Saturday, May 2, 2026

Thought for the Day - 2nd May 2026 (Saturday)



God is Premaswarupa (Embodiment of Love); God is in every being; so the fruit of every life is full of the sweetness of that Prema. Like the bitter skin of the fruit, which is sweet, which casts the cover of ignorance over the precious juice within, so too, the bitter skin of envy, egoism, hate, malice, greed, lust, and pomp does not allow the sweetness to be patent to all. Every being is entitled to partake of that Prema, irrespective of nationality, colour, creed, or status in society. When God and God’s Prema are activating every atom, who can dare say, ‘Stand out’ to anyone? Isavasyamidam sarvam - All this is God, is Prema. The lights that Vyasa lit to reveal this great reality have become dim; no one is pouring oil into the lamp; all are interested in pursuing false ideals and fleeting pleasures. Vyasa taught Dharma (Righteousness) in the Mahabharata, Bhakthi (Devotion) in the Bhagavata, and Shanti and Prema (Peace and Love) in the 18 Puranas; he taught the knowledge of “knowledge, knower, and the known” in the Brahmasutra. He emphasised that harming others is the seed of sin and serving others the seed of merit. That is the lesson of Prema, pure and simple. 


- Divine Discourse, Jul 21, 1967

Prema (Love) is the spring that feeds the roots of all the virtues. 


Tuhan adalah perwujudan kasih (premaswarupa); Tuhan ada dalam diri setiap makhluk; jadi buah dari setiap kehidupan adalah penuh dengan rasa manis dari prinsip kasih itu (prema). Seperti halnya rasa pahit pada kulit buah yang menutupi rasa manis sari buah yang ada di dalamnya, begitu juga rasa pahit dari kulit berupa sifat iri hati, egoisme, kebencian, kesombongan, ketamakan, nafsu, dan keangkuhan yang menutupi rasa manis kasih itu sehingga tidak tampak. Setiap makhluk berhak merasakan dan menikmati kasih Ilahi ini, tanpa memandang kebangsaan, warna kulit, keyakinan, maupun kedudukan sosial. Ketika Tuhan dan kasih-Nya menggerakkan setiap atom, siapa yang berani berkata kepada orang lain, “lebih menonjol dibandingkan yang lainnya”? Isavasyam idam sarvam - semua ini adalah Tuhan, semua ini adalah kasih. Pelita yang dinyalakan oleh Vyasa untuk mengungkap kebenaran agung ini kini mulai meredup; tidak ada lagi yang mengisi minyaknya; semua orang tertarik dan sibuk dalam mengejar mengejar gagasan yang semu dan kesenangan yang bersifat sementara. Vyasa mengajarkan kebajikan (dharma) dalam Mahabharata, pengabdian (bhakthi) dalam Bhagavata, dan Shanti serta Prema (kedamaian dan kasih) dalam 18 purana; Vyasa mengajarkan pengetahuan tentang “pengetahuan, yang mengetahui, dan yang diketahui” dalam Brahmasutra. Vyasa menekankan bahwa menyakiti yang lainnya adalah benih dari dosa, sedangkan melayani yang lainnya adalah benih dari kebajikan atau jasa. Itu adalah inti pelajaran tentang kasih yang bersifat suci dan sederhana. 


-Wacana Swami, 21 Juli 1967

Prema (kasih) adalah mata air yang memberikan kehidupan pada akar dari seluruh kebajikan.

Friday, May 1, 2026

Thought for the Day - 1st May 2026 (Friday)



Buddha taught that we should not have anger, we should not find others’ faults, and we should not harm others because all are embodiments of the pure, eternal principle of the Atma. Have compassion towards the poor and help them to the extent possible. You think those who do not have food to eat are poor people. You cannot call someone poor just because he does not have money or food to eat. Truly speaking, nobody is poor. All are rich, not poor. Those whom you consider poor may not have money, but all are endowed with the wealth of Hridaya (the heart). Understand and respect this underlying principle of unity and divinity in all and experience bliss. Do not have such narrow considerations as so and so is your friend, so and so is your enemy, so and so is your relation, etc. All are one, be alike to everyone. That is your primary duty. This is the most important teaching of Buddha. 


-- Divine Discourse, May 13, 2006

Buddha taught that the principle of unity of the Atma was the only true principle in the world. One who realised it by using his spiritual intelligence was a true Buddha, he said. 


Buddha mengajarkan bahwa kita tidak seharusnya menyimpan kemarahan, kita seharusnya tidak mencari-cari kesalahan orang lain, dan kita seharusnya tidak menyakiti siapapun karena semuanya adalah perwujudan dari prinsip Atma yang suci dan kekal. Milikilah welas asih kepada mereka yang kekurangan dan bantulah mereka semaksimal mungkin. Engkau berpikir bahwa mereka yang tidak memiliki makanan untuk dimakan adalah orang miskin. Engkau tidak bisa menyebut seseorang miskin karena ia tidak memiliki uang atau makanan untuk dimakan. Berbicara yang sebenarnya, tidak ada seorangpun yang miskin. Semuanya adalah kaya, tidak miskin. Bagi mereka yang engkau anggap miskin mungkin tidak memiliki uang, namun semua dari mereka diberkati dengan kekayaan hati (Hridaya). Pahamilah dan hormati prinsip yang mendasari kesatuan dan keilahian dalam setiap makhluk dan alamilah kebahagiaan yang sejati. Jangan terjabk dalam pandangan sempit seperti ini teman, ini musuh, ini kerabat dan sebagainya. Semuanya adalah satu, bersikaplah sama kepada setiap orang. Itu merupakan kewajibanmu yang utama. Ini adalah ajaran terpenting dari sang Buddha. 


-- Wacana Swami, 13 Mei 2006

Buddha juga mengajarkan bahwa prinsip kesatuan Atma adalah satu-satunya kebenaran sejati di dunia ini. Seseorang yang mampu menyadarinya melalui kecerdasan spiritualnya adalah Buddha yang sejati.

Tuesday, April 28, 2026

Thought for the Day - 28th April 2026 (Tuesday)



For man, there are two kinds of states in this world. They are: Hita (Pleasant) and Ahita (Unpleasant). Whether the state is pleasant or unpleasant depends on your innermost attitude or outlook. The same object becomes pleasant once and unpleasant on another occasion! The thing welcomed with great fondness at one time becomes hateful at another time, and there is not the desire even to see it. The condition of the mind at those times is the reason to wean so. Hence, everyone must train their mind to be pleasant always. The waters of a river leap from mountains, fall into valleys, and rush through gorges; besides, tributaries join it at various stages, and the water becomes turbid and unclean. So too, in the flood of human life, speed and power increase and decrease. These ups and downs can happen at any moment during life. No one can escape these; they may come at the beginning of life, at the end or in the middle. So, what man must firmly convince himself is that life is necessarily full of ups and downs, and that, far from being afraid and worried over these, one should welcome them. One should not only feel like this, but should be happy and glad, whatever happens! Then, all troubles, whatever their nature, will pass away lightly and quick! 


-- Ch 3, Dhyana Vahini

Faith in God can ensure equanimity and balance. 


Bagi manusia, ada dua jenis keadaan dalam hidup ini: hita (menyenangkan) dan ahita (tidak menyenangkan). Namun, apakah sesuatu terasa menyenangkan atau tidak, sebenarnya bergantung pada sikap batin dan cara pandang kita sendiri.  Objek yang sama bisa terasa sangat menyenangkan di suatu waktu, tetapi di waktu lain justru terasa tidak menyenangkan. Sesuatu yang dahulu disambut dengan penuh kegembiraan bisa berubah menjadi hal yang dihindari, bahkan tak ingin lagi dilihat. Perubahan ini bukan karena bendanya, melainkan karena keadaan pikiran kita saat itu! Oleh karena itu, setiap orang harus melatih pikiran mereka untuk selalu tetap tenang dan positif dalam segala keadaan. Ibarat air sungai yang mengalir dari pegunungan, jatuh ke lembah, melewati jurang, lalu bercampur dengan berbagai aliran lain hingga menjadi keruh. Demikian pula kehidupan manusia, kadang mengalir deras, kadang melambat; kadang jernih, kadang keruh. Naik turunnya kehidupan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Itu bisa terjadi di awal kehidupan, di tengah, maupun di akhir. Yang perlu kita yakini dengan mantap adalah bahwa hidup memang penuh dengan pasang surut. Alih-alih takut atau cemas menghadapinya, kita justru perlu menerimanya dengan lapang. Bahkan lebih dari itu, belajar untuk tetap merasa tenang dan bersyukur dalam keadaan apa pun. Ketika sikap ini tumbuh, segala kesulitan—apa pun bentuknya—akan terasa lebih ringan dan cepat berlalu! 


-- Ch 3, Dhyana Vahini

Keyakinan kepada Tuhan akan menumbuhkan keseimbangan dan ketenangan batin.

