Sunday, February 28, 2021

Thought for the Day - 28th February 2021 (Sunday)

Not only in India but in several parts of the world, people are getting interested in the knowledge and practice of yoga. Though there are many schools of yoga, the most significant is Patanjali Yoga. Patanjali defines yoga as the regulation and control of the tendencies of the mind. Without controlling the senses, we cannot attain happiness in any walk of life or in any endeavour. If we just let go of our senses in a wild fashion, the result will be sorrow and joy. Today people are not paying proper attention to the control of their senses. Some people are under the misapprehension that they miss the very essence of life if they control their senses and deny themselves the pleasures of the senses. This is a mistaken idea. We should not think that we are restraining the senses from performing their functions. The real significance of this process is that we are directing and regulating them along the proper channels. Then we shall be able to enjoy the real delight of the mind and real pleasure of the spirit! 



Tidak hanya di India namun di beberapa bagian belahan dunia, manusia semakin tertarik dalam pengetahuan dan praktik yoga. Walaupun ada banyak sekolah yoga, yang paling berarti adalah Patanjali Yoga. Patanjali memaknai yoga sebagai pengaturan dan pengendalian kecenderungan dari pikiran. Tanpa mengendalikan indera, kita tidak bisa mencapai kebahagiaan dalam jalan hidup apapun atau dalam usaha apapun. Jika kita hanya melepaskan indera kita secara liar, hasilnya adalah kesedihan dan kesenangan. Hari ini manusia tidak memberikan perhatian yang tepat pada pengendalian indera mereka. Beberapa orang ada dibawah kesalahpahaman bahwa mereka kehilangan esensi kehidupan jika mereka mengendalikan indera mereka dan meniadakan diri mereka dari kesenangan indera. Ini adalah sebuah gagasan yang salah. Kita seharusnya tidak berpikir bahwa kita sedang menahan indera dalam menjalankan fungsinya. Makna yang sesungguhnya dalam proses ini adalah kita sedang mengarahkan dan mengaturnya di sepanjang jalur yang tepat. Kemudian kita akan mampu untuk menikmati kegembiraan sejati dari pikiran dan jiwa! (Ch 17, Summer Showers in Brindavan, 1972)

-BABA

 

Thought for the Day - 27th February 2021 (Saturday)

There are five fingers in every hand. If each finger points towards its own peculiar direction, how can the hand hold or manipulate any article? If they come together and stay together, the hands can accomplish whatever they plan. Similarly, when one of you turns your head away at the sight of another, and ten people insist on ten diverse directions, how can any deed be done? You must all be equally alert, active and co-operative. Why must you compete and quarrel? Nothing in this world can last as such for long. Buddha diagnosed this correctly. He declared, "All is sorrow, all is transient; all are but temporary contraptions of ephemeral characteristics." Why should you be fatally fascinated by these finite things? Strive to gain the eternal, the infinite, the universal. One day you have to give up the body you have fed and fostered. How long can you keep all that you have earned and possessed with pride? 



Ada lima jari di setiap tangan. Jika setiap jari menunjukkan pada arah tertentu, bagaimana tangan bisa memegang atau menggerakkan sesuatu? jika jari-jari tangan berjalan bersama dan tetap bersatu, tangan dapat menyelesaikan apapun yang mereka rencanakan. Sama halnya, ketika salah satu darimu memalingkan kepalamu dari pandangan orang lain, dan sepuluh orang akan memalingkan wajah mereka pada sepuluh arah yang berbeda, bagaimana perbuatan apapun bisa dilakukan? Engkau semua harus sama-sama waspada, aktif dan bekerjasama. Mengapa engkau harus bersaing dan bertengkar? Tidak ada apapun di dunia ini yang bisa bertahan lama seperti itu. Buddha mendiagnosa hal ini dengan benar. Beliau menyatakan, "semuanya adalah penderitaan, semuanya adalah sementara; semuanya hanyalah alat yang bersifat sementara dari karakteristik fana." Mengapa engkau harus menjadi sangat terpesona dengan hal-hal yang terbatas ini? Berusahalah untuk mendapatkan yang kekal, tidak terbatas, universal. Suatu hari engkau harus melepaskan tubuh yang engkau beri makan dan rawat. Berapa lama engkau dapat menyimpan semua yang engkau dapatkan dan miliki dengan kebanggaan? (Divine Discourse, May 1981)

-BABA

 

Thought for the Day - 26th February 2021 (Friday)

Whatever you do (wherever you are), feel that it is prompted by Swami and let it be acceptable to Swami. I am the recipient of all your efforts and attempts! For example, the army recruits washermen to wash and iron uniforms and clothing. It has barbers and sweepers on the payroll; they work in camps and move with the military personnel. They may be engaged in different types of work but everyone has to undergo physical training and drill, everyday. So too, one of you may be working in an office, another in a shop, or in the press, but everyone must engage in sadhana with devotion, discipline and a sense of duty. Do not feel that your role is low and the other person's is high. Do not be depressed when you find your role is minor; do not be proud when you discover that your role is major. Give your best to whatever role is allotted to you. That is the way to earn Grace! 



Apapun yang engkau lakukan (dimanapun engkau berada), rasakan bahwa hal itu di dorong oleh Swami dan jadikan itu dapat diterima oleh Swami. Aku adalah penerima semua dari upaya dan usahamu! Sebagai contoh, tentara merekrut tukang cuci untuk mencuci dan menyetrika seragam dan pakaian. Tentara juga memiliki tukang cukur dan tukang sapu dalam daftar gaji mereka; mereka semuanya bekerja di dalam kamp militer dan bergerak bersama dengan anggota militer. Mereka mungkin mengerjakan jenis pekerjaan yang berbeda namun setiap orang harus mengikuti latihan fisik setiap harinya. Begitu juga, salah satu darimu mungkin bekerja di kantor, yang lainnya kerja di toko, atau di media cetak namun setiap orang harus melakukan sadhana dengan bhakti, disiplin, dan rasa tanggung jawab. Jangan merasa bahwa peranmu adalah rendah dan peran yang lain adalah lebih tinggi. Jangan menjadi bersedih hati ketika engkau mendapatkan peranmu bersifat kecil; jangan menjadi bangga ketika engkau mendapatkan bahwa peranmu adalah besar. Berikan yang terbaik dari yang engkau miliki pada apapun peran yang diberikan kepadamu. Itu adalah jalan untuk mendapatkan karunia! (Divine Discourse, May 1981)

-BABA

 

Thought for the Day - 25th February 2021 (Thursday)

The cause for all troubles, confusion and turmoil is the fact that we have lost mastery over our senses. By leaving senses unfettered and unregulated, we will not be able to discriminate properly, and think coolly, calmly and rationally. Thus many times we are misled into wrong actions. In our daily lives, we know that when we become angry, our nerves become weak and feeble, and we lose grip over ourselves. Even a moment of anger takes away our strength we gather by eating good food for three months. Anger not only debilitates us, it takes away merit of our good deeds, and also enfeebles our condition. Anger is like an intoxicant. Internally, it induces us to do wrong things. Anger leads us to commit all other sins. This is the source of all sins. It is a great demon. If we are able to control anger, we shall be in a position to attain merit through the utterance of Lord’s Name. 



Sebab dari semua masalah, kebingungan, dan kekacauan adalah kenyataan bahwa kita telah kehilangan dalam menguasai indera kita. Dengan membiarkan indera tidak terkendali dan tidak diatur, kita tidak akan mampu membedakan dengan baik, berpikir dengan tenang, dan rasional. Jadi sering sekali kita tersesat pada tindakan yang salah. Dalam hidup kita sehari-hari, kita mengetahui bahwa ketika kita marah, maka sistem syaraf kita menjadi lemah dan kita kehilangan pegangan pada diri kita sendiri. Bahkan kemarahan yang sebentar saja menghilangkan kekuatan yang telah kita kumpulkan dengan mengonsumsi makanan selama tiga bulan. Kemarahan tidak hanya melemahkan diri kita, kemarahan menghilangkan pahala baik dari perbuatan-perbuatan baik kita, kemarahan juga melemahkan kondisi kita. Kemarahan adalah seperti minuman keras. Di dalam batin, hal ini mendorong kita untuk melakukan hal-hal yang tidak benar. Kemarahan menuntun kita melakukan semua dosa yang lainnya. Ini adalah sumber dari semua dosa. Kemarahan adalah raksasa yang paling kuat. Jika kita mampu mengendalikan kemarahan, kita akan mencapai posisi untuk bisa mendapatkan pahala baik melalui menyebutkan nama suci Tuhan. (Ch 17, Summer Showers in Brindavan 1972)

-BABA

 

Thought for the Day - 24th February 2021 (Wednesday)

Many people think that concentration is the same as meditation, but there is no such connection. Just look at this, I am now reading a newspaper. My eyes are looking at the letters. My hand is holding the paper. My Intelligence is thinking now. Mind is also thinking. Thus, when the eyes are doing their work, the hand is doing its work, intelligence is doing its work, and the mind is also doing its work, that is how I am able to get the contents of the newspaper. It means, if I want to get the matter contained in the newspaper, all these enumerated senses are concentrated and they are all coordinated and are working on the newspaper. All the normal routines, like walking, talking, reading, writing, eating, etc. are possible as a result of concentration. Many are under the false impression that concentration is identical with meditation, and they take to a wrong path! Concentration is something below your senses, whereas meditation is something above your senses. 



Banyak orang mengira bahwa konsentrasi adalah sama dengan meditasi, akan tetapi tidak ada hubungan diantara keduanya. Cobalah lihat hal ini, Aku sedang membaca surat kabar. Mata-Ku sedang melihat huruf-huruf yang ada. Tangan-Ku memegang surat kabar. Kecerdasan-Ku sedang berpikir sekarang dan pikiran-Ku juga sedang berpikir. Jadi, ketika mata sedang melakukan pekerjaannya, tangan juga sedang melakukan pekerjaannya, kecerdasan juga sedang melakukan pekerjaannya, dan pikiran juga sedang mengerjakan pekerjaannya, itulah caranya bagaimana Aku bisa mendapatkan isi dari surat kabar tersebut. Itu berarti, jika Aku ingin mendapatkan isi dalam surat kabar, maka semua indera yang disebutkan tadi harus terpusat dan terkoordinasi serta sedang membaca surat kabar. Semua kegiatan rutinitas harian, seperti berjalan, berbicara, membaca, menulis, makan, dsb dapat dilakukan adalah hasil dari konsentrasi. Banyak yang salah kaprah bahwa konsentrasi adalah identik dengan meditasi, dan mereka mengambil jalan yang salah! Konsentrasi adalah sesuatu dibawah indera, sedangkan meditasi adalah sesuatu diatas inderamu. (Divine Discourse, Mar 28, 1975)

-BABA

 

Thought for the Day - 23rd February 2021 (Tuesday)

Everyone should respect all others as one's own kin, having the same Divine Spark, and the same Divine Nature. Then, there will be effective production, economic consumption and equitable distribution, resulting in peace and promotion of love. Now, love based on the Innate Divinity is absent and so, there is exploitation, deceit, greed and cruelty. If man becomes aware of all men being 'cells' in the Divine body, then there will be no more 'devaluation' of man. Man is a diamond; but, is now treated by others and by oneself as a piece of glass! Man can realise his mission on the earth only when he knows himself as Divine and when he reveres all others as Divine. And, man has to worship God in the form of Man. God appears before him as blind beggar, an idiot, a leper, a child, a decrepit old man, a criminal or a madman. You must see even behind those veils, the divine embodiment of love, power and wisdom, the Sai, and worship Him through selfless service. 



Setiap orang harus menghormati semua yang lainnya sebagai keluarga sendiri, yang memiliki percikan ilahi yang sama dan memiliki sifat ilahi yang sama. Kemudian, akan ada produksi yang efektif, konsumsi ekonomi, dan distribusi yang adil, yang mana akan menghasilkan kedamaian dan meningkatkan cinta kasih. Sekarang, cinta kasih yang berlandaskan pada sifat ilahi yang dibawa sejak lahir telah hilang sehingga muncul eksploitasi, penipuan, ketamakan, dan kekejaman. Jika manusia menjadi sadar bahwa semua manusia adalah “sel” dalam tubuh ilahi, kemudian tidak akan ada lagi 'penurunan nilai' manusia. Manusia adalah permata; namun, sekarang diperlakukan oleh yang lain dan diri sendiri sebagai sepotong kaca! Manusia dapat menyadari misinya di dunia hanya ketika manusia mengetahui dirinya sendiri sebagai Tuhan dan ketika manusia menghormati semua yang lainnya sebagai Tuhan. Dan, manusia harus memuliakan Tuhan dalam wujud manusia. Tuhan muncul di depan manusia sebagai seorang pengemis buta, seorang idiot, seorang yang berpenyakit kusta, seorang anak, orang tua jompo, seorang penjahat, atau orang gila. Engkau harus melihat bahkan dibalik tabir itu, perwujudan Tuhan dari cinta kasih, kekuatan, dan kebijaksanaan, Sai, dan memuliakan Tuhan melalui pelayanan tanpa mementingkan diri sendiri. (Divine Discourse, Apr 01, 1975)

-BABA

 

Thought for the Day - 22nd February 2021 (Monday)

There are thousands of Bhajana Mandalis (groups for devotional singing), under the auspices of the Sathya Sai Seva Samitis active all over the world. They hold bhajan sessions for about an hour, once or twice a week, and disperse thereafter. They sing the glory of God, in various Names and Forms, and are elated by that experience. The purpose of loud, congregational prayers is different from the silent individual prayers. It is a joint, concerted and mutually helpful effort of Sadhana to overcome the six internal foes of man - lust, anger, greed, attachment, conceit and hatred. These nocturnal birds infest the tree of life and foul the heart where they build their nests. When we sing aloud the Glory of God, the heart is illumined and they cannot bear the light. Besides, the voice that rises from many throats frightens them and they fly away. 



Ada ribuan Bhajana Mandali (kelompok melantunkan lagu kebhaktian), yang ada dibawah naungan serta bimbingan dari Sathya Sai Seva Samiti yang aktif di seluruh dunia. kelompok bhajan itu melakukan sesi bhajan selama satu jam, sekali atau dua kali dalam seminggu, dan bubar setelah itu. Mereka mengidungkan kemuliaan Tuhan dalam berbagai Nama dan Wujud, dan mendapatkan suka cita dalam kegiatan itu. Tujuan dari doa bersama-sama yang dilantunkan dengan nyaring adalah berbeda dengan jenis doa yang dilakukan sendiri dengan hening. Ini adalah sebuah usaha Sadhana (latihan spiritual) bersama-sama yang saling membantu untuk mengatasi enam musuh dalam diri manusia yaitu – nafsu, amarah, ketamakan, keterikatan, kesombongan, dan kebencian. Burung-burung yang keluar di malam hari ini hinggap di pohon kehidupan dan mengotori hati dengan membangun sarang mereka. Ketika kita menyanyikan kemuliaan Tuhan, hati diterangi dan burung-burung tersebut tidak tahan dengan cahaya. Disamping itu, suara yang keluar dari tenggorokan dapat menakuti burung-burung tersebut dan terbang menjauh! (Divine Discourse, Apr 01, 1975)

-BABA

 

Thought for the Day - 21st February 2021 (Sunday)

What is required is the awareness of the vicious game that mind plays. It presents before your attention, one source after another of temporary pleasure; it doesn’t allow any interval for you to weigh pros and cons. When hunger for food is appeased, it holds before the eye, the attraction of a movie, it reminds the ear of the charm of music, and it makes the tongue water for the pleasant taste of something it craves for. The wish becomes very soon the urge for action, urge soon gathers strength and yearning becomes uncontrollable. The burden of desires gradually becomes too heavy and man gets dispirited and sad. Train the mind to turn towards intelligence for inspiration and guidance, not towards senses for adventures and achievements! That will make it an instrument for reducing your vagaries and saving time and energy for more vital matters! Through continuous and consistent Sadhana, man can control the vagaries of the mind, which by their variety and vanity cause disappointment and distress. 



Apa yang dibutuhkan adalah kesadaran terhadap permainan jahat yang dimainkan oleh pikiran. Permainan jahat ini disajikan di depan perhatianmu, satu demi satu sumber kesenangan sementara; pikiran tidak memberikan waktu bagimu untuk menimbang yang baik dan salah. Ketika rasa lapar akan makanan diredakan, pikiran memperlihatkan di depan mata daya tarik sebuah film, pikiran mengingatkan kembali pada telinga tentang pesona musik, dan pikiran membuat air liur keluar untuk rasa yang menyenangkan dari sesuatu yang didambakannya. Keinginan segera menjadi sebuah dorongan untuk bertindak, dorongan ini segera mengumpulkan kekuatan dan kerinduan menjadi tidak terkendali. Beban keinginan secara berangsur-angsur menjadi terlalu berat dan manusia menjadi putus asa dan sedih. Latihlah pikiran untuk mengarah kepada kecerdasan untuk mendapatkan inspirasi dan tuntunan, dan bukan mengarah pada indera untuk berpetualang dan pemenuhan! Hal itu akan menjadikannya sebagai instrumen untuk mengurangi tingkah laku aneh dan menghemat energi untuk hal-hal yang lebih penting! Melalui sadhana yang berkelanjutan dan konsisten, manusia dapat mengendalikan tingkah polah pikiran, yang mana keragaman dan kesombongan pikiran menyebabkan kekecewaan dan kesusahan! (Divine Discourse, Apr 01, 1975)

-BABA

 

Thought for the Day - 20th February 2021 (Saturday)

When you take your body to different places, and when you go about moving aimlessly, the mind also goes to different places. If the body is moving all the time, then the mind is also moving. If you have a container filled with water, if the container is continually shaking, then the contents will continually be shaky too. So we should not keep moving our body and limbs in an aimless manner; this is a very essential part of our practice of meditation. We should sit quiet and the body should be steady. Why do we ask people to sit straight and to sit quiet in meditation? Because when the body is straight and quiet, the mind inside is also straight and quiet. If you cannot control your body, how can you control your mind? The first thing is to control your body by steadying all the limbs and body organs. The basis for the mind wandering is that your physical body is also constantly wandering. So first give up that. 



Ketika engkau membawa tubuhmu ke tempat yang berbeda, dan ketika engkau bergerak tanpa tujuan, pikiran juga pergi ke tempat yang berbeda. Jika tubuh terus bergerak, maka pikiran juga ikut bergerak. Jika engkau memiliki wadah berisi air, jika wadah itu terus-menerus diguncang, maka isinya juga akan terus berguncang. Jadi kita hendaknya tidak terus-menerus menggerakkan tubuh dan anggota tubuh kita tanpa tujuan; ini adalah bagian yang sangat penting dari latihan meditasi kita. Kita harus duduk tenang dan tubuh harus stabil. Mengapa kita meminta orang untuk duduk tegak dan duduk tenang dalam meditasi? Karena ketika tubuh lurus dan tenang, pikiran di dalam juga menjadi lurus dan tenang. Jika engkau tidak dapat mengontrol tubuhmu, bagaimana engkau dapat mengontrol pikiranmu? Hal pertama yang harus dilakukan adalah mengontrol tubuh dengan menstabilkan semua anggota tubuh dan organ tubuh. Dasar dari pikiran yang mengembara adalah bahwa tubuh fisikmu juga terus-menerus mengembara. Jadi pertama-tama serahkan itu. (Divine Discourse, Mar 28, 1975)

-BABA

 

Thought for the Day - 19th February 2021 (Friday)

God cannot be identified with one Name and one Form. He is all Names and all Forms. All Names are His; all forms are His. Your names too are His, you are His Forms. You appear as separate individual bodies because the eye that sees them seeks only bodies, the outer encasement. When you clarify and sanctify your vision and look at them through the Atmic eye, the eye that penetrates behind the physical (with all its attributes and accessories), then you will see others as waves on the ocean of the Absolute, as the "thousand heads, the thousand eyes, thousand feet" of the Virat Purusha (Supreme Sovereign Person) sung in the Rigveda. Strive to win that Vision and to saturate yourself with that Bliss. 



Tuhan tidak bisa diidentifikasi dengan satu Nama dan satu Wujud. Tuhan adalah semua Nama dan semua Wujud. Semua Nama adalah milik-Nya; semua Wujud adalah milik-Nya. Namamu juga adalah milik-Nya, engkau juga adalah wujud-Nya. Engkau kelihatan sebagai tubuh individu yang terpisah karena mata yang melihat semuanya hanya mencari tubuh saja, bungkus luarnya saja. Ketika engkau menjernihkan dan menyucikan pandanganmu dan melihat semuanya melalui pandangan Atma, pandangan mata yang menembus dibelakang fisik (dengan semua perlengkapan dan aksesorinya), kemudian engkau akan melihat yang lainnya sebagai gelombang di lautan yang mutlak, sebagai "seribu kepala, seribu mata, seribu kaki" dari Virat Purusha (Beliau yang tertinggi) yang dilantunkan dalam Rigveda. Berusahalah keras untuk mendapatkan pandangan itu dan memenuhi dirimu dengan kebahagiaan itu! (Divine Discourse, Apr 01, 1975)

-BABA

 

Thought for the Day - 18th February 2021 (Thursday)

One does not have to search for spiritual power, going around the world and spending a lot of money. Be in your own house, develop it in yourself - such spiritual power is in You! You don't have to run for it here and there. God is not external, God is not outside you, God is inside you. You are not human, you are God yourself. And when you are able to realise that, and when you are able to develop the spiritual power from within you, then you will see God. You are going in the path of worldly consciousness. When you take the path of superconsciousness, you will get realisation, and you will be able to see the Truth. The first thing you have to do is to develop self-confidence. It is such people who have no confidence in their own self who begin to wander about and waver, and take to various different paths. 



Seseorang tidak harus mencari kekuatan spiritual, pergi berkeliling dunia, dan menghabiskan banyak uang. Tetaplah berada di dalam rumah, kembangkan kekuatan spiritual di dalam dirimu – kekuatan spiritual seperti itu ada di dalam dirimu! Engkau tidak perlu untuk mengejarnya kemana-mana. Tuhan tidak ada di luar, Tuhan tidak ada di luar dirimu, Tuhan ada di dalam dirimu. Engkau bukanlah manusia, engkau adalah Tuhan itu sendiri. Dan ketika engkau mampu menyadari ini, dan ketika engkau mampu mengembangkan kekuatan spiritual dari dalam dirimu, kemudian engkau akan bisa melihat Tuhan. Engkau sedang berada di dalam kesadaran duniawi. Ketika engkau mengambil jalan kesadaran super, engkau akan mendapatkan pencerahan, dan engkau akan mampu melihat kebenaran. Hal pertama yang engkau harus lakukan adalah mengembangkan kepercayaan diri. Adalah orang-orang yang seperti itu yang tidak memiliki kepercayaan pada diri mereka sendiri yang mulai berkeliaran dan goyah, dan mengambil berbagai jalan yang berbeda. - Divine Discourse, Mar 28, 1975

-BABA

 

Thought for the Day - 17th February 2021 (Wednesday)

Winnow the real from the apparent. Look inside the event, for the kernel, the meaning. Dwell over on your Atmic reality; you are pure, indestructible, and unaffected by the ups and downs of life; you are indeed the true, eternal, unchanging Brahmam, the entity which is all this. A mere five-minute inquiry will convince you that you are not the body, senses, mind or intelligence, name or form, but you are the same Atma that appears as all this variety. Once you get a glimpse of this truth, hold on to it; do not allow it to slip. Make it your permanent possession. As a first step towards the acquisition of this viveka (wisdom) and vairagya (detachment), enter from now on into a discipline of Namasmarana - incessant remembrance of God through the Name of the Lord. All the hours spent in gossip, watching sports or films, and in hollow conversation can best be used for silent contemplation of the Name and Form - the splendour of the Lord! 



