Saturday, June 13, 2026

Thought for the Day - 13th June 2026 (Saturday)



The body becomes healthy by exercise and work; the mind becomes healthy by upasana (devout contemplation) and namasmarana (remembrance of the Divine), by regular, well-planned discipline, joyfully accepted and joyfully carried out. Ahimsa (non-injury) is the rice; arpitam (dedication) is the gram; prayaschittam (expiation) the raisins; paschattapam (repentance) is the jaggery. Mix all these well with the ghee of sadgunam (virtue). That is the offering you should make to your Ishtadevata (chosen deity), not the paltry stuff you make out of articles got for a paisa in the shops! The Gopis knew this secret passage to the heart of the Lord, and they realised Him quick and fast. You have heard that Krishna is Murali-Madhava, and what exactly is the murali? You must be the murali (the flute). Let the breath of Krishna pass through you, making delightful music that melts the hearts. Surrender yourself to Him; become hollow, without vasana (tendencies), and become egoless, and desireless; then, He will Himself come and pick you up caressingly and place you, the flute, to His Lips and blow His sweet breath through you. Allow Him to play whatever song He likes.


-- Divine Discourse, Sep 06, 1963

Sanctify every word and deed by filling it with Prema for whatever Name and Form you give to the Lord you love.


Tubuh menjadi sehat melalui latihan dan kerja; demikian pula, pikiran menjadi sehat melalui upasana (kontemplasi atau pemujaan yang penuh pengabdian) dan namasmarana (pengingatan terus-menerus kepada Nama Tuhan), yang dilakukan melalui disiplin yang teratur, terencana, diterima dan dijalankan dengan sukacita. Ahimsa (tidak menyakiti) sebagai nasi; arpitam (pengabdian) sebagai kacang; prayaschittam (penebusan atau kesadaran untuk memperbaiki kesalahan) sebagai kismis; paschattapam (penyesalan yang tulus atas kesalahan) sebagai gula merah. Semua bahan tersebut harus dicampur dengan ghee dari sadguna (kebajikan dan karakter luhur). Itu adalah persembahan yang engkau harus buat kepada Ishtadevata (Tuhan dalam bentuk yang kita pilih dan cintai), bukan persembahan yang kecil nilainya karena hanya berupa barang-barang yang dibeli dengan uang di toko. Para Gopi memahami rahasia jalan menuju hati Tuhan ini, sehingga mereka dapat merasakan kehadiran Krishna dengan cepat dan mendalam. Engkau sering mendengar bahwa Krishna disebut Murali-Madhava, yaitu Krishna yang memainkan seruling. Namun, apakah makna sebenarnya dari seruling itu? Engkau sendiri harus menjadi seruling tersebut. Biarkan napas Krishna mengalir melalui dirimu dan menghasilkan melodi Ilahi yang meluluhkan hati. Untuk itu, engkau harus menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan, menjadi kosong dari vasana (kecenderungan, keinginan, dan kesan-kesan duniawi), bebas dari ego, serta terbebas dari keinginan; kemudian Tuhan sendiri akan memilihmu dengan penuh kasih, meletakkan dirimu di bibir-Nya, dan meniupkan napas Ilahi melalui dirimu. Biarkan Tuhan memainkan lagu apa pun yang dikehendaki-Nya.


-- Wejangan Sai, 6 September 1963

Sucikan setiap kata dan tindakan dengan memenuhi semuanya dengan Prema, kepada Tuhan dengan nama dan wujud apa pun yang engkau cintai

Friday, June 12, 2026

Thought for the Day - 12th June 2026 (Friday)




The votary of the Karma Marga (the Path of Action) performs many actions for the welfare of the world. He participates in yajnas and yagas (ritualistic sacrifices). He is engaged in service and charitable activities. All these forms of karma are fraught with certain difficulties. To perform sacrifices, one must be acquainted with the Vedic texts. This is not easy for laymen. The Jnana Marga (the Path of Knowledge) calls for knowledge of the scriptures and several other kinds of knowledge, which together lead to Atmajnana (Knowledge of the Self). Jnana has been defined as Advaita Darshanam (the awareness of the One Cosmic Consciousness). It means recognising unity in diversity. It is not easy to experience this unity. The path of Yoga, which is concerned with control of the mind, is equally difficult. It calls for rigorous control of the senses. One has to overcome many difficulties, trials and tribulations. Very few have the mental and spiritual strength to face these difficulties and ordeals. The path of Yoga is thus beset with many hurdles. Bhakti (the Path of Devotion) is the easiest path for all. It does not call for mastery of the scriptures. It does not enjoin the performance of rituals and sacrifices. The elusive quest for unity in diversity is avoided. By cultivating love for God, the senses come under natural self-discipline.


-- Divine Discourse, Mar 06, 1989

The foremost path is the path of complete surrender to the Lord for earning His love and grace.


Pengikut karma marga (jalan tindakan) melakukan banyak perbuatan untuk kesejahteraan dunia. Mereka mengikuti yajna dan yaga (upacara persembahan suci), melakukan pelayanan, serta berbagai kegiatan amal. Namun, semua bentuk karma tersebut memiliki tantangan tertentu. Untuk melaksanakan pengorbanan suci dengan benar, seseorang harus memahami kitab-kitab Weda. Hal ini tidak mudah bagi orang awam. Jnana marga (jalan pengetahuan) menuntut pemahaman mendalam terhadap kitab-kitab suci serta berbagai bentuk pengetahuan yang pada akhirnya membawa seseorang pada Atma Jnana, yaitu pengetahuan tentang Diri Sejati. Jnana didefinisikan sebagai Advaita Darshanam, yakni kesadaran akan satu kesadaran kosmis. Ini berarti mampu melihat kesatuan di tengah segala keberagaman. Pengalaman akan kesatuan ini bukanlah hal yang mudah untuk dicapai. Yoga marga (jalan pengendalian pikiran) juga merupakan jalan yang sulit. Jalan ini menuntut pengendalian yang ketat terhadap indra. Seorang pencari spiritual harus melewati banyak rintangan, ujian, dan kesulitan. Sangat sedikit orang yang memiliki kekuatan mental dan spiritual yang cukup untuk menghadapi seluruh proses tersebut. Oleh sebab itu, jalan yoga dipenuhi dengan berbagai tantangan. Bhakti marga (jalan pengabdian) merupakan jalan yang paling mudah dan dapat ditempuh oleh semua orang. Jalan ini tidak mengharuskan seseorang menguasai kitab-kitab suci. Jalan ini juga tidak mewajibkan pelaksanaan ritual dan pengorbanan. Upaya yang sulit untuk mencapai kesatuan dalam keberagaman dihindari. Ketika seseorang menumbuhkan kasih kepada Tuhan, indra-indranya secara alami akan berada dalam pengendalian diri.


-- Wejangan Sai, 6 Maret 1989

Jalan yang paling utama adalah jalan penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan untuk memperoleh kasih dan anugerah-Nya. 

Thursday, June 11, 2026

Thought for the Day - 11th June 2026 (Thursday)



There is one common quality present in all living beings: Moha (attachment). This quality is present equally in human beings too. But humans alone have the competence to overcome this moha and attain moksha (liberation). The maya (illusion) which envelops man drives him to take to wrong courses. Maya has three qualities: Satwa, Rajas, and Tamas (purity, passion, and inertia). Through these qualities, man tends to forget his divinity and humanness and behaves like an animal. The three qualities of maya and the three forms of moha combine to make man a demon. The three forms of moha are the desire for wealth, attachment to the wife, and attachment to children. These three make man a slave to moha. The man who conquers these three desires can transcend moha. When moha declines, moksha becomes attainable. Liberation is the elimination of moha (attachment). Everyone should strive to bring these three desires under control.


- Divine Discourse, Apr 15, 1995

Once man frees himself from Moha (attachment), he will experience real happiness.


Ada satu sifat yang dimiliki oleh semua makhluk hidup, yaitu moha (keterikatan). Sifat ini juga terdapat pada manusia. Namun, manusia memiliki kemampuan khusus untuk mengatasi moha dan mencapai moksha (pembebasan). Maya (khayalan) yang menyelimuti manusia mendorongnya untuk menempuh jalan yang keliru. Maya memiliki tiga sifat atau guna, yaitu sattva (kemurnian), rajas (nafsu dan aktivitas), dan tamas (kemalasan dan kegelapan batin). Karena pengaruh ketiga guna ini, manusia sering melupakan hakikat ketuhanannya dan kemanusiaannya, lalu bertindak seperti binatang. Ketiga sifat maya dan tiga wujud moha bergabung sehingga dapat menjerumuskan manusia menjadi raksasa. Tiga bentuk moha adalah keinginan pada kekayaan, keterikatan pada istri, dan keterikatan pada anak-anak. Ketiga wujud ini dapat menjadikan manusia budak dari moha. Seseorang yang mampu menaklukkan ketiga keinginan tersebut akan melampaui moha. Ketika moha berkurang, maka moksha menjadi dapat dicapai. Pembebasan sejati adalah lenyapnya keterikatan (moha). Karena itu, setiap orang hendaknya berusaha mengendalikan ketiga bentuk keinginan dan keterikatan tersebut.


