Thursday, April 23, 2026

Thought for the Day - 23rd April 2026 (Thursday)



All the objects we offer God in worship, like leaf, flowers, water, and all others, have an allegorical significance. The word leaf does not refer to tulsi or any other leaf. Our body is a leaf. Our body is offered as a sacred leaf to God. Because this body is full of the three gunas, we consider it a leaf and make an offering of it to God. The word ‘pushpa’ stands for the flower of the heart. The flowers we talk of in the context of God do not refer to the earthly flowers that fade away. Similarly, the word fruit is the fruit of the mind. It means that we must do our deeds without expecting any reward, and if action is done in that spirit, it becomes a holy sacrifice. Water does not mean that which is drawn from the taps. It refers to the tears of joy that spring from the depths of your heart. You should not offer leaves gathered from trees, which are external, or flowers from plants in the garden, or water drawn from the well, or fruit from somewhere else, but all these from the tree of your body, which is sacred to God. Whatever offering you make, when you offer those things born out of the tree of your own body, then the full merit will be bestowed on you. 


Ch 17, Summer Showers in Brindavan 1972

The only way to overcome misery is by offering yourself to God


Semua objek yang kita persembahkan kepada Tuhan dalam sebuah ibadah, seperti halnya daun, bunga, air, dan semua hal lainnya memiliki makna simbolis yang mendalam. Kata daun bukan sekedar mengacu pada daun tulsi atau daun lainnya. Tubuh kita sendiri adalah daun itu. Tubuh kita ini dipenuhi dengan tiga guna dipersembahkan sebagai daun suci kepada Tuhan. Kata ‘pushpa’ mengandung makna bunga hati. Bunga yang kita bicarakan dalam konteks Tuhan tidak mengacu pada bunga duniawi yang layu. Sama halnya, kata buah adalah mengacu pada buah pikiran. Hal ini berarti kita harus melakukan perbuatan kita tanpa mengharapkan imbalan apapun, dan jika perbuatan dilakukan dalam semangat tersebut, maka perbuatan itu menjadi pengorbanan suci. Air juga bukan berarti air yang diambil dari keran atau sumur. Air ini mengacu pada air mata suka cita yang hadir dari kedalaman hati. Engkau seharusnya tidak mempersembahkan daun yang dikumpulkan dari pohon, yang mana bersifat di luar diri, atau bunga dari tanaman yang ada di kebun, atau air yang ada dari sumur, atau buah dari tempat lain, namun semua persembahan ini harusnya berasal dari pohon tubuhmu yang bersifat suci kepada Tuhan. Apapun persembahan yang engkau lakukan, ketika engkau mempersembahkan itu lahir dari pohon dirimu sendiri, maka pahala utuh akan diberkati padamu. 


Ch 17, Wacana Musim Panas di Brindavan 1972

Satu-satunya cara untuk mengatasi penderitaan adalah dengan mempersembahkan dirimu sendiri pada Tuhan. 

Wednesday, April 22, 2026

Thought for the Day - 22nd April 2026 (Wednesday)





Take the Lord to be your father or mother, but only as the first step towards transcending that relationship and merging in the absolute! Do not stop on the steps; enter the mansion they lead to. The Atma sambandham (spiritual connection) is the everlasting and unchanging sambandham. As a first step, you use the flower, the lamp, the incense and so on to worship the Saguna form (God envisioned with attributes). Soon, your devotion moves on to newer forms of dedication, newer offerings that are purer, more valuable, and worthier of your Lord! You feel that you should place before the Lord something more lasting than mere flowers and something more yours than incense! You feel like purifying yourselves and making your entire life one fragrant flame! That is real worship, real bhakti. Do not come to Me with your hands full of trash, for how can I fill them with grace when they are already full? Come with empty hands and carry away My treasure, My love.


Divine Discourse, Oct 26, 1961

I am the Person come to give, not to receive. And what you can offer Me is just this: pure, unadulterated love. 


