Thursday, May 28, 2026

Thought for the Day - 28th May 2026 (Thursday)



When I see the long lines of people going to church every Sunday, I am glad; but, when I find you talking apologetically of your visits to temples and sages, I dislike it. Why not assert that you had been to a temple or sage, boldly, with heads erect? Why yield to worry and misery, claiming all the time that you are a believer in God? When a bus is speeding along, a cloud of dust follows it; when it halts, the passengers get the dust all over. But, how far can you travel without bringing the bus to a halt? The one consolation is: you need not always speed along the mud road; better roads are in store. The mud road is the Samithi Road (managed by the village Panchayat); the metalled road, which comes later, is the Zilla Parishad Road; at last, you get on into the asphalt road, the road of the Highways Department, where the bus will not drag behind it any cloud of dust. The mud road is the karma marga (road of activity), the metalled road is upasana marga (road of worship and contemplation), and the asphalt road is jnana marga (road of divine knowledge and wisdom). Join the jnana marga soon; then, there will be no dust. In spiritual matters, faith is the basic requisite for progress. That faith has to be guarded carefully. Yield to the Lord, who is more kin to you than your own parents; yield to no other. Do not allow your faith to falter with every passing gust of wind.


-- Divine Discourse, May 23, 1966

Your duty is to carry on sadhana undisturbed by what others may say, holding fast to the certitude of your own experience 


Ketika Aku melihat panjangnya antrean manusia yang pergi ke Gereja setiap hari Minggu, Aku merasa senang. Tetapi ketika Aku melihat ada orang yang berbicara dengan rasa malu atau seolah meminta maaf karena pergi ke Kuil atau menemui orang suci, Aku tidak menyukainya. Mengapa tidak dengan berani mengatakan bahwa engkau pergi ke Kuil atau menemui seorang bijak, dengan kepala tegak dan penuh keyakinan? Mengapa harus hidup dalam kecemasan dan kesedihan, sementara terus mengaku percaya kepada Tuhan? Ketika sebuah bus melaju kencang di jalan tanah, debu akan beterbangan di belakangnya. Saat bus berhenti, para penumpang akan terkena debu itu. Tetapi bagaimana mungkin seseorang dapat menempuh perjalanan jauh tanpa sesekali menghentikan bus? Namun ada satu penghiburan: kamu tidak akan selamanya berjalan di jalan berlumpur; jalan yang lebih baik telah menantimu. Jangan lumpur adalah jalan samithi (dikelola oleh desa Panchayat); setelah itu ada jalan berbatu yang lebih baik, yaitu Jalan Zilla Parishad. Dan pada akhirnya, engkau akan sampai pada jalan beraspal milik Departemen Jalan Raya, di mana bus tidak lagi meninggalkan kepulan debu di belakangnya.  Jalan tanah itu adalah karma marga (jalan tindakan dan aktivitas). Jalan berbatu yang lebih baik ibarat upasana marga (jalan pemujaan dan kontemplasi). Dan jalan aspal yang halus ibarat jnana marga (jalan pengetahuan dan kebijaksanaan spiritual). Segeralah menapaki jnana marga, maka debu kehidupan tidak lagi mengganggu perjalananmu. Dalam kehidupan spiritual, keyakinan adalah syarat utama untuk maju. Keyakinan itu harus dijaga dengan sungguh-sungguh. Berserahlah kepada Tuhan, yang bahkan lebih dekat daripada orang tuamu sendiri; jangan berserah kepada yang lain. Jangan biarkan keyakinanmu goyah hanya karena tiupan angin yang lewat sekilas.


-- Wejangan Sai, 23 Mei 1966

Kewajibanmu adalah tetap menjalankan sadhana dengan tenang tanpa terganggu oleh apa yang dikatakan orang lain, sambil berpegang teguh pada keyakinan yang lahir dari pengalaman batinmu sendiri.

Wednesday, May 27, 2026

Thought for the Day - 27th May 2026 (Wednesday)



If the mind concerns itself with worldliness, then it is separated from the light of the atma and this separation causes mental perturbation. In order to have a vision of God you have to purify the inner instruments and conduct a virtuous life. We should keep our intelligence disengaged from worldly issues. Intelligence should not be made a tool to satiate physical and mental obsessions. On the other hand, it should be used for the revelation of Atma. It should only be a witness and remain unaffected by the surroundings. Then it is in a state of nivritti (inward path of renunciation). In this context, the sacrifice of work cannot be something which relates to nivritti. Sacrifice of one’s desires alone can be associated with nivritti. People sometimes refer to karma-phala-tyaga (renunciation of fruits of action) and say one must sacrifice the results of whatever work one does. If this is so, they argue no work needs to be done at all and they assert this is what the Bhagavad Gita teaches us. Nothing can be farther from truth. No one can sacrifice all work and yet live! The body is created for doing work. So everyone must perform work. But in doing such work, if your thoughts are sacred, you will do good work without seeking fruit thereof.


-- Summer Showers, Jun 11, 1973

It is only when the thoughts are good that the actions will be pure. When man’s actions are pure, society will be healthy and peaceful.

 

Jika pikiran terus dipenuhi urusan duniawi, maka ia akan terpisah dari cahaya Atma dan keterpisahan inilah yang menimbulkan kegelisahan batin. Untuk memperoleh pandangan terhadap Tuhan, seseorang harus menyucikan alat-alat batinnya dan menjalani kehidupan yang bajik. Kecerdasan manusia seharusnya tidak terus-menerus dipakai untuk urusan duniawi semata. Kecerdasan tidak boleh dijadikan alat untuk memuaskan obsesi fisik dan mental. Sebaliknya, kecerdasan harus digunakan untuk menyadari Atma. Ia harus menjadi saksi yang tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh keadaan di sekitarnya. Keadaan seperti inilah yang disebut nivritti, yaitu jalan batin menuju pelepasan. Dalam konteks ini, yang dimaksud bukan meninggalkan semua pekerjaan atau berhenti bertindak. Yang benar-benar harus dilepaskan adalah keinginan seseorang. Banyak orang memahami karma-phala-tyaga (melepaskan buah dari tindakan) secara keliru dan berkata bahwa seseorang harus melepaskan hasil dari apapun pekerjaan yang dilakoninya. Mereka berpikir bahwa ajaran itu berarti seseorang tidak perlu bekerja sama sekali, dan mereka menganggap itulah ajaran Bhagavad Gita. Pemahaman seperti itu sangat jauh dari kebenaran. Tidak ada seorang pun yang dapat meninggalkan semua pekerjaan namun tetap bisa hidup! Tubuh manusia memang diciptakan untuk bekerja. Karena itu, setiap orang harus melakukan tugas dan pekerjaannya. Namun ketika bekerja, jika pikiran dan niatnya suci, maka ia akan melakukan pekerjaan yang baik tanpa terikat pada hasil atau imbalannya.


-- Wacana Musim Panas, 11 Juni 1973

Hanya ketika pikiran seseorang baik, tindakannya akan menjadi murni. Dan ketika tindakan manusia menjadi murni, masyarakat akan hidup sehat dan damai.

Tuesday, May 26, 2026

Thought for the Day - 26th May 2026 (Tuesday)



Many look down upon acts like cleaning of streets, relief to the sick, feeding the hungry, and service to the poor and destitute as undignified. This is a grievous mistake. The supreme Lord of the three worlds, Sri Krishna Himself, when He came down to proclaim the divine destiny of man, rendered service to beasts and birds. He tended horses and cows with love. In the great Kurukshetra war, disinclined to wield the sword, He was content to figure as a mere charioteer. He made known thereby the ideal of selfless service. The underlying truth of karma yoga is the demonstration of the unity that subsumes the diversity in the universe. Nishkama karma (desireless action) demonstrates and promotes the love principle. There is no greater spiritual sadhana than service. The tendency to distinguish between the spiritual path, the path of service, and the path of knowledge, and regard them as separate is wrong. The three are not distinct; they are one. Seva (service) is spiritual knowledge. Seva is the primary means to acquire divine grace. Without being a devoted follower, you cannot become a worthy leader. Without being a kinkara (one who is ready to do any work), you cannot become a Shankara (the divine). Each one has to realise this truth. Service to society is the highest good.


-- Divine Discourse, Nov 17, 1985

The spirit of service should be coupled with readiness for sacrifice. Only then can it be called selfless service, free from any taint of self-interest. 