Monday, April 27, 2026

Thought for the Day - 27th April 2026 (Monday)



God has provided everything for man’s good in the world. But there is one condition that must be observed. The result of your actions will be according to their nature, whether they are good or bad. Men today want to reap the fruits of good deeds without performing good deeds. This is impossible. Nor can they escape the consequences of their evil actions. God is only a witness. From now on, develop good thoughts, do good actions and redeem your lives. You must start with Karma Marga (Path of Action) and end with Jnana Marga (Path of Knowledge). In between, there is Upasana Marga (Path of Worship). This is the path you must follow today. For this, you must get the conviction that God is omnipresent. When you have that conviction, you will not indulge in falsehood or practice deception, you will not abuse others or cause harm to them, you will acquire all virtues. 


-- Divine Discourse, Feb 27, 1995

Develop the firm conviction that God is within you, and you are Divine.


Tuhan telah menyediakan segala sesuatunya bagi kebaikan manusia di dunia. Namun ada satu syarat yang tidak bisa diabaikan. Hasil dari perbuatanmu akan sesuai dengan sifat dari perbuatan tersebut, apakah perbuatan itu baik datau buruk. Manusia pada hari ini ingin mendapatkan buah perbuatan baik dengan tanpa menjalankan perbuatan baik. Hal ini adalah tidak mungkin. Demikian pula, tidak ada seorangpun dari manusia yang bisa melepaskan diri dari akibat perbuatan buruk mereka. Tuhan hanyalah sebagai saksi saja. Mulai dari sekarang, pupuk pemikiran yang baik, lakukan perbuatan baik dan perbaiki arah hidupmu. Engkau harus mulai dengan jalan tindakan (karma marga) dan mengakhirinya dengan jalan pengetahuan (jnana marga). Diantara kedua jalan tersebut adalah jalan pemujaan (upasana marga). Ini adalah jalan yang harus engkau jalani hari ini. Untuk itu, tanamkan keyakinan yang kuat bahwa Tuhan hadir di mana-mana. Ketika engkau memiliki keyakinan itu, engkau tidak akan berbohong atau menipu, tidak akan menyakiti atau merugikan orang lain, dan secara alami kebajikan akan tumbuh dalam dirimu. 


-- Divine Discourse, 27 Februari 1995

Pupuklah keyakinan yang mantap bahwa Tuhan ada di dalam dirimu, dan hakikat dirimu adalah ilahi.

Sunday, April 26, 2026

Thought for the Day - 26th April 2026 (Sunday)



There are three types of approaches towards the Lord: the eagle type, which swoops down on the target with a greedy swiftness and suddenness, which, by its very impact, fails to secure the object coveted; the monkey type, which flits hither and thither, from one fruit to another, unable to decide which is tasty; and the ant type, which moves steadily, though slowly, towards the object, which it has decided is desirable. The ant does not hit the fruit hard and make it fall away; it does not pluck all the fruits it sees; it appropriates just as much as it can assimilate and no more. Do not fritter away the time allotted to you for sojourning on Earth in foolish foppery and fanciful foibles, which always keep you outdoors. When are you going to walk indoors into the warmth and quiet of your own interior? Retire into solitude and silence, now and then; experience the joy derivable only from them. 


-- Divine Discourse, Oct 26, 1961

When the fruit is ripe, it will fall off the branch of its own accord. Similarly, when vairagya (renunciation) saturates your heart, you lose contact with the world and slip into the lap of the Lord. 


Ada tiga jenis pendekatan menuju Tuhan: pendekatan pertama adalah seperti jenis elang yang terbang menukik ke bawah pada target dengan kecepatan dan penuh kerakusan yang mana justru sering gagal mendapatkan apa yang diinginkan; pendekatan kedua adalah jenis monyet yang melompat ke sana kemari, dari satu buah ke buah lain, tanpa pernah benar-benar memutuskan mana yang layak dipilih; dan pendekatan ketiga adalah jenis semut yang berjalan perlahan tetapi pasti menuju tujuan yang telah ditentukan. Semut tidak menghantam buah hingga jatuh sia-sia. Ia juga tidak mengambil semua buah yang dilihatnya. Ia hanya mengambil secukupnya, sesuai dengan kemampuannya untuk mencerna dan tidak lebih. Jangan habiskan waktu yang diberikan selama hidup di dunia ini untuk tingkah laku yang konyol dan khayalan yang tidak masuk akal, yang hanya membuatmu terus berada di luar dirimu sendiri. Kapan engkau akan masuk ke dalam, ke ruang batinmu yang hangat dan tenang? Sesekali, menyendirilah dalam keheningan dan ketenangan. Rasakan kebahagiaan yang hanya bisa di dapatkan dari keheningan tersebut. 


-- Divine Discourse, 26 Oktober 1961

Ketika buah matang akan jatuh dengan sendirinya dari pohon, demikian pula ketika vairagya (ketidakterikatan) memenuhi hatimu, engkau secara alami melepaskan keterikatan dunia dan berlabuh dalam pelukan Tuhan. 

Saturday, April 25, 2026

Thought for the Day - 25th April 2026 (Saturday)



Once, a Gopika went to a well to bring two pitchers of water. After placing one pitcher on her head, she wanted someone to place the other water-filled pitcher on the first one. At that time, Krishna came there, and she asked him to place the water-filled pitcher on the first one. Krishna refused to do so. Soon, another Gopika came along and helped the first Gopika. The Gopika carrying the two pitchers reached her home. Krishna followed her to the house and, without even waiting to be asked, He took the top pitcher from the Gopika's head and placed it down. She was surprised at Krishna's strange behaviour. She asked him: “Krishna, at the well, you refused to place the pitcher on my head when I appealed to you to help me. Now you take it down from the head without my asking. What is the inner meaning of this action?” Krishna replied: “Oh Gopika! I want to remove the burdens borne by people and not to add to them.” This shows that the Divine operates only to reduce the burdens of the people and not to increase them. 


-- Divine Discourse, Feb 20, 1992

When man obeys God’s command implicitly, all his burdens are taken care of.


Pada suatu hari, seorang Gopika (gadis penggembala sapi) pergi ke sumur untuk menimba dua kendi air. Setelah menempatkan satu kendi air di atas kepalanya, ia ingin meminta bantuan seseorang untuk menaruh kendi kedua di atas kendi pertama. Pada saat itu, Sri Krishna datang ke sana, dan Gopika tersebut meminta bantuan Krishna untuk menaruh kendi di atas kendi lain di atas kepalanya. Sri Krishna menolak untuk melakukannya. Segera, gadis lain lain datang untuk membantu Gopika tersebut. Gopika tersebut membawa dua kendi air tersebut sampai ke rumahnya. Sri Krishna mengikutinya sampai ke rumahnya dan tanpa diminta bantuan, Krishna mengambil kendi paling atas dari kepala Gopika dan menaruhnya dibawah. Gopika tersebut menjadi terkejut dengan tingkah laku aneh dari Krishna. Ia menanyakan kepada Krishna: “Krishna, pada saat di sumur, Engkau menolak untuk menaruh kendi air tersebut di atas kepalaku ketika aku meminta bantuan. Sekarang Engkau mengambil kendi air di atas kepalaku dan menaruhnya dibawah tanpa saya minta. Apa makna dari tindakan-Mu ini?” Krishna menjawab: “Oh Gopika! Aku ingin melepaskan beban yang ditanggung oleh orang-orang dan bukan menambahkannya.” Hal ini memperlihatkan bahwa kehendak Tuhan hanya untuk mengurangi beban manusia dan bukan menambahkannya. 


-- Divine Discourse, 20 Februari 1992

Ketika manusia mematuhi perintah Tuhan sepenuhnya, maka semua bebannya akan ditanggung.

Friday, April 24, 2026

Thought for the Day - 24th April 2026 (Friday)



Cleanse your mind of all animal and primitive impulses, which have shaped it from birth to birth. Otherwise, just as milk, poured into a pot used for keeping buttermilk, curdles quickly, all finer experiences of truth, beauty and goodness will get tarnished beyond recognition. Do not postpone this duty to yourself, especially now, when you have the chance of contacting Me. I do not find you offering Me what I look for; you bring things which are unworthy and impure. I feel very much when I find you so agitated and troubled with the cure so near at hand. Reduce your wants; minimise your desires. All these material knick-knacks are short-lived. When death deprives you of resistance, your kith and kin take off the nose-stud, and in their haste, they may even cut the nose to retrieve it! If you go on heaping desire upon desire, it will be impossible to depart gladly when the call comes. Rather, become rich in virtue, in the spirit of service, in devotion to the higher power. That is what pleases Me and saves you! 


