Wednesday, July 31, 2024

Thought for the Day - 31st July 2024 (Wednesday)

The year becomes new and the day becomes holy, when you sanctify it by sadhana, not otherwise. Sadhana can grow only in a field fertilised by Love. Love or Prema is the essential quality of Bhakti (devotion to God). The love you have towards material objects, name, fame, wife and children, etc., should be sanctified by being subsumed by the more overpowering Love of God. Add two spoons of water to two seers of milk, the water too is appreciated as milk! At present your sadhana can be described only as mixing two litres of water with two spoons of milk! Have the Love of God filling and thrilling your heart; then, you cannot hate anyone, you cannot indulge in unhealthy rivalries, you will not find fault with anyone. Life then becomes soft, sweet and smooth. 


- Divine Discourse, Jan 01, 1967.

One's life becomes sanctified by treasuring the Lord's name in one's heart with a feeling of intense love


Tahun menjadi baru dan hari menjadi suci, ketika engkau menyucikannya dengan sadhana, bukan dengan cara yang lain. Sadhana dapat tumbuh hanya pada tanah yang dipupuk dengan kasih. Kasih atau Prema adalah kualitas mendasar dari Bhakti (kasih kepada Tuhan). Kasih yang engkau miliki pada objek material, nama, ketenaran, istri dan anak-anak, dsb, seharusnya disucikan dengan dimasukkan oleh kasih pada Tuhan yang sangat kuat. Tambahkan dua sendok air pada dua liter susu maka air itu akan dihargai sebagai susu! Pada saat sekarang sadhana yang engkau lakukan hanya dapat digambarkan seperti mencampur dua liter air pada dua sendok susu! Biarkan kasih Tuhan mengisi dan menggugah hatimu; kemudian, engkau tidak akan bisa membenci siapapun, engkau tidak akan bisa terlibat dalam persaingan yang tidak sehat, engkau tidak akan bisa menemukan kesalahan pada siapapun juga. Hidup kemudian menjadi lembut, indah dan lancar. 


- Wejangan Bhagavan, 01 Januari 1967.

Hidup seseorang menjadi suci dengan menyimpan nama Tuhan di dalam hati dengan perasaan kasih yang mendalam

Tuesday, July 30, 2024

Thought for the Day - 30th July 2024 (Tuesday)

When you undertake any task with a sacred heart, you will certainly meet with success. I am the living proof of this ideal. There is no trace of selfishness in whatever task I undertake. Whatever I do is for the benefit of humanity. Many do not try to understand this and think that it is done with some expectation. But I do not expect anything from anybody nor do I get any benefit out of it. I derive only one benefit, i.e., I feel happy when everybody is happy. As you claim to be Sai devotees, you should strictly adhere to the Sai path and make everyone happy. When you follow My footsteps, you will certainly achieve sacred results and attain good reputation. Being Sai devotees, you should give up selfishness and dedicate your lives for the welfare of society. Fill your lives with love. Stop criticising others. Offer your respects to even those who hate you. Hatred is a mean quality. It will ruin you. Hence, do not give room for hatred. Cultivate love. Help the poor and needy to the extent possible. 


- Divine Discourse, Apr 13, 2002.

Just as you can see the moon only with the light of the moon, God, who is the Embodiment of Love, can be reached only through Love.


Ketika anda melakukan tugas apapun dengan kesucian hati, anda pastinya mendapatkan keberhasilan. Aku adalah bukti nyata dari idealisme ini. Tidak ada jejak mementingkan diri sendiri dalam apapun yang Aku lakukan. Apapun yang Aku lakukan adalah untuk keuntungan umat manusia. Banyak yang tidak mencoba untuk memahami hal ini dan berpikir bahwa ini dilakukan dengan beberapa pengharapan. Namun Aku tidak mengharapkan apapun dari siapapun juga dan Aku tidak mendapatkan keuntungan apapun darinya. Aku hanya mendapatkan satu keuntungan yaitu Aku merasa senang ketika setiap orang bahagia. Ketika anda menyatakan sebagai bhakta Sai, anda seharusnya berusaha dengan keras untuk mengikuti jalan Sai dan membuat setiap orang bahagia. Ketika anda mengikuti langkah kaki-Ku, anda pastinya akan mencapai hasil yang suci dan mendapatkan reputasi yang baik. Menjadi bhakta Sai, anda seharusnya melepaskan sifat menetingkan diri sendiri dan mengabdikan hidupmu untuk kesejahtraan masyarakat. Isilah hidupmu dengan kasih. Berhentilah mengkritik yang lain. Persembahkan rasa hormatmu bahkan pada mereka yang membencimu. Kebencian adalah sifat yang hina. Sifat ini akan merusak dirimu. Karena itu, jangan memberikan ruang bagi kebencian. Kembangkan kasih. Bantulah mereka yang miskin dan membutuhkan sebisa mungkin. 


