Saturday, March 28, 2026

Thought for the Day - 28th March 2026 (Saturday)



Dharayiti iti Dharmah, it is said. Dharma is that which sustains and upholds the world. Every object in the world has certain unique qualities. The quality that is the vital essence of the object reveals its Dharma. For instance, it is the basic quality of fire to burn—burning is its Dharma. When the fire loses its capacity to burn, it ceases to be fire and becomes mere charcoal! Sweetness is the inherent quality of sugar. If sugar loses its sweetness, it is no longer sugar but sand! Champaka flower has the natural quality of exuding fragrance. If there is no fragrance in it, it is not Champaka. In the same manner, for man, the quality of Ananda (bliss) that flows from his heart is his inherent Dharma. But today, for external achievements, man forgets his inherent nature. Whether one is educated or not, there is one common Dharma: They should extend to others the same honour and regard which they expect others to show towards them. We should not do to others anything which if others do to us, will cause pain and unhappiness to us.


- Divine Discourse, Mar 26, 1988

In our ordinary daily life, the simple principle to be adhered to is - do unto others as you would like others to do unto you. 


Dharayiti iti Dharmah, demikianlah dikatakan. Dharma adalah yang menopang dan memelihara dunia. Setiap objek yang ada di dunia memiliki kualitas unik tertentu. Sifat yang menjadi inti yang mendasar dari suatu objek itulah yang menunjukkan Dharmanya. Sebagai contoh, sifat dasar api adalah membakar – jadi membakar adalah dharma dari api. Ketika api kehilangan kemampuannya dalam membakar, maka itu bukan lagi api namun sebagai arang! Rasa manis adalah kualitas alami dari gula. Jika gula kehilangan rasa manisnya maka itu bukan lagi gula, melainkan pasir! Bunga cempaka memiliki kualitas alami mengeluarkan keharuman. Jika tidak ada lagi keharuman maka itu bukan lagi bunga cempaka. Sama halnya bagi manusia, kualitas kebahagiaan (Ananda) yang memancar dari hati adalah dharma alami dari manusia. Namun hari ini, untuk mencapai keberhasilan lahiriah, manusia melupakan hakikat alaminya. Apakah seseorang adalah berpendidikan atau tidak, ada satu dharma yang berlaku bagi semuanya: mereka harus memberikan pernghormatan kepada orang lain dan perlakuan yang sama seperti yang mereka harapkan orang lain tunjukkan terhadap diri mereka. Kita seharusnya tidak melakukan pada orang lain apapun yang jika orang lain lakukan kepada kita, akan menyebabkan rasa sakit dan penderitaan kepada kita.


Wacana Swami, 26 Maret 1988

Dalam kehidupan sehari-hari kita, prinsip sederhana yang harus dipegang adalah: perlakukanlah orang lain sebagaimana engkau ingin diperlakukan.

Friday, March 27, 2026

Thought for the Day - 27th March 2026 (Friday)



The world, today, is in dire need of the message of the Rama story. For one thing, sons today do not follow the instructions of their fathers. Fathers do not set the right example to the children. Disciples do not respect the preceptors. Preceptors do not treat the disciple with affection. There is no love even between friends. Relations are estranged among themselves. In all fields of life—in administration, in agriculture or in business or in politics—discord is rampant. Divisions and conflict prevail in social, political, and even spiritual fields. If you enquire into the causes for this situation, you find that selfishness is at the root of it all. The basic elements are common to all mankind. The world itself is one family. All men are brothers. Rama preached to the world this basic truth. He taught the world the duties of one’s everyday life, one’s social and family obligations. This triple stream of duties is the message of the Ramayana. Whoever bathes in this triple stream is absolved of his sins and is redeemed.


- Divine Discourse, Apr 16, 1997

The great work of Ramayana must be read, re-read, and lived up to by everyone!


Dunia pada saat sekarang sangat membutuhkan pesan-pesan yang tersirat dalam kisah Rama. Sebagai contoh satu hal ini, anak-anak pada saat sekarang tidak mengikuti arahan dan perintah dari ayah mereka. Selain itu, sosok ayah juga tidak memberikan contoh atau teladan yang benar bagi anak-anak mereka. Itu artinya saat sekarang murid-murid tidak menghormati gurunya dan guru-guru tidak memperlakukan murid dengan kasih. Bahkan tidak ada kasih bahkan diantara sahabat sehingga hal ini menciptakan kerenggangan dalam  hubungan mereka. Dalam semua bidang kehidupan – dalam pemerintahan, pertanian atau bisnis atau politik terjadinya pertentangan begitu tidak terkendali. Perpecahan dan konflik terjadi dalam kehidupan sosial, politik dan bahkan spiritual. Jika engkau menyelidiki penyebab dari keadaan ini, maka engkau akan mendapatkan bahwa sifat mementingkan diri sendiri adalah akar dari semuanya ini. Padahal unsur yang dasar kehidupan adalah sama bagi seluruh umat manusia. Dunia ini sesungguhnya adalah satu keluarga. Semua manusia adalah saudara. Sri Rama mengajarkan kebenaran dasar ini kepada dunia. Rama mengajarkan pada dunia tentang kewajiban seseorang dalam kehidupannya sehari-hari, kewajiban sosial dan kewajiban dalam keluarga. Tiga bentuk kewajiban ini adalah pesan yang tertuang dalam kisah Ramayana. Siapapun yang menjalankan ketiga kewajiban ini akan terbebas dari dosa dan memperoleh pembebasan.


Wacana Swami, 16 April 1997

Karya agung dari Ramayana harus dibaca ulang, direnungkan kembali dan dijalankan dalam kehidupan oleh setiap orang!

Thursday, March 26, 2026

Thought for the Day - 26th March 2026 (Thursday)



Vedas are the quintessence of profound, immeasurable and infinite wisdom. In Treta Yuga, four Vedas assumed physical form and incarnated as Rama, Lakshmana, Bharata, and Shatrughna. While the Rigveda assumed the form of Rama, the Yajurveda, Samaveda, and Atharvaveda manifested in the forms of Lakshmana, Bharata, and Shatrughna, respectively. Rama symbolised the Rigveda. He was mantra-svarupa (embodiment of mantras). Lakshmana was mantra-drashta (one who contemplated on mantras), and he put the teachings of Rama into practice. He followed Rama faithfully. He considered Rama's name as the liberating mantra. Lakshmana considered Rama as everything—mother, father, guru, and God. Bharata was the embodiment of Samaveda and chanted Rama namam incessantly with bhava, raga, and tala (feeling, melody, and rhythm). While Bharata was engaged in nirguna worship (worship of God as attributeless), Lakshmana rejoiced in saguna worship (worship of God with attributes). Atharva Veda manifested itself as Shatrughna, who followed his three elder brothers and conquered not only the secular world but also achieved victory over the kingdom of senses.


- Divine Discourse, Mar 30, 2004

Ayodhya symbolises the place which cannot be penetrated by evil forces and which is invincible. That place is the heart. That is the place where Rama resides. 


Weda adalah intisari kebijaksanaan yang mendalam, tidak terukur, dan tidak terbatas. Dalam jaman Treta Yuga, empat Weda mengambil wujud fisik dan hadir dalam inkarnasi sebagai Rama, Lakshmana, Bharata, dan Shatrughna. Rigveda menjelma sebagai Rama, Yajurveda, Samaveda, dan Atharvaveda masing-masing menjelma sebagai Lakshmana, Bharata, dan Shatrughna. Sri Rama melambangkan Rigveda dimana Rama adalah mantra-svarupa (perwujudan dari mantra). Lakshmana adalah mantra-drashta (seseorang yang merenungkan mantra), dan menjalankan ajaran Rama dalam kehidupan. Lakshmana mengikuti Rama dengan penuh kesetiaan dan menganggap nama suci Rama sebagai mantra yang membebaskan. Bagi Lakshmana, Rama adalah segalanya yaitu sebagai ibu, ayah, guru, dan Tuhan. Bharata adalah perwujudan dari Samaveda dan melantunkan nama suci Rama dengan penuh bhava, raga, dan tala (perasaan, melodi, irama). Sedangkan Bharata menjalankan pemujaan bersifat nirguna (pemujaan Tuhan yang tanpa atribut), Lakshmana bersuka cita dalam ibadah dalam bentuk saguna (memuja Tuhan dengan atribut). Atharva Veda mewujudkan dirinya sebagai Shatrughna, yang mengikuti ketiga saudaranya dan menaklukkan tidak hanya dunia luar namun juga mencapai kemenangan pada pengendalian indra.


