Tuesday, February 17, 2026

Thought for the Day - 17th February 2026 (Tuesday)



Consider this example: Here is a person whose form can be described in terms of various physical features. But, does this description in terms of height and weight reveal anything about his internal qualities like forbearance, peacefulness, compassion, love, and sacrifice? Are these qualities not very real and significant? He is prized mainly for these qualities, not for his physical features. To judge him only in physical terms is meaningless. His formless virtues are more important. When one is judged on the basis of his qualities, the form is irrelevant. The utter ridiculousness of judging a person solely on the basis of his physical form was demonstrated by Sage Ashtavakra to the learned pundits in Emperor Janaka’s court. When all of them laughed on seeing the crooked figure of Ashtavakra, the sage laughed even louder at all of them. When they asked him for an explanation, he told them that the scholars who laughed at his deformed figure were no better than cobblers who judged things by the nature of the skin. Ashtavakra told them, punditah samadarshinah (the truly wise person sees the Divine in all beings). “I laughed at all of you because I wondered how the Emperor happened to esteem you all as scholars.” This means that those who judge anything on the basis of the external form are utterly foolish. 


- Divine Discourse, Mar 7, 1997

Let us not be carried away by the “seen.” We must make efforts to perceive the “seer.” 


Perhatikan contoh ini: ada seseorang yang mana bentuknya dapat dijelaskan melalui berbagai ciri fisiknya. Namun, apakah penjelasan fisik ini yang berkaitan dengan tinggi dan berat badan dapat mengungkapkan semua tentang kualitas batinnya seperti ketabahan, kedamaian, welas asih, kasih, dan pengorbanan? Bukankah kualitas-kualitas yang disebutkan tadi sangat nyata dan bermakna? Seseorang dihargai terutama karena kualitas-kualitas ini, dan bukan pada ciri fisiknya. Dengan menilai seseorang hanya pada ciri fisiknya adalah tidak ada gunanya. Karena nilai-nilai luhur dalam dirinya yang tidak berbentuk adalah jauh lebih penting. Ketika seseorang dinilai pada nilai luhurnya ini maka bentuk fisiknya menjadi tidak relevan. Benar-benar sebuah kekonyolan menilai seseorang hanya berdasarkan pada bentuk fisiknya yang pernah ditunjukkan  oleh Rsi Ashtavakra kepada para cendekiawan di istana Raja Janaka. Ketika semua cendekiawan menertawakan bentuk fisik yang bengkok dari Rsi Ashtavakra, reaksi dari Rsi Ashtavakra  malah tertawa lebih keras pada semua cendekiawan tersebut. Ketika mereka meminta penjelasan, Rsi Ashtavakra mengatakan pada mereka bahwa cendekiawan yang menertawakan bentuk fisiknya adalah tidak lebih baik daripada tukang sol sepatu yang menilai sesuatu pada kulitnya saja. Rsi Ashtavakra mengatakan pada mereka, punditah samadarshinah (seseorang yang benar-benar bijaksana melihat kualitas ketuhanan dalam semua makhluk). “Aku menertawakan anda semuanya karena aku heran bagaimana raja menganggap anda semuanya sebagai terpelajar.” Hal ini berarti bahwa mereka yang menilai sesuatu atas dasar pada wujud luarnya adalah benar-benar bodoh. 


- Divine Discourse, Mar 7, 1997

Janganlah kita terhanyut pada “apa yang terlihat”. Kita harus berusaha untuk menyadari sang “saksi abadi - Atma”.

Monday, February 16, 2026

Thought for the Day - 16th February 2026 (Monday)



You declare that you have surrendered, but that is just a verbal statement. If you sit in a car, you go along with it; on a cycle, you move with it; on a horse, you go wherever the horse takes you. But, in this case, you say, and perhaps you believe that you have placed yourselves in My hands, and so, you are going along the path I have laid down. But, your mind and your heart are not fully in Me and so, the surrender is only in name. As a sign of this deed of surrender and in order to sustain it, nothing more is enjoined than constant remembrance of the Name. No regimen of exhausting Sadhana (spiritual discipline) is prescribed. Smarana (remembrance) is enough. You have sung Bhajans extolling the Names which summarise the Glory all through the night. But this is only an appetiser. Bhajan must become an unbroken stream of bliss on your tongues and in your hearts; it must confer on you the uninterrupted awareness of Soham — of the Unity of I and He, of ‘This’ with ‘That’. It is called Akhanda Hamsa Japa—uninterrupted repetition of the Hamsa mantra, Soham. It will ensure freedom from anxiety, fear and grief. 


- Divine Discourse, Feb 21, 1974

The state of constant remembrance of God can come only through long practice; it will not be acquired suddenly. So, strive for it steadily. 


Anda menyatakan bahwa anda telah berserah diri, namun itu hanya pernyataan lisan saja. Jika anda duduk di dalam mobil maka anda bergerak bersamanya; jika anda duduk di atas sepeda, anda bergerak dengannya; jika anda duduk di atas kuda, anda pergi kemanapun kuda itu membawamu. Namun dalam hal ini anda berkata dan mungkin percaya bahwa anda telah menaruh diri anda di tangan-Ku, dan sehingga anda bisa berjalan di jalan yang telah Aku tetapkan. Namun, pikiran dan hati anda tidak sepenuhnya ada bersama-Ku, dan sehingga kata berserah diri hanya sebatas sebutan saja. Sebagai tanda dari tindakan berserah diri ini dan upaya dalam menjaganya, tidak ada lagi yang diperintahkan selain senantiasa mengingat nama suci Tuhan. Tidak ada program Sadhana (latihan spiritual) melelahkan yang ditetapkan. Smarana (mengingat) adalah cukup. Anda telah melantunkan Bhajan memuliakan nama suci Tuhan sepanjang malam. Namun ini hanyalah hidangan pembuka saja. Bhajan harus menjadi aliran kebahagiaan yang tiada terputus di lidah dan hatimu; bhajan harus menganugerahkan padamu kesadaran yang tidak terputus pada Soham – kesatuan antara aku dan Tuhan, antara ‘ini’ dengan ‘Itu’. Inilah yang disebut dengan Akhanda Hamsa Japa – pengulangan tanpa henti mantra Hamsa, Soham. Ini akan menjamin kebebasan dari kecemasan, ketakutan dan kesedihan. 


