Sunday, February 28, 2021

Thought for the Day - 28th February 2021 (Sunday)

Not only in India but in several parts of the world, people are getting interested in the knowledge and practice of yoga. Though there are many schools of yoga, the most significant is Patanjali Yoga. Patanjali defines yoga as the regulation and control of the tendencies of the mind. Without controlling the senses, we cannot attain happiness in any walk of life or in any endeavour. If we just let go of our senses in a wild fashion, the result will be sorrow and joy. Today people are not paying proper attention to the control of their senses. Some people are under the misapprehension that they miss the very essence of life if they control their senses and deny themselves the pleasures of the senses. This is a mistaken idea. We should not think that we are restraining the senses from performing their functions. The real significance of this process is that we are directing and regulating them along the proper channels. Then we shall be able to enjoy the real delight of the mind and real pleasure of the spirit! 



Tidak hanya di India namun di beberapa bagian belahan dunia, manusia semakin tertarik dalam pengetahuan dan praktik yoga. Walaupun ada banyak sekolah yoga, yang paling berarti adalah Patanjali Yoga. Patanjali memaknai yoga sebagai pengaturan dan pengendalian kecenderungan dari pikiran. Tanpa mengendalikan indera, kita tidak bisa mencapai kebahagiaan dalam jalan hidup apapun atau dalam usaha apapun. Jika kita hanya melepaskan indera kita secara liar, hasilnya adalah kesedihan dan kesenangan. Hari ini manusia tidak memberikan perhatian yang tepat pada pengendalian indera mereka. Beberapa orang ada dibawah kesalahpahaman bahwa mereka kehilangan esensi kehidupan jika mereka mengendalikan indera mereka dan meniadakan diri mereka dari kesenangan indera. Ini adalah sebuah gagasan yang salah. Kita seharusnya tidak berpikir bahwa kita sedang menahan indera dalam menjalankan fungsinya. Makna yang sesungguhnya dalam proses ini adalah kita sedang mengarahkan dan mengaturnya di sepanjang jalur yang tepat. Kemudian kita akan mampu untuk menikmati kegembiraan sejati dari pikiran dan jiwa! (Ch 17, Summer Showers in Brindavan, 1972)

-BABA

 

Thought for the Day - 27th February 2021 (Saturday)

There are five fingers in every hand. If each finger points towards its own peculiar direction, how can the hand hold or manipulate any article? If they come together and stay together, the hands can accomplish whatever they plan. Similarly, when one of you turns your head away at the sight of another, and ten people insist on ten diverse directions, how can any deed be done? You must all be equally alert, active and co-operative. Why must you compete and quarrel? Nothing in this world can last as such for long. Buddha diagnosed this correctly. He declared, "All is sorrow, all is transient; all are but temporary contraptions of ephemeral characteristics." Why should you be fatally fascinated by these finite things? Strive to gain the eternal, the infinite, the universal. One day you have to give up the body you have fed and fostered. How long can you keep all that you have earned and possessed with pride? 



Ada lima jari di setiap tangan. Jika setiap jari menunjukkan pada arah tertentu, bagaimana tangan bisa memegang atau menggerakkan sesuatu? jika jari-jari tangan berjalan bersama dan tetap bersatu, tangan dapat menyelesaikan apapun yang mereka rencanakan. Sama halnya, ketika salah satu darimu memalingkan kepalamu dari pandangan orang lain, dan sepuluh orang akan memalingkan wajah mereka pada sepuluh arah yang berbeda, bagaimana perbuatan apapun bisa dilakukan? Engkau semua harus sama-sama waspada, aktif dan bekerjasama. Mengapa engkau harus bersaing dan bertengkar? Tidak ada apapun di dunia ini yang bisa bertahan lama seperti itu. Buddha mendiagnosa hal ini dengan benar. Beliau menyatakan, "semuanya adalah penderitaan, semuanya adalah sementara; semuanya hanyalah alat yang bersifat sementara dari karakteristik fana." Mengapa engkau harus menjadi sangat terpesona dengan hal-hal yang terbatas ini? Berusahalah untuk mendapatkan yang kekal, tidak terbatas, universal. Suatu hari engkau harus melepaskan tubuh yang engkau beri makan dan rawat. Berapa lama engkau dapat menyimpan semua yang engkau dapatkan dan miliki dengan kebanggaan? (Divine Discourse, May 1981)