- Wejangan Sai, 15 April 1995

Ketika manusia membebaskan dirinya dari moha_ (keterikatan), ia akan mengalami kebahagiaan yang sejati.

Wednesday, June 10, 2026

Thought for the Day - 10th June 2026 (Wednesday)



On various occasions, the Lord subjects the devotees to different kinds of tests and trials with a view to raising them spiritually to a higher level. The Lord, who is the source of all wisdom, will confer illumination only on those who approach Him. Those who feel that Bhagawan has not seen them or spoken to them should ask themselves how close they are mentally to Bhagawan and how near they are to the Lord in their practices. Each one should engage themselves in the process of self-enquiry. The Lord has neither agraha (anger) nor anugraha (benevolence). Even when He appears to be harsh, there is grace in that harshness. When He appears to chastise, there is compassion in it. When He seems to be angry, there is love behind it. Only those who understand the nature of the Divinity can appreciate the ways of the Divine. The Divine resorts to certain kinds of punishments to make the devotee pursue the right path and enable him to lead an ideal life. Such punishments are for the devotee's good and well-being.


-- Divine Discourse, Mar 06, 1989

Regardless of time, space, or circumstance, one should feel closeness to God - that is true Bhakti.


Pada berbagai kesempatan, Tuhan menguji para bhakta dengan berbagai macam ujian dan cobaan dengan tujuan mengangkat mereka secara spiritual ke tingkat yang lebih tinggi. Tuhan, yang merupakan sumber segala kebijaksanaan, akan menganugerahkan pencerahan kepada mereka yang mendekat kepada-Nya. Mereka yang merasa bahwa Bhagawan tidak memperhatikan mereka atau tidak berbicara kepada mereka hendaknya bertanya kepada diri mereka sendiri, seberapa dekatkah mereka kepada Bhagawan secara batin dan seberapa dekatkah mereka kepada Tuhan dalam praktik spiritual mereka. Setiap orang hendaknya melakukan introspeksi dan penyelidikan diri (self-enquiry). Tuhan sesungguhnya tidak memiliki agraha (kemarahan) maupun anugraha (keberpihakan atau perlakuan istimewa). Ketika Tuhan tampak bersikap keras, sesungguhnya terdapat kasih karunia di balik ketegasan itu. Ketika Tuhan tampak menegur atau menghukum, sesungguhnya terdapat belas kasih di dalamnya. Ketika Tuhan terlihat marah, sesungguhnya kasihlah yang melatarbelakanginya. Hanya mereka yang memahami hakikat Ketuhanan yang dapat memahami cara kerja Tuhan. Kadang-kadang Tuhan menggunakan bentuk-bentuk hukuman tertentu agar seorang bhakta kembali ke jalan yang benar dan mampu menjalani kehidupan yang ideal. Hukuman-hukuman tersebut sesungguhnya diberikan demi kebaikan dan kesejahteraan bhakta itu sendiri. 


-- Wejangan Sai, 6 Maret 1989

Apa pun waktu, tempat, dan keadaan yang dihadapi, seseorang harus tetap merasakan kedekatan dengan Tuhan. Itulah bhakti yang sejati.

Tuesday, June 9, 2026

Thought for the Day - 9th June 2026 (Tuesday)



Kuchela went to Krishna to ask for many material gifts. But on seeing the Divine face of Krishna, he forgot all his desires. On his return to his native village, he found that big mansions had sprung up at the spot of his old dwelling. Kuchela’s wife came out, finely dressed and wearing many ornaments, and greeted her husband with the remark: “Lord, see what wonderful things Shri Krishna has given to you.” Kuchela looked at everything and said: “I did not ask Bhagawan for anything. I did not speak to him about our domestic situation. Is it necessary for me to say anything to the omnipresent, all-knowing Lord?” Kuchela then described in detail to his wife how Krishna had received him in His palace and how He hugged Kuchela to His bosom and showered His love on him. “How can I describe His loving kindness? Is there anyone like him who can confer all prosperity on one after receiving a fistful of parched rice? He is Love incarnate, and Love is He.” Today, the devotee behaves differently towards God. He goes with a mountain of desires to the temple and offers a small coconut. This is not what you should offer to God. What you should offer is a pure, unsullied heart.


-- Divine Discourse, Apr 15, 1995

God needs nothing for Himself. Whatever you offer is for your own sake.


Kuchela pergi menemui Krishna untuk memohon agar mendapatkan banyak benda-benda material sebagai hadiah. Namun ketika melihat kecemerlangan wajah Krishna, ia lupa semua keinginannya. Pada ia kembali pulang ke desanya, Kuchela mendapatkan rumah besar telah berdiri di tempat kediamannya yang lama. Istri Kuchela keluar dari rumah besar itu, berpakaian dengan rapi dan mengenakan banyak perhiasan, lalu menyapa suaminya dengan berkata: “suamiku, lihatlah betapa banyak hal menakjubkan yang telah diberikan Sri Krishna kepadamu.” Kuchela memandang semuanya dan berkata: “saya tidak meminta apapun pada Bhagawan. Saya tidak berbicara pada-Nya tentang keadaan di dalam rumah kita. Apakah perlu bagiku untuk mengatakan sesuatu kepada Krishna yang Maha Tahu dan ada dimana-mana?” Kuchela kemudian menjelaskan secara detail kepada istrinya bagaimana Krishna telah menerimanya di istana-Nya dan bagaimana Krishna memeluknya dan mencurahkan kasih-Nya. “Bagaimana saya dapat menjelaskan kebaikan kasih-Nya? Adakah orang seperti Krishna yang bisa memberikan semua kesejahtraan kepada seseorang setelah menerima segenggam nasi kering? Krishna adalah perwujudan kasih, dan kasih adalah Krishna.” Hari ini, bhakta berperilaku berbeda terhadap Tuhan. Bhakta itu pergi ke tempat suci dengan segudang keinginan dan mempersembahkan sebuah kelapa kecil. Bukan itu yang seharusnya engkau persembahkan kepada Tuhan. Hal yang seharusnya engkau persembahkan adalah hati yang murni dan tak ternoda. 


-- Wejangan Sai, 15 April 1995

Tuhan tidak membutuhkan apapun bagi diri-Nya. Apapun yang engkau persembahkan adalah untuk kepentingan dirimu sendiri.

Monday, June 8, 2026

Thought for the Day - 8th June 2026 (Monday)



Some people want to have uninterrupted happiness. When you eat at 10 a.m., you do not go on eating every hour thereafter without a break. You have to give a break for the food to be digested. So also when you experience pleasure, it has to be digested before you meet with another bout of such experience. Just as you have to do some exercise to help the food to digest, you have to go through the exercise of confrontation of pain after experiencing pleasure. Therefore, you must take whatever is given by God as good for you. The mother gets the pleasure of seeing her baby after going through severe pain. If you sit in an air-conditioned room throughout the 24 hours of a day, you cannot feel the pleasure of it. Only when you come in after being away in the hot sun will you enjoy the coolness of the air-conditioned room. After the Mahabharata war was over, Krishna asked Kunti, the mother of the Pandavas, what she wanted. She requested that she should be blessed with troubles always, as only then she would be constantly remembering God, as they did when they were in the forest. She said she was not thinking of God when she was enjoying the palace life as a queen earlier. You enjoy the sweetness of chanting the Lord’s name only when you are in distress.


-- Divine Discourse, Jan 01, 1994

Life is a mixture of sorrow and joy, just as day and night. If there is no night, one cannot take the well-deserved rest after the day’s hard toil.


Beberapa orang menginginkan kesenangan yang terus-menerus tanpa jeda. Ketika engkau makan pada pukul 10 pagi, engkau tidak terus makan setiap jam tanpa henti. Tubuh memerlukan waktu agar makanan tersebut dapat dicerna. Demikian pula ketika engkau mengalami kesenangan, seseorang memerlukan waktu untuk "mencerna" pengalaman itu sebelum menerima kesenangan berikutnya. Sebagaimana dirimu harus melakukan beberapa aktivitas tertentu agar makanan dapat dicerna dengan baik, demikian pula setelah mengalami kesenangan maka engkau harus menghadapi tantangan atau kesulitan setelah mengalami kesenangan. Karena itu, apa pun yang diberikan Tuhan hendaknya diterima sebagai sesuatu yang baik bagi diri kita. Seorang ibu merasakan kegembiraan saat melihat bayinya lahir setelah melalui rasa sakit yang luar biasa. Jika seseorang duduk di ruangan ber-AC selama 24 jam penuh, ia tidak akan lagi merasakan kenikmatan kesejukannya. Hanya ketika engkau masuk ke dalam ruangan setelah berjalan di bawah terik matahari, kesejukan ruangan itu akan terasa sangat menyenangkan. Setelah perang Mahabharata berakhir, Krishna bertanya kepada Kunti, ibu para Pandawa, apa yang ia inginkan. Kunti justru memohon agar dirinya selalu diberi kesulitan, karena hanya dengan begitu ia akan selalu mengingat Tuhan, seperti yang mereka lakukan ketika berada di hutan. Dia mengatakan bahwa ia tidak memikirkan Tuhan ketika menikmati kehidupan istana sebagai seorang ratu sebelumnya. Engkau hanya merasakan manisnya mengingat dan melantunkan nama suci Tuhan ketika engkau sedang dalam kesusahan. 


