Saturday, January 31, 2026

Thought for the Day - 31st January 2026 (Saturday)

 


Embodiments of Love! Every individual who wants to progress in the field of spirituality should develop three virtues – purity, patience and perseverance. He is a blessed person who develops these three virtues, also called the three P’s. Man without character, education without a goal and human race without morality are worthless. The life of an individual bereft of peace is no better than a night without the moon. Listen! Oh valiant sons of Bharat! (Telugu Poem) In fact, a true human being is endowed with these threefold virtues. One who loses these virtues loses humanness. Since man today lacks these three virtues, he is more like an animal than a human being. He has only the form of a human but not the demeanour. Virtues are the life principle of man. Without virtues, he is lifeless. If you want to know the true meaning of humanness, you should first develop human values. Development of human values is, therefore, a must for all. 


- Divine Discourse, Jun 24, 1996

If we want to achieve success in the path of Spirituality, we have to follow the formulae of purity, patience, and perseverance.


Perwujudan kasih! Setiap individu yang ingin melangkah maju dalam bidang spiritual harus mengembangkan tiga kualitas luhur yaitu : kesucian, kesabaran dan kegigihan. Seseorang yang mengembangkan ketiga kualitas luhur ini adalah orang yang diberkahi. Manusia tanpa adanya karakter, pendidikan tanpa adanya tujuan dan umat manusia tanpa moralitas adalah sesuatu yang tidak bernilai. Hidup seseorang tanpa adanya kedamaian adalah tidak lebih baik daripada malam tanpa cahaya bulan. Dengarkan! Oh putra-putra Bharat yang gagah berani! (puisi Telugu) sejatinya, seorang manusia sejati dikaruniai dengan tiga kualitas luhur ini. Seseorang yang kehilangan ketiga kualitas luhur ini maka kehilangan kemanusiaannya. Karena manusia pada saat sekarang kurang memiliki ketiga kualitas luhur ini, maka ia lebih mirip binatang daripada manusia. Ia hanya memiliki wujud manusia namun tidak memiliki tingkah laku dan sikap manusia sejati. Kebajikan adalah prinsip hidup manusia. Tanpa adanya kebajikan, manusia adalah hidup tanpa nyawa. Jika anda ingin mengetahui makna sejati dari kemanusiaan, maka anda harus mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan. Mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan adalah keharusan bagi semuanya. 


- Divine Discourse, Jun 24, 1996

Jika kita ingin mencapai keberhasilan di jalan spiritual, kita harus mengikuti rumus kemurnian, kesabaran dan kegigihan.

Friday, January 30, 2026

Thought for the Day - 30th January 2026 (Friday)



When japam (repetition of a holy name) is systematically started by you, fixing your inner eye on the form which illustrates the name, you will meet with many obstacles, disquieting thoughts, and enticements. They should be ignored, bypassed, and treated lightly. Strengthen your habits, stick to your discipline, improve your inner administration; mix more in the company of the good and the godly. Some people condemn the six passions as dire enemies and advise you to eject them outright. But I would advise you to keep them with you as docile servants, useful for your purposes. Dislike those who slight the name of the Lord and tell you that it is a hollow, meaningless sound; dislike them so much that you avoid them forever! Attachment can be used to fix your heart on the Lord; be fascinated by the overwhelming beauty of His form, reflected in all the loveliness of nature. Kama (desire) is not a vice, for it is given the status of one of the goals of human endeavour (Purushartha). Develop desire, but not for the material, the momentary. Desire for the deathless, the indestructible - the desire for the steady development of faith in the shastras (holy scriptures), as a means to this. 


- Divine Discourse, Nov 21, 1962

The divine name saves and liberates! It is the armour against the onslaughts of pride and self-pity! 


Ketika anda mulai melakukan japam (pengulangan nama suci Tuhan) secara teratur, dengan memusatkan mata batin pada wujud yang melambangkan nama suci tersebut, anda akan mendapatkan banyak halangan, pikiran-pikiran yang mengganggu, kegelisahan dan godaan. Semuanya itu harus diabaikan, dilewati saja dan diperlakukan tidak penting. Perkuatlah kebiasaanmu, teguhlah dalam disiplinmu, tingkatkan pengelolaan batinmu; perbanyak bergaul dengan mereka yang baik. Beberapa orang menganggap enam nafsu sebagai musuh besar dan memperingatkanmu untuk disingkirkan sepenuhnya. Namun Aku ingin menasehatimu untuk mempertahankan enam nafsu itu sebagai pelayan yang jinak dan patuh, yang dapat digunakan untuk tujuanmu yang benar. Jauhi mereka yang meremehkan nama suci Tuhan dan mengatakan padamu bahwa nama suci Tuhan bersifat kosong tanpa makna; jauhi mereka sedemikian rupa sehingga anda tidak lagi bergaul dengan mereka selamanya! Keterikatan dapat digunakan untuk mengikatkan hatimu pada Tuhan; biarkan dirimu menjadi terpikat oleh keindahan wujud-Nya yang agung, yang terpantul dalam semua keindahan alam. Kama (keinginan) bukanlah keburukan, karena keinginan merupakan salah satu tujuan hidup manusia (Purushartha). Kembangkan keinginan, namun bukan keinginan pada hal-hal duniawi yang bersifat fana dan sementara. Miliki keinginan untuk yang bersifat kekal dan abadi – yaitu keinginan untuk menumbuhkan dan memantapkan keyakinan pada naskah suci (shastras), sebagai sarana untuk mencapainya. 