- Wejangan Bhagawan, 13 April 2002.

Seperti halnya anda bisa melihat bulan hanya dengan cahaya bulan, Tuhan yang merupakan perwujudan kasih, dapat dicapai hanya melalui kasih.


Monday, July 29, 2024

Thought for the Day - 29th July 2024 (Monday)

Today, the senses are allowed free play; man is a slave to greed, lust and egoism. The fault lies entirely with the parents and the elders. When their children go to temples or religious discourses, they reprimand them and warn them that it is a sign of insanity. They tell them that religion is an old-age pursuit; it should not be taken seriously by youngsters! But, if only they encourage them, the children can equip themselves better for the battle of life. Parents ought to advise the children: "Be convinced that there is a God, guiding and guarding us. Remember Him with gratitude. Pray to Him to render you pure. Love all; serve all. Join good company. Visit temples and holy men." You read in the newspapers about campaigns, conquests, victories, triumphs, etc., but they are all material conquests and other triumphs. Campaign against the temptations of the senses; conquer inner foes; triumph over your ego. That is the victory for which you deserve congratulations, not the others.


Divine Discourse, Jan 01, 1967.

Remember that children have tender hearts and innocent minds. Only if you fill their hearts with love will the world have genuine peace


Hari ini, Indera dibiarkan bermain secara bebas; manusia adalah budak dari ketamakan, nafsu dan egoisme. Kesalahan seluruhnya terdapat pada orang tua dan orang yang lebih tua. Ketika anak-anak pergi ke tempat suci atau mendengarkan ceramah agama, para orang tua menegur dan memperingatkan anak-anak bahwa itu adalah tanda dari kegilaan. Para orang tua mengatakan pada anak-anak bahwa agama adalah urusan orang tua; dan tidak perlu diberikan perhatian serius oleh anak-anak muda! Namun, hanya jika orang tua memberikan dorongan pada anak-anak, maka mereka dapat mempersiapkan diri mereka lebih baik dalam perjuangan hidup. Para orang tua seharusnya menasehati anak-anak: "yakinlah bahwa ada Tuhan yang sedang menuntun dan menjaga kita. Ingatlah Tuhan dengan rasa syukur. Berdoa kepada Tuhan agar engkau diberkati kesucian. Kasihi semua; layani semuanya. Bergabunglah pada pergaulan yang baik. Kunjungi tempat suci dan orang-orang suci." Engkau membaca di surat kabar tentang kampanye, penaklukkan, kemenangan, dsb., namun semuanya itu adalah penaklukkan material dan kemenangan lainnya. Kampanye menentang godaan indera; menaklukkan musuh di dalam diri; menang atas egomu. Itu adalah kemenangan yang harusnya layak mendapatkan ucapan selamat, dan bukan yang lainnya.


Divine Discourse, Jan 01, 1967.

Ingatlah bahwa anak-anak memiliki hati yang lembut dan pikiran yang polos. Hanya jika engkau mengisi hati mereka dengan kasih maka dunia akan memiliki kedamaian yang nyata


Sunday, July 28, 2024

Thought for the Day - 28th July 2024 (Sunday)

When you win the Love of God, His compassion will flow unto you. Love gives and forgives. Ego gets and forgets. When your son steals some money from the house, you do not hand him over to the police; but, when your servant steals a spoon, you have no such qualms. For, you have no love for the servant. Live without hating others, condemning others, and seeking faults in others. Vyasa, who wrote eighteen voluminous Puranas summarised all the Puranas in one single line of a small couplet: "Doing good to others is the only meritorious act; doing evil is the most heinous sin." When you feel you cannot do good, at least desist from doing evil. That itself is a meritorious service! Do not try to discover differences; discover unity. Understand that the purpose of life is to know the Embodiment of Love, namely, God, through love, and demonstrate through your own Love that you have known Him. 


- Divine Discourse, Apr 04, 1975.

