monday)

To render an act fit to be offered to God and pure enough to win His Grace, it must manifest Love. The brighter the manifestation, the nearer you are to God. Prema should not be modified by considerations of caste, creed, religion and so on; it cannot be tarnished by envy, malice or hate. Preserve Love from being poisoned by these evils; endeavour to cultivate hatred-less, distinction-free feelings. The root of all religions, substance of all scriptures, rendezvous of all roads, inspiration of all individuals is the Principle of Prema (Love). It is the firmest foundation for your life’s mission. It is the Light that ensures peace and prosperity of the World. Fill every word of yours with Love, fill every act of yours with Love. The word that emerges from your tongue should not stab like the knife, nor wound like an arrow. It must be a foundation of sweet nectar, a soft path of blossoms, and must shower peace and joy. 


Untuk melakukan sebuah tindakan yang layak untuk dipersembahkan kepada Tuhan dan cukup suci untuk mendapatkan rahmat-Nya, perbuatan itu harus mewujudkan kasih. Semakin cerah perwujudannya, semakin dekat dirimu dengan Tuhan. Prema tidak boleh dibatasi dengan pertimbangan kasta, kepercayaan, agama, dan sebagainya; tidak bisa dinodai oleh iri hati, kedengkian atau kebencian. Pertahankan kasih agar tidak diracuni oleh kejahatan-kejahatan ini; berusahalah untuk menumbuhkan perasaan yang kurang akan kebencian, bebas perbedaan. Akar semua agama, dasar dari semua naskah suci, pertemuan semua jalan, inspirasi semua individu adalah prinsip Prema (cinta kasih). Ini adalah landasan paling kuat untuk misi hidupmu. Adalah cahaya yang menjamin kedamaian dan kemakmuran dunia. Isilah setiap kata-katamu dengan kasih, penuhi setiap tindakanmu dengan kasih. Kata yang muncul dari lidah tidak boleh menusuk seperti pisau, atau melukai seperti panah. Kata-kata itu harus menjadi dasar nektar yang manis, jalan lembut yang berkembang, dan harus melimpahkan kedamaian dan suka cita. - Divine Discourse, Jul 29, 1969.

-BABA

Sunday, July 5, 2020

Thought for the Day - 5th July 2020 (Sunday)

Poornima means effulgent Full Moon. Guru means (Gu-ignorance; Ru-destroyer) He, who removes the darkness and delusion from the heart and illumines it with Higher Wisdom. The Moon and the Mind are inter-related as object and image. Today, the Moon is full, fair and cool, its light is fresh, pleasant and peaceful. So the light of the Mind too must be pleasing and pure. In the firmament of your Heart, Moon is the Mind. There are thick and heavy clouds, sensual desires and worldly activities, which mar your joy at the Light of the Moon. Therefore, welcome the strong breeze of Love to scatter the clouds and confer on you the cool glory of moonlight. When devotion shines in full, the sky in the heart becomes a bowl of beauty and your life is transformed into a charming avenue of Ananda. That beauty of heart, that Ananda (bliss), must be won through the mind, by engaging in Sadhana (spiritual practice). 


Poornima berarti cahaya terang bulang purnama. Guru berarti (Gu - kebodohan; Ru - penghilang) jadi Guru adalah yang menghilangkan kegelapan dan khayalan dari hati serta menerangi hati dengan kebijaksanaan yang lebih tinggi. Bulan dan pikiran adalah saling terkait seperti halnya objek dan gambar. Hari ini, bulan adalah penuh, jelas dan sejuk, cahaya bulan adalah hangat, menyenangkan dan penuh kedamaian. Jadi cahaya pikiran juga harus menyenangkan dan murni. Di dalam cakrawala hatimu, bulan adalah pikiran. Ada awan yang tebal dan berat yaitu keinginan sensual dan kegiatan duniawi, yang mana merusak suka cita dari cahaya bulan. Maka dari itu, sambutlah tiupan angin kasih yang kuat untuk memecah awan dan memberikan padamu kehangatan agung dari cahaya bulan. Ketika bhakti bersinar secara penuh, langit di dalam hatimu menjadi sebuah mangkuk keindahan dan hidupmu dirubah menjadi sebuah jalan besar kebahagiaan yang mempesona. Keindahan hati dan kebahagiaan harus dapat diperoleh melalui pikiran dengan menjalani Sadhana (Latihan spiritual). - Divine Discourse, Jul 29, 1969.

-BABA

Saturday, July 4, 2020

Thought for the Day - 4th July 2020 (Saturday)

Your time must be used not only in the task of collecting information and earning certain skills that will give you an income on which you can live; it must also be used to acquire the art of being content and calm, collected and courageous. You must also cultivate an ardent thirst for knowing the truth of the world and of your own Self. Let your words be like honey; your hearts be as soft as butter! Your outlook must be like the lamp - illumining, not confusing. Be like the umpire on the football field, watching the game, judging the play according to the rules laid down, unaffected by success or reverse of one team vs another! Remember, you are all pilgrims, moving along this land of action (Karma kshetra) to the goal of land of righteousness (Dharma kshethra). Be humble and strong to resist temptation. Do not yield like cowards to the sly insinuations of the senses. 


Waktumu harus digunakan tidak hanya dalam tugas mengumpulkan informasi dan mendapatkan keahlian tertentu yang akan memberikanmu pendapatan untuk engkau bisa hidup; waktumu seharusnya juga digunakan untuk mendapatkan seni bersyukur dan tenang, pengendalian diri dan berani. Engkau juga harus meningkatkan rasa haus yang mendalam untuk mengetahui kebenaran dari dunia dan kebenaran dari Jati dirimu sendiri. Biarkan kata-katamu seperti halnya madu; hatimu selembut mentega! Pandanganmu harus seperti lentera – menerangi dan tidak membingungkan. Jadilah seperti wasit dalam pertandingan sepak bola, menyaksikan pertandingan, menilai permainan berdasarkan pada peraturan yang ada, tidak terpengaruh oleh keberhasilan atau sebaliknya pada satu team vs team yang lain! Ingatlah, engkau semua adalah peziarah, berjalan sepanjang di ladang perbuatan (Karma kshetra) menuju pada tujuan yaitu ladang kebajikan (Dharma kshethra). Jadilah rendah hati dan kuat untuk menolak godaan. Jangan menyerah seperti pengecut pada sindiran indera yang licik. -Divine Discourse, Mar 13, 1964

-BABA