- Divine Discourse, Feb 21, 1974

Keadaan mengingat Tuhan secara terus menerus hanya bisa melalui latihan panjang; hal ini tidak bisa di dapat secara tiba-tiba. Jadi, berusahalah untuk mencapainya dengan tekun dan mantap.

Saturday, February 14, 2026

Thought for the Day - 14th February 2026 (Saturday)



If there is sugar at the bottom of a tumbler filled with water, you can make the whole water sweet by stirring the sugar and dissolving it in the water. Likewise, your heart is a cup. At the bottom, there is Divinity. Take the spoon of buddhi (intellect), stir the heart by the process of sadhana. Then the Divinity in the heart will circulate through the entire body. Then, every action of yours will be sweet, your speech will be sweet, your walking will be sweet, your looks will be sweet, and your thoughts will be sweet. You will be sweet all over. Realise that sweetness is within you. Turn your intellect inwards and stir it with love, then that sweetness will spread. Saint Ramadas proclaimed the same truth when he sang his song calling upon all devotees to share the sweetness of the name of Rama. “Here is the sweet of Rama’s name. Eat it and enjoy the bliss. Do not go after any other silly things sold in the bazaar. This sweet has been made out of the flour of the Vedas, mixed with the milk of the Vedic declarations, and is offered to you by the ancient sages. They made it with the sugar of inward contemplation and the ghee of pure thoughts and removed the taint of falsehood from it.” 


- Divine Discourse, Mar 07, 1997

Self-realisation is the goal. Love is the means. It is through the cultivation of Love that life can find fulfilment.

 

Jika ada gula di dasar gelas yang terisi dengan air, maka anda bisa membuat seluruh air tersebut menjadi manis dengan mengaduk gula itu dan melarutkannya di dalam air. Sama halnya, hati anda adalah sebuah cangkir. Di dasar hati anda, ada kualitas keilahian. Ambillah sendok _buddhi_ (kecerdasan), aduk hati dengan melalui proses _sadhana_. Kemudian kualitas keilahian di dalam hati akan mengalir ke seluruh tubuh. Kemudian, setiap perbuatan yang anda lakukan akan menjadi indah, perkataan anda menjadi indah, langkah anda menjadi indah, pandangan anda menjadi indah dan pemikiran anda juga menjadi indah. Anda akan menjadi keindahan sepenuhnya. Sadarilah keindahan itu ada di dalam diri anda. Arahkan kecerdasan anda ke dalam diri dan aduklah kecerdasan itu dengan kasih, kemudian keindahan itu akan menyebar. Guru suci Ramadas menyatakan kebenaran yang sama ketika beliau melantunkan lagunya yang mengajak semua bhakta untuk berbagi keindahan nama suci Rama. “Inilah keindahan dari nama suci Rama. Nikmatilah dan rasakan kebahagiaan dari nama suci Rama. Jangan mengejar hal-hal yang sepele yang dijual di pasar. Permen ini telah dibuat dari tepung Weda, yang dicampur dengan susu dari pernyataan-pernyataan Weda, dan dipersembahkan kepada anda oleh para guru-guru suci. Mereka membuatnya dengan gula kontemplasi ke dalam diri dan ghee pemikiran yang suci serta menghilangkan noda kepalsuan darinya.” 


- Divine Discourse, Mar 07, 1997

Menyadari Diri sejati adalah tujuan. Kasih adalah sarananya. Melalui peningkatan kasih maka hidup dapat menemukan pemenuhannya yang sejati.

Friday, February 13, 2026

Thought for the Day - 13th February 2026 (Friday)



Man does not mean the body alone. Man also has the mind, the intellect, and the Atma. It is the combination of all these that constitutes true humanness. When the balance among these four constituents is upset, man is plunged into troubles. When man maintains the balance among these four, the nation will prosper. The transformation of man is based on the transformation of his mind. When men are transformed, the nation is transformed. When nations change, the world is transformed. Hence, if the world must be changed, there must be a mental transformation at the individual level. The human mind should be filled with love. The mind is a remarkable entity. When it is filled with wisdom, it makes a man a saint. When it is associated with ignorance, it turns into an agent of death. Hence, it has been declared that the mind is the cause of human bondage or liberation. All changes in education and other spheres must begin with the transformation of the mind.