Memisahkan yang nyata dari yang semu. Lihatlah ke dalam kejadian, pada intinya, pada artinya. Pikirkan pada kenyataan sejatimu yaitu Atma; engkau adalah suci, tidak bisa dihancurkan, dan tidak terpengaruh dengan pasang surut kehidupan; engkau sesungguhnya adalah Brahman yang sejati, kekal dan tidak berubah, entitas yang memiliki semuanya ini. Penyelidikan mendalam selama lima menit saja akan meyakinkanmu bahwa engkau bukanlah badan, indera, pikiran atau kecerdasan, nama atau wujud, namun engkau adalah Atma yang sama yang hadir dalam semua jenis ini. Sekali engkau mendapatkan sekilas kebenaran ini, peganglah kebenaran ini; jangan biarkan kebenaran ini terlepas. Jadikan kebenaran ini menjadi milikmu yang permanen. Sebagai langkah pertama menuju perolehan viveka (kebijaksanaan) dan vairagya (tanpa keterikatan), mulai sekarang masuklah ke dalam disiplin Namasmarana – tanpa henti mengingat Tuhan melalui nama suci-Nya. Semua waktu yang dihabiskan dalam gosip, menonton olahraga atau film, dan dalam percakapan yang kosong paling baik digunakan dalam kontemplasi hening pada nama dan wujud – kemuliaan Tuhan! - Divine Discourse, Jan 30, 1965

-BABA

 

Thursday, February 25, 2021

Thought for the Day - 16th February 2021 (Tuesday)

You should cultivate an attitude of inseparable attachment to the Lord, who is your very self. If He is a flower, you should feel yourself a bee that sucks its honey; if He is a tree, be a creeper that clings to it; if a cliff, then feel that you are a cascade running over it; if He is the sky, be a tiny star that twinkles in it; above all, be conscious of the truth that you and He are bound by Supreme Love. If you feel this acutely, not with the gross intelligence, but with the subtle intelligence, then, the journey will be quick and the goal can be won. The sthula buddhi (gross intelligence) keeps you walking but the subtle intelligence flies you to the destination. The gross is too much weighed down by the body; the subtle transcends the body and lightens the burden! 



Engkau seharusnya meningkatkan sebuah sikap keterikatan yang tidak terpisahkan dengan Tuhan, yang merupakan dirimu yang sejati. Jika Tuhan adalah seuntai bunga, engkau harus merasakan dirimu sendiri adalah seekor lebah yang menghisap madu bunga itu; jika Tuhan adalah pohon, engkau harus menjadi tumbuhan menjalar yang melekat pada pohon itu; jika Tuhan adalah sebuah karang terjal, engkau harus merasakan bahwa dirimu adalah sebuah jeram yang mengalir pada karang terjal itu; jika Tuhan adalah langit, engkau harus menjadi bintang kecil yang berkelap kelip di sana; diatas semuanya, sadar pada kebenaran bahwa dirimu dan Tuhan diikat dengan kasih yang tertinggi. Jika engkau merasa hal ini begitu kuatnya, bukan dengan kecerdasan kasar, namun dengan kecerdasan halus, kemudian perjalanan akan menjadi cepat dan tujuan dapat dicapai. Sthula buddhi (kecerdasan kasar) tetap membuatmu berjalan namun kecerdasan halus menerbangkanmu menuju tujuan. Kecerdasan kasar terlalu banyak dibebani oleh tubuh; sedangkan kecerdasan halus melampaui tubuh dan meringankan beban yang ada! - Divine Discourse, Jan 30, 1965

-BABA

 

Monday, February 15, 2021

Thought for the Day - 15th February 2021 (Monday)

There are three types of minds: (1) minds like ginned cotton, ready to receive the spark of highest wisdom and to give up in one instant blaze, the weakness and prejudices of ages, (2) minds like dry wood, who succeed but only after some little time, and (3) minds, like green logs, which resist the onslaught of the fire of jnana with all their might. Herds of cattle run towards a mirage to slake their thirst, but you ought to be wiser. You have discrimination (viveka), and renunciation (vairagya); you can detach yourselves consciously from pursuits which you discover as deleterious. Sit quiet for a few minutes and ponder over the fate of those who run towards the mirage. Are they happy? Do they have the strength to bear distress and distinction with equanimity? Have they a glimpse of the beauty, the truth, and the grandeur of the Universe which is the handiwork of God? 



Ada tiga jenis pikiran: (1) pikiran seperti kapas bersih yang siap untuk menerima percikan kebijaksanaan tertinggi dan melepaskan dalam sekejap kelemahan dan prasangka pada usia, (2) pikiran seperti kayu kering, yang berhasil namun hanya setelah beberapa waktu, dan (3) pikiran seperti kayu hijau yang menahan kobaran api jnana dengan seluruh kemampuannya. Kawanan ternak berlari menuju sebuah fatamorgana untuk memuaskan dahaga mereka, namun engkau seharusnya lebih bijak. Engkau memiliki kemampuan membedakan (viveka), dan tanpa keterikatan (vairagya); engkau dapat melepaskan dirimu secara sadar dari pengejaran yang menurutmu adalah merugikan. Duduklah dengan tenang untuk beberapa menit dan renungkan nasib mereka yang berlari mengejar fatamorgana. Apakah mereka senang? Apakah mereka memiliki kekuatan untuk menahan kesusahan dan perbedaan dengan keseimbangan batin? Sudahkah mereka melihat sekilas keindahan, kebenaran, dan kemegahan alam semesta yang merupakan hasil karya Tuhan? -Divine Discourse, Jan 13, 1965

-BABA

 

Thought for the Day - 14th February 2021 (Sunday)

The seer should not attach oneself to the seen - that is the way to get free. The contact of the senses with objects arouses desire and attachment; this leads to effort and either elation or despair. Then, there is fear of loss or grief at failure and the train of reactions lengthens. With many doors and windows kept open to all winds that blow, how can the flame of the lamp within survive? That lamp is the mind, which must burn steadily unaffected by the dual demands of the world outside. Complete surrender to the Lord is one way of closing windows and doors, for, then, in that stance of Sharanagati (complete surrender to God), you are bereft of ego and so, you are not buffeted by joy or grief. Complete surrender makes you draw upon the grace of the Lord for meeting all the crises in your career and so, it renders you heroic, more stalwart, and better prepared for the battle. 



Para peminat spiritual seharusnya tidak mengikatkan dirinya pada yang terlihat – itu adalah cara untuk dapat bebas. Kontak dari indera pada objek memicu timbulnya keinginan dan keterikatan; hal ini menuntun pada usaha dan juga kegembiraan atau keputusasaan. Kemudian, akan muncul ketakutan akan kehilangan atau kesedihan akan kegagalan dan rangkaian reaksi menjadi semakin lama. Dengan banyak pintu dan jendela yang tetap dibiarkan terbuka untuk semua angin yang berembus, bagaimana bisa nyala api dari lampu di dalam rumah dapat bertahan hidup? Lampu itu adalah pikiran yang mana harus tetap menyala tanpa terpengaruh dengan tekanan keadaan dari luar sana. Berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan adalah satu jalan untuk menutup jendela dan pintu, karena, kemudian dalam sikap Sharanagati (berserah sepenuhnya kepada Tuhan), engkau kehilangan ego dan karenanya engkau tidak diterpa oleh suka dan duka cita. Berserah diri sepenuhnya membuatmu dapat menarik rahmat Tuhan untuk dapat menghadapi semua keadaan krisis di dalam hidup dan karenanya, hal ini membuatmu menjadi heroik, lebih kuat dan lebih mempersiapkan diri dalam perjuangan hidup. -Divine Discourse, Jan 13, 1965

-BABA

 

Thought for the Day - 13th February 2021 (Saturday)

The heart full of satwa guna (purity) is the ocean of milk. Steady contemplation of the Divine, either as your own reality or as the ideal to be reached, is the Mandara mountain planted in it as a churning rod. Vasuki, the serpent that was wound around it as a rope, is the group of senses emitting poisonous fumes during the process of churning, nearly frightening the demons who held the head. The rope is held by good and bad impulses and both struggle with the churning process, eager for results. The grace of God is the Tortoise Incarnation, for the Lord Himself comes to the rescue once He knows that you are earnestly seeking the secret of Immortality. He comes, silently, unobserved, as the tortoise did, holding the manana (reflection) process unimpaired and serving as a steady base of all spiritual practices. Many things emerge from the mind when churned, but the wise wait patiently for the appearance of the guarantor of Immortality, and seize upon it with avidity. 



