Tuesday, August 4, 2020

Thought for the Day - 4th August 2020 (Tuesday)

The Lord has endowed you with all his wealth and divine potentialities. You are inheritors of this wealth. You have to discover what that wealth is. Sai's wealth is pure, selfless and boundless Love. This is the truth. It is not the edifices you see here that are Sai's wealth. It is pure, selfless love alone. You must inherit this love, fill yourselves with it and offer it to the world. This is your supreme responsibility as Sai devotees. What is it that you can offer to the Lord who is omnipotent, omnipresent and all-knowing? The various things you offer to God are given out of delusion. Embodiments of the Divine! To realise the Lord, Love is the easiest path. Just as you can see the moon only with the light of the moon, God, who is the Embodiment of Love, can be reached through Love. Regard Love as your life breath. Love was the first quality to emerge in the process of creation. All other qualities came after it. Therefore, fill your hearts with love and base your life on it! 



Tuhan telah memberkatimu dengan semua kekayaan dan kemampuan ilahi. Engkau adalah ahli waris dari kekayaan ini. Engkau harus menemukan apa kekayaan ini. Kekayaan Sai adalah kasih yang suci, tanpa pamrih dan tanpa batas. Ini adalah kebenaran. Ini bukanlah bangunan besar yang engkau lihat disini yang merupakan kekayaan Sai. Warisan Sai hanyalah kasih yang suci dan tidak mementingkan diri sendiri. Engkau harus mewarisi kasih ini, isi dirimu dengan kasih ini dan persembahkan kasih ini kepada dunia. Ini adalah tanggung jawabmu yang tertinggi sebagai bhakta Sai. Apa yang dapat engkau persembahkan kepada Tuhan yang mana Tuhan bersifat Maha Kuasa, Tuhan yang ada dimana-mana dan Maha Tahu? Berbagai benda yang engkau persembahkan kepada Tuhan adalah muncul dari khayalanmu. Perwujudan ketuhanan! Untuk menyadari Tuhan, kasih adalah jalan yang paling mudah. Seperti halnya engkau melihat bulan hanya dengan cahaya bulan itu sendiri, Tuhan yang merupakan perwujudan dari Kasih, dapat dicapai melalui kasih, anggaplah kasih sebagai nafas hidupmu. Kasih adalah kualitas pertama untuk menyatu ke dalam proses ciptaan. Semua kualitas yang lainnya datang setelah kasih, maka dari itu, isilah hatimu dengan kasih dan landasi hidupmu pada kasih.(Divine Discourse, Nov 23, 1986)

-BABA


Thought for the Day - 3rd August 2020 (Monday)

We say, all are our brothers and sisters, but how many are translating this ideal into action? Our actions should be in harmony with our words. Jesus taught “Brotherhood of man and the Fatherhood of God”. This truth is also the culture of Bharat. You may not have material wealth; it is enough if you have self-confidence and self-respect. Respect everybody. Offer your Namaskar (salutations) to elders wholeheartedly. What is the inner meaning of Namaskar? When you do Namaskar, you join your palms and bring them close to your heart. The five fingers of each hand symbolise the five senses of action (Karmendriyas) and five senses of perception (Jnanendriyas). These ten senses should follow the dictates of your heart (conscience). That is true Namaskar. Everyday, sow the seeds of good thoughts, water them with good actions and remove the weeds of wicked qualities. Only then will you reap the crop of bliss. 



Kita mengatakan bahwa semuanya adalah saudara dan saudari kita, namun berapa banyak yang menerjemahkan itu menjadi sebuah perbuatan yang ideal? Perbuatan kita seharusnya selaras dengan perkataan kita. Jesus mengajarkan “Persaudaraan manusia dan keesaan Tuhan”. Kebenaran ini juga adalah budaya dari Bharat. Engkau mungkin tidak memiliki kekayaan materi; namun adalah cukup jika engkau memiliki kepercayaan diri dan rasa hormat diri. Hormati setiap orang. Persembahkan rasa hormatmu (Namaskar) kepada yang lebih tua dengan sepenuh hati. Apa makna yang ada dibalik dari Namaskar? Ketika engkau melakukan Namaskar, engkau mencakupkan kedua telapak tanganmu dan membawanya dekat ke hatimu. Lima jari dari setiap tangan melambangkan lima indera perbuatan (Karmendriya) dan lima indera rangsangan (Jnanendriya). Kesepuluh indera ini harus mengikuti perintah dari hatimu (suara hati). Itu adalah Namaskar yang sebenarnya. Setiap hari, taburlah benih-benih pemikiran yang baik, sirami benih tersebut dengan perbuatan baik dan cabutlah sifat-sifat yang jahat. Hanya dengan demikian engkau akan memanen kebahagiaan. (Divine Discourse, May 16, 2002)

-BABA


Thought for the Day - 2nd August 2020 (Sunday)

Prahlada told his father Hiranyakasipu, "You want to conquer the three worlds, but you are failing to conquer your senses!" Be aware! If you have not mastered your internal enemies like anger, hatred, etc., how can you ever hope to conquer your external enemies? The inner enemies can be conquered only in one way, through love! It is essential to make our life worthwhile by practicing love, by subduing the six internal enemies (desire, anger, envy, greed, ego and lust) and dedicate all our actions to God. The world is in turmoil. At this juncture, it is the duty of each and every devotee to realise the Fatherhood of God and the brotherhood of mankind and counteract the evil forces which are inflicting innumerable troubles on mankind. Resorting to the potent weapon of love, each one should try to serve humanity to eradicate the forces of violence and unrighteousness which are rampant today. 