- Divine Discourse, Feb 13, 1997

The chaos and the confusion, the agony and the agitation that we witness in the country today are nothing but the manifestation of the distorted mind

 

Manusia tidak hanya terkait tubuh fisik saja. Manusia juga memiliki pikiran, kecerdasan dan Atma. Perpaduan dari semuanya ini yang menyusun kemanusiaan yang sejati. Ketika keseimbangan diantara keempat ini mengalami gangguan maka manusia akan mendapatkan masalah. Ketika setiap individu menjaga kesiembangan diantara keempat penyusun ini maka bangsa akan menjadi sejahtera. Perubahan pada manusia didasarkan pada pikirannya. Ketika setiap individu berubah maka bangsa akan berubah. Ketika bangsa berubah maka dunia juga akan berubah. Oleh karena itu, jika dunia harus berubah maka harus ada perubahan batin dalam setiap individu. Pikiran manusia seharusnya diliputi dengan kasih. Pikiran adalah kekuatan vital yang luar biasa. Ketika pikiran diliputi dengan kebijaksanaan, maka pikiran ini akan membuat manusia menjadi seorang yang suci. Namun ketika pikiran diliputi dengan ketidaktahuan maka pikiran berubah menjadi agen kematian. Karena itu, telah dinyatakan bahwa pikiranlah yang menjadi penyebab keterikatan atau pembebasan pada manusia. Semua perubahan dalam pendidikan atau bidang lainnya harus dimulai dengan perubahan dalam pikiran. 


- Divine Discourse, Feb 13, 1997

Kekacauan dan kebingungan,  penderitaan dan kegelisahan yang kita saksikan di negeri kita saat ini, tiada lain adalah wujud dari pikiran yang menyimpang

Wednesday, February 11, 2026

Thought for the Day - 11th February 2026 (Wednesday)



From ancient times and to some extent even today, the Chinese have observed one ritual every morning before beginning their day’s chores. They declare: “Difficulties are our friends. Let us invite them.” They have recognised that without trouble, no good can be realised. They start the day’s work with this thought before them. The Chinese also realise that true happiness comes from the satisfaction of a task well done. In Bharat, too, there is the dictum, Uddharet Atmana-Atmanam (Raise the self by the self). What is it that can raise the self? It is our own good conduct. Our good conduct is not for elevating the country, but for elevating ourselves. A whetstone is used for sharpening a knife, not for making the whetstone smoother. Likewise, in this world, your good conduct improves you, and as a result, the world. There is a proverb current in China: “The most delicious food is that got by hard labour.” What is got by arduous effort is relished with joy. One who enjoys his food without having laboured for it is an idler. In China, everyone works hard to earn his living. This cult of work should activate every human being.


- Divine Discourse, Feb 13, 1997

Make conscience your master. You can then face any difficulties in life and overcome them.


Dari jaman dahulu dan sampai batas tertentu hingga hari ini, masyarakat China telah memiliki satu ritual yang setiap pagi mereka jalankan sebelum memulai pekerjaan mereka. Mereka menyatakan: “Kesulitan-kesulitan yang ada adalah teman kita. Mari kita menyambutnya.” Mereka telah menyadari bahwa tanpa adanya masalah, tidak ada kebaikan yang dapat disadari. Masyarakat China memulai pekerjaan mereka dengan pemikiran yang seperti ini. Mereka juga menyadari bahwa kebahagiaan sejati muncul dari kepuasan karena telah menyelesaikan suatu tugas dengan baik. Di Bharat, juga terdapat pernyataan: “Uddharet Atmana-Atmanam (angkatlah dirimu oleh dirimu sendiri). Apa yang dapat mengangkat diri manusia? Jawabannya adalah perilaku baik kita sendiri. Perilaku baik kita tidak mengangkat bangsa, namun untuk mengangkat diri kita sendiri. Sebuah batu asah digunakan untuk mengasah sebuah pisau, dan bukan untuk batu asah itu menjadi semakin halus. Sama halnya, dalam dunia ini, perilaku baikmu akan meningkatkan dirimu, dan sebagai hasilnya dunia ikut mengalami peningkatan. Ada sebuah pepatah dalam China: “Makanan yang paling lezat dapat diperoleh dengan kerja keras.” Apa yang diperoleh dengan usaha yang berat akan dinikmati dengan suka cita. Seseorang yang menikmati makanannya tanpa bekerja keras adalah seorang pemalas. Di China, setiap orang bekerja keras untuk mendapatkan nafkah. Semangat kerja inilah yang seharusnya membangkitkan dan menggerakkan setiap manusia.


- Divine Discourse, Feb 13, 1997

Jadikanlah suara hatimu sebagai pemimpin. Sehingga anda mampu menghadapi berbagai kesulitan dalam hidup dan mengatasinya.

Tuesday, February 10, 2026

Thought for the Day - 10th February 2026 (Tuesday)



Satsang is much more beneficial than doing penance, going on pilgrimages or doing meditation. What is the real meaning of Satsang? People think that Satsang denotes the company of good people and listening to their teachings. But this is not the true meaning of Satsang. Sat means Truth that has no change in the past, present or future. Trikalabadhyam Satyam (Truth is that which remains unchanged in the three periods of time – past, present and future). It cannot be obliterated or hidden by history. That Truth is Divinity. Living in the awareness of Divinity is Satsang. Sat is also denoted by Tat, which connotes Divinity. So, Satsang means living in Divinity that is changeless, attributeless, formless, immortal, infinite, ever united, and unique as one only. To live always in divine consciousness is the real purport of Satsang.


- Divine Discourse, Apr 17, 1993

Converse with God who is in you; derive courage and consolation from Him. He is the Guru most interested in your progress. 