- Divine Discourse, Nov 21, 1962

Nama suci Tuhan menyelamatkan dan membebaskan! Nama suci Tuhan adalah perisai pelindung terhadap serangan gencar dari kesombongan dan mengasihani diri sendiri!

Thursday, January 29, 2026

Thought for the Day - 29th January 2026 (Thursday)



Oblivious to Jnana (higher knowledge), man lives in ignorance in a dream world of illusions. Immersed in this sleeping state, he forgets his nature. One may be a president, an emperor or a prime minister, but in the sleeping state, he is not conscious of his position. In the dreams he experiences in this state, he considers them to be real and feels that these are his true state. In that dream state, a poor man may think he is an emperor (or a President). But the moment he wakes up, he is conscious of his real position and status. Likewise, man in his dream state of ajnana (ignorance), forgetting his true form of Satchitananda, identifies himself with a country, a profession or a physical form. It is this ignorance that envelops man in delusion. Just as one cannot see the rice when it is covered by husk, or see the water underneath a layer of moss, or the sun covered by a cloud, a man enveloped in ignorance is unable to see his true self. Hence, it is that the Upanishads have exhorted man to wake up from his sleep of ignorance and realise his true nature. When the husk is removed, the rice is visible. It was there in the paddy. But because of the husk covering it, it could not be seen. 


- Divine Discourse, Apr 04, 1992

The enquiry which begins with Koham (Who am I) should end with Soham (I am Divine). Only then human life has real significance and fulfilment. 


Karena tidak menyadari Jnana (pengetahuan yang lebih tinggi), manusia hidup dalam ketidaktahuan dalam sebuah dunia mimpi khayalan. Tenggelam dalam keadaan tidur ini, manusia lupa pada hakikat dirinya yang sejati. Seseorang mungkin adalah seorang presiden, atau seorang kaisar atau seorang perdana mentri, namun dalam keadaan tidur, ia tidak sadar pada kedudukan dan jabatannnya. Dalam dunia mimpi yang dialaminya, manusia menganggap bahwa keadaan di dalam mimpi adalah nyata dan merasakan bahwa itu adalah dirinya yang sebenarnya. Dalam dunia mimpi, seorang yang miskin bisa berpikir bahwa ia adalah seorang kaisar atau seorang presiden. Namun pada saat ia terbangun, ia menyadari keadaan dan posisinya yang sebenarnya. Sama halnya, manusia dalam keadaan mimpi ajnana (ketidaktahuan), ia melupakan wujudnya yang sejati yaitu Satchitananda, mengidentifikan dirinya dengan sebuah bangsa, sebuah profesi atau sebuah bentuk fisik. Ketidaktahuan inilah yang menyelubungi manusia dalam khayalan. Seperti halnya seseorang tidak bisa melihat beras ketika ditutupi oleh sekam, atau melihat air karena tertutup oleh lumut, atau matahari yang tertutup oleh awan, manusia tertutupi oleh ketidaktahuan sehingga tidak mampu untuk melihat hakikat dirinya yang sejati. Oleh karena itu, dalam Upanishad telah menyerukan manusia agar terbangun dari tidurnya dan menyadari hakikat dirinya yang sejati. Ketika sekam disingkirkan maka beras akan dapat dilihat. Sesungguhnya bulir beras sudah itu ada dalam padi, namun karena sekam menutupinya maka beras itu tidak bisa terlihat. 


- Divine Discourse, Apr 04, 1992

Penyelidikan yang dimulai dengan _Koham_ (siapakah aku) harus diakhiri dengan _Soham_ (aku adalah Tuhan). Hanya dengan demikian hidup manusia memiliki makna dan pemenuhan yang sejati.

Wednesday, January 28, 2026

Thought for the Day - 28th January 2026 (Wednesday)



An optimist and pessimist sees the thorn below the rose; the optimist, on the other hand, sees the rose flower. Pessimism and optimism both depend on drishti (vision or attitude). The two are closely related. Hopelessness arises out of faulty vision. The optimist and the pessimist walk on the same path. The optimist looks up and sees the sky and the stars, whereas the pessimist looks down and sees pits. Both are walking on the same road. But there is a difference in their vision and their points of view. Change your vision and see everything as God. Understand the difference between vision and spectacles. We see colours with our natural vision. With blue-coloured spectacles, everything appears blue. When you see the world with the spectacles of love, the entire world will appear to be full of love. Everything turns into love. Spectacles cover the eyes, but do not obstruct the vision. God is full of love. When you wear the spectacles of love, you see the correct colour and get the complete view. 


- Divine Discourse, Apr 26, 1997

When you have the love-filled vision, the whole cosmos appears Brahma-mayam (permeated by Divinity). When you see the world with the physical eye, it appears as a bundle of miseries from birth to death 


