Tuesday, November 17, 2020

Thought for the Day - 17th November 2020 (Tuesday)

Yours is a splendid chance to become guides of mankind. You, who belong to the Sathya Sai Society, have this responsibility in an even greater measure, since you must lead model lives of sincere striving. Having taken the Name, you are bound to act according to My command and shed the light of devotion on all who come near you. No attempt need be made to run away from the duties of one’s station and status. Remember, those duties have to be done as worship, as offerings of one’s intelligence and skill, qualities, and thoughts and feelings at the Feet of the Lord in a spirit of thankfulness for the chance given, without a trace of egoism or a sense of attachment to the fruits of the actions. The root of all trouble is the uncontrolled and ill-directed mind. Obligatory actions have to be carried out, wherever you are, with care and sincerity. They award the needed discrimination and non-attachment. 



Milikmu adalah kesempatan yang hebat untuk menjadi penuntun umat manusia. Engkau, yang merupakan bagian dari masyarakat Sathya Sai, memiliki tanggung jawab ini bahkan dalam jumlah yang lebih besar, karena itu engkau harus menjalani hidup yang ideal dari perjuangan yang tulus. Setelah mengambil Nama itu, engkau terikat untuk bertindak sesuai dengan perintah-Ku dan memancarkan cahaya bhakti kepada semua yang mendekatimu. Tidak perlu melakukan usaha untuk melarikan diri dari kewajiban posisi dan status yang dimiliki. Ingatlah, kewajiban-kewajiban itu harus dilaksanakan sebagai sebuah ibadah, sebagai sebuah persembahan dari kecerdasan dan keahlian seseorang, kualitas, dan pikiran serta perasaan di kaki padma Tuhan dalam semangat bersyukur atas kesempatan yang diberikan, tanpa adanya jejak egoisme atau sebuah perasaan keterikatan pada buah dari tindakan. Akar dari semua masalah adalah pikiran yang tidak terkendali dan tidak diarahkan dengan benar. Tindakan wajib harus dijalankan, dimanapun engkau berada dengan penuh perhatian dan ketulusan. Semuanya itu memberikan kemampuan membedakan dan tanpa keterikatan yang diperlukan. - Divine Discourse, Apr 23, 1961

-BABA

 

Thought for the Day - 16th November 2020 (Monday)

First of all, you should make an attempt to make good use of the mental and physical strengths that have been given to you. When you are so lazy as not to use them, what are you going to do with divine strengths? Suppose that you have been given food and drink by the divine grace and strength of the Lord. Because God has given you enough food on your plate, for you to think that God has to also help you in transferring this food to your stomach is a very lazy idea. For taking the food to your stomach, God has given you hands, a palate and a mouth. You should make good use of them. That we may learn to make good use of our mental and physical strengths and other organs, God comes in human form; He demonstrates how these may be used. The essential quality of an Avatar is to teach you how to make good and proper use of your thought, word, and deed. 




Pertama-tama, engkau seharusnya melakukan sebuah usaha untuk menggunakan dengan baik kekuatan mental dan fisik yang telah diberikan kepadamu. Ketika engkau malas dan tidak menggunakan kekuatan itu, apa yang akan engkau lakukan dengan kekuatan Tuhan? Misalkan engkau telah diberikan makanan dan minuman karena karunia Tuhan dan kekuatan dari Tuhan. Karena Tuhan telah memberikanmu cukup makanan di atas piringmu, bagimu dengan berpikir bahwa Tuhan juga yang akan membantumu untuk mengirimkan makanan ini ke perutmu adalah sebuah gagasan yang sangat malas. Untuk mengirimkan makanan ke perutmu, Tuhan telah memberikanmu tangan, langit-langit mulut, dan mulut. Engkau harus menggunakan semuanya itu dengan baik. Dari hal ini kita dapat belajar untuk menggunakan dengan baik kekuatan fisik dan mental kita serta organ-organ yang lainnya, Tuhan datang dalam wujud manusia; Tuhan memperlihatkan bagaimana peralatan ini dapat digunakan. Kualitas mendasar dari Avatar adalah untuk mengajarkanmu bagaimana menggunakan pikiran, perkataan dan perbuatanmu dengan baik dan tepat. - Summer Roses On Blue Mountains, 1976, Ch. 6

