Friday, November 30, 2007

Thoughts for the Day - 1st December 2007 (Saturday)





You have to make your love pure. To do so, you must develop Kshama (forbearance), which implies remaining serene, patient and observing self-restraint under all circumstances, doing good to all, even to those who may want to harm you. There is nothing greater than Kshama. Kshama is equivalent to truth itself. It is the heart of Dharma (righteousness). It is non-violence in practice. Kshama is contentment, compassion; truly, it is everything in all the worlds. Only when you have developed Kshama will you be able to attain the Lord.

Sucikan dan murnikanlah cinta-kasihmu. Untuk mencapai hal tersebut, maka engkau perlu mengembangkan Kshama (kesabaran) yang diartikan sebagai sikap tenang, sabar dan mempraktekkan pengendalian diri dalam segala keadaan, berbuat baik terhadap semua orang, termasuk kepada mereka yang ingin mencelakaimu. Tak ada yang lebih berharga daripada Kshama. Ia dapat dipersamakan dengan kebenaran itu sendiri. Ia laksana jantung Dharma (praktek kebajikan) dan Ia juga merupakan tindakan tanpa kekerasan dalam praktek sebenarnya. Kshama adalah rasa berpuas diri dan welas-asih; dengan perkataan lain, ia adalah segala-galanya di dalam dunia ini. Tuhan hanya bisa tercapai apabila engkau mengembangkan Kshama.

-BABA

Thursday, November 29, 2007

Thoughts for the Day - 30th November 2007 (Friday)




You should be prepared to face every challenge of life with courage. Courage is the key to success. Life is bound to offer all kinds of difficulties, but you should not quail before them. Face every ordeal with fortitude. Nowadays, people get easily depressed and confused when they encounter difficulties. Depression leads to frustration. This is not the way to face the challenges of life. You should develop the courage to go through the adventure of life. Adhering to truth, cherishing love in your heart, cultivating fortitude, face life with firm determination and steady vision. Such a life will result in fulfilment. The rewards of life can only be got through strenuous effort.

Bersiap-siaplah untuk menghadapi segala jenis tantangan hidup dengan penuh keberanian. Courage (keberanian) merupakan kunci kesuksesan. Hidup ini pasti diselingi oleh berbagai jenis kesulitan, namun engkau tidak boleh takluk di hadapan mereka. Hadapilah semuanya dengan sikap yang tabah. Akhir-akhir ini orang-orang cenderung gampang mengalami depresi dan terguncang ketika berhadapan dengan kesulitan-kesulitan hidup. Depresi akan menghasilkan rasa frustasi. Janganlah mengadopsi sikap-sikap seperti itu ketika berhadapan dengan tantangan hidup. Kembangkanlah keberanian sepanjang petualangan hidup ini. Berpegang teguh kepada nilai-nilai kebenaran, pelihara cinta-kasih di dalam hatimu, bersikap tabah, hadapilah kehidupan dengan tekad yang bulat dan pandangan yang mantap. Cara hidup seperti ini akan membuahkan hasil yang berlimpah. Berkah kehidupan hanya bisa tercapai melalui upaya yang betul-betul ulet & tekun.

-BABA

Wednesday, November 28, 2007

Thoughts for the Day - 29th November 2007 (Thursday)




The chief means by which you can detach your mind from the distractions of the world and attach yourself to the search for God are : Yoga and Thyaga. Kama (desire) has to be got rid of by Thyaga (renunciation) and Rama (God) has to be secured by Yoga (the conjunction of all your faculties for a spiritual purpose). Desire dulls the intelligence; it perverts judgement; it sharpens the appetite of the senses; it lends a false lure to the objective world. When desire disappears or is concentrated on God, intelligence shines in its pristine splendour; and that splendour reveals the God present within and outside. That is 'Atma-Sakshatkara' or Self-realization.

Cara utama dimana engkau dapat melepaskan kemelekatan batinmu terhadap hinggar-bingar duniawi serta sebaliknya mendekatkanmu kepada Tuhan adalah: Yoga dan Thyaga. Kama (desire/keinginan duniawi) haruslah disingkirkan melalu Thyaga (renunciation/praktek ketidak-melekatan) dan Rama (Tuhan) bisa dicapai melalui Yoga (praktek untuk menyatukan segenap jiwa & raga demi untuk tercapainya tujuan spiritual). Keinginan duniawi yang tidak terkendali akan semakin menumpulkan intelligence (buddhi) dan mengaburkan kemampuan diskriminatif; sebagai akibatnya, dorongan hawa nafsu menjadi semakin merajalela sehingga akhirnya engkau akan semakin terseret dalam dunia obyektif ini. Ketika desire berhasil diatasi atau dikonsentrasikan kepada TUhan, maka intelligence (buddhi) akan semakin bersinar terang dan kecemerlangan itu akan menampilkan Tuhan yang latent ada di dalam dan di luar. Inilah yang dikenal sebagai ‘Atma-Sakshatkara’ atau pencerahan diri (self-realization).

-BABA

Thoughts for the Day - 28th November 2007 (Wednesday)



Spiritual pride is the most poisonous of all varieties of pride; it works insidiously and ruins the person harbouring it. Always be aware that you are but an instrument in the Divine Mission of Dharmasthapana (re-establishment of righteousness). Try to become better and efficient instruments in the Divine hands. The hand that wields the instrument knows how and when it has to be applied.

Kesombongan spiritual merupakan racun yang paling berbahaya dibandingkan racun-racun lainnya; ia bekerja secara diam-diam di dalam diri orang yang menyimpan sifat tersebut. Senantiasalah sadar bahwa engkau adalah instrumen dalam misi Divine Dharmasthapana (penegakkan kembali nilai-nilai kebajikan). Cobalah untuk menjadi instrumen yang lebih baik dan efisien di tangan Divine. Tangan yang memegang atau mengendalikan instrumen itu tahu secara persis kapan sebaiknya dan bagaimana instrumen tersebut diaplikasikan.

-BABA


Thoughts for the Day - 27th November 2007 (Tuesday)



Devotion to the Lord is really a form of discipline for reaching the goal. The seeker should not stop with the acquisition of devotion, nor pay so much attention to the love he has for the Lord, but rather on the love and grace the Lord bestows on him. One should always be eager to find out what behaviour and what actions will be most pleasing to the Lord. Inquire about that, yearn for that, and carry out the things that will secure that objective. But people do not generally follow this ideal. They pay more attention to the love that the devotee has for the Lord and, in the process, do not pay much attention to the righteousness and the work that the Lord appreciates. Whatever a devotee does, plans or observes should draw down the grace of God. One should not be subject to one’s own will but be in accordance with His Will. The devotee should test every thought and feeling on the touchstone of the Lord’s declared preferences.

Devotion (bhakti) kepada Tuhan merupakan salah-satu bentuk disiplin untuk mencapai tujuan (hidup). Para aspiran spiritual hendaknya tidak hanya sekedar berpuas-diri dengan pemupukan rasa bhakti, dan juga tidak hanya semata-mata memberi perhatian atas cinta-kasihnya kepada Tuhan. Yang jauh lebih penting adalah bahwa kita harus memperhatikan seberapa besar cinta-kasih dan rahmat Ilahi yang dicurahkan oleh Tuhan kepada kita masing-masing. Cobalah cari tahu perilaku dan tindakan apa yang paling disenangi oleh Tuhan. Selidiki dan milikilah yearning serta laksanakanlah hal-hal yang akan mencapai tujuan tersebut (menyenangkan hati Tuhan). Pada umumnya orang-orang tidak melakukan hal tersebut. Mereka cenderung lebih memperhatikan cinta-kasih yang dimilikinya kepada Tuhan dan sehingga akibatnya, dia tidak begitu mementingkan nilai-nilai kebajikan serta pekerjaan yang dihargai oleh Tuhan. Pastikanlah engkau mendapatkan siraman rahmat Tuhan melalui perbuatan, rencana serta hasil observasimu. Alih-alih hanya mengikuti dorongan kehendak sendiri, pastikanlah bahwa kehendakmu selaras dengan kehendak-Nya. Preferensi Tuhan merupakan barometer bagimu dalam mengevaluasi setiap bentuk pikiran dan perasaanmu.

-BABA

Saturday, November 24, 2007

Thoughts for the Day - 26th November 2007 (Monday)




The Vedas have held forth the message of people living in amity, striving together for common ends and sharing the fruits of their co-operative efforts. They have also proclaimed the omnipresence of the Divine. The cosmic form of the divine encompasses every being in the universe. Forgetting the truth - "Sarvam Vishnumayam Jagath", that the Divine is immanent in the Cosmos, people search for the Divine. Every human being is a spark of the Divine. Hence, there should be no ill-will towards anyone.

Kitab suci Veda telah menyampaikan pesan-pesan dari kelompok orang-orang yang pernah hidup dalam suasana persahabatan, yang bersama-sama berjuang untuk mencapai tujuan bersama serta saling berbagi atas buah karya dari upaya kooperatif di antara mereka. Manusia luhur dari zaman itu telah memproklamirkan tentang aspek omnipresence-nya Sang Divine. Wujud kosmik dari Divine mencakupi setiap mahluk di alam semesta ini. Orang-orang (dewasa ini) mencari-cari keberadaan Divine, hal ini disebabkan oleh karena mereka telah melupakan kebenaran – “Sarvam Vishnumayam Jagath” (Divine terdapat di komos). Setiap orang adalah bagian dari percikan Divine. Oleh sebab itu, janganlah engkau memiliki niat jahat terhadap siapapun juga.
-BABA

Thoughts for the Day - 25th November 2007 (Sunday)





Detachment, faith and love – these are the pillars upon which peace rests. Of these, faith is crucial, for without it all spiritual discipline is empty. Detachment alone can make spiritual discipline effective, and love is what leads one quickly to God. Faith feeds the agony of separation from God; detachment canalises it along the path of God, and love lights the way. God will grant you what you need and deserve; there is no need to ask, no reason to grumble. Be content. Nothing can happen against His will.

Detachment (ketidak-melekatan), keyakinan dan cinta-kasih – semuanya ini adalah bagikan pilar-pilar untuk menyokong kedamaian (batin). Dari ketiganya, keyakinan sangatlah penting, sebab tanpa adanya keyakinan, maka semua disipliln spiritual menjadi tak ada gunanya. Disiplin spiritual hanya bisa efektif apabila disertai dengan ketidak-melekatan dan cinta-kasih yang secara cepat akan menuntun kepada Tuhan. Keyakinan akan memuaskan kerinduan atas Tuhan; ketidak-melekatan menyalurkannya di jalan Tuhan dan cinta-kasih akan menerangi perjalanan itu. Tuhan akan memberikan hal-hal yang memang engkau perlukan dan yang memang layak dimilikimu; engkau tidak perlu meminta dan juga tidak perlu mengeluh. Milikilah sikap berpuas diri, dan yakinlah bahwa tidak ada sesuatupun yang dapat terjadi secara berlawanan dengan kehendak-Nya.

-BABA

Friday, November 23, 2007

Thoughts for the Day - 24th November 2007 (Saturday)




Man is the embodiment of Sath-Chith-Ananda (Being-Awareness-Bliss). But he is unable to recognise his true identity because egoism and possessiveness, pomp and pride envelop man's true form of Sath-Chith-Ananda. When he is able to get rid of attachment and hatred, egoism and acquisitiveness, he will recognise his divine nature. The Divine within is covered by these tendencies like ash over a burning charcoal. When the ash is blown away, the fire will reveal itself.