Divine Discourse, Oct 26, 1961

You call Me by one name only and believe I have one form only. Remember, there is no name I do not bear; there is no form which is not Mine

 

Bersihkan pikiranmu dari semua dorongan binatang dan naluri primitif yang telah membentuknya dari kelahiran ke kelahiran. Jika tidak, seperti halnya susu yang dituangkan ke dalam wadah bekas menyimpan buttermilk lalu dengan cepat menggumpal, demikian pula pengalaman-pengalaman luhur tentang kebenaran, keindahan dan kebajikan akan menjadi ternoda hingga tidak dapat dikenali lagi. Jangan menunda kewajiban ini bagi dirimu sendiri, khususnya saat sekarang ketika engkau memiliki kesempatan untuk mendekat kepada-Ku. Aku tidak menemukan apa yang sebenarnya Aku cari dari persembahanmu; engkau justru membawa hal-hal yang tidak layak dan tidak murni. Sungguh menyedihkan melihatmu gelisah dan menderita padahalnya obatnya begitu dekat. Kurangi keinginanmu; perkecil keinginanmu. Semua benda-benda material ini bersifat sementara. Saat kematian datang dan engkau tak lagi berdaya, bahkan orang-orang terdekatmu akan melepaskan perhiasan darimu; dalam tergesa-gesa, bisa saja mereka melukai dirimu demi mengambilnya! Jika engkau terus menumpuk keinginan demi keinginan, akan sulit bagimu untuk pergi dengan tenang saat panggilan itu tiba. Sebaliknya, jadilah kaya dalam kebajikan, dalam semangat melayani, dan dalam pengabdian kepada kekuatan yang lebih tinggi. Itulah yang menyenangkan-Ku dan yang akan menyelamatkanmu! 


-- Divine Discourse, 26 Oktober 1961

Engkau memanggil-Ku hanya dengan satu nama dan mengira Aku hanya memiliki satu bentuk. Ingatlah, tidak ada nama yang bukan milik-Ku; tidak ada bentuk yang bukan milik-Ku.

Thursday, April 23, 2026

Thought for the Day - 23rd April 2026 (Thursday)



All the objects we offer God in worship, like leaf, flowers, water, and all others, have an allegorical significance. The word leaf does not refer to tulsi or any other leaf. Our body is a leaf. Our body is offered as a sacred leaf to God. Because this body is full of the three gunas, we consider it a leaf and make an offering of it to God. The word ‘pushpa’ stands for the flower of the heart. The flowers we talk of in the context of God do not refer to the earthly flowers that fade away. Similarly, the word fruit is the fruit of the mind. It means that we must do our deeds without expecting any reward, and if action is done in that spirit, it becomes a holy sacrifice. Water does not mean that which is drawn from the taps. It refers to the tears of joy that spring from the depths of your heart. You should not offer leaves gathered from trees, which are external, or flowers from plants in the garden, or water drawn from the well, or fruit from somewhere else, but all these from the tree of your body, which is sacred to God. Whatever offering you make, when you offer those things born out of the tree of your own body, then the full merit will be bestowed on you. 


Ch 17, Summer Showers in Brindavan 1972

The only way to overcome misery is by offering yourself to God


Semua objek yang kita persembahkan kepada Tuhan dalam sebuah ibadah, seperti halnya daun, bunga, air, dan semua hal lainnya memiliki makna simbolis yang mendalam. Kata daun bukan sekedar mengacu pada daun tulsi atau daun lainnya. Tubuh kita sendiri adalah daun itu. Tubuh kita ini dipenuhi dengan tiga guna dipersembahkan sebagai daun suci kepada Tuhan. Kata ‘pushpa’ mengandung makna bunga hati. Bunga yang kita bicarakan dalam konteks Tuhan tidak mengacu pada bunga duniawi yang layu. Sama halnya, kata buah adalah mengacu pada buah pikiran. Hal ini berarti kita harus melakukan perbuatan kita tanpa mengharapkan imbalan apapun, dan jika perbuatan dilakukan dalam semangat tersebut, maka perbuatan itu menjadi pengorbanan suci. Air juga bukan berarti air yang diambil dari keran atau sumur. Air ini mengacu pada air mata suka cita yang hadir dari kedalaman hati. Engkau seharusnya tidak mempersembahkan daun yang dikumpulkan dari pohon, yang mana bersifat di luar diri, atau bunga dari tanaman yang ada di kebun, atau air yang ada dari sumur, atau buah dari tempat lain, namun semua persembahan ini harusnya berasal dari pohon tubuhmu yang bersifat suci kepada Tuhan. Apapun persembahan yang engkau lakukan, ketika engkau mempersembahkan itu lahir dari pohon dirimu sendiri, maka pahala utuh akan diberkati padamu. 


Ch 17, Wacana Musim Panas di Brindavan 1972

Satu-satunya cara untuk mengatasi penderitaan adalah dengan mempersembahkan dirimu sendiri pada Tuhan. 

Wednesday, April 22, 2026

Thought for the Day - 22nd April 2026 (Wednesday)





Take the Lord to be your father or mother, but only as the first step towards transcending that relationship and merging in the absolute! Do not stop on the steps; enter the mansion they lead to. The Atma sambandham (spiritual connection) is the everlasting and unchanging sambandham. As a first step, you use the flower, the lamp, the incense and so on to worship the Saguna form (God envisioned with attributes). Soon, your devotion moves on to newer forms of dedication, newer offerings that are purer, more valuable, and worthier of your Lord! You feel that you should place before the Lord something more lasting than mere flowers and something more yours than incense! You feel like purifying yourselves and making your entire life one fragrant flame! That is real worship, real bhakti. Do not come to Me with your hands full of trash, for how can I fill them with grace when they are already full? Come with empty hands and carry away My treasure, My love.


Divine Discourse, Oct 26, 1961

I am the Person come to give, not to receive. And what you can offer Me is just this: pure, unadulterated love. 


Jadikanlah Tuhan sebagai ayah dan ibumu, namun pahamilah bahwa itu adalah langkah awal untuk melampaui hubungan tersebut dan akhirnya menyatu dengan Yang Absolut! Jangan berhenti pada anak tangga; masukklah ke dalam rumah besar yang dituju oleh langkah-langkah tersebut. Atma sambandham (hubungan spiritual) atau hubungan dengan Atma adalah bersifat kekal dan tidak berubah. Pada tahap awal, engkau menggunakan bunga, lampu, dupa, dan sebagainya untuk memuja Tuhan dalam wujud Saguna, yaitu Tuhan yang dipahami dengan sifat-sifat tertentu. Namun seiring waktu, bhaktimu akan berkembang menuju bentuk pengabdian yang lebih dalam, persembahan yang lebih murni, lebih berharga, dan lebih layak bagi Tuhanmu! Engkau mulai merasa bahwa yang pantas dipersembahkan bukan sekadar bunga yang layu atau dupa yang habis terbakar, melainkan sesuatu yang lebih abadi dan sungguh berasal dari dirimu sendiri! Saat itulah muncul dorongan untuk memurnikan diri, menjadikan seluruh hidupmu sebagai nyala harum yang terus menyala. Inilah pemujaan yang sejati, inilah bhakti yang sesungguhnya. Jangan datang kepada-Ku dengan tangan yang penuh “sampah”, sebab bagaimana mungkin Aku mengisinya dengan anugerah jika sudah penuh? Datanglah dengan tangan kosong, dan bawalah pulang harta-Ku: kasih-Ku. 


Wacana Swami, 26 Oktober 1961

Aku datang untuk memberi, bukan untuk menerima. Dan satu-satunya yang dapat engkau persembahkan kepada-Ku hanyalah ini: kasih yang murni, tanpa campuran apa pun.

Monday, April 13, 2026

Thought for the Day - 13th April 2026 (Monday)



The virtue of Kshama (forbearance) is best cultivated under adverse circumstances, and one must therefore gladly welcome troubles instead of regarding them as unwelcome. Difficulties help one to nurse and build the capacity for patience, as the example of the Pandavas clearly shows. When they were in power and authority, the Pandavas were somewhat deficient in Kshama, but once they went into exile and had to face numerous hardships, Kshama automatically began to develop in them. Thus, times of distress offer the ideal opportunity for the development of patience and forbearance. In fact, pain and Kshama go together because Kshama grows best in an environment of sorrow and misery. However, because of mental weakness as well as ignorance, we invariably shun painful experiences and distress. You should not be weak; be brave and welcome troubles. Let them come, the more the merrier. It is only with such a courageous attitude that you would be able to bring out the Kshama hidden within you.


Divine Discourse, May 25, 2000

Pleasure has no separate existence. It is the fruit of pain. This basic truth is not recognised by man. 


Nilai luhur Kshama (kesabaran, dan kemampuan menahan diri) paling baik dikembangkan dalam keadaan yang penuh kesulitan. Oleh karena itu, seseorang seharusnya menyambut masalah dengan sukacita, bukan menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak diinginkan. Kesulitan membantu seseorang dalam memelihara dan membangun kemampuan untuk bersabar, sebagaimana tampak jelas dalam teladan para Pandawa. Ketika mereka berada dalam kekuasaan dan memiliki kewenangan, para Pandawa masih agak kurang dalam hal Kshama.  Namun, ketika mereka harus menjalani masa pembuangan dan menghadapi begitu banyak penderitaan, Kshama dengan sendirinya mulai tumbuh dalam diri mereka. Dengan demikian, masa-masa sulit justru memberikan kesempatan yang paling ideal untuk mengembangkan kesabaran dan ketabahan. Sesungguhnya, penderitaan dan Kshama berjalan beriringan, sebab Kshama tumbuh paling baik dalam suasana kesedihan dan kesusahan. Akan tetapi, karena kelemahan mental dan ketidaktahuan, kita hampir selalu menghindari pengalaman yang menyakitkan dan penuh tekanan. Engkau tidak boleh lemah; jadilah berani dan sambutlah kesulitan. Biarkanlah kesulitan datang - semakin banyak, semakin baik. Hanya dengan sikap keberanian seperti inilah engkau mampu memunculkan Kshama yang tersembunyi di dalam dirimu. 