Seorang optimis dan pesimis memandang air yang ada dalam sebuah gelas. Optimis berkata bahwa gelasnya setengah penuh. Pesimis berkata bahwa gelasnya setengah kosong. Optimis penuh dengan kebahagiaan. Pesimis melihat duri pada bunga mawar; sebaliknya optimis melihat bunga mawar. Pesimis dan optimis keduanya tergantung pada cara pandang atau sikap (Drishti). Keduanya sangat erat kaitannya. Keputusasaan lahir dari cara pandang yang keliru. Sifat optimis dan pesimis berjalan di atas jalan yang sama. Optimis memandang ke atas dan melihat langit dan bintang, sedangkan pesimis memandang ke bawah dan melihat lubang-lubang di jalan. Keduanya sedang berjalan di jalan yang sama. Namun ada perbedaan pada cara pandang dan sudut pandang mereka. Karena itu, ubahlah cara pandangmu dan lihatlah segala sesuatunya sebagai Tuhan. Pahami perbedaan diantara pandangan dan kaca mata. Kita melihat warna sebagaimana adanya dengan penglihatan alami. Sedangkan dengan kaca mata berwarna biru, segala sesuatu kelihatan berwarna biru. Ketika anda memandang dunia dengan kaca mata kasih, seluruh dunia akan kelihatan penuh dengan kasih. Segala sesuatu berubah menjadi kasih. Kaca mata menutupi mata, namun tidak menghalangi penglihatan. Tuhan adalah penuh kasih. Ketika anda menggunakan kaca mata kasih, anda melihat warna yang sesungguhnya dan mendapatkan pandangan yang utuh. 


- Divine Discourse, 26 April 1997

Ketika anda memiliki pandangan kasih, seluruh semesta tampak sebagai _Brahma-mayam_ (diliputi oleh Tuhan). Ketika anda melihat dunia dengan mata fisik, dunia terlihat sebagai rangkaian penderitaan dari kelahiran hingga kematian

Tuesday, January 27, 2026

Thought for the Day - 27th January 2026 (Tuesday)



A mud pot is nothing but mud. Vessels made of gold are basically gold only and nothing else. We have emerged from God. Therefore, all of us are God only. Due to our body consciousness, we get into all kinds of trouble. What is this body? It is a perishable leather bag with nine holes, but not like a resplendent diamond. No fragrance but only foul smell emanates from it every moment. It is made up of flesh, blood, bones and faecal matter. Should we develop attachment with this body? When people achieve success, they attribute it to their capability; if they meet with failure, they attribute it to God’s Will. You can know the truth only when you recognise that everything happens by the Will of God, and whatever happens is good for you. Today, spiritual aspirants and devotees do not have this kind of faith. It is because of their part-time devotion. You should become full-time devotees. From dawn to dusk, do your duty with a firm conviction that all duties belong to God. Do your duty with love. Then only will you attain perfection.


- Divine Discourse, Apr 30, 1997

Do not limit God to your shrine. God is your life-breath.


Sebuah periuk tanah liat tiada lain adalah tanah liat. Bejana yang terbuat dari emas pada hakikatnya hanyalah emas dan bukan yang lainnya. Kita berasal dari Tuhan. Maka dari itu, semua dari kita sesungguhnya hanyalah Tuhan. Karena kesadaran pada Tubuh kita, kita mendapatkan berbagai jenis masalah. Apakah sebenarnya tubuh ini? Tubuh ini hanyalah tas kulit yang fana dengan sembilan lubang, namun sama sekali bukan berlian yang berkilauan. Tidak ada keharuman darinya, namun yang ada hanyalah bau tidak sedap yang keluar dari tubuh secara terus menerus. Tubuh terbuat dari daging, darah, tulang dan kotoran. Patutkah kita mengembangkan keterikatan pada tubuh ini? Ketika orang-orang mencapai keberhasilan, mereka menganggapnya sebagai hasil dari kemampuannya sendiri; namun jika mereka mendapatkan kegagalan, mereka menyebutnya sebagai kehendak Tuhan. Anda hanya bisa mengetahui kebenaran ketika anda menyadari bahwa segala sesuatu terjadi oleh kehendak Tuhan, dan apapun yang terjadi adalah baik untuk anda. Hari ini, para peminat spiritual dan bhakta tidak memiliki keyakinan seperti ini. Hal ini karena bhakti mereka hanya separuh waktu saja. Anda seharusnya menjadi bhakta sepenuh waktu. Mulai dari fajar hingga senja, jalankan kewajibanmu dengan keyakinan yang teguh bahwa semua kewajiban adalah milik Tuhan. Jalankan kewajibanmu dengan kasih. Hanya dengan demikian anda akan mencapai kesempurnaan, 


- Divine Discourse, 30 April 1997

Jangan batasi Tuhan hanya pada ruang doamu saja. Tuhan adalah nafas hidupmu

Monday, January 26, 2026

Thought for the Day - 26th January 2026 (Monday)



Our sages gave no weight to money, fame, pleasures, power, physical or intellectual prowess, but only to dharma. Why? To them, dharma alone is the life-force of the world. Four purusharthas (goals of human life) are prescribed by the scriptures—Dharma, Artha (wealth), Kama (desire) and Moksha (liberation). The first is Dharma. Artha and Kama come after Dharma. Meaning, unless Artha and Kama are experienced in accordance with Dharma, they cause grief. Earn wealth with Dharma. Entertain only Dharmic desires. Only thus can we attain Moksha—This is the lesson of the four purusharthas. Unfortunately, Indians have renounced the foundation of Dharma, which is like the feet supporting the structure of human life. They have chopped off the head of Moksha. They live with the headless and footless body of Artha and Kama! Thus, India has lost Her splendour of righteousness. We must take a pledge to restore Dharma, to foster education promoting Dharma, and to revive the glory of India.


- Divine Discourse, Jun 02, 1991

It is a piece of good fortune to be born in this land and be heir to this grand heritage. Living up to its claims, developing it according to one’s capacity, is indeed greater fortune. 