Hati yang penuh dengan satwa guna (kesucian) adalah lautan susu. Perenungan yang secara terus menerus pada Tuhan, baik sebagai kenyataanmu sendiri atau ideal yang ingin dicapai, adalah gunung Mandara yang digunakan sebagai tongkat pengaduk. Vasuki adalah ular berbisa yang diikat di sekitar gunung Mandara sebagai tali, adalah sekelompok indera yang mengeluarkan asap beracun selama proses pengadukan, dan hampir menakuti para raksasa yang memegang kepala Vasuki. Tali dipegang oleh dorongan kebaikan dan keburukan dimana keduanya berjuang dalam proses pengadukan dan ingin mendapatkan hasilnya. Rahmat Tuhan adalah inkarnasi dari kurma (kura-kura), dimana Tuhan sendiri datang untuk menyelamatkan begitu Tuhan mengetahui bahwa engkau bersungguh-sungguh mencari rahasia dari keabadian. Tuhan datang, dalam keheningan, tidak teramati, seperti halnya dilakukan oleh kura-kura, dengan memegang proses manana (refleksi) tanpa gangguan dan berfungsi sebagai dasar yang kokoh bagi semua praktik spiritual. Banyak hal yang muncul dari pikiran ketika diaduk, namun orang bijak menunggu dengan sabar untuk kehadiran penjamin keabadian, dan memanfaatkannya dengan penuh semangat. - Divine Discourse, Jan 13, 1965

-BABA

 

Thought for the Day - 12th February 2021 (Friday)

Remembrance of Lord's name is the method of crossing over the ocean of worldly life for this age. You may doubt whether such small words like ‘Rama’, ‘Sai’ or ‘Krishna’ can take you across the boundless sea of worldly life. People cross vast oceans on a tiny raft; they are able to walk through dark jungles with a tiny lamp in their hands. The Name, even Pranava (Om) which is smaller, has vast potentialities. The raft need not be as big as the sea. The recitation of Name is like the operation of boring to tap underground water; it is like the chisel-stroke that will release the image of God imprisoned in the marble. Break the encasement and Lord will appear; cleave the pillar, as Prahladha asked his father to do, and Lord, who is ever there will manifest Himself. Lord is Anandamaya (full of bliss); He is also Ananda (divine bliss), which is to be tasted through the Name. He is Sat-Chit-Ananda (Being-Awareness-Bliss Absolute). 



Mengingat nama Tuhan adalah metode dalam menyeberangi lautan kehidupan duniawi di zaman ini. Engkau mungkin ragu dengan nama singkat seperti ‘Rama’, ‘Sai’ atau ‘Krishna’ dapat membawamu menyebrangi lautan yang tidak bertepi dari kehidupan duniawi. Manusia dapat menyeberangi lautan luas dengan sebuah rakit sederhana; mereka dapat berjalan melewati hutan yang gelap hanya dengan sebuah lampu kecil di tangan mereka. Nama, bahkan Pranava (Om) yang mana lebih singkat memiliki potensi yang sangat besar. Rakit yang diperlukan tidak sebesar lautan. Pengulangan nama suci Tuhan adalah seperti operasi membuat sumur bor untuk mendapatkan air tanah; ini adalah seperti pukulan pahat yang mengungkapkan wujud Tuhan yang tersembunyi pada batu marmer. Lepaskan pembungkusnya dan Tuhan akan muncul; belah pilarnya seperti yang diminta oleh Prahlada kepada ayahnya dan Tuhan yang selalu ada disana mewujudkan diri-Nya. Tuhan adalah Anandamaya (penuh kebahagiaan); Tuhan juga adalah Ananda (kebahagiaan Tuhan), yang harus dapat dirasakan melalui nama suci Tuhan. Tuhan adalah Sat-Chit-Ananda (kebenaran- kesadaran-kebahagiaan mutlak). - Divine Discourse, Jan 13, 1965

-BABA

 

Thought for the Day - 11th February 2021 (Thursday)

You may have the best of vegetables, you may be the most capable cook, but if the copper vessel in which you prepare the vegetable soup is not tinned, the concoction you cook will be highly poisonous! So ‘tin’ your heart with satya, dharma, shanti and prema (truth, right conduct, peace and divine love), it will then become a vessel fit for repeating holy name or symbols, meditation, religious vows, pilgrimage, ritualistic worship and other dishes that you prepare in it. It is an uphill task: to reform one's tendencies and character. One may study all text-books of spiritual practice, all scriptures, and may even lecture for hours on them; but one will slip into error when temptation confronts. Like land that is parched, the heart may appear to be free from any crop of evil but when the first showers fall, the seeds and roots underneath the soil change the waste into a carpet of green! 



Engkau mungkin memiliki sayur-sayuran yang terbaik, engkau mungkin adalah koki yang paling berkompeten, namun jika peralatan memasak yang engkau persiapkan untuk memasak sup sayur tidak dilapisi timah, maka adonan yang engkau masak pastinya akan sangat beracun! Jadi ‘lapisi’ hatimu dengan Satya, Dharma, Shanti, dan Prema (kebenaran, kebajikan, kedamaian, dan kasih Tuhan), maka hatimu kemudian akan menjadi wadah yang pantas untuk mengulang-ulang nama atau simbol suci Tuhan, meditasi, tirakat agama, ritual pemujaan, dan berbagai bentuk ibadah yang engkau akan lakukan di dalam hati. Ini adalah sebuah tugas yang sulit dilakukan: untuk merubah kecenderungan dan karakter seseorang. Seseorang mungkin mempelajari semua buku-buku petunjuk spiritual, semua naskah suci, dan bahkan memberikan ceramah berjam-jam tentang petunjuk spiritual; namun seseorang akan terpeleset ke dalam kesalahan ketika godaan menggoda. Seperti tanah yang kering, hati yang kelihatan bebas dari tanaman kejahatan namun ketika hujan pertama jatuh, maka benih dan akar yang ada di bawah tanah merubah sampah menjadi hamparan hijau! (Divine Discourse, Jan 13, 1965)

-BABA

 

Thought for the Day - 10th February 2021 (Wednesday)

Prayer for some benefit or gain should not be addressed to God. For, it means that God waits until He is asked! Surrender to Him; He will deal with you as He feels best and it would be the best for you. God does not dole out grace in proportion to the praise He receives! When you pray for a thing from God, you run the risk of condemning Him, if for some reason the prayer is not answered the way you wanted it to be, or as quickly as you wanted it to be! This contingency arises because you feel that God is an outsider, staying in some heaven or holy spot, far away from you. God is in you, God is in every word of yours, in every deed and in every thought. Speak, do and think as it befits Him. Do the duty that He has allotted to the best of your ability, and to the satisfaction of your conscience. That is the most rewarding puja (worship). 