-- Wejangan Sai, 01 Januari 1994

Hidup adalah perpaduan antara suka dan duka, sebagaimana siang dan malam. Jika tidak ada malam, manusia tidak akan memperoleh istirahat yang dibutuhkan setelah bekerja sepanjang hari.

Sunday, June 7, 2026

Thought for the Day - 7th June 2026 (Sunday)



The mere presence of the light is not enough. We should seek to go forward with the help of that illumination. If, having this light, we do not follow the path revealed by it, we are as unseeing as the blind. Once, Lord Krishna appeared before Surdas, the blind saint, and told him, “Surdas, if you are keen to see the world, I shall restore your sight to you at this very moment.” The great devotee that he was, Surdas replied: “Those who are endowed with eyes are really blind when they do not gaze upon Your auspicious, beautiful form. Having ears, they are nevertheless deaf when they do not choose to listen to the music of Your melodious song. Having in their hands the power to attain the Divine, they drown themselves in the ocean of Samsara (worldly life). Although you dwell in their hearts, they are deluded by the false, meretricious, and transient attraction of the world. Though they have large eyes, they are not able to see You. Hence, I have no need for such hearts, such eyes, or such ears. Give me, O Lord, ears that will listen to Your song, eyes that will see Your beautiful form, and a heart in which You are installed,” pleaded Surdas.


-- Divine Discourse, Jul 14, 1984

Equip yourselves with a clear eye through detachment and love, sharpen your discrimination so that it has no prejudice or predilection, then you can see God in you, around you, and in all that you know, feel and are.


Kehadiran cahaya saja tidaklah cukup. Kita harus menggunakan cahaya itu untuk melangkah maju di jalan yang diteranginya. Jika dengan memiliki cahaya ini, tetapi kita tidak mengikuti jalan yang ditunjukkannya, maka kita tidak berbeda dengan orang buta. Suatu ketika, Sri Krishna menampakkan diri di depan Surdas, seorang suci yang buta. Krishna berkata kepadanya: "Surdas, jika engkau ingin melihat dunia, saat ini juga Aku dapat mengembalikan penglihatanmu." Namun Surdas yang merupakan seorang bhakta yang sejati menjawab: "Mereka yang diberkati dengan mata sesungguhnya tetap buta jika mereka tidak memandang keindahan-Mu yang suci. Mereka yang memiliki telinga tetap tuli jika mereka tidak mendengarkan alunan musik nyanyian-Mu yang merdu. Mereka yang memiliki kemampuan untuk mencapai Tuhan justru tenggelam dalam lautan kehidupan duniawi (samsara). Walaupun Engkau bersemayam di dalam hati mereka, tetapi mereka tertipu oleh daya tarik dunia yang semu dan sementara. Walaupun mereka memiliki mata yang sehat, mereka tidak mampu melihat-Mu. Karena itu, aku tidak memerlukan mata, telinga, atau hati seperti itu. Berkati aku oh Tuhan dengan telinga yang dapat mendengar nyanyian-Mu, mata yang dapat melihat wujud-Mu yang indah, dan hati yang hanya dipenuhi oleh-Mu." Demikianlah doa Surdas kepada Krishna.


-- Wejangan Sai, 14 Juli 1984

Lengkapilah dirimu dengan penglihatan yang jernih melalui tanpa keterikatan dan kasih. Tajamkan kemampuan membedakan yang benar dan yang salah tanpa prasangka maupun kegemaran. Dengan demikian, engkau akan dapat melihat Tuhan di dalam dirimu, di sekitarmu, dan dalam segala sesuatu yang engkau ketahui, rasakan, dan alami.

Saturday, June 6, 2026

Thought for the Day - 6th June 2026 (Saturday)



Narada wanted to teach Satyabhama the supreme greatness of some human qualities of which she was not aware. He brought about a situation in which Krishna was to be weighed in a balance and acquired by Satyabhama, by placing offerings in the other balance. All her jewels and wealth could not tilt the balance in her favour. Ultimately, she prayed to Rukmini to come to her rescue. Rukmini came, prayed to Krishna, saying, “If it is true that God submits Himself to a devotee who offers with love a leaf, a flower, a fruit, or some water, let my tulasi leaf turn the scales against Krishna.” The esoteric meaning of this prayer is that the body should be considered a leaf, the heart a flower, virtue as fruit, and the tears of joy flowing from the devotee’s eyes as the water offered to the Divine in a spirit of complete surrender. Tears should be shed only for God and not for anyone else. Whatever one’s grief, one should not shed tears. Tears may flow out of joy or enthusiasm or ecstasy, but not from a feeling of sorrow. Narada enacted the entire scene to demonstrate to Satyabhama what glorious qualities Rukmini possessed and the greatness of her devotion. He told Satyabhama: “The Lord will not succumb to wealth. He will yield only to goodness.”


-- Divine Discourse, Apr 15, 1995

God, who is the embodiment of love, can be attained only through love, just as the effulgent Sun can be seen only through its own light.


Narada ingin mengajarkan kepada Satyabhama tentang keagungan beberapa kualitas luhur dari manusia yang belum ia pahami sepenuhnya. Untuk itu, ia menciptakan suatu keadaan di mana Krishna harus ditimbang dalam sebuah timbangan, dan Satyabhama dapat "memperoleh" Krishna dengan meletakkan persembahan pada sisi timbangan yang lain. Satyabhama menaruh seluruh perhiasan dan kekayaannya. Namun semua itu tidak mampu membuat timbangan berpihak kepadanya. Pada akhirnya, ia memohon bantuan Rukmini. Rukmini datang dan berdoa kepada Krishna: "Jika benar Tuhan menyerahkan diri-Nya kepada bhakta yang mempersembahkan dengan kasih sehelai daun, sekuntum bunga, sebutir buah, atau sedikit air, maka biarlah sehelai daun tulasi yang kupersembahkan ini lebih berat daripada Krishna." Makna terdalam dari peristiwa ini sangatlah luhur. Daun melambangkan tubuh, bunga melambangkan hati, buah melambangkan kebajikan, air melambangkan air mata kebahagiaan yang mengalir dari seorang bhakta yang berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan. Air mata seperti itu seharusnya ditumpahkan karena kerinduan kepada Tuhan dan bukan untuk siapapun selain Tuhan. Apa pun kesedihan yang dialami, seseorang tidak boleh meneteskan air mata. Air mata boleh mengalir karena kegembiraan, antusiasme, atau kebahagiaan yang meluap-luap, tetapi bukan karena perasaan duka. Narada memeragakan seluruh adegan tersebut untuk menunjukkan kepada Satyabhama betapa mulianya kualitas yang dimiliki Rukmini dan betapa mendalam bhaktinya. Narada berkata kepada Satyabhama: “Tuhan tidak tunduk pada kekayaan. Tuhan hanya dapat ditaklukkan oleh kebajikan.”


-- Wejangan Sai, 15 April 1995

Tuhan, yang merupakan perwujudan Kasih, hanya dapat dicapai melalui kasih; sebagaimana matahari yang bercahaya hanya dapat dilihat melalui cahayanya sendiri. 

Friday, June 5, 2026

Thought for the Day - 5th June 2026 (Friday)



A person whose heart is filled with good thoughts and noble intentions will put education and money to good use. On the other hand, a person whose heart is filled with evil thoughts, bad qualities, and wicked feelings will put both education and money to evil use. It is only the mind of man which is the primary cause of good or bad use of education and wealth. Here is an example to illustrate this. If you put water in a red-coloured bottle, the colour of the water will appear to be red. If you put it in a blue-coloured bottle, it will appear to be blue. In the same way, whatever is the quality of the human heart, education and money will assume that quality only. If a man is filled with rajoguna (quality of passion), the education and wealth he acquires will assume rajoguna. If a man is filled with sattvaguna (quality of serenity), the education and money acquired by him will also have a similar quality. The qualities of man are responsible for making education and money either good or bad. A man may have many types of powers, but if he lacks the power of virtues, his education and money will be absolutely useless.


- Divine Discourse, Jun 28, 1996

Life has to be spent in accumulating virtue and safeguarding virtue, not riches.


Seseorang yang hatinya dipenuhi dengan pikiran baik dan niat mulia akan memanfaatkan pendidikan dan uang untuk tujuan yang baik. Sebaliknya, seseorang yang hatinya dipenuhi dengan pikiran buruk, sifat buruk, dan perasaan keji akan memanfaatkan baik pendidikan maupun uang untuk tujuan yang buruk (tidak baik). Hanya pikiran manusia-lah yang menjadi penyebab utama dari baik atau buruknya penggunaan pendidikan dan kekayaan. Berikut adalah sebuah contoh untuk mengilustrasikan hal ini. Jika engkau memasukkan air ke dalam botol yang berwarna merah, warna air tersebut akan tampak merah. Jika engkau memasukkannya ke dalam botol yang berwarna biru, air tersebut akan tampak biru. Demikian pula, apapun kualitas dari hati manusia, pendidikan dan uang akan mengikuti kualitas tersebut. Jika seseorang dipenuhi dengan rajoguna (sifat/kualitas nafsu/gairah), pendidikan dan kekayaan yang diperolehnya akan memiliki sifat rajoguna. Jika seseorang dipenuhi dengan sattvaguna (sifat/kualitas ketenangan), pendidikan dan uang yang diperolehnya juga akan memiliki kualitas yang serupa. Kualitas/sifat manusialah yang bertanggung jawab apakah pendidikan dan uang menjadi baik atau buruk. Seseorang mungkin memiliki berbagai jenis kekuatan, tetapi jika ia kekurangan kekuatan kebajikan, maka pendidikan dan uangnya akan menjadi sama sekali tidak berguna.