Wacana Swami, 30 Maret 2004

Ayodhya melambangkan tempat dimana tidak dapat ditembus oleh kekuatan jahat dan yang tidak terkalahkan. Tempat itu adalah hati. Itu adalah tempat tinggal Rama.

Wednesday, March 25, 2026

Thought for the Day - 25th March 2026 (Wednesday)



Man’s life is meaningful only because he can use it to see God. The goal of life is the final merging in the sea - God. You should not fill life with the world; that will make it a vanity fair, an insanity fair. Listen to all such things which will draw you towards the principle of Godhead; then, think it over in the silence, and make them part of your consciousness. This process of manana (reflection) makes you a man; that is the test of man. Kaliya was a huge serpent, full of poison, rolling in death and destruction. He is the representative of man, rolling in sensory objects which are like poison so far as their effect on life is concerned. Vishaya (sensory object) is the most deadly visa (poison). When Krishna danced on the head of Kaliya, the poison was all vomited! And the serpent was subdued. When God is revered, the world and all its poisonous fumes recede, and you are restored to original health. Make the Name and Form of the Lord dance upon the hood of your heart.


- Divine Discourse, Sep 06, 1963

Even objective desires will be transmuted into higher spheres of purity when one approaches the Lord.


Hidup manusia penuh makna hanya karena manusia dapat menggunakannya untuk melihat Tuhan. Tujuan hidup pada hakikatnya adalah penyatuan akhir dengan lautan keilahian - Tuhan. Oleh karena itu, engkau seharusnya tidak mengisi hidup dengan hal-hal duniawi; sebab itu hanya akan menjadikan hidup sebagai kesenangan sementara yang hampa dan kacau balau. Sebaliknya, dengarkanlah semua hal yang dapat menarikmu menuju prinsip keilahian; kemudian, renungkanlah itu dalam keheningan, serta jadikanlah semuanya menjadi bagian dari kesadaranmu. Proses perenungan ini (manana) yang benar-benar menjadikanmu seorang manusia sejati; itu pula ukuran manusia. Sebagai ilustrasi, Kaliya dulunya adalah seekor ular raksasa yang sangat berbisa, pembawa kematian dan kehancuran. Kisah Kaliya ini menggambarkan manusia yang tenggelam dan terombang-ambing dalam objek-objek indria, yang bagaikan racun mematikan bagi kehidupan. Vishaya memanglah racun (visa) paling mematikan. Ketika Sri Krishna menari di atas kepala Kaliya, semua racun itu dimuntahkan, dan ular itu pun menjadi jinak. Demikian pula, ketika Tuhan dipuja, dunia beserta racun-racunnya menjauh, sehingga engkau dipulihkan ke keadaan asli yang sehat. Jadikanlah nama dan wujud Tuhan menari di atas pelindung hatimu.


Wacana Swami, 6 September 1963

Bahkan keinginan-keinginan duniawi akan berubah menjadi lebih murni dan luhur ketika seseorang mendekati Tuhan. 

Tuesday, March 24, 2026

Thought for the Day - 24th March 2026 (Tuesday)



All experiences of pleasure and pain have their origin in the thoughts of man. Thought is like the seed of a tree, which in due course puts forth branches, leaves, flowers, and fruits. All that you see in a tree has come from a small seed. Likewise, although man’s thought is subtle, it contains potentially the entire universe. The atom is the microcosm of the Universe. You are aware of the huge size of the banyan tree. Its seed, however, is very small. The seed and the tree are essentially one. Man has to keep a watch over his thoughts because they form the basis for his actions. When his wishes are fulfilled, he is content. When they are not realised, he feels disappointed. Man does not enquire into the causes of these divergent results. His failures are the result of his own shortcomings. When his heart is pure, his actions yield beneficial results. His thoughts are the cause of the success or failure of his efforts. Hence, man must utilise his thoughts in the proper manner. His vision of the world depends on how he looks at it. “As he feels, so he becomes.” When one’s thoughts are sublime, the results are also sublime.


- Divine Discourse, 10 Mei 1992.

Desire creates a mirage where there was none before. Desire imposes beauty where there was none before; it clothes things with desirability.


Semua bentuk pengalaman kesenangan dan kepedihan bermula dari pemikiran manusia. Pemikiran itu ibarat benih pohon, yang pada waktunya akan menghasilkan cabang, dedaunan, bunga, dan buah. Semua yang engkau lihat pada pohon itu bermula dari sebuah benih yang sangat kecil. Sama halnya, walaupun pemikiran manusia bersifat halus, namun di dalamnya terkandung potensi seluruh alam semesta - seperti atom yang merupakan versi mini dari alam semesta itu sendiri. Misalnya, engkau menyadari betapa besarnya pohon beringin, namun ukuran benihnya sangat kecil; pada dasarnya, benih dan pohon adalah satu. Oleh karena itu, manusia harus mengawasi segala bentuk pemikirannya, sebab semua pemikiran itu menjadi dasar dari tindakannya. Ketika keinginannya terpenuhi, maka ia merasa senang; sebaliknya, ketika keinginan tersebut tidak terpenuhi, ia merasa kecewa. Sayangnya, manusia sering tidak menyelidiki sebab dari keadaan yang berbeda ini. Kegagalan yang dialami sebenarnya adalah hasil dari kelemahan dirinya sendiri. Ketika hatinya murni, maka tindakannya menghasilkan hasil yang bermanfaat. Pemikirannya pun menjadi penyebab utama keberhasilan atau kegagalan dari usaha yang dilakukannya. Dengan demikian, manusia harus menggunakan pemikirannya dengan cara yang benar. Pandangan seseorang tentang dunia tergantung dari bagaimana ia melihatnya: “Sebagaimana ia merasa, demikianlah ia menjadi.” Ketika pemikiran seseorang luhur, hasilnya juga bersifat luhur.

 

- Wacana Swami, 10 Mei 1992.

Keinginan menciptakan sebuah fatamorgana yang sebelumnya tidak ada. Selain itu, keinginan meletakkan keindahan yang sebelumnya tidak ada; ia juga membungkus sesuatu dengan daya tarik.

Monday, March 23, 2026

Thought for the Day - 23rd March 2026 (Monday)



Men today are misusing all their knowledge, wealth, energies and talents for purely material ends and wasting their lives. Leading a worldly life is unavoidable. But in doing so, the spiritual goal should be borne in mind. The goal is spiritual; actions are worldly. It is when actions are dedicated to spiritual ends that they become sanctified. Unfortunately, today, even spiritual practices are tainted with mundane motives. It is because of the intensely spiritual life led by kings, sages, scholars and pious men and women in ancient days that even today the spiritual heritage of Bharat has survived the vicissitudes of centuries. Men should realise their inherent divinity and live up to their true nature. If their real nature is forgotten and their behaviour is far from human, they cease to be human beings. For instance, sweetness is the basic quality of jaggery. If it loses its sweetness, it ceases to be jaggery and is just a piece of clod. Likewise, for man to be regarded as man, he has to manifest his humanness by practising Trikarana shuddhi - purity in thought, word and deed. Without this purity, man is merely a lump of clay.


- Divine Discourse, Mar 27, 1990.

Only when there is harmony between one’s words and actions, a man can achieve great things in his life. 


Manusia pada hari ini menyalahgunakan semua pengetahuan, kekayaan, energi, dan talenta mereka semata-mata untuk tujuan materi dan menyia-nyiakan hidupnya. Menjalani kehidupan duniawi adalah sesuatu yang tidak dapat dihindarkan. Namun dalam menjalani kehidupan duniawi, tujuan spiritual harus selalu diingat. Tujuannya adalah spiritual; tindakannya adalah duniawi. Hanya ketika tindakan didedikasikan pada tujuan akhirnya adalah spiritual, barulah tindakan tersebut menjadi disucikan. Namun sangat disayangkan, bahkan praktek spiritual dinodai dengan motif duniawi. Oleh karena kehidupan spiritual yang begitu mendalam yang dijalankan oleh para raja, guru-guru suci, para cendekiawan dan mereka yang berbudi pekerti luhur di masa lampau sehingga warisan spiritual bharat tetap bertahan hingga hari ini meskipun telah melewati berbagai perubahan zaman selama berabad-abad. Manusia harusnya menyadari keilahian yang melekat di dalam diri mereka dan hidup sesuai dengan sifat sejati mereka. Jika sifat sejati itu dilupakan dan perilaku manusia jauh dari sifat sejati manusia, mereka tidak layak disebut sebagai manusia. Sebagai contoh, rasa manis adalah sifat dasar dari gula merah. Jika gula merah itu kehilangan rasa manisnya, maka gula merah itu tidak bisa disebut gula merah lagi dan hanyalah sebuah gumpalan saja. Sama halnya, agar manusia layak disebut sebagai manusia, maka ia harus mewujudkan kemanusiaannya dengan menjalankan Trikarana shuddhi – kesucian dalam pikiran, perkataan dan tindakan. Tanpa adanya kesucian ini, manusia hanyalah seperti segumpal tanah liat.