Prahlada berkata kepada ayahnya yaitu Hiranyakasipu, "Ayah ingin menaklukkan ketiga dunia, namun ayah gagal untuk menaklukkan indera ayah sendiri!" Waspadalah! Jika engkau belum menguasai musuh di dalam dirimu seperti amarah, kebencian, dsb, bagaimana engkau dapat berharap untuk menaklukkan musuh di luar dirimu? Musuh di dalam diri dapat ditaklukkan hanya dengan satu cara yaitu kasih! Adalah mendasar untuk membuat hidup kita menjadi berguna dengan mempraktikkan kasih, dengan mengatasi enam musuh di dalam diri (keinginan, amarah, iri hati, ketamakan, ego, dan nafsu) serta mendedikasikan semua perbuatanmu kepada Tuhan. Dunia dalam keadaan gaduh. Pada saat yang genting ini, merupakan kewajiban dari setiap bhakta untuk menyadari keesaan Tuhan dan persaudaraan manusia serta menetralkan kekuatan jahat yang menimbulkan masalah pada manusia. Dengan menggunakan senjata kasih yang ampuh, setiap orang seharusnya mencoba untuk melayani umat manusia dengan memberantas kekuatan kekerasan dan ketidakbenaran yang merajalela saat sekarang. (Divine Discourse, Nov 23, 1986)

-BABA


Saturday, August 1, 2020

Thought for the Day - 1st August 2020 (Saturday)

Do not grieve that the Lord is testing you and putting you to the ordeal of undergoing the tests, for it is only when you are tested that you can assure yourself of success or become aware of your limitations. You can then concentrate on the subjects in which you are deficient and pay more intensive attention, so that you can pass in them too when you are tested again. Good students don’t study for the examination at the last moment; they study well in advance and be ready with the needed knowledge and the courage and confidence born out of that knowledge and skill. What you have studied well in advance must be revised over and over in the mind, just before going to the examination; that is all the preparation that is necessary! This is the pathway to victory. 


Jangan menjadi bersedih hati bahwa Tuhan sedang mengujimu dan menempatkanmu pada cobaan berat saat menghadapi ujian tersebut, karena hanya pada saat engkau diuji maka engkau dapat memastikan dirimu berhasil atau menjadi sadar akan keterbatasanmu. Kemudian engkau dapat memusatkan pikiran pada bagian yang kurang dan memberikan perhatian yang lebih intensif, sehingga engkau dapat melewatinya juga ketika engkau akan diuji kembali. Murid yang baik tidak belajar untuk ujian pada saat-saat akan ujian; mereka belajar dengan baik sebelumnya dan telah siap dengan pengetahuan yang diperlukan dan keberanian serta kepercayaan diri muncul dari pengetahuan dan keterampilan. Apa yang telah engkau pelajari sebelumnya dengan baik harus diulang-ulang kembali di dalam pikiran, tepat sebelum menghadapi ujian; itu adalah semua persiapan yang diperlukan! Ini adalah jalan menuju pada kemenangan. (Divine Discourse, Shivarathri, March 1963)

-BABA

Thought for the Day - 31st July 2020 (Friday)

It is essential to develop an intimate relationship with God. You will be charged with divine energy when you achieve connection with Divinity. Living in the company of God is true good company (Satsanga). Satsangatve Nissangatvam, Nissangatve Nirmohatvam, Nirmohatve Nischalatatvam, Nischalatatve Jivanmukti (Good company leads to detachment, detachment makes one free from delusion, freedom from delusion leads to steadiness of mind and steadiness of mind confers liberation). But today one does not have a steady mind. All the time the mind wavers like a mad monkey. When you say, ‘my body’, ‘my mind’, ‘my Buddhi’, etc., all these are different from you. Then question yourself, who am I? The same principle of ‘I’ is present in everybody, right from a pauper to a millionaire. In order to understand this ‘I’ principle, you have to develop the spirit of sacrifice. 


