Wednesday, August 26, 2026

Thought for the Day - 26th August 2026 (Wednesday)




Prahlada was a great devotee of God. Bali, his grandson, was a great emperor and devotee. It is said that pleasure is an interval between two pains; between two entities that are good, there is one entity which is bad. In between, the father of Bali, Virochana, was a rationalist and atheist. In the world, there are any number of persons who derive inspiration from Prahlada and Bali. There are also many who take the cue from Virochana. The Jagat (world) will not be what it is if such variations did not exist. All through history, the devotees of God have had to endure many ordeals and privations, but they never lost their faith in God. They have stood out as ideals and examples to mankind. Bali was one such great exemplar. Onam is celebrated as the sacred day when Bali achieved liberation. It is also the day when Vamana was born. It is also the day when each year Bali visits the earth to experience the love of the people and participate in their rejoicings. Hence, people should not be content with enjoying food and raiment but should try to experience the bliss of the Spirit. 


-- Divine Discourse  Sep 15, 1986

Bali demonstrated through his tyaga svabhava (sacrificing nature) that if one sacrifices everything, one will attain moksha (liberation).


Prahlada adalah seorang bhakta Tuhan yang agung. Sedangkan Bali, cucunya, adalah seorang maharaja sekaligus bhakta Tuhan yang agung. Dikatakan bahwa kesenangan adalah jeda di antara dua penderitaan; demikian pula, di antara dua pribadi yang baik terdapat satu pribadi yang buruk. Di tengah-tengah mereka terdapat Virochana, ayah Bali, yang merupakan seorang rasionalis dan ateis. Di dunia ini, tidak terhitung banyaknya orang yang memperoleh inspirasi dari Prahlada dan Bali. Ada pula banyak orang yang mengambil teladan dari Virochana. _Jagat_ (dunia) tidak akan menjadi seperti sekarang jika keberagaman seperti itu tidak ada. Sepanjang sejarah, para bhakta Tuhan harus menghadapi berbagai cobaan dan penderitaan, tetapi mereka tidak pernah kehilangan keyakinan kepada Tuhan. Mereka tampil sebagai teladan dan contoh bagi umat manusia. Bali adalah salah satu teladan agung tersebut. Onam dirayakan sebagai hari suci ketika Bali mencapai pembebasan. Hari itu juga merupakan hari kelahiran Vamana. Hari itu juga diyakini sebagai saat ketika setiap tahun Bali mengunjungi bumi untuk merasakan kasih sayang masyarakat dan turut serta dalam kegembiraan mereka. Oleh karena itu, manusia hendaknya tidak merasa cukup hanya dengan menikmati makanan dan pakaian, tetapi hendaknya berusaha mengalami kebahagiaan Sang Jiwa.


-- Divine Discourse  15 September 1986

Bali menunjukkan melalui _tyaga svabhava_-nya (sifat suka berkorban) bahwa jika seseorang mengorbankan segala sesuatu, ia akan mencapai _moksha_ (pembebasan).

Tuesday, August 25, 2026

Thought for the Day - 25th August 2026 (Tuesday)




Embodiments of Divine Love! Innumerable waves arise from the vast ocean. The waves appear to differ in form from one another. But these multifarious waves are not different from the ocean. In all the waves, the nature and qualities of the ocean are immanent. Likewise, the innumerable beings which you see in this boundless Cosmos appear to be different from one another, but all of them emerged from the same Cosmic source whose form is Sat-Chit-Ananda (Being-Awareness-Bliss). When rain pours down from the sky, pure water falls on the earth, mountains, rivers and the sea. But the pure water acquires the colour and taste of the region or spot where it falls. Likewise, prophets and messiahs, coming down in different parts of the world at different times, imparted their message in terms appropriate to the time, the place and the conditions of the people concerned. Religions cannot be considered different from each other for this reason. All religions have taught only what is good for humanity. Religion should be practised with this awareness. Listen, O valiant child of Bharat! If the minds are pure, how can any religion be bad? 


-- Divine Discourse  Dec 25, 1991

The primary duty of human beings is to recognise that the paths indicated by different religions may vary, but the goal is one. 


Perwujudan Kasih Tuhan! Tidak terhitung banyaknya gelombang muncul dari samudra yang luas. Gelombang-gelombang itu tampak berbeda satu sama lain dalam bentuknya. Namun, berbagai macam gelombang tersebut pada hakikatnya tidak berbeda dari samudra. Dalam setiap gelombang, sifat dan karakteristik samudra hadir di dalamnya. Demikian pula, tidak terhitung banyaknya makhluk yang engkau lihat di alam semesta yang tidak terbatas ini tampak berbeda satu sama lain, tetapi semuanya muncul dari sumber Kosmis yang sama, yang hakikatnya adalah Sat-Chit-Ananda (Kebenaran-Kesadaran-Kebahagiaan). Ketika hujan turun dari langit, air yang murni jatuh ke bumi, gunung, sungai, dan laut. Namun, air yang murni itu memperoleh warna dan rasa sesuai dengan wilayah atau tempat di mana ia jatuh. Demikian pula, para nabi dan utusan Tuhan yang hadir di berbagai belahan dunia pada masa yang berbeda menyampaikan pesan mereka sesuai dengan waktu, tempat, dan kondisi masyarakat yang mereka hadapi. Karena alasan inilah, agama-agama tidak seharusnya dianggap berbeda satu sama lain. Semua agama hanya mengajarkan apa yang baik bagi umat manusia. Agama hendaknya dipraktikkan dengan kesadaran ini. Dengarlah, wahai putra-putri Bharat yang gagah berani! Jika pikiran manusia murni, bagaimana mungkin agama apa pun menjadi buruk? 


