Tuesday, February 17, 2026

Thought for the Day - 17th February 2026 (Tuesday)



Consider this example: Here is a person whose form can be described in terms of various physical features. But, does this description in terms of height and weight reveal anything about his internal qualities like forbearance, peacefulness, compassion, love, and sacrifice? Are these qualities not very real and significant? He is prized mainly for these qualities, not for his physical features. To judge him only in physical terms is meaningless. His formless virtues are more important. When one is judged on the basis of his qualities, the form is irrelevant. The utter ridiculousness of judging a person solely on the basis of his physical form was demonstrated by Sage Ashtavakra to the learned pundits in Emperor Janaka’s court. When all of them laughed on seeing the crooked figure of Ashtavakra, the sage laughed even louder at all of them. When they asked him for an explanation, he told them that the scholars who laughed at his deformed figure were no better than cobblers who judged things by the nature of the skin. Ashtavakra told them, punditah samadarshinah (the truly wise person sees the Divine in all beings). “I laughed at all of you because I wondered how the Emperor happened to esteem you all as scholars.” This means that those who judge anything on the basis of the external form are utterly foolish. 


- Divine Discourse, Mar 7, 1997

Let us not be carried away by the “seen.” We must make efforts to perceive the “seer.” 


Perhatikan contoh ini: ada seseorang yang mana bentuknya dapat dijelaskan melalui berbagai ciri fisiknya. Namun, apakah penjelasan fisik ini yang berkaitan dengan tinggi dan berat badan dapat mengungkapkan semua tentang kualitas batinnya seperti ketabahan, kedamaian, welas asih, kasih, dan pengorbanan? Bukankah kualitas-kualitas yang disebutkan tadi sangat nyata dan bermakna? Seseorang dihargai terutama karena kualitas-kualitas ini, dan bukan pada ciri fisiknya. Dengan menilai seseorang hanya pada ciri fisiknya adalah tidak ada gunanya. Karena nilai-nilai luhur dalam dirinya yang tidak berbentuk adalah jauh lebih penting. Ketika seseorang dinilai pada nilai luhurnya ini maka bentuk fisiknya menjadi tidak relevan. Benar-benar sebuah kekonyolan menilai seseorang hanya berdasarkan pada bentuk fisiknya yang pernah ditunjukkan  oleh Rsi Ashtavakra kepada para cendekiawan di istana Raja Janaka. Ketika semua cendekiawan menertawakan bentuk fisik yang bengkok dari Rsi Ashtavakra, reaksi dari Rsi Ashtavakra  malah tertawa lebih keras pada semua cendekiawan tersebut. Ketika mereka meminta penjelasan, Rsi Ashtavakra mengatakan pada mereka bahwa cendekiawan yang menertawakan bentuk fisiknya adalah tidak lebih baik daripada tukang sol sepatu yang menilai sesuatu pada kulitnya saja. Rsi Ashtavakra mengatakan pada mereka, punditah samadarshinah (seseorang yang benar-benar bijaksana melihat kualitas ketuhanan dalam semua makhluk). “Aku menertawakan anda semuanya karena aku heran bagaimana raja menganggap anda semuanya sebagai terpelajar.” Hal ini berarti bahwa mereka yang menilai sesuatu atas dasar pada wujud luarnya adalah benar-benar bodoh. 


- Divine Discourse, Mar 7, 1997

Janganlah kita terhanyut pada “apa yang terlihat”. Kita harus berusaha untuk menyadari sang “saksi abadi - Atma”.

Monday, February 16, 2026

Thought for the Day - 16th February 2026 (Monday)



You declare that you have surrendered, but that is just a verbal statement. If you sit in a car, you go along with it; on a cycle, you move with it; on a horse, you go wherever the horse takes you. But, in this case, you say, and perhaps you believe that you have placed yourselves in My hands, and so, you are going along the path I have laid down. But, your mind and your heart are not fully in Me and so, the surrender is only in name. As a sign of this deed of surrender and in order to sustain it, nothing more is enjoined than constant remembrance of the Name. No regimen of exhausting Sadhana (spiritual discipline) is prescribed. Smarana (remembrance) is enough. You have sung Bhajans extolling the Names which summarise the Glory all through the night. But this is only an appetiser. Bhajan must become an unbroken stream of bliss on your tongues and in your hearts; it must confer on you the uninterrupted awareness of Soham — of the Unity of I and He, of ‘This’ with ‘That’. It is called Akhanda Hamsa Japa—uninterrupted repetition of the Hamsa mantra, Soham. It will ensure freedom from anxiety, fear and grief. 


- Divine Discourse, Feb 21, 1974

The state of constant remembrance of God can come only through long practice; it will not be acquired suddenly. So, strive for it steadily. 


Anda menyatakan bahwa anda telah berserah diri, namun itu hanya pernyataan lisan saja. Jika anda duduk di dalam mobil maka anda bergerak bersamanya; jika anda duduk di atas sepeda, anda bergerak dengannya; jika anda duduk di atas kuda, anda pergi kemanapun kuda itu membawamu. Namun dalam hal ini anda berkata dan mungkin percaya bahwa anda telah menaruh diri anda di tangan-Ku, dan sehingga anda bisa berjalan di jalan yang telah Aku tetapkan. Namun, pikiran dan hati anda tidak sepenuhnya ada bersama-Ku, dan sehingga kata berserah diri hanya sebatas sebutan saja. Sebagai tanda dari tindakan berserah diri ini dan upaya dalam menjaganya, tidak ada lagi yang diperintahkan selain senantiasa mengingat nama suci Tuhan. Tidak ada program Sadhana (latihan spiritual) melelahkan yang ditetapkan. Smarana (mengingat) adalah cukup. Anda telah melantunkan Bhajan memuliakan nama suci Tuhan sepanjang malam. Namun ini hanyalah hidangan pembuka saja. Bhajan harus menjadi aliran kebahagiaan yang tiada terputus di lidah dan hatimu; bhajan harus menganugerahkan padamu kesadaran yang tidak terputus pada Soham – kesatuan antara aku dan Tuhan, antara ‘ini’ dengan ‘Itu’. Inilah yang disebut dengan Akhanda Hamsa Japa – pengulangan tanpa henti mantra Hamsa, Soham. Ini akan menjamin kebebasan dari kecemasan, ketakutan dan kesedihan. 


- Divine Discourse, Feb 21, 1974

Keadaan mengingat Tuhan secara terus menerus hanya bisa melalui latihan panjang; hal ini tidak bisa di dapat secara tiba-tiba. Jadi, berusahalah untuk mencapainya dengan tekun dan mantap.

Saturday, February 14, 2026

Thought for the Day - 14th February 2026 (Saturday)



If there is sugar at the bottom of a tumbler filled with water, you can make the whole water sweet by stirring the sugar and dissolving it in the water. Likewise, your heart is a cup. At the bottom, there is Divinity. Take the spoon of buddhi (intellect), stir the heart by the process of sadhana. Then the Divinity in the heart will circulate through the entire body. Then, every action of yours will be sweet, your speech will be sweet, your walking will be sweet, your looks will be sweet, and your thoughts will be sweet. You will be sweet all over. Realise that sweetness is within you. Turn your intellect inwards and stir it with love, then that sweetness will spread. Saint Ramadas proclaimed the same truth when he sang his song calling upon all devotees to share the sweetness of the name of Rama. “Here is the sweet of Rama’s name. Eat it and enjoy the bliss. Do not go after any other silly things sold in the bazaar. This sweet has been made out of the flour of the Vedas, mixed with the milk of the Vedic declarations, and is offered to you by the ancient sages. They made it with the sugar of inward contemplation and the ghee of pure thoughts and removed the taint of falsehood from it.” 


- Divine Discourse, Mar 07, 1997

Self-realisation is the goal. Love is the means. It is through the cultivation of Love that life can find fulfilment.

 

Jika ada gula di dasar gelas yang terisi dengan air, maka anda bisa membuat seluruh air tersebut menjadi manis dengan mengaduk gula itu dan melarutkannya di dalam air. Sama halnya, hati anda adalah sebuah cangkir. Di dasar hati anda, ada kualitas keilahian. Ambillah sendok _buddhi_ (kecerdasan), aduk hati dengan melalui proses _sadhana_. Kemudian kualitas keilahian di dalam hati akan mengalir ke seluruh tubuh. Kemudian, setiap perbuatan yang anda lakukan akan menjadi indah, perkataan anda menjadi indah, langkah anda menjadi indah, pandangan anda menjadi indah dan pemikiran anda juga menjadi indah. Anda akan menjadi keindahan sepenuhnya. Sadarilah keindahan itu ada di dalam diri anda. Arahkan kecerdasan anda ke dalam diri dan aduklah kecerdasan itu dengan kasih, kemudian keindahan itu akan menyebar. Guru suci Ramadas menyatakan kebenaran yang sama ketika beliau melantunkan lagunya yang mengajak semua bhakta untuk berbagi keindahan nama suci Rama. “Inilah keindahan dari nama suci Rama. Nikmatilah dan rasakan kebahagiaan dari nama suci Rama. Jangan mengejar hal-hal yang sepele yang dijual di pasar. Permen ini telah dibuat dari tepung Weda, yang dicampur dengan susu dari pernyataan-pernyataan Weda, dan dipersembahkan kepada anda oleh para guru-guru suci. Mereka membuatnya dengan gula kontemplasi ke dalam diri dan ghee pemikiran yang suci serta menghilangkan noda kepalsuan darinya.” 