Wacana Swami, 25 Mei 2000

Kesenangan tidak memiliki keberadaan yang terpisah. Kesenangan adalah buah dari penderitaan. Kebenaran mendasar ini belum disadari oleh manusia. 

Sunday, April 12, 2026

Thought for the Day - 12th April 2026 (Sunday)



The body has to be maintained in good condition, for it is only when embodied in this human container that man can realise God. The body is either strong or weak, an efficient instrument or an inefficient one, according to the food, recreations, and habits of one’s parents. Since the elders do not pay attention to these, the health of the children suffers; we have hospitals, dispensaries, and clinics in every street now, because disease has its hold on every family, in every home. Even little children wear glasses; young people dye their hair, and many wear dentures. The reason is, the atmosphere in the modern home is filled with artificiality, anxiety, envy, discontent, empty boasting, vain pomp, extravagance, falsehood and hypocrisy. How can anyone growing up in this corrosive atmosphere be free from illness? If the home is filled with the clean fragrance of contentment and peace, all its occupants will be happy and healthy. The elders have, therefore, a great responsibility towards the generation that is coming up.


Divine Discourse, Oct 05, 1967

Why should we maintain the body (deha) in good health? It is for the sake of realising the Dehi (Indweller Self). 


Tubuh harus dirawat dalam kondisi yang baik, karena hanya melalui tubuh manusia inilah seseorang dapat menyadari Tuhan. Tubuh dapat menjadi kuat atau lemah, menjadi alat yang efektif atau tidak efektif, tergantung pada makanan, rekreasi, dan kebiasaan orang tuanya. Karena para orang tua dan orang yang lebih tua sering tidak memberi perhatian pada hal-hal ini, kesehatan anak-anak pun menjadi terganggu. Itulah sebabnya sekarang kita melihat rumah sakit, klinik, dan apotek hampir di setiap jalan, karena penyakit telah menjangkiti hampir setiap keluarga dan rumah. Bahkan anak-anak kecil sudah memakai kacamata; kaum muda mewarnai rambut mereka, dan banyak yang sudah menggunakan gigi palsu. Penyebabnya adalah karena suasana rumah modern sering dipenuhi oleh kepalsuan, kecemasan, iri hati, ketidakpuasan, kesombongan kosong, kemewahan yang sia-sia, pemborosan, kebohongan, dan kemunafikan. Bagaimana mungkin seseorang yang tumbuh dalam suasana yang merusak seperti itu dapat bebas dari penyakit? Sebaliknya, jika rumah dipenuhi oleh keharuman kebersihan batin berupa rasa cukup dan kedamaian, maka semua penghuninya akan hidup bahagia dan sehat. Karena itu, para orang tua dan orang-orang yang lebih tua memiliki tanggung jawab besar terhadap generasi yang sedang tumbuh.


Wacana Swami, 5 Oktober 1967

Mengapa kita harus menjaga tubuh (deha) tetap sehat? Itu demi merealisasikan Dehi (Atma penghuni di dalam tubuh).

Saturday, April 11, 2026

Thought for the Day - 11th April 2026 (Saturday)



Kshama (forbearance) is the grandest and the noblest among virtues. It is all-encompassing. Mahabharata and Shrimad Bhagavatam both contain many episodes that illustrate the disaster that befalls when Kshama is lost. Jealousy is the first bad quality that makes its entry when Kshama makes its exit. The Mahabharata gives a graphic portrayal of how life that is otherwise smooth, can be totally shattered by jealousy. The golden island, Lanka, was like the very heavens, but Ravana’s jealousy reduced it to ruins. Whereas Kshama can give complete protection, its absence can plunge one into distress and disaster. Impatience breeds selfishness and promotes jealousy, which together spur infighting and divisive tendencies of various kinds. The troubles countries are currently passing through are largely due to the absence of this noble quality of Kshama. Impatience has ruined even very great spiritual aspirants. Kings were reduced to beggars. The absence of Kshama can make a Yogi into a rogi (sick one)! Without Kshama, mankind becomes degraded and starts declining, but if it has this quality, then it can progress by leaps and bounds.


Divine Discourse, May 25, 2000

For spiritual progress and advancement, Kshama is the real basis or foundation. 


Kshama (kesabaran dan kemampuan menahan diri) adalah sifat luhur yang paling agung dan paling mulia di antara semua sifat-sifat baik. Kesabaran ini mencakup segalanya. Mahabharata dan Shrimad Bhagavatam keduanya memuat banyak kisah yang menunjukkan bencana yang terjadi ketika kualitas Kshama ini hilang. Sifat iri hati adalah sifat buruk pertama yang masuk ketika Kshama keluar dari diri seseorang. Mahabharata memberikan gambaran yang sangat jelas tentang bagaimana kehidupan yang semula berjalan baik dapat hancur total karena iri hati. Pulau emas Lanka bagaikan surga, tetapi sifat iri hati dari Ravana menghancurkannya hingga menjadi puing-puing. Kshama dapat memberikan perlindungan yang sempurna, sedangkan ketiadaannya dapat menjerumuskan seseorang ke dalam penderitaan dan kehancuran. Sifat ketidaksabaran melahirkan egoisme dan memupuk iri hati; keduanya bersama-sama memicu pertikaian internal dan kecenderungan memecah-belah. Berbagai kesulitan yang dialami banyak negara saat ini sebagian besar disebabkan oleh tidak adanya kualitas luhur Kshama ini. Ketidaksabaran bahkan telah meruntuhkan para pencari spiritual yang agung. Raja-raja dapat jatuh menjadi pengemis. Ketiadaan Kshama bahkan dapat mengubah seorang yogi menjadi rogi (orang yang sakit)! Tanpa Kshama, umat manusia mengalami kemerosotan dan kehancuran. Namun bila kualitas ini dimiliki, manusia dapat berkembang dengan sangat pesat. 


Wacana Swami, 25 Mei 2000

Untuk kemajuan dan perkembangan spiritual, Kshama adalah dasar dan fondasi yang sejati.

Friday, April 10, 2026

Thought for the Day - 10th April 2026 (Friday)



Look at the functions of the sense organs. You may notice that even if one organ stops functioning in harmony, life will be limping. When the mind conceives a thought, all organs coordinate to have the thought executed. If senses do not follow thoughts, life will become miserable. When there is forbearance, all organs coordinate harmoniously and work in unison. Once the organs of the body, like eyes, ears, limbs, became jealous of the tongue, saying that they make all efforts to secure food, but the tongue enjoys it. The tongue merely tastes the food and passes only palatable items of food inside, which is converted by internal organs into energy-giving blood. The tongue does not retain it. But for this vital part played by the tongue, other organs would not be able to function at all. When the other organs became jealous of the tongue and stopped sending food with a view to harming it, they spelt their own ruin by such action, as they could not function when there was no food and consequently no supply of energy for these organs to function. Similarly, jealousy on the part of a person ultimately results in his own ruin! 


Divine Discourse, Jan 01, 1994

When you offer the flower of your heart to the Lord, it should be free from the pest of desire, hatred, envy, greed, and the like. 


Perhatikanlah pada fungsi dari organ-organ indera. Engkau dapat memperhatikan bahwa jika ada satu saja organ berhenti berfungsi secara selaras, maka hidup menjadi pincang. Ketika pikiran melahirkan sebuah gagasan, maka semua organ akan bekerja sama untuk mewujudkan gagasan tersebut. Jika Indera tidak mengikuti gagasan tersebut maka hidup akan menjadi sengsara. Ketika ada ketabahan, semua organ akan bekerja sama dengan selaras dan bersatu. Sekali organ-organ dari tubuh seperti mata, telinga, anggota tubuh lainnya merasa iri pada lidah, dengan mengatakan bahwa mereka melakukan segala usaha untuk mendapatkan makanan, namun lidah yang menikmati makanan tersebut. Padahal lidah fungsinya hanya merasakan makanan dan meneruskan makanan yang layak ke dalam tubuh, selanjutnya organ-organ dalam tubuh yang mengubah makanan menjadi darah penghasil energi. Lidah tidak menyimpan makanan tersebut. Namun tanpa peran vital yang dijalankan oleh lidah, organ-organ lainnya tidak akan dapat berfungsi dengan baik. Ketika organ-organ yang lain menjadi iri hati dan memutuskan berhenti mengirimkan makanan dengan tujuan untuk menyakitinya, tindakan itu justru membawa kehancuran bagi diri mereka sendiri. Tanpa adanya makanan maka tidak akan ada energi, dan akhirnya mereka tidak mampu berfungsi. Sama halnya, iri hati dalam diri seseorang pada akhirnya akan membawa kehancuran pada dirinya sendiri! 