-- Divine Discourse  25 Desember 1991

Tugas utama manusia adalah menyadari bahwa jalan yang ditunjukkan oleh berbagai agama mungkin berbeda, tetapi tujuannya adalah satu.


Monday, August 24, 2026

Thought for the Day - 24th August 2026 (Monday)





There are two truths that must be accepted by every pilgrim or devotee: (1) Devotion has to be full, free, and comprehensive. (2) Divinity must be conceived as full, free, and comprehensive. On the other hand, devotion today is almost always only ‘part-time’. That is to say, whenever disease, defeat, or disappointment happen to assail you, you turn to God and pray for His Grace; but when you are happy, prosperous, healthy, and in good shape, you ignore God and claim that they are all due to your own abilities and achievements. God is ignored in sunshine; He is wanted only when there is night. Devotion must persist and flourish, unaffected by time, place or circumstance. God too has to be experienced in His fullness, and the Ananda of that experience should be made one’s permanent possession. It is impossible to experience God and also talk about Him. Words like Sarvajna (all-knowing) and Sarvavyapi (all-pervasive) are used by people since elders and saints have used them from ancient times; it is impossible for anyone to have the fullest and the most comprehensive experience of these qualities of the Divine, and also speak about that experience. 


-- Divine Discourse Aug 30, 1974

Sincere devotion, unshaken faith—they can never fail to earn Grace. 


Ada dua kebenaran yang harus diterima oleh setiap peziarah atau bhakta: (1) Bhakti haruslah utuh, bebas, dan menyeluruh. (2) Ketuhanan harus dipahami sebagai sesuatu yang utuh, bebas, dan menyeluruh. Sebaliknya, bhakti pada hari ini hampir selalu hanya bersifat “paruh waktu”. Artinya, ketika penyakit, kekalahan, atau kekecewaan datang menimpa, kita berpaling kepada Tuhan dan berdoa memohon Anugerah-Nya; namun, ketika kita bahagia, sejahtera, sehat, dan berada dalam keadaan baik, kita mengabaikan Tuhan dan menganggap bahwa semua itu merupakan hasil dari kemampuan dan pencapaian kita sendiri. Tuhan diabaikan saat matahari bersinar; Tuhan dicari hanya ketika saat gelap dan malam. Bhakti harus tetap teguh dan berkembang, tanpa dipengaruhi oleh waktu, tempat, ataupun keadaan. Demikian pula, Tuhan harus dialami dalam kepenuhan-Nya, dan Ananda yang diperoleh dari pengalaman tersebut, hendaknya menjadi milik seseorang secara permanen. Tidak mungkin mengalami Tuhan dan membicarakan tentang Tuhan. Kata-kata seperti Sarvajna (Yang Mahatahu) dan Sarvavyapi (Yang Mahahadir dan meliputi segala sesuatu) digunakan oleh manusia karena para sesepuh dan orang-orang suci telah menggunakannya sejak zaman dahulu; adalah mustahil bagi siapapun untuk memperoleh pengalaman yang sepenuhnya utuh dan menyeluruh mengenai sifat-sifat Ketuhanan tersebut, dan juga membicarakan pengalaman itu. 


-- Divine Discourse 30 Agustus 1974

Ketulusan bhakti dan keteguhan keyakinan -- tidak akan pernah gagal memperoleh Anugerah Tuhan. 

Sunday, August 23, 2026

Thought for the Day - 23rd August 2026



When Rama, Sita and Lakshmana went to the forest and reached Chitrakuta mountain, Rama told Lakshmana to put up a hut in a place of his choice. Hearing these words, Lakshmana felt hurt and bent down his head with grief. Noting this, Sita asked Lakshmana, “Why are you perturbed, Lakshmana? Your brother did not say anything harsh. Why do you feel so sad?” Lakshmana said, “O, Mother! Have I ever had any choice of my own? The likes of Rama are mine. I have surrendered myself to Rama. The command of Rama is what I want to carry out. While it is so, how can I withstand the impact of Rama asking me to put up the hut at a place of my choice? Does it not amount to separation from Rama?” That is the intensity of the feelings of a true devotee towards the Lord. Your thoughts should always be centred on God. The world is like a passing cloud. But the relationship between you and God is permanent and eternal. 


-- Divine Discourse Oct 11, 1998

Unless man learns to surrender his ego with full satisfaction, in complete sincerity, with no reservations, to the Lord, he cannot realise Him, though He is resident in his own heart.


Ketika Sri Rama, Sita dan Lakshmana pergi ke hutan dan mencapai gunung Chitrakuta, Sri Rama mengatakan pada Lakshmana untuk membangun sebuah gubuk di tempat sesuai pilihannya. Mendengar arahan ini dari Sri Rama, Lakshmana menundukkan kepalanya dalam kesedihan. Menyadari akan hal ini, Sita menanyakan Lakshmana, “mengapa engkau menjadi gelisah, Lakshmana? Kakandamu tidak mengucapkan perkataan yang kasar sekalipun. Mengapa engkau merasa begitu sedih?” Lakshmana berkata, “O, Ibu! Apakah selama ini aku pernah memiliki pilihan sendiri? Rama adalah segalanya bagiku. Saya telah menyerahkan diriku sepenuhnya pada Rama. Perintah dari Sri Rama adalah yang aku kerjakan. Jika demikian, bagaimana saya bisa menerima kenyataan bahwa Rama memintaku mendirikan gubuk di tempat sesuai dengan pilihanku sendiri? Bukankah hal itu berarti aku harus berpisah dari Rama?” Demikianlah kuatnya perasaan seorang bhakta sejati terhadap Tuhan. Pikiranmu hendaknya selalu berpusat kepada Tuhan. Dunia ini bagaikan awan yang berlalu. Namun, hubungan antara dirimu dan Tuhan bersifat tetap dan abadi. 