Satsang adalah jauh lebih bermanfaat daripada melakukan olah tapa, mengunjungi tempat-tempat suci atau melakukan meditasi. Apa yang menjadi makna sejati dari Satsang? Banyak orang berpikir bahwa Satsang berarti berada di tengah-tengah orang-orang yang baik dan mendengarkan ajaran mereka. Namun ini bukanlah arti sejati dari Satsang. Sat berarti Kebenaran yang tidak mengalami perubahan di masa lalu, hari ini atau di masa depan. Trikalabadhyam Satyam (Kebenaran adalah yang tetap sama dalam tiga periode waktu yaitu masa lalu, masa kini dan masa depan). Kebenaran tidak bisa dihapus atau disembunyikan oleh sejarah. Kebenaran itu adalah Tuhan. Hidup dalam kesadaran Tuhan adalah arti sejati dari Satsang. Sat juga berarti Tat, yang memiliki makna keilahian. Jadi, Satsang berarti hidup dalam keilahian yang bersifat kekal, tanpa karakterisstik, tanpa wujud, abadi, tanpa batas, selamanya satu, dan tunggal. Untuk bisa selalu hidup dalam kesadaran Tuhan adalah tujuan sejati dari Satsang.


- Divine Discourse, Apr 17, 1993

Berbicaralah dengan Tuhan yang bersemayam di dalam dirimu; dapatkan keberanian dan penghiburan dari-Nya. Tuhan adalah Guru yang paling peduli terhadap kemajuanmu.

Monday, February 9, 2026

Thought for the Day - 9th February 2026 (Monday)



Don’t criticise or condemn others. If you deceive your friends, they, in turn, will cheat you. If you disobey your parents, your children will pay you back in the same coin. If you hurt others, they will hurt you in retaliation. Reaction, resound and reflection are inherent in man’s mind. Hence, you should discerningly follow the maxim: “Hurt never; help ever”. There are some sinful persons who cavil not only at other men but even against God. This seems to be their very nature, although God never harms anyone at any time. In this context, the lowest category of people is those who take sadistic pleasure in hurting other people without any provocation whatsoever. They may be compared to the moths, whose nature is to damage all clothes indiscriminately, whether it is a valuable saree costing one thousand rupees, or whether it is a worthless, soiled rag in the kitchen. This highly despicable tendency on the part of some persons to harm others is traceable to their bad thoughts. We try to dispel foul odours from our living rooms and toilets by using substances like air-fresheners, incense sticks, and other deodorants. Similarly, we should try to counteract our bad thoughts with good ones.


- Divine Discourse, May 24, 1990

Good thoughts will eventually lead us to the fulfilment of our lives, while bad thoughts will degrade us to the level of beasts. 


Jangan mengkritik atau mencela orang lain. Jika anda menipu temanmu, maka merekapun juga akan menipumu. Jika anda melawan orang tuamu, maka anak-anakmu nantinya akan memperlakukanmu dengan cara yang sama. Jika anda menyakiti yang lainnya, mereka akan membalas dengan menyakitimu. Reaksi, gema dan pantulan adalah hukum yang melekat dalam pikiran manusia. Oleh karena itu, anda dengan penuh kebijaksanaan untuk mengikuti prinsip ini: “Jangan pernah menyakiti; selalu membantu”. Ada beberapa orang penuh dosa yang gemar mencari-cari kesalahan, tidak hanya pada orang lain namun bahkan pada Tuhan. Hal ini seolah-olah menjadi sifat alami mereka, walaupun Tuhan tidak pernah menyakiti siapapun dan kapanpun juga. Dalam hal ini, kategori manusia yang paling rendah adalah mereka yang menikmati kekejaman dalam menyakiti orang lain tanpa alasan apapun. Mereka ini dapat diibaratkan seperti ngengat yang sifat alaminya adalah merusak semua pakaian tanpa membedakan, apakah pakaian ini adalah pakaian yang sangat mahal maupun kain lusuh yang ada di dapur. Kecendrungan yang sangat tercela ini yang ada pada beberapa orang untuk menyakiti orang lain adalah bersumber dari pemikiran buruk yang ada dalam diri mereka. Kita berusaha untuk menghilangkan bau-bau tidak sedap di ruang tamu dan kamar mandi dengan menggunakan pengharum ruangan, dupa dan pewangi lainnya. Sama halnya, kita berusaha untuk melawan pemikiran buruk kita dengan pemikiran yang baik dan luhur. 


- Divine Discourse, 24 Mei 1990

Pemikiran yang luhur pada akhirnya akan menuntun kita pada pemenuhan hidup, sedangkan pemikiran buruk akan menjatuhkan kita pada tingkat binatang.

Sunday, February 8, 2026

Thought for the Day - 8th February 2026 (Sunday)



With determination, man can touch the sky and conquer the world. But today, man is losing this strength. What is the reason for this? He is losing his mastery over the senses. The more sensual he is, the lesser the lifespan. Today’s man is losing his physical strength and consequently destroying his inner strength completely. To remain immortal and retain youth, the power of the senses should be developed by controlling them. There should be no body-attachment. If on one hand, man loses control over the senses and on the other, he develops body-attachment, what then will be his plight? These two can be compared to two holes in a pot filled with water. Water filled in such a pot gets drained. Similarly, the pot of our heart is filled with the nectarous grace of God. Man has to foster his heart. But without forbearance and sympathy, he has drilled holes into it. Consequently, his lifespan has decreased. In this limited life span, what good deeds can he do? How can he work for the welfare of society? God-given strength should be utilised properly by Satsangam (Good Company), Satpravartana (Good conduct) and by Seva (Service). Only then can your strength improve.


- Divine Discourse, Oct 02, 2000

Man’s life, though sacred, virtuous, beautiful, and praiseworthy, is short. In this limited life span, man has to engage himself in good actions.

