Thursday, April 23, 2026

Thought for the Day - 23rd April 2026 (Thursday)



All the objects we offer God in worship, like leaf, flowers, water, and all others, have an allegorical significance. The word leaf does not refer to tulsi or any other leaf. Our body is a leaf. Our body is offered as a sacred leaf to God. Because this body is full of the three gunas, we consider it a leaf and make an offering of it to God. The word ‘pushpa’ stands for the flower of the heart. The flowers we talk of in the context of God do not refer to the earthly flowers that fade away. Similarly, the word fruit is the fruit of the mind. It means that we must do our deeds without expecting any reward, and if action is done in that spirit, it becomes a holy sacrifice. Water does not mean that which is drawn from the taps. It refers to the tears of joy that spring from the depths of your heart. You should not offer leaves gathered from trees, which are external, or flowers from plants in the garden, or water drawn from the well, or fruit from somewhere else, but all these from the tree of your body, which is sacred to God. Whatever offering you make, when you offer those things born out of the tree of your own body, then the full merit will be bestowed on you. 


Ch 17, Summer Showers in Brindavan 1972

The only way to overcome misery is by offering yourself to God


Semua objek yang kita persembahkan kepada Tuhan dalam sebuah ibadah, seperti halnya daun, bunga, air, dan semua hal lainnya memiliki makna simbolis yang mendalam. Kata daun bukan sekedar mengacu pada daun tulsi atau daun lainnya. Tubuh kita sendiri adalah daun itu. Tubuh kita ini dipenuhi dengan tiga guna dipersembahkan sebagai daun suci kepada Tuhan. Kata ‘pushpa’ mengandung makna bunga hati. Bunga yang kita bicarakan dalam konteks Tuhan tidak mengacu pada bunga duniawi yang layu. Sama halnya, kata buah adalah mengacu pada buah pikiran. Hal ini berarti kita harus melakukan perbuatan kita tanpa mengharapkan imbalan apapun, dan jika perbuatan dilakukan dalam semangat tersebut, maka perbuatan itu menjadi pengorbanan suci. Air juga bukan berarti air yang diambil dari keran atau sumur. Air ini mengacu pada air mata suka cita yang hadir dari kedalaman hati. Engkau seharusnya tidak mempersembahkan daun yang dikumpulkan dari pohon, yang mana bersifat di luar diri, atau bunga dari tanaman yang ada di kebun, atau air yang ada dari sumur, atau buah dari tempat lain, namun semua persembahan ini harusnya berasal dari pohon tubuhmu yang bersifat suci kepada Tuhan. Apapun persembahan yang engkau lakukan, ketika engkau mempersembahkan itu lahir dari pohon dirimu sendiri, maka pahala utuh akan diberkati padamu. 


Ch 17, Wacana Musim Panas di Brindavan 1972

Satu-satunya cara untuk mengatasi penderitaan adalah dengan mempersembahkan dirimu sendiri pada Tuhan. 

Wednesday, April 22, 2026

Thought for the Day - 22nd April 2026 (Wednesday)





Take the Lord to be your father or mother, but only as the first step towards transcending that relationship and merging in the absolute! Do not stop on the steps; enter the mansion they lead to. The Atma sambandham (spiritual connection) is the everlasting and unchanging sambandham. As a first step, you use the flower, the lamp, the incense and so on to worship the Saguna form (God envisioned with attributes). Soon, your devotion moves on to newer forms of dedication, newer offerings that are purer, more valuable, and worthier of your Lord! You feel that you should place before the Lord something more lasting than mere flowers and something more yours than incense! You feel like purifying yourselves and making your entire life one fragrant flame! That is real worship, real bhakti. Do not come to Me with your hands full of trash, for how can I fill them with grace when they are already full? Come with empty hands and carry away My treasure, My love.


Divine Discourse, Oct 26, 1961

I am the Person come to give, not to receive. And what you can offer Me is just this: pure, unadulterated love. 


Jadikanlah Tuhan sebagai ayah dan ibumu, namun pahamilah bahwa itu adalah langkah awal untuk melampaui hubungan tersebut dan akhirnya menyatu dengan Yang Absolut! Jangan berhenti pada anak tangga; masukklah ke dalam rumah besar yang dituju oleh langkah-langkah tersebut. Atma sambandham (hubungan spiritual) atau hubungan dengan Atma adalah bersifat kekal dan tidak berubah. Pada tahap awal, engkau menggunakan bunga, lampu, dupa, dan sebagainya untuk memuja Tuhan dalam wujud Saguna, yaitu Tuhan yang dipahami dengan sifat-sifat tertentu. Namun seiring waktu, bhaktimu akan berkembang menuju bentuk pengabdian yang lebih dalam, persembahan yang lebih murni, lebih berharga, dan lebih layak bagi Tuhanmu! Engkau mulai merasa bahwa yang pantas dipersembahkan bukan sekadar bunga yang layu atau dupa yang habis terbakar, melainkan sesuatu yang lebih abadi dan sungguh berasal dari dirimu sendiri! Saat itulah muncul dorongan untuk memurnikan diri, menjadikan seluruh hidupmu sebagai nyala harum yang terus menyala. Inilah pemujaan yang sejati, inilah bhakti yang sesungguhnya. Jangan datang kepada-Ku dengan tangan yang penuh “sampah”, sebab bagaimana mungkin Aku mengisinya dengan anugerah jika sudah penuh? Datanglah dengan tangan kosong, dan bawalah pulang harta-Ku: kasih-Ku. 


Wacana Swami, 26 Oktober 1961

Aku datang untuk memberi, bukan untuk menerima. Dan satu-satunya yang dapat engkau persembahkan kepada-Ku hanyalah ini: kasih yang murni, tanpa campuran apa pun.

Monday, April 13, 2026

Thought for the Day - 13th April 2026 (Monday)



The virtue of Kshama (forbearance) is best cultivated under adverse circumstances, and one must therefore gladly welcome troubles instead of regarding them as unwelcome. Difficulties help one to nurse and build the capacity for patience, as the example of the Pandavas clearly shows. When they were in power and authority, the Pandavas were somewhat deficient in Kshama, but once they went into exile and had to face numerous hardships, Kshama automatically began to develop in them. Thus, times of distress offer the ideal opportunity for the development of patience and forbearance. In fact, pain and Kshama go together because Kshama grows best in an environment of sorrow and misery. However, because of mental weakness as well as ignorance, we invariably shun painful experiences and distress. You should not be weak; be brave and welcome troubles. Let them come, the more the merrier. It is only with such a courageous attitude that you would be able to bring out the Kshama hidden within you.


Divine Discourse, May 25, 2000

Pleasure has no separate existence. It is the fruit of pain. This basic truth is not recognised by man. 


Nilai luhur Kshama (kesabaran, dan kemampuan menahan diri) paling baik dikembangkan dalam keadaan yang penuh kesulitan. Oleh karena itu, seseorang seharusnya menyambut masalah dengan sukacita, bukan menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak diinginkan. Kesulitan membantu seseorang dalam memelihara dan membangun kemampuan untuk bersabar, sebagaimana tampak jelas dalam teladan para Pandawa. Ketika mereka berada dalam kekuasaan dan memiliki kewenangan, para Pandawa masih agak kurang dalam hal Kshama.  Namun, ketika mereka harus menjalani masa pembuangan dan menghadapi begitu banyak penderitaan, Kshama dengan sendirinya mulai tumbuh dalam diri mereka. Dengan demikian, masa-masa sulit justru memberikan kesempatan yang paling ideal untuk mengembangkan kesabaran dan ketabahan. Sesungguhnya, penderitaan dan Kshama berjalan beriringan, sebab Kshama tumbuh paling baik dalam suasana kesedihan dan kesusahan. Akan tetapi, karena kelemahan mental dan ketidaktahuan, kita hampir selalu menghindari pengalaman yang menyakitkan dan penuh tekanan. Engkau tidak boleh lemah; jadilah berani dan sambutlah kesulitan. Biarkanlah kesulitan datang - semakin banyak, semakin baik. Hanya dengan sikap keberanian seperti inilah engkau mampu memunculkan Kshama yang tersembunyi di dalam dirimu. 


Wacana Swami, 25 Mei 2000

Kesenangan tidak memiliki keberadaan yang terpisah. Kesenangan adalah buah dari penderitaan. Kebenaran mendasar ini belum disadari oleh manusia. 

Sunday, April 12, 2026

Thought for the Day - 12th April 2026 (Sunday)



The body has to be maintained in good condition, for it is only when embodied in this human container that man can realise God. The body is either strong or weak, an efficient instrument or an inefficient one, according to the food, recreations, and habits of one’s parents. Since the elders do not pay attention to these, the health of the children suffers; we have hospitals, dispensaries, and clinics in every street now, because disease has its hold on every family, in every home. Even little children wear glasses; young people dye their hair, and many wear dentures. The reason is, the atmosphere in the modern home is filled with artificiality, anxiety, envy, discontent, empty boasting, vain pomp, extravagance, falsehood and hypocrisy. How can anyone growing up in this corrosive atmosphere be free from illness? If the home is filled with the clean fragrance of contentment and peace, all its occupants will be happy and healthy. The elders have, therefore, a great responsibility towards the generation that is coming up.