-- Divine Discourse 11 Oktober 1998

Kecuali manusia belajar untuk menyerahkan egonya dengan penuh kerelaan, ketulusan yang sempurna, dan tanpa menyisakan keraguan atau keterikatan apa pun kepada Tuhan, ia tidak akan mampu menyadari-Nya, meskipun Tuhan bersemayam di dalam hatinya sendiri.

Saturday, August 22, 2026

Thought for the Day - 22nd August 2026 (Saturday)





The Lord resides not only in the hearts of devotees, but also in the hearts of the evil-minded. Once, child Prahlada approached his mother Leelavati, and told her, "Mother, there is only one difference between me, who is a devotee of Hari and my father, who hates Hari. Ever contemplating the nectarous sweetness of the Lord, repeating His name and constantly remembering Him, I am immersed in the bliss of love of the Lord like one intoxicated. My father, in his hatred of Narayana, has turned his heart into stone and installed Him in it." The Lord, who dwelt in the heart of Prahlada, who loved Narayana, and the Lord who was in the heart of Hiranyakashipu, who hated Narayana, was one and the same. Drinking deep the nectar of Divine Love, Prahlada quenched his heart's thirst and found bliss. Installing the Lord in his stony heart, Hiranyakashipu was unable to allay his burning thirst and experienced endless worries! It is said, man must live in faith. The one who lives in faith experiences happiness. And the man who experiences this happiness will be far from restlessness and live in peace. 


-- Divine Discourse Sep 15, 1986

Through Love and Service, the mind is cleared of ego, and God is reflected therein. 


Tuhan bersemayam bukan hanya di dalam hati para bhakta, tetapi juga di dalam hati orang-orang yang berpikiran jahat. Pada suatu ketika, Prahlada kecil mendatangi ibunya, Leelavati, dan berkata: “Ibu, hanya ada satu perbedaan antara diriku, yang merupakan bhakta Hari, dan ayahku, yang membenci Hari. Aku senantiasa merenungkan kemanisan nektar kasih Tuhan, mengulang-ulang nama-Nya, dan terus-menerus mengingat-Nya, aku tenggelam dalam kebahagiaan kasih kepada Tuhan bagaikan seseorang yang mabuk oleh kebahagiaan. Ayahku, karena kebenciannya kepada Narayana, telah mengubah hatinya menjadi batu dan menempatkan-Nya di dalam hati itu. Tuhan yang bersemayam di dalam hati Prahlada yang mencintai Narayana, dan Tuhan yang ada dalam hati Hiranyakashipu yang membenci Narayana adalah satu dan sama. Dengan mereguk dalam-dalam nektar kasih Tuhan, Prahlada memuaskan dahaga hatinya dan mendapatkan kebahagiaan. Sebaliknya, Hiranyakashipu, yang menempatkan Tuhan di dalam hatinya yang telah menjadi batu, tidak mampu memadamkan dahaga batinnya yang membara dan justru mengalami kekhawatiran dan penderitaan yang tiada akhir! Dikatakan bahwa, manusia harus hidup dalam keyakinan. Seseorang yang hidup dalam keyakinan mengalami kebahagiaan. Dan seseorang yang mengalami kebahagiaan ini akan jauh dari kegelisahan dan hidup dalam kebahagiaan. 


-- Divine Discourse 15 September 1986

Melalui kasih dan pelayanan, pikiran dibersihkan dari ego, dan Tuhan terpantul di dalamnya.

Thursday, August 20, 2026

Thought for the Day - 20th August 2026 (Thursday)



Wherever faith and dedication to God are evident, forces that tend to ridicule it and diminish its strength also are found. Where an astika (theist) is, there a nastika (atheist) too will raise his head. Disbelief in God or Supreme Will can be only a pose assumed for the sake of personal aggrandisement or advertisement. It cannot stand the light of reason or of experience; even so-called atheists have Love in their hearts, honour Truth while dealing with Society, and live based on the eternal, basic principles of justice. So, they are believers in Sat-chit-ananda (Being, Awareness, Bliss Supreme). You have the duty to stand witness in your lives to the courage, the joy, the strength, the generosity, and the humility that true spirituality and faith can impart to man, when faced with disappointment, distress, defeat, defamation, and other calamities against which the atheist has no such shield. Gold gains in value when melted in the crucible. A piece of diamond, when it is cut into a many-faceted gem, is rendered more brilliant and more costly. A dull stone is not sought by all! Prahladha was subjected to torture by his irate father; but that only added to his lustre! 


-- Divine Discourse Aug 30, 1974

Every obstacle is a step that leads you to the Ananda (bliss) that can never be destroyed or taken away.


