Saturday, June 30, 2012

Thought for the Day - 30th June 2012 (Saturday)


A tree is justified by fragrant flowers bringing forth sweet fruits. If on the other hand, its leaves dry, flowers fade and the fruits refuse to grow, the farmer will examine the roots and discover that they are eaten up by pests. So too, if virtues do not blossom and yield sweet fruits in you, then the roots of Divinity might have been destroyed or harmed. Envy, greed, malice, etc. are the pests that rapidly destroy the roots. All of you are near and dear to the Lord; only you must have the staunch determination to realize Him. Welcome hardships, trials and sufferings. Dwell on the Name of the Lord which is dear to you, steadily and with faith. Discard all inferior sources of joy. Know that the Lord is the spring of joy in every heart. When you repeat the Name of the Lord with a pure heart, He will fill you with bliss and joy.

Sebuah pohon dapat menghasilkan buah yang manis. Tetapi jika sebaliknya, daun-daun kering, bunga-bunga layu, sehingga tidak menghasilkan buah, petani akan memeriksa akar tanaman dan menemukan bahwa tanaman tersebut  diserang hama tanaman. Demikian juga, jika kebajikan tidak mekar dan tidak menghasilkan buah manis di dalam dirimu, maka akar Divinity mungkin telah hancur atau rusak. Iri hati, keserakahan, kebencian, dll adalah hama yang dengan cepat dapat menghancurkan akar Divinity. Engkau semuanya dapat berdekatan (baik secara fisik maupun hati) dengan Tuhan, hanya engkau harus memiliki tekad yang kuat untuk menyadari-Nya. Engkau hendaknya menerima kesulitan, cobaan, dan penderitaan serta  dengan penuh keyakinan selalu mengucapkan Nama Tuhan dalam hatimu. Tinggalkanlah sumber kebahagiaan yang bersifat sementara dan tidak bermutu. Ketahuilah bahwa Tuhan adalah sumber kebahagiaan bagi setiap hati. Ketika engkau mengulang-ulang nama Tuhan dengan hati yang murni, Beliau akan mengisi hatimu dengan kebahagiaan dan sukacita.
-BABA

Friday, June 29, 2012

Thought for the Day - 29th June 2012 (Friday)


Krishna has said in the Geetha that ‘Om’ has to be remembered at the moment of death. But when the mind is flitting from one fancy to another, how can the production of a sound ‘Om, Om..’ by the vocal organs be of any benefit? The mere sound will not help you attain liberation. The senses have to be curbed, thoughts have to be one-pointed and the divine glory has to be apprehended. If you postpone sadhana (spiritual practices) till the last moment, you will be like the student who turns over the pages of his textbook for the first time, just before entering the examination hall! If the student has neglected to learn from the teacher, lecture-notes and books, how can anything enter his head on that morning? It will only add to the student’s despair. That is why the Lord advised that one must start early in the search for truth.

Sri Krishna mengatakan dalam Geetha bahwa 'Om' harus diingat pada saat kematian. Tetapi ketika pikiran melayang dari satu khayalan ke yang lainnya, bagaimana bisa menghasilkan suara 'Om, Om ..' oleh organ vokal agar bermanfaat? Hanya dengan mengucapkan “Om” saja tidak akan membantumu mencapai pembebasan. Indera harus dikekang, pikiran harus fokus dan kemuliaan ilahi harus dipahami. Jika engkau menunda melakukan sadhana (latihan spiritual) sampai saat-saat terakhir, engkau dapat diibaratkan seperti siswa yang baru membuka halaman-halaman buku teks untuk pertama kalinya, sebelum memasuki ruang ujian! Jika para siswa telah melalaikan pelajaran dari guru serta dari buku-buku, bagaimana bisa sesuatu masuk di kepalanya di pagi hari itu? Ini hanya akan menambah keputusasaan siswa. Itu sebabnya Tuhan menyarankan bahwa seseorang harus mulai sejak dini dalam mencari kebenaran.
-BABA

Thursday, June 28, 2012

Thought for the Day - 28th June 2012 (Thursday)


For food to taste good, you need to add salt to it. But only when you place a morsel of the food on your tongue you get to know if it has enough salt in it or not. So too only when you have moved about in the world and participated in its activities abiding by a moral code, you discover that, without the salt of jnana (wisdom), it does not taste good; if you take it with a pinch of this salt - the knowledge that you are not the body but the Indweller, that you are but the witness of the ever-changing panorama of Nature - then you will be happy and peaceful.