Wacana Swami, 01 Januari 1994

Ketika engkau mempersembahkan bunga hatimu pada Tuhan, bunga itu harus bebas dari hama seperti keinginan, kebencian, iri hati, ketamakan, dan sejenisnya.

Wednesday, April 8, 2026

Thought for the Day - 8th April 2026 (Wednesday)



True and selfless love manifests as sacrifice. Such love knows no hatred. It envelops the entire universe and is capable of drawing near even those who are seemingly far away. It is Love that transforms the human into the Divine. It can transform pashu (a bestial person) into Pashupati (Divinity). In the phenomenal world, you come across many shades and derivatives of this primordial love. You love your father, mother, brother, sister, friends, and so on. In all such cases, there is always a tinge of selfishness somewhere or other. Divine love, on the other hand, is totally free of even the slightest trace of selfishness. You must surrender to such love, become completely submerged by it, and experience the bliss it confers. For acquiring such Love, the quality of Kshama or forbearance is a vital necessity. Every individual must cultivate this noble quality. Kshama is not achieved by reading books or learnt from an instructor. Nor can it be received as a gift from someone else. This prime virtue -  Kshama, can be acquired solely by self-effort, by facing squarely diverse problems, difficulties of various sorts, anxieties, and suffering as well as sorrow. 


Divine Discourse, May 25, 2000

True Divinity is Kshama (forbearance) combined with Prema (Love).

 

Kasih sejati dan tidak mementingkan diri sendiri terwujud sebagai pengorbanan. Kasih seperti itu tidak mengenal kebencian. Kasih yang sejati itu merangkul seluruh alam semesta dan mampu mendekatkan mereka yang kelihatannya jauh. Adalah kasih yang mengubah manusia menjadi ilahi. Kasih juga dapat mengubah orang yang bengis (pashu) menjadi keilahian (pashupati). Dalam dunia fenomenal ini, engkau menjumpai banyak bentuk dan turunan dari cinta yang ada sejak permulaan. Engkau menyayangi ayah, ibu, saudara, sahabat, dan yang lainnya. Namun dalam bentuk kasih seperti itu, selalu masih ada sedikit unsur kepentingan diri atau keterikatan. Sebaliknya, kasih Tuhan bersifat bebas dari jejak sekecil apapun kepentingan diri atau egoisme. Engkau harus berserah kepada kasih seperti itu, menjadi sepenuhnya tenggelam di dalamnya, dan mengalami kebahagiaan yang diberikannya. Untuk mendapatkan kasih seperti itu, kualitas Kshama atau ketabahan merupakan kebutuhan yang sangat penting. Setiap individu harus meningkatkan kualitas yang mulia ini. Kshama tidak bisa dicapai hanya dengan membaca buku atau belajar dari seorang pengajar. Dan juga tidak bisa diterima sebagai hadiah dari orang lain. Kshama yang merupakan kebajikan utama ini, hanya dapat diraih dengan usaha diri, dengan menghadapi secara langsung berbagai masalah, kesulitan, kecemasan, penderitaan, dan kesedihan di dalam hidup. 


Wacana Swami, 25 Mei 2000

Keilahian sejati adalah Kshama (ketabahan) yang dipadukan dengan Prema (kasih).

Sunday, April 5, 2026

Thought for the Day - 5th April 2026 (Sunday)



The Moon (reflected) in the flowing river is broken and fragmentary; it flows fast, apparently, with the floods. The Moon in the lake is calm, unmoved, undistracted. These two are but reflections of the real Moon in the sky. The Moon reflected in the flood is the Individual Soul, engaged in activity, embroiled in maya, cause and effect. The Moon reflected in the placid face of the lake is the yogi who has attained balance, equipoise, peace, dwelling in the One. The real Moon in the sky is the Eternal Witness, the Absolute, the Primal Principle. Christ spoke of these three when He made three statements. Referring to the individual soul, He said, “I am the Messenger of God;” referring to himself as the yogi, He said, “I am the Son of God.” Realising that these two are but reflections, and that the real Moon is the Witness in the sky, that He too is the Formless, Nameless Absolute, He declared towards the end of his life, “I and My Father are one.” All beings are images of the Universal Atma, in the names and forms they have apparently assumed. This is the truth, enclosed, elaborated, and demonstrated in the spiritual texts of India, which form the basis of Bharatiya culture. The essence of all faiths and the goal of all spiritual endeavour is this: the merging in this Unity. The object of all enquiry is this: to cognise this Unity. 


Divine Discourse, Dec 24, 1972

Religions arise from the minds of good men who crave to make all men good; they strive to eliminate evil and cure the bad. 


Bulan yang terpantul pada aliran sungai yang mengalir tampak tidak beraturan dan terpisah-pisah; terlihat mengalir dengan cepat bersamaan dengan aliran air sungai. Sedangkan bulan yang terpantul pada air danau tampak tenang, tidak bergerak, dan tidak terganggu. Namun, keduanya hanyalah pantulan dari bulan yang sesungguhnya ada di langit. Bulan yang terpantul pada aliran sungai adalah jiwa individu, sibuk dalam aktifitas, terlibat dalam maya, terikat oleh sebab dan akibat. Bulan yang terpantul pada permukaan danau yang tenang adalah yogi yang mencapai keseimbangan, ketenangan, kedamaian, berdiam dalam Yang Esa. Bulan yang sesungguhnya di langit adalah Saksi Abadi, bersifat Absolut, Prinsip Utama. Kristus berbicara ketiga bagian ini ketika Kristus membuat tiga pernyataan. Mengacu pada jiwa individu, Kristus berkata, “Aku adalah utusan Tuhan;” mengacu dirinya sebagai yogi, Kristus berkata, “Aku adakah putra dari Tuhan.” Menyadari bahwa keduanya ini hanyalah pantulan, dan bulan sesungguhnya adalah Saksi yang ada di langit, bahwa Ia juga adalah Yang Mutlak, tanpa nama dan wujud, Kristus menyatakan di akhir hidupnya, “Aku dan Bapa-Ku adalah satu.” Semua makhluk hidup adalah citra dari Atma Universal, yang tampak mengambil berbagai nama dan wujud. Inilah kebenaran yang terkandung, dijelaskan, dan dibuktikan dalam teks-teks spiritual India, yang menjadi dasar budaya Bharatiya. Intisari dari semua keyakinan dan tujuan dari semua usaha spiritual adalah ini: menyatu dalam kesatuan ini. Tujuan dari semua penyelidikan adalah ini: menyadari kesatuan ini. 


Wacana Swami, 24 Desember 1972

Agama-agama muncul dari pikiran-pikiran orang baik yang ingin menjadikan manusia baik; mereka berusaha menghilangkan kejahatan dan memperbaiki keburukan.

Saturday, April 4, 2026

Thought for the Day - 4th April 2026 (Saturday)



Education is not meant to be sold or used for begging jobs. It is meant to be shared. It grows when it is shared. What is the use of having a high education bereft of virtues? What is the value of such education? Character is more important than education. Students! There is nothing wrong with acquiring a job after the completion of your education. But at the same time, you should see to it that your education is put to use for the benefit of society. You should always keep in view the welfare of society. Take part in the service of society. What does service to society really mean? Do not consider it below your dignity to render seva (service), thinking that you are highly educated. At the same time, it is not necessary for you to sweep the roads in the name of seva. Whatever is your job, if you perform it to the satisfaction of your conscience, that itself is seva. Suppose you are doing business, do not resort to unjust and unrighteous means just to earn money. Rather, you should utilise your earnings in performing sacred tasks. 


Sathya Sai Speak, Jun 28, 1996

Dedicate all your education, intelligence and energy to the service of society. 


Pendidikan bukanlah untuk dimaksudkan untuk diperjual belikan atau sekedar digunakan untuk mencari pekerjaan. Pendidikan dimaksudkan untuk dibagikan karena pendidikan bertumbuh ketika dibagikan. apa gunanya memiliki pendidikan yang tinggi tanpa adanya kebajikan? Apa nilai dari pendidikan yang seperti itu? Karakter adalah lebih penting daripada pendidikan. Wahai para pelajar! Tidak ada yang salah dengan mencari pekerjaan setelah menyelesaikan pendidikanmu. Namun pada saat yang bersamaan, engkau harusnya memastikan bahwa pendidikan yang engkau peroleh digunakan untuk kemanfaatan masyarakat. Engkau harus selalu memandang pada kesejahtraan masyarakat. Ambillah bagian dalam pelayanan pada masyarakat. Lalu, apa sebenarnya arti pelayanan kepada masyarakat? Jangan menganggap bahwa melakukan pelayanan (seva) sebagai sesuatu yang merendahkan martabatmu, hanya karena engkau berpikir bahwa engkau berpendidikan tinggi. Pada saat yang sama, engkau tidak perlu untuk menyapu jalan atas nama seva. Apa pun pekerjaanmu, jika engkau melakukannya untuik memuaskan hati nuranimu, itu sendiri sudah merupakan _seva_ (pelayanan). Misalnya, jika engkau menjalankan usaha atau bisnis, jangan menggunakan cara-cara yang tidak adil dan tidak benar hanya demi memperoleh uang. Sebaliknya, gunakanlah penghasilanmu untuk melakukan tugas-tugas yang suci. 