Dimanapun keyakinan dan dedikasi kepada Tuhan terlihat dengan jelas, di sana pula akan ditemukan kekuatan-kekuatan yang cenderung mencemooh dan melemahkannya. Di mana ada seorang astika (teis), di situ juga akan ada seorang nastika (ateis) yang akan menunjukkan kepalanya. Ketidakpercayaan pada Tuhan atau Kehendak Tertinggi hanyalah terkadang suatu sikap yang diambil demi membesarkan atau menonjolkan diri. Sikap tersebut tidak akan mampu bertahan di hadapan cahaya akal sehat maupun pengalaman; bahkan mereka yang disebut ateis memiliki kasih di dalam hati mereka, menghormati kebenaran saat berhubungan dengan masyarakat, dan hidup berdasarkan pada prinsip-prinsip dasar keadilan yang abadi. Jadi, mereka mempercayai pada Sat-chit-ananda (Kebenaran, Kesadaran, Kebahagiaan tertinggi). Engkau memiliki kewajiban untuk berdiri menyaksikan dalam hidupmu atas keberanian, suka cita, kekuatan, kemurahan hati, dan kerendahan hati yang dapat diberikan oleh spiritualitas dan keyakinan sejati kepada manusia ketika menghadapi kekecewaan, kesedihan, kekalahan, fitnah, serta berbagai penderitaan lainnya dimana seorang ateis tidak memiliki perisai seperti itu. Emas menjadi semakin berharga ketika dilebur di dalam tungku. Sebongkah berlian, ketika dipotong menjadi permata dengan banyak sisi, akan menjadi semakin berkilau dan semakin mahal. Batu yang kusam tidak akan dicari oleh siapa pun! Prahlada disiksa oleh ayahnya yang murka, tetapi penderitaan itu justru semakin menambah kemilau dan keagungan dirinya! 


-- Divine Discourse 30 Agustus 1974

Setiap halangan adalah sebuah langkah yang menuntunmu pada kebahagiaan (Ananda) yang tidak akan pernah dapat dihancurkan ataupun dirampas. 

Wednesday, August 19, 2026

Thought for the Day - 19th August 2026 (Wednesday)



God is all-powerful; God is everywhere; God is all-knowing. To adore such a formidable, limitless Principle, man spends a few minutes out of the 24 hours before an idol or image or picture! It is indeed ridiculous; it is practically futile. Adore Him so long as you have breath, so long as you are conscious. Have no other thought than God, no other aim than knowing His command, no other activity than translating that command into action. That is what is meant by surrender. Render yourself unto Him. When you intend to go on a journey, you hand over the keys of your car to the chauffeur and sit in comfort and security in the back seat, forgetting the possible troubles on the way. You have surrendered your life into the hands of that man, his intelligence, alertness, and skill. Some men do not fully surrender; they are too egoistic for that! They interrupt him every minute with tips, hints, and suggestions about driving; with questions and doubts regarding the condition of the car or the road! Be steady, have faith, and reach the goal safely. Life is the car, your heart is the key. God is the Sarathi (chauffeur). Surrender to Him and be rid of further bother: Travel safe and arrive happy.


-- Divine Discourse Feb 23, 1971

So long as there is this distinction in the mind of the individual between God and ‘I’, this cannot be accepted as complete surrender.


Tuhan Mahakuasa; Tuhan ada dimana-mana; Tuhan Mahatahu. Untuk memuja prinsip Tuhan yang Maha besar dan tidak terbatas, manusia hanya meluangkan beberapa menit dari 24 jam di depan arca atau gambar perwujudan suci Tuhan! Hal ini benar-benar konyol; dan praktis tidak ada gunanya. Pujalah Tuhan selama engkau bernafas, selama engkau sadar. Jangan memikirkan yang lain selain Tuhan, jangan memiliki tujuan lain selain mengenal kehendak-Nya, dan tidak ada aktivitas lain selain menerjemahkan perintah-Nya ke dalam tindakan. Itulah makna dari penyerahan diri sejati. Serahkan dirimu kepada-Nya. Ketika engkau berhasrat melakukan perjalanan, engkau menyerahkan kunci mobilmu kepada sopir dan duduk dengan nyaman dan aman di kursi belakang, melupakan kemungkinan masalah di perjalanan. Engkau telah menyerahkan hidupmu di tangan sopir tersebut dengan mempercayai kecerdasan, kewaspadaan, dan keterampilannya. Namun, beberapa orang tidak sepenuhnya berserah diri; mereka terlalu egois untuk itu! Merepa menyela dalam setiap menit dengan memberikan petunjuk, saran, dan nasihat tentang cara mengemudikan mobil; dengan pertanyaan dan keraguan mengenai kondisi mobil atau jalan! Karena itu, jadilah teguh, miliki keyakinan, dan sampai pada tujuan dengan selamat. Hidup adalah seperti mobil, hatimu adalah kuncinya. Tuhan adalah sebagai sopirnya (sarathi). Berserah diri pada Tuhan dan dan bebaskan diri dari segala kesulitan: selamat jalan dan sampai di tujuan dengan bahagia. 


-- Divine Discourse 23 Februari 1971

Selama masih ada perbedaan dalam pikiran antara Tuhan dan 'aku', hal ini belum bisa disebut sebagai penyerahan diri yang sempurna.

Tuesday, August 18, 2026

Thought for the Day - 18th August 2026 (Tuesday)



Gain, gain; that seems to be the refrain of life in every activity of man. When a heap of grain is measured, the counting begins not with 'one', but instead by uttering the word, labha (gain)! The wise hold that there is another gain which is far more desirable—attaining the Presence of God, merging in the Supreme Bliss that God is, liberating oneself from the little pleasures which divert us from the pursuit of the highest pleasure, Divine Bliss. Become akin to God, His kith and kin. Do not aspire to be a wage-earner in God's household. Do not demand wages calculated and bargained for. The work done for wages will not be as sincere and joyful as that done through love and reverence. The brothers and the sons do not demand wages at so much per day as their right. They are looked after nicely and well by the Master of the household; everything is theirs, whether they demand or not.


