Showing posts with label sadhana. Show all posts
Showing posts with label sadhana. Show all posts

Thursday, October 16, 2008

Thoughts for the Day - 17th October 2008 (Friday)


The object of all Sadhanas (spiritual exercises) is the destruction of the mind, and some day some one good deed will succeed in destroying it. For this triumph, all the good deeds done in the past will have contributed. Each little thing counts. No good deed is a waste.

Tujuan utama dari segala bentuk Sadhana adalah untuk menghancurkan mind (pikiran), dan suatu hari kelak, salah-satu perbuatan bajik yang dilakukan pasti akan berhasil dalam proses penghancuran itu. Atas kemenangan ini, semua perbuatan bajik yang pernah dilakukan terdahulu juga ikut berperan. Setiap hal-hal kecil yang dilakukan juga ikut diperhitungkan. Tak ada perbuatan bajik yang berakhir dengan sia-sia.
-BABA

Monday, August 18, 2008

Thoughts for the Day - 19th August 2008 (Tuesday)

The very first Sadhana (spiritual exercise) one must adopt is the cultivation of inner silence, to put an end to the continuous dialogue with the mind. Let the mind rest for a while. Do not project on the mind irrelevant details or pollute it with fumes of envy and greed. Every idea we entertain, either good or bad, gets imprinted on the mind. An element of weakness and unsteadiness is thus introduced in the mind. Keep the mind calm and clear. Do not agitate it every moment by your non-stop dialogue.


Sadhana awal dan pertama yang seyogyanya engkau terapkan adalah melatih inner silence, yaitu berupaya untuk menghentikan dialog dengan mind (pikiran). Biarkanlah mind beristirahat sejenak. Janganlah memproyeksikan hal-hal yang tidak relevan kepada mind dan jangan pula mengkontaminasinya dengan keiri-hatian maupun keserakahan. Setiap bentuk idealisme/pemikiran – baik atau buruk – akan tercetak di dalam mind. Jagalah agar mind selalu tenang dan jernih. Janganlah mengusiknya melalui dialog batinmu yang tiada berkesudahan itu.

-BABA

Saturday, July 26, 2008

Thoughts for the Day - 27th July 2008 (Sunday)

Sadhana (spiritual discipline) determines the character of a person and character in turn determines one's destiny. Character is cultivated by performing good actions. Actions are based on one's thoughts and intentions. Whenever any thought arises in the mind, one should examine whether it is right or wrong, whether it will benefit society or cause harm. Actions should be based on such enquiry. It is wrong to blame anyone for our misfortunes. Our thoughts and actions alone are responsible for our plight. If one entertains pure thoughts and does all actions with firm faith in God, one will be favoured with God's Grace.


Sadhana (disiplin spiritual) menentukan karakter seseorang dan karakter akan menentukan nasibnya. Karakter terbentuk melalui perbuatan bajik. Perbuatan/tindakan didasari oleh pikiran dan niat. Ketika muncul pikiran-pikiran tertentu di dalam batin, maka engkau harus menilai apakah bentuk pikiran itu baik atau buruk, apakah ia akan memberi manfaat kepada masyarakat atau justru merugikan. Setiap bentuk perbuatanmu hendaknya didasari oleh pertimbangan seperti ini. Sungguh salah bila engkau menyalahkan orang lain atas ketidak-beruntungan yang engkau hadapi. Pikiran dan perbuatan kitalah yang bertanggung-jawab atas penderitaan yang dialami. Apabila engkau memiliki pikiran yang murni serta melakukan tindakan dengan didasari oleh keyakinan yang teguh terhadap Tuhan, maka Rahmat-Nya akan dicurahkan secara berlimpah bagimu.

-BABA

Tuesday, July 22, 2008

Thoughts for the Day - 23rd July 2008 (Wednesday)


The best Sadhana (spiritual practice) is to behave as you do when you get a parcel of books by post. To get at the books you unwrap the parcel and throw off the packing material. Now, take the prayer that is the deepest and the most significant - 'I want Peace'. Unwrap it of the 'I' (the ego) and of the 'want' (desire) and get hold of Shanti (Peace). When you are burdened with egoism and desire, how can you attain Shanti? So, throw away the outer covering and hold on to the precious essence that remains.

Sadhana yang terbaik adalah mengikuti kebiasaan ketika engkau baru menerima paket buku yang dikirim melalui pos. Untuk membaca/melihat buku yang dikirimkan itu, maka terlebih dahulu engkau akan membuka bungkusan paket itu dan membuang pembungkusnya bukan? Dalam hal ini, kita mempunyai doa yang paling penting dan bermakna, yaitu 'Aku menginginkan kedamaian'. Cobalah untuk membuang 'Aku' (sang ego) dan 'menginginkan' (desire), maka dengan demikian engkau akan mendapatkan Shanti (kedamaian) saja. Ketika engkau begitu terbebani oleh egoisme dan keinginan, maka bagaimanalah mungkin bagimu untuk mendapatkan Shanti? Dengan perkataan lain, buanglah kulit-kulit luarnya dan pertahankanlah inti-sari (esensi) yang tertinggal (yaitu Shanti).
-BABA