- Wacana Swami, 27 Maret 1990.

Hanya ketika terdapat keselarasan diantara perkataan dan tindakannya, maka seseorang dapat mencapai hal-hal hebat dalam hidupnya.

Sunday, March 22, 2026

Thought for the Day - 22nd March 2026 (Sunday)



In many of the religious practices today, there is concern only for observing the external forms, with little regard for the inner significance of these rites. For instance, one wishes to offer a coconut to the idol in a temple. No care is taken to see whether the coconut is a good one or not. The mere breaking of a coconut, even if it is a rotten one, is considered enough for fulfilling the offering. Note the inner significance of the ritual. The coconut is a symbol of the heart. Before it is offered to God, all outer fibre must be removed. The spiritual meaning is removing tamasika (dark) tendencies from our heart. The shell of the coconut symbolises rajoguna (qualities of passion and restlessness) in us. The white kernel inside the coconut represents the satvaguna (purity). What we have to offer to God is a pure heart without tamasika and rajasika qualities such as anger, hatred, and attachment. It is this purity of heart that must be manifested in making any offering to God, and not the mechanical breaking of a coconut as a meaningless ritual.


- Divine Discourse, Apr 10, 1986

In every small act of worship, one must have regard for its inner significance and sacredness and do it with earnestness and purity. 


Dalam banyak kegiatan keagamaan hari ini, yang hanya menjadi perhatian adalah bentuk-bentuk luar dan sedikit memperhatikan pada makna di balik setiap ritual yang dilakukan. Sebagai contoh, seseorang berdoa dengan mempersembahkan sebuah kelapa di depan arca perwujudan Tuhan di kuil. Tidak ada usaha untuk memastikan apakah kelapa itu bagus atau tidak. Terpenting adalah memecahkan kelapa, bahkan jika kelapa itu busuk, dianggap cukup untuk memenuhi ritual upacara keagamaan. Perhatikan makna atau arti di balik pemecahan buah kelapa dalam ritual ini. Kelapa adalam simbol dari hati. Sebelum dipersembahkan kepada Tuhan, semua lapisan luar dari kelapa harus dihilangkan. Makna spiritual dari tindakan ini adalah menghilangkan sifat kegelapan (tamasika) dari hati kita. Tempurung kelapa melambangkan sifat nafsu dan kegelisahan (rajoguna) dalam diri kita. Sedangkan bagian putih yang ada dalam kelapa melambangkan sifat kesucian (satvaguna). Apa yang harus kita persembahkan kepada Tuhan adalah hati yang murni tanpa adanya sifat-sifat tamasika dan rajasika seperti kemarahan, kebencian, dan keterikatan. Kesucian hati inilah yang harus diwujudkan dalam melakukan persembahan apapun kepada Tuhan, dan bukan hanya sekedar memecahkan kelapa secara mekanis sebagai ritual yang tanpa makna.


- Divine Discourse, 10 April 1986

Dalam setiap tindakan kecil suatu ibadah, seseorang harus memperhatikan makna dan kesuciannya, serta melakukannya dengan sungguh-sungguh dan kemurnian.

Saturday, March 21, 2026

Thought for the Day - 21st March 2026 (Saturday)



People have belief in things which should not be believed, but do not believe that which they ought to believe. People are ready to believe in the statements of the author of an almanac or the predictions of a parrot kept by a pavement astrologer or a roadside palmist, but will not believe in the sacred pronouncements of the Vedas. The Vedas have declared: Tat Twam Asi, Aham Brahmasmi, So Ham (Thou art that, I am Brahman, I am He). The Vedic dictum, So Ham, is confirmed by the inhaling and exhaling that go on in everyone. But no one believes in it. People believe in the films, in novels, newspapers and many other sources. But one does not believe in the truth of one’s own Atma (Self). As a result, man is growing weaker and losing his humanness because of the lack of faith in his own Self. A man without Atma-Vishwasa (Self-confidence) is no man at all. Without Self-confidence, how can he get Self-satisfaction? Lacking Self-satisfaction, how can he hope for Self-Realisation? This is impossible. Hence, the mansion of Self-Realisation has to be erected on the foundation of Self-confidence, with the walls of Self-satisfaction and the ceiling of Self-sacrifice.


- Divine Discourse, Mar 24, 1993

All the pleasures, positions and riches of the world will not confer on you real peace and security. Only faith in the Self can ensure this. 


Manusia mempercayai sesuatu yang seharusnya tidak dipercayai, tetapi tidak mempercayai sesuatu yang seharusnya diyakini. Manusia cepat mempercayai perkataan ramalan atau perkiraan dari burung beo milik peramal jalanan, atau pembaca garis tangan di pinggir jalan, tetapi tidak mau mempercayai ajaran suci dari Weda. Weda telah menyatakan: Tat Twam Asi, Aham Brahmasmi, So Ham (Engkau adalah Brahman, Aku adalah Brahman, Aku adalah Brahman). Ajaran Weda terkait So Ham bahkan ditegaskan oleh proses tarik dan hembus napas yang berlangsung dalam diri setiap orang. Namun, tidak ada yang benar-benar mempercayainya. Manusia mempercayai yang ada dalam film, dalam novel, surat kabar, dan banyak sumber lainnya. Namun seseorang tidak mempercayai pada kebenaran Atma (Diri Sejati) dalam dirinya sendiri. Sebagai hasilnya, manusia tumbuh semakin lemah dan kehilangan kemanusiannya karena kurangnya keyakinan pada Dirinya yang Sejati. Seorang manusia tanpa adanya kepercayaan pada Diri Sejati (Atma-Vishwasa) sama sekali bukanlah manusia. Tanpa kepercayaan pada Diri Sejati, bagaimana seseorang dapat memperoleh kepuasan Diri? Tanpa adanya kepuasan Diri, bagaimana ia bisa berharap untuk mencapai kesadaran Diri? Hal ini adalah tidak mungkin. Oleh karena itu, bangunan kedasaran Diri harus didirikan di atas: fondasi kepercayaan Diri, dengan dinding kepuasan Diri, dan atap pengorbanan Diri.


- Divine Discourse, 24 Maret 1993

Semua bentuk kesenangan, jabatan dan kekayaan di dunia tidak akan memberikanmu kedamaian dan keamanan sejati. Hanya keyakinan pada Diri Sejati yang dapat memastikan ini.

Friday, March 20, 2026

Thought for the Day - 20th March 2026 (Friday)



People in the world attach value to all kinds of objects, ideals and personalities. God, however, is not attracted by external appearances but values only the inner spiritual urges. Parvati was the most beautiful woman in the world. Conscious of her charms, she wished to wed the Lord Himself. But the Lord does not succumb to external attraction. Disappointed by her failures, Parvati embarked on a very severe penance. Indifferent to sun and rain, wind and weather, Parvati concentrated her thoughts on the Lord, wearing out her body in her tapas. Because of the penance, she lost all her beauty. All her physical powers were gone. At that moment, the Lord accepted her as one half of His body. What is the inner meaning of this episode? Prakriti (Nature) is Parvati. This Prakriti is filled with various kinds of pride: the pride of wealth, strength, beauty, knowledge, virtues, power and penance. It is only when man gets rid of these eight categories of pride will he become acceptable to God. So long as ego prevails, the power of the Spirit will not be cognised. Without realising the power of the Spirit, man cannot experience the bliss of the Divine.


- Divine Discourse, Mar 27, 1990

So long as your heart is not clean, God will have no place in your heart. 


Manusia di dunia memberikan nilai pada semua jenis objek, nilai-nilai yang dianggap ideal, serta kepribadian. Tetapi Tuhan tidak melihat semua itu. Tuhan hanya melihat dorongan ketulusan batin. Parvati merupakan perempuan yang paling cantik di dunia. Menyadari kecantikannya, ia ingin mendekati dan mendapatkan Tuhan sendiri. Tetapi Tuhan tidak terpengaruh oleh daya tarik lahiriah. Karena kecewa atas kegagalannya, Parvati menjalani tapa yang sangat berat. Parvati tidak menghiraukan panas, hujan, angin, dan cuaca. Ia memusatkan seluruh pikirannya kepada Tuhan, hingga tubuhnya menjadi lemah karena pertapaannya. Karena tapa brata yang dilakukannya, Parvati kehilangan semua kecantikan dan kekuatan fisiknya. Pada saat itulah, Tuhan menerimanya sebagai separuh dari diri-Nya. Apa makna yang ada dibalik kisah ini? Prakriti (alam) adalah simbol dari Parvati. Prakriti ini diliputi dengan berbagai jenis kesombongan seperti: kesombongan karena kekayaan, kekuatan, kecantikan, pengetahuan, kebajikan, kekuasaan dan tapa brata. Hanya ketika manusia melepaskan kedelapan bentuk kesombongan ini maka barulah ia dapat diterima oleh Tuhan. Selama masih ada ego, kekuatan dari Atma tidak dapat disadari. Tanpa menyadari kekuatan dari Atma, manusia tidak bisa mengalami kebahagiaan Tuhan.


- Divine Discourse, 27 Maret 1990

Selama hatimu tidak bersih maka Tuhan tidak memiliki tempat di dalam hatimu.

Tuesday, March 17, 2026

Thought for the Day - 17th March 2026 (Tuesday)



If a sculptor could create out of an inanimate piece of stone a living image of God, cannot human beings, vibrant with life, manifest the living Divinity that resides in them? What is the reason for this incapacity to realise the Divinity within? It is because we do not realise the soiled cover in which it is wrapped up. If our clothes get dirty, we change them because we are ashamed to appear in dirty garments. If our house is dirty, we try to clean it so that visitors may not get a bad impression. But when our minds and our hearts are polluted, we do not feel ashamed. Is it not strange that we should be so much concerned about the cleanliness of our clothes or our homes, but are not concerned about the purity of our hearts and minds, which affect our entire life? To purify our hearts and minds, the first thing is that we have to lead a righteous life. Our actions must be based on morality. Indulging in abusing others or inflicting pain on others is not a sign of human nature. The evil that we do to others ultimately recoils on us.


- Divine Discourse, Apr 2, 1984

True spirituality lies in removing bad and animal qualities and developing virtues. 


Jika seorang pemahat dapat membuat arca Tuhan yang hidup dari sebongkah batu yang tidak bernyawa, tidakkah manusia yang diliputi getaran kehidupan dapat mewujudkan kualitas keilahian yang terpendam dalam dirinya? Apa alasan dibalik ketidakmampuan manusia dalam menyadari keilahian di dalam dirinya? Ini karena kita tidak menyadari lapisan kotor yang menyelimuti keilahian itu. Ambilah contoh, jika pakaian kita kotor, kita menggantinya segera karena kita merasa malu tampil dengan pakaian yang kotor. Jika rumah kita kotor, kita segera berusaha membersihkannya sehingga tamu yang datang tidak mendapatkan kesan yang buruk. Namun ketika pikiran dan hati kita tercemar, kita tidak merasa malu. Bukankah hal yang aneh ketika kita begitu peduli dengan kebersihan pakaian dan rumah kita, namun kita tidak memberikan perhatian dan kepedulian pada kesucian hati dan pikiran kita, yang mana mempengaruhi seluruh hidup kita? Untuk memurnikan hati dan pikiran kita, hal pertama yang harus kita lakukan adalah menjalani hidup yang benar. Tindakan kita harus berdasarkan pada moralitas. Terlibat dalam menghina atau menyakiti orang lain bukanlah tanda dari sifat manusia. Kejahatan yang kita lakukan pada orang lain pada akhirnya nanti akan kembali pada diri kita sendiri.


- Divine Discourse, 2 April 1984

Spiritualitas yang sejati terletak pada menghilangkan sifat-sifat buruk dan kebinatangan serta mengembangkan kebajikan.

Monday, March 16, 2026

Thought for the Day - 16th March 2026 (Monday)



Thoughts are the very vital breath of man. It is by harbouring the evil thoughts of hatred, envy, anger and ego that man brings his own downfall. Man harbours evil thoughts to harm his fellow men. But the harm that these thoughts cause to his fellow man boomerangs on himself with ten times its strength. By abusing, criticising, hunting and scandalising his fellow men, man in fact is abusing, criticising, hunting and scandalising the Lord Himself. Utterly ignorant of the presence of Divinity in others, man indulges in such heinous conduct. The man who takes the sword shall perish by it; the man who wounds another will be wounded in turn; the man who abuses another will be abused in return. As is the thought, so is the consequence. As is the feeling, so is the result. Utterly ignorant of the power of the mind and its might, we underestimate the supreme importance of the mind. Our whole life rests on the mind. We should make earnest efforts to understand the power of the mind.


- Divine Discourse, May 23, 1993

What man sees is like seeds sown in the heart. Evil scenes give rise to evil thoughts. Good scenes evoke good thoughts.


Pemikiran adalah nafas vital yang sangat penting bagi manusia. Dengan memelihara pemikiran-pemikiran yang jahat seperti kebencian, iri hati, kemarahan dan ego manusia sejatinya membawakan kehancuran bagi dirinya sendiri. Manusia memelihara pemikiran jahat untuk menyakiti sesamanya. Namun, rasa sakit yang ditimbulkan oleh pemikiran tersebut kepada orang lain pada akhirnya akan kembali kepada dirinya sendiri dengan kekuatan sepuluh kali lipat. Dengan mencela, mengkritik, gemar mencari-cari kesalahan, menjatuhkan, atau mempermalukan sesamanya, sebenarnya ia sedang mencela, mengkritik, gemar mencari-cari kesalahan, menjatuhkan, atau mempermalukan Tuhan itu sendiri. Karena tidak menyadari bahwa Keilahian hadir dalam diri setiap orang, manusia melakukan tindakan yang demikian buruk. Orang yang menggunakan pedang akan binasa oleh pedang itu sendiri; orang yang melukai orang lain akan terluka pada gilirannya; orang yang menghina orang lain akan dihina kembali. Sebagaimana pemikirannya, maka begitulah akibatnya. Sebagaimana perasaannya maka begitulah hasilnya. Karena tidak memahami kekuatan dan kedahsyatan pikiran, kita sering meremehkan betapa pentingnya pikiran dalam kehidupan. Seluruh hidup kita tergantung pada pikiran. Kita harus melakukan usaha yang sungguh-sungguh untuk memahami kekuatan dari pikiran.


- Divine Discourse, 23 Mei 1993

Apa yang dilihat manusia bagaikan benih yang ditanam di dalam hati. Hal-hal buruk yang kita lihat menimbulkan pemikiran buruk, sedangkan hal-hal baik yang kita lihat menumbuhkan pemikiran yang baik.

Sunday, March 15, 2026

Thought for the Day - 15th March 2026 (Sunday)


 

A Gopika once asked Radha how she felt when she saw Krishna, how her heart responded, what transformation occurred in her and what joy she experienced. Radha replied: “The moment I hear the melodious flute of Krishna, my heart becomes still, and I forget myself when I learn that Krishna is coming. I am lost in the music of His flute, and I am aware of nothing else. How can I describe to you my feelings when I am intoxicated by the magic of His melody?” The God-intoxicated devotees cannot describe their blissful experience in words. One who attempts to express it has no real experience of it at all. Those who regard themselves as devotees should recognise the vast difference between their narrow-minded attitude and the ineffable character of true devotion. They should resolve to shed petty attachments and develop steadfast devotion to God as the main object of their life. For this purpose, the company of the good is essential. Good thoughts are promoted only through association with the good.


- Divine Discourse, Jan 19, 1986

One who is filled with love of the Divine will not be attracted by anything else in the world.


Suatu hari seorang gadis pengembala sapi bertanya pada Radha tentang bagaimana perasaanya ketika melihat Sri Krishna, bagaimana hati menanggapinya, apa perubahan yang terjadi dalam diri dan apa bentuk suka cita yang terasa. Mendengar pertanyaan itu Radha memberikan jawaban: “Pada saat saya mendengar kemerduan alunan suara seruling Sri Krishna, hatiku menjadi tenang, dan saya lupa pada diriku sendiri ketika saya mengetahui bahwa Sri Krishna akan datang. Saya tenggelam dalam alunan musik seruling-Nya, dan saya tidak menyadari hal lainnya. Bagaimana saya dapat menggambarkan kepadamu tentang perasanku ketika saya begitu terpesona dengan keajaiban dari melodi-Nya?” Bhakta yang begitu larut tenggelam pada Tuhan tidak bisa menjabarkan kebahagiaan yang mereka rasakan dalam kata-kata. Seseorang yang berusaha untuk mengungkapkannya sesungguhnya sama sekali belum memiliki pengalaman nyata tentang hal itu. Mereka yang menganggap diri mereka sebagai bhakta seharusnya menyadari perbedaan yang begitu luas antara sikap mereka yang berpikiran sempit dan karakter yang tidak bisa dibayangkan dari bhakta sejati. Mereka harus memiliki tekad untuk melepaskan keterikatan yang bersifat remeh dan sepele untuk mengembangkan bhakti yang teguh pada Tuhan sebagai tujuan utama hidup mereka. Untuk tujuan ini, pergaulan dengan orang-orang yang baik adalah bersifat mendasar. Pemikiran baik yang dapat dipupuk hanya melalui pergaulan dengan orang-orang yang baik.


