Friday, October 6, 2017

Thought for the Day - 6th October 2017 (Friday)

In temples or homes, you may have seen people breaking coconuts to offer to God. If you try to break the nut just as it fell from the tree, will it break? No! The fibrous outer cover must be removed to first expose the shell. The fibre protects the shell and lets it grow, preventing blows from the environment. Liberation results from breaking the mind filled with vagaries and wishes. But how can you break it when the fibrous armour of sensual desires encompasses it? So, carefully and persistently, remove them and dedicate your mind to God! Smash it open in His presence. At that very moment, you are set free! The toughest fibre is anger; it is indeed the stickiest dirt! When you get angry, you forget everything and quickly descend to the lowest depth. You lose all discrimination during the agitation. Be Aware! Cultivate virtues assiduously. Virtue is your life-breath, character is the backbone.


Dalam tempat suci atau di rumah, engkau mungkin melihat orang-orang memecahkan kelapa untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Jika engkau mencoba untuk memecahkan kelapa sama halnya saat kelapa itu jatuh dari pohon, akankah kelapa itu pecah? Tidak! Serat luar yang membungkus kelapa itu harus dilepaskan pertama untuk menyingkapkan tempurungnya. Serat itu melindungi tempurungnya dan membiarkannya tumbuh, mencegah benturan dari lingkungan. Kebebasan diperoleh dari memecah pikiran yang diisi dengan ketidaktetapan dan keinginan. Namun bagaimana engkau dapat memecahkannya ketika serabut baju pelindungnya yaitu keinginan sensual menutupinya? Jadi, secara hati-hati dan terus menerus, lepaskan serabut itu dan dedikasikan pikiranmu kepada Tuhan! Hancurkan serabut itu dan buka tempurungnya di hadapan Tuhan. Pada saat itu juga, engkau dibebaskan! Serabut yang paling kuat adalah amarah; amarah adalah kotoran yang paling  lengket! Ketika engkau marah, engkau lupa segalanya dan dapat cepat jatuh pada level yang paling bawah. Engkau kehilangan semua kemampuan membedakanmu selama pergejolakan itu. Waspadalah! Tingkatkan kebajikan dengan tekun. Kebajikan adalah nafas hidupmu, karakter adalah tulang belakangmu. (Divine Discourse, Oct 10, 1964)

-BABA

No comments: