- Divine Discourse, Apr 18, 1986.
Meditate on the Rama-swarupa (form of Rama) and the Rama-svabhava (the true nature of Rama), when you recite or write the Rama-nama (name of Rama).
Sering kali dikatakan bahwa Rama senantiasa mengikuti dharma (kebajikan). Namun, ini bukanlah cara yang sepenuhnya tepat untuk menggambarkan Beliau. Rama bukan hanya mengikuti dharma, Beliau adalah dharma itu sendiri. Apa yang Beliau pikirkan, ucapkan, dan lakukan adalah dharma, dan akan selalu menjadi dharma untuk selamanya. Membaca ayat-ayat Ramayana, atau mendengarkan penjelasan mendalam tentang kisahnya, seharusnya mengubah diri kita menjadi perwujudan dharma. Setiap kata, pikiran, dan tindakan harus mencerminkan ideal/teladan tersebut. Shraddha (keyakinan yang teguh) terhadap Rama, Ramayana, dan terhadap diri sendiri, adalah kunci keberhasilan. Dan untuk tujuan apa? Hal ini bertujuan untuk menjadi pribadi yang baik dan membantu orang lain mengungkapkan kebaikan dalam dirinya. Untuk menjadi manusia seutuhnya dengan mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan secara maksimal, dan menanamkan sifat-sifat tersebut dalam masyarakat untuk membantu orang lain juga. Murnikanlah tubuh dengan melakukan tindakan yang suci. Murnikanlah ucapan dengan berpegang pada kebenaran, cinta-kasih, dan simpati. Murnikanlah pikiran dengan tidak tunduk pada hiruk-pikuk indria dan keinginan yang ditimbulkannya.
- Divine Discourse, Apr 18, 1986.
Renungkan Rama-swarupa (wujud Rama) dan Rama-svabhava (sifat sejati Rama), setiap kali engkau melafalkan atau menulis Rama-nama (nama Rama).