Jadikanlah Tuhan sebagai ayah dan ibumu, namun pahamilah bahwa itu adalah langkah awal untuk melampaui hubungan tersebut dan akhirnya menyatu dengan Yang Absolut! Jangan berhenti pada anak tangga; masukklah ke dalam rumah besar yang dituju oleh langkah-langkah tersebut. Atma sambandham (hubungan spiritual) atau hubungan dengan Atma adalah bersifat kekal dan tidak berubah. Pada tahap awal, engkau menggunakan bunga, lampu, dupa, dan sebagainya untuk memuja Tuhan dalam wujud Saguna, yaitu Tuhan yang dipahami dengan sifat-sifat tertentu. Namun seiring waktu, bhaktimu akan berkembang menuju bentuk pengabdian yang lebih dalam, persembahan yang lebih murni, lebih berharga, dan lebih layak bagi Tuhanmu! Engkau mulai merasa bahwa yang pantas dipersembahkan bukan sekadar bunga yang layu atau dupa yang habis terbakar, melainkan sesuatu yang lebih abadi dan sungguh berasal dari dirimu sendiri! Saat itulah muncul dorongan untuk memurnikan diri, menjadikan seluruh hidupmu sebagai nyala harum yang terus menyala. Inilah pemujaan yang sejati, inilah bhakti yang sesungguhnya. Jangan datang kepada-Ku dengan tangan yang penuh “sampah”, sebab bagaimana mungkin Aku mengisinya dengan anugerah jika sudah penuh? Datanglah dengan tangan kosong, dan bawalah pulang harta-Ku: kasih-Ku. 


Wacana Swami, 26 Oktober 1961

Aku datang untuk memberi, bukan untuk menerima. Dan satu-satunya yang dapat engkau persembahkan kepada-Ku hanyalah ini: kasih yang murni, tanpa campuran apa pun.

Monday, April 13, 2026

Thought for the Day - 13th April 2026 (Monday)



The virtue of Kshama (forbearance) is best cultivated under adverse circumstances, and one must therefore gladly welcome troubles instead of regarding them as unwelcome. Difficulties help one to nurse and build the capacity for patience, as the example of the Pandavas clearly shows. When they were in power and authority, the Pandavas were somewhat deficient in Kshama, but once they went into exile and had to face numerous hardships, Kshama automatically began to develop in them. Thus, times of distress offer the ideal opportunity for the development of patience and forbearance. In fact, pain and Kshama go together because Kshama grows best in an environment of sorrow and misery. However, because of mental weakness as well as ignorance, we invariably shun painful experiences and distress. You should not be weak; be brave and welcome troubles. Let them come, the more the merrier. It is only with such a courageous attitude that you would be able to bring out the Kshama hidden within you.


Divine Discourse, May 25, 2000

Pleasure has no separate existence. It is the fruit of pain. This basic truth is not recognised by man. 


Nilai luhur Kshama (kesabaran, dan kemampuan menahan diri) paling baik dikembangkan dalam keadaan yang penuh kesulitan. Oleh karena itu, seseorang seharusnya menyambut masalah dengan sukacita, bukan menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak diinginkan. Kesulitan membantu seseorang dalam memelihara dan membangun kemampuan untuk bersabar, sebagaimana tampak jelas dalam teladan para Pandawa. Ketika mereka berada dalam kekuasaan dan memiliki kewenangan, para Pandawa masih agak kurang dalam hal Kshama.  Namun, ketika mereka harus menjalani masa pembuangan dan menghadapi begitu banyak penderitaan, Kshama dengan sendirinya mulai tumbuh dalam diri mereka. Dengan demikian, masa-masa sulit justru memberikan kesempatan yang paling ideal untuk mengembangkan kesabaran dan ketabahan. Sesungguhnya, penderitaan dan Kshama berjalan beriringan, sebab Kshama tumbuh paling baik dalam suasana kesedihan dan kesusahan. Akan tetapi, karena kelemahan mental dan ketidaktahuan, kita hampir selalu menghindari pengalaman yang menyakitkan dan penuh tekanan. Engkau tidak boleh lemah; jadilah berani dan sambutlah kesulitan. Biarkanlah kesulitan datang - semakin banyak, semakin baik. Hanya dengan sikap keberanian seperti inilah engkau mampu memunculkan Kshama yang tersembunyi di dalam dirimu. 


Wacana Swami, 25 Mei 2000

Kesenangan tidak memiliki keberadaan yang terpisah. Kesenangan adalah buah dari penderitaan. Kebenaran mendasar ini belum disadari oleh manusia. 

Sunday, April 12, 2026

Thought for the Day - 12th April 2026 (Sunday)



The body has to be maintained in good condition, for it is only when embodied in this human container that man can realise God. The body is either strong or weak, an efficient instrument or an inefficient one, according to the food, recreations, and habits of one’s parents. Since the elders do not pay attention to these, the health of the children suffers; we have hospitals, dispensaries, and clinics in every street now, because disease has its hold on every family, in every home. Even little children wear glasses; young people dye their hair, and many wear dentures. The reason is, the atmosphere in the modern home is filled with artificiality, anxiety, envy, discontent, empty boasting, vain pomp, extravagance, falsehood and hypocrisy. How can anyone growing up in this corrosive atmosphere be free from illness? If the home is filled with the clean fragrance of contentment and peace, all its occupants will be happy and healthy. The elders have, therefore, a great responsibility towards the generation that is coming up.


Divine Discourse, Oct 05, 1967

Why should we maintain the body (deha) in good health? It is for the sake of realising the Dehi (Indweller Self). 


Tubuh harus dirawat dalam kondisi yang baik, karena hanya melalui tubuh manusia inilah seseorang dapat menyadari Tuhan. Tubuh dapat menjadi kuat atau lemah, menjadi alat yang efektif atau tidak efektif, tergantung pada makanan, rekreasi, dan kebiasaan orang tuanya. Karena para orang tua dan orang yang lebih tua sering tidak memberi perhatian pada hal-hal ini, kesehatan anak-anak pun menjadi terganggu. Itulah sebabnya sekarang kita melihat rumah sakit, klinik, dan apotek hampir di setiap jalan, karena penyakit telah menjangkiti hampir setiap keluarga dan rumah. Bahkan anak-anak kecil sudah memakai kacamata; kaum muda mewarnai rambut mereka, dan banyak yang sudah menggunakan gigi palsu. Penyebabnya adalah karena suasana rumah modern sering dipenuhi oleh kepalsuan, kecemasan, iri hati, ketidakpuasan, kesombongan kosong, kemewahan yang sia-sia, pemborosan, kebohongan, dan kemunafikan. Bagaimana mungkin seseorang yang tumbuh dalam suasana yang merusak seperti itu dapat bebas dari penyakit? Sebaliknya, jika rumah dipenuhi oleh keharuman kebersihan batin berupa rasa cukup dan kedamaian, maka semua penghuninya akan hidup bahagia dan sehat. Karena itu, para orang tua dan orang-orang yang lebih tua memiliki tanggung jawab besar terhadap generasi yang sedang tumbuh.


Wacana Swami, 5 Oktober 1967

Mengapa kita harus menjaga tubuh (deha) tetap sehat? Itu demi merealisasikan Dehi (Atma penghuni di dalam tubuh).

Saturday, April 11, 2026

Thought for the Day - 11th April 2026 (Saturday)



Kshama (forbearance) is the grandest and the noblest among virtues. It is all-encompassing. Mahabharata and Shrimad Bhagavatam both contain many episodes that illustrate the disaster that befalls when Kshama is lost. Jealousy is the first bad quality that makes its entry when Kshama makes its exit. The Mahabharata gives a graphic portrayal of how life that is otherwise smooth, can be totally shattered by jealousy. The golden island, Lanka, was like the very heavens, but Ravana’s jealousy reduced it to ruins. Whereas Kshama can give complete protection, its absence can plunge one into distress and disaster. Impatience breeds selfishness and promotes jealousy, which together spur infighting and divisive tendencies of various kinds. The troubles countries are currently passing through are largely due to the absence of this noble quality of Kshama. Impatience has ruined even very great spiritual aspirants. Kings were reduced to beggars. The absence of Kshama can make a Yogi into a rogi (sick one)! Without Kshama, mankind becomes degraded and starts declining, but if it has this quality, then it can progress by leaps and bounds.


Divine Discourse, May 25, 2000

For spiritual progress and advancement, Kshama is the real basis or foundation. 


Kshama (kesabaran dan kemampuan menahan diri) adalah sifat luhur yang paling agung dan paling mulia di antara semua sifat-sifat baik. Kesabaran ini mencakup segalanya. Mahabharata dan Shrimad Bhagavatam keduanya memuat banyak kisah yang menunjukkan bencana yang terjadi ketika kualitas Kshama ini hilang. Sifat iri hati adalah sifat buruk pertama yang masuk ketika Kshama keluar dari diri seseorang. Mahabharata memberikan gambaran yang sangat jelas tentang bagaimana kehidupan yang semula berjalan baik dapat hancur total karena iri hati. Pulau emas Lanka bagaikan surga, tetapi sifat iri hati dari Ravana menghancurkannya hingga menjadi puing-puing. Kshama dapat memberikan perlindungan yang sempurna, sedangkan ketiadaannya dapat menjerumuskan seseorang ke dalam penderitaan dan kehancuran. Sifat ketidaksabaran melahirkan egoisme dan memupuk iri hati; keduanya bersama-sama memicu pertikaian internal dan kecenderungan memecah-belah. Berbagai kesulitan yang dialami banyak negara saat ini sebagian besar disebabkan oleh tidak adanya kualitas luhur Kshama ini. Ketidaksabaran bahkan telah meruntuhkan para pencari spiritual yang agung. Raja-raja dapat jatuh menjadi pengemis. Ketiadaan Kshama bahkan dapat mengubah seorang yogi menjadi rogi (orang yang sakit)! Tanpa Kshama, umat manusia mengalami kemerosotan dan kehancuran. Namun bila kualitas ini dimiliki, manusia dapat berkembang dengan sangat pesat. 


Wacana Swami, 25 Mei 2000

Untuk kemajuan dan perkembangan spiritual, Kshama adalah dasar dan fondasi yang sejati.

Friday, April 10, 2026

Thought for the Day - 10th April 2026 (Friday)



Look at the functions of the sense organs. You may notice that even if one organ stops functioning in harmony, life will be limping. When the mind conceives a thought, all organs coordinate to have the thought executed. If senses do not follow thoughts, life will become miserable. When there is forbearance, all organs coordinate harmoniously and work in unison. Once the organs of the body, like eyes, ears, limbs, became jealous of the tongue, saying that they make all efforts to secure food, but the tongue enjoys it. The tongue merely tastes the food and passes only palatable items of food inside, which is converted by internal organs into energy-giving blood. The tongue does not retain it. But for this vital part played by the tongue, other organs would not be able to function at all. When the other organs became jealous of the tongue and stopped sending food with a view to harming it, they spelt their own ruin by such action, as they could not function when there was no food and consequently no supply of energy for these organs to function. Similarly, jealousy on the part of a person ultimately results in his own ruin! 


Divine Discourse, Jan 01, 1994

When you offer the flower of your heart to the Lord, it should be free from the pest of desire, hatred, envy, greed, and the like. 


Perhatikanlah pada fungsi dari organ-organ indera. Engkau dapat memperhatikan bahwa jika ada satu saja organ berhenti berfungsi secara selaras, maka hidup menjadi pincang. Ketika pikiran melahirkan sebuah gagasan, maka semua organ akan bekerja sama untuk mewujudkan gagasan tersebut. Jika Indera tidak mengikuti gagasan tersebut maka hidup akan menjadi sengsara. Ketika ada ketabahan, semua organ akan bekerja sama dengan selaras dan bersatu. Sekali organ-organ dari tubuh seperti mata, telinga, anggota tubuh lainnya merasa iri pada lidah, dengan mengatakan bahwa mereka melakukan segala usaha untuk mendapatkan makanan, namun lidah yang menikmati makanan tersebut. Padahal lidah fungsinya hanya merasakan makanan dan meneruskan makanan yang layak ke dalam tubuh, selanjutnya organ-organ dalam tubuh yang mengubah makanan menjadi darah penghasil energi. Lidah tidak menyimpan makanan tersebut. Namun tanpa peran vital yang dijalankan oleh lidah, organ-organ lainnya tidak akan dapat berfungsi dengan baik. Ketika organ-organ yang lain menjadi iri hati dan memutuskan berhenti mengirimkan makanan dengan tujuan untuk menyakitinya, tindakan itu justru membawa kehancuran bagi diri mereka sendiri. Tanpa adanya makanan maka tidak akan ada energi, dan akhirnya mereka tidak mampu berfungsi. Sama halnya, iri hati dalam diri seseorang pada akhirnya akan membawa kehancuran pada dirinya sendiri! 


Wacana Swami, 01 Januari 1994

Ketika engkau mempersembahkan bunga hatimu pada Tuhan, bunga itu harus bebas dari hama seperti keinginan, kebencian, iri hati, ketamakan, dan sejenisnya.