Para guru suci atau Rsi kita tidak pernah mengutamakan uang, ketenaran, kesenangan, kekuasaan, keunggulan fisik dan intelektual, namun hanya pada dharma. Mengapa? Bagi mereka, hanya dharma yang merupakan kekuatan hidup yang menopang dunia ini. Naskah suci kita menetapkan empat tujuan hidup manusia (purusharthas) yaitu : Dharma, Artha (kesejahtraan), Kama (keinginan) and Moksha (kebebasan). Bagian pertama adalah Dharma. Artha dan Kama muncul setelah Dharma. Hal ini berarti, apabila Artha dan Kama dijalani tanpa berlandaskan pada Dharma, maka keduanya menghasilkan penderitaan. Dapatkanlah kesejahtraan dengan berlandaskan Dharma. Penuhilah hanya keinginan yang selaras dengan Dharma. Hanya dengan demikian kita bisa mencapai Moksha – ini adalah pelajaran dari empat purusharthas. Sangat disayangkan, para penduduk Bharat telah meninggalkan landasan Dharma, yang ibarat kaki menopang struktur kehidupan manusia. Mereka juga telah memotong kepala Moksha. Akibatnya, para penduduk bharat hidup dengan tubuh Artha dan Kama tanpa adanya kepala dan kaki! Jadi, Bharat telah kehilangan keagungan dari kebajikan. Kita harus mengambil janji untuk memulihkan kembali Dharma, untuk mengembangkan pendidikan berlandaskan Dharma, dan untuk menghidupkan kembali kejayaan Bharat.


- Divine Discourse, Jun 02, 1991

Merupakan keberuntungan yang besar lahir di tanah suci ini dan menjadi pewaris dari warisan agung ini. Lebih besar lagi keberuntungan saat kita mampu menghayati, mengembangkan dan mewujudkan sesuai kemampuan kita masing-masing.

Sunday, January 25, 2026

Thought for the Day - 25th January 2026 (Sunday)



Ignorance is the main cause of man’s illusion; it is also the cause of man’s ego. When he has both ignorance and ego, he develops attachment. That’s followed by hatred. Altogether, these bind and imprison man. To attain freedom from this captivity, man must make efforts to get rid of ego, attachment, hatred, illusion and ignorance. The cause of man’s birth is his actions, and actions are the result of his attachment. For attachment, ego is responsible. Hence, ego creates all these! In fact, there should be no scope for ego at all. When we enquire, we will ourselves find that there is no basis for man’s ego! For example, see the world map. In it, Bharat appears to be small. In this country, Bharat, the state of Tamil Nadu is smaller. In Tamil Nadu, Dindigul district is still smaller. In this district, Kodaikanal is a very small place. In Kodaikanal, our house is a tiny speck. In our house, we are still smaller. So, in this vast universe, what are we, then? Where is the scope for your ego? If we have this broad vision, we will understand there is no scope for ego!


- Divine Discourse, Apr 08, 1993

The signs of the rise of Atma-jnanam (Self-knowledge) are the absence of Ahamkara and Mamakaram (feelings of I and Mine).


Ketidaktahuan (avidya) adalah penyebab utama dari khayalan manusia; ketidaktahuan juga menjadi penyebab timbulnya ego dalam diri manusia. Ketika manusia telah memiliki keduanya yaitu ketidaktahuan dan ego, maka manusia itu akan mengembangkan keterikatan. Dari keterikatan muncullah kebencian. Kesemuanya ini saling terkait dan mengikat satu dengan yang lainnya serta memenjarakan manusia. Untuk mencapai kebebasan dari belenggu ini, manusia harus melakukan usaha untuk menyingkirkan ego, keterikatan, kebencian, khayalan dan ketidaktahuan. Penyebab dari kelahiran manusia adalah tindakannya, dan tindakannya tersebut adalah hasil dari keterikatannya. Di balik keterikatan, ego adalah yang bertanggung jawab. Oleh karena itu, ego menciptakan semuanya ini! Sesungguhnya, tidak ada ruang sama sekali untuk ego. Ketika kita menyelidikinya dengan jujur, kita akan menemukan bahwa tidak ada dasar bagi ego manusia! Sebagai contoh, lihatlah peta dunia. Dalam peta, Bharat (India) kelihatan kecil. Di dalam negara Bharat, negara bagian Tamil Nadu adalah lebih kecil lagi. Dalam Tamil Nadu, kabupaten Dindigul lebih kecil lagi. Dalam kabupaten ini, Kodaikanal adalah sebuah tempat yang sangat kecil. Dalam Kodaikanal, rumah kita adalah sebuah titik sangat kecil sekali. Dalam rumah ini, keberadaan kita bahkan lebih kecil lagi. Jadi, di alam semesta yang begitu luas ini, apakah sebenarnya diri kita ini? Dimana ada ruang untuk egomu? Jika kita memiliki pandangan yang luas ini, kita akan mengerti bahwa sesungguhnya tidak ada tempat untuk ego!


- Divine Discourse, 08 April 1993

Tanda bangkitnya Atma-jnanam (Pengetahuan Diri Sejati) adalah lenyapnya Ahamkara dan Mamakaram (perasaan keakuan dan milikku).