- Divine Discourse, 19 Januari 1986

Seseorang yang diliputi dengan kasih Tuhan tidak akan tertarik dengan apapun atau hal yang lainnya di dunia.  

Saturday, March 14, 2026

Thought for the Day - 14th March 2026 (Saturday)



If a man has a Champaka flower in his hand, the fragrance of that flower is carried by him wherever he goes. Likewise, he will be carrying a foul smell too, wherever he goes. It is the same with good or bad thoughts. They radiate their good or bad vibrations around them. Thoughts have so much power that when they are directed towards great objectives, they can be used to influence the world. When the mind is filled with good thoughts, such as truth, love, forbearance, and compassion, one’s life is filled with peace and serenity. If, on the other hand, one allows thoughts of hatred, envy, anger, and conceit to grow, life becomes perpetual misery. The face is the index of the mind. When you bear ill will towards anyone, your enmity alters your face and manners. When you entertain good and loving thoughts, your heart is filled with joy, and you experience an upsurge of happiness. If you fill your heart with love, your entire life becomes a saga of love.


- Divine Discourse, Jul 31, 1986

Bad thoughts make the willpower weak. Decline in willpower makes the desires stronger.


Jika seseorang memegang sekuntum bunga cempaka di tangannya, wangi bunga cempaka itu akan terus tercium di tangannya kemanapun dia pergi. Demikian juga, jika dia membawa bau busuk maka bau busuk itu akan tercium kemanapun dia pergi. Hal yang sama berlaku dengan pemikiran yang baik atau buruk. Pemikiran memancarkan getaran baik atau buruk di sekelilingnya. Pemikiran memiliki kekuatan yang besar sehingga ketika diarahkan pada tujuan yang mulia, maka pemikiran dapat digunakan untuk mempengaruhi dunia. Ketika pikiran diliputi dengan pemikiran yang baik seperti kebenaran, kasih, ketabahan, dan welas asih, maka hidup seseorang diliputi dengan kedamaian dan ketenangan. Sebaliknya, jika seseorang membiarkan pemikiran yang buruk seperti kebencian, iri hati, kemarahan, dan kesombongan tumbuh berkembang maka hidupnya menjadi terus menerus dalam penderitaan. Wajah adalah cerminan dari pikiran. Ketika engkau menyimpan kebencian terhadap seseorang, perasaan permusuhan akan tercermin pada wajah dan perilakumu. Sebaliknya, ketika engkau memiliki pemikiran yang baik dan penuh kasih, hatimu diliputi dengan suka cita, dan engkau mengalami peningkatan kebahagiaan. Jika engkau mengisi hatimu dengan kasih, seluruh hidupmu menjadi kisah kasih yang panjang.


- Divine Discourse, 31 Juli 1986

Pemikiran yang buruk dapat melemahkan kekuatan kehendak. Ketika kekuatan kehendak melemah maka keinginan menjadi semakin kuat.  

Friday, March 13, 2026

Thought for the Day - 13th March 2026 (Friday)



In the journey to the Divine, man has to reduce progressively his desires, which are the cause of all his difficulties. It is true that man cannot exist without desires. But they should be within reasonable limits. There can be no happiness without control of desires. Among the senses, two are most important: the eyes and the tongue. Because of their exceptional importance, the Lord has provided them with the means of restraining their activities. The Lord points out: “You silly man! Take note that I have provided natural means for closing the eyes and the mouth.” If you do not want to see anything undesirable, you can close your eyes with the eyelids. The ears and the nose have no such devices for closing them. The mouth has lips which can seal the tongue. Observe, therefore, restraint in speech and control the tongue. When the eyes roam freely, the tongue begins to wag without restraint. When the tongue is engaged in endless talking, the eyes want to look at every conceivable thing. When both these organs combine without restraint, life can become a calamity. Therefore, direct your eyes to good things alone.


- Divine Discourse, Mar 13, 1988

One way to reduce desires is to get absorbed in activity. Idleness encourages the mind to indulge in all kinds of thoughts.

 

Dalam perjalanan menuju pada Tuhan, manusia harus mengurangi secara bertahap keinginan-keinginannya, yang mana keinginan ini merupakan penyebab dari semua kesulitan yang dialaminya. Adalah benar bahwa manusia tidak bisa ada tanpa keinginan. Namun keinginan tersebut harusnya ada dalam batas tertentu yang wajar. Tidak akan ada kebahagiaan tanpa pengendalian pada keinginan. Diantara indra, ada dua indra yang paling penting: mata dan lidah. Karena begitu pentingnya keberadaan dua indra ini, maka Tuhan telah menyediakan bagi keduanya sarana dalam membatasi kegiatannya. Tuhan menyampaikan: “Wahai manusia! Perhatikan bahwa Aku telah menyediakan sarana alami untuk menutup mata dan mulutmu.” Jika engkau tidak ingin melihat apapun yang tidak engkau inginkan, engkau dapat memejamkan matamu dengan kelopak mata. Indra yang lain seperti telinga dan hidung tidak memiliki sarana tersebut untuk menutup dirinya. Mulut memiliki bibir yang dapat menutup lidah. Karenanya perhatikan sikap menahan diri dalam berbicara dan kendalikan lidah. Ketika mata dibiarkan melihat kemana-mana dengan bebas maka lidah mulai berbicara tanpa terkendali. Ketika lidah terlibat dalam pembicaraan yang tanpa henti, mata ingin melihat setiap hal yang bisa dibayangkan. Ketika kedua Indera ini bergabung tanpa pembatasan maka hidup dapat berubah menjadi malapetaka. Maka dari itu, arahkan matamu hanya pada hal-hal yang baik.


- Divine Discourse, 13 Maret 1988

Salah satu cara mengurangi keinginan adalah dengan menyibukkan diri. Kemalasan mendorong pikiran untuk larut dalam berbagai macam pemikiran. 

Thursday, March 12, 2026

Thought for the Day - 12th March 2026 (Thursday)


 

The thought vibrations are the cause for man’s joy and sorrow, health and disease, woe and adversity, birth and death. Man’s life becomes meaningful if he conducts himself fully aware of the power of the thought vibrations. The entire world is suffused with mental vibrations. In fact, the whole world is the very manifestation of mental vibrations. Hence, it is necessary to direct our thoughts on noble paths. Man’s mind shines with resplendent purity if he cultivates noble thoughts, ideas and feelings. It is only by developing the purity of mind that we can ensure the purity of action. Only pure deeds can yield pure results. We sow the seed of thought and reap the fruit of action; we sow the seed of action and reap the fruit of nature; we sow the seed of nature, we reap the fruit of character; we sow the seed of character and reap the fruit of destiny. It is evident from this that our destiny rests on our thoughts. For man’s rise and for man’s fall, the thoughts are the cause.


- Divine Discourse, May 23, 1993

Man will be able to fulfil himself if he realises the subtle and mysterious workings of the mind.


Vibrasi atau getaran dari pemikiran adalah penyebab dari suka dan duka cita, kesehatan dan penyakit, kesengsaraan dan kesulitan, kelahiran dan kematian. Hidup manusia menjadi berguna jika tindakannya sendiri menyadari sepenuhnya kekuatan vibrasi dari pemikiran. Seluruh dunia diliputi dengan getaran batin. Sesungguhnya, seluruh dunia adalah perwujudan dari getaran batin. Oleh karena itu, adalah perlu untuk mengarahkan pemikiran kita pada jalan-jalan yang luhur dan mulia. Pikiran manusia bersinar dengan gemerlap kemurnian jika manusia memupuk pemikiran, ide, gagasan dan perasaan yang mulia. Hanya dengan memupuk kemurnian pikiran maka kita bisa memastikan adanya kemurnian dalam tindakan. Hanya dengan kemurnian tindakan maka kita bisa mendapatkan hasil yang murni. Saat kita menabur benih pemikiran maka kita akan menuai hasil berupa tindakan; saat kita menabur benih tindakan maka kita akan menuai hasil berupa sifat atau watak; saat kita menabur benih sifat atau watak maka kita akan menuai hasil berupa karakter; saat kita menabur benih karakter maka kita akan menuai hasil berupa takdir. Dari rangkaian ini jelas terlihat bahwa takdir kita tergantung dari pemikiran yang kita miliki. Bagi kebangkitan dan kejatuhan manusia, penyebabnya adalah pemikiran.


- Divine Discourse, 23 Mei 1993

Manusia akan mampu mencapai potensi diri sepenuhnya jika manusia menyadari cara kerja pikirna yang halus dan misterius

Tuesday, March 10, 2026

Thought for the Day - 10th March 2026 (Tuesday)



There was once an old woman who lost her needle when she was mending clothes in her hut. As there was no lamp in her hut and she had cataracts in her eyes, she could not find the needle. She went out and started searching for the needle under a streetlight. A student who was passing in the street asked the old woman, “Grandmother, what are you searching for?” The woman replied that she was searching for a needle. The student said, “Tell me where you lost it; I will help you in searching for it”. She replied, “I lost it when I was doing stitching work with it in my hut”. The boy asked, “Why are you searching for the needle in the street which you have lost in your hut”? The old woman said, “There is no lamp in my hut. There is light in the street. Therefore, I am searching here.” See! Lost in the house and searching in the street! This is what man is doing today. All bliss and love is within, but he foolishly searches for it outside. External love and happiness are transient. The relationship with God is eternal. The human body is impermanent. How can one derive permanent happiness from the temporary body? We do spiritual practices like yoga, meditation, and japa. They also give only temporary satisfaction. Only love for God gives eternal bliss.


- Divine Discourse, Apr 25, 1996

Take the mind off the sensory pleasures and fix it upon God; then the feeling becomes pure; whatever you think or say or feel will be for the good of yourself and others. 


Suatu hari ada seorang nenek yang kehilangan jarumnya ketika nenek tersebut sedang menjarit pakaian di dalam gubuknya. Karena di dalam gubuknya tidak ada lampu dan juga menderita katarak pada matanya, maka nenek itu tidak bisa menemukan jarumnya yang hilang. Jadi nenek itu memutuskan untuk mulai mencari jarumnya di bawah lampu jalanan. Seorang pelajar sedang melewati jalan tersebut dan menanyakan nenek itu, “Nenek, apa yang sedang nenek cari” Nenek itu menjawab bahwa ia sedang mencari sebuah jarum. Pelajar itu berkata, “katakan padaku dimana nenek kehilangan jarum itu; saya akan bantu nenek mencarinya”. Nenek itu menjawab, “Nenek kehilangan jarum ketika nenek sedang menjarit pakaian di dalam gubuk”. Pelajar itu lanjut bertanya, “Lantas mengapa nenek mencari jarum itu di jalan dimana nenek kehilangan jarum itu di dalam gubuk”? Nenek itu menjawab, “Tidak ada cahaya lampu di dalam gubuk nenek. Sedangkan cahaya hanya ada di jalan ini. Maka dari itu, nenek mencari jarum itu disini.” Lihatlah! Kehilangan di dalam rumah dan mencarinya di jalan! Ini adalah bentuk yang sedang dilakukan manusia hari ini. Semua kebahagiaan dan kasih ada di dalam diri, namun manusia karena ketidaktahuannya mencari semuanya itu di luar diri. Kasih eksternal dan kesenangan adalah bersifat sementara. Hubungan dengan Tuhan adalah bersifat kekal. Tubuh manusia adalah tidak kekal. Bagaimana seseorang bisa mendapatkan kebahagiaan yang kekal dari tubuh yang bersifat sementara? Kita melakukan latihan spiritual seperti yoga, meditasi dan japa. Semua latihan spiritual itu hanya memberikan kepuasan sementara. Hanya kasih untuk Tuhan memberikan kebahagiaan kekal.


- Divine Discourse, 25 April 1996

Alihkan pikiran dari kesenangan Indera dan fokuskan pada Tuhan; kemudian perasaan menjadi murni; apapun yang engkau pikirkan atau katakan atau rasakan menjadi baik untuk dirimu dan orang lain.

Monday, March 9, 2026

Thought for the Day - 9th March 2026 (Monday)



The universe is subject to three processes: creation, sustenance, and destruction or dissolution. None can deny this truth; scientists also cannot negate it. This is a universal truth perceived by everybody. That which is born is sustained and is eventually destroyed. This is the direct proof of Divinity. When you enquire into these three fundamental facts, the existence of Divinity becomes evident. In daily life also, this divinity is experienced. For example, you have seen the dancing lions from Malaysia. However, these are not real lions. But, on seeing them, you can surmise that there are real creatures called lions. In a similar manner, almost every object of daily life points towards Divinity. The sweetness in sugarcane or hot taste of chillies, sour taste in tamarind or the bitter taste of neem, all are indicators of Divinity. The stars in the sky, the brightness of the sun, the coolness of the moon, rise and fall of sea waves are also pointers towards the Divine Principle. Though all these do not directly show you, God per se, they produce positive evidence of the existence of the Divine Principle.


- Divine Discourse, Nov 23, 2000

You are experiencing Divinity in Nature, yet you want to see God! 


Alam semesta tunduk pada tiga proses yaitu : penciptaan, pemeliharaan, dan peleburan. Tidak ada seorangpun yang dapat menyangkal kebenaran ini; para ilmuwan juga tidak bisa menolak ini. Ini adalah kebenaran universal yang disadari oleh setiap orang. Apapun yang dilahirkan akan dipelihara dan pada akhirnya akan hancur. Ini adalah bukti langsung dari keilahian. Ketika engkau menyelidiki pada ketiga fakta-fakta mendasar ini, maka keberadaan Tuhan akan menjadi jelas. Dalam hidup sehari-hari juga, keilahian ini dapat dialami. Sebagai contoh, engkau telah menyaksikan tarian singa dari Malaysia. Bagaimanapun juga, singa-singa itu bukanlah singa sungguhan. Namun, dengan menyaksikan singa-singa tersebut, engkau dapat menyimpulkan bahwa memang ada makhluk nyata yang disebut singa. Sama halnya, hampir setiap objek dalam kehidupan sehari-hari menunjukkan pada keilahian. Rasa manis yang ada tebu atau rasa pedas yang ada pada cabai, rasa asam yang ada pada asam jawa atau rasa pahit yang ada pada daun neem, semuanya itu menandakan keilahian. Bintang-bintang yang ada di langit, kecermelangan cahaya matahari, kesejukkan cahaya rembulan, pasang dan surutnya gelombang lautan juga menjadi penanda prinsip Tuhan. Walaupun semua ini tidak secara langsung menunjukkan Tuhan itu sendiri, semuanya memberikan bukti nyata tentang keberadaan Prinsip Ilahi.


- Divine Discourse, Nov 23, 2000

Engkau sedang mengalami keberadaan Tuhan di alam, namun engkau masih ingin melihat Tuhan!

Saturday, March 7, 2026

Thought for the Day - 7th March 2026 (Saturday)



You cannot attain God by your wealth. He is to be attained only through devotion. Satyabhama, in her pride, hoped to possess Krishna all for herself by her wealth. She wanted to weigh Him against the huge amount of gold she possessed. But, she failed. Narada made her realise her folly by showing that a single leaf of Tulasi (basil) offered by Rukmini with real devotion exceeded all the wealth of Satyabhama. Satyabhama symbolises desire, while Rukmini represents devotion. Krishna says that He is pleased with the offering of a leaf, a flower, a fruit, or water. Do not take this literally. The body is the leaf, the flower is the flower of your heart, your mind is the fruit, and the tears of joy constitute the water which is the acceptable offering to God. Embodiments of Love! You will have everything in life if you have love in you. Do not hate anybody. This should be the main ideal of your life. This is My message for you.


- Divine Discourse, Nov 23, 2000

Without resorting to extravagant adulation of God, not seeking petty favours from God, yearn for God alone, and you will get everything


Engkau tidak bisa mencapai Tuhan dengan kekayaanmu. Tuhan hanya bisa dicapai melalui bhakti. Satyabhama dalam kesombongannya berharap dapat memiliki Krishna sepenuhnya bagi dirinya sendiri dengan kekayaannya. Ia ingin menimbang Krishna dengan jumlah emas yang sangat banyak yang ia miliki. Namun, Sathyabhama gagal. Guru suci Narada membuatnya menyadari kesalahannya dengan menunjukkan bahwa sehelai daun Tulasi yang dipersembahkan oleh Rukmini dengan bhakti yang tulus lebih bernilai daripada seluruh kekayaan Satyabhama. Dalam hal ini, Satyabhama melambangkan keinginan sedangkan Rukmini melambangkan bhakti. Krishna berkata bahwa Beliau berkenan dengan persembahan berupa sehelai daun, setangkai bunga, sebutir buah dan air. Jangan memahami ini secara harfiah. Tubuh ini sendiri adalah daun, bunga adalah bunga dari hatimu, pikiranmu adalah buah, dan air mata suka cita adalah air yang menjadi persembahan yang diterima Tuhan. Perwujudan kasih! Engkau akan memiliki segalanya dalam hidup jika engkau memiliki kasih di dalam dirimu. Jangan membenci siapapun. Hal ini harus menjadi ideal dalam hidupmu. Ini adalah pesan-Ku untukmu.