- Divine Discourse, Jun 28, 1996

Hidup harus dihabiskan untuk mengumpulkan kebajikan dan menjaga kebajikan, bukan kekayaan

Wednesday, June 3, 2026

Thought for the Day - 3rd June 2026 (Wednesday)



In this worldly life, love manifests in several forms, such as the love between mother and son, husband and wife, and between relatives. This love based on physical relationships arises out of selfish motives and self-interest. But the love for the Divine is devoid of any trace of self-interest. This is called bhakti. One characteristic of this love is to give and not to receive. Secondly, love knows no fear. Thirdly, it is only for love’s sake and not for a selfish motive. All these three angles of love jointly connote prapatti (Surrender). When one revels in this attitude of prapatti, one experiences the bliss of the Divine. For this, the prime requisite is kshama (forbearance). Only a person who has this attitude of kshama can be considered to be endowed with sacred love. This cannot be learned from textbooks. Nor can it be acquired from preceptors nor from anyone else. It is to be cultivated by oneself in times of difficulties, trials and tribulations that one is forced to meet. When you are confronted with problems and difficulties, you should not get upset and become victims of depression, which is a sign of weakness. In such a situation, you should bring tolerance and an attitude of forgiveness into play and should not get agitated, giving rise to anger, hatred and a revengeful attitude. You are embodiments of strength and not weakness.


-- Divine Discourse, Jan 01, 1994

The quality of kshama (forbearance) is the greatest power in a human being. If one loses this quality, he becomes demonic


Dalam kehidupan duniawi ini, kasih mewujud dalam berbagai bentuk, seperti kasih antara ibu dan anak, suami dan istri, maupun di antara kerabat. Namun kasih yang didasarkan pada hubungan fisik muncul dari motif pribadi dan kepentingan diri. Sebaliknya, kasih kepada Tuhan sama sekali tidak mengandung kepentingan diri. Kasih seperti inilah yang disebut bhakti. Karakteristik pertama dari kasih sejati adalah memberi dan bukan untuk menerima. Karakteristik kedua dari kasih sejati adalah tidak mengenal rasa takut. Karakteristik ketiga dari kasih sejati adalah mengasihi demi kasih itu sendiri dan bukan karena niat mementingkan diri sendiri. Ketiga aspek ini bersama-sama membentuk apa yang disebut prapatti atau penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Ketika seseorang hidup dalam semangat prapatti, ia akan mengalami kebahagiaan Ilahi. Namun untuk mencapai pengalaman ini, ada satu prasyarat, yaitu kshama (ketabahan). Hanya orang yang memiliki sikap kshama dapat diberkati dengan kasih yang suci. Kualitas ini tidak dapat dipelajari hanya dari buku, tidak dapat diperoleh dari guru, dan tidak dapat diberikan oleh orang lain. Kshama harus dikembangkan sendiri melalui pengalaman hidup, terutama saat menghadapi kesulitan, cobaan, penderitaan, dan kekecewaan. Ketika engkau menghadapi masalah dan kesulitan, jangan menjadi sedih dan menjadi korban dari depresi, karena itu adalah tanda dari kelemahan. Sebaliknya, dalam situasi seperti itu munculkan toleransi, dan sikap memaafkan. Jangan biarkan kesulitan berubah menjadi kemarahan, kebencian, atau keinginan untuk membalas. Engkau adalah perwujudan kekuatan, dan bukan kelemahan.


-- Wejangan Sai, 01 Januari 1994

Kualitas dari kshama (ketabahan) adalah kekuatan terbesar yang dimiliki manusia. Ketika seseorang kehilangan kualitas ini, ia menjadi jahat dan kejam.

Tuesday, June 2, 2026

Thought for the Day - 2nd June 2026 (Tuesday)

 


I want to draw your attention to something very important. This is the root cause for our country, Bharat, coming to such a sorry state today. People do not perform their duty properly. What is the use of such people listening about bhakti (devotion)? Be it a doctor or a lawyer, it is most important that they perform their duty with dedication. If the patients are suffering and the doctors run to the Mandir to participate in the Arati of Swami, can this be devotion? It is no devotion at all. It is sheer madness and foolishness. Look after the patients under your charge with sincerity and earnestness so that they do not undergo any suffering at all. This is your Seva, this is your duty. People who neglect their duty this way can never develop devotion, however much they listen about devotion. What is the use of pouring payasam (sweet pudding) into a vessel that has ten holes? The vessel will always remain empty, however much is the payasam you pour into it. Likewise, if your heart has the holes of selfishness and self-interest, what is the use of stuffing it with devotion? Therefore, what is important is that you should perform your duty properly and sincerely.


-- Divine Discourse, Jun 28, 1996

A true aspirant will carry out every task assigned to him as if it is an act of worship by which the Lord will be pleased, through which he can approach the Pedestal of God.


Aku ingin menarik perhatianmu pada sesuatu yang sangat penting. Inilah akar penyebab mengapa bangsa Bharat mengalami keadaan yang sangat menyedihkan hari ini. Banyak orang tidak menjalankan kewajibannya dengan baik. Lalu apa gunanya seseorang mendengarkan ceramah tentang bhakti (pengabdian)? Baik sebagai seorang dokter atau pengacara, hal yang terpenting adalah mereka menjalankan tugas mereka dengan penuh dedikasi. Sebagai contoh, jika para pasien sedang menderita, tetapi para dokter meninggalkan mereka untuk bergegas pergi ke Mandir demi mengikuti Arati Swami, apakah itu dapat disebut bhakti? Ini sama sekali bukanlah bhakti. Ini melainkan kebodohan dan kesalahpahaman tentang makna dari bhakti. Seorang dokter harus merawat pasien yang menjadi tanggung jawabnya dengan penuh ketulusan dan kesungguhan agar mereka tidak mengalami penderitaan. Itulah seva (pelayananmu) dan itu adalah kewajibanmu. Orang yang mengabaikan kewajibannya seperti ini tidak akan pernah mengembangkan bhakti, sebanyak apa pun ia mendengar ceramah tentang bhakti. Bayangkan sebuah bejana yang memiliki sepuluh lubang. Apa gunanya terus menuangkan payasam (bubur manis) ke dalamnya? Sebanyak apa pun yang dituangkan, bejana itu akan selalu kosong. Demikian pula, jika hatimu memiliki lubang-lubang berupa keegoisan dan kepentingan pribadi, apa gunanya mengisinya dengan ajaran tentang bhakti? Karena itu, yang paling penting adalah menjalankan kewajiban dengan benar, jujur, dan penuh ketulusan.


-- Wejangan Sai, 28 Juni 1996

Seorang pencari spiritual yang sejati akan melaksanakan setiap tugas yang diberikan kepadanya seolah-olah itu adalah suatu bentuk ibadah yang akan menyenangkan Tuhan. Dengan sikap seperti itu, setiap pekerjaan menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Monday, June 1, 2026

Thought for the Day - 1st June 2026 (Monday)



There is a lot of difference between charity and sacrifice. Some people, however, do not observe any difference between them. This is a great mistake. People may give a little bit in charity of what they have, keeping almost their entire wealth intact to fulfil their selfish ends. There is selfishness and self-interest in this act of charity. But there is not even an iota of selfishness in an act of sacrifice. Sacrifice lies in giving to others what you like most and love dearly. What is it that is dearest to man? That is his life. Nothing else is dearer to man than his life. What then is the real meaning of sacrifice? It means to give even one’s own life for the sake of others. Many people boast that they have performed a great act of sacrifice by giving their land in charity to others. But actually, they may have done it for the sake of name and fame. It is not a sacrifice in the true sense. “Immortality is not attained through action, progeny or wealth; it is attained only by sacrifice” - this is one of the most important teachings of Indian culture. True sacrifice is changeless and matchless. It makes a man immortal. The body is unreal and mortal. It is bound to perish and disintegrate. But Atma is imperishable, eternal, changeless, and immortal. One can have the experience of the immortal Atma only through sacrifice.


-- Divine Discourse, , Jun 28, 1996

Tyaga (sacrifice) is the readiness to part, with a smile, the things which one loves, including one’s life itself.