Manusia adalah perwujudan Sath-Chith-Ananda (Being-Awareness-Bliss/Kebenaran-Kesadaran-Kebahagiaan). Namun manusia tidak mampu mengenali jati-dirinya yang sejati tersebut, hal ini dikarenakan manusia terbelenggu oleh egoisme, sikap kepemilikan, penonjolan diri serta kesombongan. Apabila ia sanggup mengatasi kemelekatan dan kebenciannya, egoisme serta sikap keserakahan, maka kelak ia pasti akan dapat mengenali benih divinity-nya. Divine yang laten ada di dalam diri setiap insan sedang tertutup oleh kecenderungan-kecenderungan negatif tadi, persis seperti bara-api yang sedang tertutup oleh sekumpulan debu. Jikalau debu-debu itu disingkirkan, maka bara api tersebut akan mulai terlihat.

-BABA

Thursday, November 22, 2007

Thoughts for the Day - 23rd November 2007 (Friday - 82nd birthday)




This is the human form in which every Divine entity, every Divine Principle, that is to say, all the names and forms ascribed by man to God are manifest. Do not allow doubt to distract you. If you fill your heart with steady faith in My Divinity, you can win the vision of My Reality. Instead, if you swing like a pendulum of a clock, one moment devotion, another moment disbelief, you can never succeed in comprehending the Truth and attaining bliss. You are very fortunate that you have a chance to experience the bliss of the vision of the Sarva Devata Swarupa (the form which is the embodiment of all gods) now, in this very life.

Inilah wujud manusia dimana seluruh Divine entity dan Divine principle telah termanifestasikan dan demikian pula halnya dengan serta seluruh nama dan rupa yang pernah diberikan oleh manusia kepada Tuhan. Janganlah engkau membiarkan keragu-raguan mengusikmu. Isilah hatimu dengan keyakinan yang mantap atas Divinity-Ku, maka dengan demikian, engkau akan bisa memperoleh vision atas Realitas-Ku. Tetapi apabila sebaliknya, jika engkau membiarkan dirimu terombang-ambing bagaikan pendulum sebuah jam, dimana pada satu saat engkau begitu berbakti dan pada saat berikutnya langsung berbalik menjadi tidak percaya, sikap seperti ini tidak akan bisa membuatmu berhasil dalam memahami kebenaran serta untuk mencapai bliss. Sebenarnya engkau sungguh sangat beruntung karena pada saat ini dan dalam kehidupan sekarang juga, memiliki kesempatan untuk mengalami bliss melalui penampakkan Sarva Devata Swarupa (wujud yang merupakan pengejawantahan dari semua aspek Ilahi).

-BABA

Wednesday, November 21, 2007

Thoughts for the Day - 22nd November 2007 (Thursday)




The future of a nation depends on its youth. The strength of the youth lies in their spirit of patriotism. The primary duty of the youth is to render service to the society. The physical and mental strength of the youth is the foundation on which a nation is built. Wake up from the slumber of selfishness and narrow-mindedness and resolve to serve the nation. Perform all activities keeping the esteem and honour of the nation uppermost in your heart. It is unbecoming of the youth to forget divinity and the goal of life, and to waste time in physical and materialistic pursuits. The youth should express human qualities by cultivating noble character and by rendering service to the society. They should understand that the well-being of the individual lies in the safety and security of the nation.

Masa depan suatu bangsa dan negara tergantung pada youth (kaum muda). Kekuatan para youth terletak pada semangat patriotismenya. Tugas atau kewajiban utama para youth adalah memberikan service (pelayanan) kepada society (masyarakat). Kekuatan fisik dan mental para youth merupakan fondasi dimana berdirinya suatu bangsa/negara. Sadari dan bangunkanlah dirimu dari sifat-sifat selfishness (mementingkan diri sendiri) dan narrow-mindedness (pandangan sempit/picik), bulatkanlah tekadmu untuk bekerja demi kemajuan bangsa. Laksanakanlah semua aktivitasmu sembari tetap menjaga nama baik bangsa. Sungguh amat disayangkan sekali apabila para youth melupakan divinity dan tujuan hidupnya sembari menyia-nyiakan waktunya dalam memenuhi keinginan fisik dan materialistik semata. Para youth seyogyanya mengekspresikan kualitas kemanusiaan melalui karakternya yang luhur serta melalui tindakannya yang senantiasa memberikan pelayanan kepada society. Mereka (youth) harus menyadari bahwa kesejahteraan individu adalah tergantung pada keselamatan dan keamanan bangsa.

-BABA

Tuesday, November 20, 2007

Thoughts for the Day - 21st November 2007 (Wednesday)




The duration of life is under the control of He who gave life in the first place, the Creator. It does not depend on the calories of food consumed or the quality of drugs that are injected, or the qualification of the physician who prescribes the medicines. The chief causes of ill-health and death are fear and loss of Faith. If one concentrates on the Atma (soul) that is beyond diminution, senility and destruction, one can conquer Death. Therefore, the most effective prescription for all kinds of illnesses is the administration of 'Atma Vidya' or the Knowledge of the Self.

Rentang kehidupan ini berada di bawah kendali Sang pemberi kehidupan, yaitu Sang Pencipta sendiri. Ia tidak bergantung pada jumlah kalori makanan yang dikonsumsi ataupun kualitas dari obat-obatan yang disuntikkan maupun kualifikasi dari dokter yang memberikan resep obat tersebut. Penyebab utama penyakit dan kematian adalah oleh karena adanya rasa takut dan hilangnya keyakinan. Jikalau engkau berkonsentrasi kepada Atma (Soul/Self) yang tidak terpengaruh oleh penyakit, usia-tua dan kematian; maka engkau akan dapat menaklukkan kematian. Oleh sebab itu, resep yang paling efektif untuk menangani segala bentuk penyakit adalah ‘Atma Vidya’ (pengetahuan tentang Self/Atma).