Divine Discourse, Oct 05, 1967

Why should we maintain the body (deha) in good health? It is for the sake of realising the Dehi (Indweller Self). 


Tubuh harus dirawat dalam kondisi yang baik, karena hanya melalui tubuh manusia inilah seseorang dapat menyadari Tuhan. Tubuh dapat menjadi kuat atau lemah, menjadi alat yang efektif atau tidak efektif, tergantung pada makanan, rekreasi, dan kebiasaan orang tuanya. Karena para orang tua dan orang yang lebih tua sering tidak memberi perhatian pada hal-hal ini, kesehatan anak-anak pun menjadi terganggu. Itulah sebabnya sekarang kita melihat rumah sakit, klinik, dan apotek hampir di setiap jalan, karena penyakit telah menjangkiti hampir setiap keluarga dan rumah. Bahkan anak-anak kecil sudah memakai kacamata; kaum muda mewarnai rambut mereka, dan banyak yang sudah menggunakan gigi palsu. Penyebabnya adalah karena suasana rumah modern sering dipenuhi oleh kepalsuan, kecemasan, iri hati, ketidakpuasan, kesombongan kosong, kemewahan yang sia-sia, pemborosan, kebohongan, dan kemunafikan. Bagaimana mungkin seseorang yang tumbuh dalam suasana yang merusak seperti itu dapat bebas dari penyakit? Sebaliknya, jika rumah dipenuhi oleh keharuman kebersihan batin berupa rasa cukup dan kedamaian, maka semua penghuninya akan hidup bahagia dan sehat. Karena itu, para orang tua dan orang-orang yang lebih tua memiliki tanggung jawab besar terhadap generasi yang sedang tumbuh.


Wacana Swami, 5 Oktober 1967

Mengapa kita harus menjaga tubuh (deha) tetap sehat? Itu demi merealisasikan Dehi (Atma penghuni di dalam tubuh).

Saturday, April 11, 2026

Thought for the Day - 11th April 2026 (Saturday)



Kshama (forbearance) is the grandest and the noblest among virtues. It is all-encompassing. Mahabharata and Shrimad Bhagavatam both contain many episodes that illustrate the disaster that befalls when Kshama is lost. Jealousy is the first bad quality that makes its entry when Kshama makes its exit. The Mahabharata gives a graphic portrayal of how life that is otherwise smooth, can be totally shattered by jealousy. The golden island, Lanka, was like the very heavens, but Ravana’s jealousy reduced it to ruins. Whereas Kshama can give complete protection, its absence can plunge one into distress and disaster. Impatience breeds selfishness and promotes jealousy, which together spur infighting and divisive tendencies of various kinds. The troubles countries are currently passing through are largely due to the absence of this noble quality of Kshama. Impatience has ruined even very great spiritual aspirants. Kings were reduced to beggars. The absence of Kshama can make a Yogi into a rogi (sick one)! Without Kshama, mankind becomes degraded and starts declining, but if it has this quality, then it can progress by leaps and bounds.


Divine Discourse, May 25, 2000

For spiritual progress and advancement, Kshama is the real basis or foundation. 


Kshama (kesabaran dan kemampuan menahan diri) adalah sifat luhur yang paling agung dan paling mulia di antara semua sifat-sifat baik. Kesabaran ini mencakup segalanya. Mahabharata dan Shrimad Bhagavatam keduanya memuat banyak kisah yang menunjukkan bencana yang terjadi ketika kualitas Kshama ini hilang. Sifat iri hati adalah sifat buruk pertama yang masuk ketika Kshama keluar dari diri seseorang. Mahabharata memberikan gambaran yang sangat jelas tentang bagaimana kehidupan yang semula berjalan baik dapat hancur total karena iri hati. Pulau emas Lanka bagaikan surga, tetapi sifat iri hati dari Ravana menghancurkannya hingga menjadi puing-puing. Kshama dapat memberikan perlindungan yang sempurna, sedangkan ketiadaannya dapat menjerumuskan seseorang ke dalam penderitaan dan kehancuran. Sifat ketidaksabaran melahirkan egoisme dan memupuk iri hati; keduanya bersama-sama memicu pertikaian internal dan kecenderungan memecah-belah. Berbagai kesulitan yang dialami banyak negara saat ini sebagian besar disebabkan oleh tidak adanya kualitas luhur Kshama ini. Ketidaksabaran bahkan telah meruntuhkan para pencari spiritual yang agung. Raja-raja dapat jatuh menjadi pengemis. Ketiadaan Kshama bahkan dapat mengubah seorang yogi menjadi rogi (orang yang sakit)! Tanpa Kshama, umat manusia mengalami kemerosotan dan kehancuran. Namun bila kualitas ini dimiliki, manusia dapat berkembang dengan sangat pesat. 


Wacana Swami, 25 Mei 2000

Untuk kemajuan dan perkembangan spiritual, Kshama adalah dasar dan fondasi yang sejati.

Friday, April 10, 2026

Thought for the Day - 10th April 2026 (Friday)



Look at the functions of the sense organs. You may notice that even if one organ stops functioning in harmony, life will be limping. When the mind conceives a thought, all organs coordinate to have the thought executed. If senses do not follow thoughts, life will become miserable. When there is forbearance, all organs coordinate harmoniously and work in unison. Once the organs of the body, like eyes, ears, limbs, became jealous of the tongue, saying that they make all efforts to secure food, but the tongue enjoys it. The tongue merely tastes the food and passes only palatable items of food inside, which is converted by internal organs into energy-giving blood. The tongue does not retain it. But for this vital part played by the tongue, other organs would not be able to function at all. When the other organs became jealous of the tongue and stopped sending food with a view to harming it, they spelt their own ruin by such action, as they could not function when there was no food and consequently no supply of energy for these organs to function. Similarly, jealousy on the part of a person ultimately results in his own ruin! 


Divine Discourse, Jan 01, 1994

When you offer the flower of your heart to the Lord, it should be free from the pest of desire, hatred, envy, greed, and the like. 


Perhatikanlah pada fungsi dari organ-organ indera. Engkau dapat memperhatikan bahwa jika ada satu saja organ berhenti berfungsi secara selaras, maka hidup menjadi pincang. Ketika pikiran melahirkan sebuah gagasan, maka semua organ akan bekerja sama untuk mewujudkan gagasan tersebut. Jika Indera tidak mengikuti gagasan tersebut maka hidup akan menjadi sengsara. Ketika ada ketabahan, semua organ akan bekerja sama dengan selaras dan bersatu. Sekali organ-organ dari tubuh seperti mata, telinga, anggota tubuh lainnya merasa iri pada lidah, dengan mengatakan bahwa mereka melakukan segala usaha untuk mendapatkan makanan, namun lidah yang menikmati makanan tersebut. Padahal lidah fungsinya hanya merasakan makanan dan meneruskan makanan yang layak ke dalam tubuh, selanjutnya organ-organ dalam tubuh yang mengubah makanan menjadi darah penghasil energi. Lidah tidak menyimpan makanan tersebut. Namun tanpa peran vital yang dijalankan oleh lidah, organ-organ lainnya tidak akan dapat berfungsi dengan baik. Ketika organ-organ yang lain menjadi iri hati dan memutuskan berhenti mengirimkan makanan dengan tujuan untuk menyakitinya, tindakan itu justru membawa kehancuran bagi diri mereka sendiri. Tanpa adanya makanan maka tidak akan ada energi, dan akhirnya mereka tidak mampu berfungsi. Sama halnya, iri hati dalam diri seseorang pada akhirnya akan membawa kehancuran pada dirinya sendiri! 


Wacana Swami, 01 Januari 1994

Ketika engkau mempersembahkan bunga hatimu pada Tuhan, bunga itu harus bebas dari hama seperti keinginan, kebencian, iri hati, ketamakan, dan sejenisnya.

Wednesday, April 8, 2026

Thought for the Day - 8th April 2026 (Wednesday)



True and selfless love manifests as sacrifice. Such love knows no hatred. It envelops the entire universe and is capable of drawing near even those who are seemingly far away. It is Love that transforms the human into the Divine. It can transform pashu (a bestial person) into Pashupati (Divinity). In the phenomenal world, you come across many shades and derivatives of this primordial love. You love your father, mother, brother, sister, friends, and so on. In all such cases, there is always a tinge of selfishness somewhere or other. Divine love, on the other hand, is totally free of even the slightest trace of selfishness. You must surrender to such love, become completely submerged by it, and experience the bliss it confers. For acquiring such Love, the quality of Kshama or forbearance is a vital necessity. Every individual must cultivate this noble quality. Kshama is not achieved by reading books or learnt from an instructor. Nor can it be received as a gift from someone else. This prime virtue -  Kshama, can be acquired solely by self-effort, by facing squarely diverse problems, difficulties of various sorts, anxieties, and suffering as well as sorrow. 


Divine Discourse, May 25, 2000

True Divinity is Kshama (forbearance) combined with Prema (Love).