Banyak orang memandang rendah tindakan seperti membersihkan jalan, membantu orang sakit, memberi makan kepada yang lapar, atau melayani kaum miskin dan terlantar. Pandangan seperti ini adalah kesalahan besar. Sri Krishna, Tuhan Yang Mahatinggi penguasa tiga dunia, ketika turun ke dunia untuk menyampaikan tujuan suci kehidupan manusia, justru memberikan pelayanan kepada hewan dan unggas. Dengan penuh kasih, Beliau merawat kuda dan sapi. Dalam perang besar Kurukshetra, Beliau bahkan tidak memilih mengangkat senjata, melainkan rela menjadi kusir kereta perang. Melalui itu semua, Krishna menunjukkan teladan pelayanan tanpa pamrih. Kebenaran mendasar dari karma yoga adalah menyadari kesatuan yang ada di balik keberagaman alam semesta ini. Nishkama karma (tindakan tanpa pamrih) menumbuhkan dan memperlihatkan prinsip cinta kasih. Tidak ada sadhana (latihan spiritual) yang lebih tinggi daripada pelayanan. Anggapan bahwa jalan spiritual, jalan pelayanan, dan jalan pengetahuan adalah tiga hal yang berbeda merupakan pemahaman yang keliru. Ketiganya sesungguhnya tidaklah berbeda namun merupakan satu kesatuan. Seva (pelayanan) adalah pengetahuan spiritual itu sendiri. Seva adalah sarana utama untuk memperoleh rahmat Tuhan. Tanpa menjadi seorang pengikut setia, seseorang tidak akan mampu menjadi pemimpin yang sejati. Tanpa menjadi kinkara (orang yang siap melakukan pekerjaan apa pun dengan rendah hati), seseorang tidak akan mampu menjadi Shankara (Tuhan). Setiap orang harus memahami kebenaran ini:

pelayanan kepada masyarakat adalah kebajikan tertinggi.


-- Wejangan Swami, 17 November 1985

Semangat pelayanan harus disertai kesiapan untuk berkorban. Hanya dengan itulah pelayanan dapat disebut sebagai pelayanan tanpa pamrih, yang bebas dari kepentingan pribadi.

Monday, May 25, 2026

Thought for the Day - 25th May 2026 (Monday)



The individual full of Aham (I-ness) loves to exercise authority over others. He will not like listening to others. Even if the others’ counsel is good for him, due to his stubbornness, he will not like it. Such individuals see everything through ‘a jaundiced eye’, coloured by the smoke of self-conceit. “My words are true,” “My opinion is correct,” “My deeds are right,” they feel, and thus they spend their days in such stubbornness! Such behaviour is very harmful for sadhakas (spiritual aspirants). The sadhaka must be eagerly looking forward to any helpful criticism or suggestion, or advice from any quarter. When he makes any mistake, he should not try to justify himself. It can lead to unwarranted argumentations and if he does not succeed in arguments, it will lead to vengeful fighting. Do not struggle to earn the esteem of the world. Do not feel humiliated or angry when the world does not recognise you or your merits. Learn these first and foremost, if you are an aspirant and put them into practice.  You should not fall into joy, when you are being praised; therein lies a deadly trap, which might even lead you astray and endanger your progress. Try to learn and absorb things that are good for you from the advice of others and behave accordingly. Train yourself to take insult and criticism as deviations and digressions. 


-- Dhyana Vahini, Ch 14

There is no trace of ego in man at the time of birth, but it develops as he grows up. The feelings of ‘I’ and ‘mine’ are responsible for man’s bondage 


Seseorang yang dipenuhi oleh aham (rasa keakuan atau ego) selalu ingin menguasai orang lain. Ia tidak suka mendengarkan pendapat orang lain. Bahkan jika nasihat itu baik baginya, karena keras kepala, ia tetap menolaknya. Orang seperti ini memandang segala sesuatu dengan dengan penuh rasa curiga/sinis, pandangannya telah dikaburkan oleh asap kesombongan diri. Ia merasa: “Perkataanku pasti benar.” “Pendapatku paling tepat.” “Tindakanku selalu benar.” Dengan sikap keras kepala seperti itu, ia menjalani hidupnya. Perilaku semacam ini sangat berbahaya bagi seorang sadhaka (pencari spiritual). Seorang sadhaka seharusnya terbuka menerima kritik, saran, dan nasihat yang bermanfaat dari siapa pun. Ketika melakukan kesalahan, ia tidak boleh sibuk membenarkan dirinya sendiri. Sikap seperti itu hanya akan menimbulkan perdebatan yang tidak perlu. Jika gagal dalam perdebatan, hal itu dapat berubah menjadi kebencian dan pertengkaran. Jangan berjuang hanya untuk mendapatkan pujian dan penghargaan dari dunia. Jangan merasa hina atau marah ketika dunia tidak mengakui dirimu atau kemampuanmu. Inilah pelajaran yang pertama dan utama yang harus dipahami dan dipraktikkan oleh seorang pencari spiritual.  Engkau juga tidak boleh larut dalam kegembiraan ketika dipuji. Di balik pujian tersembunyi jebakan yang berbahaya, yang dapat menyesatkan dan menghambat kemajuan spiritualmu. Belajarlah menerima hal-hal baik dari nasihat orang lain dan terapkan dalam hidupmu. Latih dirimu untuk menerima hinaan dan kritik hanya sebagai gangguan sementara.


-- Dhyana Vahini, Ch 14

Pada saat lahir, manusia tidak memiliki ego. Namun ego berkembang seiring pertumbuhannya. Perasaan “aku” dan “milikku” itulah yang menjadi penyebab keterikatan manusia.

Sunday, May 24, 2026

Thought for the Day - 24th May 2026 (Sunday)



To inculcate the truth of spirituality, you can take the example of animals, which get sanctity and become objects of worship when they are in the company of the Divine. The snake, when it is around the neck of Lord Shiva, is worshipped by all. When it is encountered elsewhere, people do not hesitate even to kill it. Similarly, the mouse, which is the vehicle of Vinayaka, is an object of worship when it is with Vinayaka, but when it is seen in your house, you trap it and try to do away with it. This teaches the lesson that when we are in the company of God, we are held in high esteem. Just as the limbs are part of our body, we are all the limbs of the body of the cosmic form. The cosmic form is of thousands of heads, feet, hands and eyes. All the bodies of beings are His. If we develop strong faith in this, we can understand Divinity in its true spirit. When we see the Bull in the Shiva temple made of stone, we worship it. When we see a bull in our everyday life, we do not hesitate even to hit it. This is due to the ignorance of man who does not see God in every being. God is in every being, from an ant to an elephant!  


-- Divine Discourse, Apr 23, 1998

If we can really understand the secret of creation around us, our minds will not go after the attractions of the material world. There is nothing more wonderful or awe-inspiring than God’s creation 


Untuk menanamkan kebenaran spiritual, kita dapat mengambil contoh dari hewan-hewan yang memperoleh kesucian dan penghormatan ketika berada dalam hubungan dengan Tuhan. Ular, misalnya, ketika melingkar di leher Dewa Shiva, dipuja oleh banyak orang. Tetapi ketika ular ditemui di tempat lain, orang tidak segan untuk membunuhnya. Sama halnya dengan tikus yang merupakan wahana dari Vinayaka atau ganesha, menjadi objek pemujaan ketika terhubung dengan Vinayaka, namun ketika tikus terlihat di dalam rumahmu, engkau justru memasang perangkap dan berusaha menyingkirkannya. Dari sini kita belajar bahwa ketika seseorang berada dekat dengan Tuhan, ia akan dihormati dan dimuliakan. Sebagaimana anggota tubuh adalah bagian dari tubuh kita, demikian pula semua makhluk adalah anggota tubuh dari wujud kosmik (alam semesta) milik Tuhan. Wujud kosmik Tuhan memiliki ribuan kepala, kaki, tangan, dan mata. Semua tubuh dari setiap makhluk adalah milik-Nya. Jika kita memiliki keyakinan yang kuat terhadap kebenaran ini, maka kita akan mampu memahami Keilahian dalam makna yang sesungguhnya.  Ketika kita melihat lembu di kuil Shiva terbuat dari batu, kita memujanya. Ketika kita melihat lembu dalam kehidupan kita sehari-hari, kita tidak ragu untuk memukulnya. Perbedaan perlakuan ini disebabkan oleh kebodohan manusia yang belum mampu melihat Tuhan dalam setiap makhluk hidup. Tuhan bersemayam dalam setiap makhluk hidup, dari seekor semut sampai pada seekor gajah! 


-- Wejangan Swami, 23 April 1998

Jika kita benar-benar memahami rahasia ciptaan di sekitar kita, pikiran kita tidak akan mengejar daya tarik dari dunia material. Tidak ada yang lebih mengagumkan atau menakjubkan daripada ciptaan Tuhan.

Saturday, May 23, 2026

Thought for the Day - 23rd May 2026 (Saturday)



Regarding anger, the spiritual aspirant has to be vigilant even about the most minor matters that might provoke him, for if he is careless, he cannot progress in the least. Such persons must cultivate Saumya Prema Bhavam (gentle loving spirit). Then, the bad traits will diminish. Some aspirants become angrier still when someone discovers and announces to them the bad traits they possess. This makes matters worse! The sadhaka (spiritual aspirant) must always have the inward look; if he allows his mind to wander outward, he can never identify his own faults. Pride prevents the inward look and distracts the mind. When the aspirant is desirous of achieving success, he must gladly accept when someone points out his faults, and he must endeavour to rectify his faults and not repeat those any longer. That is the way to progress quick and fast on the path of meditation, and experience ananda (bliss).