-BABA

 

Thought for the Day - 26th February 2021 (Friday)

Whatever you do (wherever you are), feel that it is prompted by Swami and let it be acceptable to Swami. I am the recipient of all your efforts and attempts! For example, the army recruits washermen to wash and iron uniforms and clothing. It has barbers and sweepers on the payroll; they work in camps and move with the military personnel. They may be engaged in different types of work but everyone has to undergo physical training and drill, everyday. So too, one of you may be working in an office, another in a shop, or in the press, but everyone must engage in sadhana with devotion, discipline and a sense of duty. Do not feel that your role is low and the other person's is high. Do not be depressed when you find your role is minor; do not be proud when you discover that your role is major. Give your best to whatever role is allotted to you. That is the way to earn Grace! 



Apapun yang engkau lakukan (dimanapun engkau berada), rasakan bahwa hal itu di dorong oleh Swami dan jadikan itu dapat diterima oleh Swami. Aku adalah penerima semua dari upaya dan usahamu! Sebagai contoh, tentara merekrut tukang cuci untuk mencuci dan menyetrika seragam dan pakaian. Tentara juga memiliki tukang cukur dan tukang sapu dalam daftar gaji mereka; mereka semuanya bekerja di dalam kamp militer dan bergerak bersama dengan anggota militer. Mereka mungkin mengerjakan jenis pekerjaan yang berbeda namun setiap orang harus mengikuti latihan fisik setiap harinya. Begitu juga, salah satu darimu mungkin bekerja di kantor, yang lainnya kerja di toko, atau di media cetak namun setiap orang harus melakukan sadhana dengan bhakti, disiplin, dan rasa tanggung jawab. Jangan merasa bahwa peranmu adalah rendah dan peran yang lain adalah lebih tinggi. Jangan menjadi bersedih hati ketika engkau mendapatkan peranmu bersifat kecil; jangan menjadi bangga ketika engkau mendapatkan bahwa peranmu adalah besar. Berikan yang terbaik dari yang engkau miliki pada apapun peran yang diberikan kepadamu. Itu adalah jalan untuk mendapatkan karunia! (Divine Discourse, May 1981)

-BABA

 

Thought for the Day - 25th February 2021 (Thursday)

The cause for all troubles, confusion and turmoil is the fact that we have lost mastery over our senses. By leaving senses unfettered and unregulated, we will not be able to discriminate properly, and think coolly, calmly and rationally. Thus many times we are misled into wrong actions. In our daily lives, we know that when we become angry, our nerves become weak and feeble, and we lose grip over ourselves. Even a moment of anger takes away our strength we gather by eating good food for three months. Anger not only debilitates us, it takes away merit of our good deeds, and also enfeebles our condition. Anger is like an intoxicant. Internally, it induces us to do wrong things. Anger leads us to commit all other sins. This is the source of all sins. It is a great demon. If we are able to control anger, we shall be in a position to attain merit through the utterance of Lord’s Name. 



Sebab dari semua masalah, kebingungan, dan kekacauan adalah kenyataan bahwa kita telah kehilangan dalam menguasai indera kita. Dengan membiarkan indera tidak terkendali dan tidak diatur, kita tidak akan mampu membedakan dengan baik, berpikir dengan tenang, dan rasional. Jadi sering sekali kita tersesat pada tindakan yang salah. Dalam hidup kita sehari-hari, kita mengetahui bahwa ketika kita marah, maka sistem syaraf kita menjadi lemah dan kita kehilangan pegangan pada diri kita sendiri. Bahkan kemarahan yang sebentar saja menghilangkan kekuatan yang telah kita kumpulkan dengan mengonsumsi makanan selama tiga bulan. Kemarahan tidak hanya melemahkan diri kita, kemarahan menghilangkan pahala baik dari perbuatan-perbuatan baik kita, kemarahan juga melemahkan kondisi kita. Kemarahan adalah seperti minuman keras. Di dalam batin, hal ini mendorong kita untuk melakukan hal-hal yang tidak benar. Kemarahan menuntun kita melakukan semua dosa yang lainnya. Ini adalah sumber dari semua dosa. Kemarahan adalah raksasa yang paling kuat. Jika kita mampu mengendalikan kemarahan, kita akan mencapai posisi untuk bisa mendapatkan pahala baik melalui menyebutkan nama suci Tuhan. (Ch 17, Summer Showers in Brindavan 1972)

-BABA

 

Thought for the Day - 24th February 2021 (Wednesday)

Many people think that concentration is the same as meditation, but there is no such connection. Just look at this, I am now reading a newspaper. My eyes are looking at the letters. My hand is holding the paper. My Intelligence is thinking now. Mind is also thinking. Thus, when the eyes are doing their work, the hand is doing its work, intelligence is doing its work, and the mind is also doing its work, that is how I am able to get the contents of the newspaper. It means, if I want to get the matter contained in the newspaper, all these enumerated senses are concentrated and they are all coordinated and are working on the newspaper. All the normal routines, like walking, talking, reading, writing, eating, etc. are possible as a result of concentration. Many are under the false impression that concentration is identical with meditation, and they take to a wrong path! Concentration is something below your senses, whereas meditation is something above your senses. 



Banyak orang mengira bahwa konsentrasi adalah sama dengan meditasi, akan tetapi tidak ada hubungan diantara keduanya. Cobalah lihat hal ini, Aku sedang membaca surat kabar. Mata-Ku sedang melihat huruf-huruf yang ada. Tangan-Ku memegang surat kabar. Kecerdasan-Ku sedang berpikir sekarang dan pikiran-Ku juga sedang berpikir. Jadi, ketika mata sedang melakukan pekerjaannya, tangan juga sedang melakukan pekerjaannya, kecerdasan juga sedang melakukan pekerjaannya, dan pikiran juga sedang mengerjakan pekerjaannya, itulah caranya bagaimana Aku bisa mendapatkan isi dari surat kabar tersebut. Itu berarti, jika Aku ingin mendapatkan isi dalam surat kabar, maka semua indera yang disebutkan tadi harus terpusat dan terkoordinasi serta sedang membaca surat kabar. Semua kegiatan rutinitas harian, seperti berjalan, berbicara, membaca, menulis, makan, dsb dapat dilakukan adalah hasil dari konsentrasi. Banyak yang salah kaprah bahwa konsentrasi adalah identik dengan meditasi, dan mereka mengambil jalan yang salah! Konsentrasi adalah sesuatu dibawah indera, sedangkan meditasi adalah sesuatu diatas inderamu. (Divine Discourse, Mar 28, 1975)

-BABA

 

Thought for the Day - 23rd February 2021 (Tuesday)

Everyone should respect all others as one's own kin, having the same Divine Spark, and the same Divine Nature. Then, there will be effective production, economic consumption and equitable distribution, resulting in peace and promotion of love. Now, love based on the Innate Divinity is absent and so, there is exploitation, deceit, greed and cruelty. If man becomes aware of all men being 'cells' in the Divine body, then there will be no more 'devaluation' of man. Man is a diamond; but, is now treated by others and by oneself as a piece of glass! Man can realise his mission on the earth only when he knows himself as Divine and when he reveres all others as Divine. And, man has to worship God in the form of Man. God appears before him as blind beggar, an idiot, a leper, a child, a decrepit old man, a criminal or a madman. You must see even behind those veils, the divine embodiment of love, power and wisdom, the Sai, and worship Him through selfless service. 