Ada perbedaan yang sangat besar antara amal dan pengorbanan. Namun banyak orang tidak mengamati perbedaan tersebut. Ini adalah kekeliruan yang serius. Seseorang dapat memberikan sebagian kecil dari hartanya sebagai amal, sementara sebagian besar kekayaannya tetap disimpan untuk memenuhi kepentingan dan tujuan dirinya. Dalam tindakan amal seperti ini masih terdapat unsur kepentingan diri dan egoisme. Sebaliknya, dalam pengorbanan tidak ada sedikit pun unsur keegoisan. Pengorbanan berarti memberikan kepada orang lain sesuatu yang paling engkau sukai dan paling berharga. Lalu, apakah yang paling berharga bagi manusia? Tidak ada yang lebih berharga daripada hidupnya sendiri. Oleh karena itu, makna tertinggi dari pengorbanan adalah kesediaan untuk menyerahkan bahkan hidup sendiri demi kebaikan dan kesejahteraan orang lain. Banyak orang membanggakan diri karena telah menyumbangkan tanah atau hartanya dan menganggap itu sebagai pengorbanan besar. Namun sering kali tindakan tersebut dilakukan demi nama baik, penghargaan, atau ketenaran. Jika masih ada motif seperti itu, maka tindakan tersebut belum dapat disebut sebagai pengorbanan sejati. "Keabadian tidak dicapai melalui perbuatan, keturunan, ataupun kekayaan; keabadian hanya dicapai melalui pengorbanan” – ini adalah salah satu ajaran penting dalam budaya spiritual India. Pengorbanan yang sejati bersifat tidak berubah dan tidak tertandingi. Pengorbanan itulah yang mengangkat manusia menuju keabadian. Tubuh bersifat sementara dan suatu hari akan hancur. Namun Atma adalah kekal, tidak berubah, tidak dapat binasa, dan abadi. Pengalaman akan Atma yang abadi hanya dapat dicapai melalui pengorbanan.


-- Wejangan Sai, 28 Juni 1996

Tyaga (pengorbanan) adalah kesiapan untuk melepaskan dengan senyuman hal-hal yang paling dicintai, bahkan bila itu adalah hidupnya sendiri.

Sunday, May 31, 2026

Thought for the Day - 31st May 2026 (Sunday)



Discipline must be followed while practising dhyanam (meditation). In fact, following discipline is the most important and essential thing for meditation. If the spiritual aspirant follows discipline well, he can achieve success quickly. Dhyanam (Meditation) is a first-class cure for Bhava-roga (Illness of worldly existence). Along with it, there is another important thing which needs to be cultivated; its name is ‘Trupti’ (Contentment). If there is contentment in the mind, one enjoys an endless celebration. Desires make the mind waver; desire is like an all-consuming fire in the body, which will destroy man, slowly and surely. The antidote to desire is contentment. The joy of contentment is the royal road to meditation. Just as a traveller who has trudged along for miles in the scorching sun feels calm and refreshed when he takes a bath in the limpid waters of a cool and shady lake, so too the unfortunate individual struggling in the scorching heat of desires feels happy and relieved fully when he bathes in the lake of contentment.


- Dhyana Vahini, Ch 14

One who wishes to realise the Divine should cultivate contentment.


Disiplin harus ditegakkan saat mempraktikkan dhyanam (meditasi). Bahkan, menegakkan disiplin adalah hal yang paling penting dan mendasar bagi meditasi. Jika seorang peniti jalan spiritual (spiritual aspirant) menjaga disiplin dengan baik, ia dapat mencapai keberhasilan dengan cepat. Dhyanam (Meditasi) adalah obat paling utama untuk menyembuhkan Bhava-roga (penyakit keterikatan duniawi). Di samping itu, ada hal penting lainnya yang perlu ditumbuhkan; namanya adalah ‘Trupti’ (Kepuasan batin). Jika ada kepuasan di dalam pikiran, seseorang akan menikmati kebahagiaan yang tiada putusnya. Keinginan-keinginan membuat pikiran bimbang; keinginan bagaikan api yang menghanguskan di dalam tubuh, yang akan menghancurkan manusia secara perlahan namun pasti. Obat penawar bagi keinginan adalah kepuasan batin. Sukacita dari kepuasan batin adalah jalan utama menuju meditasi. Sama seperti seorang musafir yang telah berjalan bermil-mil di bawah terik matahari merasa tenang dan segar kembali saat membasuh diri di air jernih dari danau yang sejuk dan rindang, demikian pula jiwa yang malang yang sedang berjuang di tengah panasnya kobaran keinginan akan merasa bahagia dan terbebas sepenuhnya saat ia membasuh diri di dalam danau kepuasan batin.



Dhyana Vahini, Bab 14

Ia yang rindu untuk menyadari Keilahian harus menumbuhkan kepuasan batin.

Saturday, May 30, 2026

Thought for the Day - 30th May 2026 (Saturday)



No quarter should be given for propaganda which sets up one religion against another. All the diverse communities in the nation should be united. Mankind should become one family. The world will then become a paradise. If differences are allowed to grow, the nation will disintegrate. It is said that atom bombs will reduce the world to ashes. But those who are promoting religious bigotry and hatred are doing damage worse than what atom bombs can do. They are destroying love and compassion in human hearts. They are breaking up mankind into fragments. There is no greater sin than this. What the world needs today is the redeeming and unifying force of love, love which continually expands and embraces more and more people. By giving up narrow ideas regarding one’s religion, nation or caste, by developing a broad outlook and cultivating the company of the good, you can elevate your life and make it meaningful and satisfying.

Om Sai Ram, Renungan hari ini, Jumat, 29 Mei 2026


- Divine Discourse, Dec 25, 1985

All religions, all scriptures, all spiritual teachings point only to one truth: the unity of divinity.


Tidak boleh ada ruang sedikit pun bagi propaganda yang memicu pertentangan antaragama. Seluruh komunitas yang beragam di negara ini harus bersatu. Umat manusia hendaknya menjadi satu keluarga yang utuh. Dengan demikian, dunia ini akan berubah menjadi surga. Namun, jika benih-benih perbedaan dibiarkan berkembang, maka bangsa ini akan hancur berantakan. Dikatakan bahwa bom atom akan menghancurkan dunia menjadi abu. Namun, mereka yang menyebarkan fanatisme serta memupuk kebencian berdasarkan agama, justru menimbulkan kerusakan yang lebih parah daripada yang dapat ditimbulkan oleh bom atom. Mereka menghancurkan cinta-kasih serta welas asih di hati manusia. Mereka memecah-belah umat manusia menjadi berkeping-keping. Tidak ada dosa yang lebih besar daripada perbuatan ini. Apa yang dibutuhkan dunia saat ini adalah kekuatan cinta-kasih yang menyelamatkan dan mempersatukan, cinta-kasih yang terus meluas dan merangkul semakin banyak orang. Dengan melepaskan pandangan sempit mengenai agama, bangsa, maupun golongan, serta dengan mengembangkan wawasan yang luas dan senantiasa menjalin pergaulan dengan orang-orang yang baik, engkau dapat meningkatkan kualitas hidupmu dan menjadikannya bermakna serta memuaskan.


- Divine Discourse, Dec 25, 1985

Semua agama, semua kitab suci, dan semua ajaran spiritual hanya mengarah pada satu kebenaran: Kesatuan dari Keilahian

Friday, May 29, 2026

Thought for the Day - 29th May 2026 (Friday)



In this world of sensory objects, the one who grieves when he is in the midst of troubles and exults when he is joyous can be compared to a piece of iron. If you put a piece of iron in the fire, it becomes soft and red, and loses its intrinsic characteristics. When you take it out, it becomes hard and black, and gets back its original form. Such people can be said to be of the lowest type. On the other hand, if one feels happy in the midst of sorrow, such an individual can be compared to gold. If you take a piece of gold and put it in the fire, it gets rid of its impurities. In the same manner, the one who finds the bliss within when subjected to sorrow can be said to be like gold. An individual who remains equal-minded in the midst of joy or grief can be compared to a diamond. This means that this individual, whatever sorrows he may face, whatever troubles or difficulties may come to him, he considers it his duty to develop equal-mindedness and bliss. In the case of a diamond, you may try to cut it in many ways, but with each cut, its value only increases. The fourth kind of individual is well above sorrows and pleasures, transcends the Gunas and experiences Brahmananda as one's very nature. Of these four types, only the Atmic nature is true and eternal, while the other three relate to the world and are subject to change. The individual who wishes to experience this nature of the Atma should not be bound by worldly fears and attachments.


- Summer Showers, Jun 11, 1973

Our body is like sugarcane. Troubles are the process of refinement, which produces the sweet juice of Divinity within us.