- Divine Discourse, Mar 07, 1997

Menyadari Diri sejati adalah tujuan. Kasih adalah sarananya. Melalui peningkatan kasih maka hidup dapat menemukan pemenuhannya yang sejati.

Friday, February 13, 2026

Thought for the Day - 13th February 2026 (Friday)



Man does not mean the body alone. Man also has the mind, the intellect, and the Atma. It is the combination of all these that constitutes true humanness. When the balance among these four constituents is upset, man is plunged into troubles. When man maintains the balance among these four, the nation will prosper. The transformation of man is based on the transformation of his mind. When men are transformed, the nation is transformed. When nations change, the world is transformed. Hence, if the world must be changed, there must be a mental transformation at the individual level. The human mind should be filled with love. The mind is a remarkable entity. When it is filled with wisdom, it makes a man a saint. When it is associated with ignorance, it turns into an agent of death. Hence, it has been declared that the mind is the cause of human bondage or liberation. All changes in education and other spheres must begin with the transformation of the mind.


- Divine Discourse, Feb 13, 1997

The chaos and the confusion, the agony and the agitation that we witness in the country today are nothing but the manifestation of the distorted mind

 

Manusia tidak hanya terkait tubuh fisik saja. Manusia juga memiliki pikiran, kecerdasan dan Atma. Perpaduan dari semuanya ini yang menyusun kemanusiaan yang sejati. Ketika keseimbangan diantara keempat ini mengalami gangguan maka manusia akan mendapatkan masalah. Ketika setiap individu menjaga kesiembangan diantara keempat penyusun ini maka bangsa akan menjadi sejahtera. Perubahan pada manusia didasarkan pada pikirannya. Ketika setiap individu berubah maka bangsa akan berubah. Ketika bangsa berubah maka dunia juga akan berubah. Oleh karena itu, jika dunia harus berubah maka harus ada perubahan batin dalam setiap individu. Pikiran manusia seharusnya diliputi dengan kasih. Pikiran adalah kekuatan vital yang luar biasa. Ketika pikiran diliputi dengan kebijaksanaan, maka pikiran ini akan membuat manusia menjadi seorang yang suci. Namun ketika pikiran diliputi dengan ketidaktahuan maka pikiran berubah menjadi agen kematian. Karena itu, telah dinyatakan bahwa pikiranlah yang menjadi penyebab keterikatan atau pembebasan pada manusia. Semua perubahan dalam pendidikan atau bidang lainnya harus dimulai dengan perubahan dalam pikiran. 


- Divine Discourse, Feb 13, 1997

Kekacauan dan kebingungan,  penderitaan dan kegelisahan yang kita saksikan di negeri kita saat ini, tiada lain adalah wujud dari pikiran yang menyimpang

Wednesday, February 11, 2026

Thought for the Day - 11th February 2026 (Wednesday)



From ancient times and to some extent even today, the Chinese have observed one ritual every morning before beginning their day’s chores. They declare: “Difficulties are our friends. Let us invite them.” They have recognised that without trouble, no good can be realised. They start the day’s work with this thought before them. The Chinese also realise that true happiness comes from the satisfaction of a task well done. In Bharat, too, there is the dictum, Uddharet Atmana-Atmanam (Raise the self by the self). What is it that can raise the self? It is our own good conduct. Our good conduct is not for elevating the country, but for elevating ourselves. A whetstone is used for sharpening a knife, not for making the whetstone smoother. Likewise, in this world, your good conduct improves you, and as a result, the world. There is a proverb current in China: “The most delicious food is that got by hard labour.” What is got by arduous effort is relished with joy. One who enjoys his food without having laboured for it is an idler. In China, everyone works hard to earn his living. This cult of work should activate every human being.


- Divine Discourse, Feb 13, 1997

Make conscience your master. You can then face any difficulties in life and overcome them.


Dari jaman dahulu dan sampai batas tertentu hingga hari ini, masyarakat China telah memiliki satu ritual yang setiap pagi mereka jalankan sebelum memulai pekerjaan mereka. Mereka menyatakan: “Kesulitan-kesulitan yang ada adalah teman kita. Mari kita menyambutnya.” Mereka telah menyadari bahwa tanpa adanya masalah, tidak ada kebaikan yang dapat disadari. Masyarakat China memulai pekerjaan mereka dengan pemikiran yang seperti ini. Mereka juga menyadari bahwa kebahagiaan sejati muncul dari kepuasan karena telah menyelesaikan suatu tugas dengan baik. Di Bharat, juga terdapat pernyataan: “Uddharet Atmana-Atmanam (angkatlah dirimu oleh dirimu sendiri). Apa yang dapat mengangkat diri manusia? Jawabannya adalah perilaku baik kita sendiri. Perilaku baik kita tidak mengangkat bangsa, namun untuk mengangkat diri kita sendiri. Sebuah batu asah digunakan untuk mengasah sebuah pisau, dan bukan untuk batu asah itu menjadi semakin halus. Sama halnya, dalam dunia ini, perilaku baikmu akan meningkatkan dirimu, dan sebagai hasilnya dunia ikut mengalami peningkatan. Ada sebuah pepatah dalam China: “Makanan yang paling lezat dapat diperoleh dengan kerja keras.” Apa yang diperoleh dengan usaha yang berat akan dinikmati dengan suka cita. Seseorang yang menikmati makanannya tanpa bekerja keras adalah seorang pemalas. Di China, setiap orang bekerja keras untuk mendapatkan nafkah. Semangat kerja inilah yang seharusnya membangkitkan dan menggerakkan setiap manusia.


- Divine Discourse, Feb 13, 1997

Jadikanlah suara hatimu sebagai pemimpin. Sehingga anda mampu menghadapi berbagai kesulitan dalam hidup dan mengatasinya.

Tuesday, February 10, 2026

Thought for the Day - 10th February 2026 (Tuesday)



Satsang is much more beneficial than doing penance, going on pilgrimages or doing meditation. What is the real meaning of Satsang? People think that Satsang denotes the company of good people and listening to their teachings. But this is not the true meaning of Satsang. Sat means Truth that has no change in the past, present or future. Trikalabadhyam Satyam (Truth is that which remains unchanged in the three periods of time – past, present and future). It cannot be obliterated or hidden by history. That Truth is Divinity. Living in the awareness of Divinity is Satsang. Sat is also denoted by Tat, which connotes Divinity. So, Satsang means living in Divinity that is changeless, attributeless, formless, immortal, infinite, ever united, and unique as one only. To live always in divine consciousness is the real purport of Satsang.


- Divine Discourse, Apr 17, 1993

Converse with God who is in you; derive courage and consolation from Him. He is the Guru most interested in your progress. 


Satsang adalah jauh lebih bermanfaat daripada melakukan olah tapa, mengunjungi tempat-tempat suci atau melakukan meditasi. Apa yang menjadi makna sejati dari Satsang? Banyak orang berpikir bahwa Satsang berarti berada di tengah-tengah orang-orang yang baik dan mendengarkan ajaran mereka. Namun ini bukanlah arti sejati dari Satsang. Sat berarti Kebenaran yang tidak mengalami perubahan di masa lalu, hari ini atau di masa depan. Trikalabadhyam Satyam (Kebenaran adalah yang tetap sama dalam tiga periode waktu yaitu masa lalu, masa kini dan masa depan). Kebenaran tidak bisa dihapus atau disembunyikan oleh sejarah. Kebenaran itu adalah Tuhan. Hidup dalam kesadaran Tuhan adalah arti sejati dari Satsang. Sat juga berarti Tat, yang memiliki makna keilahian. Jadi, Satsang berarti hidup dalam keilahian yang bersifat kekal, tanpa karakterisstik, tanpa wujud, abadi, tanpa batas, selamanya satu, dan tunggal. Untuk bisa selalu hidup dalam kesadaran Tuhan adalah tujuan sejati dari Satsang.


- Divine Discourse, Apr 17, 1993

Berbicaralah dengan Tuhan yang bersemayam di dalam dirimu; dapatkan keberanian dan penghiburan dari-Nya. Tuhan adalah Guru yang paling peduli terhadap kemajuanmu.

Monday, February 9, 2026

Thought for the Day - 9th February 2026 (Monday)



Don’t criticise or condemn others. If you deceive your friends, they, in turn, will cheat you. If you disobey your parents, your children will pay you back in the same coin. If you hurt others, they will hurt you in retaliation. Reaction, resound and reflection are inherent in man’s mind. Hence, you should discerningly follow the maxim: “Hurt never; help ever”. There are some sinful persons who cavil not only at other men but even against God. This seems to be their very nature, although God never harms anyone at any time. In this context, the lowest category of people is those who take sadistic pleasure in hurting other people without any provocation whatsoever. They may be compared to the moths, whose nature is to damage all clothes indiscriminately, whether it is a valuable saree costing one thousand rupees, or whether it is a worthless, soiled rag in the kitchen. This highly despicable tendency on the part of some persons to harm others is traceable to their bad thoughts. We try to dispel foul odours from our living rooms and toilets by using substances like air-fresheners, incense sticks, and other deodorants. Similarly, we should try to counteract our bad thoughts with good ones.