 

Kasih sejati dan tidak mementingkan diri sendiri terwujud sebagai pengorbanan. Kasih seperti itu tidak mengenal kebencian. Kasih yang sejati itu merangkul seluruh alam semesta dan mampu mendekatkan mereka yang kelihatannya jauh. Adalah kasih yang mengubah manusia menjadi ilahi. Kasih juga dapat mengubah orang yang bengis (pashu) menjadi keilahian (pashupati). Dalam dunia fenomenal ini, engkau menjumpai banyak bentuk dan turunan dari cinta yang ada sejak permulaan. Engkau menyayangi ayah, ibu, saudara, sahabat, dan yang lainnya. Namun dalam bentuk kasih seperti itu, selalu masih ada sedikit unsur kepentingan diri atau keterikatan. Sebaliknya, kasih Tuhan bersifat bebas dari jejak sekecil apapun kepentingan diri atau egoisme. Engkau harus berserah kepada kasih seperti itu, menjadi sepenuhnya tenggelam di dalamnya, dan mengalami kebahagiaan yang diberikannya. Untuk mendapatkan kasih seperti itu, kualitas Kshama atau ketabahan merupakan kebutuhan yang sangat penting. Setiap individu harus meningkatkan kualitas yang mulia ini. Kshama tidak bisa dicapai hanya dengan membaca buku atau belajar dari seorang pengajar. Dan juga tidak bisa diterima sebagai hadiah dari orang lain. Kshama yang merupakan kebajikan utama ini, hanya dapat diraih dengan usaha diri, dengan menghadapi secara langsung berbagai masalah, kesulitan, kecemasan, penderitaan, dan kesedihan di dalam hidup. 


Wacana Swami, 25 Mei 2000

Keilahian sejati adalah Kshama (ketabahan) yang dipadukan dengan Prema (kasih).

Sunday, April 5, 2026

Thought for the Day - 5th April 2026 (Sunday)



The Moon (reflected) in the flowing river is broken and fragmentary; it flows fast, apparently, with the floods. The Moon in the lake is calm, unmoved, undistracted. These two are but reflections of the real Moon in the sky. The Moon reflected in the flood is the Individual Soul, engaged in activity, embroiled in maya, cause and effect. The Moon reflected in the placid face of the lake is the yogi who has attained balance, equipoise, peace, dwelling in the One. The real Moon in the sky is the Eternal Witness, the Absolute, the Primal Principle. Christ spoke of these three when He made three statements. Referring to the individual soul, He said, “I am the Messenger of God;” referring to himself as the yogi, He said, “I am the Son of God.” Realising that these two are but reflections, and that the real Moon is the Witness in the sky, that He too is the Formless, Nameless Absolute, He declared towards the end of his life, “I and My Father are one.” All beings are images of the Universal Atma, in the names and forms they have apparently assumed. This is the truth, enclosed, elaborated, and demonstrated in the spiritual texts of India, which form the basis of Bharatiya culture. The essence of all faiths and the goal of all spiritual endeavour is this: the merging in this Unity. The object of all enquiry is this: to cognise this Unity. 


Divine Discourse, Dec 24, 1972

Religions arise from the minds of good men who crave to make all men good; they strive to eliminate evil and cure the bad. 


Bulan yang terpantul pada aliran sungai yang mengalir tampak tidak beraturan dan terpisah-pisah; terlihat mengalir dengan cepat bersamaan dengan aliran air sungai. Sedangkan bulan yang terpantul pada air danau tampak tenang, tidak bergerak, dan tidak terganggu. Namun, keduanya hanyalah pantulan dari bulan yang sesungguhnya ada di langit. Bulan yang terpantul pada aliran sungai adalah jiwa individu, sibuk dalam aktifitas, terlibat dalam maya, terikat oleh sebab dan akibat. Bulan yang terpantul pada permukaan danau yang tenang adalah yogi yang mencapai keseimbangan, ketenangan, kedamaian, berdiam dalam Yang Esa. Bulan yang sesungguhnya di langit adalah Saksi Abadi, bersifat Absolut, Prinsip Utama. Kristus berbicara ketiga bagian ini ketika Kristus membuat tiga pernyataan. Mengacu pada jiwa individu, Kristus berkata, “Aku adalah utusan Tuhan;” mengacu dirinya sebagai yogi, Kristus berkata, “Aku adakah putra dari Tuhan.” Menyadari bahwa keduanya ini hanyalah pantulan, dan bulan sesungguhnya adalah Saksi yang ada di langit, bahwa Ia juga adalah Yang Mutlak, tanpa nama dan wujud, Kristus menyatakan di akhir hidupnya, “Aku dan Bapa-Ku adalah satu.” Semua makhluk hidup adalah citra dari Atma Universal, yang tampak mengambil berbagai nama dan wujud. Inilah kebenaran yang terkandung, dijelaskan, dan dibuktikan dalam teks-teks spiritual India, yang menjadi dasar budaya Bharatiya. Intisari dari semua keyakinan dan tujuan dari semua usaha spiritual adalah ini: menyatu dalam kesatuan ini. Tujuan dari semua penyelidikan adalah ini: menyadari kesatuan ini. 


Wacana Swami, 24 Desember 1972

Agama-agama muncul dari pikiran-pikiran orang baik yang ingin menjadikan manusia baik; mereka berusaha menghilangkan kejahatan dan memperbaiki keburukan.

Saturday, April 4, 2026

Thought for the Day - 4th April 2026 (Saturday)



Education is not meant to be sold or used for begging jobs. It is meant to be shared. It grows when it is shared. What is the use of having a high education bereft of virtues? What is the value of such education? Character is more important than education. Students! There is nothing wrong with acquiring a job after the completion of your education. But at the same time, you should see to it that your education is put to use for the benefit of society. You should always keep in view the welfare of society. Take part in the service of society. What does service to society really mean? Do not consider it below your dignity to render seva (service), thinking that you are highly educated. At the same time, it is not necessary for you to sweep the roads in the name of seva. Whatever is your job, if you perform it to the satisfaction of your conscience, that itself is seva. Suppose you are doing business, do not resort to unjust and unrighteous means just to earn money. Rather, you should utilise your earnings in performing sacred tasks. 


Sathya Sai Speak, Jun 28, 1996

Dedicate all your education, intelligence and energy to the service of society. 


Pendidikan bukanlah untuk dimaksudkan untuk diperjual belikan atau sekedar digunakan untuk mencari pekerjaan. Pendidikan dimaksudkan untuk dibagikan karena pendidikan bertumbuh ketika dibagikan. apa gunanya memiliki pendidikan yang tinggi tanpa adanya kebajikan? Apa nilai dari pendidikan yang seperti itu? Karakter adalah lebih penting daripada pendidikan. Wahai para pelajar! Tidak ada yang salah dengan mencari pekerjaan setelah menyelesaikan pendidikanmu. Namun pada saat yang bersamaan, engkau harusnya memastikan bahwa pendidikan yang engkau peroleh digunakan untuk kemanfaatan masyarakat. Engkau harus selalu memandang pada kesejahtraan masyarakat. Ambillah bagian dalam pelayanan pada masyarakat. Lalu, apa sebenarnya arti pelayanan kepada masyarakat? Jangan menganggap bahwa melakukan pelayanan (seva) sebagai sesuatu yang merendahkan martabatmu, hanya karena engkau berpikir bahwa engkau berpendidikan tinggi. Pada saat yang sama, engkau tidak perlu untuk menyapu jalan atas nama seva. Apa pun pekerjaanmu, jika engkau melakukannya untuik memuaskan hati nuranimu, itu sendiri sudah merupakan _seva_ (pelayanan). Misalnya, jika engkau menjalankan usaha atau bisnis, jangan menggunakan cara-cara yang tidak adil dan tidak benar hanya demi memperoleh uang. Sebaliknya, gunakanlah penghasilanmu untuk melakukan tugas-tugas yang suci. 


Wacana Swami, 28 Juni 1996

Dedikasikan seluruh pendidikan, kecerdasan, dan energimu untuk pelayanan kepada masyarakat.

Friday, April 3, 2026

Thought for the Day - 3rd April 2026 (Friday)



Jesus exhorted people by precept and example to cultivate the virtues of charity, compassion, forbearance, love, and faith. These are not separate and distinct qualities; they are only the many facets of the Divine in man, which he has to recognise and develop. People talk of the sacrifice of Christ as evidenced by his crucifixion. But, he was surrounded and bound, and crowned by the crowd who captured him with a crown of thorns, and later, nailed to the cross by his captors. A person bound and beaten by the police cannot say that he has sacrificed anything, for he is not a free man. Let us pay attention to the sacrifice that Jesus made while free, of his own volition. He sacrificed his happiness, prosperity, comfort, safety, and position. He braved the enmity of the powerful. He refused to yield or compromise. He renounced the ‘ego’, which is the toughest thing to get rid of. Honour him for these. He willingly sacrificed the desires with which the body torments man; this sacrifice is greater than the sacrifice of the body under duress. 


- Divine Discourse, Dec 24, 1972

The Incarnation comes to warn, guide, awaken, lay down the path, and shed the light of Love on it. But man has to listen, learn and obey with hope and faith. 