Di dunia yang penuh dengan objek-objek indrawi ini, seseorang yang dirundung duka saat didera kesulitan dan bersukaria secara berlebihan saat dilingkupi kegembiraan, dapat diibaratkan seperti sebatang besi. Jika engkau memasukkan sebatang besi ke dalam kobaran api, ia akan menjadi lunak, memerah, dan kehilangan sifat aslinya. Namun, ketika engkau mengeluarkannya dari api, ia kembali menjadi keras, hitam, dan kembali ke wujudnya semula. Orang-orang dengan kondisi seperti ini dapat diibaratkan berada pada tingkatan yang paling dasar. Di sisi lain, jika seseorang mampu tetap merasakan kebahagiaan di tengah pusaran kesedihan, jiwa seperti itu dapat diibaratkan seperti emas. Jika engkau mengambil sebongkah emas dan meleburnya di dalam api, ia justru akan membersihkan dirinya dari segala kotoran yang melekat. Dengan cara yang sama, ia yang mampu menemukan kedamaian dan kebahagiaan sejati di dalam batinnya  saat dihadapkan pada penderitaan, adalah jiwa yang laksana emas. Sementara itu, seorang individu yang mampu menjaga ketenangan batin yang seimbang baik di tengah suka maupun duka, dapat diibaratkan seperti berlian. Ini berarti, apa pun kesedihan yang ia hadapi, apa pun cobaan atau kesulitan yang mendatangi hidupnya, ia memandang hal tersebut sebagai sarana untuk menempa keseimbangan batin dan kebahagiaan sejati. Dalam hal berlian, bagaimanapun engkau mencoba memotong dan mengasahnya, setiap sayatan justru hanya akan meningkatkan nilai kemilau dan keindahannya. Tingkatan manusia yang keempat adalah mereka yang telah berada jauh di atas dualitas suka dan duka; mereka yang telah melampaui ketiga guna dan mengalami kebahagiaan tertinggi sebagai sifat sejatinya. Di antara keempat jenis ini, hanya sifat Atma yang sejati dan abadi, sedangkan ketiga tingkatan lainnya masih terikat dengan duniawi dan tunduk pada perubahan. Seseorang yang ingin mengalami sifat Atma ini, tidak boleh lagi terbelenggu oleh ketakutan dan keterikatan duniawi.


- Summer Showers, Jun 11, 1973

Tubuh kita laksana batang tebu. Segala ujian dan penderitaan hidup hanyalah proses penyaringan, yang sarinya akan memeras keluar air manis kesucian Ilahi dari dalam diri kita.

Thursday, May 28, 2026

Thought for the Day - 28th May 2026 (Thursday)



When I see the long lines of people going to church every Sunday, I am glad; but, when I find you talking apologetically of your visits to temples and sages, I dislike it. Why not assert that you had been to a temple or sage, boldly, with heads erect? Why yield to worry and misery, claiming all the time that you are a believer in God? When a bus is speeding along, a cloud of dust follows it; when it halts, the passengers get the dust all over. But, how far can you travel without bringing the bus to a halt? The one consolation is: you need not always speed along the mud road; better roads are in store. The mud road is the Samithi Road (managed by the village Panchayat); the metalled road, which comes later, is the Zilla Parishad Road; at last, you get on into the asphalt road, the road of the Highways Department, where the bus will not drag behind it any cloud of dust. The mud road is the karma marga (road of activity), the metalled road is upasana marga (road of worship and contemplation), and the asphalt road is jnana marga (road of divine knowledge and wisdom). Join the jnana marga soon; then, there will be no dust. In spiritual matters, faith is the basic requisite for progress. That faith has to be guarded carefully. Yield to the Lord, who is more kin to you than your own parents; yield to no other. Do not allow your faith to falter with every passing gust of wind.


-- Divine Discourse, May 23, 1966

Your duty is to carry on sadhana undisturbed by what others may say, holding fast to the certitude of your own experience 


Ketika Aku melihat panjangnya antrean manusia yang pergi ke Gereja setiap hari Minggu, Aku merasa senang. Tetapi ketika Aku melihat ada orang yang berbicara dengan rasa malu atau seolah meminta maaf karena pergi ke Kuil atau menemui orang suci, Aku tidak menyukainya. Mengapa tidak dengan berani mengatakan bahwa engkau pergi ke Kuil atau menemui seorang bijak, dengan kepala tegak dan penuh keyakinan? Mengapa harus hidup dalam kecemasan dan kesedihan, sementara terus mengaku percaya kepada Tuhan? Ketika sebuah bus melaju kencang di jalan tanah, debu akan beterbangan di belakangnya. Saat bus berhenti, para penumpang akan terkena debu itu. Tetapi bagaimana mungkin seseorang dapat menempuh perjalanan jauh tanpa sesekali menghentikan bus? Namun ada satu penghiburan: kamu tidak akan selamanya berjalan di jalan berlumpur; jalan yang lebih baik telah menantimu. Jangan lumpur adalah jalan samithi (dikelola oleh desa Panchayat); setelah itu ada jalan berbatu yang lebih baik, yaitu Jalan Zilla Parishad. Dan pada akhirnya, engkau akan sampai pada jalan beraspal milik Departemen Jalan Raya, di mana bus tidak lagi meninggalkan kepulan debu di belakangnya.  Jalan tanah itu adalah karma marga (jalan tindakan dan aktivitas). Jalan berbatu yang lebih baik ibarat upasana marga (jalan pemujaan dan kontemplasi). Dan jalan aspal yang halus ibarat jnana marga (jalan pengetahuan dan kebijaksanaan spiritual). Segeralah menapaki jnana marga, maka debu kehidupan tidak lagi mengganggu perjalananmu. Dalam kehidupan spiritual, keyakinan adalah syarat utama untuk maju. Keyakinan itu harus dijaga dengan sungguh-sungguh. Berserahlah kepada Tuhan, yang bahkan lebih dekat daripada orang tuamu sendiri; jangan berserah kepada yang lain. Jangan biarkan keyakinanmu goyah hanya karena tiupan angin yang lewat sekilas.


-- Wejangan Sai, 23 Mei 1966

Kewajibanmu adalah tetap menjalankan sadhana dengan tenang tanpa terganggu oleh apa yang dikatakan orang lain, sambil berpegang teguh pada keyakinan yang lahir dari pengalaman batinmu sendiri.

Wednesday, May 27, 2026

Thought for the Day - 27th May 2026 (Wednesday)



If the mind concerns itself with worldliness, then it is separated from the light of the atma and this separation causes mental perturbation. In order to have a vision of God you have to purify the inner instruments and conduct a virtuous life. We should keep our intelligence disengaged from worldly issues. Intelligence should not be made a tool to satiate physical and mental obsessions. On the other hand, it should be used for the revelation of Atma. It should only be a witness and remain unaffected by the surroundings. Then it is in a state of nivritti (inward path of renunciation). In this context, the sacrifice of work cannot be something which relates to nivritti. Sacrifice of one’s desires alone can be associated with nivritti. People sometimes refer to karma-phala-tyaga (renunciation of fruits of action) and say one must sacrifice the results of whatever work one does. If this is so, they argue no work needs to be done at all and they assert this is what the Bhagavad Gita teaches us. Nothing can be farther from truth. No one can sacrifice all work and yet live! The body is created for doing work. So everyone must perform work. But in doing such work, if your thoughts are sacred, you will do good work without seeking fruit thereof.


-- Summer Showers, Jun 11, 1973

It is only when the thoughts are good that the actions will be pure. When man’s actions are pure, society will be healthy and peaceful.

 

Jika pikiran terus dipenuhi urusan duniawi, maka ia akan terpisah dari cahaya Atma dan keterpisahan inilah yang menimbulkan kegelisahan batin. Untuk memperoleh pandangan terhadap Tuhan, seseorang harus menyucikan alat-alat batinnya dan menjalani kehidupan yang bajik. Kecerdasan manusia seharusnya tidak terus-menerus dipakai untuk urusan duniawi semata. Kecerdasan tidak boleh dijadikan alat untuk memuaskan obsesi fisik dan mental. Sebaliknya, kecerdasan harus digunakan untuk menyadari Atma. Ia harus menjadi saksi yang tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh keadaan di sekitarnya. Keadaan seperti inilah yang disebut nivritti, yaitu jalan batin menuju pelepasan. Dalam konteks ini, yang dimaksud bukan meninggalkan semua pekerjaan atau berhenti bertindak. Yang benar-benar harus dilepaskan adalah keinginan seseorang. Banyak orang memahami karma-phala-tyaga (melepaskan buah dari tindakan) secara keliru dan berkata bahwa seseorang harus melepaskan hasil dari apapun pekerjaan yang dilakoninya. Mereka berpikir bahwa ajaran itu berarti seseorang tidak perlu bekerja sama sekali, dan mereka menganggap itulah ajaran Bhagavad Gita. Pemahaman seperti itu sangat jauh dari kebenaran. Tidak ada seorang pun yang dapat meninggalkan semua pekerjaan namun tetap bisa hidup! Tubuh manusia memang diciptakan untuk bekerja. Karena itu, setiap orang harus melakukan tugas dan pekerjaannya. Namun ketika bekerja, jika pikiran dan niatnya suci, maka ia akan melakukan pekerjaan yang baik tanpa terikat pada hasil atau imbalannya.


-- Wacana Musim Panas, 11 Juni 1973

Hanya ketika pikiran seseorang baik, tindakannya akan menjadi murni. Dan ketika tindakan manusia menjadi murni, masyarakat akan hidup sehat dan damai.

Tuesday, May 26, 2026

Thought for the Day - 26th May 2026 (Tuesday)



Many look down upon acts like cleaning of streets, relief to the sick, feeding the hungry, and service to the poor and destitute as undignified. This is a grievous mistake. The supreme Lord of the three worlds, Sri Krishna Himself, when He came down to proclaim the divine destiny of man, rendered service to beasts and birds. He tended horses and cows with love. In the great Kurukshetra war, disinclined to wield the sword, He was content to figure as a mere charioteer. He made known thereby the ideal of selfless service. The underlying truth of karma yoga is the demonstration of the unity that subsumes the diversity in the universe. Nishkama karma (desireless action) demonstrates and promotes the love principle. There is no greater spiritual sadhana than service. The tendency to distinguish between the spiritual path, the path of service, and the path of knowledge, and regard them as separate is wrong. The three are not distinct; they are one. Seva (service) is spiritual knowledge. Seva is the primary means to acquire divine grace. Without being a devoted follower, you cannot become a worthy leader. Without being a kinkara (one who is ready to do any work), you cannot become a Shankara (the divine). Each one has to realise this truth. Service to society is the highest good.


