Monday, September 6, 2010

Thought for the Day - 6th September 2010 (Monday)


The bubble born of water floats in it and bursts to become one with it. All the visible objective worlds are like the bubbles emanating from the vast ocean of Divinity, Brahman. They are on the water and are sustained by water. How else can they arise and exist? Finally, they merge and disappear in water itself. For their origination, subsistence, and mergence, they depend only on water. Water is one; bubbles are plentiful. Water is real; bubbles are appearances. Water is the basis; bubbles are delusive forms of the same imposed on it.

Gelembung dihasilkan dari air mengapung didalamnya dan kemudian pecah menjadi satu dengannya. Semua objek-objek duniawi terlihat seperti gelembung yang berasal dari samudra luas Ketuhanan, yaitu Brahman. Gelembung itu ada di atas air dan ditopang oleh air. Bagaimana pula gelembung-gelembung itu ada dan muncul? Akhirnya, gelembung-gelembung itu menyatu dan menghilang di dalam air itu sendiri. Gelembung-gelembung itu hanya tergantung pada air baik untuk asal mulanya, kehidupannya, dan kembali pula menyatu dengan air. Air itu satu dan gelembung itu banyak. Air adalah nyata; gelembung hanyalah sesuatu yang terlihat. Air merupakan dasar; dan gelembung merupakan bentuk palsu yang sama yang dikenakan di atasnya.

-BABA

Sunday, September 5, 2010

Thought for the Day - 5th September 2010 (Sunday)



Teachers reveal the direction and the goal to their students. The skill and the strength, the status and stature of humankind are shaped and furthered in proportion to the quality and character of its teachers. Teachers must dedicate their learning and wisdom to the great task of uplifting pupils to higher levels of knowledge and action. The virtues which they help to inculcate in their pupils are essential for the uplift of the society. Character is the hallmark of every person. When virtues are deep-rooted in the heart, everyone in the society can shine with full glory.

Guru menunjukkan arah dan tujuan kepada siswa-siswanya. Keterampilan dan kemampuan, status dan kedudukan manusia dibentuk dan dilanjutkan sebanding dengan sifat dan karakter guru tersebut. Guru harus mendedikasikan pelajaran dan kebijaksanaan mereka untuk tugas mulia mengangkat siswa ke tingkat yang lebih tinggi dari pengetahuan dan tindakan. Kebajikan yang diberikan sangat penting untuk menanamkan pada siswa mereka untuk mengangkat masyarakat. Karakter adalah ciri dari setiap orang. Ketika kebajikan berakar dalam hati, semua orang di masyarakat bisa bersinar dengan penuh kemuliaan.

-BABA

Saturday, September 4, 2010

Thought for the Day - 4th September 2010 (Saturday)


While dealing with uncultured folks, you must exercise caution. So too, you must be careful with ungrateful fellows, who forget the good done to them. The law is the instrument that Government will use to punish those who do wrong. As educated persons and students, you should not condemn difficult people outright. You must manifest your natural virtue of detachment and practise your characteristic attitude of helpfulness.

Engkau harus berhati-hati, saat engkau berhadapan dengan orang-orang yang tak beradab. Demikian pula, engkau juga harus berhati-hati dengan orang-orang yang tidak pernah bersyukur, serta dengan orang-orang yang melupakan perbuatan baik yang telah dilakukan untuk mereka. Hukum adalah instrumen yang akan digunakan Pemerintah untuk menghukum orang-orang yang bersalah. Sebagai pelajar dan orang yang berpendidikan, engkau seharusnya tidak menyalahkan orang secara langsung. Engkau harus menunjukkan kebajikan alami dari ketidakterikatan dan mempraktekkan karakter sikapmu yang bermanfaat.

-BABA

Thought for the Day - 3rd September 2010


The Divine is the base, and is also the superstructure. The beads are many, but the interconnecting, integrating string of the rosary is one. So also, for the entire world of living beings, God, the permanent, omnipresent Parabrahman, the Supreme Divine Consciousness, is the base. “Soham”, “I am God", “He is I”, “I am that”, all these axioms indicate that even those who differentiate themselves under various names and forms are in fact God Himself. This is why the scriptures proclaim, “Brahmavith Brahmaiva Bhavathi” (He who realises Brahman becomes verily Brahman). This awareness of the Divine in oneself is the awareness of the Reality.