Yesus menasihati umat manusia, baik melalui ajaran maupun teladan hidup-Nya, untuk menumbuhkan kebajikan seperti amal, welas asih, ketabahan, kasih, dan keyakinan. Semua ini sebenarnya bukan sifat yang terpisah-pisah, melainkan berbagai sisi dari Keilahian yang ada dalam diri manusia, yang perlu disadari dan dikembangkan. Orang-orang membicarakan pengorbanan dari kristus sebagaimana dibuktikan dengan penyaliban-Nya. Namun, sebelum itu Ia dikepung, diikat, dimahkotai duri oleh banyak orang yang menangkap-Nya, dan kemudian dipakukan di kayu salib oleh para penangkap-Nya. Seseorang yang terikat dan dipukuli oleh aparat polisi tentu tidak dapat dikatakan sedang mengorbankan sesuatu, karena pada saat itu ia tidak lagi bebas. Karena itu, marilah kita memberi perhatian pada pengorbanan yang Yesus lakukan saat Ia masih bebas, atas kehendak-Nya sendiri. Ia mengorbankan kebahagiaan, kesejahtraan, kenyamanan, keamanan, dan kedudukannya. Ia menghadapi permusuhan dari orang-orang yang berkuasa. Ia menolak untuk menyerah atau berkompromi. Ia melepaskan ‘ego’, yang justru merupakan hal paling sulit untuk ditanggalkan. Untuk semua inilah Ia patut dihormati. Ia dengan sukarela mengorbankan keinginan-keinginan yang biasanya mengikat manusia melalui tubuh. Pengorbanan seperti ini jauh lebih besar daripada pengorbanan tubuh yang dilakukan dalam keadaan terpaksa. 


Wacana Swami, 24 Desember 1972

Inkarnasi datang untuk memperingatkan, membimbing, membangunkan, menunjukkan jalan, dan menyinari jalan itu dengan cahaya kasih. Namun manusia harus mendengarkan, belajar, dan menaati dengan harapan serta keyakinan.

Thursday, April 2, 2026

Thought for the Day - 2nd April 2026 (Thursday)



The sacred and fragrant articles offered and the precious gems that are placed in the sacrificial fire are symbolic offerings which man should make in life. He should offer his pure heart and good qualities such as Satya, Dharma, Shanti and Prema (Truth, Virtue, Peace, and Love) to the Divine. The real spirit of giving to society and community the wealth, knowledge, and skills one possesses is the true yajna (sacrificial rite). Without the spirit of sacrifice, the performance of external rituals has no meaning. Life itself is a yajna. To make human life an oblation in the sacred fire of duties and actions is itself a yajna. To get rid of one's bad qualities is yajna. Every individual who seeks to lead an ideal life, to achieve bliss, and attain self-realisation must cultivate the spirit of sacrifice. Yajna is the means to lead one from sorrow to happiness, adversity to prosperity, darkness to light. Human life can be worthwhile only when it is based on sacrifice or the quality of renunciation. Then, life becomes meaningful, and Divinity can also be experienced. 


- Divine Discourse, Oct 16, 1983

Knowledge or strength or wealth that is not used for the good of others is useless. 


Barang-barang suci dan harum yang dipersembahkan, dan permata berharga yang diletakkan ke dalam api suci merupakan persembahan simbolis yang seharusnya manusia lakukan dalam hidup. Manusia seharusnya mempersembahkan hatinya yang suci dan sifat-sifat baik seperti Satya, Dharma, Shanti dan Prema (kebenaran, kebajikan, kedamaian, dan kasih) kepada Tuhan. Semangat sejati dari memberikan kepada masyarakat berupa kekayaan, pengetahuan, dan keahlian yang seseorang miliki adalah yajna  (pengorbanan suci) yang sesungguhnya. Tanpa adanya semangat pengorbanan maka pelaksanaan ritual-ritual lahiriah tidak memiliki makna. Hidup itu sendiri adalah sebuah yajna. Untuk membuat hidup manusia menjadi persembahan pada api suci kewajiban dan tindakan adalah yajna itu sendiri. Untuk melenyapkan sifat-sifat buruk seseorang juga merupakan sebuah yajna. Setiap individu yang ingin menjalani hidup yang ideal, untuk mencapai kebahagiaan, dan mendapatkan kesadaran diri sejati harus memupuk semangat pengorbanan. Yajna adalah sarana untuk menuntun seseorang dari penderitaan menuju kebahagiaan, kesulitan menuju kesejahtraan, kegelapan menuju cahaya. Hidup manusia dapat menjadi bernilai hanya ketika didasarkan pada pengorbanan atau sifat melepaskan. Kemudian, hidup menjadi bermakna, dan keilahian juga dapat dialami. 


Wacana Swami, 16 Oktober 1983

Pengetahuan atau kekuatan atau kekayaan yang tidak digunakan untuk kebaikan orang lain adalah sia-sia.

Wednesday, April 1, 2026

Thought for the Day - 1st April 2026 (Wednesday)



Pashyanapicha Na Pashyati Mudho (he is a fool who sees, yet does not recognise the reality). Look at everything with divine feelings. Then only will you see Divinity in everyone. But you see everything with a worldly outlook. You see the rope and mistake it for a serpent. Therefore, there is fear in you. It is necessary for you to use your discrimination to know whether it is a rope or a snake. You mistake the rope as snake due to your delusion. The moment there is delusion, there arises fear. Because of fear, you run away. When you see with the torch of discrimination, you will know it is not a snake, but a rope. When you come to know it is a rope, there is no more fear. Then you go close to the rope. When did fear go? The moment you came to know that it was a rope, there was no fear. When the delusion goes, you have courage. Courage is fearlessness. Then you experience bliss. Similarly, you should enquire and know the reality of the world. Is it mundane or divine? This is called Mimamsa (critical investigation).

- Divine Discourse, Apr 08, 1993

Outer vision leads only to delusion. Inner vision confers bliss. 


Pashyanapicha Na Pashyati Mudho (bodohlah orang yang melihat, namun ia tidak menyadari kenyataan sesungguhnya). Pandanglah segala sesuatu dengan perasaan yang ilahi. Hanya demikian engkau mampu melihat keilahian dalam diri setiap orang. Namun engkau melihat segala sesuatu dengan pandangan duniawi. Engkau melihat tali dan salah mengiranya sebagai seekor ular. Maka dari itu, ada rasa takut di dalam dirimu. Adalah perlu bagimu untuk menggunakan kemampuan membedakan untuk mengetahui apakah itu adalah tali atau ular. Engkau salah mengira tali sebagai ular karena khayalanmu. Saat ada khayalan maka muncul ketakutan. Karena rasa takut itu makanya engkau lari menjauh. Ketika engkau melihat dengan penerang membedakan, maka engkau akan mengetahui bahwa itu bukanlah ular dan hanyalah seutas tali. Ketika engkau mengetahui bahwa itu adalah seutas tali, maka tidak akan ada ketakutan. Kemudian engkau dapat mendekati tali tersebut. Kapan ketakutan itu lenyap? Saat engkau mengetahui bahwa itu seutas tali maka ketakutan itu lenyap. Ketika khayalan hilang, engkau memiliki keberanian. Keberanian adalah tanpa ketakutan. Kemudian engkau mengalami kebahagiaan.  Sama halnya, engkau harus menyelidiki dan mengetahui hakikat dunia ini. Apakah dunia ini fana atau Ilahi? Ini disebut dengan Mimamsa (penyelidikan kritis dan mendalam). 


Wacana Swami, 08 April 1993

Pandangan luar hanya mengarah pada khyalan. Pandangan ke dalam diri memberikan kebahagiaan.

Tuesday, March 31, 2026

Thought for the Day - 31st March 2026 (Tuesday)



Mahavira felt that liberation from the cycle of death and birth is the ultimate aim of a living being and therefore, he determined to do all sacred activities with this body to avoid life after death. When is birth possible? It is only when seeds exist that plants will sprout. Similarly, as long as man has seeds called desires, he cannot escape the cycle of birth and death. So, man has to be desireless. Thus, destruction of desires (Moha-kshayam) is liberation (moksham). This destruction of desires can be achieved by turning all our worldly desires towards God, and also by turning our love for our parents, children, wife, relations, as well as love for material things, towards God. All the base desires should be turned into love for God.  The three principles which are important are faith, wisdom, and practice. Knowledge is the learning related to worldly matters, but that which is related to spiritual matters is called wisdom. According to Mahavira, it is only when we follow wisdom, have faith, and practice these that we will achieve the divine Moksha.

- Divine Discourse, Mar 28, 1991

Through love, you develop faith; through faith, you acquire knowledge; through knowledge, you develop sadhana, and through sadhana, you achieve the goal. 