- Divine Discourse, May 24, 1990

Good thoughts will eventually lead us to the fulfilment of our lives, while bad thoughts will degrade us to the level of beasts. 


Jangan mengkritik atau mencela orang lain. Jika anda menipu temanmu, maka merekapun juga akan menipumu. Jika anda melawan orang tuamu, maka anak-anakmu nantinya akan memperlakukanmu dengan cara yang sama. Jika anda menyakiti yang lainnya, mereka akan membalas dengan menyakitimu. Reaksi, gema dan pantulan adalah hukum yang melekat dalam pikiran manusia. Oleh karena itu, anda dengan penuh kebijaksanaan untuk mengikuti prinsip ini: “Jangan pernah menyakiti; selalu membantu”. Ada beberapa orang penuh dosa yang gemar mencari-cari kesalahan, tidak hanya pada orang lain namun bahkan pada Tuhan. Hal ini seolah-olah menjadi sifat alami mereka, walaupun Tuhan tidak pernah menyakiti siapapun dan kapanpun juga. Dalam hal ini, kategori manusia yang paling rendah adalah mereka yang menikmati kekejaman dalam menyakiti orang lain tanpa alasan apapun. Mereka ini dapat diibaratkan seperti ngengat yang sifat alaminya adalah merusak semua pakaian tanpa membedakan, apakah pakaian ini adalah pakaian yang sangat mahal maupun kain lusuh yang ada di dapur. Kecendrungan yang sangat tercela ini yang ada pada beberapa orang untuk menyakiti orang lain adalah bersumber dari pemikiran buruk yang ada dalam diri mereka. Kita berusaha untuk menghilangkan bau-bau tidak sedap di ruang tamu dan kamar mandi dengan menggunakan pengharum ruangan, dupa dan pewangi lainnya. Sama halnya, kita berusaha untuk melawan pemikiran buruk kita dengan pemikiran yang baik dan luhur. 


- Divine Discourse, 24 Mei 1990

Pemikiran yang luhur pada akhirnya akan menuntun kita pada pemenuhan hidup, sedangkan pemikiran buruk akan menjatuhkan kita pada tingkat binatang.

Sunday, February 8, 2026

Thought for the Day - 8th February 2026 (Sunday)



With determination, man can touch the sky and conquer the world. But today, man is losing this strength. What is the reason for this? He is losing his mastery over the senses. The more sensual he is, the lesser the lifespan. Today’s man is losing his physical strength and consequently destroying his inner strength completely. To remain immortal and retain youth, the power of the senses should be developed by controlling them. There should be no body-attachment. If on one hand, man loses control over the senses and on the other, he develops body-attachment, what then will be his plight? These two can be compared to two holes in a pot filled with water. Water filled in such a pot gets drained. Similarly, the pot of our heart is filled with the nectarous grace of God. Man has to foster his heart. But without forbearance and sympathy, he has drilled holes into it. Consequently, his lifespan has decreased. In this limited life span, what good deeds can he do? How can he work for the welfare of society? God-given strength should be utilised properly by Satsangam (Good Company), Satpravartana (Good conduct) and by Seva (Service). Only then can your strength improve.


- Divine Discourse, Oct 02, 2000

Man’s life, though sacred, virtuous, beautiful, and praiseworthy, is short. In this limited life span, man has to engage himself in good actions.

 

Dengan keteguhan hati, manusia dapat menyentuh langit serta menaklukkan dunia. Namun hari ini, manusia sedang kehilangan kekuatannya. Apa alasan penyebab dari keadaan ini? Jawabannya adalah karena manusia kehilangan kemampuan untuk menguasai indranya. Semakin besar manusia mengikuti hawa nafsunya maka semakin pendek masa hidupnya. Hari ini manusia kehilangan kekuatan fisiknya dan akibatnya juga menghancurkan kekuatan batinnya sepenuhnya. Agar bisa tetap abadi dan awet muda, kekuatan indra harus dikembangkan dengan mengendalikannya. Seharusnya tidak ada keterikatan pada tubuh. Jika pada satu sisi manusia kehilangan kendali pada indranya dan pada sisi lainnya mengembangkan keterikatan pada tubuh, maka apa yang akan menjadi penderitannya? Kedua bagian tadi dapat diibaratkan seperti bejana yang berisi air dengan memiliki dua lubang. Air yang ada dalam bejana akan terus mengalir keluar. Sama halnya, bejana dari hati kita terisi dengan anugerah Tuhan yang manis seperti nektar. Manusia harus memelihara hatinya. Namun karena manusia kehilangan ketabahan dan simpati, ia justru membuat lubang pada hatinya. Sebagai akibatnya, masa hidupnya menjadi menyusut dan berkurang. Dalam masa hidup yang terbatas ini, apa perbuatan baik yang dapat ia lakukan? Bagaimana ia dapat bekerja untuk kesejahtraan masyarakat? Kekuatan yang diberikan Tuhan harus digunakan dengan sebaik-baiknya dengan Satsangam (pergaulan suci), Satpravartana (perilaku luhur) dan dengan Seva (pelayanan). Hanya dengan demikian kekuatan anda meningkat.


- Divine Discourse, Oct 02, 2000

Hidup manusia, meskipun suci, luhur, indah dan patut dimuliakan, sesungguhnya sangat singkat. Dalam masa hidup yang terbatas ini, manusia harus menyibukkan dirinya dalam perbuatan yang luhur.

Saturday, February 7, 2026

Thought for the Day - 7th February 2026 (Saturday)



To be good, to do good and to see good is the primary duty of every human being! The wealth we may earn, the prosperity we may acquire, and the mansions we may build are all transient and temporary. Our conduct is the most important thing in our life. Our conduct is the one which lays the foundation for our future life. It is only when we can shape our present conduct along a proper path that our future can hopefully be peaceful and happy. In this context, take a small incident from the Ramayana as an example. Sita, wanting to be close to Rama, was willing to sacrifice all her ornaments, her wealth and every one of her possessions. Because of this supreme sacrifice, it was possible for her to go close to Rama. But in the forest at Panchavati, the moment Sita developed an attraction to the golden deer, Rama became distant from her. If our worldly desires and worldly attachments become stronger, we move further away from God. If we cut out the worldly desires, we get closer and closer to Paramatma!


- Divine Discourse, May 19, 1977

If you wish to become eligible for God’s Love, then your actions must be consistent with Love. 


Menjadi baik, berbuat baik, dan melihat kebaikan adalah kewajiban utama setiap manusia! Kekayaan yang kita hasilkan, kesejahtraan yang kita daoatkan, dan rumah besar yang kita bangun semuanya ini bersifat sementara dan tidak kekal. Perilaku kita adalah hal yang paling penting di dalam hidup kita. Perilaku kita inilah yang meletakkan dasar bagi masa depan hidup kita. Hanya ketika kita bisa membentuk perilaku saat ini di atas jalan yang benar maka masa depan kita dapat diharapkan menjadi damai dan bahagia. Dalam konteks ini, ambillah sebagai sebuah contoh peristiwa kecil dari kisah Ramayana.  Sita sangat ingin dekat dengan Rama dan rela mengorbankan seluruh perhiasannya, kekayaannya dan semua harta bendanya. Karena pengorbanan yang begitu besar inilah maka memungkinkan bagi Sita untuk dekat dengan Rama. Namun saat Sita berada di hutan Panchavati, dimana Sita mengembangkan ketertarikan pada kijang emas, Rama menjadi jauh darinya. Jika keterikatan kita menjadi semakin kuat, kita bergerak menjauh dari Tuhan. Jika kita memotong keinginan duniawi kita, maka kita semakin dekat dan semakin dekat pada Paramatma!


- Divine Discourse, May 19, 1977

Jika anda berharap untuk menjadi menerima kasih Tuhan, maka tindakan anda harus selaras dan sejalan dengan kasih.

Friday, February 6, 2026

Thought for the Day - 6th February 2026 (Friday)



In the Kali Age, man has acquired great fame, riches and comforts, but he lacks peace and a sense of security. The reason for this sorrow is the lack of patience and sympathy (sahana and sahanubhuti) amongst the members of the family living in a house. Why does man lack these two qualities? The rise in selfishness and the use of intelligence for one’s own self-interests has brought about this decline. Man has become selfish, and he no longer thinks of contributing to others’ happiness. Patience and sympathy are like the life force for a man, akin to inhalation and exhalation. A man without these can be considered lifeless. Having acquired a number of degrees and having amassed wealth, what has man really achieved? What every man in a family should aspire to achieve are the two virtues of patience and sympathy.  Today, they build a house with four walls and call it a home. However, it was not so in the olden days. Five to six families lived together in a small hut peacefully, and it became a home. There is a lot of difference between a house and a home. When there is sahana and sahanubhuti among members of the family, it is home. Because of the absence of these, the bhavanam (house) has become vanam (forest). 


- Divine Discourse, Oct 02, 2000

The home is the temple where the family, each member of which is a moving temple, is nurtured and nourished. 