Wednesday, April 8, 2026

Thought for the Day - 8th April 2026 (Wednesday)



True and selfless love manifests as sacrifice. Such love knows no hatred. It envelops the entire universe and is capable of drawing near even those who are seemingly far away. It is Love that transforms the human into the Divine. It can transform pashu (a bestial person) into Pashupati (Divinity). In the phenomenal world, you come across many shades and derivatives of this primordial love. You love your father, mother, brother, sister, friends, and so on. In all such cases, there is always a tinge of selfishness somewhere or other. Divine love, on the other hand, is totally free of even the slightest trace of selfishness. You must surrender to such love, become completely submerged by it, and experience the bliss it confers. For acquiring such Love, the quality of Kshama or forbearance is a vital necessity. Every individual must cultivate this noble quality. Kshama is not achieved by reading books or learnt from an instructor. Nor can it be received as a gift from someone else. This prime virtue -  Kshama, can be acquired solely by self-effort, by facing squarely diverse problems, difficulties of various sorts, anxieties, and suffering as well as sorrow. 


Divine Discourse, May 25, 2000

True Divinity is Kshama (forbearance) combined with Prema (Love).

 

Kasih sejati dan tidak mementingkan diri sendiri terwujud sebagai pengorbanan. Kasih seperti itu tidak mengenal kebencian. Kasih yang sejati itu merangkul seluruh alam semesta dan mampu mendekatkan mereka yang kelihatannya jauh. Adalah kasih yang mengubah manusia menjadi ilahi. Kasih juga dapat mengubah orang yang bengis (pashu) menjadi keilahian (pashupati). Dalam dunia fenomenal ini, engkau menjumpai banyak bentuk dan turunan dari cinta yang ada sejak permulaan. Engkau menyayangi ayah, ibu, saudara, sahabat, dan yang lainnya. Namun dalam bentuk kasih seperti itu, selalu masih ada sedikit unsur kepentingan diri atau keterikatan. Sebaliknya, kasih Tuhan bersifat bebas dari jejak sekecil apapun kepentingan diri atau egoisme. Engkau harus berserah kepada kasih seperti itu, menjadi sepenuhnya tenggelam di dalamnya, dan mengalami kebahagiaan yang diberikannya. Untuk mendapatkan kasih seperti itu, kualitas Kshama atau ketabahan merupakan kebutuhan yang sangat penting. Setiap individu harus meningkatkan kualitas yang mulia ini. Kshama tidak bisa dicapai hanya dengan membaca buku atau belajar dari seorang pengajar. Dan juga tidak bisa diterima sebagai hadiah dari orang lain. Kshama yang merupakan kebajikan utama ini, hanya dapat diraih dengan usaha diri, dengan menghadapi secara langsung berbagai masalah, kesulitan, kecemasan, penderitaan, dan kesedihan di dalam hidup. 


Wacana Swami, 25 Mei 2000

Keilahian sejati adalah Kshama (ketabahan) yang dipadukan dengan Prema (kasih).

Sunday, April 5, 2026

Thought for the Day - 5th April 2026 (Sunday)



The Moon (reflected) in the flowing river is broken and fragmentary; it flows fast, apparently, with the floods. The Moon in the lake is calm, unmoved, undistracted. These two are but reflections of the real Moon in the sky. The Moon reflected in the flood is the Individual Soul, engaged in activity, embroiled in maya, cause and effect. The Moon reflected in the placid face of the lake is the yogi who has attained balance, equipoise, peace, dwelling in the One. The real Moon in the sky is the Eternal Witness, the Absolute, the Primal Principle. Christ spoke of these three when He made three statements. Referring to the individual soul, He said, “I am the Messenger of God;” referring to himself as the yogi, He said, “I am the Son of God.” Realising that these two are but reflections, and that the real Moon is the Witness in the sky, that He too is the Formless, Nameless Absolute, He declared towards the end of his life, “I and My Father are one.” All beings are images of the Universal Atma, in the names and forms they have apparently assumed. This is the truth, enclosed, elaborated, and demonstrated in the spiritual texts of India, which form the basis of Bharatiya culture. The essence of all faiths and the goal of all spiritual endeavour is this: the merging in this Unity. The object of all enquiry is this: to cognise this Unity. 


Divine Discourse, Dec 24, 1972

Religions arise from the minds of good men who crave to make all men good; they strive to eliminate evil and cure the bad. 