Friday, June 20, 2008

Thoughts for the Day - 21st June 2008 (Saturday)


People engage in Bhajan (devotional singing), Pooja (ritualistic worship) and Dhyana (meditation). But these are only at the physical plane. But, unless these are imbued with sincerity, they will not elevate us to the Divine. The Lord judges you by the sincerity of your thoughts, not by the form of your worship. The Lord sees your bhakthi (devotion) and not shakthi (power). He cares for your gunas (qualities) and not your kula (caste or lineage). He looks at your chiththam (heart) and not at your viththam (wealth). You must strive to purify your heart and engage yourself in righteous action, with devotion and integrity. No Sadhana (spiritual discipline) is of any use if you are involved in sinful deeds.

Banyak orang yang aktif melakukan bhajan, pooja dan dhyana. Namun ketahuilah bahwa semua tindakan itu hanyalah di level fisik saja. Terkecuali bila semua praktek spiritual itu engkau lakukan dengan hati yang tulus, maka praktek-praktek tersebut tidak akan mengangkatmu ke level Divine. Tuhan menilaimu dari ketulusan pikiranmu dan bukan dengan cara engkau melakukan puja. Tuhan lebih mementingkan bhakti dan bukannya shakti. Beliau lebih peduli terhadap guna (kualitas) dan bukannya kula (kasta). Beliau melihat kepada chiththam (hati) dan bukannya viththam (kekayaan). Berusahalah untuk memurnikan hati nuranimu dan libatkanlah dirimu dalam perbuatan bajik disertai dengan bhakti dan integritas. Sadhana yang engkau lakukan menjadi tiada manfaatnya jikalau engkau terlibat dalam perbuatan-perbuatan yang tidak senonoh.

-BABA

Monday, June 16, 2008

Thought for the Day - 17th June 2008 (Tuesday)


The mind can be used as a bridge to lead one from the manifest to the unmanifest, from the individual to the universal. Cleanse the mind and mould it into an instrument for loving thoughts and expansive ideas. Cleanse the tongue and use it for fostering fearlessness and friendship. Cleanse the hands; let them desist from injury and violence. Let them help, heal and guide. This is the highest sadhana (spiritual discipline)

Mind (pikiran) bisa digunakan sebagai jembatan untuk menyeberangimu dari sesuatu yang termanifestasi kepada yang tidak termanifestasikan, yaitu dari individu kepada universal. Sucikanlah mind dan bentuklah ia agar dapat menjadi instrumen bagi pemikiran-pemikiran yang berlandaskan cinta-kasih dan ekspansif. Suci & murnikanlah lidahmu dan gunakanlah ia untuk menjalin persahabatan. Suci & murnikanlah tangan-tanganmu dan pergunakanlah mereka sedemikian rupa sehingga terhindar dari perbuatan yang melukai maupun mencederai orang lain. Biarkanlah agar tanganmu senantiasa memberikan pertolongan, menyembuhkan dan menuntun. Inilah sadhana yang tertinggi.

-BABA

Tuesday, May 20, 2008

Thought for the Day - 21st May 2008 (Wednesday)


One’s Sadhana (spiritual exercise) should be pleasant and moderate. Take the middle course; that will yield maximum benefits. The craving for sense objects cannot be given up fully; so transform it into an instrument for worship. Dedicate all efforts to the Lord. Accept all achievements and failures as proofs of the Lord’s grace.

Sadhana yang engkau lakukan haruslah bersifat moderat dan menyenangkan. Ambillah jalan tengah yang akan memberikan manfaat maksimal. Hal-hal yang berkaitan dengan obyek-obyek duniawi tidaklah bisa kita tinggalkan seluruhnya; akan lebih baik bila ia ditransformasikan menjadi instrumen untuk keperluan ibadah. Dedikasikanlah setiap usahamu kepada-Nya. Terimalah segala kesuksesan dan kegagalan sebagai bukti rahmat Tuhan.

-BABA

Saturday, April 19, 2008

Thoughts for the Day - 20th April 2008 (Sunday)


The refinement of life calls for continuous spiritual practice. Without such practice, life gets degraded. For instance, a diamond gets enhanced in value when it goes through the process of cutting and faceting. Likewise, gold, taken out as ore from the earth, becomes pure and valuable after refinement. In the same manner, Sadhana (spiritual practice) is necessary to elevate life from the trivial to the sublime.