Di jaman kali ini, manusia telah mencapai ketenaran, kekayaan dan kenyamanan yang sangat besar, namun manusia kurang merasakan kedamaian dan rasa aman. Alasan dari penderitaan ini adalah kurangnya kesabaran dan simpati (sahana dan sahanubhuti) diantara anggota keluarga di dalam satu rumah. Mengapa manusia kurang memiliki kedua kualitas ini? Hal ini disebabkan karena meningkatnya sifat mementingkan diri sendiri dan penggunaan kecerdasan untuk kepentingan diri sendiri yang menyebabkan kemerosotan ini. Manusia telah menjadi mementingkan diri sendiri, dan manusia tidak lagi memikirkan bagaimana membahagiakan orang lain. Kesabaran dan simpati adalah seperti kekuatan hidup bagi manusia, seperti halnya tarikan dan hembusan nafas. Seseorang yang tidak memiliki kedua kualitas ini dapat dianggap sebagai manusia yang tidak bernyawa. Setelah mendapatkan berbagai gelar pendidikan dan mengumpulkan kekayaan, apa sebenarnya yang telah dicapai manusia? Yang harus diupayakan untuk dicapai oleh setiap anggota keluarga adalah menumbuhkan dua nilai kebajikan ini yaitu kesabaran dan simpati. Pada hari ini, manusia membangun rumah dengan empat dinding dan menyebutnya dengan tempat tinggal. Namun, pada jaman dahulu tidaklah seperti itu. Lima atau enam keluarga hidup bersama dengan damai dalam sebuah gubuk kecil, dan itu benar-benar menjadi sebuah tempat tinggal. Ada banyak perbedaan diantara rumah dan tempat tinggal. Ketika ada sahana dan sahanubhuti diantara anggota keluarga, maka itu adalah tempat tinggal. Karena tidak adanya kedua nilai kebajikan ini, bhavanam (rumah) telah berubah menjadi vanam (hutan). 


- Divine Discourse, Oct 02, 2000

Tempat tinggal adalah ruang sakral bagi keluarga, dimana setiap anggota keluarga adalah tempat suci yang bergerak yang dipelihara dan dirawat.

Thursday, February 5, 2026

Thought for the Day - 5th February 2026 (Thursday)



In all aspects, Rama translated every moment of his life to be an example of ideal behaviour. By showing equal affection to all, Rama attracted all the people. In His childhood, Rama spoke very little. He was conducting Himself in that manner in order to show the world the ideal that is contained in limited speech. Limited talking will always promote the divine strength in one and will also promote one’s memory. It creates respect for one in the community. If one talks too much, it will, to an extent, destroy one’s memory. Not only this, if one talks too much, the strength in the nerves will diminish and the person will become somewhat feeble. It is for this reason that all great saints were observing the path of silence whenever possible. By observing silence, one can get strength. Because the youth of today talk too much, it so happens that their memory becomes weak, and when they go to the examination hall, they forget what they have read. Amongst the many ideals which Rama has given to the young people, the first one is to talk less. 


- Divine Discourse, May 19, 1977

In the depth of silence, the divine voice can be heard! 


Dalam semua aspek kehidupan-Nya, Rama menerjemahkan setiap saat dari hidup-Nya menjadi sebuah teladan tingkah laku yang ideal. Dengan menunjukkan kasih sayang yang sama kepada semua orang, Rama menarik hati seluruh masyarakat. Pada masa kanak-kanak-Nya, Rama berbicara sangat sedikit. Cara hidup ini dijalani-Nya untuk menunjukkan kepada dunia betapa mulianya nilai yang terkandung dalam berbicara secukupnya. Berbicara secara terbatas akan selalu menumbuhkan kekuatan Ilahi di dalam diri seseorang dan juga memperkuat daya ingat. Sikap ini menumbuhkan rasa hormat dari lingkungan sekitar. Sebaliknya, berbicara terlalu banyak, sampai batas tertentu, dapat melemahkan daya ingat. Tidak hanya itu, terlalu banyak berbicara juga menguras kekuatan saraf sehingga seseorang menjadi lemah. Inilah sebabnya mengapa para resi dan orang suci yang hebat selalu menempuh jalan keheningan kapanpun memungkinkan. Dengan mempraktikkan keheningan, seseorang memperoleh kekuatan batin. Karena kaum muda masa kini terlalu banyak berbicara, daya ingat mereka menjadi lemah, dan ketika memasuki ruang ujian, mereka melupakan apa yang telah dipelajari. Di antara sekian banyak teladan yang diberikan Rama kepada kaum muda, yang pertama dan utama adalah sedikit berbicara. 


- Divine Discourse, May 19, 1977

Dalam kedalaman keheningan, suara Tuhan dapat di dengar!

Wednesday, February 4, 2026

Thought for the Day - 4th February 2026 (Wednesday)



Whether at home, or out in the street, or while travelling in a train, bus or plane, people are haunted by fear. The root cause for this ubiquitous fear is the absence of pure and sacred thoughts in the minds of people. The whole world appears like a maze filled with fear at every turn. The tragedy of Abhimanyu - son of Arjuna and hero of the Kurukshetra war, was that he knew how to enter the maze called Padma-vyuham, but he did not know how to get out of it. Likewise, you know how to enter the maze of worldly pleasures, but do not know how to get out of it. You will know the way out only when you submit your thoughts to the scrutiny of buddhi - the intellect. In the Kathopanishad, the body is compared to a chariot, the senses to horses, the mind to the reins, and the intellect to the charioteer. This means that the mind is in between the senses and the intellect. If the mind follows the dictates of the intellect, it will be safe. On the contrary, if it follows the whims and fancies of the senses, it will become a bond slave of the senses and a victim of endless sorrow and suffering. 


- Divine Discourse, May 24, 1990

The intellect must use its discriminative abilities and wean the mind away from bad thoughts. Otherwise, we are bound to grope in the darkness of ignorance. 


Baik di dalam rumah, atau di jalan, atau sedang dalam perjalanan di dalam kereta api, bus atau pesawat terbang, manusia dihantui dengan rasa takut. Akar penyebab dari ketakutan yang merajalela adalah karena tidak adanya pemikiran yang murni dan suci dalam pikiran manusia. Seluruh dunia tampak seperti labirin yang diliputi dengan rasa takut pada setiap sudutnya. Tragedi yang terjadi pada Abhimanyu – putra dari Arjuna dan pahlawan dalam perang Kurukshetra, dimana ia mengetahui cara memasuki labirin yang disebut dengan Padma-vyuham, namun ia tidak mengetahui cara keluar dari labirin tersebut. Sama halnya, anda mengetahui memasuki labirin kenikmatan duniawi, namun tidak mengetahui bagaimana cara keluar darinya. Anda akan mengetahui cara keluar hanya ketika anda menyerahkan pemikiran anda pada pemeriksaan mendalam dari buddhi - kecerdasan. Dalam naskah suci Kathopanishad, tubuh fisik diumpamakan sebagai sebuah kereta kuda, sedangkan indra adalah kuda-kudanya, pikiran adalah tali kekangnya, dan kecerdasan adalah kusirnya. Hal ini berarti bahwa pikiran ada diantara indra dan kecerdasan. Jika pikiran mengikuti arahan dari kecerdasan maka pikiran akan selamat dan aman. Sebaliknya, jika pikiran mengikuti keinginan dan dorongan dari indra, maka pikiran akan menjadi budak indra serta menjadi korban dari penderitaan serta kesedihan yang tiada akhir. 


- Divine Discourse, May 24, 1990

Kecerdasan harus menggunakan kemampuan memilahnya untuk menjauhkan pikiran dari pemikiran yang buruk. Jika tidak, kita akan terus meraba-raba dalam kegelapan ketidaktahuan.

Tuesday, February 3, 2026

Thought for the Day - 3rd February 2026 (Tuesday)



In a dream, you see and experience many things, but everything disappears when you are awake. All this is a night dream. Similarly, during the day, you see everybody and everything, and have so many experiences. But all this becomes invisible when you go to sleep. This is a day dream. You are present both in the night dream as well as in the day dream. There is no existence of day dream in night dream and night dream in day dream. But you are present in both states. Hence, you are omnipresent. Therefore, consider yourself as the fundamental divine entity. You are God; God is not different from you. Your inner voice also teaches you this truth through the sound of Soham, Soham, Soham (That, I am). Your inner voice keeps reminding you of your divine reality but you are not paying attention to it! You follow what others tell you, but do not believe yourself. In whom else can you have faith when you don’t have faith in yourself? Therefore, first develop self-confidence. Then you will have self-satisfaction, which will lead you to the path of self-sacrifice and ultimately to self-realisation. First and foremost, have faith in yourself. God is present within you only. 


- Divine Discourse, Jun 24, 1996

It is the mind that is responsible for man to live like a man, to rise to the divine level or to degenerate to the level of an animal. 