Saturday, January 24, 2026

Thought for the Day - 24th January 2026 (Saturday)



God is present in the form of Vaishvanara (the Divine Fire) in everybody. So, when you help others, you are helping yourself. Similarly, hurting others amounts to hurting your own self. Sarva jiva namaskaram Keshavam prati gacchati (whomsoever you salute, it reaches God) and Sarva jiva tiraskaram Keshavam prati gacchati (whomsoever you denigrate, it reaches God). There is no point in undertaking pilgrimages or chanting the divine name without understanding the oneness of Divinity. You may call Him by any name and worship Him in any form, but God is one. Never forget this principle of unity. But, unfortunately, man fragments unity into diversity. Try to visualise unity in diversity. This is the true service that man is supposed to undertake. Man mein ram hath mein kam (install God in your heart and use your hands in the service of society). Then whatever work you do will be transformed into worship.


- Divine Discourse, Feb 24, 2002

As you serve others, you have to kill your ego. It cannot be called service if it is done with the feeling that “I am serving others”.

 

Tuhan hadir dalam wujud Vaishvanara (api ilahi) dalam diri setiap orang. Jadi, ketika anda membantu orang lain, anda sedang membantu diri anda sendiri. Sama halnya, menyaiti orang lain sama besarnya dengan menyakiti diri anda sendiri. Sarva jiva namaskaram Keshavam prati gacchati (siapapun yang anda hormati maka penghormatan itu mencapai Tuhan) dan Sarva jiva tiraskaram Keshavam prati gacchati (siapapun yang anda hina maka penghinaan itu mencapai Tuhan). Tidak ada gunanya melakukan perjalanan suci atau melantunkan nama suci Tuhan tanpa memahami kesatuan keilahian. Anda bisa menyebut Tuhan dengan nama apapun dan memuja-Nya dalam wujud apa saja, namun Tuhan adalah satu. Jangan pernah lupa pada prinsip kesatuan ini. Namun, sangat disayangkan, manusia memecah kesatuan menjadi keberagaman. Cobalah untuk membayangkan kesatuan dalam keberagaman. Hal ini adalah pelayanan sejati yang seharusnya dilakukan oleh manusia. Man mein ram hath mein kam (tempatkan Tuhan di dalam hatimu dan gunakan tanganmu dalam pelayanan pada masyarakat). Kemudian apapun pekerjaan yang anda lakukan akan diubah menjadi ibadah.


- Divine Discourse, 24 Februari 2002

Saat anda melayani yang lain, anda harus menyingkirkan ego. Itu tidak bisa disebut pelayanan jika dilakukan dengan perasaan bahwa “saya sedang melayani yang lain”.

Friday, January 23, 2026

Thought for the Day - 23rd January 2026 (Friday)



Once, an old friend of a king came to meet him. The king was glad to see his old friend and chatted with him affectionately. This man was very aged and carried a stick with him for support. The king questioned his friend as to how he was leading his life. His friend replied that in old age one needed some support, and the stick was his support. The old man asked the king whether he was serving his people well, to which the king reacted that he was a king and could never be a servant. The old man wished to teach the king a practical lesson. So, he dropped his stick to salute the king. As he could not bend down to pick up the stick, the king at once bowed down, picked up the stick, and gave it to his friend. Then the old man said, “You say you are not a servant. But right now you have served me. So, you are my servant.” All have to serve one another at some point in time. To say that one is not a servant is ignorance. The spirit of service is present in everybody, but it varies from person to person depending on the state of his mind.


- Divine Discourse, 30 April 1997

The Sri Sathya Sai Organisations must take up seva as sadhana, must see Me as Sarvantaryami (inner motivator of all), and do seva as puja. 


Pada suatu hari, seorang teman lama seorang raja datang berkunjung untuk menemuinya. Raja merasa senang melihat kembali teman lamanya dan berbincang-bincang dengannya penuh keakraban. Orang ini sudah tua dan membawa tongkat sebagai alat bantu jalan. Sang raja menanyakan temannya terkait bagaimana dia menjalani hidupnya. Temannya kemudian menjawab bahwa di usia lanjut seseorang membutuhkan beberapa penopang, dan tongkat adalah penopangnya. Orang tua itu kemudian menanyakan raja terkait apakah sang raja melayaninya rakyatnya dengan baik, raja menjawab dengan nada tegas bahwa ia adalah seorang raja dan tidak mungkin menjadi seorang pelayan. Orang tua itu ingin mengajarkan sang raja sebuah pelajaran yang praktis. Jadi, orang tua itu menjatuhkan tongkatnya untuk memberikan hormat pada sang raja. Karena ia tidak mampu membungkuk untuk mengambil kembali tongkatnya, sang raja segera membungkuk mengambil tongkat itu dan menyerahkan kembali pada temannya. Kemudian orang tua itu berkata, “anda mengatakan bahwa anda bukanlah seorang pelayan. Namun saat sekarang anda telah melayani saya. Jadi, anda adalah pelayan saya.” Pada suatu waktu semuanya harus melayani satu sama lain. Dengan mengatakan bahwa seseorang bukanlah pelayan merupakan tanda ketidaktahuan. Semangat melayani ada dalam diri setiap orang, namun tingkat dan wujudnya berbeda-beda sesuai dengan keadaan pikiran masing-masing.


- Divine Discourse, 30 April 1997

Organisasi Sri Sathya Sai hendaknya menjadikan seva sebagai sadhana, memandang Aku sebagai Sarvantaryami (penggerak batin semuanya), dan melakukan seva sebagai puja. 