Mahavira meyakini bahwa pembebasan dari siklus kematian dan kelahiran adalah tujuan tertinggi dari setiap makhluk hidup dan karenanya Mahavira membulatkan tekad untuk menggunakan tubuhnya hanya melakukan semua perbuatan suci, agar tidak mengalami kehidupan setelah kematian. Kapan kelahiran dapat terjadi? Tanaman hanya mungkin tumbuh ketika masih ada benih. Sama halnya, selama manusia memiliki benih yang disebut dengan keinginan, maka manusia tidak bisa melepaskan diri dari siklus kelahiran dan kematian. Jadi, manusia harus menjadi tanpa keinginan. dengan demikian, penghancuran keinginan _(Moha-kshayam)_ adalah pembebasan _(moksham)_. Penghancuran keinginan ini dapat dicapai dengan mengarahkan semua keinginan-keinginan duniawi kepada Tuhan, dan juga dengan mengarahkan kasih kita kepada orang tua, anak-anak, istri, kerabat, serta kasih sayang kita pada hal-hal yang bersifat materi, menjadi kasih kepada Tuhan. Semua keinginan yang bersifat rendah harus diubah menjadi kasih kepada Tuhan. Tiga prinsip yang penting adalah keyakinan, kebijaksanaan, dan praketk. Pengetahuan adalah belajar terkait dengan hal-hal duniawi, namun hal-hal yang terkait spiritual disebut dengan kebijaksanaan. Menurut Mahavira, hanya ketika kita mengikuti kebijaksaan, maka kita memiliki keyakinan, dan melalui menjalankannya kita akan mencapai Moksha ilahi. 


Wacana Swami, 28 Maret 1991

Melalui kasih, engkau memupuk keyakinan; melalui keyakinan, engkau mendapatkan pengetahuan; melalui pengetahuan, engkau memupuk sadhana, dan melalui sadhana, engkau mencapai tujuan.

Monday, March 30, 2026

Thought for the Day - 30th March 2026 (Monday)



Some people say they are too weak to scale spiritual heights. But you have the strength to commit sins and do wrong actions. The strength required for good or bad actions is the same. In fact, it is more difficult to commit a sin than to be good and meritorious. To utter an untruth is difficult. To speak the truth is easy. Speaking the truth calls for no effort. But to declare what is not true as true calls for considerable ingenuity. Uttering an untruth is therefore more difficult. Equally, cheating is more arduous than being honest. Many devotees tell Swami that they are caught up in the coils of samsara (family and worldly life) and are unable to break away from it. But what is the truth? Is it you who are clinging to samsara, or is it samsara holding you in its grip? Does samsara have any hands to hold you? You have hands, and you are holding on to worldly life. It is a paradox for you to say that samsara is holding you in its grip when the truth is otherwise. Excessive attachment is the cause of man’s troubles. Do everything as an act of offering to the Divine.


- Divine Discourse, Apr 09, 1995

As you sow, so shall you reap. Sow the seeds of love and reap the fruit of love.


Beberapa orang mengatakan bahwa mereka terlalu lemah untuk bisa mencapai ketinggian spiritual. Namun engkau memiliki kekuatan untuk melakukan dosa dan menjalankan perbuatan yang salah. Kekuatan yang dibutuhkan untuk melakukan perbuatan baik dan buruk adalah sama. Malahan sesungguhnya, adalah lebih sulit untuk melakukan dosa daripada menjadi orang baik dan berguna. Untuk mengucapkan kebohongan adalah sulit. Untuk berbicara kebenaran adalah mudah. Berbicara kebenaran tidak memerlukan usaha. Namun untuk menyatakan kebohongan sebagai kebenaran membutuhkan kepintaran yang luar biasa. Maka dari itu mengatakan ketidakbenaran adalah lebih sulit. Sama halnya, berbuat curang adalah lebih sulit daripada bersikap jujur. Banyak bhakta menyampaikan kepada Swami bahwa mereka terperangkat ke dalam kehidupan duniawi dan berkeluarga (samsara) dan tidak memiliki kemampuan melepaskan diri dari ikatan ini. Namun apakah kebenarannya? Apakah dirimu yang mengikatkan diri pada samsara, atau apakah samsara yang mengikatmu? Apakah samsara memiliki tangan untuk mengikatmu? Engkau memiliki tangan, dan engkau mengikatkan dirimu sendiri pada kehidupan duniawi. Ini merupakan sebuah kontradiksi bagi dirimu dengan mengatakan bahwa samsara sedang mengikatmu ketika padahal kebenarannya justru sebaliknya. Keterikatan yang berlebihan adalah penyebab dari penderitaan manusia. Lakukan segala sesuatu sebagai sebuah tindakan persembahan kepada Tuhan. 


Wacana Swami, 9 April 1995

Apa yang engkau tabur, itulah yang engkau tuai. Taburlah benih kasih dan tuailah buah kasih.

Sunday, March 29, 2026

Thought for the Day - 29th March 2026 (Sunday)



There are two kinds of desires: One is natural. The other is excessive and misdirected desire. "I want a house" is a legitimate desire, and one should seek it. But it is greedy to possess two or more houses. Today, greed is more prevalent among men than the desire for necessities. With the result that man is afflicted with grief and worry. He has become a stranger to contentment. He is steeped in discontent on account of insatiable desires. Whenever one is thirsty, one has to drink water. When will this thirst end? Thirst will not end as long as life lasts. Even at the moment of death, people feel thirsty. How is the thirst (for material things) to be quenched? It is possible to get rid of iron shackles when they get rusty with time, but it is not easy to get rid of trishna (desire). Trishna is the cause of limitless desires. If desires are fulfilled, one’s ahamkara (ego) gets inflated. If they are not realised, hatred develops. There are three doorways to hell for man: kama (desire), krodha (anger) and lobha (greed). Desires tend to get out of bounds. Hence, it is essential to try to curb them as far as possible. The process of controlling desires is called sadhana.


- Divine Discourse, May 29, 1988

Life is a long journey. Reduce the burden of your desires. Less luggage, more comfort makes travel a pleasure. 


Ada dua jenis keinginan: pertama adalah keinginan yang bersifat wajar, kedua adalah keinginan yang bersifat berlebihan dan menyimpang. Keinginan seperti "aku ingin sebuah rumah " adalah bersifat sah dan patut untuk diupayakan. Namun merupakan keserakahan jika memiliki dua atau tiga lebih rumah. Hari ini, keserakahan adalah lebih lazim diantara manusia daripada keinginan pada kebutuhan pokok. Akibatnya, manusia dipenuhi kesedihan dan kekhawatiran. Manusia menjadi asing terhadap rasa puas dan tenggelam dalam ketidakpuasan karena keinginan yang tidak pernah berakhir. Kapanpun seseorang merasakan kehausan maka ia harus minum air. Kapan rasa haus itu akan hilang? rasa haus tidak akan hilang selama hidup masih berlangsung. Bahkan menjelang kematianpun, manusia merasakan kehausan. Bagaimana rasa haus pada benda-benda materi dapat dipuaskan? Belenggu atau ikatan rantai besi mungkin bisa terlepas seiring waktu ketika besi itu berkarat, namun tidaklah mudah untuk melepaskan keinginan (trishna). Trishna adalah penyebab dari keinginan yang tanpa batas. Jika keinginan-keinginan dipenuhi, maka ahamkara atau ego seseorang menjadi membesar. Jika keinginan-keinginan tersebut tidak terpenuhi maka kebencian akan berkembang. Ini adalah tiga pintu gerbang menuju neraka bagi manusia yaitu: kama (keinginan), krodha (kemarahan) dan lobha (kerserakahan). Keinginan cendrung melampaui batas. Oleh karena itu, adalah bersifat mendasar untuk berusaha mengendalikannya sebisa mungkin. Proses dalam mengendalikan keinginan disebut dengan sadhana.


Wacana Swami, 29 Mei 1988

Hidup adalah perjalanan yang panjang. Kurangi beban keinginanmu. Semakin sedikit “bawaan”, semakin nyaman perjalanan, dan hidup pun menjadi lebih menyenangkan.

Saturday, March 28, 2026

Thought for the Day - 28th March 2026 (Saturday)



Dharayiti iti Dharmah, it is said. Dharma is that which sustains and upholds the world. Every object in the world has certain unique qualities. The quality that is the vital essence of the object reveals its Dharma. For instance, it is the basic quality of fire to burn—burning is its Dharma. When the fire loses its capacity to burn, it ceases to be fire and becomes mere charcoal! Sweetness is the inherent quality of sugar. If sugar loses its sweetness, it is no longer sugar but sand! Champaka flower has the natural quality of exuding fragrance. If there is no fragrance in it, it is not Champaka. In the same manner, for man, the quality of Ananda (bliss) that flows from his heart is his inherent Dharma. But today, for external achievements, man forgets his inherent nature. Whether one is educated or not, there is one common Dharma: They should extend to others the same honour and regard which they expect others to show towards them. We should not do to others anything which if others do to us, will cause pain and unhappiness to us.


- Divine Discourse, Mar 26, 1988

In our ordinary daily life, the simple principle to be adhered to is - do unto others as you would like others to do unto you. 