 

Dengan keteguhan hati, manusia dapat menyentuh langit serta menaklukkan dunia. Namun hari ini, manusia sedang kehilangan kekuatannya. Apa alasan penyebab dari keadaan ini? Jawabannya adalah karena manusia kehilangan kemampuan untuk menguasai indranya. Semakin besar manusia mengikuti hawa nafsunya maka semakin pendek masa hidupnya. Hari ini manusia kehilangan kekuatan fisiknya dan akibatnya juga menghancurkan kekuatan batinnya sepenuhnya. Agar bisa tetap abadi dan awet muda, kekuatan indra harus dikembangkan dengan mengendalikannya. Seharusnya tidak ada keterikatan pada tubuh. Jika pada satu sisi manusia kehilangan kendali pada indranya dan pada sisi lainnya mengembangkan keterikatan pada tubuh, maka apa yang akan menjadi penderitannya? Kedua bagian tadi dapat diibaratkan seperti bejana yang berisi air dengan memiliki dua lubang. Air yang ada dalam bejana akan terus mengalir keluar. Sama halnya, bejana dari hati kita terisi dengan anugerah Tuhan yang manis seperti nektar. Manusia harus memelihara hatinya. Namun karena manusia kehilangan ketabahan dan simpati, ia justru membuat lubang pada hatinya. Sebagai akibatnya, masa hidupnya menjadi menyusut dan berkurang. Dalam masa hidup yang terbatas ini, apa perbuatan baik yang dapat ia lakukan? Bagaimana ia dapat bekerja untuk kesejahtraan masyarakat? Kekuatan yang diberikan Tuhan harus digunakan dengan sebaik-baiknya dengan Satsangam (pergaulan suci), Satpravartana (perilaku luhur) dan dengan Seva (pelayanan). Hanya dengan demikian kekuatan anda meningkat.


- Divine Discourse, Oct 02, 2000

Hidup manusia, meskipun suci, luhur, indah dan patut dimuliakan, sesungguhnya sangat singkat. Dalam masa hidup yang terbatas ini, manusia harus menyibukkan dirinya dalam perbuatan yang luhur.

Saturday, February 7, 2026

Thought for the Day - 7th February 2026 (Saturday)



To be good, to do good and to see good is the primary duty of every human being! The wealth we may earn, the prosperity we may acquire, and the mansions we may build are all transient and temporary. Our conduct is the most important thing in our life. Our conduct is the one which lays the foundation for our future life. It is only when we can shape our present conduct along a proper path that our future can hopefully be peaceful and happy. In this context, take a small incident from the Ramayana as an example. Sita, wanting to be close to Rama, was willing to sacrifice all her ornaments, her wealth and every one of her possessions. Because of this supreme sacrifice, it was possible for her to go close to Rama. But in the forest at Panchavati, the moment Sita developed an attraction to the golden deer, Rama became distant from her. If our worldly desires and worldly attachments become stronger, we move further away from God. If we cut out the worldly desires, we get closer and closer to Paramatma!


- Divine Discourse, May 19, 1977

If you wish to become eligible for God’s Love, then your actions must be consistent with Love. 


Menjadi baik, berbuat baik, dan melihat kebaikan adalah kewajiban utama setiap manusia! Kekayaan yang kita hasilkan, kesejahtraan yang kita daoatkan, dan rumah besar yang kita bangun semuanya ini bersifat sementara dan tidak kekal. Perilaku kita adalah hal yang paling penting di dalam hidup kita. Perilaku kita inilah yang meletakkan dasar bagi masa depan hidup kita. Hanya ketika kita bisa membentuk perilaku saat ini di atas jalan yang benar maka masa depan kita dapat diharapkan menjadi damai dan bahagia. Dalam konteks ini, ambillah sebagai sebuah contoh peristiwa kecil dari kisah Ramayana.  Sita sangat ingin dekat dengan Rama dan rela mengorbankan seluruh perhiasannya, kekayaannya dan semua harta bendanya. Karena pengorbanan yang begitu besar inilah maka memungkinkan bagi Sita untuk dekat dengan Rama. Namun saat Sita berada di hutan Panchavati, dimana Sita mengembangkan ketertarikan pada kijang emas, Rama menjadi jauh darinya. Jika keterikatan kita menjadi semakin kuat, kita bergerak menjauh dari Tuhan. Jika kita memotong keinginan duniawi kita, maka kita semakin dekat dan semakin dekat pada Paramatma!


- Divine Discourse, May 19, 1977

Jika anda berharap untuk menjadi menerima kasih Tuhan, maka tindakan anda harus selaras dan sejalan dengan kasih.

Friday, February 6, 2026

Thought for the Day - 6th February 2026 (Friday)



In the Kali Age, man has acquired great fame, riches and comforts, but he lacks peace and a sense of security. The reason for this sorrow is the lack of patience and sympathy (sahana and sahanubhuti) amongst the members of the family living in a house. Why does man lack these two qualities? The rise in selfishness and the use of intelligence for one’s own self-interests has brought about this decline. Man has become selfish, and he no longer thinks of contributing to others’ happiness. Patience and sympathy are like the life force for a man, akin to inhalation and exhalation. A man without these can be considered lifeless. Having acquired a number of degrees and having amassed wealth, what has man really achieved? What every man in a family should aspire to achieve are the two virtues of patience and sympathy.  Today, they build a house with four walls and call it a home. However, it was not so in the olden days. Five to six families lived together in a small hut peacefully, and it became a home. There is a lot of difference between a house and a home. When there is sahana and sahanubhuti among members of the family, it is home. Because of the absence of these, the bhavanam (house) has become vanam (forest). 


- Divine Discourse, Oct 02, 2000

The home is the temple where the family, each member of which is a moving temple, is nurtured and nourished. 