Bulan yang terpantul pada aliran sungai yang mengalir tampak tidak beraturan dan terpisah-pisah; terlihat mengalir dengan cepat bersamaan dengan aliran air sungai. Sedangkan bulan yang terpantul pada air danau tampak tenang, tidak bergerak, dan tidak terganggu. Namun, keduanya hanyalah pantulan dari bulan yang sesungguhnya ada di langit. Bulan yang terpantul pada aliran sungai adalah jiwa individu, sibuk dalam aktifitas, terlibat dalam maya, terikat oleh sebab dan akibat. Bulan yang terpantul pada permukaan danau yang tenang adalah yogi yang mencapai keseimbangan, ketenangan, kedamaian, berdiam dalam Yang Esa. Bulan yang sesungguhnya di langit adalah Saksi Abadi, bersifat Absolut, Prinsip Utama. Kristus berbicara ketiga bagian ini ketika Kristus membuat tiga pernyataan. Mengacu pada jiwa individu, Kristus berkata, “Aku adalah utusan Tuhan;” mengacu dirinya sebagai yogi, Kristus berkata, “Aku adakah putra dari Tuhan.” Menyadari bahwa keduanya ini hanyalah pantulan, dan bulan sesungguhnya adalah Saksi yang ada di langit, bahwa Ia juga adalah Yang Mutlak, tanpa nama dan wujud, Kristus menyatakan di akhir hidupnya, “Aku dan Bapa-Ku adalah satu.” Semua makhluk hidup adalah citra dari Atma Universal, yang tampak mengambil berbagai nama dan wujud. Inilah kebenaran yang terkandung, dijelaskan, dan dibuktikan dalam teks-teks spiritual India, yang menjadi dasar budaya Bharatiya. Intisari dari semua keyakinan dan tujuan dari semua usaha spiritual adalah ini: menyatu dalam kesatuan ini. Tujuan dari semua penyelidikan adalah ini: menyadari kesatuan ini. 


Wacana Swami, 24 Desember 1972

Agama-agama muncul dari pikiran-pikiran orang baik yang ingin menjadikan manusia baik; mereka berusaha menghilangkan kejahatan dan memperbaiki keburukan.

Saturday, April 4, 2026

Thought for the Day - 4th April 2026 (Saturday)



Education is not meant to be sold or used for begging jobs. It is meant to be shared. It grows when it is shared. What is the use of having a high education bereft of virtues? What is the value of such education? Character is more important than education. Students! There is nothing wrong with acquiring a job after the completion of your education. But at the same time, you should see to it that your education is put to use for the benefit of society. You should always keep in view the welfare of society. Take part in the service of society. What does service to society really mean? Do not consider it below your dignity to render seva (service), thinking that you are highly educated. At the same time, it is not necessary for you to sweep the roads in the name of seva. Whatever is your job, if you perform it to the satisfaction of your conscience, that itself is seva. Suppose you are doing business, do not resort to unjust and unrighteous means just to earn money. Rather, you should utilise your earnings in performing sacred tasks. 


Sathya Sai Speak, Jun 28, 1996

Dedicate all your education, intelligence and energy to the service of society. 


Pendidikan bukanlah untuk dimaksudkan untuk diperjual belikan atau sekedar digunakan untuk mencari pekerjaan. Pendidikan dimaksudkan untuk dibagikan karena pendidikan bertumbuh ketika dibagikan. apa gunanya memiliki pendidikan yang tinggi tanpa adanya kebajikan? Apa nilai dari pendidikan yang seperti itu? Karakter adalah lebih penting daripada pendidikan. Wahai para pelajar! Tidak ada yang salah dengan mencari pekerjaan setelah menyelesaikan pendidikanmu. Namun pada saat yang bersamaan, engkau harusnya memastikan bahwa pendidikan yang engkau peroleh digunakan untuk kemanfaatan masyarakat. Engkau harus selalu memandang pada kesejahtraan masyarakat. Ambillah bagian dalam pelayanan pada masyarakat. Lalu, apa sebenarnya arti pelayanan kepada masyarakat? Jangan menganggap bahwa melakukan pelayanan (seva) sebagai sesuatu yang merendahkan martabatmu, hanya karena engkau berpikir bahwa engkau berpendidikan tinggi. Pada saat yang sama, engkau tidak perlu untuk menyapu jalan atas nama seva. Apa pun pekerjaanmu, jika engkau melakukannya untuik memuaskan hati nuranimu, itu sendiri sudah merupakan _seva_ (pelayanan). Misalnya, jika engkau menjalankan usaha atau bisnis, jangan menggunakan cara-cara yang tidak adil dan tidak benar hanya demi memperoleh uang. Sebaliknya, gunakanlah penghasilanmu untuk melakukan tugas-tugas yang suci. 


Wacana Swami, 28 Juni 1996

Dedikasikan seluruh pendidikan, kecerdasan, dan energimu untuk pelayanan kepada masyarakat.