Agar makanan terasa enak, engkau perlu menambahkan garam ke dalamnya. Tetapi hanya jika engkau menempatkan sepotong makanan di lidahmu, baru engkau mengetahui makanan tersebut telah cukup garam atau tidak. Demikian juga, jika engkau telah bergerak dari duniawi dan berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan yang mematuhi kode moral, engkau akan menemukan bahwa  tanpa garam jnana (kebijaksanaan), maka tidak akan terasa enak, jika engkau mengambil sejumput garam ini – yaitu pengetahuan bahwa engkau bukanlah badan jasmani tetapi Indweller, bahwa engkau hanyalah saksi panorama Alam yang selalu berubah - maka engkau akan merasakan kebahagiaan dan kedamaian.
-BABA

Wednesday, June 27, 2012

Thought for the Day - 27th June 2012 (Wednesday)


The Divinity in each one prompts one to stick to truth and to the moral code; you only have to listen, obey and get saved. Few hear it the moment it whispers; some listen only when it protests loudly; others are deaf; and there are also some who are determined not to hear it. But all have to be guided by it, sooner or later. Some may ascend a plane, others may travel by car or board a bus; yet others may prefer a train journey, and there could be some who may like to trudge along - but all must reach the goal, some day or other. The sea of samsaara (worldly life) has to be crossed and all its waves transcended, with the help of the Divine Name. If you seek to know the highest and secure the award of the Lord, there can be no place for doubt. The heart should be set on achieving the task of realising the Lord within you as the Motivator.

Divinity pada setiap orang mendorong seseorang untuk berpegang pada kebenaran dan kode moral; engkau hanya harus mendengarkan, dan taat. Beberapa orang mendengarnya dalam keadaan berbisik, beberapa orang lainnya mendengarkan hanya ketika protes keras, yang lainnya tuli, dan ada juga beberapa orang yang bertekad untuk tidak mendengarnya. Tetapi semuanya harus dipandu, cepat atau lambat. Diibaratkan seperti melakukan suatu perjalanan, ada yang menggunakan pesawat udara, yang lainnya dengan bus atau mobil, yang lainnya dengan kereta api, dan bahkan ada yang bersusah payah melakukan perjalanan dengan berjalan kaki, - tetapi semuanya harus mencapai tujuan, suatu hari nanti. Lautan samsaara (kehidupan duniawi) harus diseberangi dan semua gelombang yang menghalangi harus dilewati, dengan bantuan Nama Tuhan. Jika engkau berusaha untuk memahami yang tertinggi dan memperoleh award (berkat) Tuhan, tidak ada tempat bagi keraguan. Hati hendaknya ditetapkan untuk mewujudkan Tuhan sebagai Motivator dalam dirimu.
-BABA

Thought for the Day - 26th June 2012 (Tuesday)


There is no scar on the sky, though clouds, stars, the sun and the moon all appear to streak across it. So too let a thousand ideas streak across the mind, ensure that your mind remains unaffected and serene. Get firm in mind; then, your reason also will not deviate. Without that equanimity or shanthi, you can get no soukhyam (happiness). Saint Kabir had no food for three days – but he thanked God for giving him the coveted chance of observing a ritual fast. The great devotee of Rama, Saint Ramadas was confined in prison – and he thanked God that he got a place where he could meditate on Him without disturbances. Such is the attitude of the saintly, those who are the beloved of the Lord.

Tidak ada goresan/bekas luka di langit, meskipun awan, bintang, matahari dan bulan semua tampak melintas di atasnya. Demikian juga meskipun ada ribuan ide melintas di pikiran, pastikan pikiranmu tetap tidak terpengaruh dan tenang. Kuatkan pikiranmu, maka engkau tidak akan menyimpang. Tanpa kedamaian/ketenangan hati atau Shanthi, engkau tidak bisa mendapatkan soukhyam (kebahagiaan). Saint Kabir tidak memiliki makanan selama tiga hari - tetapi ia berterima kasih pada Tuhan yang telah memberinya kesempatan untuk melaksanakan ritual berpuasa. Bhakta Sri Rama, Saint Ramadas dikurung di penjara - dan dia bersyukur kepada Tuhan bahwa ia mendapat tempat di mana dia bisa bermeditasi pada-Nya tanpa gangguan. Demikianlah sikap suci, mereka yang mencintai Tuhan.
-BABA