-- Divine Discourse Dec 1966

The grace of God is immeasurable; He is full of love. Contemplate on Him as love, recite His name as the embodiment of love, revere Him as love.


Keuntungan, keuntungan; hal ini sepertinya terus diulang-ulang dalam hidup di setiap aktifitas manusia. Ketika setumpuk bijian-bijian di timbang, perhitungan bahkan tidak dimulai dengan menyebut angka "satu", tetapi dengan mengucapkan kata labha, yang berarti keuntungan! Namun, para bijaksana mengajarkan bahwa ada perolehan yang jauh lebih berharga – merasakan kehadiran Tuhan, menyatu dalam kebahagiaan Ilahi yang merupakan hakikat Tuhan, serta membebaskan diri dari kesenangan-kesenangan kecil yang sering mengalihkan perhatian kita dari pencarian kebahagiaan tertinggi yaitu kebahagiaan Tuhan. Inilah pencapaian sejati yang seharusnya menjadi tujuan hidup. Berusahalah untuk menjadi semakin dekat dengan Tuhan, menjadi sama dengan sifat-sifat-Nya, dan menyadari bahwa kita adalah bagian dari keluarga-Nya. Jangan memiliki harapan menjadi sekadar "pekerja bergaji" di rumah Tuhan. Jangan pula menuntut dan menghitung-hitung imbalan yang yang akan diterima. Pekerjaan yang dilakukan demi upah tidak akan memiliki ketulusan dan sukacita yang sama dengan pekerjaan yang dilakukan karena cinta kasih dan penghormatan. Seorang anak atau saudara tidak akan menuntut upah atau imbalan setiap hari sesuai hak mereka. Mereka dijaga dan dirawat dengan baik oleh kepala keluarga dengan penuh kasih; apapun yang ada di dalam rumah itu pada akhirnya juga menjadi bagian dari kehidupan mereka, baik mereka meminta maupun tidak.


-- Divine Discourse Desember 1966

Anugerah Tuhan tidak terbatas; Tuhan adalah penuh Kasih. Renungkanlah Tuhan sebagai kasih, lantunkan Nama-Nya sebagai perwujudan kasih, Hormatilah dan muliakanlah Tuhan sebagai Kasih.

Monday, August 17, 2026

Thought for the Day - 17th August 2026 (Monday)



Love should not be rationed on the basis of caste, creed, or economic status or intellectual attainment of the recipient. It should flow full and free, regardless of consequence, for it is one’s nature to love, to seek out the dry, dreary wastes which love can water and make fertile. Wherever there is a vacuum, in any heart, Love flows into it and is glad that it can fill the emptiness. It is never held back; it is offered in abundance, without guile or deceit; it does not wear the cloak of falsehood, flattery, or fear. The tendrils of love aspire to cling only to the garments of God; it senses that God resides, in His infinite splendour, in every heart; so, it probes silently into the innermost recesses of all personalities around it to discover the seat of God so that it may bloom therein. That is real bhakti (devotion). When the tendril clings to worldly objects, it is bhukti (material enjoyment), not bhakti. It is the direction that is crucial!


-- Divine Discourse 23 Februari 1971

God is the source of all love; love God, love the world as the vesture of God, no more, no less. Through love, you can merge in the ocean of love.


Kasih seharusnya tidak dibatasi atau diberikan secara berbeda berdasarkan kasta, keyakinan, status ekonomi, ataupun tingkat kecerdasan orang yang menerimanya. Kasih harus mengalir sepenuhnya dan bebas, tanpa mempedulikan akibatnya, karena mengasihi merupakan sifat alami manusia, mencari tempat-tempat yang kering dan tandus, yang dapat disiraminya sehingga menjadi subur dan penuh kehidupan. Di mana pun terdapat kekosongan, di dalam hati siapa pun, kasih akan mengalir ke dalamnya dan bersukacita karena dapat mengisi kekosongan tersebut. Kasih tidak pernah ditahan; kasih diberikan dalam kelimpahan, tanpa tipu daya ataupun kepalsuan; kasih tidak mengenakan selubung kebohongan, sanjungan, atau ketakutan. Sulur-sulur kasih hanya ingin melekat pada jubah Tuhan; kasih menyadari bahwa Tuhan bersemayam dalam kemuliaan-Nya yang tak terbatas di dalam setiap hati; karena itu, kasih dengan hening menyelami relung terdalam setiap pribadi di sekitarnya untuk menemukan tempat bersemayamnya Tuhan, agar kasih dapat mekar di sana. Inilah bhakti (pengabdian) yang sejati. Ketika sulur kasih melekat pada objek-objek duniawi, itulah bhukti (kenikmatan material), bukan bhakti. Yang paling penting adalah ke mana arah kasih itu ditujukan!


-- Divine Discourse 23 Februari 1971

Tuhan adalah sumber dari segala kasih; cintailah Tuhan, dan cintailah dunia sebagai perwujudan atau jubah Tuhan, tidak lebih dan tidak kurang. Melalui kasih, engkau dapat menyatu dengan samudra kasih.