Wacana Swami, 28 Juni 1996

Dedikasikan seluruh pendidikan, kecerdasan, dan energimu untuk pelayanan kepada masyarakat.

Friday, April 3, 2026

Thought for the Day - 3rd April 2026 (Friday)



Jesus exhorted people by precept and example to cultivate the virtues of charity, compassion, forbearance, love, and faith. These are not separate and distinct qualities; they are only the many facets of the Divine in man, which he has to recognise and develop. People talk of the sacrifice of Christ as evidenced by his crucifixion. But, he was surrounded and bound, and crowned by the crowd who captured him with a crown of thorns, and later, nailed to the cross by his captors. A person bound and beaten by the police cannot say that he has sacrificed anything, for he is not a free man. Let us pay attention to the sacrifice that Jesus made while free, of his own volition. He sacrificed his happiness, prosperity, comfort, safety, and position. He braved the enmity of the powerful. He refused to yield or compromise. He renounced the ‘ego’, which is the toughest thing to get rid of. Honour him for these. He willingly sacrificed the desires with which the body torments man; this sacrifice is greater than the sacrifice of the body under duress. 


- Divine Discourse, Dec 24, 1972

The Incarnation comes to warn, guide, awaken, lay down the path, and shed the light of Love on it. But man has to listen, learn and obey with hope and faith. 


Yesus menasihati umat manusia, baik melalui ajaran maupun teladan hidup-Nya, untuk menumbuhkan kebajikan seperti amal, welas asih, ketabahan, kasih, dan keyakinan. Semua ini sebenarnya bukan sifat yang terpisah-pisah, melainkan berbagai sisi dari Keilahian yang ada dalam diri manusia, yang perlu disadari dan dikembangkan. Orang-orang membicarakan pengorbanan dari kristus sebagaimana dibuktikan dengan penyaliban-Nya. Namun, sebelum itu Ia dikepung, diikat, dimahkotai duri oleh banyak orang yang menangkap-Nya, dan kemudian dipakukan di kayu salib oleh para penangkap-Nya. Seseorang yang terikat dan dipukuli oleh aparat polisi tentu tidak dapat dikatakan sedang mengorbankan sesuatu, karena pada saat itu ia tidak lagi bebas. Karena itu, marilah kita memberi perhatian pada pengorbanan yang Yesus lakukan saat Ia masih bebas, atas kehendak-Nya sendiri. Ia mengorbankan kebahagiaan, kesejahtraan, kenyamanan, keamanan, dan kedudukannya. Ia menghadapi permusuhan dari orang-orang yang berkuasa. Ia menolak untuk menyerah atau berkompromi. Ia melepaskan ‘ego’, yang justru merupakan hal paling sulit untuk ditanggalkan. Untuk semua inilah Ia patut dihormati. Ia dengan sukarela mengorbankan keinginan-keinginan yang biasanya mengikat manusia melalui tubuh. Pengorbanan seperti ini jauh lebih besar daripada pengorbanan tubuh yang dilakukan dalam keadaan terpaksa. 


Wacana Swami, 24 Desember 1972

Inkarnasi datang untuk memperingatkan, membimbing, membangunkan, menunjukkan jalan, dan menyinari jalan itu dengan cahaya kasih. Namun manusia harus mendengarkan, belajar, dan menaati dengan harapan serta keyakinan.

Thursday, April 2, 2026

Thought for the Day - 2nd April 2026 (Thursday)



The sacred and fragrant articles offered and the precious gems that are placed in the sacrificial fire are symbolic offerings which man should make in life. He should offer his pure heart and good qualities such as Satya, Dharma, Shanti and Prema (Truth, Virtue, Peace, and Love) to the Divine. The real spirit of giving to society and community the wealth, knowledge, and skills one possesses is the true yajna (sacrificial rite). Without the spirit of sacrifice, the performance of external rituals has no meaning. Life itself is a yajna. To make human life an oblation in the sacred fire of duties and actions is itself a yajna. To get rid of one's bad qualities is yajna. Every individual who seeks to lead an ideal life, to achieve bliss, and attain self-realisation must cultivate the spirit of sacrifice. Yajna is the means to lead one from sorrow to happiness, adversity to prosperity, darkness to light. Human life can be worthwhile only when it is based on sacrifice or the quality of renunciation. Then, life becomes meaningful, and Divinity can also be experienced. 


- Divine Discourse, Oct 16, 1983

Knowledge or strength or wealth that is not used for the good of others is useless. 


Barang-barang suci dan harum yang dipersembahkan, dan permata berharga yang diletakkan ke dalam api suci merupakan persembahan simbolis yang seharusnya manusia lakukan dalam hidup. Manusia seharusnya mempersembahkan hatinya yang suci dan sifat-sifat baik seperti Satya, Dharma, Shanti dan Prema (kebenaran, kebajikan, kedamaian, dan kasih) kepada Tuhan. Semangat sejati dari memberikan kepada masyarakat berupa kekayaan, pengetahuan, dan keahlian yang seseorang miliki adalah yajna  (pengorbanan suci) yang sesungguhnya. Tanpa adanya semangat pengorbanan maka pelaksanaan ritual-ritual lahiriah tidak memiliki makna. Hidup itu sendiri adalah sebuah yajna. Untuk membuat hidup manusia menjadi persembahan pada api suci kewajiban dan tindakan adalah yajna itu sendiri. Untuk melenyapkan sifat-sifat buruk seseorang juga merupakan sebuah yajna. Setiap individu yang ingin menjalani hidup yang ideal, untuk mencapai kebahagiaan, dan mendapatkan kesadaran diri sejati harus memupuk semangat pengorbanan. Yajna adalah sarana untuk menuntun seseorang dari penderitaan menuju kebahagiaan, kesulitan menuju kesejahtraan, kegelapan menuju cahaya. Hidup manusia dapat menjadi bernilai hanya ketika didasarkan pada pengorbanan atau sifat melepaskan. Kemudian, hidup menjadi bermakna, dan keilahian juga dapat dialami. 


Wacana Swami, 16 Oktober 1983

Pengetahuan atau kekuatan atau kekayaan yang tidak digunakan untuk kebaikan orang lain adalah sia-sia.

Wednesday, April 1, 2026

Thought for the Day - 1st April 2026 (Wednesday)



Pashyanapicha Na Pashyati Mudho (he is a fool who sees, yet does not recognise the reality). Look at everything with divine feelings. Then only will you see Divinity in everyone. But you see everything with a worldly outlook. You see the rope and mistake it for a serpent. Therefore, there is fear in you. It is necessary for you to use your discrimination to know whether it is a rope or a snake. You mistake the rope as snake due to your delusion. The moment there is delusion, there arises fear. Because of fear, you run away. When you see with the torch of discrimination, you will know it is not a snake, but a rope. When you come to know it is a rope, there is no more fear. Then you go close to the rope. When did fear go? The moment you came to know that it was a rope, there was no fear. When the delusion goes, you have courage. Courage is fearlessness. Then you experience bliss. Similarly, you should enquire and know the reality of the world. Is it mundane or divine? This is called Mimamsa (critical investigation).

- Divine Discourse, Apr 08, 1993

Outer vision leads only to delusion. Inner vision confers bliss. 


Pashyanapicha Na Pashyati Mudho (bodohlah orang yang melihat, namun ia tidak menyadari kenyataan sesungguhnya). Pandanglah segala sesuatu dengan perasaan yang ilahi. Hanya demikian engkau mampu melihat keilahian dalam diri setiap orang. Namun engkau melihat segala sesuatu dengan pandangan duniawi. Engkau melihat tali dan salah mengiranya sebagai seekor ular. Maka dari itu, ada rasa takut di dalam dirimu. Adalah perlu bagimu untuk menggunakan kemampuan membedakan untuk mengetahui apakah itu adalah tali atau ular. Engkau salah mengira tali sebagai ular karena khayalanmu. Saat ada khayalan maka muncul ketakutan. Karena rasa takut itu makanya engkau lari menjauh. Ketika engkau melihat dengan penerang membedakan, maka engkau akan mengetahui bahwa itu bukanlah ular dan hanyalah seutas tali. Ketika engkau mengetahui bahwa itu adalah seutas tali, maka tidak akan ada ketakutan. Kemudian engkau dapat mendekati tali tersebut. Kapan ketakutan itu lenyap? Saat engkau mengetahui bahwa itu seutas tali maka ketakutan itu lenyap. Ketika khayalan hilang, engkau memiliki keberanian. Keberanian adalah tanpa ketakutan. Kemudian engkau mengalami kebahagiaan.  Sama halnya, engkau harus menyelidiki dan mengetahui hakikat dunia ini. Apakah dunia ini fana atau Ilahi? Ini disebut dengan Mimamsa (penyelidikan kritis dan mendalam). 