- Divine Discourse, Nov 23, 2000

Tanpa berlebihan memuji Tuhan dan tanpa mencari pertolongan kecil dari Tuhan, rindukanlah hanya Tuhan dan engkau akan mendapatkan segalanya

Friday, March 6, 2026

Thought for the Day - 6th March 2026 (Friday)



The senses should not be allowed to override man. They must be instruments within the control of man. They are mere servants, orderlies, helpers. The knife is best used to cut fruits or vegetables; you should not use it for cutting your throat. The senses have to be trained to be free from tamas (inertia) and rajas (passion); they must be neither dull nor dragging, neither dormant nor dangerously diverting. The gunas (qualities) must be overcome. A student approached a guru and asked for the road for shanti (peace). He replied that he must develop sahana (tolerance) towards all men and all things and all events. Nothing should arouse an interested reaction, disgust or desire. The highest alone must be sought; God alone must be desired. Steady, unchanging, undiminishable Prema can only be Vishweshwaraprema - Love towards the Lord of all the worlds.


- Divine Discourse, Oct 23, 1966

Let not your faith in the goal or the path quake before trouble or trial, toil or travail, distress or despair.

 

Indera seharusnya tidak dibiarkan mengalahkan manusia. Indera harus menjadi alat dibawah kendali manusia karena indera hanyalah pelayan, sarana dan pembantu. Pisau adalah alat terbaik yang digunakan untuk memotong buah dan sayuran; engkau tidak boleh menggunakan pisau untuk melukai lehermu sendiri. Indera harus dilatih untuk bebas dari sifat malas (tamas) dan nafsu (rajas); serta tidak boleh menjadi tumpul atau lamban, juga tidak boleh pasif mengalihkan perhatian secara berbahaya. Sifat atau kualitas yang disebut dengan guna harus dapat diatasi. Seorang murid mendekati gurunya dan menanyakan jalan menuju pada kedamaian (shanti). Guru tersebut menjawab bahwa ia harus mengembangkan toleransi atau kesabaran (sahana) kepada semua manusia dan semua hal serta semua kejadian. Tidak ada sesuatupun yang boleh menimbulkan reaksi ketertarikan, rasa jijik atau keinginan. Hanya yang tertinggi saja yang harus dicari; hanya Tuhan yang harus diinginkan. Prema yang bersifat teguh, tidak berubah, tidak berkurang hanya bisa berupa Vishweshwaraprema – kasih kepada Tuhan semesta alam.


- Divine Discourse, 23 Oktober 1966

Jangan biarkan keyakinan pada tujuan atau jalan yang ditempuh menjadi goyah dihadapan masalah atau cobaan, pergumulan, penderitaan atau keputusasaan.

Thursday, March 5, 2026

Thought for the Day - 5th March 2026 (Thursday)



Karma (action) and upasana (contemplation), the two stages of sadhana devoted to the attainment of God-realisation, can be noted and seen; but jnana (wisdom), the stage of ripeness, cannot be seen. The karma symbolised by the Yamuna, and bhakti (devotion) symbolised by the Ganga, meet at the point where the jnana or Saraswati flows unseen. But today, people have lost the enthusiasm for karma, the exultation for bhakti, and the eagerness for jnana. The true learning is that which reveals the Atma (the true self) to man. When these facts are neglected, the Avatar (Divine Incarnation) takes place to re-teach the duty of man, the Dharma. What is the Dharma (the moral code) that has to be re-established today? It is Sanathana Dharma (the eternal law), nothing less. Not that there are no sages even now on earth. Great kavis (poets), noble beings and great scholars are with us even today. But, in the mad pursuit after pomp and pageantry, the feverish struggle to defy and defeat others, there is no time to imbibe their messages and taste the sweetness of the sadhana they prescribe.


- Divine Discourse, Oct 23, 1966

The goal of karma (action) is jnana (wisdom), and for jnana, karma is the base. To combine the two in practice constitutes Seva (Selfless Service). 


Ada dua tahapan dalam sadhana yang ditujukan untuk mencapai kesadaran Tuhan yang dapat dilihat dan diperhatikan yaitu karma (perbuatan) dan upasana (perenungan); namun jnana (kebijaksanaan) yang merupakan tahap kematangan spiritual tidak bisa dilihat. Karma dapat dilambangkan dengan sungai Yamuna, dan bhakti dapat dilambangkan dengan sungai Ganga, dimana keduanya bertemu pada titik disebut dengan jnana yang dilambangkan dengan sungai Saraswati yang mengalir tidak terlihat. Namun hari ini, orang-orang telah kehilangan antusias dalam melakukan karma, kehilangan kegembiraan dalam bhakti, dan kerinduan untuk mendapatkan jnana. Pembelajaran yang sesungguhnya terdapat dalam mengungkapkan Diri Sejati (Atma) pada manusia. Ketika bagian-bagian ini diabaikan maka inkarnasi Tuhan atau Avatar hadir untuk mengajarkan kembali kewajiban manusia yaitu Dharma. Apa bentuk dari tuntunan moral (Dharma) yang harus ditegakkan kembali hari ini? Tiada lain adalah hukum abadi yaitu Sanathana Dharma. Bukan berarti tidak ada orang bijak di dunia saat sekarang. Para penyair-penyair besar (kavi), pribadi-pribadi mulia dan cendekiawan agung masih ada bersama kita hari ini. Namun, dalam pengejaran yang gila terhadap kemegahan dan kemewahan, dan perjuangan yang penuh ambisi untuk menantang dan mengalahkan orang lain, tidak ada waktu untuk menyerap pesan-pesan mereka dan merasakan manisnya sadhana yang mereka ajarkan.


- Divine Discourse, Oct 23, 1966

Tujuan dari karma (perbuatan) adalah jnana (kebijaksanaan), dan untuk jnana, karma adalah mendasar. Untuk menggabungkan keduanya dalam praktek disebut dengan Seva (pelayanan tanpa pamrih).

Wednesday, March 4, 2026

Thought for the Day - 4th March 2026 (Wednesday)



Each individual’s conscience is his own witness. Do not waste your energy on negative criticism. You should never abandon your faith and your self-confidence. Some people become jealous of the growth and prosperity of others. Jealousy is a dangerous pest. If a pest enters the root of a tree full of leaves, fruits and flowers, the entire tree dies quickly. The pest is not visible to the eye and works insidiously. A jealous person conceals his jealousy and harms others like a pest. These are evil ways. However, in My view, there are no evil persons. All evil behaviour changes sooner or later. My truth is one. All belong to Me, and I belong to all. My only wealth is love. I embrace all with love. Even people who come to Me with hatred in their hearts are dear to Me. I do not search for your faults. I go by the principle of love. Take note of My equanimity and follow this principle of unity. Purity follows unity, and from purity, Divinity is attained.


- Divine Discourse, Nov 23, 2000

Only love can win people’s hearts. If you have love within, the whole world will be with you. 


Hati Nurani setiap orang merupakan saksi bagi dirinya sendiri. Jangan membuang energi pada kritikan yang bersifat negatif. Engkau seharusnya tidak pernah melepaskan keyakinan dan rasa percaya dirimu. Beberapa orang menjadi iri hati pada perkembangan dan kesejahtraan orang lain. Sifat iri hati ini adalah hama yang berbahaya. Jika hama ini sampai memasuki akar sebuah pohon yang penuh dengan dedaunan, buah, dan bunga, maka seluruh pohon itu akan segera mati. Hama adalah tidak terlihat oleh mata dan bekerja secara tersembunyi. Seseorang yang iri hati menyembunyikan sifat iri hatinya dan menyakiti orang lain seperti halnya hama. Ini adalah cara-cara yang jahat. Bagaimanapun juga, menurut pandangan-Ku bahwa tidak ada orang yang jahat. Semua perilaku jahat dapat berubah cepat atau lambat. Kebenaran-Ku adalah satu. Semuanya adalah milik-Ku, dan Aku adalah milik semuanya. Satu-satunya kekayaan-Ku adalah kasih. Aku merangkul semua dengan kasih. Bahkan mereka yang datang pada-Ku dengan kebencian dalam hati mereka adalah tetap berharga bagi-Ku. Aku tidak mencari-cari kesalahanmu. Aku berpegang pada prinsip kasih. Perhatikan keseimbangan batin-Ku dan ikutilah prinsip kesatuan ini. Kemurnian mengikuti kesatuan, dan dari kemurnian tercapailah keilahian.