Dalam keadaan mimpi, anda bisa melihat dan mengalami banyak hal, namun segala sesuatunya lenyap ketika anda terjaga. Semuanya ini adalah mimpi di malam hari. Sama halnya, pada siang hari anda dapat melihat setiap orang dan segala sesuatu, dan anda telah mengalami berbagai pengalaman. Namun semuanya ini pun menjadi tidak tampak pada saat anda tertidur. Ini adalah mimpi di siang hari. Anda hadir pada keadaan mimpi keduanya baik mimpi di malam hari dan mimpi di siang hari. Mimpi siang hari tidak ada dalam mimpi malam hari dan mimpi di malam hari tidak ada dalam mimpi siang hari. Namun anda yang hadir dalam dua keadaan mimpi tersebut. Oleh karena itu, anda adalah bersifat hadir dimana-mana. Maka dari itu, renungkan diri anda sendiri sebagai hakikat Tuhan yang mendasar. Anda adalah Tuhan; Tuhan tidak berbeda dari diri anda. Suara Nurani dalam diri anda juga mengajarkan kebenaran ini dalam suara Soham, Soham, Soham (Tuhan adalah aku). Suara Nurani anda terus menerus mengingatkan hakikat keilahian diri anda namun anda tidak memberikan perhatian pada suara itu! Anda mengikuti apa yang orang lain katakan, namun tidak mempercayai diri anda sendiri. Kepada siapa lagi anda dapat menaruh kepercayaan ketika anda tidak memiliki kepercayaan pada diri anda sendiri? Maka dari itu, pertama-tama kembangkan rasa kepercayaan diri. Kemudian anda akan memiliki kepuasan diri, yang akan menuntun anda pada jalan pengorbanan diri dan pada akhirnya pada kesadaran diri. Pertama dan terpenting, milikilah keyakinan pada diri anda sendiri. Tuhan hanya ada di dalam diri anda. 


- Divine Discourse, Jun 24, 1996

Adalah pikiran yang menentukan apakah manusia hidup sebagai manusia sejati, untuk bangkit menuju tingkat Tuhan atau justru merosot pada tingkat binatang.

Monday, February 2, 2026

Thought for the Day - 2nd February 2026 (Monday)



Sometimes, by just seizing a chance, you can elevate yourself steadily. Someone comes to Me to get his stomachache cured. Then he likes this place, its atmosphere, its omkara, its bhajan, and its prashanti (supreme peace); he sees Me and observes My movements, words, and actions. He takes home a picture or a Bhajan book, and before long, he forgets the ache, which brought him hither and cultivates a new ache - for prashanti, for darshan, sparshan, and sambhashan (divine vision, touch and conversation), for japam, dhyanam, and sakshatkaram (recitation, meditation and realisation). Of course, I never deviate from the truth. Since I recline on truth, I am called Sathya Sai; Shayi means reclining. The name is very appropriate, let Me assure you. It is only those who fail to follow My instructions and who deviate from the path I have laid down that fail to get what I hold out before them. Follow My instructions and become soldiers in My army; I will lead you on to victory. 


- Divine Discourse, Nov 21, 1962

Once I say that you are Mine, I will never forsake you. You may forget Me, but I will never forget you.

 

Kadang-kadang, hanya dengan memanfaatkan kesempatan, anda dapat mengangkat diri anda secara bertahap. Seseorang datang kepada-Ku untuk menyembuhkan sakit perutnya. Kemudian ia menyukai tempat ini, suasana yang ada, pelantunan Omkara dan bhajan serta kedamaian tertinggi (prashanti); ia melihat-Ku dan mengamati kegiatan, perkataan dan tindakan-Ku. Ia membawa pulang sebuah gambar atau buku bhajan, dan tidak lama kemudian ia melupakan sakit yang membawanya datang kesini lalu menumbuhkan kerinduan yang baru – kerinduan untuk prashanti, darshan, sparshan, dan sambhashan (pandangan, sentuhan dan percakapan ialhi), kerinduan untuk japam, dhyanam, dan sakshatkaram (pelantunan, meditasi dan penyadaran). Tentu saja, Swami tidak pernah menyimpang dari kebenaran. Karena Swami berlandaskan dan bersandarkan pada kebenaran, Swami dipanggil dengan nama Sathya Sai; Shayi berarti bersandar. Nama itu sungguh tepat, biarkanlah Swami meyakinkanmu. Hanya mereka yang tidak mampu mengikuti perintah Swami dan yang menyimpang dari jalan yang Swami telah tetapkanlah yang tidak mendapatkan apa yang Swami janjikan. Ikutilah perintah Swami dan jadilah prajurit dalam pasukan Swami; Swami akan menuntunmu pada kemenangan. 


- Divine Discourse, Nov 21, 1962

Sekali Swami mengatakan bahwa dirimu adalah milik Swami, maka Swami tidak akan pernah meninggalkanmu. Anda bisa melupakan Swami, namun Swami tidak pernah melupakanmu.

Sunday, February 1, 2026

Thought for the Day - 1st February 2026 (Sunday)



The Veda has declared: “Whatever is perceived is liable to perish.” Man sees with his physical eyes all objects in the world, moving and non-moving. All these will disappear in due course in the stream of Time. Neither the eye that sees, nor the object that is seen, is permanent. All beings in creation are endowed with eyes. What is the special significance of the eyes possessed by man? What is the unique significance of human existence? Having been born as a human being, it will be unfortunate if man is content with the physical vision. Man must acquire Jnana-netram (the eye of Wisdom). Without it, of what avail is one’s education? What is the use of one’s intelligence or one’s mental powers? What is a man worth if he is unable to recognise the divinity within him? Man is the crown of creation. That is why the scriptures have praised the noble virtues that man is capable of manifesting. Hence, as a human being, one must strive to acquire the eye of wisdom. The physical eyes are inept. You cannot see your own eyes. These imperfect eyes, how can they see the highly subtle mind? The eyes which are unable to see the mind, how can they see the Atma (the Indwelling Spirit)? 


- Divine Discourse, Apr 04, 1992

Engage yourself in Sadhana that will secure the Grace of God; through that Grace, the Eye of Wisdom will be granted. 



Naskah suci Weda telah menyatakan: “Segala sesuatu yang dapat dilihat pasti akan musnah.” Manusia melihat dengan mata fisiknya semua objek di dunia, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak. Semua objek dunia ini akan lenyap dalam arus waktu. Baik mata yang melihat objek, maupun objek yang dilihat oleh mata, bukanlah sesuatu yang bersifat permanen. Semua makhluk dalam ciptaan ini diberkahi dengan mata. Apa makna khusus dari mata yang dimiliki oleh manusia? Apa makna yang unik dari keberadaan manusia? Setelah lahir sebagai manusia, sangat sungguh disayangkan jika manusia hanya puas dengan penglihatan fisik saja. Manusia harus mencapai Jnana-netram (mata kebijaksanaan). Tanpa mata kebijaksanaan ini, apa arti dari pendidikan yang seseorang miliki? Apa gunanya kecerdasan atau kekuatan mental seseorang? Apa nilai seorang manusia jika ia tidak mampu untuk menyadari kualitas Tuhan dalam dirinya? Manusia adalah puncak dari ciptaan. Itulah sebabnya mengapa naskah suci telah memuliakan sifat-sifat luhur yang manusia mampu wujudkan. Oleh karena itu, sebagai seorang manusia maka ia harus berusaha untuk mencapai penglihatan kebijaksanaan. Mata fisik memiliki keterbatasan. Anda tidak bisa melihat mata anda sendiri. Dengan kedua mata yang tidak sempurna ini, bagaimana bisa melihat pikiran yang begitu halus? Jika mata yang tidak bisa melihat pikiran, lantas bagaimana kedua mata ini bisa melihat Atma (jiwa yang bersemayam di dalam diri)? 


- Divine Discourse, Apr 04, 1992

Jalankan sadhana yang dapat mendatangkan karunia Tuhan; dengan karunia Tuhan itu, penglihatan kebijaksanaan akan dianugerahkan.

Saturday, January 31, 2026

Thought for the Day - 31st January 2026 (Saturday)

 


Embodiments of Love! Every individual who wants to progress in the field of spirituality should develop three virtues – purity, patience and perseverance. He is a blessed person who develops these three virtues, also called the three P’s. Man without character, education without a goal and human race without morality are worthless. The life of an individual bereft of peace is no better than a night without the moon. Listen! Oh valiant sons of Bharat! (Telugu Poem) In fact, a true human being is endowed with these threefold virtues. One who loses these virtues loses humanness. Since man today lacks these three virtues, he is more like an animal than a human being. He has only the form of a human but not the demeanour. Virtues are the life principle of man. Without virtues, he is lifeless. If you want to know the true meaning of humanness, you should first develop human values. Development of human values is, therefore, a must for all. 


- Divine Discourse, Jun 24, 1996

If we want to achieve success in the path of Spirituality, we have to follow the formulae of purity, patience, and perseverance.


Perwujudan kasih! Setiap individu yang ingin melangkah maju dalam bidang spiritual harus mengembangkan tiga kualitas luhur yaitu : kesucian, kesabaran dan kegigihan. Seseorang yang mengembangkan ketiga kualitas luhur ini adalah orang yang diberkahi. Manusia tanpa adanya karakter, pendidikan tanpa adanya tujuan dan umat manusia tanpa moralitas adalah sesuatu yang tidak bernilai. Hidup seseorang tanpa adanya kedamaian adalah tidak lebih baik daripada malam tanpa cahaya bulan. Dengarkan! Oh putra-putra Bharat yang gagah berani! (puisi Telugu) sejatinya, seorang manusia sejati dikaruniai dengan tiga kualitas luhur ini. Seseorang yang kehilangan ketiga kualitas luhur ini maka kehilangan kemanusiaannya. Karena manusia pada saat sekarang kurang memiliki ketiga kualitas luhur ini, maka ia lebih mirip binatang daripada manusia. Ia hanya memiliki wujud manusia namun tidak memiliki tingkah laku dan sikap manusia sejati. Kebajikan adalah prinsip hidup manusia. Tanpa adanya kebajikan, manusia adalah hidup tanpa nyawa. Jika anda ingin mengetahui makna sejati dari kemanusiaan, maka anda harus mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan. Mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan adalah keharusan bagi semuanya. 