Thursday, January 22, 2026

Thought for the Day - 22nd January 2026 (Thursday)



Neither by penance nor by pilgrimage nor by study of scriptures nor by japa (recitation of the names of God) can one cross the ocean of life. One can achieve it only by serving the pious. (Sanskrit Verse) Man need not resort to penance in order to realise God. He need not undertake pilgrimages either for liberation. How then can he cross the ocean of mundane worldly life? By serving pious people, it is said. Who has to serve? All have to serve. Everyone is a servant in this world. The child is the servant of the mother; the mother is the servant of the child. The husband is the servant of his wife, and the wife is his servant. The teacher is the servant of his students, and the students are the servants of their teacher. The government is the servant of its people, and the people are the servants of the government. Right from a king to a farmer, all are servants only. Looking at one’s wealth, one may consider oneself a master. But there is one and only one master. That is God; all others are servants only.


- Divine Discourse, Apr 30, 1997

Service is a lifetime programme, it knows no rest or respite. This body has been given so that you may devote its strength and skills to the service of fellowmen. 


Bukan dengan pengekangan indera, bukan dengan mengunjungi tempat-tempat suci dan bukan juga dengan mempelajari naskah suci atau dengan japa (pengulangan nama suci Tuhan) seseorang dapat menyebrangi lautan kehidupan. Seseorang dapat mencapai tujuan ini hanya dengan melayani orang-orang yang saleh. (Sloka Sansekerta) Manusia tidak perlu melakukan pengendalian indera untuk bisa menyadari Tuhan. Manusia juga tidak perlu melakukan  perjalanan suci untuk bisa mencapai pembebasan. Lantas bagaimana seseorang bisa menyebrangi lautan kehidupan duniawi ini? Dikatakan dengan melayani orang-orang yang saleh. Siapa yang harus melayani? Semua harus dilayani. Setiap orang adalah seorang pelayan di dunia ini. Anak adalah pelayan dari ibunya; ibu adalah pelayan bagi anaknya. Suami adalah pelayan bagi istrinya, dan sang istri adalah pelayan bagi suaminya. Guru adalah pelayan bagi murid-muridnya, dan para pelajar adalah pelayan bagi guru-guru mereka. Pemerintah adalah pelayan bagi rakyatnya, dan rakyat adalah pelayan bagi pemerintah. Mulai dari seorang raja sampai pada seorang petani, semua hanyalah pelayan. Dengan melihat pada kekayaan yang dimilikinya, seseorang bisa menganggap dirinya sebagai majikan. Namun hanya ada satu dan hanya satu majikan. Dan beliau adalah Tuhan; semua yang lain hanyalah pelayan.


- Divine Discourse, 30 April 1997

Pelayanan adalah program seumur hidup, pelayanan tidak mengenal masa istirahat atau jeda. Tubuh ini dianugerahkan agar anda bisa gunakan kekuatan dan dan ketrampilannya untuk melayani sesama manusia. 

Wednesday, January 21, 2026

Thought for the Day - 21st January 2026 (Wednesday)



When the individual carries out his duties without fail, his family will progress. When society progresses, we also progress. Perform all actions and spiritual practices, keeping the welfare of society in mind. You are the mirror of society. You should always think of the welfare of society. When others are happy, you should feel happy. When others are unhappy, help them become happy. It is not the blood circulation or the movement of the body that are important; your actions are important. Spirituality is not living alone in solitude. Spirituality connotes having equal vision for all, living among all and serving all with Ekatma Bhava (feeling of oneness). Move in society with equanimity, keeping the focus of your mind and heart on God. Live with the awareness and vision that all are one. Do not think that you are separate from others. Only then can you experience Divinity. Develop love for God and achieve oneness.


- Divine Discourse, Apr 26, 1997

Attain oneness by doing service to society. You will find divine bliss in oneness.

 

Ketika seseorang menjalankan kewajibannya secara teratur, keluarganya akan mengalami kemajuan. Ketika masyarakat mengalami kemajuan, kita juga akan mengalami kemajuan yang sama. Jalankan semua tindakan dan latihan spiritual dengan senantiasa mengutamakan kesejahtraan masyarakat di dalam pikiran. Anda adalah cerminan dari masyarakat. Anda harus selalu memikirkan tentang kesejahtraan masyarakat. Ketika orang lain bahagia, anda seharusnya juga merasa bahagia. Ketika yang lain merasa tidak bahagia, maka bantulah mereka untuk bisa merasa bahagia. Bukan peredaran darah atau gerakan tubuh yang penting; namun yang terpenting adalah tindakanmu. Spiritualitas bukanlah hidup menyendiri dalam kesendirian. Spiritualitas bermakna memiliki pandangan yang sama pada semuanya, menjalani hidup di tengah semuanya dan melayani semuanya dengan perasaan kesatuan _(Ekatma BhavaI)_. Bergaullah dalam masyarakat dengan keseimbangan batin, tetap jaga fokus pikiran dan hatimu pada Tuhan. Hiduplah dengan kesadaran dan pandangan bahwa semuanya adalah satu. Jangan berpikir bahwa anda adalah terpisah dari yang lainnya. Hanya dengan demikian anda dapat mengalami keilahian. Pupuklah kasih pada Tuhan dan akhirnya mencapai penyatuan.