Setiap orang harus menghormati semua yang lainnya sebagai keluarga sendiri, yang memiliki percikan ilahi yang sama dan memiliki sifat ilahi yang sama. Kemudian, akan ada produksi yang efektif, konsumsi ekonomi, dan distribusi yang adil, yang mana akan menghasilkan kedamaian dan meningkatkan cinta kasih. Sekarang, cinta kasih yang berlandaskan pada sifat ilahi yang dibawa sejak lahir telah hilang sehingga muncul eksploitasi, penipuan, ketamakan, dan kekejaman. Jika manusia menjadi sadar bahwa semua manusia adalah “sel” dalam tubuh ilahi, kemudian tidak akan ada lagi 'penurunan nilai' manusia. Manusia adalah permata; namun, sekarang diperlakukan oleh yang lain dan diri sendiri sebagai sepotong kaca! Manusia dapat menyadari misinya di dunia hanya ketika manusia mengetahui dirinya sendiri sebagai Tuhan dan ketika manusia menghormati semua yang lainnya sebagai Tuhan. Dan, manusia harus memuliakan Tuhan dalam wujud manusia. Tuhan muncul di depan manusia sebagai seorang pengemis buta, seorang idiot, seorang yang berpenyakit kusta, seorang anak, orang tua jompo, seorang penjahat, atau orang gila. Engkau harus melihat bahkan dibalik tabir itu, perwujudan Tuhan dari cinta kasih, kekuatan, dan kebijaksanaan, Sai, dan memuliakan Tuhan melalui pelayanan tanpa mementingkan diri sendiri. (Divine Discourse, Apr 01, 1975)

-BABA

 

Thought for the Day - 22nd February 2021 (Monday)

There are thousands of Bhajana Mandalis (groups for devotional singing), under the auspices of the Sathya Sai Seva Samitis active all over the world. They hold bhajan sessions for about an hour, once or twice a week, and disperse thereafter. They sing the glory of God, in various Names and Forms, and are elated by that experience. The purpose of loud, congregational prayers is different from the silent individual prayers. It is a joint, concerted and mutually helpful effort of Sadhana to overcome the six internal foes of man - lust, anger, greed, attachment, conceit and hatred. These nocturnal birds infest the tree of life and foul the heart where they build their nests. When we sing aloud the Glory of God, the heart is illumined and they cannot bear the light. Besides, the voice that rises from many throats frightens them and they fly away. 



Ada ribuan Bhajana Mandali (kelompok melantunkan lagu kebhaktian), yang ada dibawah naungan serta bimbingan dari Sathya Sai Seva Samiti yang aktif di seluruh dunia. kelompok bhajan itu melakukan sesi bhajan selama satu jam, sekali atau dua kali dalam seminggu, dan bubar setelah itu. Mereka mengidungkan kemuliaan Tuhan dalam berbagai Nama dan Wujud, dan mendapatkan suka cita dalam kegiatan itu. Tujuan dari doa bersama-sama yang dilantunkan dengan nyaring adalah berbeda dengan jenis doa yang dilakukan sendiri dengan hening. Ini adalah sebuah usaha Sadhana (latihan spiritual) bersama-sama yang saling membantu untuk mengatasi enam musuh dalam diri manusia yaitu – nafsu, amarah, ketamakan, keterikatan, kesombongan, dan kebencian. Burung-burung yang keluar di malam hari ini hinggap di pohon kehidupan dan mengotori hati dengan membangun sarang mereka. Ketika kita menyanyikan kemuliaan Tuhan, hati diterangi dan burung-burung tersebut tidak tahan dengan cahaya. Disamping itu, suara yang keluar dari tenggorokan dapat menakuti burung-burung tersebut dan terbang menjauh! (Divine Discourse, Apr 01, 1975)

-BABA