-BABA

Monday, November 19, 2007

Thoughts for the Day - 20th November 2007 (Tuesday)



In the Bhagavad Gita, the Lord declared : "Bheejam maam sarva bhootanam" meaning "I am the seed (source) of all the beings. The tree consists of branches, leaves, flowers and fruits, all of which have grown out of a small seed. Every fruit of that tree has the same kind of seed. Contemplate a while on the magnificent multitude of life in all its rich variety that has come out of the single seed of God. Visualise the immanent Divinity in them. At once, you will be filled with humility, love and wisdom.

Di dalam kitab Bhagavad Gita, Sang Khalik bersabda: “Bheejam maam sarva bhotanam” yang diartikan sebagai “Aku adalah benih (sumber) dari seluruh mahluk hidup.” Sebatang pohon terdiri atas cabang, dedaunan, bunga dan buah-buahan; yang mana semuanya itu bersumber atau terlahir dari sebiji benih yang kecil. Setiap buah yang ada pada pohon itu juga memiliki benih dari jenis yang sama. Coba lakukanlah kontemplasi sejenak atas kehidupan yang maha ragam ini yang notabene juga bersumber dari satu biji benih ke-Tuhanan. Visualisasikanlah Divinity yang berdiam di dalam diri setiap mahluk. Kelak sifat-sifat mulia seperti humility (rendah-hati), cinta-kasih dan kebijaksanaan akan mengisi hatimu.

-BABA

Saturday, November 17, 2007

Thoughts for the Day - 19th November 2007 (Monday)



This visible universe is made up of three Gunas (Sathva, Rajas and Thamas). This is the reason for describing the cosmos as 'Sthree'. The term 'Sthree' has three components: “Sa", "Tha" and "Ra". "Sa" signifies the Sathva Guna. This comprises qualities like forbearance, compassion, and love. "Tha" signifies the Thamo Guna which includes qualities like modesty, bashfulness, fear and patience. "Ra" signifies the Rajo Guna represented by qualities such as courage, sacrifice and the adventurous spirit. Every being born in the world has feminine qualities. Merely on the basis of the physical form, a distinction is made between men and women. The three qualities in the term 'Sthree' are to be found both in men and women.

Alam-semesta ini terbentuk dari tiga jenis Gunas (Sathva, Rajas dan Thamas). Itulah sebabnya kosmos ini juga disebut dengan istilah ‘Sthree’. Terminologi ‘Sthree’ ini mempunyai tiga komponen (suku-kata), yaitu: “Sa”, “Tha” dan “Ra”. “Sa” diartikan sebagai Sathva Guna, yaitu meliputi kualitas diri seperti: tenggang-rasa, welas-asih dan cinta-kasih. “Tha” berarti Thamo Guna, yang meliputi kualitas seperti: kerendahan hati, sopan-santun, sikap malu, ketakutan dan kesabaran. “Ra” adalah Rajo Guna yang direpresentasikan oleh kualitas seperti keberanian, pengorbanan dan semangat berpetualang. Setiap mahluk yang terlahir di dunia ini memiliki kualitas-kualitas feminim. Perbedaan antara pria dan wanita hanyalah berdasarkan faktor penampilan fisik semata. Ketiga kualitas yang terdapat di dalam “Sthree” terkandung baik di dalam diri seorang pria maupun wanita.

-BABA

Thoughts for the Day - 18th November 2007 (Sunday)



Every object has a Swaroopam (its own form) and Swabhavam (its own nature). Man is completely unaware of his real nature, which is love and compassion. He is so much immersed in selfishness that every activity he undertakes is only for furthering his own interests and accumulating possessions for himself. Even the love that man displays towards other persons is with a selfish motive of gaining something out of them and not for the other person's sake.

Setiap obyek mempunyai Swaroopam (wujudnya yang khas) dan Swabhavam (sifat/karakternya yang spesifik). Manusia sama sekali tidak menyadari karakteristiknya yang sebenarnya, yaitu tiada lain adalah mahluk yang mempunyai karakter cinta-kasih dan welas-asih. Manusia telah menjadikan dirinya sedemikian congkak sehingga setiap bentuk tindakan yang dilakukannya semata-mata hanya untuk kepentingan pribadinya serta untuk memperkaya diri sendiri. Bahkan cinta-kasih yang seolah-olah diperlihatkannya terhadap orang lain tak lain hanyalah untuk memuaskan motifnya yang terselubung bagi keuntungannya sendiri dan bukanlah demi untuk manfaat orang lain.

-BABA

Friday, November 16, 2007

Thoughts for the Day - 17th November 2007 (Saturday)


Visions are only reflections of divine vibrations in the mind, aroused by Sadhana (spiritual practice). They are milestones, signposts; they happen on the road to the goal. They do not, they cannot accompany you right to the end. You will have to travel alone and overcome obstacles. Grace from your own self is the most important and essential help for spiritual progress. I might grant you grace without limit, but of what use can that be if your heart is not clean and if your head is full of ego? Clean your heart with Prema (love) and remove ego through service.

Visions hanyalah merupakan refleksi dari divine vibrations di dalam batin, yang dibangkitkan melalui Sadhana (latihan spiritual). Mereka bagaikan tonggak bersejarah yang terdapat di sepanjang jalan menuju ke tempat tujuan-akhir. Ketahuilah bahwa visions tersebut tidak bisa mendampingimu selamanya ke tempat tujuan. Engkau harus melanjutkan perjalanan dan menghadapi sendiri hambatan-hambatan yang ada di sepanjang lintasanmu. Grace atau rahmat dari dirimu sendiri jauh lebih penting bagi kemajuan spiritualmu. Aku mungkin bisa memberimu rahmat yang berlimpah-limpah, tetapi itu semuanya tidak akan ada gunanya selama hatimu masih belum murni dan kepalamu masih penuh dengan ego. Oleh sebab itu, sucikanlah hatimu dengan Prema (cinta-kasih) dan singkirkanlah egomu melalui tindakan pelayanan.