- Dhyana Vahini, Ch 14

When anger is subdued, it is an indication that your Sadhana is on the right path. 


Dalam hal kemarahan, seorang peminat spiritual harus selalu waspada bahkan terhadap hal-hal kecil yang dapat memancing emosinya. Sebab, jika ia ceroboh dan tidak berhati-hati, ia tidak akan mampu mengalami kemajuan sedikit pun. Seorang peminat spiritual perlu mengembangkan Saumya Prema Bhavam — yaitu sifat penuh kasih yang lembut. Dengan demikian, sifat-sifat buruk perlahan akan berkurang. Ada beberapa peminat spiritual yang justru menjadi semakin marah ketika orang lain menngungkapan dan memberitahukan sifat buruk yang mereka miliki. Hal ini hanya akan memperburuk keadaan! Seorang sadhaka (peminat spiritual) harus senantiasa melihat ke dalam dirinya sendiri. Jika ia membiarkan pikirannya terus mengembara keluar, ia tidak akan pernah mampu mengenali kesalahannya sendiri. Kesombongan menghalangi seseorang untuk melakukan introspeksi dan membuat pikirannya mudah teralihkan. Ketika seorang peminat spiritual benar-benar ingin mencapai keberhasilan, ia harus dengan tulus menerima ketika ada orang yang menunjukkan kesalahannya. Ia juga harus berusaha memperbaiki kesalahan tersebut dan tidak mengulanginya lagi. Itulah jalan untuk maju dengan cepat dalam praktik meditasi dan merasakan ananda — kebahagiaan sejati.


- Dhyana Vahini, Ch 14

ketika kemarahan ditundukkan, ini merupakan tanda bahwa sadhanamu (latihan spiritual) ada di jalan yang benar.

Friday, May 22, 2026

Thought for the Day - 22nd May 2026 (Friday)



A river has two banks. But for this, the river may flow in all directions, flooding the fields and villages and causing untold hardship and disaster. If it has the bunds to regulate the course of flow, it will be useful for irrigation. In a similar manner, the river of life has to be contained between the two bunds of the eight-lettered axioms. One is, Shraddhavan labhate jnanam and the other is, Samsayatma vinashyati. Both these declarations are made by Lord Krishna in the Bhagavad Gita. The meaning of the first one is - “It is only by faith that one attains wisdom”, and the second one means - “A person who doubts everything will perish.” So long as one has doubt, one cannot achieve anything. If a person has no doubt and has full faith, he can achieve anything. The river of human life flowing between these two bunds reaches the goal of grace successfully. A tree that needs water is provided water only at the root. Though the root is not visible to your eyes as it is buried under the earth, it is the basis for the tree to thrive. If the root is dry, the tree becomes dead. Therefore, you have to safeguard the root. Similarly, you have to safeguard the root of life. Otherwise, it will get extinct. The root of life is to kill doubt. Therefore, these two eight-letter mantras are the essential needs for life.  


-- Divine Discourse, Apr 23, 1998

You have to deposit the money of faith and pure love in the Divine bank. Only then can you get the wealth of Divine grace. 


Sebuah sungai memiliki dua tepian. Tanpa adanya kedua tepi itu, air sungai akan mengalir ke segala arah, membanjiri ladang dan permukiman, serta menimbulkan kesulitan dan bencana yang besar. Tetapi jika sungai memiliki tanggul yang mengatur alirannya, maka airnya dapat dimanfaatkan untuk irigasi dan membawa manfaat. Sama halnya terkait dengan aliran sungai kehidupan yang harus dijaga di antara dua tanggul berupa dua ajaran suci yang terdiri dari delapan huruf. Yang pertama adalah “Shraddhavan labhate jnanam” dan yang kedua adalah  “Samsayatma vinashyati.” Kedua pernyataan ini disampaikan oleh Sri Krishna dalam Bhagavad Gita. Makna dari ajaran yang pertama adalah: “Hanya melalui keyakinan seseorang memperoleh kebijaksanaan.” Sedangkan makna ajaran yang kedua adalah: “Seseorang yang selalu meragukan segala sesuatunya akan hancur.” Selama seseorang masih dipenuhi keraguan, ia tidak akan mampu mencapai apa pun. Tetapi bila seseorang memiliki keyakinan penuh tanpa keraguan, ia dapat mencapai apa saja. Sungai kehidupan manusia yang mengalir di antara dua tanggul ini akan berhasil mencapai tujuan berupa rahmat Tuhan. Sebuah pohon yang membutuhkan air hanya disiram pada akarnya. Walaupun akar itu tidak terlihat karena tertanam di dalam tanah, akar merupakan dasar yang menopang kehidupan pohon. Jika akar mengering, pohon akan mati. Maka dari itu, akar harus dijaga dengan baik. Begitu pula dalam kehidupan manusia, akar kehidupan harus dijaga. Jika tidak, kehidupan rohani akan layu dan punah. Akar kehidupan itu adalah menghilangkan keraguan. Oleh sebab itu, kedua mantra suci ini merupakan kebutuhan yang sangat penting dalam hidup manusia. 


-- Wejangan Swami, 23 April 1998

Engkau harus menabungkan uang keyakinan dan kasih yang suci di ‘Bank Tuhan’. Hanya dengan demikian engkau bisa mendapatkan kekayaan berupa rahmat Tuhan. 

Thursday, May 21, 2026

Thought for the Day - 21st May 2026 (Thursday)



Pride, conceit, passionate (rajasik) exhibition of one’s superiority, anger, craving to know unsubstantiated details of strengths and weaknesses of others, trickery—all these are obstacles in the path of meditation (dhyanam). Even if these are not patently exhibited, the inner impulses (vasanas) urging one along these wrong directions are latent in the mind. As a room kept closed for a long time is found dust-ridden and foul-smelling when it is opened, and as it becomes clean and habitable after elaborate sweeping and dusting, so too, the mind must be completely cleansed of its impurities (malinya) by the power of meditation. The spiritual aspirant must, by inward observation, examine the mind and its contents and condition. By proper disciplinary habits, accumulated impurities should be removed little by little, systematically. Conceit is deep-rooted and unyielding. In the rajasik (passionate) mind, it puts forth multifold branches in all directions and spreads everywhere. It might appear to be dry and dead for some time, but it will sprout again easily. As soon as a chance arises for its exhibition, it will raise its hood.  


-- Dhyana Vahini, Ch 14

If we are able to control anger, we shall be in a position to attain merit through the utterance of the Lord’s name


Kesombongan, keangkuhan, kecenderungan memamerkan kelebihan diri secara berlebihan karena sifat rajasik (penuh gairah dan ego), kemarahan, sangat ingin mengetahui detail yang tidak berdasar tentang kekuatan dan kelemahan orang lain, tipu daya, semuanya merupakan hambatan dalam jalan meditasi (dhyana). Walaupun sifat-sifat itu tidak selalu tampak secara nyata, dorongan batin (vasana) yang mengarahkan seseorang ke arah yang salah tersebut terpendam dalam pikiran. Seperti sebuah ruangan yang tertutup lama akan dipenuhi debu dan bau tidak sedap ketika dibuka, namun dapat kembali bersih dan layak dihuni setelah dibersihkan dengan sungguh-sungguh secara menyeluruh, demikian pula pikiran harus disucikan sepenuhnya dari segala kekotorannya (malinya) melalui kekuatan meditasi. Seorang pencari spiritual harus, melalui pengamatan batin, memeriksa keadaan pikiran serta isi dan kondisinya. Dengan kebiasaan disiplin yang baik, kotoran yang menumpuk harus dihilangkan sedikit demi sedikit dan secara sistematis.  Keangkuhan adalah sifat yang sangat dalam akarnya dan sulit dihilangkan. Dalam pikiran yang dikuasai sifat rajasik, keangkuhanakan tumbuh dengan banyak cabang dan menyebar ke segala arah. Kadang sifat itu tampak seperti telah kering dan mati, tetapi sebenarnya dapat tumbuh kembali dengan mudah. Begitu ada kesempatan untuk muncul, ia akan segera mengangkat kepalanya kembali.  


-- Dhyana Vahini, Ch 14

Jika kita mampu mengendalikan amarah, maka kita akan berada dalam keadaan yang memungkinkan untuk memperoleh pahala melalui pengucapan nama Tuhan. 