Proses pemurnian (refinement) kehidupan ini membutuhkan praktek spiritual yang dilakukan secara kontinu. Tanpa adanya praktek spiritual, kehidupan ini akan mengalami degradasi. Sebagai contoh, bongkahan berlian akan menjadi bernilai setelah ia melalui serangkaian proses pemotongan dan pembentukan. Demikian pula halnya dengan bongkahan emas, yang ketika baru digali dari bumi masih berbentuk biji-bijian emas; namun setelah menjalani proses pemurnian, ia akan menjelma menjadi benda yang murni & bernilai. Nah, analogi yang serupa dapat diterapkan dalam hal Sadhana, yang merupakan praktek penting guna meningkatkan derajat kehidupan ke level yang lebih mulia.
-BABA

Saturday, December 15, 2007

Thoughts for the Day - 18th December 2007 (Tuesday)


Active participation in society, in a spirit of dedication and surrender, conceiving all acts as worship and all men as the embodiments of the Supreme, is one of the best forms of Sadhana (spiritual practises). For, there is no place where He is not; no object which is not Divine. The Vedas declare that that the Supreme willed and became all this. Worship, undertaking pilgrimages, etc. are only means to an end. The goal is the realisation of the ultimate truth that "God and I are One." That alone can fill the heart with permanent bliss.

Bentuk-bentuk Sadhana (praktek spiritual) yang terbaik meliputi: partisipasi aktif (pelayanan) di tengah-tengah masyarakat yang dilandasi oleh semangat dedikasi dan penyerahan diri, sembari memperlakukan setiap tindakan sebagai bentuk ibadah dan bahwa setiap orang adalah merupakan perwujudan Ilahi. Ketahuilah bahwa Tuhan eksis dimana-mana; tiada obyek tanpa Divine. Kitab suci Veda telah mendeklarasikan bahwa Tuhan berkehendak dan jadilah semuanya ini. Ibadah, jiarah dan sejenisnya hanya merupakan cara-cara untuk mencapai tujuan akhir; yaitu: realisasi atas kebenaran hakiki bahwa “Tuhan dan aku adalah satu”. Hanya melalui realisasi tertinggi itulah, maka hatimu akan dipenuhi oleh kebahagiaan abadi.
-BABA

Monday, November 5, 2007

Thoughts for the Day - 6th November 2007 (Tuesday)



Man is mortal and the Divine is immortal. In the mortal human being, there is the immortal Divine Spirit. In the field of the heart, there is a Kalpatharu (wish-fulfilling tree). The tree is surrounded by bushes and briars. When these are removed, the tree will become visible. This wish-fulfilling tree is within each person, but it is encompassed by the bad qualities in man. When these qualities are eliminated, the celestial tree will be recognised. This is the Sadhana (spiritual exercise) that each one has to perform. This is not the quest for something new. It is to experience what is yours. The entire cosmos is within you.

Manusia adalah mortal (mahluk yang mengalami kematian), sedangkan Divine adalah immortal (yang bersifat abadi). Di dalam diri mahluk yang mortal, terkandung Divine Spirit yang abadi. Di dalam hati kita yang diibaratkan seperti sebuah ladang, terdapat pohon Kalpatharu (pohon yang sanggup mengabulkan berbagai jenis permintaan yang diajukan kepadanya). Pohon Kalpatharu ini sedang dikelilingi oleh semak-belukar. Apabila semak-semak tersebut disingkirkan, maka pohon itupun akan tampak. Nah, pohon pengabul permintaan ini terdapat di dalam diri setiap orang, namun ia terselimuti oleh kualitas-kualitas diri yang negatif. Apabila manusia sanggup mengatasi kualitas dirinya yang negatif itu, maka pohon surgawi tersebut akan dapat dikenali. Inilah jenis latihan spiritual yang hendaknya dipraktekkan oleh setiap orang. Kita tidak sedang mencari sesuatu yang baru, melainkan justru untuk mengalami sesuatu yang sebenarnya adalah hak-milikmu. Keseluruhan kosmos (alam-semesta) berada di dalam dirimu sendiri.

-BABA

Monday, October 22, 2007

Thoughts for the Day - 23rd October 2007 (Tuesday)

One has to be slow and steady on the spiritual path. Adhere to a regular routine. Just as a doctor prescribes a certain fixed measure or weight of a drug and warns you that anything more is harmful, so too, have some limit for your spiritual exercises. Do not overdo them or perform them casually and without care. Just as the medicines have to be taken at a particular time of the day and a specified number of times a day, so also the Japa (chanting the Lord's name) and Dhyana (meditation) have to be carried out regularly at specified timings every day.

Dalam menempuh jalan spiritual, engkau harus melakukannya secara perlahan-lahan tetapi mantap. Adopsilah rutinitas yang teratur. Seperti halnya seorang dokter yang memberikan resep obat dalam jumlah atau takaran tertentu, dimana ia juga memperingatimu agar tidak mengkonsumsi obat melebihi dosis yang telah ditetapkan; demikian pula, diperlukan batasan tertentu dalam latihan spiritualmu. Janganlah terlalu memaksakan diri dalam disiplin spiritual dan sebaliknya, jangan pula engkau terlalu santai dan semena-mena di dalam melakukannya. Sebagaimana obat-obatan harus dimakan pada jam-jam tertentu dan dengan frekuensi yang telah ditetapkan, engkau juga perlu melakukan Japa (mengulang-ulang nama Tuhan) dan Dhyana (meditasi) secara rutin dan teratur setiap harinya pada jam-jam tertentu.

-BABA