Friday, April 3, 2026

Thought for the Day - 3rd April 2026 (Friday)



Jesus exhorted people by precept and example to cultivate the virtues of charity, compassion, forbearance, love, and faith. These are not separate and distinct qualities; they are only the many facets of the Divine in man, which he has to recognise and develop. People talk of the sacrifice of Christ as evidenced by his crucifixion. But, he was surrounded and bound, and crowned by the crowd who captured him with a crown of thorns, and later, nailed to the cross by his captors. A person bound and beaten by the police cannot say that he has sacrificed anything, for he is not a free man. Let us pay attention to the sacrifice that Jesus made while free, of his own volition. He sacrificed his happiness, prosperity, comfort, safety, and position. He braved the enmity of the powerful. He refused to yield or compromise. He renounced the ‘ego’, which is the toughest thing to get rid of. Honour him for these. He willingly sacrificed the desires with which the body torments man; this sacrifice is greater than the sacrifice of the body under duress. 


- Divine Discourse, Dec 24, 1972

The Incarnation comes to warn, guide, awaken, lay down the path, and shed the light of Love on it. But man has to listen, learn and obey with hope and faith. 


Yesus menasihati umat manusia, baik melalui ajaran maupun teladan hidup-Nya, untuk menumbuhkan kebajikan seperti amal, welas asih, ketabahan, kasih, dan keyakinan. Semua ini sebenarnya bukan sifat yang terpisah-pisah, melainkan berbagai sisi dari Keilahian yang ada dalam diri manusia, yang perlu disadari dan dikembangkan. Orang-orang membicarakan pengorbanan dari kristus sebagaimana dibuktikan dengan penyaliban-Nya. Namun, sebelum itu Ia dikepung, diikat, dimahkotai duri oleh banyak orang yang menangkap-Nya, dan kemudian dipakukan di kayu salib oleh para penangkap-Nya. Seseorang yang terikat dan dipukuli oleh aparat polisi tentu tidak dapat dikatakan sedang mengorbankan sesuatu, karena pada saat itu ia tidak lagi bebas. Karena itu, marilah kita memberi perhatian pada pengorbanan yang Yesus lakukan saat Ia masih bebas, atas kehendak-Nya sendiri. Ia mengorbankan kebahagiaan, kesejahtraan, kenyamanan, keamanan, dan kedudukannya. Ia menghadapi permusuhan dari orang-orang yang berkuasa. Ia menolak untuk menyerah atau berkompromi. Ia melepaskan ‘ego’, yang justru merupakan hal paling sulit untuk ditanggalkan. Untuk semua inilah Ia patut dihormati. Ia dengan sukarela mengorbankan keinginan-keinginan yang biasanya mengikat manusia melalui tubuh. Pengorbanan seperti ini jauh lebih besar daripada pengorbanan tubuh yang dilakukan dalam keadaan terpaksa. 


Wacana Swami, 24 Desember 1972

Inkarnasi datang untuk memperingatkan, membimbing, membangunkan, menunjukkan jalan, dan menyinari jalan itu dengan cahaya kasih. Namun manusia harus mendengarkan, belajar, dan menaati dengan harapan serta keyakinan.

Thursday, April 2, 2026

Thought for the Day - 2nd April 2026 (Thursday)



The sacred and fragrant articles offered and the precious gems that are placed in the sacrificial fire are symbolic offerings which man should make in life. He should offer his pure heart and good qualities such as Satya, Dharma, Shanti and Prema (Truth, Virtue, Peace, and Love) to the Divine. The real spirit of giving to society and community the wealth, knowledge, and skills one possesses is the true yajna (sacrificial rite). Without the spirit of sacrifice, the performance of external rituals has no meaning. Life itself is a yajna. To make human life an oblation in the sacred fire of duties and actions is itself a yajna. To get rid of one's bad qualities is yajna. Every individual who seeks to lead an ideal life, to achieve bliss, and attain self-realisation must cultivate the spirit of sacrifice. Yajna is the means to lead one from sorrow to happiness, adversity to prosperity, darkness to light. Human life can be worthwhile only when it is based on sacrifice or the quality of renunciation. Then, life becomes meaningful, and Divinity can also be experienced. 


- Divine Discourse, Oct 16, 1983

Knowledge or strength or wealth that is not used for the good of others is useless. 