Wednesday, May 20, 2026

Thought for the Day - 20th May 2026 (Wednesday)



While practising sadhana, one must follow the rules laid down in scriptures or follow the commands of the Guru or that of God. While following these rules or commands, one should not worry whatever obstacles come. Continue with one’s prescribed sadhana and achieve success, even at the cost of one’s life. Some people say that they are following Swami’s commands, but they are facing many obstacles in their sadhana. This is not the correct attitude. In fact, if one follows Swami’s instructions carefully and correctly, no obstacles will come. If obstacles come, it means one has not followed the commands correctly! Before undertaking sadhana, there are certain things which one should know. Sadhana refers to an activity undertaken for achieving one’s goal or purpose in life. The sadhaka has to decide what he wants to achieve, what his purpose is. Then sadhana has to be carried on until one achieves that goal. If one undertakes sadhana without knowing these aspects, one will falter, and face obstacles and problems. Then one may lose faith in the guru, which could result in a total fall and destruction of oneself. So, one must be very careful about doing sadhana.  


-- Divine Discourse, Jul 07, 1985

Both enquiry and Sadhana are needed to discover the Divinity latent in you and to manifest it. 


Saat menjalankan sadhana (latihan atau disiplin spiritual), seseorang harus mengikuti aturan yang telah ditetapkan dalam kitab suci, atau mengikuti petunjuk Guru maupun Tuhan. Dalam menjalankan aturan dan petunjuk tersebut, seseorang tidak seharusnya merasa gentar terhadap berbagai rintangan yang muncul. Tetaplah melanjutkan sadhana yang telah dipilih hingga mencapai keberhasilan, bahkan bila harus dengan taruhan nyawa. Sebagian orang berkata bahwa mereka telah mengikuti petunjuk Swami, tetapi masih menghadapi banyak hambatan dalam sadhana mereka. Sikap seperti ini tidak sepenuhnya benar. Sesungguhnya, jika petunjuk Swami dijalankan dengan penuh ketelitian dan tepat, maka tidak akan ada hambatan yang datang. Bila rintangan terus muncul, itu menandakan bahwa petunjuk tersebut belum dijalankan dengan benar. Sebelum memulai sadhana, ada beberapa hal penting yang harus dipahami. Sadhana adalah usaha spiritual yang dilakukan untuk mencapai tujuan hidup yang sejati. Karena itu, seorang sadhaka (pelaku sadhana) harus terlebih dahulu mengetahui apa yang ingin dicapai dan apa tujuan hidupnya. Setelah tujuan itu jelas, maka sadhana harus dijalankan dengan tekun sampai tujuan tersebut tercapai. Jika seseorang melakukan sadhana tanpa memahami aspek-aspek ini, ia akan menjadi tersandung, dan menghadapi rintangan dan masalah. Bahkan, ia bisa kehilangan keyakinan kepada Guru, yang pada akhirnya dapat membawa pada kehancuran total dan kehancuran dirinya sendiri. Oleh sebab itu, seseorang harus sangat teliti dan sungguh-sungguh dalam menjalankan sadhana.  


-- Wacana Swami, 07 Juli 1985

Baik melalui penyelidikan batin maupun sadhana sangat diperlukan untuk menemukan Keilahian yang tersembunyi di dalam dirimu dan mewujudkannya.  

Tuesday, May 19, 2026

Thought for the Day - 19th May 2026 (Tuesday)



Most men spend the lifetime allotted to them or earned by them in the partaking of rich but harmful food and drink and indulge in glamorous but more harmful pastimes. What a pathetic waste of precious stuff! Though belonging to the animal genus, man has much more than his fellow beings in physical, mental, and moral equipment. He has memory, language, conscience, reverence, awe, wonder, and an inexplicable sense of discontent, the precursor of detachment. He has the glorious chance of visualising his identity with the Mystery that is manifested as this universe. But he is so sunk in ignorance that he behaves as though he is an animal like the rest and wallows in grief and vice. It is as if fire has forgotten its capacity to burn or water its nature to wet; man has forgotten his nature to reach out into Godhood, his capacity to seek and secure the truth of the universe of which he is a part, his capacity to train himself by virtue, justice, love, and sympathy to escape from the particular to the universal. Man can indeed attain the consummation and climax of merging with the unchanging that is behind all this change.


-- Divine Discourse, Jul 02, 1966

Uncontrolled living habits, unrestrained social behaviour—these are extolled as signs of freedom. It is only freedom to slide into the animal from which man has risen.


Kebanyakan manusia menghabiskan masa hidupnya yang diberikan atau diperolehnya hanya untuk menikmati makanan dan minuman yang mewah namun merusak, serta hiburan yang tampak menarik tetapi justru lebih membahayakan. Betapa menyedihkan pemborosan atas kehidupan yang begitu berharga ini! Walaupun dalam sudut pandang biologis, manusia memang termasuk kerajaan hewan (animal kingdom atau animal genus), ia memiliki jauh lebih banyak kemampuan dibandingkan makhluk lainnya, baik secara fisik, mental, maupun moral. Manusia memiliki ingatan, bahasa, hati nurani, rasa hormat, kekaguman, rasa takjub, dan juga suatu ketidakpuasan batin yang sulit dijelaskan, yang sebenarnya menjadi awal dari sikap tanpa keterikatan. Manusia memiliki kesempatan luar biasa untuk memvisualisasikan identitasnya dengan Misteri yang termanifestasi sebagai alam semesta ini. Namun manusia begitu tenggelam dalam ketidaktahuan sehingga manusia berperilaku seolah-olah ia adalah binatang seperti yang lain dan berkubang dalam kesedihan dan keburukan. Keadaan ini bagaikan api yang lupa bahwa sifatnya adalah membakar, atau air yang lupa bahwa sifatnya adalah membasahi. Manusia telah melupakan hakikat dirinya: mencapai sifat ketuhanan, kemampuannya dalam mencari dan memahami kebenaran alam semesta yang menjadi bagiannya, serta melatih dirinya melalui kebajikan, keadilan, kasih, dan simpati agar dapat melampaui keterikatan pribadi menuju kesadaran universal. Sesungguhnya manusia mampu mencapai puncak tertinggi kehidupannya, yaitu bersatu dengan Yang Abadi dan Tidak Berubah di balik seluruh perubahan dunia ini.  


-- Wacana Swami, 02 Juli 1966

Pola hidup yang tidak terkendali dan perilaku sosial tanpa batas sering dipuji sebagai kebebasan. Padahal itu hanyalah kebebasan untuk jatuh kembali ke tingkat kebinatangan, dari mana manusia sebenarnya telah berkembang.

Monday, May 18, 2026

Thought for the Day - 18th May 2026 (Monday)



Once, Krishna thought of testing the nature of Yudhishthira and Duryodhana. First, He called Yudhishthira and said, “I have a task to perform. For that, I need a very mean-minded person who is given to untruthful and evil ways. Can you bring such a person?” Afterwards, Krishna called Duryodhana and said to him, “Duryodhana! A great task is to be performed. For that, a noble person is required who is pure, kind-hearted and virtuous.” Both of them agreed to perform the tasks assigned to them by Krishna. Yudhishthira went in one direction and Duryodhana in another direction in search of the persons asked for by Krishna. After some time, Yudhishthira came back and said most humbly to Krishna, “Oh Lord! There is no wicked person in our kingdom. I am the only one who has some wickedness or the other. Please make use of me.” Some time after this, Duryodhana also came back and said to Krishna, “Krishna! A thoroughly noble person is nowhere to be seen in this kingdom. I think I am the only such person. If You tell me the task, I will surely perform it.” In the egoistic outlook of Duryodhana, all appeared to be wicked. In the humble nature of Yudhishthira, all appeared to be good. Hence, whatever the colour of the glasses that you wear, everything will appear to you of that colour.


-- Divine Discourse, Apr 04, 1993

‘An egoistic person will think that he knows everything; others are ignoramuses. But one who knows everything is always humble. 


Suatu ketika Krishna ingin menguji sifat Yudhishthira dan Duryodhana. Pertama, Krishna memanggil Yudhishthira dan berkata, “Aku memiliki sebuah tugas untuk dikerjakan. Untuk itu, Aku membutuhkan seseorang yang sangat jahat, suka berbohong, dan berperilaku buruk. Bisakah engkau membawanya kepada-Ku?” Kemudian Krishna memanggil Duryodhana dan berkata, “Duryodhana! Ada tugas besar yang harus dilakukan. Untuk itu diperlukan seseorang yang mulia, berhati suci, penuh kebaikan, dan berbudi luhur.” Keduanya setuju untuk melaksanakan tugas yang diberikan Krishna kepada mereka. Yudhishthira pergi ke satu arah dan Duryodhana ke arah lain untuk mencari orang yang dimaksud oleh krishna. Setelah beberapa waktu, Yudhishthira kembali dan dengan rendah hati berkata kepada Krishna, “Oh Krishna, tidak ada orang jahat di kerajaan kita. Hanya saya yang masih memiliki kekurangan dan sifat buruk. Gunakanlah saya untuk tugas itu.” Beberapa saat kemudian, Duryodhana juga kembali dan berkata kepada Krishna, “Krishna! Tidak ada seorang pun yang benar-benar mulia di kerajaan ini. Saya rasa hanya saya satu-satunya orang seperti itu. Katakan tugasnya padaku, maka pastinya saya akan mengerjakannya.” Karena pandangan Duryodhana dipenuhi ego, ia melihat semua orang sebagai buruk dan jahat. Sebaliknya, karena kerendahan hati Yudhishthira, ia melihat semua orang sebagai baik. Karena itu, apa pun warna kacamata yang engkau pakai, begitulah warna dunia yang akan engkau lihat.