Doa untuk mendapatkan keuntungan seharusnya tidak ditujukan kepada Tuhan, karena, hal ini berarti bahwa Tuhan menunggu sampai Tuhan diminta! Berserahlah kepada Tuhan; Tuhan akan memberikanmu perhatian sebagaimana Tuhan merasa yang terbaik dan ini akan menjadi yang terbaik bagimu. Tuhan tidak membagikan karunia terkait dengan jumlah pujian yang Tuhan terima! Ketika engkau berdoa memohon sesuatu pada Tuhan, engkau memiliki kecenderungan akan menyalahkan Tuhan, jika karena beberapa alasan doa tersebut tidak terkabulkan seperti apa yang engkau inginkan, atau secepat yang engkau harapkan! Kemungkinan ini muncul karena engkau merasa bahwa Tuhan adalah orang luar, tinggal di surga atau di tempat suci, sangat jauh dari dirimu. Tuhan ada di dalam dirimu, Tuhan ada dalam setiap perkataan yang engkau ucapkan, dalam setiap perbuatan yang engkau lakukan, dan dalam setiap pemikiran. Berbicara, berbuat, dan berpikir dimana semuanya itu sesuai dengan Tuhan. Kerjakan kewajiban yang telah Tuhan berikan kepadamu dengan kemampuanmu yang terbaik, dan untuk kepuasan hati nuranimu. Itu adalah puja atau sembahyang yang paling memuaskan. (Divine Discourse, April 1973)

-BABA

 

Thought for the Day - 9th February 2021 (Tuesday)

Man prides that he knows everything but when asked about himself, he hangs his head in shame. Man knows the news of every land, but he is ignorant of the nuisance he is to himself and others. He is moving in darkness but yearning for Ananda (bliss). He does not know the means of securing Ananda through prayer, selfless service, study of spiritual texts, meditation and silence. He has no faith that he is Ananda and that Ananda is his own nature. He is blown off by calamity; for he has no strength to withstand that blow. Faith in the God within is the toughest shield against the thrusts of fate. Nests laboriously built by birds are torn away by storms; fragrant petals of flowers are felled by rain. Defeat and victory are the obverse and reverse of the same coin! When you welcome one, you have willy-nilly to welcome the other too! Forbearance, compassion and incorruptible virtue are the three pillars of a happy life. 



Manusia merasa bangga bahwa ia mengetahui segalanya namun ketika ditanyakan tentang dirinya sendiri, dia menggantungkan kepalanya dalam rasa malu. Manusia mengetahui berita dari setiap tempat, namun dia tidak tahu tentang gangguan yang diperbuatnya untuk dirinya dan orang lain. Manusia berjalan dalam kegelapan namun merindukan untuk mendapatkan Ananda (kebahagiaan). Manusia tidak mengetahui sarana untuk mendapatkan Ananda melalui doa, pelayanan tanpa pamrih, mempelajari naskah-naskah suci, meditasi, dan keheningan. Manusia tidak memiliki keyakinan bahwa dia sendiri adalah Ananda dan Ananda itu adalah sifatnya sendiri. Manusia diterpa bencana karena manusia tidak memiliki kekuatan untuk menahan serangan itu. Keyakinan pada Tuhan di dalam diri adalah perisai paling tangguh dalam menghadapi dorongan dari keadaan itu. Sarang yang dibuat oleh burung dengan susah payah dihancurkan oleh badai; kelopak bunga yang wangi dirobohkan oleh hujan. Kekalahan dan kemenangan adalah dua sisi dari koin yang sama! Ketika engkau menyambut salah satunya maka engkau mau tidak mau harus menyambut yang lainnya juga! Ketabahan, welas asih, dan sifat luhur yang tidak bisa disuap adalah tiga pilar dari hidup bahagia. (Divine Discourse, Apr 1973)

-BABA

 

Monday, February 8, 2021

Thought for the Day - 8th February 2021 (Monday)

Education is not to be taken as a process of filling an empty sack and pouring out its contents, making its sack empty again. It is not the head that has to be filled through education, it is the heart that has to be cleansed, expanded and illumined. Education is for life, not a living. The sign of the educated man is the humility, that he has not been able to know the vast unknown that still remains to be explored. The educated man must realise that he has more obligations than privileges, more duties than rights. He has to serve the society amidst which he is placed and the heritage that has been handed over by forefathers. He should be delighted to serve and not desire to dominate. For, service is divine; service makes life worthwhile. Service is the best way to use one’s skills, intelligence, strength and resources. 



Pendidikan bukanlah sebagai sebuah proses dalam mengisi karung kosong dan kemudian mengeluarkan isinya kembali, membuat karung itu kosong kembali. Ini bukanlah kepala yang harus diisi melalui pendidikan namun adalah hati yang harus dibersihkan, dikembangkan, dan diterangi. Pendidikan adalah untuk hidup dan bukan untuk mencari nafkah. Tanda dari seseorang yang berpendidikan adalah kerendahan hati, bahwa ia belum mampu mengetahui hal yang tidak diketahui yang begitu luas yang masih perlu untuk diungkapkan. Manusia yang berpendidikan harus menyadari bahwa ia memiliki lebih banyak kewajiban daripada hak istimewa, lebih banyak kewajiban daripada hak. Dia yang berpendidikan harus melayani masyarakat dimana dia ditempatkan dan warisan yang telah diserahkan oleh nenek moyang. Dia harus penuh kebahagiaan dalam melayani dan tidak ingin mendominasi. Karena, pelayanan adalah Tuhan; pelayanan membuat hidup menjadi berharga. Pelayanan adalah cara terbaik untuk menggunakan keahlian, kecerdasan, kekuatan, dan sumber daya seseorang! (Divine Discourse, Apr 01, 1973)

-BABA

 

Thought for the Day - 7th February 2021 (Sunday)

Our culture has upheld strength of mind and purity of thought, which are translated into beneficial resolutions and desires, as the essential requisites of a progressive human being. The mystery and splendour of God can be grasped only by a pure mind and a clear vision. That’s why the Lord granted a new eye to Arjuna so that he might not be confounded by His Glory. A resolution adopted by the mind is like a stone thrown into a Sarovara or lake. It produces ripples that affect the entire face and unsettles equanimity. A bad thought desecrates the individual as well as the community. Misery is infectious; your impurity can pollute too. A good sankalpa (resolution) sets up a series of such thoughts, each contributing its quota to the process of purification and strengthening. Bharatiya culture insists on purity of Sankalpa because, like a flagrant flower in the hand, it will spread its beneficial influence on others and through others! 



Kebudayaan kita telah menopang kekuatan pikiran dan kemurnian gagasan, yang diterjemahkan ke dalam resolusi dan keinginan yang bermanfaat, sebagai kebutuhan mendasar dari kemajuan manusia. Misteri dan kemegahan Tuhan hanya dapat dipahami oleh pikiran yang murni dan pandangan yang jelas. Itulah sebabnya mengapa Tuhan menganugerahkan sebuah pandangan baru kepada Arjuna sehingga Arjuna tidak tercengang oleh kemuliaan Tuhan. Sebuah resolusi yang diambil oleh pikiran adalah seperti sebongkah batu yang dilempar ke dalam Sarovara atau danau. Lemparan batu itu akan menghasilkan riak yang mempengaruhi seluruh bentuk dan mengganggu ketenangan. Sebuah gagasan yang buruk menodai seseorang dan juga masyarakat. Penderitaan itu bersifat menular; ketidaksucianmu dapat mencemari juga. Sebuah sankalpa (resolusi) yang baik akan menyusun serangkaian gagasan-gagasan yang seperti itu, setiap gagasan itu memberikan sumbangsih bagiannya pada proses pemurnian dan penguatan. Kebudayaan Bharatiya menekankan pada kesucian dari Sankalpa karena seperti halnya bunga yang wangi ditangan, maka wanginya akan menyebar memberikan pengaruh yang bermanfaat pada yang lain dan melalui orang lain! (Divine Discourse, Mar 30, 1973)

-BABA

 

Sunday, February 7, 2021

Thought for the Day - 6th February 2021 (Saturday)

While trying to get the best out of nature's gifts, you must first be equipped with humility and simplicity; otherwise, you will only be dragged along into ruin, through many unfulfilled desires. Ravana desired Nature (Mother Sita was found as a child in a furrow of ploughed land) but he had not chastened himself enough through the sadhana of seeking God; that is why he met his downfall. Desire leads to anger, when it is foiled; anger weakens the body. It impairs the digestive system and chases one fast into old age. Remember, when Prema (Divine selfless Love) is installed in the heart, jealousy, hatred and untruth will find no place there. Do not seek Prema from others when you refuse Prema to others. This is not one-way traffic! Live in Prema, live with Prema, move with Prema, speak with Prema, think with Prema, and act with Prema. This is the best and the most fruitful Sadhana (spiritual effort). 