-BABA

Thursday, November 15, 2007

Thoughts for the Day - 16th November 2007 (Friday)



There is no greater Sadhana (spiritual exercise) than service. Service is the principle means for acquiring divine grace. Without being a devoted follower, you cannot become a worthy leader. If you are not willing to do work, you cannot attain divinity. Each one has to realize this truth. Service to society is the highest good. It is Truth, Right Conduct, Peace, Love and Non-violence that give happiness. These are the five principles that sustain life. Under no circumstances should these principles be departed from or given up. Render service to society with these principles in your mind, and with broad-minded dedication to the well-being of all.

Tiada Sadhana (latihan spiritual) yang lebih mulai daripada service (pelayanan). Seva atau pelayanan merupakan moda utama untuk memperoleh divine grace (Rahmat Ilahi). Tanpa terlebih dahulu menjadi pengikut yang setia, maka engkau tidak bisa menjadi seorang pemimpin yang baik. Jikalau engkau tidak bersedia bekerja, maka engkau tidak akan bisa mencapai divinity. Setiap orang perlu merealisasikan kebenaran ini. Service kepada society (masyarakat) merupakan kebajikan tertinggi. Kebahagiaan hanya bisa dicapai melalui kebenaran, kebajikan, kedamaian, cinta-kasih dan tanpa-kekerasan. Inilah kelima prinsip utama yang menyokong kehidupan ini. Dalam keadaan bagaimanapun juga, janganlah melepaskan prinsip-prinsip tersebut. Berikanlah pelayanan kepada masyarakat dengan senantiasa berpegang teguh pada prinsip-prinsip itu, dan dengan hati serta batin yang lapang, dedikasikanlah (hasil-hasil perbuatan bajikmu) demi untuk kesejahteraan semua mahluk.

-BABA

Wednesday, November 14, 2007

Thoughts for the Day - 15th November 2007 (Thursday)



Date:Thursday, November 15, 2007

THOUGHT FOR THE DAY

It is only God, the embodiment of love, who is always with you and in you. Bereft of love, man cannot exist. Love is your life. Love is the light that dispels the darkness of ignorance. One who does not cultivate love will be born again and again. Punarapi Jananam Punarapi Maranam. Whoever is born will die one day and whoever dies will be born again. Birth and death are the Prabhava (effect) of the objective world. As he is deluded by the Prabhava, man is subjecting himself to Pramada (danger).

Hanya Tuhan sajalah, sang perwujudan cinta-kasih, yang senantiasa bersamamu dan di dalam dirimu. Tanpa adanya cinta-kasih, eksistensi manusia tidak mungkin ada. Cinta-kasih adalah kehidupanmu. Cinta-kasih adalah cahaya yang mengusir kegelapan akibat kebodohan batin. Mereka yang tidak memupuk cinta-kasih akan mengalami kelahiran kembali secara berulang-kali. Punarapi Jananam Punarapi Maranam. Siapapun yang terlahir pasti akan mengalami kematian suatu hari kelak dan siapapun yang mati akan terlahir kembali. Kelahiran dan kematian adalah Prabhava (dampak) dari dunia objektif ini. Oleh karena dirinya terdelusi oleh Prabhava, maka manusia akan berhadapan dengan Pramada (mara-bahaya).

-BABA

Tuesday, November 13, 2007

Thoughts for the Day - 14th November 2007 (Wednesday)


The right attitude of the devotee should be one of total surrender. As one devotee declared, “I am offering to you the heart which you gave me. I have nothing I can call my very own. All are yours. I offer to you what is already yours.” As long as this spirit of total surrender is not developed, man will have to be born again and again. One should offer one's heart to the Divine and not be content with making offerings like flowers and fruits.

Sikap yang benar dari seorang bhakta adalah sikap pasrah diri secara menyeluruh. Seperti yang dikumandangkan oleh salah seorang bhakta, “Aku mempersembahkan hati yang telah Dikau berikan kepadaku. Aku tak mempunyai sesuatu yang dapat ku-sebut sebagai milik-ku. Segalanya adalah milik-Mu. Ku persembahkan kembali sesuatu yang sebenarnya adalah milik-Mu.” Selama semangat penyerahan diri total ini belum dikembangkan, maka manusia akan mengalami kelahiran kembali secara berulang-kali. Engkau harus menyerahkan hatimu kepada Divine dan tidak hanya sekedar berpuas diri dengan persembahan-persembahan seperti bunga-bungaan dan buah-buahan.

-BABA

Monday, November 12, 2007

Thoughts for the Day - 13th November 2007 (Tuesday)


Man is a part of the human community. Mankind is a part of nature. Nature is a limb of God. Man has not recognised these inter-relationships. Today men are forgetting their obligations. The Cosmos is an integral organism of interrelated parts. When each one performs his duty, the benefits are available to all. Man is entitled only to perform his duties and not to the fruits thereof. Man is a kind of stage-director of what goes on in Nature. But forgetting his responsibilities, man fights for rights. It is foolish to fight for rights without discharging one's duties. All the chaos and conflicts in the world are due to men forgetting their duties. If everyone discharge their duties diligently, the world will be peaceful and prosperous.