Adalah mendasar untuk mengembangkan hubungan yang mendalam dengan Tuhan. Engkau akan dipenuhi dengan energi Tuhan ketika engkau mencapai hubungan dengan Tuhan. Hidup dalam pergaulan dengan Tuhan adalah pergaulan baik yang sejati (Satsanga). Satsangatve Nissangatvam, Nissangatve Nirmohatvam, Nirmohatve Nischalatatvam, Nischalatatve Jivanmukti (pergaulan baik menuntun pada tanpa keterikatan, tanpa keterikatan membuat seseorang bebas dari khayalan, bebas dari khayalan menuntun pada keteguhan pikiran dan keteguhan pikiran menganugrahkan pembebasan). Namun hari ini seseorang tidak memiliki keteguhan pikiran. Sepanjang waktu pikiran berkeliaran seperti seekor kera yang gila. Ketika engkau mengatakan, ‘tubuhku’, ‘pikiranku’, ‘buddhiku’, dsb., semuanya ini adalah berbeda dari dirimu. Kemudian tanyakan pada dirimu sendiri, siapakah aku? Prinsip yang sama dari ‘Aku’ adalah hadir dalam diri setiap orang, mulai dari mereka yang miskin sampai pada mereka yang kaya. Untuk dapat mengerti akan prinsip ‘Aku’ ini, engkau harus mengembangkan semangat pengorbanan. (Divine Discourse, Jun 10, 2001)

-BABA

Thought for the Day - 30th July 2020 (Thursday)

Why is ashanti (peacelessness) harassing the world? Because of raga, dwesha and moha (attachment, hate and infatuation). These are born out of ignorance, which causes delusion. Things seen in darkness cannot be clear; they are mistaken for something else. A rope is mistaken to be a snake; a stump is mistaken to be a thief. A piece of glass may be coveted as a diamond. So, this mistaken notion, this indistinct light, must go. It can go only if methods of discovering the truth are learnt. That is what the Shastras (scriptures) teach and what the Pandits (learned scholars) are commissioned to instruct you. They will tell you that the outward-seeking senses must be directed inwards; the inner realm of impulses, instincts, habits, prejudices, attitudes must be cleansed before God is reflected clear and bright therein. 


Mengapa ashanti (tidak adanya kedamaian) mengganggu dunia? Itu karena raga, dwesha, dan moha (keterikatan, kebencian, dan kegilaaan). Ketiganya ini muncul dari kebodohan yang menyebabkan khayalan. Sesuatu yang dilihat di dalam kegelapan tidaklah begitu jelas; kita bisa salah menilainya dan menganggap sesuatu yang lain. Seutas tali dianggap sebagai seekor ular; sebuah tunggul dianggap seperti seorang pencuri. Sepotong gelas mungkin dibayangkan sebagai sebuah permata. Jadi, pandangan yang keliru ini dan cahaya yang tidak jelas ini harus hilang. Ini bisa dilakukan hanya jika metode dalam mengungkapkan kebenaran dipelajari. Itu adalah apa yang Shastra (naskah suci) ajarkan dan apa yang para Pandit (cendekiawan) ditugaskan untuk mengajarimu. Mereka akan mengatakan kepadamu bahwa indera yang mencari keluar harus diarahkan ke dalam diri; dorongan batin di dalam diri, naluri, kebiasaan, prasangka, sikap harus dibersihkan sebelum Tuhan dipantulkan dengan jelas dan cerah di situ. (Divine Discourse, Aug 18, 1964)

-BABA

Thought for the Day - 29th July 2020 (Wednesday)

A country does not mean a piece of earth. People make a country. And transformation should not be one dimensional. It is the entire process of refinement by which people get rid of their bad thoughts and actions, and cultivate good thoughts and do good acts in daily life. The value of a person is not derived from his or her educational qualifications alone. The cultural refinement of one’s lifestyle is also essential. A life without culture is like a house without light. A person without culture is like a stringless kite, which is tossed hither and thither. An education bereft of culture is worthless like a counterfeit coin. What is meant by culture? It is the realisation of the inherent Divinity in man and making it manifest in one's way of life. 


Sebuah bangsa tidak berarti hanya sebuah hamparan wilayah. Manusia membuat sebuah bangsa. Dan perubahan seharusnya tidak menjadi satu dimensi saja. Ini adalah seluruh proses penyempurnaan dimana manusia melepaskan pikiran dan perbuatan buruknya, dan meningkatkan pikiran dan perbuatan baik dalam kehidupan sehari-hari. Nilai dari seseorang tidak berasal dari kualifikasi pendidikannya saja. Kehalusan budaya dari gaya hidup seseorang adalah juga mendasar. Hidup tanpa kebudayaan adalah seperti rumah tanpa cahaya. Seseorang tanpa budaya adalah seperti layang-layang tanpa tali, yang mana dilempar kesana dan kemari. Sebuah pendidikan tanpa adanya budaya adalah tidak ada nilainya seperti sebuah koin palsu. Apa artinya budaya? Ini adalah kesadaran pada ketuhanan yang melekat dalam diri manusia dan membuatnya terwujud dalam cara hidup seseorang. (Divine Discourse, Nov 22, 1997)

-BABA