- Divine Discourse, Jun 24, 1996

Jika kita ingin mencapai keberhasilan di jalan spiritual, kita harus mengikuti rumus kemurnian, kesabaran dan kegigihan.

Friday, January 30, 2026

Thought for the Day - 30th January 2026 (Friday)



When japam (repetition of a holy name) is systematically started by you, fixing your inner eye on the form which illustrates the name, you will meet with many obstacles, disquieting thoughts, and enticements. They should be ignored, bypassed, and treated lightly. Strengthen your habits, stick to your discipline, improve your inner administration; mix more in the company of the good and the godly. Some people condemn the six passions as dire enemies and advise you to eject them outright. But I would advise you to keep them with you as docile servants, useful for your purposes. Dislike those who slight the name of the Lord and tell you that it is a hollow, meaningless sound; dislike them so much that you avoid them forever! Attachment can be used to fix your heart on the Lord; be fascinated by the overwhelming beauty of His form, reflected in all the loveliness of nature. Kama (desire) is not a vice, for it is given the status of one of the goals of human endeavour (Purushartha). Develop desire, but not for the material, the momentary. Desire for the deathless, the indestructible - the desire for the steady development of faith in the shastras (holy scriptures), as a means to this. 


- Divine Discourse, Nov 21, 1962

The divine name saves and liberates! It is the armour against the onslaughts of pride and self-pity! 


Ketika anda mulai melakukan japam (pengulangan nama suci Tuhan) secara teratur, dengan memusatkan mata batin pada wujud yang melambangkan nama suci tersebut, anda akan mendapatkan banyak halangan, pikiran-pikiran yang mengganggu, kegelisahan dan godaan. Semuanya itu harus diabaikan, dilewati saja dan diperlakukan tidak penting. Perkuatlah kebiasaanmu, teguhlah dalam disiplinmu, tingkatkan pengelolaan batinmu; perbanyak bergaul dengan mereka yang baik. Beberapa orang menganggap enam nafsu sebagai musuh besar dan memperingatkanmu untuk disingkirkan sepenuhnya. Namun Aku ingin menasehatimu untuk mempertahankan enam nafsu itu sebagai pelayan yang jinak dan patuh, yang dapat digunakan untuk tujuanmu yang benar. Jauhi mereka yang meremehkan nama suci Tuhan dan mengatakan padamu bahwa nama suci Tuhan bersifat kosong tanpa makna; jauhi mereka sedemikian rupa sehingga anda tidak lagi bergaul dengan mereka selamanya! Keterikatan dapat digunakan untuk mengikatkan hatimu pada Tuhan; biarkan dirimu menjadi terpikat oleh keindahan wujud-Nya yang agung, yang terpantul dalam semua keindahan alam. Kama (keinginan) bukanlah keburukan, karena keinginan merupakan salah satu tujuan hidup manusia (Purushartha). Kembangkan keinginan, namun bukan keinginan pada hal-hal duniawi yang bersifat fana dan sementara. Miliki keinginan untuk yang bersifat kekal dan abadi – yaitu keinginan untuk menumbuhkan dan memantapkan keyakinan pada naskah suci (shastras), sebagai sarana untuk mencapainya. 


- Divine Discourse, Nov 21, 1962

Nama suci Tuhan menyelamatkan dan membebaskan! Nama suci Tuhan adalah perisai pelindung terhadap serangan gencar dari kesombongan dan mengasihani diri sendiri!

Thursday, January 29, 2026

Thought for the Day - 29th January 2026 (Thursday)



Oblivious to Jnana (higher knowledge), man lives in ignorance in a dream world of illusions. Immersed in this sleeping state, he forgets his nature. One may be a president, an emperor or a prime minister, but in the sleeping state, he is not conscious of his position. In the dreams he experiences in this state, he considers them to be real and feels that these are his true state. In that dream state, a poor man may think he is an emperor (or a President). But the moment he wakes up, he is conscious of his real position and status. Likewise, man in his dream state of ajnana (ignorance), forgetting his true form of Satchitananda, identifies himself with a country, a profession or a physical form. It is this ignorance that envelops man in delusion. Just as one cannot see the rice when it is covered by husk, or see the water underneath a layer of moss, or the sun covered by a cloud, a man enveloped in ignorance is unable to see his true self. Hence, it is that the Upanishads have exhorted man to wake up from his sleep of ignorance and realise his true nature. When the husk is removed, the rice is visible. It was there in the paddy. But because of the husk covering it, it could not be seen. 


- Divine Discourse, Apr 04, 1992

The enquiry which begins with Koham (Who am I) should end with Soham (I am Divine). Only then human life has real significance and fulfilment. 


Karena tidak menyadari Jnana (pengetahuan yang lebih tinggi), manusia hidup dalam ketidaktahuan dalam sebuah dunia mimpi khayalan. Tenggelam dalam keadaan tidur ini, manusia lupa pada hakikat dirinya yang sejati. Seseorang mungkin adalah seorang presiden, atau seorang kaisar atau seorang perdana mentri, namun dalam keadaan tidur, ia tidak sadar pada kedudukan dan jabatannnya. Dalam dunia mimpi yang dialaminya, manusia menganggap bahwa keadaan di dalam mimpi adalah nyata dan merasakan bahwa itu adalah dirinya yang sebenarnya. Dalam dunia mimpi, seorang yang miskin bisa berpikir bahwa ia adalah seorang kaisar atau seorang presiden. Namun pada saat ia terbangun, ia menyadari keadaan dan posisinya yang sebenarnya. Sama halnya, manusia dalam keadaan mimpi ajnana (ketidaktahuan), ia melupakan wujudnya yang sejati yaitu Satchitananda, mengidentifikan dirinya dengan sebuah bangsa, sebuah profesi atau sebuah bentuk fisik. Ketidaktahuan inilah yang menyelubungi manusia dalam khayalan. Seperti halnya seseorang tidak bisa melihat beras ketika ditutupi oleh sekam, atau melihat air karena tertutup oleh lumut, atau matahari yang tertutup oleh awan, manusia tertutupi oleh ketidaktahuan sehingga tidak mampu untuk melihat hakikat dirinya yang sejati. Oleh karena itu, dalam Upanishad telah menyerukan manusia agar terbangun dari tidurnya dan menyadari hakikat dirinya yang sejati. Ketika sekam disingkirkan maka beras akan dapat dilihat. Sesungguhnya bulir beras sudah itu ada dalam padi, namun karena sekam menutupinya maka beras itu tidak bisa terlihat. 


- Divine Discourse, Apr 04, 1992

Penyelidikan yang dimulai dengan _Koham_ (siapakah aku) harus diakhiri dengan _Soham_ (aku adalah Tuhan). Hanya dengan demikian hidup manusia memiliki makna dan pemenuhan yang sejati.

Wednesday, January 28, 2026

Thought for the Day - 28th January 2026 (Wednesday)



An optimist and pessimist sees the thorn below the rose; the optimist, on the other hand, sees the rose flower. Pessimism and optimism both depend on drishti (vision or attitude). The two are closely related. Hopelessness arises out of faulty vision. The optimist and the pessimist walk on the same path. The optimist looks up and sees the sky and the stars, whereas the pessimist looks down and sees pits. Both are walking on the same road. But there is a difference in their vision and their points of view. Change your vision and see everything as God. Understand the difference between vision and spectacles. We see colours with our natural vision. With blue-coloured spectacles, everything appears blue. When you see the world with the spectacles of love, the entire world will appear to be full of love. Everything turns into love. Spectacles cover the eyes, but do not obstruct the vision. God is full of love. When you wear the spectacles of love, you see the correct colour and get the complete view. 


- Divine Discourse, Apr 26, 1997

When you have the love-filled vision, the whole cosmos appears Brahma-mayam (permeated by Divinity). When you see the world with the physical eye, it appears as a bundle of miseries from birth to death 


Seorang optimis dan pesimis memandang air yang ada dalam sebuah gelas. Optimis berkata bahwa gelasnya setengah penuh. Pesimis berkata bahwa gelasnya setengah kosong. Optimis penuh dengan kebahagiaan. Pesimis melihat duri pada bunga mawar; sebaliknya optimis melihat bunga mawar. Pesimis dan optimis keduanya tergantung pada cara pandang atau sikap (Drishti). Keduanya sangat erat kaitannya. Keputusasaan lahir dari cara pandang yang keliru. Sifat optimis dan pesimis berjalan di atas jalan yang sama. Optimis memandang ke atas dan melihat langit dan bintang, sedangkan pesimis memandang ke bawah dan melihat lubang-lubang di jalan. Keduanya sedang berjalan di jalan yang sama. Namun ada perbedaan pada cara pandang dan sudut pandang mereka. Karena itu, ubahlah cara pandangmu dan lihatlah segala sesuatunya sebagai Tuhan. Pahami perbedaan diantara pandangan dan kaca mata. Kita melihat warna sebagaimana adanya dengan penglihatan alami. Sedangkan dengan kaca mata berwarna biru, segala sesuatu kelihatan berwarna biru. Ketika anda memandang dunia dengan kaca mata kasih, seluruh dunia akan kelihatan penuh dengan kasih. Segala sesuatu berubah menjadi kasih. Kaca mata menutupi mata, namun tidak menghalangi penglihatan. Tuhan adalah penuh kasih. Ketika anda menggunakan kaca mata kasih, anda melihat warna yang sesungguhnya dan mendapatkan pandangan yang utuh. 