If you do not have faith in the light of love, your life will be filled with darkness.


Ketika anda memenangkan kasih Tuhan, welas asih Tuhan akan mengalir pada diri anda. Kasih bersifat memberi dan memaafkan. Ego bersifat memperoleh dan melupakan. Ketika putra anda mencuri uang di rumah, anda tidak membawa putra anda ke kantor polisi; namun, ketika pembantu anda mencuri sebuah sendok, maka anda tidak ragu-ragu. Karena, anda tidak memiliki kasih pada pembantu. Hiduplah tanpa membenci yang lainnya, mengutuk yang lain, dan mencari kesalahan yang lainnya. Rsi Vyasa, yang menulis delapan belas volume Purana menyimpulkan semua Purana dalam satu baris syair kecil: "berbuat baik kepada orang lain adalah satu-satunya perbuatan yang terpuji; berbuat jahat adalah dosa yang paling keji." Ketika anda merasa bahwa anda tidak bisa melakukan kebaikan, setidaknya hindari dari melakukan kejahatan. Itu sendiri adalah pelayanan yang terpuji! Jangan mencoba untuk menemukan perbedaaan; temukan persatuan. Pahami bahwa tujuan hidup adalah untuk mengetahui perwujudan kasih, yang disebut dengan Tuhan, melalui kasih dan menunjukkan melalui kasih anda sendiri bahwa anda telah mengenal-Nya. 


- Wejangan Bhagawan, Apr 04, 1975.

Jika anda tidak memiliki keyakinan pada cahaya kasih, hidup anda akan dipenuhi dengan kegelapan.


Saturday, July 27, 2024

Thought for the Day - 27th July 2024 (Saturday)

Peace is the best treasure without which power, authority, fame, fortune are all dry and burdensome. Tyagaraja has sung that there can be no happiness, without inner peace. To earn this peace and to be unshakably established in it, man must develop Abhyasa (steady practice) and Vairagyam (detachment). Vairagyam does not imply renunciation of family ties and fleeing into the loneliness of the jungle. It means our giving up of the feeling that things are permanent and capable of yielding supreme joy. The mind plays tricks with man and believes that some things are good and some bad, some eternal and some transitory. You might have a plateful of nice eatables before you and they might appear to be delicious and fine; but, if the cook announces that a lizard had fallen into the cooker when it was on fire and has been boiled alive, all the fascination for the food disappears in a trice! There is no object without fault or failing; there is no joy that is unmixed with pain; there is no act that is not tainted with egotism. So be warned and develop the detachment which will save you from grief. 


- Divine Discourse, Apr 20, 1975.

Discrimination and detachment are the first and the second steps that man has to take in order to reach the eternal Atmic truth.


Kedamaian adalah harta terbaik yang tanpanya maka kekuasaan, kewenangan, ketenaran, keberuntungan semuanya ini menjadi kering dan menjadi beban. Tyagaraja telah melantunkan bahwa tidak akan ada kebahagiaan, tanpa adanya kedamaian batin. Untuk mendapatkan kedamaian ini dan mengakar kokoh di dalamnya, manusia harus mengembangkan Abhyasa (latihan yang tekun) dan Vairagyam (tanpa keterikatan). Vairagyam tidak berarti melepaskan ikatan keluarga dan melarikan diri dalam kesepian di dalam hutan. Vairagya mengandung makna bahwa kita harus melepaskan perasaan bahwa benda-benda duniawi bersifat permanen dan mampu memberikan suka cita tertinggi. Pikiran memainkan tipuan pada manusia dan percaya bahwa beberapa benda adalah baik dan beberapa lainnya adalah buruk, beberapa benda bersifat kekal dan beberapa lainnya bersifat sementara. Contohnya engkau memiliki sepiring makanan lezat dihadapanmu dan kelihatan begitu lezat; namun, jika tukang masak mengatakan bahwa cicak telah jatuh ke dalam panci pada saat memasak dan cicak itu direbus hidup-hidup, maka semua daya tarik dari makanan itu akan menjadi lenyap dalam sekejap! Tidak ada objek yang tanpa cacat atau kekurangan; tidak ada suka cita yang tidak tercampur dengan penderitaan; tidak ada perbuatan yang tidak ternoda dengan egoisme. Jadi waspadalah dan kembangkan tanpa keterikatan yang mana akan menyelamatkanmu dari kesedihan. 