Saat mencoba untuk mendapatkan yang terbaik dari anugerah alam, engkau pertama harus melengkapi dirimu dengan kerendahan hati dan kesederhanaan; kalau tidak, engkau hanya akan terseret ke dalam kehancuran melalui banyak keinginan yang tidak terpenuhi. Rahwana menginginkan Alam (Ibu Sita ditemukan sebagai seorang anak dari sebidang tanah yang dibajak) namun Rahwana tidak mendisiplinkan dirinya melalui sadhana dalam pencarian Tuhan; itulah sebabnya mengapa Rahwana mendapatkan kehancurannya. Keinginan menuntun pada amarah, ketika keinginan tidak tercapai; amarah melemahkan tubuh. Amarah melemahkan sistem pencernaan dan membuat seseorang menjadi cepat menua. Ingatlah, ketika Prema (cinta-kasih Tuhan yang tanpa mementingkan diri) ditaruh di dalam hati, maka iri hati, kebencian, dan ketidakbenaran tidak akan menemukan tempat disana. Jangan mencari Prema dari orang lain ketika engkau menolak memberikan prema untuk orang lain. Ini bukan keadaan satu arah! Hiduplah dalam Prema, hidup dengan prema, bergerak dengan prema, berbicara dengan prema, berpikir dengan prema, dan bertindak dengan prema. Ini adalah Sadhana (usaha spiritual) yang terbaik dan sangat bermanfaat. (Divine Discourse, Mar 30, 1973)

-BABA

 

Thought for the Day - 5th February 2021 (Friday)

You sit before the idol, light the incense and offer praise as you worship, but you do not try to grasp the significance of the Divine that you see in the idol. Inquire into the will of God, discover the commands of God, guess what will please Him most, and regulate your life accordingly. Do not get caught in the sticky tangles of outer Nature. Do not harden your heart through greed and hate. Soften it with Love. Cleanse it through pure habits of living and thinking. Use it as the shrine, wherein you install your God. Be happy that you have within you the source of power, wisdom and joy. Announce that you are unconquerable and free, that you cannot be tempted or frightened into wrong. So long as a trace of 'I-am-the-body' consciousness persists in you, you have to yourself search for God; you have to approach the mirror, the mirror will not proceed towards you, to show you, as you really are! 



Engkau duduk di depan arca, menghidupkan dupa dan mempersembahkan pujian saat engkau berdoa, namun engkau tidak mencoba untuk mendapatkan arti dari Tuhan yang engkau lihat pada wujud arca. Menyelidiki yang menjadi kehendak Tuhan, menemukan perintah dari Tuhan, mencari tahu apa yang paling menyenangkan Tuhan, dan mengatur hidupmu sesuai dengan hal itu. Jangan menjadi terjebak dalam ikatan kusut dari alam luar. Jangan mengeraskan hatimu melalui ketamakan dan kebencian, lembutkan hatimu dengan kasih. Bersihkan hatimu melalui kebiasaan hidup dan berpikir yang suci. Gunakan itu sebagai tempat suci, dimana engkau menempatkan Tuhanmu. Berbahagialah bahwa engkau memiliki sumber kekuatan, kebijaksanaan, dan suka cita di dalam diri. Umumkan bahwa engkau tidak terkalahkan dan bebas, bahwa engkau tidak bisa digoda atau ditakuti untuk berbuat salah. Selama jejak kesadaran ‘aku adalah badan' ada di dalam dirimu, maka engkau harus mencari Tuhan; engkau harus mendekati cermin, karena cermin tidak bergerak mendekatimu,untuk memperlihatkan dirimu yang sejati! (Divine Discourse, Jan 14, 1970)

-BABA

 

Thought for the Day - 4th February 2021 (Thursday)

If you tell your son, when you are actually at home, to reply on the phone saying ‘father is not at home’, you are sowing a poisonous seed, which will become a huge tree. Parents set bad examples uttering falsehood, scandalising others, gambling, drinking, behaving violently, inflicting injury, becoming addicted to night-clubs, movies and drinking parties, and quarrelling at home after arriving home past midnight. How can children, used to such low sights and sounds, learn to become bright, fresh fragrant flowers of the Sanatana Garden of India? Many such parents do not allow their children to join the Bal Vikas Classes, or to attend bhajans and satsangs. They say that religion and God are only for idlers or old senile people, and that the path will lead them on to sanyas (mendicancy), which is a calamity to be avoided! They reverse the very values of life. Parents must correct themselves before they try to correct their children. 



Jika engkau mengatakan pada putramu, ketika engkau benar-benar ada di dalam rumah saat menjawab telpon dengan berkata ‘ayah tidak ada di rumah’, engkau sedang menabur benih beracun, yang nantinya akan tumbuh menjadi sebuah pohon yang sangat besar. Orang tua memberikan teladan yang buruk dengan mengucapkan kebohongan, keburukan orang lain, berjudi, mabuk-mabukkan, bersikap kasar, menyakiti, kecanduan klub malam, nonton film, dan pesta pora serta bertengkar di rumah setelah pulang lewat tengah malam. Bagaimana anak-anak yang biasanya menyaksikan pandangan dan suara yang buruk, belajar untuk menjadi cemerlang, bunga-bunga yang segar dan mewangi di kebun Sanatana India? Banyak orang tua yang seperti itu yang tidak mengizinkan anak-anak mereka bergabung dalam kelas Bal Vikas, atau menghadiri bhajan dan satsang. Mereka berkata bahwa agama dan Tuhan hanya untuk mereka yang malas atau orang tua yang pikun, dan jalan itu akan menuntun mereka pada sanyas (pengemis), yang merupakan sebuah bencana yang harus dihindari! Orang tua yang seperti itu membalikkan nilai-nilai yang penting dari kehidupan. Orang tua harus memperbaiki diri mereka terlebih dahulu sebelum mencoba untuk memperbaiki anak-anak mereka. (Divine Discourse, Jan 6, 1975)

-BABA

 

Thought for the Day - 3rd February 2021 (Wednesday)

Learn lessons from the Sun, the Moon, clouds, sea - all are great teachers imparting to us the prime importance of discharging one's duty, without complaint. Trees distribute their fruits and their shade to everyone, even to those who lay the axe with an intention to destroy them! Mountains suffer heat, rain and storm without demur, and are plunged in meditation for ages. Birds do not hoard for years together, the wherewithal for food or shelter; they do not lament for they do not lavish affection on their progeny, more than absolutely necessary for their survival. Nature (Prakriti) is your school, your laboratory, the gateway to liberation, and the panorama of God's manifold majesty. Seek to know the lessons it is ready to teach; all things in Nature are as divine (Brahman) as you are! So, any act is Divine; any work is Divine worship. Build the mansion of your life on the strong foundation of the faith that all this is Brahman. 



Belajarlah hikmah dari matahari, bulan, awan, laut – semuanya adalah guru terbaik dalam menanamkan kepada kita betapa pentingnya menjalankan kewajiban yang dimiliki tanpa mengeluh. Pohon memberikan buahnya dan keteduhan kepada setiap orang, bahkan kepada mereka yang membawa kapak dengan niat untuk merobohkan pohon tersebut! Gunung menderita kepanasan, hujan, dan badai tanpa keberatan, dan tenggelam dalam keadaan meditasi selama berabad-abad. Unggas tidak menimbun selama bertahun-tahun persediaan yang diperlukan untuk makanan atau tempat berlindung; para unggas tidak meratap sedih karena mereka tidak memberikan kasih sayang pada keturunan mereka, lebih dari yang diperlukan untuk kelangsungan hidup mereka. Alam (Prakriti) adalah sekolah bagimu, laboratorium bagimu, gerbang untuk pembebasan, dan pemandangan indah dari begitu banyak jenis kemuliaan Tuhan. Berusahalah untuk mengetahui pelajaran yang siap untuk diajarkan; semua hal yang ada di alam adalah Tuhan (Brahman) seperti halnya dirimu! Jadi, setiap perbuatan adalah Tuhan; setiap pekerjaan adalah ibadah pada Tuhan. Bangunlah rumah besar hidupmu di atas pondasi kuat dari keyakinan bahwa semuanya ini adalah Brahman. (Divine Discourse, Oct 4, 1970)

-BABA

 

Thought for the Day - 2nd February 2021 (Tuesday)

You are referring to the gift of food as Anna-dana (charity of food). But no one has the authority to give in charity what has been given by God or be proud of it or even to feel that he has given something in charity. God gave rains, God fostered the sapling and God ripened the grain; what right have you to call it yours and give it in charity? It is not dana (charity) that you do; you are only offering gratitude to God; you are sanctifying the grain you have harvested by offering the food prepared out of it to these Narayanas (Gods in human form). Call it Narayana Seva! That will be more correct. Anyway, since you are doing it with love and humility, in the spirit of divine worship, I have come to bless you. Do not cast all responsibility on a committee or a group of enthusiasts; join them wholeheartedly and offer to share the burden. 