- Divine Discourse, 26 April 1997

Ketika anda memiliki pandangan kasih, seluruh semesta tampak sebagai _Brahma-mayam_ (diliputi oleh Tuhan). Ketika anda melihat dunia dengan mata fisik, dunia terlihat sebagai rangkaian penderitaan dari kelahiran hingga kematian

Tuesday, January 27, 2026

Thought for the Day - 27th January 2026 (Tuesday)



A mud pot is nothing but mud. Vessels made of gold are basically gold only and nothing else. We have emerged from God. Therefore, all of us are God only. Due to our body consciousness, we get into all kinds of trouble. What is this body? It is a perishable leather bag with nine holes, but not like a resplendent diamond. No fragrance but only foul smell emanates from it every moment. It is made up of flesh, blood, bones and faecal matter. Should we develop attachment with this body? When people achieve success, they attribute it to their capability; if they meet with failure, they attribute it to God’s Will. You can know the truth only when you recognise that everything happens by the Will of God, and whatever happens is good for you. Today, spiritual aspirants and devotees do not have this kind of faith. It is because of their part-time devotion. You should become full-time devotees. From dawn to dusk, do your duty with a firm conviction that all duties belong to God. Do your duty with love. Then only will you attain perfection.


- Divine Discourse, Apr 30, 1997

Do not limit God to your shrine. God is your life-breath.


Sebuah periuk tanah liat tiada lain adalah tanah liat. Bejana yang terbuat dari emas pada hakikatnya hanyalah emas dan bukan yang lainnya. Kita berasal dari Tuhan. Maka dari itu, semua dari kita sesungguhnya hanyalah Tuhan. Karena kesadaran pada Tubuh kita, kita mendapatkan berbagai jenis masalah. Apakah sebenarnya tubuh ini? Tubuh ini hanyalah tas kulit yang fana dengan sembilan lubang, namun sama sekali bukan berlian yang berkilauan. Tidak ada keharuman darinya, namun yang ada hanyalah bau tidak sedap yang keluar dari tubuh secara terus menerus. Tubuh terbuat dari daging, darah, tulang dan kotoran. Patutkah kita mengembangkan keterikatan pada tubuh ini? Ketika orang-orang mencapai keberhasilan, mereka menganggapnya sebagai hasil dari kemampuannya sendiri; namun jika mereka mendapatkan kegagalan, mereka menyebutnya sebagai kehendak Tuhan. Anda hanya bisa mengetahui kebenaran ketika anda menyadari bahwa segala sesuatu terjadi oleh kehendak Tuhan, dan apapun yang terjadi adalah baik untuk anda. Hari ini, para peminat spiritual dan bhakta tidak memiliki keyakinan seperti ini. Hal ini karena bhakti mereka hanya separuh waktu saja. Anda seharusnya menjadi bhakta sepenuh waktu. Mulai dari fajar hingga senja, jalankan kewajibanmu dengan keyakinan yang teguh bahwa semua kewajiban adalah milik Tuhan. Jalankan kewajibanmu dengan kasih. Hanya dengan demikian anda akan mencapai kesempurnaan, 


- Divine Discourse, 30 April 1997

Jangan batasi Tuhan hanya pada ruang doamu saja. Tuhan adalah nafas hidupmu

Monday, January 26, 2026

Thought for the Day - 26th January 2026 (Monday)



Our sages gave no weight to money, fame, pleasures, power, physical or intellectual prowess, but only to dharma. Why? To them, dharma alone is the life-force of the world. Four purusharthas (goals of human life) are prescribed by the scriptures—Dharma, Artha (wealth), Kama (desire) and Moksha (liberation). The first is Dharma. Artha and Kama come after Dharma. Meaning, unless Artha and Kama are experienced in accordance with Dharma, they cause grief. Earn wealth with Dharma. Entertain only Dharmic desires. Only thus can we attain Moksha—This is the lesson of the four purusharthas. Unfortunately, Indians have renounced the foundation of Dharma, which is like the feet supporting the structure of human life. They have chopped off the head of Moksha. They live with the headless and footless body of Artha and Kama! Thus, India has lost Her splendour of righteousness. We must take a pledge to restore Dharma, to foster education promoting Dharma, and to revive the glory of India.


- Divine Discourse, Jun 02, 1991

It is a piece of good fortune to be born in this land and be heir to this grand heritage. Living up to its claims, developing it according to one’s capacity, is indeed greater fortune. 


Para guru suci atau Rsi kita tidak pernah mengutamakan uang, ketenaran, kesenangan, kekuasaan, keunggulan fisik dan intelektual, namun hanya pada dharma. Mengapa? Bagi mereka, hanya dharma yang merupakan kekuatan hidup yang menopang dunia ini. Naskah suci kita menetapkan empat tujuan hidup manusia (purusharthas) yaitu : Dharma, Artha (kesejahtraan), Kama (keinginan) and Moksha (kebebasan). Bagian pertama adalah Dharma. Artha dan Kama muncul setelah Dharma. Hal ini berarti, apabila Artha dan Kama dijalani tanpa berlandaskan pada Dharma, maka keduanya menghasilkan penderitaan. Dapatkanlah kesejahtraan dengan berlandaskan Dharma. Penuhilah hanya keinginan yang selaras dengan Dharma. Hanya dengan demikian kita bisa mencapai Moksha – ini adalah pelajaran dari empat purusharthas. Sangat disayangkan, para penduduk Bharat telah meninggalkan landasan Dharma, yang ibarat kaki menopang struktur kehidupan manusia. Mereka juga telah memotong kepala Moksha. Akibatnya, para penduduk bharat hidup dengan tubuh Artha dan Kama tanpa adanya kepala dan kaki! Jadi, Bharat telah kehilangan keagungan dari kebajikan. Kita harus mengambil janji untuk memulihkan kembali Dharma, untuk mengembangkan pendidikan berlandaskan Dharma, dan untuk menghidupkan kembali kejayaan Bharat.


- Divine Discourse, Jun 02, 1991

Merupakan keberuntungan yang besar lahir di tanah suci ini dan menjadi pewaris dari warisan agung ini. Lebih besar lagi keberuntungan saat kita mampu menghayati, mengembangkan dan mewujudkan sesuai kemampuan kita masing-masing.

Sunday, January 25, 2026

Thought for the Day - 25th January 2026 (Sunday)



Ignorance is the main cause of man’s illusion; it is also the cause of man’s ego. When he has both ignorance and ego, he develops attachment. That’s followed by hatred. Altogether, these bind and imprison man. To attain freedom from this captivity, man must make efforts to get rid of ego, attachment, hatred, illusion and ignorance. The cause of man’s birth is his actions, and actions are the result of his attachment. For attachment, ego is responsible. Hence, ego creates all these! In fact, there should be no scope for ego at all. When we enquire, we will ourselves find that there is no basis for man’s ego! For example, see the world map. In it, Bharat appears to be small. In this country, Bharat, the state of Tamil Nadu is smaller. In Tamil Nadu, Dindigul district is still smaller. In this district, Kodaikanal is a very small place. In Kodaikanal, our house is a tiny speck. In our house, we are still smaller. So, in this vast universe, what are we, then? Where is the scope for your ego? If we have this broad vision, we will understand there is no scope for ego!


- Divine Discourse, Apr 08, 1993

The signs of the rise of Atma-jnanam (Self-knowledge) are the absence of Ahamkara and Mamakaram (feelings of I and Mine).


Ketidaktahuan (avidya) adalah penyebab utama dari khayalan manusia; ketidaktahuan juga menjadi penyebab timbulnya ego dalam diri manusia. Ketika manusia telah memiliki keduanya yaitu ketidaktahuan dan ego, maka manusia itu akan mengembangkan keterikatan. Dari keterikatan muncullah kebencian. Kesemuanya ini saling terkait dan mengikat satu dengan yang lainnya serta memenjarakan manusia. Untuk mencapai kebebasan dari belenggu ini, manusia harus melakukan usaha untuk menyingkirkan ego, keterikatan, kebencian, khayalan dan ketidaktahuan. Penyebab dari kelahiran manusia adalah tindakannya, dan tindakannya tersebut adalah hasil dari keterikatannya. Di balik keterikatan, ego adalah yang bertanggung jawab. Oleh karena itu, ego menciptakan semuanya ini! Sesungguhnya, tidak ada ruang sama sekali untuk ego. Ketika kita menyelidikinya dengan jujur, kita akan menemukan bahwa tidak ada dasar bagi ego manusia! Sebagai contoh, lihatlah peta dunia. Dalam peta, Bharat (India) kelihatan kecil. Di dalam negara Bharat, negara bagian Tamil Nadu adalah lebih kecil lagi. Dalam Tamil Nadu, kabupaten Dindigul lebih kecil lagi. Dalam kabupaten ini, Kodaikanal adalah sebuah tempat yang sangat kecil. Dalam Kodaikanal, rumah kita adalah sebuah titik sangat kecil sekali. Dalam rumah ini, keberadaan kita bahkan lebih kecil lagi. Jadi, di alam semesta yang begitu luas ini, apakah sebenarnya diri kita ini? Dimana ada ruang untuk egomu? Jika kita memiliki pandangan yang luas ini, kita akan mengerti bahwa sesungguhnya tidak ada tempat untuk ego!