-- Divine Discourse, Nov 17, 1985

The spirit of service should be coupled with readiness for sacrifice. Only then can it be called selfless service, free from any taint of self-interest. 


Banyak orang memandang rendah tindakan seperti membersihkan jalan, membantu orang sakit, memberi makan kepada yang lapar, atau melayani kaum miskin dan terlantar. Pandangan seperti ini adalah kesalahan besar. Sri Krishna, Tuhan Yang Mahatinggi penguasa tiga dunia, ketika turun ke dunia untuk menyampaikan tujuan suci kehidupan manusia, justru memberikan pelayanan kepada hewan dan unggas. Dengan penuh kasih, Beliau merawat kuda dan sapi. Dalam perang besar Kurukshetra, Beliau bahkan tidak memilih mengangkat senjata, melainkan rela menjadi kusir kereta perang. Melalui itu semua, Krishna menunjukkan teladan pelayanan tanpa pamrih. Kebenaran mendasar dari karma yoga adalah menyadari kesatuan yang ada di balik keberagaman alam semesta ini. Nishkama karma (tindakan tanpa pamrih) menumbuhkan dan memperlihatkan prinsip cinta kasih. Tidak ada sadhana (latihan spiritual) yang lebih tinggi daripada pelayanan. Anggapan bahwa jalan spiritual, jalan pelayanan, dan jalan pengetahuan adalah tiga hal yang berbeda merupakan pemahaman yang keliru. Ketiganya sesungguhnya tidaklah berbeda namun merupakan satu kesatuan. Seva (pelayanan) adalah pengetahuan spiritual itu sendiri. Seva adalah sarana utama untuk memperoleh rahmat Tuhan. Tanpa menjadi seorang pengikut setia, seseorang tidak akan mampu menjadi pemimpin yang sejati. Tanpa menjadi kinkara (orang yang siap melakukan pekerjaan apa pun dengan rendah hati), seseorang tidak akan mampu menjadi Shankara (Tuhan). Setiap orang harus memahami kebenaran ini:

pelayanan kepada masyarakat adalah kebajikan tertinggi.


-- Wejangan Swami, 17 November 1985

Semangat pelayanan harus disertai kesiapan untuk berkorban. Hanya dengan itulah pelayanan dapat disebut sebagai pelayanan tanpa pamrih, yang bebas dari kepentingan pribadi.

Monday, May 25, 2026

Thought for the Day - 25th May 2026 (Monday)



The individual full of Aham (I-ness) loves to exercise authority over others. He will not like listening to others. Even if the others’ counsel is good for him, due to his stubbornness, he will not like it. Such individuals see everything through ‘a jaundiced eye’, coloured by the smoke of self-conceit. “My words are true,” “My opinion is correct,” “My deeds are right,” they feel, and thus they spend their days in such stubbornness! Such behaviour is very harmful for sadhakas (spiritual aspirants). The sadhaka must be eagerly looking forward to any helpful criticism or suggestion, or advice from any quarter. When he makes any mistake, he should not try to justify himself. It can lead to unwarranted argumentations and if he does not succeed in arguments, it will lead to vengeful fighting. Do not struggle to earn the esteem of the world. Do not feel humiliated or angry when the world does not recognise you or your merits. Learn these first and foremost, if you are an aspirant and put them into practice.  You should not fall into joy, when you are being praised; therein lies a deadly trap, which might even lead you astray and endanger your progress. Try to learn and absorb things that are good for you from the advice of others and behave accordingly. Train yourself to take insult and criticism as deviations and digressions. 


-- Dhyana Vahini, Ch 14

There is no trace of ego in man at the time of birth, but it develops as he grows up. The feelings of ‘I’ and ‘mine’ are responsible for man’s bondage 


Seseorang yang dipenuhi oleh aham (rasa keakuan atau ego) selalu ingin menguasai orang lain. Ia tidak suka mendengarkan pendapat orang lain. Bahkan jika nasihat itu baik baginya, karena keras kepala, ia tetap menolaknya. Orang seperti ini memandang segala sesuatu dengan dengan penuh rasa curiga/sinis, pandangannya telah dikaburkan oleh asap kesombongan diri. Ia merasa: “Perkataanku pasti benar.” “Pendapatku paling tepat.” “Tindakanku selalu benar.” Dengan sikap keras kepala seperti itu, ia menjalani hidupnya. Perilaku semacam ini sangat berbahaya bagi seorang sadhaka (pencari spiritual). Seorang sadhaka seharusnya terbuka menerima kritik, saran, dan nasihat yang bermanfaat dari siapa pun. Ketika melakukan kesalahan, ia tidak boleh sibuk membenarkan dirinya sendiri. Sikap seperti itu hanya akan menimbulkan perdebatan yang tidak perlu. Jika gagal dalam perdebatan, hal itu dapat berubah menjadi kebencian dan pertengkaran. Jangan berjuang hanya untuk mendapatkan pujian dan penghargaan dari dunia. Jangan merasa hina atau marah ketika dunia tidak mengakui dirimu atau kemampuanmu. Inilah pelajaran yang pertama dan utama yang harus dipahami dan dipraktikkan oleh seorang pencari spiritual.  Engkau juga tidak boleh larut dalam kegembiraan ketika dipuji. Di balik pujian tersembunyi jebakan yang berbahaya, yang dapat menyesatkan dan menghambat kemajuan spiritualmu. Belajarlah menerima hal-hal baik dari nasihat orang lain dan terapkan dalam hidupmu. Latih dirimu untuk menerima hinaan dan kritik hanya sebagai gangguan sementara.


-- Dhyana Vahini, Ch 14

Pada saat lahir, manusia tidak memiliki ego. Namun ego berkembang seiring pertumbuhannya. Perasaan “aku” dan “milikku” itulah yang menjadi penyebab keterikatan manusia.

Sunday, May 24, 2026

Thought for the Day - 24th May 2026 (Sunday)



To inculcate the truth of spirituality, you can take the example of animals, which get sanctity and become objects of worship when they are in the company of the Divine. The snake, when it is around the neck of Lord Shiva, is worshipped by all. When it is encountered elsewhere, people do not hesitate even to kill it. Similarly, the mouse, which is the vehicle of Vinayaka, is an object of worship when it is with Vinayaka, but when it is seen in your house, you trap it and try to do away with it. This teaches the lesson that when we are in the company of God, we are held in high esteem. Just as the limbs are part of our body, we are all the limbs of the body of the cosmic form. The cosmic form is of thousands of heads, feet, hands and eyes. All the bodies of beings are His. If we develop strong faith in this, we can understand Divinity in its true spirit. When we see the Bull in the Shiva temple made of stone, we worship it. When we see a bull in our everyday life, we do not hesitate even to hit it. This is due to the ignorance of man who does not see God in every being. God is in every being, from an ant to an elephant!  


-- Divine Discourse, Apr 23, 1998

If we can really understand the secret of creation around us, our minds will not go after the attractions of the material world. There is nothing more wonderful or awe-inspiring than God’s creation 


Untuk menanamkan kebenaran spiritual, kita dapat mengambil contoh dari hewan-hewan yang memperoleh kesucian dan penghormatan ketika berada dalam hubungan dengan Tuhan. Ular, misalnya, ketika melingkar di leher Dewa Shiva, dipuja oleh banyak orang. Tetapi ketika ular ditemui di tempat lain, orang tidak segan untuk membunuhnya. Sama halnya dengan tikus yang merupakan wahana dari Vinayaka atau ganesha, menjadi objek pemujaan ketika terhubung dengan Vinayaka, namun ketika tikus terlihat di dalam rumahmu, engkau justru memasang perangkap dan berusaha menyingkirkannya. Dari sini kita belajar bahwa ketika seseorang berada dekat dengan Tuhan, ia akan dihormati dan dimuliakan. Sebagaimana anggota tubuh adalah bagian dari tubuh kita, demikian pula semua makhluk adalah anggota tubuh dari wujud kosmik (alam semesta) milik Tuhan. Wujud kosmik Tuhan memiliki ribuan kepala, kaki, tangan, dan mata. Semua tubuh dari setiap makhluk adalah milik-Nya. Jika kita memiliki keyakinan yang kuat terhadap kebenaran ini, maka kita akan mampu memahami Keilahian dalam makna yang sesungguhnya.  Ketika kita melihat lembu di kuil Shiva terbuat dari batu, kita memujanya. Ketika kita melihat lembu dalam kehidupan kita sehari-hari, kita tidak ragu untuk memukulnya. Perbedaan perlakuan ini disebabkan oleh kebodohan manusia yang belum mampu melihat Tuhan dalam setiap makhluk hidup. Tuhan bersemayam dalam setiap makhluk hidup, dari seekor semut sampai pada seekor gajah! 


-- Wejangan Swami, 23 April 1998

Jika kita benar-benar memahami rahasia ciptaan di sekitar kita, pikiran kita tidak akan mengejar daya tarik dari dunia material. Tidak ada yang lebih mengagumkan atau menakjubkan daripada ciptaan Tuhan.