Dharayiti iti Dharmah, demikianlah dikatakan. Dharma adalah yang menopang dan memelihara dunia. Setiap objek yang ada di dunia memiliki kualitas unik tertentu. Sifat yang menjadi inti yang mendasar dari suatu objek itulah yang menunjukkan Dharmanya. Sebagai contoh, sifat dasar api adalah membakar – jadi membakar adalah dharma dari api. Ketika api kehilangan kemampuannya dalam membakar, maka itu bukan lagi api namun sebagai arang! Rasa manis adalah kualitas alami dari gula. Jika gula kehilangan rasa manisnya maka itu bukan lagi gula, melainkan pasir! Bunga cempaka memiliki kualitas alami mengeluarkan keharuman. Jika tidak ada lagi keharuman maka itu bukan lagi bunga cempaka. Sama halnya bagi manusia, kualitas kebahagiaan (Ananda) yang memancar dari hati adalah dharma alami dari manusia. Namun hari ini, untuk mencapai keberhasilan lahiriah, manusia melupakan hakikat alaminya. Apakah seseorang adalah berpendidikan atau tidak, ada satu dharma yang berlaku bagi semuanya: mereka harus memberikan pernghormatan kepada orang lain dan perlakuan yang sama seperti yang mereka harapkan orang lain tunjukkan terhadap diri mereka. Kita seharusnya tidak melakukan pada orang lain apapun yang jika orang lain lakukan kepada kita, akan menyebabkan rasa sakit dan penderitaan kepada kita.


Wacana Swami, 26 Maret 1988

Dalam kehidupan sehari-hari kita, prinsip sederhana yang harus dipegang adalah: perlakukanlah orang lain sebagaimana engkau ingin diperlakukan.

Friday, March 27, 2026

Thought for the Day - 27th March 2026 (Friday)



The world, today, is in dire need of the message of the Rama story. For one thing, sons today do not follow the instructions of their fathers. Fathers do not set the right example to the children. Disciples do not respect the preceptors. Preceptors do not treat the disciple with affection. There is no love even between friends. Relations are estranged among themselves. In all fields of life—in administration, in agriculture or in business or in politics—discord is rampant. Divisions and conflict prevail in social, political, and even spiritual fields. If you enquire into the causes for this situation, you find that selfishness is at the root of it all. The basic elements are common to all mankind. The world itself is one family. All men are brothers. Rama preached to the world this basic truth. He taught the world the duties of one’s everyday life, one’s social and family obligations. This triple stream of duties is the message of the Ramayana. Whoever bathes in this triple stream is absolved of his sins and is redeemed.


- Divine Discourse, Apr 16, 1997

The great work of Ramayana must be read, re-read, and lived up to by everyone!


Dunia pada saat sekarang sangat membutuhkan pesan-pesan yang tersirat dalam kisah Rama. Sebagai contoh satu hal ini, anak-anak pada saat sekarang tidak mengikuti arahan dan perintah dari ayah mereka. Selain itu, sosok ayah juga tidak memberikan contoh atau teladan yang benar bagi anak-anak mereka. Itu artinya saat sekarang murid-murid tidak menghormati gurunya dan guru-guru tidak memperlakukan murid dengan kasih. Bahkan tidak ada kasih bahkan diantara sahabat sehingga hal ini menciptakan kerenggangan dalam  hubungan mereka. Dalam semua bidang kehidupan – dalam pemerintahan, pertanian atau bisnis atau politik terjadinya pertentangan begitu tidak terkendali. Perpecahan dan konflik terjadi dalam kehidupan sosial, politik dan bahkan spiritual. Jika engkau menyelidiki penyebab dari keadaan ini, maka engkau akan mendapatkan bahwa sifat mementingkan diri sendiri adalah akar dari semuanya ini. Padahal unsur yang dasar kehidupan adalah sama bagi seluruh umat manusia. Dunia ini sesungguhnya adalah satu keluarga. Semua manusia adalah saudara. Sri Rama mengajarkan kebenaran dasar ini kepada dunia. Rama mengajarkan pada dunia tentang kewajiban seseorang dalam kehidupannya sehari-hari, kewajiban sosial dan kewajiban dalam keluarga. Tiga bentuk kewajiban ini adalah pesan yang tertuang dalam kisah Ramayana. Siapapun yang menjalankan ketiga kewajiban ini akan terbebas dari dosa dan memperoleh pembebasan.


Wacana Swami, 16 April 1997

Karya agung dari Ramayana harus dibaca ulang, direnungkan kembali dan dijalankan dalam kehidupan oleh setiap orang!

Thursday, March 26, 2026

Thought for the Day - 26th March 2026 (Thursday)



Vedas are the quintessence of profound, immeasurable and infinite wisdom. In Treta Yuga, four Vedas assumed physical form and incarnated as Rama, Lakshmana, Bharata, and Shatrughna. While the Rigveda assumed the form of Rama, the Yajurveda, Samaveda, and Atharvaveda manifested in the forms of Lakshmana, Bharata, and Shatrughna, respectively. Rama symbolised the Rigveda. He was mantra-svarupa (embodiment of mantras). Lakshmana was mantra-drashta (one who contemplated on mantras), and he put the teachings of Rama into practice. He followed Rama faithfully. He considered Rama's name as the liberating mantra. Lakshmana considered Rama as everything—mother, father, guru, and God. Bharata was the embodiment of Samaveda and chanted Rama namam incessantly with bhava, raga, and tala (feeling, melody, and rhythm). While Bharata was engaged in nirguna worship (worship of God as attributeless), Lakshmana rejoiced in saguna worship (worship of God with attributes). Atharva Veda manifested itself as Shatrughna, who followed his three elder brothers and conquered not only the secular world but also achieved victory over the kingdom of senses.


- Divine Discourse, Mar 30, 2004

Ayodhya symbolises the place which cannot be penetrated by evil forces and which is invincible. That place is the heart. That is the place where Rama resides. 


Weda adalah intisari kebijaksanaan yang mendalam, tidak terukur, dan tidak terbatas. Dalam jaman Treta Yuga, empat Weda mengambil wujud fisik dan hadir dalam inkarnasi sebagai Rama, Lakshmana, Bharata, dan Shatrughna. Rigveda menjelma sebagai Rama, Yajurveda, Samaveda, dan Atharvaveda masing-masing menjelma sebagai Lakshmana, Bharata, dan Shatrughna. Sri Rama melambangkan Rigveda dimana Rama adalah mantra-svarupa (perwujudan dari mantra). Lakshmana adalah mantra-drashta (seseorang yang merenungkan mantra), dan menjalankan ajaran Rama dalam kehidupan. Lakshmana mengikuti Rama dengan penuh kesetiaan dan menganggap nama suci Rama sebagai mantra yang membebaskan. Bagi Lakshmana, Rama adalah segalanya yaitu sebagai ibu, ayah, guru, dan Tuhan. Bharata adalah perwujudan dari Samaveda dan melantunkan nama suci Rama dengan penuh bhava, raga, dan tala (perasaan, melodi, irama). Sedangkan Bharata menjalankan pemujaan bersifat nirguna (pemujaan Tuhan yang tanpa atribut), Lakshmana bersuka cita dalam ibadah dalam bentuk saguna (memuja Tuhan dengan atribut). Atharva Veda mewujudkan dirinya sebagai Shatrughna, yang mengikuti ketiga saudaranya dan menaklukkan tidak hanya dunia luar namun juga mencapai kemenangan pada pengendalian indra.


Wacana Swami, 30 Maret 2004

Ayodhya melambangkan tempat dimana tidak dapat ditembus oleh kekuatan jahat dan yang tidak terkalahkan. Tempat itu adalah hati. Itu adalah tempat tinggal Rama.

Wednesday, March 25, 2026

Thought for the Day - 25th March 2026 (Wednesday)



Man’s life is meaningful only because he can use it to see God. The goal of life is the final merging in the sea - God. You should not fill life with the world; that will make it a vanity fair, an insanity fair. Listen to all such things which will draw you towards the principle of Godhead; then, think it over in the silence, and make them part of your consciousness. This process of manana (reflection) makes you a man; that is the test of man. Kaliya was a huge serpent, full of poison, rolling in death and destruction. He is the representative of man, rolling in sensory objects which are like poison so far as their effect on life is concerned. Vishaya (sensory object) is the most deadly visa (poison). When Krishna danced on the head of Kaliya, the poison was all vomited! And the serpent was subdued. When God is revered, the world and all its poisonous fumes recede, and you are restored to original health. Make the Name and Form of the Lord dance upon the hood of your heart.


- Divine Discourse, Sep 06, 1963

Even objective desires will be transmuted into higher spheres of purity when one approaches the Lord.


Hidup manusia penuh makna hanya karena manusia dapat menggunakannya untuk melihat Tuhan. Tujuan hidup pada hakikatnya adalah penyatuan akhir dengan lautan keilahian - Tuhan. Oleh karena itu, engkau seharusnya tidak mengisi hidup dengan hal-hal duniawi; sebab itu hanya akan menjadikan hidup sebagai kesenangan sementara yang hampa dan kacau balau. Sebaliknya, dengarkanlah semua hal yang dapat menarikmu menuju prinsip keilahian; kemudian, renungkanlah itu dalam keheningan, serta jadikanlah semuanya menjadi bagian dari kesadaranmu. Proses perenungan ini (manana) yang benar-benar menjadikanmu seorang manusia sejati; itu pula ukuran manusia. Sebagai ilustrasi, Kaliya dulunya adalah seekor ular raksasa yang sangat berbisa, pembawa kematian dan kehancuran. Kisah Kaliya ini menggambarkan manusia yang tenggelam dan terombang-ambing dalam objek-objek indria, yang bagaikan racun mematikan bagi kehidupan. Vishaya memanglah racun (visa) paling mematikan. Ketika Sri Krishna menari di atas kepala Kaliya, semua racun itu dimuntahkan, dan ular itu pun menjadi jinak. Demikian pula, ketika Tuhan dipuja, dunia beserta racun-racunnya menjauh, sehingga engkau dipulihkan ke keadaan asli yang sehat. Jadikanlah nama dan wujud Tuhan menari di atas pelindung hatimu.