Di jaman kali ini, manusia telah mencapai ketenaran, kekayaan dan kenyamanan yang sangat besar, namun manusia kurang merasakan kedamaian dan rasa aman. Alasan dari penderitaan ini adalah kurangnya kesabaran dan simpati (sahana dan sahanubhuti) diantara anggota keluarga di dalam satu rumah. Mengapa manusia kurang memiliki kedua kualitas ini? Hal ini disebabkan karena meningkatnya sifat mementingkan diri sendiri dan penggunaan kecerdasan untuk kepentingan diri sendiri yang menyebabkan kemerosotan ini. Manusia telah menjadi mementingkan diri sendiri, dan manusia tidak lagi memikirkan bagaimana membahagiakan orang lain. Kesabaran dan simpati adalah seperti kekuatan hidup bagi manusia, seperti halnya tarikan dan hembusan nafas. Seseorang yang tidak memiliki kedua kualitas ini dapat dianggap sebagai manusia yang tidak bernyawa. Setelah mendapatkan berbagai gelar pendidikan dan mengumpulkan kekayaan, apa sebenarnya yang telah dicapai manusia? Yang harus diupayakan untuk dicapai oleh setiap anggota keluarga adalah menumbuhkan dua nilai kebajikan ini yaitu kesabaran dan simpati. Pada hari ini, manusia membangun rumah dengan empat dinding dan menyebutnya dengan tempat tinggal. Namun, pada jaman dahulu tidaklah seperti itu. Lima atau enam keluarga hidup bersama dengan damai dalam sebuah gubuk kecil, dan itu benar-benar menjadi sebuah tempat tinggal. Ada banyak perbedaan diantara rumah dan tempat tinggal. Ketika ada sahana dan sahanubhuti diantara anggota keluarga, maka itu adalah tempat tinggal. Karena tidak adanya kedua nilai kebajikan ini, bhavanam (rumah) telah berubah menjadi vanam (hutan). 


- Divine Discourse, Oct 02, 2000

Tempat tinggal adalah ruang sakral bagi keluarga, dimana setiap anggota keluarga adalah tempat suci yang bergerak yang dipelihara dan dirawat.

Thursday, February 5, 2026

Thought for the Day - 5th February 2026 (Thursday)



In all aspects, Rama translated every moment of his life to be an example of ideal behaviour. By showing equal affection to all, Rama attracted all the people. In His childhood, Rama spoke very little. He was conducting Himself in that manner in order to show the world the ideal that is contained in limited speech. Limited talking will always promote the divine strength in one and will also promote one’s memory. It creates respect for one in the community. If one talks too much, it will, to an extent, destroy one’s memory. Not only this, if one talks too much, the strength in the nerves will diminish and the person will become somewhat feeble. It is for this reason that all great saints were observing the path of silence whenever possible. By observing silence, one can get strength. Because the youth of today talk too much, it so happens that their memory becomes weak, and when they go to the examination hall, they forget what they have read. Amongst the many ideals which Rama has given to the young people, the first one is to talk less. 


- Divine Discourse, May 19, 1977

In the depth of silence, the divine voice can be heard! 


Dalam semua aspek kehidupan-Nya, Rama menerjemahkan setiap saat dari hidup-Nya menjadi sebuah teladan tingkah laku yang ideal. Dengan menunjukkan kasih sayang yang sama kepada semua orang, Rama menarik hati seluruh masyarakat. Pada masa kanak-kanak-Nya, Rama berbicara sangat sedikit. Cara hidup ini dijalani-Nya untuk menunjukkan kepada dunia betapa mulianya nilai yang terkandung dalam berbicara secukupnya. Berbicara secara terbatas akan selalu menumbuhkan kekuatan Ilahi di dalam diri seseorang dan juga memperkuat daya ingat. Sikap ini menumbuhkan rasa hormat dari lingkungan sekitar. Sebaliknya, berbicara terlalu banyak, sampai batas tertentu, dapat melemahkan daya ingat. Tidak hanya itu, terlalu banyak berbicara juga menguras kekuatan saraf sehingga seseorang menjadi lemah. Inilah sebabnya mengapa para resi dan orang suci yang hebat selalu menempuh jalan keheningan kapanpun memungkinkan. Dengan mempraktikkan keheningan, seseorang memperoleh kekuatan batin. Karena kaum muda masa kini terlalu banyak berbicara, daya ingat mereka menjadi lemah, dan ketika memasuki ruang ujian, mereka melupakan apa yang telah dipelajari. Di antara sekian banyak teladan yang diberikan Rama kepada kaum muda, yang pertama dan utama adalah sedikit berbicara. 


- Divine Discourse, May 19, 1977

Dalam kedalaman keheningan, suara Tuhan dapat di dengar!

Wednesday, February 4, 2026

Thought for the Day - 4th February 2026 (Wednesday)



Whether at home, or out in the street, or while travelling in a train, bus or plane, people are haunted by fear. The root cause for this ubiquitous fear is the absence of pure and sacred thoughts in the minds of people. The whole world appears like a maze filled with fear at every turn. The tragedy of Abhimanyu - son of Arjuna and hero of the Kurukshetra war, was that he knew how to enter the maze called Padma-vyuham, but he did not know how to get out of it. Likewise, you know how to enter the maze of worldly pleasures, but do not know how to get out of it. You will know the way out only when you submit your thoughts to the scrutiny of buddhi - the intellect. In the Kathopanishad, the body is compared to a chariot, the senses to horses, the mind to the reins, and the intellect to the charioteer. This means that the mind is in between the senses and the intellect. If the mind follows the dictates of the intellect, it will be safe. On the contrary, if it follows the whims and fancies of the senses, it will become a bond slave of the senses and a victim of endless sorrow and suffering. 