Saturday, May 23, 2026

Thought for the Day - 23rd May 2026 (Saturday)



Regarding anger, the spiritual aspirant has to be vigilant even about the most minor matters that might provoke him, for if he is careless, he cannot progress in the least. Such persons must cultivate Saumya Prema Bhavam (gentle loving spirit). Then, the bad traits will diminish. Some aspirants become angrier still when someone discovers and announces to them the bad traits they possess. This makes matters worse! The sadhaka (spiritual aspirant) must always have the inward look; if he allows his mind to wander outward, he can never identify his own faults. Pride prevents the inward look and distracts the mind. When the aspirant is desirous of achieving success, he must gladly accept when someone points out his faults, and he must endeavour to rectify his faults and not repeat those any longer. That is the way to progress quick and fast on the path of meditation, and experience ananda (bliss).


- Dhyana Vahini, Ch 14

When anger is subdued, it is an indication that your Sadhana is on the right path. 


Dalam hal kemarahan, seorang peminat spiritual harus selalu waspada bahkan terhadap hal-hal kecil yang dapat memancing emosinya. Sebab, jika ia ceroboh dan tidak berhati-hati, ia tidak akan mampu mengalami kemajuan sedikit pun. Seorang peminat spiritual perlu mengembangkan Saumya Prema Bhavam — yaitu sifat penuh kasih yang lembut. Dengan demikian, sifat-sifat buruk perlahan akan berkurang. Ada beberapa peminat spiritual yang justru menjadi semakin marah ketika orang lain menngungkapan dan memberitahukan sifat buruk yang mereka miliki. Hal ini hanya akan memperburuk keadaan! Seorang sadhaka (peminat spiritual) harus senantiasa melihat ke dalam dirinya sendiri. Jika ia membiarkan pikirannya terus mengembara keluar, ia tidak akan pernah mampu mengenali kesalahannya sendiri. Kesombongan menghalangi seseorang untuk melakukan introspeksi dan membuat pikirannya mudah teralihkan. Ketika seorang peminat spiritual benar-benar ingin mencapai keberhasilan, ia harus dengan tulus menerima ketika ada orang yang menunjukkan kesalahannya. Ia juga harus berusaha memperbaiki kesalahan tersebut dan tidak mengulanginya lagi. Itulah jalan untuk maju dengan cepat dalam praktik meditasi dan merasakan ananda — kebahagiaan sejati.


- Dhyana Vahini, Ch 14

ketika kemarahan ditundukkan, ini merupakan tanda bahwa sadhanamu (latihan spiritual) ada di jalan yang benar.

Friday, May 22, 2026

Thought for the Day - 22nd May 2026 (Friday)



A river has two banks. But for this, the river may flow in all directions, flooding the fields and villages and causing untold hardship and disaster. If it has the bunds to regulate the course of flow, it will be useful for irrigation. In a similar manner, the river of life has to be contained between the two bunds of the eight-lettered axioms. One is, Shraddhavan labhate jnanam and the other is, Samsayatma vinashyati. Both these declarations are made by Lord Krishna in the Bhagavad Gita. The meaning of the first one is - “It is only by faith that one attains wisdom”, and the second one means - “A person who doubts everything will perish.” So long as one has doubt, one cannot achieve anything. If a person has no doubt and has full faith, he can achieve anything. The river of human life flowing between these two bunds reaches the goal of grace successfully. A tree that needs water is provided water only at the root. Though the root is not visible to your eyes as it is buried under the earth, it is the basis for the tree to thrive. If the root is dry, the tree becomes dead. Therefore, you have to safeguard the root. Similarly, you have to safeguard the root of life. Otherwise, it will get extinct. The root of life is to kill doubt. Therefore, these two eight-letter mantras are the essential needs for life.  


-- Divine Discourse, Apr 23, 1998

You have to deposit the money of faith and pure love in the Divine bank. Only then can you get the wealth of Divine grace. 


Sebuah sungai memiliki dua tepian. Tanpa adanya kedua tepi itu, air sungai akan mengalir ke segala arah, membanjiri ladang dan permukiman, serta menimbulkan kesulitan dan bencana yang besar. Tetapi jika sungai memiliki tanggul yang mengatur alirannya, maka airnya dapat dimanfaatkan untuk irigasi dan membawa manfaat. Sama halnya terkait dengan aliran sungai kehidupan yang harus dijaga di antara dua tanggul berupa dua ajaran suci yang terdiri dari delapan huruf. Yang pertama adalah “Shraddhavan labhate jnanam” dan yang kedua adalah  “Samsayatma vinashyati.” Kedua pernyataan ini disampaikan oleh Sri Krishna dalam Bhagavad Gita. Makna dari ajaran yang pertama adalah: “Hanya melalui keyakinan seseorang memperoleh kebijaksanaan.” Sedangkan makna ajaran yang kedua adalah: “Seseorang yang selalu meragukan segala sesuatunya akan hancur.” Selama seseorang masih dipenuhi keraguan, ia tidak akan mampu mencapai apa pun. Tetapi bila seseorang memiliki keyakinan penuh tanpa keraguan, ia dapat mencapai apa saja. Sungai kehidupan manusia yang mengalir di antara dua tanggul ini akan berhasil mencapai tujuan berupa rahmat Tuhan. Sebuah pohon yang membutuhkan air hanya disiram pada akarnya. Walaupun akar itu tidak terlihat karena tertanam di dalam tanah, akar merupakan dasar yang menopang kehidupan pohon. Jika akar mengering, pohon akan mati. Maka dari itu, akar harus dijaga dengan baik. Begitu pula dalam kehidupan manusia, akar kehidupan harus dijaga. Jika tidak, kehidupan rohani akan layu dan punah. Akar kehidupan itu adalah menghilangkan keraguan. Oleh sebab itu, kedua mantra suci ini merupakan kebutuhan yang sangat penting dalam hidup manusia. 


-- Wejangan Swami, 23 April 1998

Engkau harus menabungkan uang keyakinan dan kasih yang suci di ‘Bank Tuhan’. Hanya dengan demikian engkau bisa mendapatkan kekayaan berupa rahmat Tuhan. 

Thursday, May 21, 2026

Thought for the Day - 21st May 2026 (Thursday)



Pride, conceit, passionate (rajasik) exhibition of one’s superiority, anger, craving to know unsubstantiated details of strengths and weaknesses of others, trickery—all these are obstacles in the path of meditation (dhyanam). Even if these are not patently exhibited, the inner impulses (vasanas) urging one along these wrong directions are latent in the mind. As a room kept closed for a long time is found dust-ridden and foul-smelling when it is opened, and as it becomes clean and habitable after elaborate sweeping and dusting, so too, the mind must be completely cleansed of its impurities (malinya) by the power of meditation. The spiritual aspirant must, by inward observation, examine the mind and its contents and condition. By proper disciplinary habits, accumulated impurities should be removed little by little, systematically. Conceit is deep-rooted and unyielding. In the rajasik (passionate) mind, it puts forth multifold branches in all directions and spreads everywhere. It might appear to be dry and dead for some time, but it will sprout again easily. As soon as a chance arises for its exhibition, it will raise its hood.  


-- Dhyana Vahini, Ch 14

If we are able to control anger, we shall be in a position to attain merit through the utterance of the Lord’s name


Kesombongan, keangkuhan, kecenderungan memamerkan kelebihan diri secara berlebihan karena sifat rajasik (penuh gairah dan ego), kemarahan, sangat ingin mengetahui detail yang tidak berdasar tentang kekuatan dan kelemahan orang lain, tipu daya, semuanya merupakan hambatan dalam jalan meditasi (dhyana). Walaupun sifat-sifat itu tidak selalu tampak secara nyata, dorongan batin (vasana) yang mengarahkan seseorang ke arah yang salah tersebut terpendam dalam pikiran. Seperti sebuah ruangan yang tertutup lama akan dipenuhi debu dan bau tidak sedap ketika dibuka, namun dapat kembali bersih dan layak dihuni setelah dibersihkan dengan sungguh-sungguh secara menyeluruh, demikian pula pikiran harus disucikan sepenuhnya dari segala kekotorannya (malinya) melalui kekuatan meditasi. Seorang pencari spiritual harus, melalui pengamatan batin, memeriksa keadaan pikiran serta isi dan kondisinya. Dengan kebiasaan disiplin yang baik, kotoran yang menumpuk harus dihilangkan sedikit demi sedikit dan secara sistematis.  Keangkuhan adalah sifat yang sangat dalam akarnya dan sulit dihilangkan. Dalam pikiran yang dikuasai sifat rajasik, keangkuhanakan tumbuh dengan banyak cabang dan menyebar ke segala arah. Kadang sifat itu tampak seperti telah kering dan mati, tetapi sebenarnya dapat tumbuh kembali dengan mudah. Begitu ada kesempatan untuk muncul, ia akan segera mengangkat kepalanya kembali.  


-- Dhyana Vahini, Ch 14

Jika kita mampu mengendalikan amarah, maka kita akan berada dalam keadaan yang memungkinkan untuk memperoleh pahala melalui pengucapan nama Tuhan.