- Divine Discourse, Nov 23, 2000

Hanya kasih yang dapat memenangkan hati manusia. Jika engkau memiliki kasih dalam hatimu, seluruh dunia akan bersamamu. 

Tuesday, March 3, 2026

Thought for the Day - 3rd March 2026 (Tuesday)



Sage Narada declared, Prema amritasya swarupah (Love is the embodiment of ambrosia). In the mundane world, man keeps the four Purusharthas (goals of life) alone in view as the path for an aspirant of liberation. This is not correct. Dharma (Righteousness), artha (material wealth), kama (the satisfaction of desire) and moksha (Liberation) alone are not the aims of human existence. There is a fifth aim for mankind which transcends even moksha. This is Paramaprema (Supreme Love). This Love Principle is Divinity. Love and God are not distinct from each other. God is love and love is God. It is only when the truth of this Love Principle is understood that the meaning of human existence can be realised. “He who teaches the principle of Love, instils affection and equality of all beings, and reveals the Human Values - that Embodiment of Love is Lord Sai. That Embodiment of Love is the Divine Atma.” (Telugu poem). Therefore, Love itself is the Atma, Atma is verily Love.


- Divine Discourse, Jan 14, 1995

In what form is God present in all? He is present in all in the form of love.

 

Guru suci Narada menyatakan, Prema amritasya swarupah (Kasih adalah perwujudan dari keabadian). Dalam kehidupan duniawi, manusia hanya memandang bahwa empat tujuan hidup (purushartha) sebagai jalan bagi seseorang untuk mendapatkan pembebasan. Hal ini adalah tidak benar. Dharma (kebajikan), artha (kekayaan material), kama (kepuasan keinginan) dan moksha (kebebasan) saja bukanlah tujuan dari keberadaan manusia. Ada tujuan kelima bagi umat manusia yang bahkan melampaui moksha. Tujuan kelima itu adalah Paramaprema (kasih tertinggi). Prinsip kasih ini adalah keilahian. Kasih dan Tuhan tidaklah berbeda satu dengan yang lainnya. Tuhan adalah kasih dan kasih adalah Tuhan. Hanya ketika kebenaran dari prinsip kasih ini dipahami maka makna dari keberadaan manusia dapat disadari. “Dia yang mengajarkan prinsip kasih, menanamkan kasih dan kesetaraan bagi semua makhluk, dan mengungkapkan nilai-nilai kemanusiaan – perwujudan kasih itu adalah Sai. Perwujudan kasih itu adalah Atma ilahi.” (puisi Telugu). Maka dari itu, kasih sendiri adalah Atma, Atma sejatinya adalah kasih.


- Divine Discourse, Jan 14, 1995

Dalam wujud apakah Tuhan hadir dalam semuanya? Tuhan hadir dalam semuanya dalam wujud kasih.

Monday, March 2, 2026

Thought for the Day - 2nd March 2026 (Monday)



The body has no power of discrimination or knowledge; Only the mind and intellect have discrimination (viveka), knowledge, and power. People today do not exercise fundamental discrimination. They have only selfishness, selfishness, and selfishness. They use their intelligence to obtain what is good for themselves alone, without giving attention to the good of society. In this way, they use the body in wrong ways. They do not use it to follow the path that leads to enlightenment. If you put wheat in the flour mill, you will get wheat flour. If you put rice, you will get rice flour. But if you put food in the body, only faecal matter comes out. If you keep pickle in a jar, it remains intact for one year. If you put pickle in the body, it will rot in a short time. The nature of the body is such. But the body is necessary for one to attain high ideals. So, in order to attain the goal of life, one should dedicate the body to God. One should put the body on the right path and shine as an exemplary human being.


- Divine Discourse, Apr 26, 1997

Sharpness of intellect and high learning are valuable. But good conduct is of highest importance.

 

Tubuh tidak memiliki kemampuan dalam membedakan atau pengetahuan; hanya pikiran dan intelek yang memiliki kemampuan membedakan (viveka), pengetahuan, dan kekuatan. Orang-orang pada hari ini tidak menjalankan kemampuan memilah atau membedakan yang mendasar. Mereka hanya memiliki sifat mementingkan diri sendiri, mementingkan diri sendiri, dan mementingkan diri sendiri. Mereka menggunakan kecerdasan mereka untuk mendapatkan apa yang baik bagi diri mereka saja, tanpa memberikan perhatian pada kebaikan masyarakat. Dengan cara ini, mereka menggunakan tubuh dengan cara yang salah. Mereka tidak menggunakan tubuh untuk mengikuti jalan yang menuntun pada pencerahan. Jika engkau memasukkan gandum ke dalam penggilingan tepung, maka engkau akan mendapatkan tepung gandum. Jika engkau memasukkan beras ke dalam penggilingan tepung, maka engkau akan mendapatkan tepung beras. Namun jika engkau memasukkan makanan ke dalam tubuh, hanya kotoran yang keluar. Jika engkau menyimpan acar di dalam toples, maka acar itu tetap akan awet selama satu tahun. Jika engkau memasukkan acar ke dalam tubuhmu, maka acar itu akan segera membusuk. Begitulah sifat alami dari tubuh. Namun tubuh diperlukan bagi seseorang untuk mencapai cita-cita yang luhur. Jadi, dalam upaya untuk mencapai tujuan hidup, seseorang harus mendedikasikan tubuh untuk Tuhan. seseorang harus menempatkan tubuh pada jalan yang benar serta bersinar sebagai manusia teladan.


- Divine Discourse, 26 April 1997

Ketajaman intelektual dan pendidikan tinggi adalah berguna. Namun perilaku baik adalah yang terpenting.

Sunday, March 1, 2026

Thought for the Day - 1st March 2026 (Sunday)



Mind, by nature, is absolutely pure. It is only due to the influence of bad company that it becomes wicked! For example, if you wrap jasmine flowers in newspaper, it will acquire the fragrance of jasmine flowers. Similarly, if you wrap pakodas (Indian savoury) in it, it will emit the smell of pakodas. The newspaper on its own does not have any smell. Whatever item is wrapped in it, it will acquire its smell. Similarly, if the mind follows the noble path and you associate the mind with everything good, then the mind will also become good. What is the noble path? How noble would the mind become when it is associated with sacred feelings, good thoughts, noble behaviour, good company, spiritual activities, moral values and righteous actions? On the other hand, when it is associated with wicked qualities, wicked thoughts, evil company and bad behaviour, it becomes extremely wicked. In fact, it becomes demonic! There is nothing good or bad in the mind itself. Only due to good or bad influences, it becomes good or bad. If you want your mind to be good, you should associate yourself with good company!


- Divine Discourse, Jun 23, 1996

Good habits, good speech, good conduct and good behaviour will ultimately make us good. 


Pikiran secara alami adalah benar-benar murni. Ini hanya karena pengaruh dari pergaulan yang buruk yang menyebabkan pikiran menjadi jahat! Ambillah contoh, jika engkau membungkus bunga Melati di dalam kertas surat kabar, maka kertas itu akan tercium bunga melati. Sama halnya, jika engkau membungkus pakoda (makanan khas India) di dalamnya maka kertas akan mengeluarkan aroma pakoda. Kertas koran pada hakikatnya tidak memiliki bau apapun. Apapun benda yang dibungkus di dalamnya, maka kertas itu akan menyerap bau tersebut. Sama halnya, jika pikiran mengikuti jalan yang luhur dan engkau mengaitkan pikiran dengan segala sesuatu yang baik, maka pikiran juga akan menjadi baik. Apa jalan yang luhur itu? Betapa luhurnya jadinya pikiran ketika pikiran dikaitkan dengan perasaan yang suci, pikiran yang baik, tingkah laku yang mulia, pergaulan yang baik, aktifitas spiritual, nilai moral dan tindakan yang baik? Sebaliknya, ketika pikiran dikaitkan dengan sifat-sifat yang buruk, pikiran yang jahat, pergaulan yang jahat dan tingkah laku yang buruk, maka pikiran menjadi benar-benar jahat. Bahkan, pikiran benar-benar menjadi iblis! Tidak ada hal yang baik dan buruk dalam pikiran itu sendiri. Hanya karena pengaruh yang baik atau buruk, pikiran menjadi baik atau buruk. Jika engkau ingin pikiranmu menjadi baik, maka engkau harus bergaul dalam pergaulan yang baik!


- Divine Discourse, 23 Juni 1996

Kebiasaan baik, perkataan baik, tingkah laku baik dan perilaku baik pada akhirnya akan menjadikan kita orang baik.