Tuhan merupakan dasar, dan juga superstruktur. Manik-manik jumlahnya banyak, tetapi tali yang menghubungkan rangkaian tasbih adalah satu. Begitu juga, untuk seluruh makhluk hidup di dunia, Tuhan itu kekal, Beliau ada di mana-mana, Parabrahman, Kesadaran Agung Ilahi, adalah dasar. "Soham", "Aku adalah Tuhan", "Beliau adalah aku", semua aksioma ini menunjukkan bahwa bahkan mereka yang membedakan diri dengan berbagai nama dan berbagai bentuk, sebenarnya adalah Tuhan itu sendiri. Inilah sebabnya mengapa Kitab Suci menyatakan, "Brahmavith Brahmaiva Bhavathi" (Dia yang menyadari Brahman sesungguhnya akan menjadi Brahman). Kesadaran Ilahi di dalam diri sendiri ini adalah kesadaran Realitas tersebut.

-BABA

Thursday, September 2, 2010

Thought for the Day - 2nd September 2010 (Thursday)


Even the smallest acts of Lord Sri Krishna were saturated with supreme sweetness. Krishna was everyone's dearest kinsman and fastest comrade. The Leelas (Divine Sport) of Krishna were sweet and meaningful. All activities of Krishna were for the wellbeing of the world. His advent was for the uplift of the world from wickedness and unrighteousness. It was also for fulfilling the needs of those who were devoted to Him, for the establishment of righteousness and the revival of the Vedas. Though people caught in the coils of ignorance perceived the Leelas as self-centred and even motivated by delusion, genuine devotees cherished each one of these as significant and sustaining examples of His Divine Grace. The Lord showers grace on each and every one in such a way that suits the time, the person and their aspirations.


Bahkan tindakan terkecil dari Sri Krishna dipenuhi dengan kemanisan tertinggi. Sri Krishna merupakan kerabat dan sahabat tercinta semua orang. Leelas (Permainan Tuhan) dari Sri Krishna manis dan penuh makna. Semua aktivitas dari Sri Krishna adalah untuk kesejahteraan dunia. Kedatangan Beliau adalah untuk mengangkat dunia dari kejahatan dan kelaliman, juga untuk memenuhi kebutuhan mereka yang berbhakti kepada-Nya, serta untuk menegakkan kebenaran dan kebangkitan Veda. Meskipun orang-orang terperangkap dalam lingkaran ketidaktahuan menganggap Leelas sebagai mementingkan diri sendiri dan bahkan dimotivasi oleh khayalan, bhakta sejati menghargai hal ini sebagai hal yang penting dan mengalami contoh-contoh nyata dari berkat-Nya. Pancaran rahmat Tuhan pada setiap orang sedemikian rupa sesuai dengan waktu, orang, serta aspirasi mereka.

-BABA

Wednesday, September 1, 2010

Thought for the Day - 1st September 2010 (Wednesday)


You must not forget the fact that God is in perceptible form in all beings. Service rendered to any being is service offered to God. This has to be the chief goal of all educated. Nara is Narayana (Man is God). Every single act of yours has to be elevated as an act of service to God. You must not only serve those who help you but also those who harm you. This attitude makes the service doubly holy. Serving those who do service to us is but a natural reaction. Serving those who harm us is the greater virtue. For, this latter course of action involves deeper understanding of your best interest and an alert sense of time, place and circumstance. Education must confer and cultivate these qualities.

Engkau seharusnya tidak melupakan kebenaran bahwa Tuhan ada pada semua makhluk. Pelayanan yang diberikan untuk setiap makhluk adalah pelayanan yang diberikan kepada Tuhan. Ini harus menjadi tujuan utama dari semua orang yang berpendidikan. Nara adalah Narayana (Manusia adalah Tuhan). Setiap tindakan yang engkau lakukan harus ditingkatkan sebagai tindakan untuk melayani Tuhan. Engkau tidak boleh hanya melayani orang-orang yang telah membantumu tetapi juga orang-orang yang telah menyakitimu. Sikap ini membuat pelayanan yang engkau lakukan suci berlipat ganda. Melayani orang-orang yang telah melakukan pelayanan kepada kita merupakan reaksi alamiah. Melayani orang-orang yang telah menyakiti kita merupakan kebajikan yang lebih mulia. Karena, tindakan yang terakhir ini membutuhkan pemahaman yang lebih mendalam serta perhatian penuh pada waktu, tempat dan keadaan. Pendidikan harus memberi dan mengembangkan semua kualitas-kualitas ini.


-BABA