-- Wacana Swami, 04 April 1993

‘Orang yang egois akan merasa dirinya mengetahui segalanya dan menganggap orang lain bodoh. Tetapi seseorang yang mengetahui semuanya akan selalu rendah hati.' 

Sunday, May 17, 2026

Thought for the Day - 17th May 2026 (Sunday)




You have been reading about renunciation for a long time. You have been listening to many discourses. But how much have you been able to practice? If you question yourself, you will find that you have not moved even a single step forward; you are where you were. In spite of listening to and reading Vedantic texts, in spite of japa (chanting) and meditation, in spite of knowledge of sacred texts, your position is the same as it was. How can you make progress? You will reach noble heights only when you put your knowledge into practice. But students today are zero in practice and hero in bookish knowledge. You may hear and learn so many things. But your position is the same as it has been. Instead of learning a hundred things, it is very important to practice at least one. So, you should start practising. You get experience only through practice. Your hunger is not satiated merely by hearing the names of delicious items. You have to make an effort to eat. A beggar will never improve his condition simply by listening about the greatness of the economy. Pitch darkness can never be dispelled by listening to the power of light. Similarly, you can never become a Vedantin by learning about Vedanta.


- Divine Discourse, Apr 04, 1993

The ‘gandha’ (fragrance or essence) must be extracted from the ‘grantha’ (spiritual text); that is the test of scholarship. Do not transform the mastaka (brain) into a pustaka (book) instead.


Engkau telah membaca tentang ketidakterikatan duniawi sejak lama. Engkau juga telah mendengarkan begitu banyak wacana spiritual. Namun, seberapa banyak yang telah mampu engkau praktikkan? Jika engkau bertanya pada dirimu sendiri, engkau akan mendapati bahwa engkau belum melangkah maju bahkan satu langkah pun; engkau masih berada di tempat yang sama seperti sediakala. Meskipun telah mendengarkan dan membaca teks-teks Vedanta, meskipun telah melakukan japa (chanting/pengucapan Nama Tuhan) dan meditasi, serta memiliki pengetahuan tentang kitab-kitab suci, posisi batinmu tetap sama seperti sebelumnya. Bagaimana engkau bisa mengalami kemajuan spiritual? Engkau hanya akan mencapai puncak keluhuran jiwa ketika engkau mengejawantahkan pengetahuan tersebut ke dalam praktik nyata. Namun, para pencari spiritual saat ini sering kali menjadi 'pahlawan' dalam pengetahuan buku, tetapi 'nol' dalam praktiknya. Engkau boleh saja mendengar dan mempelajari begitu banyak hal, tetapi kondisi batinmu akan tetap jalan di tempat. Alih-alih mempelajari seratus hal, jauh lebih penting untuk mempraktikkan setidaknya satu hal saja. Oleh karena itu, mulailah praktik spiritual. Sebab, pengalaman batin hanya didapat melalui praktik nyata. Rasa lapar yang engkau rasakan tidak akan pernah terpuaskan hanya dengan mendengarkan nama-nama hidangan yang lezat; engkau harus menyantap hidangan tersebut. Seorang pengemis tidak akan pernah mengubah nasibnya hanya dengan mendengarkan keagungan teori ekonomi. Kegelapan yang pekat pun takkan pernah sirna hanya dengan mendengarkan penjelasan tentang kekuatan cahaya. Demikian pula, engkau tidak akan pernah menjadi seorang Vedantin sejati hanya dengan mempelajari teori tentang Vedanta.


- Divine Discourse, Apr 04, 1993

Sari pati (gandha) harus digali dan diserap dari kitab suci (grantha); itulah tolok ukur dari kebijaksanaan sejati. Jangan sampai engkau mengubah otakmu (mastaka) sekadar menjadi tumpukan buku (pustaka)

Friday, May 15, 2026

Thought for the Day - 15th May 2026 (Friday)



Desires are common to all, whether one is young or old, man or woman, a common man or a saint. However, it is very important to have good desires, such as the desire to reach an exalted position, the desire to lead a noble life, the desire to be a good student, or the desire to tread the divine path. It is quite natural for man to have desires as he has to live in the world. But there should be a limit to his desires. As his desires have crossed all limits due to the effect of Kali Yuga, he has lost his peace and is experiencing restlessness. Man's unlimited desires are like chains which bind and imprison him. He loses his freedom as he is bound by desires. Animals also have desires, but they are not limitless like those of man. Animals have a reason and a season, but man has no reason and no season. That is why man today is facing so many troubles and problems. Man has no dearth of food, raiment, and shelter. Then, what is the reason for his restlessness? It is only excessive desires that make him restless. Therefore, he must put a ceiling on his desires. Less luggage, more comfort makes travel a pleasure. Life is a long journey. In this long journey of life, you should not have excess luggage. This, in Vedantic parlance, is called renunciation (vairagya).


-- Divine Discourse, Apr 04, 1993

If you move towards God, the world will be away from you. If you move towards the world, you will become distant from God.

 

Keinginan adalah hal yang lumrah bagi semuanya, apakah seseorang itu adalah anak muda atau orang tua, laki-laki atau Perempuan, orang awam atau orang suci. Namun yang terpenting adalah memiliki keinginan yang baik, seperti keinginan untuk mencapai kedudukan yang mulia, menjalani hidup yang luhur, menjadi pelajar yang baik, atau menempuh jalan ketuhanan. Adalah hal yang wajar jika manusia memiliki keinginan, karena ia hidup di dunia. Tetapi keinginan itu harus memiliki batas. Karena pengaruh Kali Yuga, keinginan manusia telah melampaui batas sehingga ia kehilangan kedamaian dan terus hidup dalam kegelisahan. Keinginan manusia yang tidak terbatas adalah seperti rantai yang mengikat dan memenjarakan manusia. Hal ini membuat manusia kehilangan kebebasannya karena ia diperbudak oleh keinginannya. Binatang juga memiliki keinginan, tetapi tidak tanpa batas seperti halnya manusia. Binatang memiliki sebuah alasan dan musim, namun manusia tidak memiliki alasan dan musim. Itulah sebabnya mengapa manusia pada hari ini menghadapi begitu banyak masalah dan penderitaan. Manusia tidak kekurangan makanan, pakaian, ataupun tempat tinggal. Lalu apa penyebab kegelisahan hidupnya? Tidak lain adalah keinginan yang berlebihan. Karena itu, manusia harus membatasi keinginannya. Semakin sedikit bawaan, semakin nyaman perjalanan. Hidup adalah perjalanan yang panjang. Dalam perjalanan panjang kehidupan ini, jangan membawa terlalu banyak “beban”. Dalam ajaran Vedanta, sikap ini disebut vairagya atau pelepasan. 


-- Wacana Swami, 04 April 1993

Jika engkau bergerak mendekat pada Tuhan, dunia akan menjauh darimu. Jika engkau bergerak mendekat pada dunia, engkau akan menjadi jauh dari Tuhan.

Wednesday, May 13, 2026

Thought for the Day - 13th May 2026 (Wednesday)



Whatever teachings that you hear and read, you should imbibe them in your heart. Once a Guru called his disciples and said to them, “My dear ones! I am giving all of you a sweet. See to it that it is not spoilt by ants, flies, mosquitoes, cats or rats.” Most of the students tried to preserve it in many ways. But only one student partook of it, digested it and derived strength from it. What is the inner meaning of this? It is not enough if you preserve the divine teachings in books; you should imbibe those nectarous teachings in your heart, digest them and experience them. Only then can you derive pushti and santhusthi (strength and happiness). You should treasure in your heart all the sacred teachings that you hear, read and understand. Whatever you have treasured in your heart, you should put it into practice in your life. Only then will you have fulfilment. Merely eating is not enough; you should digest what you eat. Similarly, merely hearing and reading is not enough; you should put it into practice and experience it in your daily life.


-- Divine Discourse, Jul 27, 1996

If what is learned is not put into practice, the student is like a cow that does not yield milk, a fruit lacking in taste, or a book bereft of wisdom. 