- Divine Discourse, Apr 20, 1975.

Kemampuan membedakan dan tanpa keterikatan adalah langkah awal dan kedua yang manusia harus ambil untuk mencapai kebenaran Atma yang kekal.


Thursday, July 25, 2024

Thought for the Day - 25th July 2024 (Thursday)

If you want to light a lamp, you need four things. First a container, second - oil, third - a wick and fourth - a matchbox. If any one of these is lacking, you cannot light the lamp. This lamp can, however, remove only the outside darkness. How is the darkness in the heart to be removed? It can be removed only by Jnana Jyoti (the Light of Wisdom) and by nothing else. How is this Light of Wisdom, this spiritual light, to be lit? This also needs four elements. Vairagya (detachment) is the container. Bhakti (devotion) is the oil. Ekagrata (one-pointed concentration) is the wick. Jnana (Knowledge of the Supreme Truth) is the match stick. Without all the four, the Light of Spiritual Wisdom cannot be got. Of the four, the primary requisite is the spirit of vairagya (renunciation). Without this detachment, all knowledge of scriptures is of no avail. What is this detachment? It is the absence of attachment to the body. The ego-feeling, which makes one think of the "I" all the time, should be given up. 


- Divine Discourse, Nov 09, 1988.

Give up ego, conquer anger, limit desires, and get rid of greed. These four checks are very important, especially for spiritual aspirants.


Jika anda ingin menyalakan sebuah lampu minyak, maka anda memerlukan empat hal. Pertama adalah sebuah tempat lampu, kedua adalah minyak, ketiga adalah sumbu dan keempat adalah korek api. Jika salah satu dari keempat bagian ini tidak ada, maka anda tidak bisa menyalakan lampu minyak. Bagaimanapun juga, lampu minyak ini hanya bisa menghilangkan kegelapan di luar diri. Bagaimana menghilangkan kegelapan di dalam hati? Kegelapan hati dapat dihilangkan hanya dengan cahaya kebijaksanaan (Jnana Jyoti) dan bukan yang lainnya. Lantas, bagaimana caranya mendapatkan cahaya kebijaksanaan ini, cahaya spiritual dapat dinyalakan? Hal ini juga membutuhkan empat bagian. Bagian pertama adalah wadah lampu yaitu tanpa keterikatan (vairagya). Bagian kedua adalah minyaknya yaitu bhakti. Bagian ketiga adalah sumbunya yaitu konsentrasi pada satu titik (ekagrata). Bagian keempat adalah korek api yaitu pengetahuan pada kebenaran tertinggi (jnana). Tanpa adanya keempat bagian itu, cahaya kebijaksanaan tidak bisa diperoleh. Dari keempat bagian itu, syarat utama adalah semangat tanpa keterikatan (vairagya). Jika tidak ada kualitas tanpa keterikatan, maka semua pengetahuan naskah suci menjadi sia-sia saja. Apa itu tanpa keterikatan? Hal ini berkaitan tidak adanya keterikatan pada tubuh fisik. Perasaan ego yang membuat seseorang sepanjang waktunya memikirkan "aku", harus dilepaskan. 


- Divine Discourse, Nov 09, 1988.

Lepaskan ego, taklukkan amarah, batasi keinginan, dan buanglah ketamakan. Pemeriksaan keempat hal ini adalah sangat penting, khususnya bagi peminat spiritual.

Friday, July 19, 2024

Thought for the Day - 19th July 2024 (Friday)

Veda Vyasa is called so because of his service to students of the Veda. Vedas defied understanding since they were countless and fathomless: Ananto vai Vedah. He also composed the eighteen Puranas on various names and forms of the same God. Puranas are textbooks and illustrative descriptions of moral codes, historical episodes, philosophical principles and social ideals. Vyasa sought to bring home, through the Puranas, the need for mastering egoistic impulses, as the verse says, Ashta dasha puraneshu Vyasasya vachana dwayam; Paropakarah punyaya Papaya para peedanam”. Two statements summarise all eighteen Puranas composed by Vyasa - Doing good to others is meritorious; doing harm to others is sinful, says the hymn. Doing good is the drug; avoiding harm is the regimen that must accompany the treatment. That is the cure for the disease of suffering from joy and grief, honour and dishonour, prosperity and adversity, and the dual throng, that bothers man and deprives him of equanimity. 


- Divine Discourse, Jul 24, 1964.