Manusia adalah bagian dari suatu komunitas kemanusiaan. Umat manusia adalah bagian dari alam, sedangkan alam adalah salah-satu organ Tuhan. Banyak orang yang sudah melupakan hubungan yang saling berketerkaitan ini. Sebagai akibatnya, manusia melupakan tugas dan tanggung-jawabnya. Alam semesta (kosmos) adalah ibarat suatu organisme yang terbentuk dari organ-organ tubuh yang saling terkait sama sama lainnya. Apabila masing-masing organ tersebut melaksanakan tugas dan tanggung-jawabnya secara benar, maka manfaat yang dihasilkan akan dinikmati bersama. Manusia adalah mahluk yang secara khusus berkewajiban untuk menunaikan tanggung-jawabnya dan bukannya menuntut hasil atau manfaatnya. Tetapi dalam kenyataannya, manusia malah melupakan kewajibannya tersebut; dan sebaliknya malahan hanya mau memperjuangkan haknya semata-mata. Sungguh bodoh sekali bila ada yang ngotot menuntut hak tanpa mau menunaikan tugas-tugasnya. Semua kekacauan dan konflik yang terjadi di dunia ini adalah buah akibat dari manusia yang telah melupakan tugas & tanggung-jawab masing-masing. Jikalau saja setiap orang melaksanakan kewajibannya dengan benar, maka dunia ini akan menjadi damai dan sejahtera.

-BABA

Saturday, November 10, 2007

Thoughts for the Day - 12th November 2007 (Monday)


Goodness, compassion, tolerance – through these virtues one can perceive the Divinity in oneself and in others. Softness of heart is often condemned as weakness, cowardice and want of intelligence; they say that the heart has to be hardened against pity and charity, but that way lies war, destruction and downfall. Love alone confers lasting happiness and peace. Sharing can alone reduce grief and multiply joy. People are born to share, to serve, to give and not to grab.

Kebajikan, sikap welas-asih, toleransi – semuanya ini adalah sifat-sifat luhur yang memungkinkan seseorang merealisasikan Divinity yang ada di dalam dirinya dan juga di dalam diri orang lain. Kelembutan hati sering kali disalah-tafsirkan sebagai kelemahan, sikap pengecut dan kurang intellek; orang-orang yang salah tafsir ini mengatakan bahwa hati nurani seharusnya dilatih untuk tidak gampang berbelas-kasihan dan juga tidak mudah berderma; padahal sebenarnya justru akibat hati yang sedemikian keraslah yang menimbulkan peperangan, kehancuran dan keambrukan. Hanya cinta-kasih saja yang bisa memberikan kebahagiaan dan kedamaian abadi. Sikap saling-berbagi akan mengurangi penderitaan dan menghasilkan keceriaan. Manusia dilahirkan untuk salilng berbagi, melayani, memberi dan bukannya merebut paksa.

-BABA

Thoughts for the Day - 11th November 2007 (Sunday)


All that you cannot see, hear or understand cannot be ruled out as non-existent. Even if you flash a powerful light in front of a blind man, he will only see darkness, because he does not have the eyes to see the light. Likewise, persons having no faith will not perceive God even if you show God to them. They do not have the eyes to see divinity and they proclaim that there is no divinity. A blind man can neither see his body nor describe his looks, but it does not follow that he has no body.

Apabila engkau tidak bisa melihat, mendengar atau memahami sesuatu, itu bukanlah berarti bahwa hal-hal tersebut tidak eksis sama sekali. Walaupun engkau menyalakan lampu senter yang sangat terang di hadapan seseorang yang buta, maka ia hanya akan melihat kegelapan saja, sebab yang bersangkutan memang tidak mempunyai mata untuk melihat cahaya tersebut. Nah, demikian pula, orang-orang yang tidak memiliki keyakinan tidak akan bisa menyadari eksistensi Tuhan walaupun engkau sanggup menghadirkan-Nya di hadapan mereka. Orang-orang itu tidak mempunyai mata (batin) untuk melihat divinity, dan alhasil mereka menyatakan bahwa divinity itu sama sekali tidak ada. Manusia yang buta tidak bisa melihat bentuk badannya sendiri dan juga tidak bisa mengambarkan rupa atau tampangnya sendiri, namun itu bukanlah berarti bahwa ia tidak mempunyai badan fisik.

-BABA

Friday, November 9, 2007

Thoughts for the Day - 10th November 2007 (Saturday - Global Akhanda Bhajan)


The spiritual vibrations produced by Bhajans confer great joy both on those who sing them and on those who listen to them. Bhajans remove all negative thoughts, soothe the nerves, purify the mind and fill the body and the heart with sweet love for the divine. As one sings Bhajans, the mind is saturated with God Consciousness and a great ecstasy wells up from within. No mental or intellectual effort is called for, as there is no need to understand anything while uttering the holy names of God and singing His glory. The singing and the atmosphere created by Bhajans takes one beyond the realms of the body, mind and intellect and helps to establish communion with the Higher Self (consciousness) within.

Getaran-getaran spiritual yang dihasilkan oleh bhajan memberikan keceriaan bagi mereka yang menyanyikan dan juga bagi yang mendengarkannya. Bhajan menyingkirkan pikiran-pikiran yang negatif, menenangkan urat-syaraf, memurnikan batin serta mengisi badan serta hati dengan manisnya cinta-kasih terhadap Divine. Ketika engkau menyanyikan bhajan, maka batinmu akan terselimuti oleh kesadaran Tuhan dan oleh sebab itu, di dalam dirimu akan muncul kebahagiaan. Mengucapkan nama suci Tuhan serta menyanyikan kemuliaan-Nya bisa dilakukan siapa saja tanpa harus bersusah-payah melakukan usaha-usaha secara mental maupun intellektual. Nyanyian dan atmosfir yang diciptakan oleh bhajan akan menghantarkanmu melampaui batasan-batasan badan jasmani, batin maupun intellect serta membantu untuk menjembatani persekutuan dengan Atma (kesadaran agung yang ada di dalam diri kita masing-masing).