- Divine Discourse, 08 April 1993

Tanda bangkitnya Atma-jnanam (Pengetahuan Diri Sejati) adalah lenyapnya Ahamkara dan Mamakaram (perasaan keakuan dan milikku).

Saturday, January 24, 2026

Thought for the Day - 24th January 2026 (Saturday)



God is present in the form of Vaishvanara (the Divine Fire) in everybody. So, when you help others, you are helping yourself. Similarly, hurting others amounts to hurting your own self. Sarva jiva namaskaram Keshavam prati gacchati (whomsoever you salute, it reaches God) and Sarva jiva tiraskaram Keshavam prati gacchati (whomsoever you denigrate, it reaches God). There is no point in undertaking pilgrimages or chanting the divine name without understanding the oneness of Divinity. You may call Him by any name and worship Him in any form, but God is one. Never forget this principle of unity. But, unfortunately, man fragments unity into diversity. Try to visualise unity in diversity. This is the true service that man is supposed to undertake. Man mein ram hath mein kam (install God in your heart and use your hands in the service of society). Then whatever work you do will be transformed into worship.


- Divine Discourse, Feb 24, 2002

As you serve others, you have to kill your ego. It cannot be called service if it is done with the feeling that “I am serving others”.

 

Tuhan hadir dalam wujud Vaishvanara (api ilahi) dalam diri setiap orang. Jadi, ketika anda membantu orang lain, anda sedang membantu diri anda sendiri. Sama halnya, menyaiti orang lain sama besarnya dengan menyakiti diri anda sendiri. Sarva jiva namaskaram Keshavam prati gacchati (siapapun yang anda hormati maka penghormatan itu mencapai Tuhan) dan Sarva jiva tiraskaram Keshavam prati gacchati (siapapun yang anda hina maka penghinaan itu mencapai Tuhan). Tidak ada gunanya melakukan perjalanan suci atau melantunkan nama suci Tuhan tanpa memahami kesatuan keilahian. Anda bisa menyebut Tuhan dengan nama apapun dan memuja-Nya dalam wujud apa saja, namun Tuhan adalah satu. Jangan pernah lupa pada prinsip kesatuan ini. Namun, sangat disayangkan, manusia memecah kesatuan menjadi keberagaman. Cobalah untuk membayangkan kesatuan dalam keberagaman. Hal ini adalah pelayanan sejati yang seharusnya dilakukan oleh manusia. Man mein ram hath mein kam (tempatkan Tuhan di dalam hatimu dan gunakan tanganmu dalam pelayanan pada masyarakat). Kemudian apapun pekerjaan yang anda lakukan akan diubah menjadi ibadah.


- Divine Discourse, 24 Februari 2002

Saat anda melayani yang lain, anda harus menyingkirkan ego. Itu tidak bisa disebut pelayanan jika dilakukan dengan perasaan bahwa “saya sedang melayani yang lain”.

Friday, January 23, 2026

Thought for the Day - 23rd January 2026 (Friday)



Once, an old friend of a king came to meet him. The king was glad to see his old friend and chatted with him affectionately. This man was very aged and carried a stick with him for support. The king questioned his friend as to how he was leading his life. His friend replied that in old age one needed some support, and the stick was his support. The old man asked the king whether he was serving his people well, to which the king reacted that he was a king and could never be a servant. The old man wished to teach the king a practical lesson. So, he dropped his stick to salute the king. As he could not bend down to pick up the stick, the king at once bowed down, picked up the stick, and gave it to his friend. Then the old man said, “You say you are not a servant. But right now you have served me. So, you are my servant.” All have to serve one another at some point in time. To say that one is not a servant is ignorance. The spirit of service is present in everybody, but it varies from person to person depending on the state of his mind.


- Divine Discourse, 30 April 1997

The Sri Sathya Sai Organisations must take up seva as sadhana, must see Me as Sarvantaryami (inner motivator of all), and do seva as puja. 


Pada suatu hari, seorang teman lama seorang raja datang berkunjung untuk menemuinya. Raja merasa senang melihat kembali teman lamanya dan berbincang-bincang dengannya penuh keakraban. Orang ini sudah tua dan membawa tongkat sebagai alat bantu jalan. Sang raja menanyakan temannya terkait bagaimana dia menjalani hidupnya. Temannya kemudian menjawab bahwa di usia lanjut seseorang membutuhkan beberapa penopang, dan tongkat adalah penopangnya. Orang tua itu kemudian menanyakan raja terkait apakah sang raja melayaninya rakyatnya dengan baik, raja menjawab dengan nada tegas bahwa ia adalah seorang raja dan tidak mungkin menjadi seorang pelayan. Orang tua itu ingin mengajarkan sang raja sebuah pelajaran yang praktis. Jadi, orang tua itu menjatuhkan tongkatnya untuk memberikan hormat pada sang raja. Karena ia tidak mampu membungkuk untuk mengambil kembali tongkatnya, sang raja segera membungkuk mengambil tongkat itu dan menyerahkan kembali pada temannya. Kemudian orang tua itu berkata, “anda mengatakan bahwa anda bukanlah seorang pelayan. Namun saat sekarang anda telah melayani saya. Jadi, anda adalah pelayan saya.” Pada suatu waktu semuanya harus melayani satu sama lain. Dengan mengatakan bahwa seseorang bukanlah pelayan merupakan tanda ketidaktahuan. Semangat melayani ada dalam diri setiap orang, namun tingkat dan wujudnya berbeda-beda sesuai dengan keadaan pikiran masing-masing.


- Divine Discourse, 30 April 1997

Organisasi Sri Sathya Sai hendaknya menjadikan seva sebagai sadhana, memandang Aku sebagai Sarvantaryami (penggerak batin semuanya), dan melakukan seva sebagai puja. 

Thursday, January 22, 2026

Thought for the Day - 22nd January 2026 (Thursday)



Neither by penance nor by pilgrimage nor by study of scriptures nor by japa (recitation of the names of God) can one cross the ocean of life. One can achieve it only by serving the pious. (Sanskrit Verse) Man need not resort to penance in order to realise God. He need not undertake pilgrimages either for liberation. How then can he cross the ocean of mundane worldly life? By serving pious people, it is said. Who has to serve? All have to serve. Everyone is a servant in this world. The child is the servant of the mother; the mother is the servant of the child. The husband is the servant of his wife, and the wife is his servant. The teacher is the servant of his students, and the students are the servants of their teacher. The government is the servant of its people, and the people are the servants of the government. Right from a king to a farmer, all are servants only. Looking at one’s wealth, one may consider oneself a master. But there is one and only one master. That is God; all others are servants only.


- Divine Discourse, Apr 30, 1997

Service is a lifetime programme, it knows no rest or respite. This body has been given so that you may devote its strength and skills to the service of fellowmen. 


Bukan dengan pengekangan indera, bukan dengan mengunjungi tempat-tempat suci dan bukan juga dengan mempelajari naskah suci atau dengan japa (pengulangan nama suci Tuhan) seseorang dapat menyebrangi lautan kehidupan. Seseorang dapat mencapai tujuan ini hanya dengan melayani orang-orang yang saleh. (Sloka Sansekerta) Manusia tidak perlu melakukan pengendalian indera untuk bisa menyadari Tuhan. Manusia juga tidak perlu melakukan  perjalanan suci untuk bisa mencapai pembebasan. Lantas bagaimana seseorang bisa menyebrangi lautan kehidupan duniawi ini? Dikatakan dengan melayani orang-orang yang saleh. Siapa yang harus melayani? Semua harus dilayani. Setiap orang adalah seorang pelayan di dunia ini. Anak adalah pelayan dari ibunya; ibu adalah pelayan bagi anaknya. Suami adalah pelayan bagi istrinya, dan sang istri adalah pelayan bagi suaminya. Guru adalah pelayan bagi murid-muridnya, dan para pelajar adalah pelayan bagi guru-guru mereka. Pemerintah adalah pelayan bagi rakyatnya, dan rakyat adalah pelayan bagi pemerintah. Mulai dari seorang raja sampai pada seorang petani, semua hanyalah pelayan. Dengan melihat pada kekayaan yang dimilikinya, seseorang bisa menganggap dirinya sebagai majikan. Namun hanya ada satu dan hanya satu majikan. Dan beliau adalah Tuhan; semua yang lain hanyalah pelayan.


- Divine Discourse, 30 April 1997

Pelayanan adalah program seumur hidup, pelayanan tidak mengenal masa istirahat atau jeda. Tubuh ini dianugerahkan agar anda bisa gunakan kekuatan dan dan ketrampilannya untuk melayani sesama manusia.