Wacana Swami, 08 April 1993

Pandangan luar hanya mengarah pada khyalan. Pandangan ke dalam diri memberikan kebahagiaan.

Tuesday, March 31, 2026

Thought for the Day - 31st March 2026 (Tuesday)



Mahavira felt that liberation from the cycle of death and birth is the ultimate aim of a living being and therefore, he determined to do all sacred activities with this body to avoid life after death. When is birth possible? It is only when seeds exist that plants will sprout. Similarly, as long as man has seeds called desires, he cannot escape the cycle of birth and death. So, man has to be desireless. Thus, destruction of desires (Moha-kshayam) is liberation (moksham). This destruction of desires can be achieved by turning all our worldly desires towards God, and also by turning our love for our parents, children, wife, relations, as well as love for material things, towards God. All the base desires should be turned into love for God.  The three principles which are important are faith, wisdom, and practice. Knowledge is the learning related to worldly matters, but that which is related to spiritual matters is called wisdom. According to Mahavira, it is only when we follow wisdom, have faith, and practice these that we will achieve the divine Moksha.

- Divine Discourse, Mar 28, 1991

Through love, you develop faith; through faith, you acquire knowledge; through knowledge, you develop sadhana, and through sadhana, you achieve the goal. 


Mahavira meyakini bahwa pembebasan dari siklus kematian dan kelahiran adalah tujuan tertinggi dari setiap makhluk hidup dan karenanya Mahavira membulatkan tekad untuk menggunakan tubuhnya hanya melakukan semua perbuatan suci, agar tidak mengalami kehidupan setelah kematian. Kapan kelahiran dapat terjadi? Tanaman hanya mungkin tumbuh ketika masih ada benih. Sama halnya, selama manusia memiliki benih yang disebut dengan keinginan, maka manusia tidak bisa melepaskan diri dari siklus kelahiran dan kematian. Jadi, manusia harus menjadi tanpa keinginan. dengan demikian, penghancuran keinginan _(Moha-kshayam)_ adalah pembebasan _(moksham)_. Penghancuran keinginan ini dapat dicapai dengan mengarahkan semua keinginan-keinginan duniawi kepada Tuhan, dan juga dengan mengarahkan kasih kita kepada orang tua, anak-anak, istri, kerabat, serta kasih sayang kita pada hal-hal yang bersifat materi, menjadi kasih kepada Tuhan. Semua keinginan yang bersifat rendah harus diubah menjadi kasih kepada Tuhan. Tiga prinsip yang penting adalah keyakinan, kebijaksanaan, dan praketk. Pengetahuan adalah belajar terkait dengan hal-hal duniawi, namun hal-hal yang terkait spiritual disebut dengan kebijaksanaan. Menurut Mahavira, hanya ketika kita mengikuti kebijaksaan, maka kita memiliki keyakinan, dan melalui menjalankannya kita akan mencapai Moksha ilahi. 


Wacana Swami, 28 Maret 1991

Melalui kasih, engkau memupuk keyakinan; melalui keyakinan, engkau mendapatkan pengetahuan; melalui pengetahuan, engkau memupuk sadhana, dan melalui sadhana, engkau mencapai tujuan.

Monday, March 30, 2026

Thought for the Day - 30th March 2026 (Monday)



Some people say they are too weak to scale spiritual heights. But you have the strength to commit sins and do wrong actions. The strength required for good or bad actions is the same. In fact, it is more difficult to commit a sin than to be good and meritorious. To utter an untruth is difficult. To speak the truth is easy. Speaking the truth calls for no effort. But to declare what is not true as true calls for considerable ingenuity. Uttering an untruth is therefore more difficult. Equally, cheating is more arduous than being honest. Many devotees tell Swami that they are caught up in the coils of samsara (family and worldly life) and are unable to break away from it. But what is the truth? Is it you who are clinging to samsara, or is it samsara holding you in its grip? Does samsara have any hands to hold you? You have hands, and you are holding on to worldly life. It is a paradox for you to say that samsara is holding you in its grip when the truth is otherwise. Excessive attachment is the cause of man’s troubles. Do everything as an act of offering to the Divine.


- Divine Discourse, Apr 09, 1995

As you sow, so shall you reap. Sow the seeds of love and reap the fruit of love.


Beberapa orang mengatakan bahwa mereka terlalu lemah untuk bisa mencapai ketinggian spiritual. Namun engkau memiliki kekuatan untuk melakukan dosa dan menjalankan perbuatan yang salah. Kekuatan yang dibutuhkan untuk melakukan perbuatan baik dan buruk adalah sama. Malahan sesungguhnya, adalah lebih sulit untuk melakukan dosa daripada menjadi orang baik dan berguna. Untuk mengucapkan kebohongan adalah sulit. Untuk berbicara kebenaran adalah mudah. Berbicara kebenaran tidak memerlukan usaha. Namun untuk menyatakan kebohongan sebagai kebenaran membutuhkan kepintaran yang luar biasa. Maka dari itu mengatakan ketidakbenaran adalah lebih sulit. Sama halnya, berbuat curang adalah lebih sulit daripada bersikap jujur. Banyak bhakta menyampaikan kepada Swami bahwa mereka terperangkat ke dalam kehidupan duniawi dan berkeluarga (samsara) dan tidak memiliki kemampuan melepaskan diri dari ikatan ini. Namun apakah kebenarannya? Apakah dirimu yang mengikatkan diri pada samsara, atau apakah samsara yang mengikatmu? Apakah samsara memiliki tangan untuk mengikatmu? Engkau memiliki tangan, dan engkau mengikatkan dirimu sendiri pada kehidupan duniawi. Ini merupakan sebuah kontradiksi bagi dirimu dengan mengatakan bahwa samsara sedang mengikatmu ketika padahal kebenarannya justru sebaliknya. Keterikatan yang berlebihan adalah penyebab dari penderitaan manusia. Lakukan segala sesuatu sebagai sebuah tindakan persembahan kepada Tuhan. 


Wacana Swami, 9 April 1995

Apa yang engkau tabur, itulah yang engkau tuai. Taburlah benih kasih dan tuailah buah kasih.

Sunday, March 29, 2026

Thought for the Day - 29th March 2026 (Sunday)



There are two kinds of desires: One is natural. The other is excessive and misdirected desire. "I want a house" is a legitimate desire, and one should seek it. But it is greedy to possess two or more houses. Today, greed is more prevalent among men than the desire for necessities. With the result that man is afflicted with grief and worry. He has become a stranger to contentment. He is steeped in discontent on account of insatiable desires. Whenever one is thirsty, one has to drink water. When will this thirst end? Thirst will not end as long as life lasts. Even at the moment of death, people feel thirsty. How is the thirst (for material things) to be quenched? It is possible to get rid of iron shackles when they get rusty with time, but it is not easy to get rid of trishna (desire). Trishna is the cause of limitless desires. If desires are fulfilled, one’s ahamkara (ego) gets inflated. If they are not realised, hatred develops. There are three doorways to hell for man: kama (desire), krodha (anger) and lobha (greed). Desires tend to get out of bounds. Hence, it is essential to try to curb them as far as possible. The process of controlling desires is called sadhana.


- Divine Discourse, May 29, 1988

Life is a long journey. Reduce the burden of your desires. Less luggage, more comfort makes travel a pleasure. 


Ada dua jenis keinginan: pertama adalah keinginan yang bersifat wajar, kedua adalah keinginan yang bersifat berlebihan dan menyimpang. Keinginan seperti "aku ingin sebuah rumah " adalah bersifat sah dan patut untuk diupayakan. Namun merupakan keserakahan jika memiliki dua atau tiga lebih rumah. Hari ini, keserakahan adalah lebih lazim diantara manusia daripada keinginan pada kebutuhan pokok. Akibatnya, manusia dipenuhi kesedihan dan kekhawatiran. Manusia menjadi asing terhadap rasa puas dan tenggelam dalam ketidakpuasan karena keinginan yang tidak pernah berakhir. Kapanpun seseorang merasakan kehausan maka ia harus minum air. Kapan rasa haus itu akan hilang? rasa haus tidak akan hilang selama hidup masih berlangsung. Bahkan menjelang kematianpun, manusia merasakan kehausan. Bagaimana rasa haus pada benda-benda materi dapat dipuaskan? Belenggu atau ikatan rantai besi mungkin bisa terlepas seiring waktu ketika besi itu berkarat, namun tidaklah mudah untuk melepaskan keinginan (trishna). Trishna adalah penyebab dari keinginan yang tanpa batas. Jika keinginan-keinginan dipenuhi, maka ahamkara atau ego seseorang menjadi membesar. Jika keinginan-keinginan tersebut tidak terpenuhi maka kebencian akan berkembang. Ini adalah tiga pintu gerbang menuju neraka bagi manusia yaitu: kama (keinginan), krodha (kemarahan) dan lobha (kerserakahan). Keinginan cendrung melampaui batas. Oleh karena itu, adalah bersifat mendasar untuk berusaha mengendalikannya sebisa mungkin. Proses dalam mengendalikan keinginan disebut dengan sadhana.