-BABA

Thursday, November 8, 2007

Thoughts for the Day - 9th November 2007 (Friday - Deepavali)



From the very name of today's festival - Deepavali, it can be inferred that the Divine effulgence is manifest in it. Deepavali means "the array of lights." "Thamasomaa jyotirgamaya" (Lead me from darkness to light) is an Upanishadic prayer. This means that where there is darkness light is needed. What is this darkness? Sorrow is one form of darkness. Lack of peace is another. Disappointment is one form of darkness. Lack of enthusiasm is yet another. All these are different forms of darkness. To get rid of the darkness of sorrow, you have to light the lamp of happiness. To dispel the darkness of disease, you have to install the light of health. To get over the darkness of losses and failures, you have to usher in the light of prosperity.

Hari ini adalah Deepavali, dari namanya saja, kita bisa menduga bahwa festival ini mengandung makna yang berkaitan dengan kemuliaan Divine. Deepavali diartikan sebagai “berkas-berkas cahaya”. “Thamasomaa Jyotirgamaya” (tuntunlah aku dari kegelapan menuju cahaya terang), doa ini adalah salah-satu doa yang terdapat dalam kitab Upanishad. Artinya adalah dimana terdapat kegelapan, maka di situ dibutuhkan cahaya terang atau lentera. Apakah yang dimaksud dengan kegelapan? Pengertian kegelapan meliputi: kesedihan, tiadanya kedamaian, kekecewaan, kurangnya antusiasme dan lain-lain. Semuanya itu adalah beragam bentuk kegelapan. Nah, untuk mengatasi kegelapan oleh karena kesedihan, maka dibutuhkan lampu cahaya kebahagiaan. Untuk mengatasi penyakit, dibutuhkan lampu kesehatan dan untuk menyingkirkan kegelapan akibat kegagalan serta kemerosotan, maka kita harus mengundang masuk cahaya kesejahteraan.

-BABA

Wednesday, November 7, 2007

Thoughts for the Day - 8th November 2007 (Thursday)


Do not give room for differences based on language, religion, caste or nationality. Develop the feeling that all are children of God. You may worship God in any form of your choice, but always bear in mind that God is one. Cultivate love towards all beings and promote unity and harmony.

Janganlah engkau melakukan diskriminasi berdasarkan bahasa, agama, kasta ataupun kebangsaan. Kembangkanlah keyakinan bahwa semua manusia adalah anak-anak Tuhan. Engkau boleh beribadah kepada Tuhan sesuai dengan wujud atau rupa yang engkau sukai, namun ingatlah bahwa Tuhan Maha Esa. Kembangkanlah cinta-kasih terhadap sesama mahluk dan perjuangkanlah unity dan harmony.

-BABA

Tuesday, November 6, 2007

Thoughts for the Day - 7th November 2007 (Wednesday)



Man strives to provide himself with food, clothing and housing for the sake of the body. He must also provide himself with something to keep the mind healthy and happy. It is the mind that conditions the body. The mind is an instrument by which one can liberate oneself or ruin oneself. The mind must become the servant of the intellect and not the slave of the senses.

Manusia berupaya untuk membekali dirinya dengan pangan, sandang dan papan demi untuk kepentingan badan fisiknya. Di samping itu, hendaknya ia juga melakukan usaha untuk menjaga kesehatan dan kebahagiaan batinnya sendiri, sebab kesehatan batin berpengaruh terhadap kebugaran raga (badan). Batin adalah instrumen yang bisa dimanfaatkan untuk mencapai pembebasan atau sebaliknya bisa juga membawa manusia kepada kehancuran. Batin haruslah diperdaya sebagai pelayan bagi intellect (buddhi) dan janganlah membiarkannya menjadi budak kesenangan indriawi.

-BABA

Monday, November 5, 2007

Thoughts for the Day - 6th November 2007 (Tuesday)



Man is mortal and the Divine is immortal. In the mortal human being, there is the immortal Divine Spirit. In the field of the heart, there is a Kalpatharu (wish-fulfilling tree). The tree is surrounded by bushes and briars. When these are removed, the tree will become visible. This wish-fulfilling tree is within each person, but it is encompassed by the bad qualities in man. When these qualities are eliminated, the celestial tree will be recognised. This is the Sadhana (spiritual exercise) that each one has to perform. This is not the quest for something new. It is to experience what is yours. The entire cosmos is within you.

Manusia adalah mortal (mahluk yang mengalami kematian), sedangkan Divine adalah immortal (yang bersifat abadi). Di dalam diri mahluk yang mortal, terkandung Divine Spirit yang abadi. Di dalam hati kita yang diibaratkan seperti sebuah ladang, terdapat pohon Kalpatharu (pohon yang sanggup mengabulkan berbagai jenis permintaan yang diajukan kepadanya). Pohon Kalpatharu ini sedang dikelilingi oleh semak-belukar. Apabila semak-semak tersebut disingkirkan, maka pohon itupun akan tampak. Nah, pohon pengabul permintaan ini terdapat di dalam diri setiap orang, namun ia terselimuti oleh kualitas-kualitas diri yang negatif. Apabila manusia sanggup mengatasi kualitas dirinya yang negatif itu, maka pohon surgawi tersebut akan dapat dikenali. Inilah jenis latihan spiritual yang hendaknya dipraktekkan oleh setiap orang. Kita tidak sedang mencari sesuatu yang baru, melainkan justru untuk mengalami sesuatu yang sebenarnya adalah hak-milikmu. Keseluruhan kosmos (alam-semesta) berada di dalam dirimu sendiri.