Barang-barang suci dan harum yang dipersembahkan, dan permata berharga yang diletakkan ke dalam api suci merupakan persembahan simbolis yang seharusnya manusia lakukan dalam hidup. Manusia seharusnya mempersembahkan hatinya yang suci dan sifat-sifat baik seperti Satya, Dharma, Shanti dan Prema (kebenaran, kebajikan, kedamaian, dan kasih) kepada Tuhan. Semangat sejati dari memberikan kepada masyarakat berupa kekayaan, pengetahuan, dan keahlian yang seseorang miliki adalah yajna  (pengorbanan suci) yang sesungguhnya. Tanpa adanya semangat pengorbanan maka pelaksanaan ritual-ritual lahiriah tidak memiliki makna. Hidup itu sendiri adalah sebuah yajna. Untuk membuat hidup manusia menjadi persembahan pada api suci kewajiban dan tindakan adalah yajna itu sendiri. Untuk melenyapkan sifat-sifat buruk seseorang juga merupakan sebuah yajna. Setiap individu yang ingin menjalani hidup yang ideal, untuk mencapai kebahagiaan, dan mendapatkan kesadaran diri sejati harus memupuk semangat pengorbanan. Yajna adalah sarana untuk menuntun seseorang dari penderitaan menuju kebahagiaan, kesulitan menuju kesejahtraan, kegelapan menuju cahaya. Hidup manusia dapat menjadi bernilai hanya ketika didasarkan pada pengorbanan atau sifat melepaskan. Kemudian, hidup menjadi bermakna, dan keilahian juga dapat dialami. 


Wacana Swami, 16 Oktober 1983

Pengetahuan atau kekuatan atau kekayaan yang tidak digunakan untuk kebaikan orang lain adalah sia-sia.

Wednesday, April 1, 2026

Thought for the Day - 1st April 2026 (Wednesday)



Pashyanapicha Na Pashyati Mudho (he is a fool who sees, yet does not recognise the reality). Look at everything with divine feelings. Then only will you see Divinity in everyone. But you see everything with a worldly outlook. You see the rope and mistake it for a serpent. Therefore, there is fear in you. It is necessary for you to use your discrimination to know whether it is a rope or a snake. You mistake the rope as snake due to your delusion. The moment there is delusion, there arises fear. Because of fear, you run away. When you see with the torch of discrimination, you will know it is not a snake, but a rope. When you come to know it is a rope, there is no more fear. Then you go close to the rope. When did fear go? The moment you came to know that it was a rope, there was no fear. When the delusion goes, you have courage. Courage is fearlessness. Then you experience bliss. Similarly, you should enquire and know the reality of the world. Is it mundane or divine? This is called Mimamsa (critical investigation).

- Divine Discourse, Apr 08, 1993

Outer vision leads only to delusion. Inner vision confers bliss. 


Pashyanapicha Na Pashyati Mudho (bodohlah orang yang melihat, namun ia tidak menyadari kenyataan sesungguhnya). Pandanglah segala sesuatu dengan perasaan yang ilahi. Hanya demikian engkau mampu melihat keilahian dalam diri setiap orang. Namun engkau melihat segala sesuatu dengan pandangan duniawi. Engkau melihat tali dan salah mengiranya sebagai seekor ular. Maka dari itu, ada rasa takut di dalam dirimu. Adalah perlu bagimu untuk menggunakan kemampuan membedakan untuk mengetahui apakah itu adalah tali atau ular. Engkau salah mengira tali sebagai ular karena khayalanmu. Saat ada khayalan maka muncul ketakutan. Karena rasa takut itu makanya engkau lari menjauh. Ketika engkau melihat dengan penerang membedakan, maka engkau akan mengetahui bahwa itu bukanlah ular dan hanyalah seutas tali. Ketika engkau mengetahui bahwa itu adalah seutas tali, maka tidak akan ada ketakutan. Kemudian engkau dapat mendekati tali tersebut. Kapan ketakutan itu lenyap? Saat engkau mengetahui bahwa itu seutas tali maka ketakutan itu lenyap. Ketika khayalan hilang, engkau memiliki keberanian. Keberanian adalah tanpa ketakutan. Kemudian engkau mengalami kebahagiaan.  Sama halnya, engkau harus menyelidiki dan mengetahui hakikat dunia ini. Apakah dunia ini fana atau Ilahi? Ini disebut dengan Mimamsa (penyelidikan kritis dan mendalam). 


Wacana Swami, 08 April 1993

Pandangan luar hanya mengarah pada khyalan. Pandangan ke dalam diri memberikan kebahagiaan.