Engkau menyebut pemberian makanan sebagai Anna-dana (derma makanan). Namun tidak ada seorangpun yang memiliki kuasa untuk memberi dalam derma apa yang telah diberikan oleh Tuhan atau merasa bangga akan hal ini atau bahkan merasa bahwa telah memberikan sesuatu dalam derma. Tuhan memberikan hujan, Tuhan memelihara pohon muda dan Tuhan mematangkan biji-bijian; apa hakmu dengan menyebutnya adalah milikmu dan memberikannya sebagai derma? Ini bukanlah dana (derma) yang engkau lakukan; engkau hanya mempersembahkan rasa syukur kepada Tuhan; engkau memurnikan biji-bijian yang telah engkau panen dengan mempersembahkan makanan yang dipersiapkan dari semua ini kepada Narayana (Tuhan dalam wujud manusia). Menyebutnya dengan Narayana Seva! Itu menjadi lebih tepat. Bagaimanapun, karena engkau melakukannya dengan cinta-kasih dan kerendahan hati, dalam semangat pemujaan pada Tuhan, Aku datang untuk memberkatimu. Jangan menyerahkan semua tanggung jawab pada panitia, atau kelompok yang semangat melakukannya; bergabunglah dengan mereka sepenuh hati dan tawarkan untuk berbagi beban. (Divine Discourse, Jan 28, 1975)

-BABA

 

Thought for the Day - 1st February 2021 (Monday)

Life is like a train journey. Young children have a long way to go, but elders have to alight from the train pretty soon. You must learn to make your journey comfortable and happy. Do not carry heavy unwanted luggage with you. That will make the journey miserable. Do not indulge in fault finding and in picking quarrels with others. Don't desire to have the best things for yourselves only. Share with others around you the good things you are given. Anger, hatred, envy, jealousy - these are the heavy luggage I asked you to avoid taking with you on the journey. I must give the elders and parents some advice. Do not set bad examples for these children to follow. If you are truthful, just, calm under provocation and full of love in all your dealings with others, then children too will grow up in Sathya (truth), Dharma (righteousness), Shanti (peace) and Prema (love). 



Hidup adalah seperti perjalanan naik kereta api. Anak-anak memiliki perjalanan panjang untuk dilalui, namun yang lebih tua harus segera turun dari kereta api. Engkau harus belajar membuat perjalananmu nyaman dan menyenangkan. Jangan membawa barang yang tidak perlu dan berat. Itu akan membuat perjalanan menjadi kesulitan. Jangan mencari kesalahan orang lain dan terlibat pertengkaran dengan yang lain. Jangan memiliki keinginan untuk memiliki hal terbaik hanya untuk dirimu saja. Berbagi dengan orang di sekitarmu hal-hal baik yang engkau dapatkan. Amarah, kebencian, iri hati, kecemburuan - semuanya ini adalah barang berat yang Aku minta untuk ditinggalkan saat melakukan perjalanan. Aku harus memberikan mereka yang sudah tua dan orang tua beberapa nasehat. Jangan memberikan contoh yang tidak baik kepada anak-anak untuk diikuti. Jika engkau jujur, adil, tenang dibawah tekanan, dan penuh cinta-kasih dalam semua urusanmu dengan orang lain, maka anak-anak juga akan tumbuh dalam Sathya (kebenaran), Dharma (kebajikan), Shanti (kedamaian) dan Prema (Kasih). (Divine Discourse, Jan 6, 1975)

-BABA

 

Thought for the Day - 31st January 2021 (Sunday)

Render every thought into a flower, worthy to be held in His fingers; render every deed into a fruit, full of the sweet juice of love, fit to be placed in His hand; and render every tear holy and pure, fit to wash His lotus feet. The symbol on the flag at Prasanthi Nilayam is a reminder of this ideal, which you have to put into practice. It is the symbol of victory, achieved by steady endeavour over the diabolic foes of lust and greed, of envy and hate, of malice and conceit. It is the symbol of the silent state of supreme Bliss, won through self-control and self-realisation. Do not judge others, to decide whether they deserve your service. Find out only whether they are distressed; that is enough credential. Do not examine how they behave towards others; they can be certainly transformed by Love. Seva (Service) is for you as sacred as a vow, a sadhana, a spiritual path. 



Jadikan setiap pikiran sebagai sekuntum bunga yang layak dipegang di tangan-Nya; jadikan setiap perbuatan sebagai buah yang penuh dengan rasa manis dari kasih dan layak ditempatkan di tangan-Nya; dan jadikan setiap tetes air mata suci dan murni dan layak untuk membasuh kaki padma-Nya. Simbol dari bendera di Prasanthi Nilayam adalah sebagai pengingat akan ideal ini, yang mana harus engkau jadikan dalam praktik. Ini adalah lambang dari kemenangan yang dicapai dengan usaha yang mantap atas musuh yang kejam yaitu nafsu dan ketamakan, iri hati dan kebencian, kesombongan dan kecongkakan. Ini adalah simbol dari keadaan hening dari kebahagiaan tertinggi, yang didapatkan melalui pengendalian diri dan menyadari Diri yang sejati. Jangan menilai orang lain dan memutuskan apakah mereka layak untuk menerima pelayananmu. Hanya cari tahu apakah mereka dalam keadaan tertekan; itu adalah syarat yang cukup. Jangan menilai bagaimana mereka bertingkah laku kepada yang lainnya; mereka pasti bisa diubah dengan kasih. Seva (pelayanan) bagimu adalah suci seperti halnya sebuah janji, sebuah sadhana dan sebuah jalan spiritual. (Divine Discourse, Feb 19, 1970)

-BABA

 

Thought for the Day - 30th January 2021 (Saturday)

Good ideas have to be accepted and bad ones eschewed. Each idea has to be judged in the Supreme Court of Viveka (Wisdom). And the ruling has to be treated as inviolable. It is in this context that we have to remind ourselves of the prayer of Gandhiji, Sabko sanmati de Bhagwan - "O God, Bestow right understanding on all." Again, the individual born in the lake of society must swim and float in the calm waters, and joining the river of progress, merge in the ocean of grace. Man has to move from the stance of "I" to the position of "We"; this day, we see only the wild dance of ego-stricken individuals, who hate society and behave most unsocially. Water flows from a higher level to the lower levels. God's Grace too is like that. It flows down to those who are bent with humility. So, give up ego, overcome jealousy, and cultivate love. 



Ide-ide yang baik harus diterima dan ide-ide yang buruk harus dihindari. Setiap gagasan harus dinilai di dalam sidang Mahkamah Agung dari Viveka (kebijaksanaan). Dan keputusan harus dijalankan sebagai yang tidak bisa diganggu gugat. Dalam konteks ini, kita harus mengingatkan diri kita sendiri tentang doa dari Gandhiji, Sabko sanmati de Bhagwan - "O Tuhan, berikan pemahaman yang benar tentang semuanya." Sekali lagi, individu yang lahir dalam danau masyarakat harus berenang dan mengapung di perairan yang tenang, dan bergabung pada sungai kemajuan, menyatu dalam lautan karunia. Manusia harus bergerak dari posisi "aku" ke posisi "kami"; hari ini, kita hanya melihat tarian liar dari individu yang dikuasai oleh ego, yang membenci masyarakat dan bertingkah paling tidak sosial. Air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Rahmat Tuhan juga seperti itu. Rahmat Tuhan mengalir ke bawah pada mereka yang membungkuk dengan kerendahan hati. Jadi, lepaskan ego, atasi rasa iri hati, dan tingkatkan kasih sayang. (Divine Discourse, Mar 30, 1973)

-BABA