Apapun ajaran yang engkau dengar dan baca, engkau harus menyerapnya di dalam hatimu. Pada suatu hari seorang guru memanggil murid-muridnya dan berkata pada mereka, “para muridku yang terkasih! Aku memberikan setiap orang darimu sebuah manisan. Jagalah agar manisan tersebut tidak dirusak oleh semut, lalat, nyamuk, kucing, atau tikus.” Kebanyakan murid tersebut mencoba untuk menjaga manisan tersebut dengan berbagai cara. Namun hanya satu murid yang menghisap manisan tersebut dan mendapatkan manfaat darinya. Apa makna terdalam yang ada dalam kisah ini? Adalah tidak cukup bagimu jika hanya menjaga ajaran-ajaran Tuhan di dalam buku saja; engkau harus menyerap ajaran yang begitu manis itu ke dalam hatimu, mencerna dan mengalaminya. Hanya dengan demikian engkau dapat mendapatkan kekuatan (Pushti) dan kebahagiaan (santhusthi). Engkau harus menyimpan dalam hatimu semua ajaran-ajaran suci yang engkau dengar, baca dan pahami. Apapun yang telah engkau simpan di dalam hatimu, engkau harus menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari. Hanya dengan demikian engkau mendapatkan pemenuhan dalam hidup. Hanya dengan makan saja tidaklah cukup; engkau harus mencerna apa yang engkau makan. Sama halnya, hanya melulu mendengarkan dan membaca saja tidaklah cukup; engkau harus menjalankan dan mempraktekkannya dalam hidupmu sehari-hari. 


-- Wacana Swami, 27 Juli 1996

Jika apa yang dipelajari tidak dijalankan atau dipraktekkan, maka pelajar itu seperti sapi yang tidak menghasilkan susu, buah yang tidak menghasilkan rasa, atau buku yang tanpa kebijaksanaan.

Tuesday, May 12, 2026

Thought for the Day - 12th May 2026 (Tuesday)



A heart without love is a cemetery. Love demonstrates the existence of the Divine. It is all-pervasive. It is the basis for human unity. Only when selfishness goes, and faith in the Divine grows, will human unity be achieved. Hence, every human being should fill his heart with love. God is love; Love is God. Love is linked to love. When one is full of love, He is qualified for the state of Non-dualism or oneness with God (Poem). It is most vital for everyone to recognise and practice this Love Principle. This Love exists in good and bad, in the forest and in a palace, in attachment and in separation, in one’s conduct as well as in one’s speech, in the mind as well as in action. It is all-pervasive. The most powerful weapon to destroy the forces of evil rampant in the world today is love. Unfortunately, men are not pursuing the right path to acquire this sacred love. Love is the seed of love. It is also the branch, the flower, and the fruit! To enjoy the fruit of love, one must practice love!


-- Divine Discourse, Nov 23, 1996

Love is Righteousness. Love is Truth. The universe is based on love. 


Hati yang tanpa adanya kasih adalah sebuah kuburan. Kasih adalah bukti keberadaan Tuhan. Kasih bersifat meresapi segalanya dan merupakan dasar dari kesatuan umat manusia. Hanya ketika sifat mementingkan diri sendiri lenyap, dan keyakinan pada Tuhan tumbuh, kesatuan manusia dapat terwujud. Karena itu, setiap manusia hendaknya memenuhi hatinya dengan kasih. Tuhan adalah kasih; Kasih adalah Tuhan. kasih hanya dapat terhubung dengan kasih. Ketika seseorang penuh dengan kasih, maka ia layak mencapai keadaan tanpa dualitas, yaitu kesatuan dengan Tuhan (syair). Sangat penting bagi setiap orang untuk memahami dan mempraktikkan prinsip kasih ini. Kasih ini hadir dalam yang baik maupun yang buruk, di hutan maupun di istana, dalam kebersamaan maupun perpisahan, dalam perilaku maupun ucapan, di dalam pikiran maupun tindakan. Kasih meresapi semuanya. Senjata yang paling ampuh dalam menghancurkan kekuatan jahat yang merajalela di dunia saat ini adalah kasih. Namun sayangnya, manusia belum menempuh jalan yang benar untuk memperoleh kasih suci tersebut. Kaish adalah benih dari kasih itu sendiri. Kasih juga adalah cabang, bunga, dan buahnya. Jika ingin menikmati buah dari kasih, maka seseorang harus mempraktikkan kasih dalam hidupnya! 


-- Wacana Swami, 23 November 1996

Kasih adalah kebajikan. Kasih adalah kebenaran. Alam semesta di dasarkan pada kasih.

Saturday, May 9, 2026

Thought for the Day - 9th May 2026 (Saturday)



The swimmer in the river has to push aside the waters in front to the sides and to kick the waters to the back so that he can move forward straight and fast. Forcing the water back is the act that takes him forward. That is to say, do not attach importance to it, throw it back, give it up, renounce; that alone can help you to progress, even an inch. Instead, man collects and stores, accumulates and takes pride in what he holds firm, regardless of the preciousness of the human trait of renunciation. So, we sink in material possessions, victories, and vagaries. We do not float or swim across the temptations. We must try to discover and learn the means of progress. We may well ask, how can a man sunk in relative knowledge become aware of Atma? But there is no reason for despair or for condemning ourselves as mean and low. For when small men take big decisions, they earn encouragement from the great. When the tiny squirrel decided to share in building the passage across the sea, did it not receive the blessings of Lord Rama? The squirrel knew that its help could only be infinitesimal, but the feeling of dedication which prompted it won the grace of God.


-- Divine Discourse, Jan 08, 1983

Faith and self-confidence are essential for spiritual progress.

 

Perenang yang berenang di sungai harus menepis air yang ada di depannya ke samping dan mendorong air ke belakang agar ia dapat bergerak maju dengan lurus dan cepat.  Dengan mendorong air ke belakang, ia bisa maju ke depan. Maknanya adalah: jangan melekat pada sesuatu, lepaskanlah, tinggalkanlah, relakanlah. Hanya dengan cara itulah seseorang dapat benar-benar maju, walau hanya selangkah. Namun malahan manusia justru gemar mengumpulkan, menyimpan, dan membanggakan apa yang dimilikinya, tanpa menyadari betapa berharganya sifat pengorbanan dan pelepasan. Akibatnya, kita tenggelam dalam harta benda materi, kemenangan, dan berbagai gejolak duniawi. Kita tidak mampu mengapung atau berenang melewati godaan-godaan kehidupan. Kita harus berusaha untuk menemukan dan mempelajari cara untuk maju. kita mungkin mulai mempertanyakan, bagaimana seseorang yang tenggelam dalam pengetahuan duniawi dapat menyadari Atma? Tetapi tidak ada alasan untuk putus asa atau merendahkan diri sendiri sebagai makhluk yang hina dan lemah. Karena ketika orang kecil mengambil keputusan yang besar, mereka akan memperoleh dukungan dari yang lebih hebat. Ketika tupai yang kecil memutuskan untuk ikut membantu membangun jembatan menyeberangi lautan, bukankah ia menerima berkah dari Sri Rama? Tupai itu secara jelas mengetahui bahwa bantuannya sangatlah kecil, namun perasaan pengabdian yang mendorong tindakannya mampu membuatnya memperoleh rahmat Tuhan. 


- Divine Discourse, Jan 08, 1983

Keyakinan dan kepercayaan diri adalah mendasar untuk kemajuan spiritual.

Friday, May 8, 2026

Thought for the Day - 8th May 2026



Affection for mother and reverence for father are necessary. But parents and preceptor are transient. Even friends are impermanent. God alone is permanent and unfailing, and God alone should have the permanent place in the heart. The human body acquires its sacredness from the fact that it is the abode of the Divine. The Gita refers to the body as kshetra (sacred field) and the Divine Indweller as the Kshetrajna. Because of the sacredness of the body, it should be used properly as an instrument of the Divine. Man should develop faith in God. Without faith, life will be meaningless. Man can have no happiness or satisfaction in life without God’s grace. Men today are too immersed in affairs of the world and have no peace of mind. They can have peace only from the supreme embodiment of peace, God. He is the abode of infinite love and enduring peace. God’s love should be secured by chanting the Lord’s name. You should be grateful to your mother for endowing you with a body which enables you to chant the Lord’s name.