Wacana Swami, 29 Mei 1988

Hidup adalah perjalanan yang panjang. Kurangi beban keinginanmu. Semakin sedikit “bawaan”, semakin nyaman perjalanan, dan hidup pun menjadi lebih menyenangkan.

Saturday, March 28, 2026

Thought for the Day - 28th March 2026 (Saturday)



Dharayiti iti Dharmah, it is said. Dharma is that which sustains and upholds the world. Every object in the world has certain unique qualities. The quality that is the vital essence of the object reveals its Dharma. For instance, it is the basic quality of fire to burn—burning is its Dharma. When the fire loses its capacity to burn, it ceases to be fire and becomes mere charcoal! Sweetness is the inherent quality of sugar. If sugar loses its sweetness, it is no longer sugar but sand! Champaka flower has the natural quality of exuding fragrance. If there is no fragrance in it, it is not Champaka. In the same manner, for man, the quality of Ananda (bliss) that flows from his heart is his inherent Dharma. But today, for external achievements, man forgets his inherent nature. Whether one is educated or not, there is one common Dharma: They should extend to others the same honour and regard which they expect others to show towards them. We should not do to others anything which if others do to us, will cause pain and unhappiness to us.


- Divine Discourse, Mar 26, 1988

In our ordinary daily life, the simple principle to be adhered to is - do unto others as you would like others to do unto you. 


Dharayiti iti Dharmah, demikianlah dikatakan. Dharma adalah yang menopang dan memelihara dunia. Setiap objek yang ada di dunia memiliki kualitas unik tertentu. Sifat yang menjadi inti yang mendasar dari suatu objek itulah yang menunjukkan Dharmanya. Sebagai contoh, sifat dasar api adalah membakar – jadi membakar adalah dharma dari api. Ketika api kehilangan kemampuannya dalam membakar, maka itu bukan lagi api namun sebagai arang! Rasa manis adalah kualitas alami dari gula. Jika gula kehilangan rasa manisnya maka itu bukan lagi gula, melainkan pasir! Bunga cempaka memiliki kualitas alami mengeluarkan keharuman. Jika tidak ada lagi keharuman maka itu bukan lagi bunga cempaka. Sama halnya bagi manusia, kualitas kebahagiaan (Ananda) yang memancar dari hati adalah dharma alami dari manusia. Namun hari ini, untuk mencapai keberhasilan lahiriah, manusia melupakan hakikat alaminya. Apakah seseorang adalah berpendidikan atau tidak, ada satu dharma yang berlaku bagi semuanya: mereka harus memberikan pernghormatan kepada orang lain dan perlakuan yang sama seperti yang mereka harapkan orang lain tunjukkan terhadap diri mereka. Kita seharusnya tidak melakukan pada orang lain apapun yang jika orang lain lakukan kepada kita, akan menyebabkan rasa sakit dan penderitaan kepada kita.


Wacana Swami, 26 Maret 1988

Dalam kehidupan sehari-hari kita, prinsip sederhana yang harus dipegang adalah: perlakukanlah orang lain sebagaimana engkau ingin diperlakukan.

Friday, March 27, 2026

Thought for the Day - 27th March 2026 (Friday)



The world, today, is in dire need of the message of the Rama story. For one thing, sons today do not follow the instructions of their fathers. Fathers do not set the right example to the children. Disciples do not respect the preceptors. Preceptors do not treat the disciple with affection. There is no love even between friends. Relations are estranged among themselves. In all fields of life—in administration, in agriculture or in business or in politics—discord is rampant. Divisions and conflict prevail in social, political, and even spiritual fields. If you enquire into the causes for this situation, you find that selfishness is at the root of it all. The basic elements are common to all mankind. The world itself is one family. All men are brothers. Rama preached to the world this basic truth. He taught the world the duties of one’s everyday life, one’s social and family obligations. This triple stream of duties is the message of the Ramayana. Whoever bathes in this triple stream is absolved of his sins and is redeemed.


- Divine Discourse, Apr 16, 1997

The great work of Ramayana must be read, re-read, and lived up to by everyone!


Dunia pada saat sekarang sangat membutuhkan pesan-pesan yang tersirat dalam kisah Rama. Sebagai contoh satu hal ini, anak-anak pada saat sekarang tidak mengikuti arahan dan perintah dari ayah mereka. Selain itu, sosok ayah juga tidak memberikan contoh atau teladan yang benar bagi anak-anak mereka. Itu artinya saat sekarang murid-murid tidak menghormati gurunya dan guru-guru tidak memperlakukan murid dengan kasih. Bahkan tidak ada kasih bahkan diantara sahabat sehingga hal ini menciptakan kerenggangan dalam  hubungan mereka. Dalam semua bidang kehidupan – dalam pemerintahan, pertanian atau bisnis atau politik terjadinya pertentangan begitu tidak terkendali. Perpecahan dan konflik terjadi dalam kehidupan sosial, politik dan bahkan spiritual. Jika engkau menyelidiki penyebab dari keadaan ini, maka engkau akan mendapatkan bahwa sifat mementingkan diri sendiri adalah akar dari semuanya ini. Padahal unsur yang dasar kehidupan adalah sama bagi seluruh umat manusia. Dunia ini sesungguhnya adalah satu keluarga. Semua manusia adalah saudara. Sri Rama mengajarkan kebenaran dasar ini kepada dunia. Rama mengajarkan pada dunia tentang kewajiban seseorang dalam kehidupannya sehari-hari, kewajiban sosial dan kewajiban dalam keluarga. Tiga bentuk kewajiban ini adalah pesan yang tertuang dalam kisah Ramayana. Siapapun yang menjalankan ketiga kewajiban ini akan terbebas dari dosa dan memperoleh pembebasan.


Wacana Swami, 16 April 1997

Karya agung dari Ramayana harus dibaca ulang, direnungkan kembali dan dijalankan dalam kehidupan oleh setiap orang!

Thursday, March 26, 2026

Thought for the Day - 26th March 2026 (Thursday)



Vedas are the quintessence of profound, immeasurable and infinite wisdom. In Treta Yuga, four Vedas assumed physical form and incarnated as Rama, Lakshmana, Bharata, and Shatrughna. While the Rigveda assumed the form of Rama, the Yajurveda, Samaveda, and Atharvaveda manifested in the forms of Lakshmana, Bharata, and Shatrughna, respectively. Rama symbolised the Rigveda. He was mantra-svarupa (embodiment of mantras). Lakshmana was mantra-drashta (one who contemplated on mantras), and he put the teachings of Rama into practice. He followed Rama faithfully. He considered Rama's name as the liberating mantra. Lakshmana considered Rama as everything—mother, father, guru, and God. Bharata was the embodiment of Samaveda and chanted Rama namam incessantly with bhava, raga, and tala (feeling, melody, and rhythm). While Bharata was engaged in nirguna worship (worship of God as attributeless), Lakshmana rejoiced in saguna worship (worship of God with attributes). Atharva Veda manifested itself as Shatrughna, who followed his three elder brothers and conquered not only the secular world but also achieved victory over the kingdom of senses.


- Divine Discourse, Mar 30, 2004

Ayodhya symbolises the place which cannot be penetrated by evil forces and which is invincible. That place is the heart. That is the place where Rama resides. 


Weda adalah intisari kebijaksanaan yang mendalam, tidak terukur, dan tidak terbatas. Dalam jaman Treta Yuga, empat Weda mengambil wujud fisik dan hadir dalam inkarnasi sebagai Rama, Lakshmana, Bharata, dan Shatrughna. Rigveda menjelma sebagai Rama, Yajurveda, Samaveda, dan Atharvaveda masing-masing menjelma sebagai Lakshmana, Bharata, dan Shatrughna. Sri Rama melambangkan Rigveda dimana Rama adalah mantra-svarupa (perwujudan dari mantra). Lakshmana adalah mantra-drashta (seseorang yang merenungkan mantra), dan menjalankan ajaran Rama dalam kehidupan. Lakshmana mengikuti Rama dengan penuh kesetiaan dan menganggap nama suci Rama sebagai mantra yang membebaskan. Bagi Lakshmana, Rama adalah segalanya yaitu sebagai ibu, ayah, guru, dan Tuhan. Bharata adalah perwujudan dari Samaveda dan melantunkan nama suci Rama dengan penuh bhava, raga, dan tala (perasaan, melodi, irama). Sedangkan Bharata menjalankan pemujaan bersifat nirguna (pemujaan Tuhan yang tanpa atribut), Lakshmana bersuka cita dalam ibadah dalam bentuk saguna (memuja Tuhan dengan atribut). Atharva Veda mewujudkan dirinya sebagai Shatrughna, yang mengikuti ketiga saudaranya dan menaklukkan tidak hanya dunia luar namun juga mencapai kemenangan pada pengendalian indra.


Wacana Swami, 30 Maret 2004

Ayodhya melambangkan tempat dimana tidak dapat ditembus oleh kekuatan jahat dan yang tidak terkalahkan. Tempat itu adalah hati. Itu adalah tempat tinggal Rama.