Showing posts with label Vairagya. Show all posts
Showing posts with label Vairagya. Show all posts

Sunday, December 21, 2008

Thoughts for the Day - 21st December 2008 (sunday)


Vairagya or non-attachment depends upon Jnana (spiritual wisdom) as well as Bhakti (devotion). Deprive Vairagya of that basis and you will find it crumbling down. Vairagya is the prime cause for spiritual progress. All these three - Bhakti, Jnana and Vairagya - have to be emphasised in Sadhana (spiritual exercise). One cannot separate them and strive for them individually.

Vairagya atau ketidak-melekatan tergantung pada Jnana (kebijaksanaan spiritual) dan Bhakti (devotion). Tanpa kedua hal tersebut sebagai landasannya, maka Vairagya-mu tidak akan stabil. Praktek ketidak-melekatan adalah faktor utama untuk tercapainya keberhasilan spiritual. Ketiga-tiganya, yaitu: Bhakti, Jnana dan Vairgaya haruslah mendapatkan perhatian khusus di dalam sadhana (latihan spiritual). Engkau tidak bisa memisahkannya dan hanya memperjuangkan salah-satunya.


-BABA

Saturday, December 15, 2007

Thoughts for the Day - 19th December 2007 (Wednesday)

The word 'Vairagya' literally means that which is opposed to Raga (attachment). Vairagya does not mean that you should give up everything and retire in to a forest. Vairagya really means you should stay where you are, in whatever station of life you are in, and understand the subtle nature of things, while giving up worldly desires. It means that by using discrimination you should know what to accept and what to reject. You should strive to recognise the divinity in every object you see and enjoy it. Vairagya is not merely giving up things. It consists in enjoying, without attachment, things which were previously enjoyed with attachment. That is real Vairagya. That is the mark of a true human being.

Istilah ‘Vairagya’ secara harfiah diartikan sebagai sesuatu yang berlawanan dengan Raga (kemelekatan). Vairagya bukan berarti bahwa engkau harus melepaskan segalanya dan kemudian mengasingkan diri ke dalam hutan. Pengertiannya yang benar adalah bahwa engkau harus tetap pada tempatmu semula dalam kehidupan ini, dan memahami kaidah hakiki dari segala sesuatu di dunia ini sembari meninggalkan keinginan-keinginan duniawi. Dengan perkataan lain, pergunakanlah kemampuan diskriminatifmu untuk mengetahui yang mana yang harus diterima dan yang mana yang harus ditolak. Berusahalah untuk mengenali divinity di dalam setiap obyek yang engkau lihat dan nikmati. Vairagya bukan sekedar berarti meninggalkan segalanya, tetapi ia lebih tepat diartikan sebagai menikmati “sesuatu” tanpa adanya unsur kemelekatan; yaitu sesuatu yang sebelumnya justru dinikmati secara melekat. Inilah Vairagya yang sebenarnya. Inilah pertanda seorang manusia sejati.

-BABA