- Divine Discourse, May 6, 1997
See that the splendour of the Lord, the cool rays of His grace, is not dimmed in the recesses of your heart


Kasih sayang kepada ibu dan rasa hormat kepada ayah adalah sebuah keniscayaan. Namun, orang tua maupun guru spiritual bersifat sementara. Bahkan teman pun tidaklah kekal. Hanya Tuhanlah yang Mahakekal dan takkan pernah mengecewakan, dan hanya Tuhanlah yang sepantasnya bersemayam secara abadi di dalam hati. Tubuh manusia memperoleh kesuciannya karena ia merupakan kediaman bagi Sang Ilahi. Bhagavad Gita menyebut tubuh sebagai kshetra (ladang suci) dan Sang Penghuni Ilahi di dalamnya sebagai Kshetrajna. Karena kesucian tubuh ini, ia harus dipergunakan dengan semestinya sebagai instrumen Ilahi. Manusia harus menumbuhkan keyakinan kepada Tuhan. Tanpa keyakinan, kehidupan akan kehilangan maknanya. Manusia tidak akan mereguk kebahagiaan atau kepuasan sejati dalam hidup tanpa berkat Tuhan. Saat ini, manusia terlalu terhanyut dalam urusan duniawi sehingga kehilangan kedamaian pikiran. Mereka hanya bisa memperoleh kedamaian dari Sang Perwujudan Kedamaian Tertinggi, yaitu Tuhan. Dia adalah samudra kasih yang tak terbatas dan kedamaian yang abadi. Kasih Tuhan haruslah diraih dengan senantiasa melantunkan Nama Suci-Nya. Engkau hendaknya berterima kasih kepada ibumu, karena melaluinya engkau dianugerahi raga yang memungkinkanmu untuk memuliakan Nama Tuhan.

- Divine Discourse, May 6, 1997
Jagalah agar kemuliaan Tuhan—pancaran kasih-Nya yang menyejukkan—tak meredup di dalam relung hatimu yang paling dalam

Saturday, May 2, 2026

Thought for the Day - 2nd May 2026 (Saturday)



God is Premaswarupa (Embodiment of Love); God is in every being; so the fruit of every life is full of the sweetness of that Prema. Like the bitter skin of the fruit, which is sweet, which casts the cover of ignorance over the precious juice within, so too, the bitter skin of envy, egoism, hate, malice, greed, lust, and pomp does not allow the sweetness to be patent to all. Every being is entitled to partake of that Prema, irrespective of nationality, colour, creed, or status in society. When God and God’s Prema are activating every atom, who can dare say, ‘Stand out’ to anyone? Isavasyamidam sarvam - All this is God, is Prema. The lights that Vyasa lit to reveal this great reality have become dim; no one is pouring oil into the lamp; all are interested in pursuing false ideals and fleeting pleasures. Vyasa taught Dharma (Righteousness) in the Mahabharata, Bhakthi (Devotion) in the Bhagavata, and Shanti and Prema (Peace and Love) in the 18 Puranas; he taught the knowledge of “knowledge, knower, and the known” in the Brahmasutra. He emphasised that harming others is the seed of sin and serving others the seed of merit. That is the lesson of Prema, pure and simple. 


- Divine Discourse, Jul 21, 1967

Prema (Love) is the spring that feeds the roots of all the virtues. 


Tuhan adalah perwujudan kasih (premaswarupa); Tuhan ada dalam diri setiap makhluk; jadi buah dari setiap kehidupan adalah penuh dengan rasa manis dari prinsip kasih itu (prema). Seperti halnya rasa pahit pada kulit buah yang menutupi rasa manis sari buah yang ada di dalamnya, begitu juga rasa pahit dari kulit berupa sifat iri hati, egoisme, kebencian, kesombongan, ketamakan, nafsu, dan keangkuhan yang menutupi rasa manis kasih itu sehingga tidak tampak. Setiap makhluk berhak merasakan dan menikmati kasih Ilahi ini, tanpa memandang kebangsaan, warna kulit, keyakinan, maupun kedudukan sosial. Ketika Tuhan dan kasih-Nya menggerakkan setiap atom, siapa yang berani berkata kepada orang lain, “lebih menonjol dibandingkan yang lainnya”? Isavasyam idam sarvam - semua ini adalah Tuhan, semua ini adalah kasih. Pelita yang dinyalakan oleh Vyasa untuk mengungkap kebenaran agung ini kini mulai meredup; tidak ada lagi yang mengisi minyaknya; semua orang tertarik dan sibuk dalam mengejar mengejar gagasan yang semu dan kesenangan yang bersifat sementara. Vyasa mengajarkan kebajikan (dharma) dalam Mahabharata, pengabdian (bhakthi) dalam Bhagavata, dan Shanti serta Prema (kedamaian dan kasih) dalam 18 purana; Vyasa mengajarkan pengetahuan tentang “pengetahuan, yang mengetahui, dan yang diketahui” dalam Brahmasutra. Vyasa menekankan bahwa menyakiti yang lainnya adalah benih dari dosa, sedangkan melayani yang lainnya adalah benih dari kebajikan atau jasa. Itu adalah inti pelajaran tentang kasih yang bersifat suci dan sederhana. 


-Wacana Swami, 21 Juli 1967

Prema (kasih) adalah mata air yang memberikan kehidupan pada akar dari seluruh kebajikan.

Friday, May 1, 2026

Thought for the Day - 1st May 2026 (Friday)



Buddha taught that we should not have anger, we should not find others’ faults, and we should not harm others because all are embodiments of the pure, eternal principle of the Atma. Have compassion towards the poor and help them to the extent possible. You think those who do not have food to eat are poor people. You cannot call someone poor just because he does not have money or food to eat. Truly speaking, nobody is poor. All are rich, not poor. Those whom you consider poor may not have money, but all are endowed with the wealth of Hridaya (the heart). Understand and respect this underlying principle of unity and divinity in all and experience bliss. Do not have such narrow considerations as so and so is your friend, so and so is your enemy, so and so is your relation, etc. All are one, be alike to everyone. That is your primary duty. This is the most important teaching of Buddha. 


-- Divine Discourse, May 13, 2006

Buddha taught that the principle of unity of the Atma was the only true principle in the world. One who realised it by using his spiritual intelligence was a true Buddha, he said. 


Buddha mengajarkan bahwa kita tidak seharusnya menyimpan kemarahan, kita seharusnya tidak mencari-cari kesalahan orang lain, dan kita seharusnya tidak menyakiti siapapun karena semuanya adalah perwujudan dari prinsip Atma yang suci dan kekal. Milikilah welas asih kepada mereka yang kekurangan dan bantulah mereka semaksimal mungkin. Engkau berpikir bahwa mereka yang tidak memiliki makanan untuk dimakan adalah orang miskin. Engkau tidak bisa menyebut seseorang miskin karena ia tidak memiliki uang atau makanan untuk dimakan. Berbicara yang sebenarnya, tidak ada seorangpun yang miskin. Semuanya adalah kaya, tidak miskin. Bagi mereka yang engkau anggap miskin mungkin tidak memiliki uang, namun semua dari mereka diberkati dengan kekayaan hati (Hridaya). Pahamilah dan hormati prinsip yang mendasari kesatuan dan keilahian dalam setiap makhluk dan alamilah kebahagiaan yang sejati. Jangan terjabk dalam pandangan sempit seperti ini teman, ini musuh, ini kerabat dan sebagainya. Semuanya adalah satu, bersikaplah sama kepada setiap orang. Itu merupakan kewajibanmu yang utama. Ini adalah ajaran terpenting dari sang Buddha. 


-- Wacana Swami, 13 Mei 2006

Buddha juga mengajarkan bahwa prinsip kesatuan Atma adalah satu-satunya kebenaran sejati di dunia ini. Seseorang yang mampu menyadarinya melalui kecerdasan spiritualnya adalah Buddha yang sejati.

Tuesday, April 28, 2026

Thought for the Day - 28th April 2026 (Tuesday)



For man, there are two kinds of states in this world. They are: Hita (Pleasant) and Ahita (Unpleasant). Whether the state is pleasant or unpleasant depends on your innermost attitude or outlook. The same object becomes pleasant once and unpleasant on another occasion! The thing welcomed with great fondness at one time becomes hateful at another time, and there is not the desire even to see it. The condition of the mind at those times is the reason to wean so. Hence, everyone must train their mind to be pleasant always. The waters of a river leap from mountains, fall into valleys, and rush through gorges; besides, tributaries join it at various stages, and the water becomes turbid and unclean. So too, in the flood of human life, speed and power increase and decrease. These ups and downs can happen at any moment during life. No one can escape these; they may come at the beginning of life, at the end or in the middle. So, what man must firmly convince himself is that life is necessarily full of ups and downs, and that, far from being afraid and worried over these, one should welcome them. One should not only feel like this, but should be happy and glad, whatever happens! Then, all troubles, whatever their nature, will pass away lightly and quick! 


-- Ch 3, Dhyana Vahini

Faith in God can ensure equanimity and balance. 