Sunday, August 16, 2026

Thought for the Day - 16th August 2026 (Sunday)

 


When love is directed towards things that cater to the senses or bodily happiness, it will dry up when they fail or disappoint. When profit is loved, loss will undermine it. Discontent will sap its springs when you love with the motive of worldly contentment. Even when ten million disappointments combine to distress you, never give up love; fix it on the source of love, the spring of love, the Supreme Goal of love, namely, God. Whatever the handicap, howsoever you are tempted to loosen the grip, hold on to God; there is always a calm after the storm. A bout of hot weather invariably brings welcome showers. Love saturates all activities with joy and peace. Love ennobles the least and the lowest. Love yourself for the God that it embodies; love others, for the God that is enshrined in them, that speaks and acts through them. This is the bedrock on which you can build the mansion of happiness; this recognition of the Divine motivates you from within.


-- Divine Discourse 23 Februari 1971

You must positively love all beings, cultivate selfless love, and actively engage yourself in acts of pure love. That alone wins the grace you crave!


Ketika cinta kasih diarahkan kepada sesuatu yang hanya memberikan kepuasan indriawi atau kesenangan tubuh, kasih itu pada akhirnya akan memudar ketika objek yang dicintai gagal memenuhi harapan atau mengecewakan. Jika keuntungan dicintai, maka kerugian akan merusak cintanya. Ketidakpuasan akan mengeringkan sumber kasih itu ketika engkau mengasihi dengan motif kepuasan duniawi. Sekalipun sepuluh juta kekecewaan bergabung untuk membuatmu sedih, jangan pernah meninggalkan kasih; arahkan kasih pada sumber kasih, asal segala kasih, tujuan tertinggi kasih, yaitu Tuhan. Apa pun kesulitan yang engkau hadapi, dan seberapa kuat pun godaan untuk melepaskan peganganmu, tetaplah berpegang kepada Tuhan; setelah badai selalu ada ketenangan. Cuaca panas yang berkepanjangan pasti akan membawa hujan yang menyegarkan. Kasih memenuhi semua aktivitas dengan sukacita dan kedamaian. Kasih memuliakan yang terkecil dan yang terendah. Sayangi dirimu sendiri karena Tuhan yang diwujudkan di dalamnya; sayangi orang lain, karena Tuhan yang bersemayam di dalam diri mereka, yang berbicara dan bertindak melalui mereka. Inilah landasan kokoh yang dapat engkau gunakan untuk membangun rumah besar kebahagiaan; menyadari Keilahian yang bersemayam di dalam diri dan diri orang lain, akan menggerakkan kita dari dalam.


-- Divine Discourse 23 Februari 1971

Engkau harus sungguh-sungguh mengasihi semua makhluk, mengembangkan kasih tanpa pamrih, dan secara aktif melakukan tindakan-tindakan yang lahir dari kasih yang murni. Hanya itulah yang akan mendatangkan anugerah yang engkau dambakan!

Friday, August 14, 2026

Thought for the Day - 14th August 2026 (Friday)



People who go about this land will notice the large concourses that attend temples, partake in bhajan and namasankirtan where the glory of God is sung with demonstrative enthusiasm, and mill around venerable personalities who preach and teach the ways of God, and they infer that this is a sacred land full of pious individuals who tread the pilgrim path to Divinity. But these are hollow rituals, empty exercises, exhibitionistic picnics, or hikes; the pilgrims are more interested in shopping, both in the temple and the bazaars, than in stopping the ungodly habits to which they are attached! They are unaware of the basic truth of God, nor are they anxious to earn that awareness by the hard path of discipline. Without an intellectual grasp of the fundamentals of the Divine Principle, all vows, fasts, and vigils are imitative, routine, mechanical activities that involve a waste of time and energy. You must impress on your consciousness that Nature is alive since God is life; Nature appears everlasting since God is eternal; Nature is but a reflection of God! He lends the colour of order, purpose, and activity to inert Nature! Without the motivator, Nature is helpless and powerless.


-- Divine Discourse Feb 23, 1971

When you see everywhere, on every inch of ground, in every being, small or big, the footprint of God, Nature is seen as a manifestation that demands worship, rather than exploitation and enslavement.


Orang-orang yang bepergian ke berbagai penjuru negeri ini akan melihat kerumunan besar yang mendatangi kuil, mengikuti bhajan dan namasankirtan, tempat kemuliaan Tuhan dinyanyikan dengan penuh semangat dan ekspresi, serta berkerumun di sekitar tokoh-tokoh yang dihormati yang menyampaikan ajaran dan jalan menuju Tuhan. Dari semua itu, mereka kemudian menyimpulkan bahwa ini adalah negeri yang suci, yang dipenuhi orang-orang saleh yang menempuh jalan peziarahan menuju Ketuhanan. Namun, semua itu adalah ritual yang kosong, latihan spiritual tanpa makna, piknik yang bersifat pamer, atau sekadar perjalanan wisata; para peziarah justru lebih tertarik berbelanja, baik di lingkungan kuil maupun di pasar-pasar, daripada menghentikan kebiasaan-kebiasaan tidak baik yang selama ini masih mereka lakukan! Mereka tidak menyadari kebenaran mendasar tentang Tuhan, dan mereka juga tidak sungguh-sungguh berusaha memperoleh kesadaran tersebut melalui jalan disiplin yang penuh perjuangan. Tanpa pemahaman intelektual mengenai prinsip-prinsip dasar Ketuhanan, semua sumpah keagamaan, puasa, dan berjaga sepanjang malam hanya menjadi aktivitas yang bersifat meniru, rutin, dan mekanis, yang pada akhirnya hanya membuang waktu dan energi. Engkau harus menanamkan secara mendalam dalam kesadaranmu bahwa Alam itu hidup karena Tuhan adalah kehidupan; Alam tampak abadi karena Tuhan adalah kekal; dan Alam tiada lain adalah pantulan Tuhan! Tuhanlah yang memberikan keteraturan warna, tujuan, dan aktivitas kepada kepada Alam yang tidak berkesadaran. Tanpa penggerak yang menghidupkannya, Alam tidak berdaya dan tidak memiliki kekuatan!