- Divine Discourse, May 24, 1990

The intellect must use its discriminative abilities and wean the mind away from bad thoughts. Otherwise, we are bound to grope in the darkness of ignorance. 


Baik di dalam rumah, atau di jalan, atau sedang dalam perjalanan di dalam kereta api, bus atau pesawat terbang, manusia dihantui dengan rasa takut. Akar penyebab dari ketakutan yang merajalela adalah karena tidak adanya pemikiran yang murni dan suci dalam pikiran manusia. Seluruh dunia tampak seperti labirin yang diliputi dengan rasa takut pada setiap sudutnya. Tragedi yang terjadi pada Abhimanyu – putra dari Arjuna dan pahlawan dalam perang Kurukshetra, dimana ia mengetahui cara memasuki labirin yang disebut dengan Padma-vyuham, namun ia tidak mengetahui cara keluar dari labirin tersebut. Sama halnya, anda mengetahui memasuki labirin kenikmatan duniawi, namun tidak mengetahui bagaimana cara keluar darinya. Anda akan mengetahui cara keluar hanya ketika anda menyerahkan pemikiran anda pada pemeriksaan mendalam dari buddhi - kecerdasan. Dalam naskah suci Kathopanishad, tubuh fisik diumpamakan sebagai sebuah kereta kuda, sedangkan indra adalah kuda-kudanya, pikiran adalah tali kekangnya, dan kecerdasan adalah kusirnya. Hal ini berarti bahwa pikiran ada diantara indra dan kecerdasan. Jika pikiran mengikuti arahan dari kecerdasan maka pikiran akan selamat dan aman. Sebaliknya, jika pikiran mengikuti keinginan dan dorongan dari indra, maka pikiran akan menjadi budak indra serta menjadi korban dari penderitaan serta kesedihan yang tiada akhir. 


- Divine Discourse, May 24, 1990

Kecerdasan harus menggunakan kemampuan memilahnya untuk menjauhkan pikiran dari pemikiran yang buruk. Jika tidak, kita akan terus meraba-raba dalam kegelapan ketidaktahuan.

Tuesday, February 3, 2026

Thought for the Day - 3rd February 2026 (Tuesday)



In a dream, you see and experience many things, but everything disappears when you are awake. All this is a night dream. Similarly, during the day, you see everybody and everything, and have so many experiences. But all this becomes invisible when you go to sleep. This is a day dream. You are present both in the night dream as well as in the day dream. There is no existence of day dream in night dream and night dream in day dream. But you are present in both states. Hence, you are omnipresent. Therefore, consider yourself as the fundamental divine entity. You are God; God is not different from you. Your inner voice also teaches you this truth through the sound of Soham, Soham, Soham (That, I am). Your inner voice keeps reminding you of your divine reality but you are not paying attention to it! You follow what others tell you, but do not believe yourself. In whom else can you have faith when you don’t have faith in yourself? Therefore, first develop self-confidence. Then you will have self-satisfaction, which will lead you to the path of self-sacrifice and ultimately to self-realisation. First and foremost, have faith in yourself. God is present within you only. 


- Divine Discourse, Jun 24, 1996

It is the mind that is responsible for man to live like a man, to rise to the divine level or to degenerate to the level of an animal. 


Dalam keadaan mimpi, anda bisa melihat dan mengalami banyak hal, namun segala sesuatunya lenyap ketika anda terjaga. Semuanya ini adalah mimpi di malam hari. Sama halnya, pada siang hari anda dapat melihat setiap orang dan segala sesuatu, dan anda telah mengalami berbagai pengalaman. Namun semuanya ini pun menjadi tidak tampak pada saat anda tertidur. Ini adalah mimpi di siang hari. Anda hadir pada keadaan mimpi keduanya baik mimpi di malam hari dan mimpi di siang hari. Mimpi siang hari tidak ada dalam mimpi malam hari dan mimpi di malam hari tidak ada dalam mimpi siang hari. Namun anda yang hadir dalam dua keadaan mimpi tersebut. Oleh karena itu, anda adalah bersifat hadir dimana-mana. Maka dari itu, renungkan diri anda sendiri sebagai hakikat Tuhan yang mendasar. Anda adalah Tuhan; Tuhan tidak berbeda dari diri anda. Suara Nurani dalam diri anda juga mengajarkan kebenaran ini dalam suara Soham, Soham, Soham (Tuhan adalah aku). Suara Nurani anda terus menerus mengingatkan hakikat keilahian diri anda namun anda tidak memberikan perhatian pada suara itu! Anda mengikuti apa yang orang lain katakan, namun tidak mempercayai diri anda sendiri. Kepada siapa lagi anda dapat menaruh kepercayaan ketika anda tidak memiliki kepercayaan pada diri anda sendiri? Maka dari itu, pertama-tama kembangkan rasa kepercayaan diri. Kemudian anda akan memiliki kepuasan diri, yang akan menuntun anda pada jalan pengorbanan diri dan pada akhirnya pada kesadaran diri. Pertama dan terpenting, milikilah keyakinan pada diri anda sendiri. Tuhan hanya ada di dalam diri anda. 


- Divine Discourse, Jun 24, 1996

Adalah pikiran yang menentukan apakah manusia hidup sebagai manusia sejati, untuk bangkit menuju tingkat Tuhan atau justru merosot pada tingkat binatang.