Wacana Swami, 6 September 1963

Bahkan keinginan-keinginan duniawi akan berubah menjadi lebih murni dan luhur ketika seseorang mendekati Tuhan. 

Tuesday, March 24, 2026

Thought for the Day - 24th March 2026 (Tuesday)



All experiences of pleasure and pain have their origin in the thoughts of man. Thought is like the seed of a tree, which in due course puts forth branches, leaves, flowers, and fruits. All that you see in a tree has come from a small seed. Likewise, although man’s thought is subtle, it contains potentially the entire universe. The atom is the microcosm of the Universe. You are aware of the huge size of the banyan tree. Its seed, however, is very small. The seed and the tree are essentially one. Man has to keep a watch over his thoughts because they form the basis for his actions. When his wishes are fulfilled, he is content. When they are not realised, he feels disappointed. Man does not enquire into the causes of these divergent results. His failures are the result of his own shortcomings. When his heart is pure, his actions yield beneficial results. His thoughts are the cause of the success or failure of his efforts. Hence, man must utilise his thoughts in the proper manner. His vision of the world depends on how he looks at it. “As he feels, so he becomes.” When one’s thoughts are sublime, the results are also sublime.


- Divine Discourse, 10 Mei 1992.

Desire creates a mirage where there was none before. Desire imposes beauty where there was none before; it clothes things with desirability.


Semua bentuk pengalaman kesenangan dan kepedihan bermula dari pemikiran manusia. Pemikiran itu ibarat benih pohon, yang pada waktunya akan menghasilkan cabang, dedaunan, bunga, dan buah. Semua yang engkau lihat pada pohon itu bermula dari sebuah benih yang sangat kecil. Sama halnya, walaupun pemikiran manusia bersifat halus, namun di dalamnya terkandung potensi seluruh alam semesta - seperti atom yang merupakan versi mini dari alam semesta itu sendiri. Misalnya, engkau menyadari betapa besarnya pohon beringin, namun ukuran benihnya sangat kecil; pada dasarnya, benih dan pohon adalah satu. Oleh karena itu, manusia harus mengawasi segala bentuk pemikirannya, sebab semua pemikiran itu menjadi dasar dari tindakannya. Ketika keinginannya terpenuhi, maka ia merasa senang; sebaliknya, ketika keinginan tersebut tidak terpenuhi, ia merasa kecewa. Sayangnya, manusia sering tidak menyelidiki sebab dari keadaan yang berbeda ini. Kegagalan yang dialami sebenarnya adalah hasil dari kelemahan dirinya sendiri. Ketika hatinya murni, maka tindakannya menghasilkan hasil yang bermanfaat. Pemikirannya pun menjadi penyebab utama keberhasilan atau kegagalan dari usaha yang dilakukannya. Dengan demikian, manusia harus menggunakan pemikirannya dengan cara yang benar. Pandangan seseorang tentang dunia tergantung dari bagaimana ia melihatnya: “Sebagaimana ia merasa, demikianlah ia menjadi.” Ketika pemikiran seseorang luhur, hasilnya juga bersifat luhur.

 

- Wacana Swami, 10 Mei 1992.

Keinginan menciptakan sebuah fatamorgana yang sebelumnya tidak ada. Selain itu, keinginan meletakkan keindahan yang sebelumnya tidak ada; ia juga membungkus sesuatu dengan daya tarik.

Monday, March 23, 2026

Thought for the Day - 23rd March 2026 (Monday)



Men today are misusing all their knowledge, wealth, energies and talents for purely material ends and wasting their lives. Leading a worldly life is unavoidable. But in doing so, the spiritual goal should be borne in mind. The goal is spiritual; actions are worldly. It is when actions are dedicated to spiritual ends that they become sanctified. Unfortunately, today, even spiritual practices are tainted with mundane motives. It is because of the intensely spiritual life led by kings, sages, scholars and pious men and women in ancient days that even today the spiritual heritage of Bharat has survived the vicissitudes of centuries. Men should realise their inherent divinity and live up to their true nature. If their real nature is forgotten and their behaviour is far from human, they cease to be human beings. For instance, sweetness is the basic quality of jaggery. If it loses its sweetness, it ceases to be jaggery and is just a piece of clod. Likewise, for man to be regarded as man, he has to manifest his humanness by practising Trikarana shuddhi - purity in thought, word and deed. Without this purity, man is merely a lump of clay.


- Divine Discourse, Mar 27, 1990.

Only when there is harmony between one’s words and actions, a man can achieve great things in his life. 


Manusia pada hari ini menyalahgunakan semua pengetahuan, kekayaan, energi, dan talenta mereka semata-mata untuk tujuan materi dan menyia-nyiakan hidupnya. Menjalani kehidupan duniawi adalah sesuatu yang tidak dapat dihindarkan. Namun dalam menjalani kehidupan duniawi, tujuan spiritual harus selalu diingat. Tujuannya adalah spiritual; tindakannya adalah duniawi. Hanya ketika tindakan didedikasikan pada tujuan akhirnya adalah spiritual, barulah tindakan tersebut menjadi disucikan. Namun sangat disayangkan, bahkan praktek spiritual dinodai dengan motif duniawi. Oleh karena kehidupan spiritual yang begitu mendalam yang dijalankan oleh para raja, guru-guru suci, para cendekiawan dan mereka yang berbudi pekerti luhur di masa lampau sehingga warisan spiritual bharat tetap bertahan hingga hari ini meskipun telah melewati berbagai perubahan zaman selama berabad-abad. Manusia harusnya menyadari keilahian yang melekat di dalam diri mereka dan hidup sesuai dengan sifat sejati mereka. Jika sifat sejati itu dilupakan dan perilaku manusia jauh dari sifat sejati manusia, mereka tidak layak disebut sebagai manusia. Sebagai contoh, rasa manis adalah sifat dasar dari gula merah. Jika gula merah itu kehilangan rasa manisnya, maka gula merah itu tidak bisa disebut gula merah lagi dan hanyalah sebuah gumpalan saja. Sama halnya, agar manusia layak disebut sebagai manusia, maka ia harus mewujudkan kemanusiaannya dengan menjalankan Trikarana shuddhi – kesucian dalam pikiran, perkataan dan tindakan. Tanpa adanya kesucian ini, manusia hanyalah seperti segumpal tanah liat.


- Wacana Swami, 27 Maret 1990.

Hanya ketika terdapat keselarasan diantara perkataan dan tindakannya, maka seseorang dapat mencapai hal-hal hebat dalam hidupnya.

Sunday, March 22, 2026

Thought for the Day - 22nd March 2026 (Sunday)



In many of the religious practices today, there is concern only for observing the external forms, with little regard for the inner significance of these rites. For instance, one wishes to offer a coconut to the idol in a temple. No care is taken to see whether the coconut is a good one or not. The mere breaking of a coconut, even if it is a rotten one, is considered enough for fulfilling the offering. Note the inner significance of the ritual. The coconut is a symbol of the heart. Before it is offered to God, all outer fibre must be removed. The spiritual meaning is removing tamasika (dark) tendencies from our heart. The shell of the coconut symbolises rajoguna (qualities of passion and restlessness) in us. The white kernel inside the coconut represents the satvaguna (purity). What we have to offer to God is a pure heart without tamasika and rajasika qualities such as anger, hatred, and attachment. It is this purity of heart that must be manifested in making any offering to God, and not the mechanical breaking of a coconut as a meaningless ritual.


- Divine Discourse, Apr 10, 1986

In every small act of worship, one must have regard for its inner significance and sacredness and do it with earnestness and purity. 


Dalam banyak kegiatan keagamaan hari ini, yang hanya menjadi perhatian adalah bentuk-bentuk luar dan sedikit memperhatikan pada makna di balik setiap ritual yang dilakukan. Sebagai contoh, seseorang berdoa dengan mempersembahkan sebuah kelapa di depan arca perwujudan Tuhan di kuil. Tidak ada usaha untuk memastikan apakah kelapa itu bagus atau tidak. Terpenting adalah memecahkan kelapa, bahkan jika kelapa itu busuk, dianggap cukup untuk memenuhi ritual upacara keagamaan. Perhatikan makna atau arti di balik pemecahan buah kelapa dalam ritual ini. Kelapa adalam simbol dari hati. Sebelum dipersembahkan kepada Tuhan, semua lapisan luar dari kelapa harus dihilangkan. Makna spiritual dari tindakan ini adalah menghilangkan sifat kegelapan (tamasika) dari hati kita. Tempurung kelapa melambangkan sifat nafsu dan kegelisahan (rajoguna) dalam diri kita. Sedangkan bagian putih yang ada dalam kelapa melambangkan sifat kesucian (satvaguna). Apa yang harus kita persembahkan kepada Tuhan adalah hati yang murni tanpa adanya sifat-sifat tamasika dan rajasika seperti kemarahan, kebencian, dan keterikatan. Kesucian hati inilah yang harus diwujudkan dalam melakukan persembahan apapun kepada Tuhan, dan bukan hanya sekedar memecahkan kelapa secara mekanis sebagai ritual yang tanpa makna.