-- Divine Discourse 23 Februari 1971

Ketika engkau melihat di mana-mana, pada setiap jengkal tanah, dalam setiap makhluk, kecil maupun yang besar, jejak Tuhan, maka Alam dilihat sebagai perwujudan Tuhan yang menuntut penghormatan, daripada dieksploitasi dan diperbudak. 

Thursday, August 13, 2026

Thought for the Day - 13th August 2026 (Thursday)



Today, man aspires for God and contemplates on Him, but mere aspiration and contemplation are not enough to experience God. God is not pleased by contemplation alone; one has to totally surrender oneself to experience Him. Once you surrender yourself completely to God, you and He become one. What are the spiritual pursuits to be followed to become one with God? When fire and coal are placed apart, they remain as they are. Only when they are brought together and fanned can coal get transformed into fire. Likewise, go closer to God and love Him wholeheartedly. Such nearness and dearness to God will ultimately make you one with God. This is what Vedanta declared, “Brahmavid Brahmaiva Bhavati” (the knower of Brahman becomes Brahman). The food eaten gets digested, and its essence is supplied to all parts of the body. This means that the food partaken becomes one with the body. Similarly, you have to offer yourself completely to God. Only then can you become one with Him. All your thoughts should become Divine.


-- Divine Discourse Oct 11, 1998

This is the very purpose of human existence - to see God and merge in His Glory. All other victories are futile. 


Saat ini manusia mendambakan Tuhan dan merenungkan-Nya, tetapi sekadar mendambakan dan merenungkan Tuhan tidaklah cukup untuk mengalami-Nya. Tuhan tidak berkenan hanya dengan perenungan; seseorang harus sepenuhnya menyerahkan dirinya untuk dapat mengalami Tuhan. Ketika engkau menyerahkan dirimu sepenuhnya kepada Tuhan, engkau dan Tuhan menjadi satu. Apakah upaya-upaya spiritual yang harus dilakukan agar dapat menyatu dengan Tuhan? Ketika api dan arang diletakkan terpisah, keduanya tetap berada dalam keadaannya masing-masing. Hanya ketika keduanya didekatkan dan arang itu dikipasi, arang dapat berubah menjadi api. Demikian pula, dekatilah Tuhan dan cintailah Tuhan dengan sepenuh hati. Kedekatan dan rasa kasih yang mendalam kepada Tuhan pada akhirnya akan membuatmu menjadi satu dengan Tuhan. Inilah yang dinyatakan oleh Vedanta: “Brahmavid Brahmaiva Bhavati” (orang yang mengenal Brahman sesungguhnya menjadi Brahman). Makanan yang kita makan akan dicerna, kemudian sari-sarinya disalurkan ke seluruh bagian tubuh. Ini berarti makanan yang kita santap pada akhirnya menjadi satu dengan tubuh. Demikian pula, engkau harus mempersembahkan dirimu sepenuhnya kepada Tuhan. Hanya dengan demikian engkau dapat menjadi satu dengan-Nya. Seluruh pikiranmu menjadi Ilahi.


-- Divine Discourse 11 Oktober 1998

Inilah tujuan sejati dari keberadaan manusia: melihat Tuhan dan menyatu dalam kemuliaan-Nya. Semua keberhasilan lainnya pada akhirnya sia-sia. 

Wednesday, August 12, 2026

Thought for the Day - 12th August 2026 (Wednesday)



Coolness is a natural property of water. If there is no coolness in water, we think that there is something unusual. Many people may have gone on a pilgrimage to Badri, and they will recall that there is a hot spring near Brahma kund. While large quantities of cold water are present in the Alakananda river, no one asks why the water is cold, but when they find some hot water in a spring, they ask in surprise how there is a hot spring here. Whenever there is something unusual or contrary to the natural situation, then all kinds of doubts arise, and questions are asked. What is the reason for man to become a bundle of doubts? The main reason for man to have so many doubts is that man is not leading his life in the way in which he ought naturally to lead it. He is not conducting himself in a way in which he should. Because he has not understood the real meaning of the Self in him, he is not behaving as a human being as he ought to behave. This is the basis for all his doubts. He must make some enquiry and understand the aspect of Brahman, because this is the basic cause for the relationship between man and man.


-- Summer Showers, May 22, 1974

Human beings can realise their inherent divinity only when they recognise the unity that underlies the apparent diversity.