- Divine Discourse, 26 April 1997

Capailah penyatuan dengan melakukan pelayanan pada masyarakat. Dalam penyatuan itu, anda akan menemukan kebahagiaan Tuhan 

Tuesday, January 20, 2026

Thought for the Day - 20th January 2026 (Tuesday)



Take for instance a mansion consisting of various rooms like bedroom, storeroom, dining room, bathroom, kitchen, etc. These rooms are of your own making. Each room is separated from the other by a wall. Once the walls are demolished, only one big hall remains. Body attachment is like the wall that separates one from the other, and which comes in the way of realising the Self. Once this wall is broken down, you will realise the infinite and immortal Self. Instead of realising the infinite and immortal Self, you are developing attachment to the body over a number of births. Develop detachment at least from this birth. You claim something as ‘mine’, but it will be yours only so long as your body exists. After your death, what you earlier claimed as yours will belong to somebody else. Such being the case, why should you develop attachment to worldly possessions? Human life is based on ‘I’ and ‘mine’. ‘I’ refers to the atma, and ‘mine’ refers to matter. The mind has originated from the atma. Matter is the effect of the mind. Once you know the nature of the mind and matter, everything else will be known.


- Divine Discourse, Jan 14, 2002

In order to understand the power of the atma, first of all, enquire into the nature of the mind.


Ambillah sebuah contoh sebuah rumah besar yang terdiri dari berbegai jenis kamar di dalamnya seperti kamar tidur, gudang, ruang makan, kamar mandi, dapur, dsb. Kamar-kamar ini adalah buatanmu sendiri. Satu kamar dengan kamar lainnya hanya dipisahkan oleh dinding. Saat dinding pemisah itu dihancurkan, maka hanya ada satu hall besar yang tersisa. Keterikatan tubuh adalah seperti dinding yang memisahkan satu dengan yang lainnya, dan juga menghalangi dalam menyadari Diri yang Sejati. Saat dinding pemisah ini dihancurkan maka anda akan menyadari Diri Sejati yang tidak terbatas dan bersifat kekal. 


Bukannya menyadari Diri Sejati yang tidak terbatas dan kekal, malahan anda sedang menguatkan keterikatan pada tubuh selama banyak kelahiran. Kembangkanlah tanpa keterikatan setidaknya pada kelahiran sekarang. Anda menyatakan sesuatu sebagai ‘milikku’, namun sesuatu hanya akan menjadi milik anda selama tubuh masih ada. Setelah kematian, apa yang sebelumnya anda klaim sebagai milik anda sendiri akan menjadi milik orang lain. Jika demikian keadaannya, mengapa anda harus mengembangkan keterikatan pada kepemilikan duniawi? Hidup manusia didasarkan pada ‘Aku’ dan ‘milikku’. ‘Aku’ merujuk pada sang atma, sedangkan ‘milikku’ merujuk pada materi duniawi. Pikiran berasal dari atma. Materi duniawi adalah akibat dari pikiran. Saat anda mengetahui sifat alami dari pikiran dan materi, segala sesuatu akan dapat diketahui.


- Divine Discourse, Jan 14, 2002

Dalam upaya untuk memahami kekuatan sang atma, pertama-tama, selidikilah sifat asli dari pikiran.

Monday, January 19, 2026

Thought for the Day - 19th January 2026 (Monday)


In the army, people are assigned different duties. But two things are common to everyone: parade (drill) and use of the gun. Likewise, two things are essential for students: prema (love) and tyaga (sacrifice). Adhere to these two ideals. Love all. Be prepared for any kind of sacrifice. Without the spirit of sacrifice, life has no meaning. For the sake of helping others or for promoting the welfare of society, you must be ready even to give up your lives. To realise God, continually yearn for Him. You must constantly pray for the opportunity to experience God. Ramakrishna Paramahamsa used to feel sad if he did not have the vision of the Mother on any day. Pine for God at all times. When you get God’s grace, all the planets will be in your favour. You must ceaselessly try to win God’s grace. Never give up the search. Do your duty, and God’s grace will follow. Pray from the depth of your heart for the well-being of all people.


- Divine Discourse, Jan 14, 1997

All the study of scriptures is of little avail if genuine love of God does not flow spontaneously from the heart.

 

Di militer, setiap orang diberikan tugas yang berbeda-beda. Namun ada dua hal yang sama bagi semuanya yaitu: baris-berbaris (latihan) dan penggunaan senjata. Demikian pula, ada dua hal yang esensial bagi murid yaitu: prema (kasih) dan tyaga (pengorbanan). Pegang teguh kedua nilai-nilai ini. Kasihilah semua. Bersiaplah untuk segala bentuk pengorbanan. Tanpa semangat pengorbanan, hidup akan kehilangan maknanya. Demi menolong sesama atau memajukan kesejahteraan masyarakat, engkau hendaknya siap bahkan untuk mengorbankan hidupmu. Untuk menyadari Tuhan, teruslah merindukan-Nya. Engkau harus senantiasa berdoa agar diberi kesempatan mengalami Tuhan. Ramakrishna Paramahamsa merasa sangat sedih apabila pada suatu hari ia tidak memperoleh darśan (penglihatan suci) Sang Ibu Ilahi. Rindukanlah Tuhan setiap saat. Ketika engkau mendapatkan berkat Tuhan, semua planet akan berpihak kepadamu. Karena itu, berusahalah tanpa henti untuk meraih berkat-Nya. Jangan pernah menyerah dalam pencarian. Laksanakan kewajibanmu, maka berkat Tuhan akan mengikutimu. Berdoalah dari lubuk hatimu demi kesejahteraan seluruh umat manusia.


- Divine Discourse, Jan 14, 1997

Semua kajian kitab suci tidak akan banyak gunanya jika kasih sejati kepada Tuhan tidak mengalir secara spontan dari hati.