Monday, February 2, 2026

Thought for the Day - 2nd February 2026 (Monday)



Sometimes, by just seizing a chance, you can elevate yourself steadily. Someone comes to Me to get his stomachache cured. Then he likes this place, its atmosphere, its omkara, its bhajan, and its prashanti (supreme peace); he sees Me and observes My movements, words, and actions. He takes home a picture or a Bhajan book, and before long, he forgets the ache, which brought him hither and cultivates a new ache - for prashanti, for darshan, sparshan, and sambhashan (divine vision, touch and conversation), for japam, dhyanam, and sakshatkaram (recitation, meditation and realisation). Of course, I never deviate from the truth. Since I recline on truth, I am called Sathya Sai; Shayi means reclining. The name is very appropriate, let Me assure you. It is only those who fail to follow My instructions and who deviate from the path I have laid down that fail to get what I hold out before them. Follow My instructions and become soldiers in My army; I will lead you on to victory. 


- Divine Discourse, Nov 21, 1962

Once I say that you are Mine, I will never forsake you. You may forget Me, but I will never forget you.

 

Kadang-kadang, hanya dengan memanfaatkan kesempatan, anda dapat mengangkat diri anda secara bertahap. Seseorang datang kepada-Ku untuk menyembuhkan sakit perutnya. Kemudian ia menyukai tempat ini, suasana yang ada, pelantunan Omkara dan bhajan serta kedamaian tertinggi (prashanti); ia melihat-Ku dan mengamati kegiatan, perkataan dan tindakan-Ku. Ia membawa pulang sebuah gambar atau buku bhajan, dan tidak lama kemudian ia melupakan sakit yang membawanya datang kesini lalu menumbuhkan kerinduan yang baru – kerinduan untuk prashanti, darshan, sparshan, dan sambhashan (pandangan, sentuhan dan percakapan ialhi), kerinduan untuk japam, dhyanam, dan sakshatkaram (pelantunan, meditasi dan penyadaran). Tentu saja, Swami tidak pernah menyimpang dari kebenaran. Karena Swami berlandaskan dan bersandarkan pada kebenaran, Swami dipanggil dengan nama Sathya Sai; Shayi berarti bersandar. Nama itu sungguh tepat, biarkanlah Swami meyakinkanmu. Hanya mereka yang tidak mampu mengikuti perintah Swami dan yang menyimpang dari jalan yang Swami telah tetapkanlah yang tidak mendapatkan apa yang Swami janjikan. Ikutilah perintah Swami dan jadilah prajurit dalam pasukan Swami; Swami akan menuntunmu pada kemenangan. 


- Divine Discourse, Nov 21, 1962

Sekali Swami mengatakan bahwa dirimu adalah milik Swami, maka Swami tidak akan pernah meninggalkanmu. Anda bisa melupakan Swami, namun Swami tidak pernah melupakanmu.

Sunday, February 1, 2026

Thought for the Day - 1st February 2026 (Sunday)



The Veda has declared: “Whatever is perceived is liable to perish.” Man sees with his physical eyes all objects in the world, moving and non-moving. All these will disappear in due course in the stream of Time. Neither the eye that sees, nor the object that is seen, is permanent. All beings in creation are endowed with eyes. What is the special significance of the eyes possessed by man? What is the unique significance of human existence? Having been born as a human being, it will be unfortunate if man is content with the physical vision. Man must acquire Jnana-netram (the eye of Wisdom). Without it, of what avail is one’s education? What is the use of one’s intelligence or one’s mental powers? What is a man worth if he is unable to recognise the divinity within him? Man is the crown of creation. That is why the scriptures have praised the noble virtues that man is capable of manifesting. Hence, as a human being, one must strive to acquire the eye of wisdom. The physical eyes are inept. You cannot see your own eyes. These imperfect eyes, how can they see the highly subtle mind? The eyes which are unable to see the mind, how can they see the Atma (the Indwelling Spirit)? 


- Divine Discourse, Apr 04, 1992

Engage yourself in Sadhana that will secure the Grace of God; through that Grace, the Eye of Wisdom will be granted. 



Naskah suci Weda telah menyatakan: “Segala sesuatu yang dapat dilihat pasti akan musnah.” Manusia melihat dengan mata fisiknya semua objek di dunia, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak. Semua objek dunia ini akan lenyap dalam arus waktu. Baik mata yang melihat objek, maupun objek yang dilihat oleh mata, bukanlah sesuatu yang bersifat permanen. Semua makhluk dalam ciptaan ini diberkahi dengan mata. Apa makna khusus dari mata yang dimiliki oleh manusia? Apa makna yang unik dari keberadaan manusia? Setelah lahir sebagai manusia, sangat sungguh disayangkan jika manusia hanya puas dengan penglihatan fisik saja. Manusia harus mencapai Jnana-netram (mata kebijaksanaan). Tanpa mata kebijaksanaan ini, apa arti dari pendidikan yang seseorang miliki? Apa gunanya kecerdasan atau kekuatan mental seseorang? Apa nilai seorang manusia jika ia tidak mampu untuk menyadari kualitas Tuhan dalam dirinya? Manusia adalah puncak dari ciptaan. Itulah sebabnya mengapa naskah suci telah memuliakan sifat-sifat luhur yang manusia mampu wujudkan. Oleh karena itu, sebagai seorang manusia maka ia harus berusaha untuk mencapai penglihatan kebijaksanaan. Mata fisik memiliki keterbatasan. Anda tidak bisa melihat mata anda sendiri. Dengan kedua mata yang tidak sempurna ini, bagaimana bisa melihat pikiran yang begitu halus? Jika mata yang tidak bisa melihat pikiran, lantas bagaimana kedua mata ini bisa melihat Atma (jiwa yang bersemayam di dalam diri)? 


- Divine Discourse, Apr 04, 1992

Jalankan sadhana yang dapat mendatangkan karunia Tuhan; dengan karunia Tuhan itu, penglihatan kebijaksanaan akan dianugerahkan.