You can make your life sacred by following the golden rule: Help Ever; Hurt Never.


Veda Vyasa dihormati demikian karena pelayanannya pada murid-murid yang mempelajari Weda. Weda sulit dipahami karena Weda adalah tidak terhitung dan kedalamannya tidak terukur: Ananto vai Vedah. Rsi Veda Vyasa juga Menyusun delapan belas Purana tentang berbagai nama dan wujud dari Tuhan yang sama. Purana adalah buku dan deskripsi yang membantu menjelaskan tentang etika moral, episode sejarah, prinsip filosofis dan idealisme sosial. Vyasa berusaha membuat umat manusia mengerti melalui purana tentang perlunya menguasai dorongan yang bersifat egois, seperti yang disampaikan dalam sloka, “Ashta dasha puraneshu Vyasasya vachana dwayam; Paropakarah punyaya Papaya para peedanam”. Dua pernyataan yang merangkum semua delapan belas Purana yang disusun oleh Vyasa – melakukan kebaikan pada orang lain adalah mulia; menyakiti orang lain adalah dosa. Berbuat baik adalah obatnya; menghindari diri dalam menyakiti adalah aturan hidup yang menyertai pengobatan. Itu adalah obat penyembuh bagi penyakit penderitaan dari suka dan duka cita, dihormati dan dihina, kesejahtraan dan kesulitan, dan dualitas yang mengganggu manusia dan merampas ketenangannya. 


- Divine Discourse, Jul 24, 1964.

Anda dapat membuat hidupmu suci dengan mengikuti aturan emas ini : Selalu menolong; tidak pernah menyakiti.

Tuesday, July 2, 2024

Thought for the Day - 2nd July 2024 (Tuesday)

The one who leads a godly life experiences divine bliss. He is ever blissful. He enjoys real happiness. Hence every man should realise the truth that he is a spark of the Divine. This means that everyone should seek to experience God as the indweller in the heart. Once Arjuna was troubled in mind over the state of things around him and asked Krishna why this should happen to him when he had such faith in Krishna. Krishna then explained to him that it was not enough to remember God occasionally when one felt the need to remember him. This kind of remembrance is a matter of convenience and expediency. What is required is Anusmarana, constant remembrance. Only that will relieve the devotee of his troubles and worries. Anusmarana calls for remembrance at all times, in all situations. Krishna told Arjuna that he is thinking of God only on some occasions and for some specific purposes. This is not the proper way. "If you remember Me at all times, I am always with you," said Krishna. 


- Divine Discourse, Aug 25, 1997.

Whatever the tangle in which people are caught, if they get immersed in the Lord’s name, it will make them free.


Seseorang yang menjalani sebuah hidup yang suci mengalami kebahagiaan Tuhan. Dia selalu bahagia. Dia menikmati kebahagiaan yang sesungguhnya. Karena itu setiap manusia harus menyadari kebenaran bahwa dirinya adalah percikan Tuhan. Hal ini berarti bahwa setiap orang harus berusaha untuk mengalami Tuhan sebagai penghuni di dalam hati. Saat Arjuna begitu gelisah terhadap keadaan yang terjadi di sekitarnya dan menanyakan pada Sri Krishna mengapa hal ini dapat terjadi padanya padahal dia memiliki keyakinan yang besar pada Krishna. Sri Krishna kemudian menjelaskan kepada Arjuna bahwa adalah tidak cukup mengingat Tuhan sesekali saja ketika seseorang merasa perlu untuk mengingat-Nya. Bentuk cara mengingat ini hanya berkaitan dengan kenyamanan dan keuntungan. Apa yang diperlukan adalah Anusmarana, mengingat Tuhan secara tanpa henti. Hanya dengan itu bhakta akan terbebas dari masalah dan kecemasannya. Anusmarana menyerukan mengingat Tuhan sepanjang waktu, dalam semua keadaan. Krishna berkata kepada Arjuna bahwa dia memikirkan Tuhan hanya pada saat tertentu dan untuk tujuan tertentu saja. Ini adalah bukan jalan yang tepat. "jika engkau mengingat Aku sepanjang waktu, Aku selalu bersamamu," kata Krishna. 


- Divine Discourse, Aug 25, 1997.

Apapun kekacauan yang menjerat seseorang, jika mereka tenggelam dalam nama Tuhan, ini akan membebaskan mereka.