Sunday, January 18, 2026

Thought for the Day - 18th January 2026 (Sunday)



Embodiments of Love! The body is given to man to perform actions. As the Gita says: Karmanyevadhikaraste Ma Phaleshu Kadachana (your right is on actions only, not the fruits thereof). It is the duty of man to perform actions. Duty is very important. Your responsibility is only to perform your duty; you have no authority on rights. When you discharge your duty sincerely, you will get the rights automatically. But man today forgets his duty and craves for authority. So, take care of your responsibility. If you perform your responsibility earnestly, you will get the rights naturally. When there is a downpour of rain, rivers flow naturally. Without rain, how do you expect the rivers to flow? Pray for the rain; you need not pray for the rivers to flow. Likewise, when you do your duty, you will certainly get the reward of your actions. So, perform actions without any desire for fruits.


- Divine Discourse, Apr 10, 1993

Permanent happiness can be got only by performing your duties. First do your duty and then enjoy the fruits.

 

Wahai Perwujudan Kasih! Tubuh ini dianugerahkan kepada manusia untuk melakukan perbuatan. Sebagaimana diajarkan dalam Bhagavad Gita: “Karmanyevadhikaraste Ma Phaleshu Kadachana” (hakmu hanyalah pada perbuatan, bukan hasil dari perbuatan tersebut). Adalah kewajiban manusia untuk melakukan tindakan. Kewajiban memiliki arti yang sangat penting. Tanggung jawabmu hanyalah untuk melaksanakan kewajibanmu; engkau tidak memiliki wewenang atas hak. Ketika engkau menjalankan kewajiban dengan tulus, secara otomatis engkau akan memperoleh hak-mu. Namun manusia saat ini sering melupakan kewajibannya dan justru menuntut hak. Karena itu, perhatikanlah tanggung jawabmu. Jika engkau melaksanakan tanggung jawab dengan sepenuh hati, hak akan engkau peroleh secara alami. Ketika hujan turun deras, sungai-sungai akan mengalir secara alami. Tanpa hujan, bagaimana mungkin sungai dapat mengalir? Berdoalah agar hujan turun; engkau tidak perlu berdoa agar sungai mengalir. Demikian pula, ketika engkau melaksanakan kewajibanmu, engkau pasti akan mendapatkan pahala dari tindakanmu. Maka, lakukanlah tindakan tanpa keinginan akan hasilnya.


- Divine Discourse, Apr 10, 1993

Kebahagiaan sejati hanya dapat diraih dengan menunaikan kewajibanmu. Lakukan kewajibanmu terlebih dahulu, kemudian nikmati hasilnya.

Saturday, January 17, 2026

Thought for the Day - 17th January 2026 (Saturday)


Cultivate love that will help you to experience bliss. “Start the day with Love; fill the day with Love; end the day with Love – that is the way to God.“ If you can achieve this, you will not be disturbed by sorrows and difficulties. The heart is the seat of bliss. True bliss flows from a pure and loving heart. Try to experience such bliss. All other forms of happiness are momentary. Children are always happy and cheerful. They do not have any inhibitions. When somebody smiles at them, they will also smile innocently. They experience bliss that is the inherent nature of all human beings. There is a difference between happiness and bliss. In common parlance, “happiness” is momentary. It comes and goes. Bliss is something that wells up from within. It emerges from the heart, as a result of one’s union with God. If one feels separate from God, one cannot experience bliss. You have to experience such bliss in abundance in the days to come. Neither age nor position, nor for that matter anything in this physical environment, can bring about such bliss. It is only a pure and loving heart that is the source of bliss. 


- Divine Discourse, Jan 14, 2005 

The coming together of man’s effort and God’s grace is responsible for happiness


Kembangkanlah cinta-kasih yang akan menuntunmu untuk mengalami kebahagiaan sejati. “Awalilah hari dengan Cinta-kasih; isilah hari dengan Cinta-kasih; akhiri hari dengan Cinta-kasih — inilah jalan menuju Tuhan.” Jika engkau mampu menjalani hidup dengan cara ini, engkau tidak akan mengalami kesedihan dan kesulitan. Hati adalah tempat bersemayamnya kebahagiaan. Kebahagiaan sejati mengalir dari hati yang murni dan penuh kasih. Upayakanlah untuk mengalami kebahagiaan seperti itu. Semua bentuk kebahagiaan lainnya bersifat sementara. Anak-anak selalu tampak bahagia dan ceria. Mereka tidak memiliki hambatan apapun. Ketika seseorang tersenyum kepada mereka, mereka pun akan tersenyum kembali dengan polosnya. Mereka merasakan kebahagiaan yang merupakan sifat alami setiap manusia. Ada perbedaan antara kebahagiaan dan kebahagiaan sejati (ananda). Dalam bahasa sehari-hari, kebahagiaan bersifat sementara, ia datang dan pergi. Namun kebahagiaan sejati adalah sesuatu yang memancar dari dalam diri. Ia muncul dari hati sebagai hasil dari persatuan dengan Tuhan. Jika seseorang merasa terpisah dari Tuhan, ia tidak akan mampu merasakan kebahagiaan sejati. Engkau hendaknya mengalami kebahagiaan sejati itu secara melimpah di hari-hari mendatang. Usia, kedudukan, maupun apa pun di lingkungan fisik ini tidak dapat menghadirkan kebahagiaan seperti itu. Hanya hati yang murni dan penuh kasih sayanglah yang menjadi sumber kebahagiaan sejati.


- Divine Discourse, Jan 14, 2005 

Perpaduan antara usaha manusia dan rahmat Tuhanlah yang menghasilkan kebahagiaan.