-BABA

 

Thought for the Day - 15th November 2020 (Sunday)

Do not be carried away by worldly pleasures. Take the sacred path and sanctify your time by chanting the divine name. There is no need to allocate a specific time or place for namasmarana. You can do it wherever you are and whatever you are doing. One needs to pay tax for water and electricity but there is no tax for namasmarana. Nobody can stop you from doing it. It’s very simple, yet most effective. But people don't realise the value of namasmarana as it is so easy to practise. They think that God can be attained only through severe austerities. This is a misconception. Without troubling yourself or causing trouble to others, you can chant the divine name. Cultivate love for God. That is true devotion. Develop sacred love. Do not criticise or ridicule anybody. Give happiness to all by sharing your love with them. This is true spiritual practice. Follow this simple path, experience bliss and sanctify your lives! 



Jangan menjadi terhanyut dengan kenikmatan duniawi. Tempuhlah jalan yang suci dan sucikan waktumu dengan melantunkan nama suci Tuhan. Tidak perlu menyediakan waktu atau tempat khusus untuk melakukan namasmarana. Engkau dapat melakukannya dimanapun engkau berada dan apapun yang sedang engkau kerjakan. Seseorang perlu membayar pajak untuk air dan listrik, namun tidak ada pajak untuk namasmarana. Tidak ada seorangpun yang dapat menghentikanmu dalam melakukan latihan spiritual ini. Namasmarana adalah sangat sederhana, namun adalah yang paling efektif. Namun manusia tidak menyadari nilai dari namasmarana karena teknik ini gampang untuk dilakukan. Mereka berpikir bahwa Tuhan hanya dapat dicapai hanya melalui olah tapa yang berat. Ini adalah kesalahpahaman. Tanpa menyusahkan dirimu sendiri atau menyusahkan orang lain, engkau dapat melantunkan nama suci Tuhan. Tingkatkan kasih untuk Tuhan. Itu adalah bhakti yang sejati. Kembangkan kasih yang suci. Jangan mengkritik atau mengolok-olok siapapun. Berikan kebahagiaan kepada semuanya dengan berbagai kasih kepada mereka. Ini adalah latihan spiritual yang benar. Ikuti jalan yang sederhana ini, alami kebahagiaan dan sucikan hidupmu! - Divine Discourse, Feb 24, 2002

-BABA

 

Thought for the Day - 14th November 2020 (Saturday)

Today we are having the Akhanda Bhajan (24-hour bhajan by Sai devotees all over the world). This is being done not for the sake of one individual, one nation or community. It is for the welfare of humanity as a whole. The bhajans that are sung permeate the ether in the form of sound waves and fill the entire atmosphere. Thereby the whole environment gets purified. Breathing in this purified atmosphere, our hearts get sanctified. Reciting the Lord's name is a process of give and take. Singing the Lord's name should become an exercise in mutual sharing of joy and holiness. It should be remembered that the sounds we produce reverberate in the atmosphere. They remain permanently in the ether as waves and outlast the individual uttering the sounds. Today the atmosphere is polluted by unholy and vicious sounds. This results in the growth of evil thoughts and feelings, which lead to evil deeds. If the atmosphere has to be purified, it has to be filled with pure and sacred sounds. 