-BABA

Saturday, November 3, 2007

Thoughts for the Day - 5th November 2007 (Monday)



Each one has come embodied into this world of joy and grief, of growth and decay in order to discover the way home, to get back to the source from which he has strayed into this wilderness. This has to be done within the allotted time of our life span. But, man is attracted by the phantom lights and he ignores the call of destiny. His senses lead him on and on, deeper and deeper into the maze until he dies with a moan instead of with a smile. The precious years between birth and death are wasted in worthless acquisitions and meaningless achievements.

Setiap orang terlahir di tengah-tengah dunia yang diliputi oleh dualisme kegembiraan dan kesedihan, tumbuh besar dan akhirnya menjadi tua guna mencari jalan untuk kembali ke ‘rumah’, yaitu ibarat orang yang sedang tersesat, manusia sedang mencari jalan untuk kembali lagi ke sumber yang merupakan tempat asal-muasalnya. Hal ini harus bisa terlaksana dalam jangka waktu kehidupan yang telah ditetapkan untuk kita. Ironisnya, ternyata manusia malahan menjadi tertarik dengan pernak-pernik kehidupan ini, sehingga akibatnya, ia melupakan tujuan utama kelahirannya. Sensasi indriawinya semakin menjerumuskan dan menyesatkan perjalanannya, sehingga ketika mendekati ajal, bukannya meninggal dengan sambil tersenyum, ia akan meninggal dengan rintihan & penyesalan. Tahun-tahun yang telah terlewatkan sejak kelahiran hingga kematian telah disia-siakan dalam mengumpulkan harta kekayaan serta pencapaian yang tiada artinya sama sekali.

-BABA

Thoughts for the Day - 4th November 2007 (Sunday)



From time to time, the Divine power assumes numerous forms. In devotees, it shines as the Jnana-Agni (fire of wisdom). In non-devotees, it burns as Krodha-Agni (the fire of anger) or the Kama-Agni (fire of desire). Man today has this fire (of anger, etc) in his heart and has become a victim of fear and delusions. All other types of fire subside in due course of time, but these fires (of anger, etc.) never completely cease. They may flare up at any moment. How, then, are these fires to be extinguished once for all? Vairagya (detachment) and Prema (love) are the two requisites to extinguish these fires. It is only through Prema (love) that man can acquire peace.

Dari waktu ke waktu, kekuatan Divine telah mengambil berbagai macam rupa/wujud. Di dalam diri para bhakta, kekuatan ini termanifestasikan sebagai Jnana-Agni (api kebijaksanaan). Sedangkan di dalam diri non-bhakta, kekuatan ini muncul sebagai Krodha-Agni (api kemarahan) ataupun Kama-Agni (api keinginan rendah). Manusia mempunyai semua api-api tersebut (kemarahan, dan sebagainya) di dalam hatinya, dan sebagai akibatnya, ia telah menjadi korban atas rasa takut maupun delusi (kebodohan batin). Semua jenis-jenis api lainnya pasti kelak akan padam, akan tetapi bara kemarahan dan negativitas lainnya tidak akan pernah padam secara total. Setiap saat ia bisa saja muncul & membakar lagi. Lalu, bagaimanakah caranya untuk memadamkan api-api tersebut untuk selamanya? Dua persyaratan utamanya adalah Vairagya (ketidak-melekatan) dan Prema (cinta-kasih). Hanya melalu Prema (cinta-kasih), maka kita akan memperoleh kedamaian.

-BABA

Friday, November 2, 2007

Thoughts for the Day - 3rd November 2007 (Saturday)

The sun derives its energy and effulgence from the same cosmic source that accounts for the power of the human mind and body. There is no greater power than this. This boundless power is being recognised and exercised by each according to the level of his development. Since man has the ability to manifest the latent divinity in himself, he is described as a manifestation of God. Humanness consists in manifestation of what is hidden and invisible to the eye.

Energi dan kecemerlangan matahari diperoleh dari sumber kosmik yang juga memberikan daya kekuatan kepada jiwa dan raga manusia. Tiada kekuatan lain yang melebihinya. Sumber daya yang tak terbatas ini dimanfaatkan oleh setiap orang sesuai dengan tingkat perkembangan (batin)-nya. Oleh karena manusia mempunyai kemampuan untuk memanifestasikan divinity yang laten di dalam dirinya, maka itulah sebabnya, ia juga dijuluki sebagai manifestasi Tuhan. Salah-satu maksud & tujuan kehidupan sebagai manusia adalah untuk memanifestasikan sumber daya kekuatan yang tersembunyi dan tak terlihat itu.

-BABA

Thursday, November 1, 2007

Thoughts for the Day - 2nd November 2007 (Friday)

Electricity is found everywhere in nature, but it can be tapped and put to use only through certain contrivances designed by man. The Atma Shakti (spiritual power) that is present everywhere is stored in the body and passes through the thin wires or nerves and illumines and directs activity. These activities have to be oriented towards Ananda (spiritual bliss) and not attachment to temporary pleasures. The life principle that flows as intelligence through every cell and nerve is also a reflection of the Atma.

Tenaga listrik terdapat di seantero alam semesta ini, namun ia hanya bisa dimanfaatkan apabila kita menggunakan alat-alat yang dirancang dan dibuat oleh manusia. Demikian pula, Atma Shakti (kekuatan spiritual) juga eksis dimana-mana serta tersimpan di dalam badan jasmani yang mengalir melalui kawat tipis atau urat nadi. Ia menerangi dan mengarahkan segenap aktivitas manusia. Seyogyanyalah kegiatan-kegiatan manusia diarahkan demi untuk tercapainya Ananda (spiritual bliss) dan bukan demi untuk mencapai kenikmatan sesaat. Prinsip kehidupan yang mengalir sebagai intellek melalui setiap sel dan urat nadi tersebut adalah juga merupakan refleksi Atma.

-BABA