It is the Sun God who carries to the deities concerned the offerings made in the yajna. Agni, the God of fire, is an image of the Sun. The flames arising from the fire are the tongues of the Fire-God. The rays coming from the fire are so many heads of the deity. The Agni-Principle is immanent in every person. The inner significance of this is that every person is inherently divine. When the mantras are chanted and offerings are made in the fire to the Lord, the grace of the Lord is showered on the people in the form of peace and plenty. There is a saying: "As is the fire, so is the smoke." As is the smoke, so are the clouds. As are the clouds, so is the rain. As is the rain, so are the crops. As are the crops, so is the food. As is the food, so is the intellect. As the clouds these days are not formed by the smoke coming from yajnas, the food consumed by the people is not conducive to the growth of intelligence. When the smoke going up from the yajna kunda enters the clouds, you have sacred rain, which helps to purify the crops and sanctify the food that is consumed. As a result, the people are sanctified.
- Divine Discourse, Oct 03, 1989.
Whenever the speech is saturated with truth and compassion, or inspired by service to others, it becomes Rig Veda.
Adalah Dewa Surya yang membawa persembahan yang dilakukan dalam yajna kepada Dewata terkait. Dewa Agni yaitu api adalah gambaran dari matahari. Nyala api yang muncul dari api adalah lidah-lidah dari Dewa Agni. Cahaya yang muncul dari api adalah banyaknya kepala dari Dewata. Prinsip dari Agni adalah bersifat melekat dalam diri setiap orang. Makna mendalam dari hal ini bahwa setiap orang pada dasarnya memiliki kualitas keilahian. Ketika mantra dilantunkan dan persembahan dilakukan dalam api yang ditujukan kepada Tuhan, maka rahmat Tuhan dicurahkan kepada manusia dalam bentuk kedamaian dan kemakmuran. Ada sebuah ungkapan: "Sebagaimana apinya maka begitulah asapnya." Sebagaimana asapnya maka begitulah awannya. Sebagaimana awannya maka begitulah hujannya. Sebagaimana hujannya maka begitulah panennya. Sebagaimana panennya maka begitulah makanannya. Sebagaimana makanannya maka begitulah kecerdasannya. Karena awan-awan yang ada pada saat sekarang tidak dibentuk dari asap yang berasal dari yajna, maka makanan yang dikonsumsi oleh manusia tidak mendukung pertumbuhan dari kecerdasan. Ketika asap membumbung ke atas dari tempat yajna membentuk awan, maka engkau akan mendapatkan hujan yang murni, membantu menyucikan tanaman dan memurnikan makanan yang dikonsumsi. Sebagai hasilnya, manusia dimurnikan.
- Divine Discourse, 3 Oktober 1989.
Kapanpun perkataan disucikan dengan kebenaran dan welas asih, atau terinspirasi oleh pelayanan pada orang lain, maka perkataan itu menjadi Rig Weda.
No comments:
Post a Comment