Hari ini kita melakukan Akhanda Bhajan (24-jam bhajan oleh bhakta Sai di seluruh dunia). Kegiatan ini dilakukan bukan untuk kepentingan satu orang, satu bangsa, atau satu masyarakat saja. Kegiatan ini adalah untuk kesejahteraan seluruhnya. Bhajan yang dilantunkan meliputi akasa dalam bentuk gelombang suara dan mengisi seluruh atmosfer. Maka dari itu seluruh lingkungan menjadi tersucikan. Bernafas dalam atmosfer yang suci ini, hati kita juga menjadi disucikan. Mengulang-ulang nama suci Tuhan adalah sebuah proses memberi dan menerima. Melantunkan nama suci Tuhan seharusnya menjadi sebuah latihan yang saling berbagi suka cita dan kesucian. Hal ini harus diingat bahwa suara yang kita hasilkan bergema di dalam atmosfer. Suara-suara itu tetap ada secara permanen di akasa sebagai gelombang dan hidup lebih lama dari individu yang mengucapkan suara itu. Hari ini atmosfer dicemari dengan suara-suara yang tidak suci dan jahat. Hal ini mengakibatkan tumbuhnya pikiran dan perasaan yang jahat, yang mana akan menuntun pada perbuatan yang jahat. Jika atmosfer harus disucikan maka atmosfer harus diisi dengan suara-suara yang suci dan murni. - Divine Discourse, Nov 08, 1986

-BABA

 

Thought for the Day - 13th November 2020 (Friday)

We should examine the reason why the formless Lord takes the form of a human being and comes into the midst of humans. It is so that He may mix with the human beings and set up examples and ideals for them, and to convey to them all aspects which they should learn. Many people ask very innocently and ignorantly why an Avatar, who possesses all powers, should subject Oneself to all troubles; and why should the Avatar tolerate hunger and suffering all around. An Avatar who has all the powers should be able to remove all such suffering in one moment. If there is any meaning in such a question, why should an Avatar come in human form at all? The Avatar can remain as a formless Divinity and do all these things from that position itself. In time, and under certain conditions and environment, whatever has to be done must be done and such acts, at a human level, have to be performed. 




Kita seharusnya memeriksa alasan mengapa Tuhan yang tidak berwujud mengambil wujud manusia dan hadir di antara umat manusia. Hal ini dilakukan agar Tuhan dapat terhubung dengan manusia dan memberikan teladan dan ideal bagi manusia, dan juga untuk menyampaikan kepada umat manusia tentang semua aspek yang seharusnya mereka pelajari. Banyak orang bertanya dengan begitu polosnya dan tidak tahu mengapa seorang Avatara, yang memiliki semua kekuatan, harus mengikatkan diri-Nya pada semua masalah ini; dan mengapa seharusnya Avatara memberikan toleransi pada kelaparan dan penderitaan di sekitar-Nya. Seorang Avatara yang memiliki semua kekuatan seharusnya mampu melenyapkan semua bentuk penderitaan dalam sekejap. Jika ada makna dari pertanyaan seperti itu, mengapa seorang Avatara harus datang dalam wujud manusia? Avatar dapat tetap dalam wujud Tuhan yang tanpa wujud dan melakukan semuanya itu dari tempat Tuhan. Pada waktunya, dan dalam keadaan serta lingkungan tertentu, apapun yang harus dilakukan harus dilakukan dan tindakan-tindakan yang seperti itu, di tingkat manusia harus dilakukan. - Summer Roses On Blue Mountains, 1976, Ch. 6

-BABA

 

Friday, November 13, 2020

Thought for the Day - 12th November 2020 (Thursday)

When the thirst for liberation and the revelation of one’s reality is acute, a strange and mysterious force in nature will begin operating. When the soil is ready, the seed appears from somewhere! The spiritual guru will be alerted, and the thirst will get quenched. The receiving individual has developed the power to attract the giver of illumination. That power is strong and full. Therefore, naturally the splendour that can confer illumination will get ready to bless. Though gurus of the common type have increased in number, a Guru is available for one who is far more supreme and compassionate than any or all gurus. He is none other than the Avatar of the Lord. He can, by the mere expression of His will, confer the highest consummation of spiritual life. He can gift it and get one to accept it. Even the meanest of the mean can acquire the highest wisdom, in a trice. He is the Guru of all gurus. He is the fullest embodiment of God as a human. A person can cognize God only in human form. Unless God incarnates as a person, people can never hope to see God or listen to His voice. 