Bagi manusia, ada dua jenis keadaan dalam hidup ini: hita (menyenangkan) dan ahita (tidak menyenangkan). Namun, apakah sesuatu terasa menyenangkan atau tidak, sebenarnya bergantung pada sikap batin dan cara pandang kita sendiri.  Objek yang sama bisa terasa sangat menyenangkan di suatu waktu, tetapi di waktu lain justru terasa tidak menyenangkan. Sesuatu yang dahulu disambut dengan penuh kegembiraan bisa berubah menjadi hal yang dihindari, bahkan tak ingin lagi dilihat. Perubahan ini bukan karena bendanya, melainkan karena keadaan pikiran kita saat itu! Oleh karena itu, setiap orang harus melatih pikiran mereka untuk selalu tetap tenang dan positif dalam segala keadaan. Ibarat air sungai yang mengalir dari pegunungan, jatuh ke lembah, melewati jurang, lalu bercampur dengan berbagai aliran lain hingga menjadi keruh. Demikian pula kehidupan manusia, kadang mengalir deras, kadang melambat; kadang jernih, kadang keruh. Naik turunnya kehidupan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Itu bisa terjadi di awal kehidupan, di tengah, maupun di akhir. Yang perlu kita yakini dengan mantap adalah bahwa hidup memang penuh dengan pasang surut. Alih-alih takut atau cemas menghadapinya, kita justru perlu menerimanya dengan lapang. Bahkan lebih dari itu, belajar untuk tetap merasa tenang dan bersyukur dalam keadaan apa pun. Ketika sikap ini tumbuh, segala kesulitan—apa pun bentuknya—akan terasa lebih ringan dan cepat berlalu! 


-- Ch 3, Dhyana Vahini

Keyakinan kepada Tuhan akan menumbuhkan keseimbangan dan ketenangan batin.

Monday, April 27, 2026

Thought for the Day - 27th April 2026 (Monday)



God has provided everything for man’s good in the world. But there is one condition that must be observed. The result of your actions will be according to their nature, whether they are good or bad. Men today want to reap the fruits of good deeds without performing good deeds. This is impossible. Nor can they escape the consequences of their evil actions. God is only a witness. From now on, develop good thoughts, do good actions and redeem your lives. You must start with Karma Marga (Path of Action) and end with Jnana Marga (Path of Knowledge). In between, there is Upasana Marga (Path of Worship). This is the path you must follow today. For this, you must get the conviction that God is omnipresent. When you have that conviction, you will not indulge in falsehood or practice deception, you will not abuse others or cause harm to them, you will acquire all virtues. 


-- Divine Discourse, Feb 27, 1995

Develop the firm conviction that God is within you, and you are Divine.


Tuhan telah menyediakan segala sesuatunya bagi kebaikan manusia di dunia. Namun ada satu syarat yang tidak bisa diabaikan. Hasil dari perbuatanmu akan sesuai dengan sifat dari perbuatan tersebut, apakah perbuatan itu baik datau buruk. Manusia pada hari ini ingin mendapatkan buah perbuatan baik dengan tanpa menjalankan perbuatan baik. Hal ini adalah tidak mungkin. Demikian pula, tidak ada seorangpun dari manusia yang bisa melepaskan diri dari akibat perbuatan buruk mereka. Tuhan hanyalah sebagai saksi saja. Mulai dari sekarang, pupuk pemikiran yang baik, lakukan perbuatan baik dan perbaiki arah hidupmu. Engkau harus mulai dengan jalan tindakan (karma marga) dan mengakhirinya dengan jalan pengetahuan (jnana marga). Diantara kedua jalan tersebut adalah jalan pemujaan (upasana marga). Ini adalah jalan yang harus engkau jalani hari ini. Untuk itu, tanamkan keyakinan yang kuat bahwa Tuhan hadir di mana-mana. Ketika engkau memiliki keyakinan itu, engkau tidak akan berbohong atau menipu, tidak akan menyakiti atau merugikan orang lain, dan secara alami kebajikan akan tumbuh dalam dirimu. 


-- Divine Discourse, 27 Februari 1995

Pupuklah keyakinan yang mantap bahwa Tuhan ada di dalam dirimu, dan hakikat dirimu adalah ilahi.

Sunday, April 26, 2026

Thought for the Day - 26th April 2026 (Sunday)



There are three types of approaches towards the Lord: the eagle type, which swoops down on the target with a greedy swiftness and suddenness, which, by its very impact, fails to secure the object coveted; the monkey type, which flits hither and thither, from one fruit to another, unable to decide which is tasty; and the ant type, which moves steadily, though slowly, towards the object, which it has decided is desirable. The ant does not hit the fruit hard and make it fall away; it does not pluck all the fruits it sees; it appropriates just as much as it can assimilate and no more. Do not fritter away the time allotted to you for sojourning on Earth in foolish foppery and fanciful foibles, which always keep you outdoors. When are you going to walk indoors into the warmth and quiet of your own interior? Retire into solitude and silence, now and then; experience the joy derivable only from them. 


-- Divine Discourse, Oct 26, 1961

When the fruit is ripe, it will fall off the branch of its own accord. Similarly, when vairagya (renunciation) saturates your heart, you lose contact with the world and slip into the lap of the Lord. 


Ada tiga jenis pendekatan menuju Tuhan: pendekatan pertama adalah seperti jenis elang yang terbang menukik ke bawah pada target dengan kecepatan dan penuh kerakusan yang mana justru sering gagal mendapatkan apa yang diinginkan; pendekatan kedua adalah jenis monyet yang melompat ke sana kemari, dari satu buah ke buah lain, tanpa pernah benar-benar memutuskan mana yang layak dipilih; dan pendekatan ketiga adalah jenis semut yang berjalan perlahan tetapi pasti menuju tujuan yang telah ditentukan. Semut tidak menghantam buah hingga jatuh sia-sia. Ia juga tidak mengambil semua buah yang dilihatnya. Ia hanya mengambil secukupnya, sesuai dengan kemampuannya untuk mencerna dan tidak lebih. Jangan habiskan waktu yang diberikan selama hidup di dunia ini untuk tingkah laku yang konyol dan khayalan yang tidak masuk akal, yang hanya membuatmu terus berada di luar dirimu sendiri. Kapan engkau akan masuk ke dalam, ke ruang batinmu yang hangat dan tenang? Sesekali, menyendirilah dalam keheningan dan ketenangan. Rasakan kebahagiaan yang hanya bisa di dapatkan dari keheningan tersebut. 


-- Divine Discourse, 26 Oktober 1961

Ketika buah matang akan jatuh dengan sendirinya dari pohon, demikian pula ketika vairagya (ketidakterikatan) memenuhi hatimu, engkau secara alami melepaskan keterikatan dunia dan berlabuh dalam pelukan Tuhan. 

Saturday, April 25, 2026

Thought for the Day - 25th April 2026 (Saturday)



Once, a Gopika went to a well to bring two pitchers of water. After placing one pitcher on her head, she wanted someone to place the other water-filled pitcher on the first one. At that time, Krishna came there, and she asked him to place the water-filled pitcher on the first one. Krishna refused to do so. Soon, another Gopika came along and helped the first Gopika. The Gopika carrying the two pitchers reached her home. Krishna followed her to the house and, without even waiting to be asked, He took the top pitcher from the Gopika's head and placed it down. She was surprised at Krishna's strange behaviour. She asked him: “Krishna, at the well, you refused to place the pitcher on my head when I appealed to you to help me. Now you take it down from the head without my asking. What is the inner meaning of this action?” Krishna replied: “Oh Gopika! I want to remove the burdens borne by people and not to add to them.” This shows that the Divine operates only to reduce the burdens of the people and not to increase them. 


-- Divine Discourse, Feb 20, 1992

When man obeys God’s command implicitly, all his burdens are taken care of.


Pada suatu hari, seorang Gopika (gadis penggembala sapi) pergi ke sumur untuk menimba dua kendi air. Setelah menempatkan satu kendi air di atas kepalanya, ia ingin meminta bantuan seseorang untuk menaruh kendi kedua di atas kendi pertama. Pada saat itu, Sri Krishna datang ke sana, dan Gopika tersebut meminta bantuan Krishna untuk menaruh kendi di atas kendi lain di atas kepalanya. Sri Krishna menolak untuk melakukannya. Segera, gadis lain lain datang untuk membantu Gopika tersebut. Gopika tersebut membawa dua kendi air tersebut sampai ke rumahnya. Sri Krishna mengikutinya sampai ke rumahnya dan tanpa diminta bantuan, Krishna mengambil kendi paling atas dari kepala Gopika dan menaruhnya dibawah. Gopika tersebut menjadi terkejut dengan tingkah laku aneh dari Krishna. Ia menanyakan kepada Krishna: “Krishna, pada saat di sumur, Engkau menolak untuk menaruh kendi air tersebut di atas kepalaku ketika aku meminta bantuan. Sekarang Engkau mengambil kendi air di atas kepalaku dan menaruhnya dibawah tanpa saya minta. Apa makna dari tindakan-Mu ini?” Krishna menjawab: “Oh Gopika! Aku ingin melepaskan beban yang ditanggung oleh orang-orang dan bukan menambahkannya.” Hal ini memperlihatkan bahwa kehendak Tuhan hanya untuk mengurangi beban manusia dan bukan menambahkannya. 


-- Divine Discourse, 20 Februari 1992

Ketika manusia mematuhi perintah Tuhan sepenuhnya, maka semua bebannya akan ditanggung.