- Divine Discourse, 10 April 1986

Dalam setiap tindakan kecil suatu ibadah, seseorang harus memperhatikan makna dan kesuciannya, serta melakukannya dengan sungguh-sungguh dan kemurnian.

Saturday, March 21, 2026

Thought for the Day - 21st March 2026 (Saturday)



People have belief in things which should not be believed, but do not believe that which they ought to believe. People are ready to believe in the statements of the author of an almanac or the predictions of a parrot kept by a pavement astrologer or a roadside palmist, but will not believe in the sacred pronouncements of the Vedas. The Vedas have declared: Tat Twam Asi, Aham Brahmasmi, So Ham (Thou art that, I am Brahman, I am He). The Vedic dictum, So Ham, is confirmed by the inhaling and exhaling that go on in everyone. But no one believes in it. People believe in the films, in novels, newspapers and many other sources. But one does not believe in the truth of one’s own Atma (Self). As a result, man is growing weaker and losing his humanness because of the lack of faith in his own Self. A man without Atma-Vishwasa (Self-confidence) is no man at all. Without Self-confidence, how can he get Self-satisfaction? Lacking Self-satisfaction, how can he hope for Self-Realisation? This is impossible. Hence, the mansion of Self-Realisation has to be erected on the foundation of Self-confidence, with the walls of Self-satisfaction and the ceiling of Self-sacrifice.


- Divine Discourse, Mar 24, 1993

All the pleasures, positions and riches of the world will not confer on you real peace and security. Only faith in the Self can ensure this. 


Manusia mempercayai sesuatu yang seharusnya tidak dipercayai, tetapi tidak mempercayai sesuatu yang seharusnya diyakini. Manusia cepat mempercayai perkataan ramalan atau perkiraan dari burung beo milik peramal jalanan, atau pembaca garis tangan di pinggir jalan, tetapi tidak mau mempercayai ajaran suci dari Weda. Weda telah menyatakan: Tat Twam Asi, Aham Brahmasmi, So Ham (Engkau adalah Brahman, Aku adalah Brahman, Aku adalah Brahman). Ajaran Weda terkait So Ham bahkan ditegaskan oleh proses tarik dan hembus napas yang berlangsung dalam diri setiap orang. Namun, tidak ada yang benar-benar mempercayainya. Manusia mempercayai yang ada dalam film, dalam novel, surat kabar, dan banyak sumber lainnya. Namun seseorang tidak mempercayai pada kebenaran Atma (Diri Sejati) dalam dirinya sendiri. Sebagai hasilnya, manusia tumbuh semakin lemah dan kehilangan kemanusiannya karena kurangnya keyakinan pada Dirinya yang Sejati. Seorang manusia tanpa adanya kepercayaan pada Diri Sejati (Atma-Vishwasa) sama sekali bukanlah manusia. Tanpa kepercayaan pada Diri Sejati, bagaimana seseorang dapat memperoleh kepuasan Diri? Tanpa adanya kepuasan Diri, bagaimana ia bisa berharap untuk mencapai kesadaran Diri? Hal ini adalah tidak mungkin. Oleh karena itu, bangunan kedasaran Diri harus didirikan di atas: fondasi kepercayaan Diri, dengan dinding kepuasan Diri, dan atap pengorbanan Diri.


- Divine Discourse, 24 Maret 1993

Semua bentuk kesenangan, jabatan dan kekayaan di dunia tidak akan memberikanmu kedamaian dan keamanan sejati. Hanya keyakinan pada Diri Sejati yang dapat memastikan ini.

Friday, March 20, 2026

Thought for the Day - 20th March 2026 (Friday)



People in the world attach value to all kinds of objects, ideals and personalities. God, however, is not attracted by external appearances but values only the inner spiritual urges. Parvati was the most beautiful woman in the world. Conscious of her charms, she wished to wed the Lord Himself. But the Lord does not succumb to external attraction. Disappointed by her failures, Parvati embarked on a very severe penance. Indifferent to sun and rain, wind and weather, Parvati concentrated her thoughts on the Lord, wearing out her body in her tapas. Because of the penance, she lost all her beauty. All her physical powers were gone. At that moment, the Lord accepted her as one half of His body. What is the inner meaning of this episode? Prakriti (Nature) is Parvati. This Prakriti is filled with various kinds of pride: the pride of wealth, strength, beauty, knowledge, virtues, power and penance. It is only when man gets rid of these eight categories of pride will he become acceptable to God. So long as ego prevails, the power of the Spirit will not be cognised. Without realising the power of the Spirit, man cannot experience the bliss of the Divine.


- Divine Discourse, Mar 27, 1990

So long as your heart is not clean, God will have no place in your heart. 


Manusia di dunia memberikan nilai pada semua jenis objek, nilai-nilai yang dianggap ideal, serta kepribadian. Tetapi Tuhan tidak melihat semua itu. Tuhan hanya melihat dorongan ketulusan batin. Parvati merupakan perempuan yang paling cantik di dunia. Menyadari kecantikannya, ia ingin mendekati dan mendapatkan Tuhan sendiri. Tetapi Tuhan tidak terpengaruh oleh daya tarik lahiriah. Karena kecewa atas kegagalannya, Parvati menjalani tapa yang sangat berat. Parvati tidak menghiraukan panas, hujan, angin, dan cuaca. Ia memusatkan seluruh pikirannya kepada Tuhan, hingga tubuhnya menjadi lemah karena pertapaannya. Karena tapa brata yang dilakukannya, Parvati kehilangan semua kecantikan dan kekuatan fisiknya. Pada saat itulah, Tuhan menerimanya sebagai separuh dari diri-Nya. Apa makna yang ada dibalik kisah ini? Prakriti (alam) adalah simbol dari Parvati. Prakriti ini diliputi dengan berbagai jenis kesombongan seperti: kesombongan karena kekayaan, kekuatan, kecantikan, pengetahuan, kebajikan, kekuasaan dan tapa brata. Hanya ketika manusia melepaskan kedelapan bentuk kesombongan ini maka barulah ia dapat diterima oleh Tuhan. Selama masih ada ego, kekuatan dari Atma tidak dapat disadari. Tanpa menyadari kekuatan dari Atma, manusia tidak bisa mengalami kebahagiaan Tuhan.


- Divine Discourse, 27 Maret 1990

Selama hatimu tidak bersih maka Tuhan tidak memiliki tempat di dalam hatimu.

Tuesday, March 17, 2026

Thought for the Day - 17th March 2026 (Tuesday)



If a sculptor could create out of an inanimate piece of stone a living image of God, cannot human beings, vibrant with life, manifest the living Divinity that resides in them? What is the reason for this incapacity to realise the Divinity within? It is because we do not realise the soiled cover in which it is wrapped up. If our clothes get dirty, we change them because we are ashamed to appear in dirty garments. If our house is dirty, we try to clean it so that visitors may not get a bad impression. But when our minds and our hearts are polluted, we do not feel ashamed. Is it not strange that we should be so much concerned about the cleanliness of our clothes or our homes, but are not concerned about the purity of our hearts and minds, which affect our entire life? To purify our hearts and minds, the first thing is that we have to lead a righteous life. Our actions must be based on morality. Indulging in abusing others or inflicting pain on others is not a sign of human nature. The evil that we do to others ultimately recoils on us.


- Divine Discourse, Apr 2, 1984

True spirituality lies in removing bad and animal qualities and developing virtues. 


Jika seorang pemahat dapat membuat arca Tuhan yang hidup dari sebongkah batu yang tidak bernyawa, tidakkah manusia yang diliputi getaran kehidupan dapat mewujudkan kualitas keilahian yang terpendam dalam dirinya? Apa alasan dibalik ketidakmampuan manusia dalam menyadari keilahian di dalam dirinya? Ini karena kita tidak menyadari lapisan kotor yang menyelimuti keilahian itu. Ambilah contoh, jika pakaian kita kotor, kita menggantinya segera karena kita merasa malu tampil dengan pakaian yang kotor. Jika rumah kita kotor, kita segera berusaha membersihkannya sehingga tamu yang datang tidak mendapatkan kesan yang buruk. Namun ketika pikiran dan hati kita tercemar, kita tidak merasa malu. Bukankah hal yang aneh ketika kita begitu peduli dengan kebersihan pakaian dan rumah kita, namun kita tidak memberikan perhatian dan kepedulian pada kesucian hati dan pikiran kita, yang mana mempengaruhi seluruh hidup kita? Untuk memurnikan hati dan pikiran kita, hal pertama yang harus kita lakukan adalah menjalani hidup yang benar. Tindakan kita harus berdasarkan pada moralitas. Terlibat dalam menghina atau menyakiti orang lain bukanlah tanda dari sifat manusia. Kejahatan yang kita lakukan pada orang lain pada akhirnya nanti akan kembali pada diri kita sendiri.


- Divine Discourse, 2 April 1984

Spiritualitas yang sejati terletak pada menghilangkan sifat-sifat buruk dan kebinatangan serta mengembangkan kebajikan.