Ketika rasa haus akan pembebasan dan pengungkapan kenyataan diri yang sejati begitu kuat, maka kekuatan yang bersifat misterius dan aneh secara alami akan mulai bekerja. Ketika tanah sudah siap, maka benih akan muncul entah dari mana! Guru spiritual akan selalu siap dan rasa haus itu akan dipuaskan. Individu penerima telah mengembangkan kekuatan untuk menarik sang pemberi penerangan. Kekuatan itu adalah kuat dan penuh. Maka dari itu, dengan sendirinya kemegahan yang dapat memberikan penerangan akan siap untuk memberkati. Walaupun jenis guru pada umumnya telah meningkat jumlahnya, seorang Guru adalah tersedia untuk orang yang jauh lebih agung dan welas asih daripada beberapa atau semua guru. Guru seperti ini tiada lain adalah Avatara sendiri. Beliau mampu hanya dengan kehendak-Nya sendiri dapat menganugrahkan penyempurnaan yang tertinggi dari kehidupan spiritual. Beliau dapat menghadiahkannya dan membuat seseorang menerimanya. Bahkan orang yang paling kejam sekalipun dapat mencapai kebijaksanaan yang tertinggi, dalam sekejap. Beliau adalah Guru dari semua guru. Beliau adalah perwujudan yang utuh dan sempurna dari Tuhan dalam wujud manusia. Seseorang hanya dapat mengenali Tuhan hanya dalam wujud manusia. Kecuali jika Tuhan mengambil inkarnasi sebagai manusia, maka manusia tidak akan pernah bisa berharap untuk melihat Tuhan atau mendengarkan suara-Nya. (Ch 13, 'The Avatar as a Guru', Sathya Sai Vahini)

-BABA

 

Thought for the Day - 11th November 2020 (Wednesday)

I have often told you that My Life is My Message. Avatars proclaim so and demonstrate their Divinity that way. They are children among children, men among men, and women among women, so that they may respond to their joy and sorrow and console them, and infuse confidence and courage into their drooping hearts. The Avatars appear among humans since birds, beasts, trees and the like have not slid into the unnatural and the strange. It is only humans who, pursuing the mirage of worldly happiness and sensual pleasure, have forgotten the task for which they have come to earth. Since God assumes human form in order to restore Dharma and lead man back into the path of virtue and wisdom, nothing can please God more than rigorous adherence to Dharma. One can stick to the path of Dharma if one is conscious of the Divine in everything that one sees or hears, touches or tastes. That will fill every moment of one’s life with the thrill of self-realisation. 



Aku sudah sering memberi tahumu bahwa Hidup-Ku adalah Pesan-Ku. Avatar menyatakan demikian dan mendemonstrasikan Keilahian mereka seperti itu. Mereka adalah anak-anak di antara anak-anak, pria di antara pria, dan wanita di antara wanita, sehingga mereka dapat menanggapi suka dan duka mereka dan menghibur mereka, dan menanamkan keyakinan dan keberanian ke dalam hati mereka yang terkulai. Avatar muncul di antara manusia karena burung, binatang, pohon, dan sejenisnya belum tergelincir ke dalam hal yang tidak wajar dan aneh. Hanya manusia yang, mengejar fatamorgana kebahagiaan duniawi dan kesenangan inderawi, telah melupakan tugas yang untuknya mereka datang ke bumi. Karena Tuhan mengambil bentuk manusia untuk memulihkan Dharma dan menuntun manusia kembali ke jalan kebajikan dan kebijaksanaan, tidak ada yang bisa menyenangkan Tuhan lebih dari kepatuhan yang ketat pada Dharma. Seseorang dapat tetap berpegang pada jalan Dharma jika seseorang menyadari Yang Ilahi dalam segala hal yang dilihat atau didengar, disentuh atau dicicipi. Itu akan mengisi setiap momen hidup seseorang dengan sensasi realisasi diri. (Divine Discourse, Nov 1970)

-BABA