Kesejukan adalah sifat alami dari air. Jika tidak ada kesejukan dalam air maka kita berpkir bahwa ada sesuatu yang tidak biasa. Banyak orang mungkin telah mengunjungi tempat-tempat suci ke Badri, dan mereka akan mereka akan ingat bahwa ada mata air panas di dekat Brahma Kund. Meskipun terdapat aliran air dingin di sungai Alakananda, tidak ada yang bertanya mengapa airnya dingin, tetapi ketika mereka menemukan air panas di sebuah mata air, mereka bertanya dengan heran bagaimana bisa ada mata air panas di sini. Kapanpun ada sesuatu yang tidak biasa atau bertentangan dengan situasi alamiah, kemudian semua keraguan mulai muncul, dan pertanyaan diajukan. Apa alasan bagi manusia menjadi penuh keraguan? Alasan utama bagi manusia memiliki banyak keraguan adalah manusia tidak menjalani hidupnya dengan cara yang seharusnya ia jalani secara alami.  Manusia tidak bersikap sebagaimana mestinya. Hal ini disebabkan karena manusia tidak memahami makna sesungguhnya Jati Diri dalam dirinya, sehingga manusia tidak berperilaku sebagai manusia sebagaimana seharusnya. Ini adalah dasar dari semua keraguannya. Manusia harus melakukan beberapa penyelidikan dan memahami aspek Brahman, karena inilah penyebab mendasar dari hubungan antara manusia dengan manusia.


-- Wacana Musim Panas, 22 Mei 1974

Manusia hanya bisa menyadari sifat ilahi yang melekat dalam dirinya hanya ketika mereka mengenali kesatuan yang mendasari keragaman yang tampak. 

Tuesday, August 11, 2026

Thought for the Day - 11th August 2026 (Tuesday)



There are four F’s that you have to be fixed before your attention.1) Follow the Master 2) Face the Devil 3) Fight to the End, and 4) Finish at the Goal. ‘Follow the Master’ means, observe dharma (righteousness). ‘Face the Devil’ means overcome the temptations that beset you when you try to earn artha (wealth or the wherewithal to live in comfort). ‘Fight to the End’ means struggle ceaselessly; wage war against the six enemies that are led by kama (lust). And finally, ‘Finish at the Goal’ means do not stop until the goal of moksha (liberation from ignorance and delusion) is reached. The F’s are fundamental for the pursuit of the four purusharthas (goals of human life) — dharma, artha, kama and moksha. I shall be ever with you, wherever you are, guarding you and guiding you. March on; have no fear.


-- Divine Discourse, Jul 6, 1975

Do not follow those who indulge in sensual pleasures and harbour bad qualities. Follow God and treasure divine qualities


Ada empat “F” yang harus senantiasa engkau tetapkan dalam perhatian: 1) Follow the Master — Ikuti Sang Guru, 2) Face the Devil — Hadapi Iblis, 3) Fight to the End — Berjuang sampai akhir, 4) Finish at the Goal — Tuntaskan hingga mencapai tujuan. ‘Follow the Master’ (Ikuti Sang Guru) berarti menjalankan dharma (kebajikan). ‘Face the Devil’ (Hadapi Iblis) berarti mengatasi berbagai godaan yang menghadang ketika engkau berusaha mendapatkan artha (kekayaan atau sarana untuk menjalani kehidupan dengan nyaman). ‘Fight to the End’ (Berjuang sampai akhir) berarti berjuang tanpa henti; berperanglah melawan enam musuh dalam diri yang dipimpin oleh kama (nafsu). Dan akhirnya, “Finish at the Goal” (Tuntaskan hingga mencapai tujuan) berarti jangan berhenti sebelum tujuan moksha (pembebasan dari ketidaktahuan dan delusi) tercapai. Keempat “F” tersebut merupakan prinsip mendasar dalam upaya mencapai empat purushartha (tujuan hidup manusia), yaitu dharma, artha, kama, dan moksha. Aku akan selalu bersamamu, di mana pun engkau berada, menjaga dan membimbingmu. Teruslah melangkah maju; jangan takut.


-- Divine Discourse, 6 Juli 1975

Jangan mengikuti mereka yang tenggelam dalam kenikmatan indrawi dan memelihara sifat-sifat buruk. Ikutilah Tuhan dan peliharalah sifat-sifat ilahi.

Monday, August 10, 2026

Thought for the Day - 10th August 2026 (Monday)



Man is mortal; dust he is and to dust returneth. But, in him, there shines Atma, as a spark of the immortal flame. This is not a term of flattery invented by the Vedantins. The Atma is the one and only Source and Sustenance of every being. The Atma is God; the particular is the Universal, no less. Therefore, recognise in each being, in each man, a brother, the child of God, and ignore all limiting thoughts and prejudices based on status, colour, class, nativity and caste. Sai is ever engaged in warning you and guiding you so that you may think, speak and act in this attitude of Love. Society cannot justify itself by planning to divide the spoils gained out of Nature either in equal shares or unequal shares. The consummation that must inspire Society has to be—the establishment and elaboration in every social act and resolution, the knowledge of the One Universal Atma and the bliss that knowledge confers. Sai does not direct, “The Atma has no death, therefore, kill the physical sheaths, the bodies.” No. Sai does not encourage wars. Sai directs you to recognise the Atma as your closest kin, closer than the members of your family, your blood-relations and your dearest descendants. When this is done, you will never stray from the path of right, which alone can maintain that kinship.



- Divine Discourse, Mar 01, 1974

You are all ‘the Divine’ packed in human skin and bone, the Atma encased in the evanescent flesh. Know this, and you become fearless, happy without limit.



Manusia adalah makhluk yang fana; ia berasal dari debu dan pada akhirnya akan kembali menjadi debu. Namun, di dalam dirinya bersinar Atma, bagaikan percikan dari nyala api yang abadi. Ini bukanlah sekadar ungkapan pujian yang diciptakan oleh para Vedantin (penganut Vedanta). Atma adalah satu-satunya Sumber dan Penopang setiap makhluk. Atma adalah Tuhan; yang tampak sebagai pribadi sesungguhnya tidak terpisahkan dari Yang Universal. Oleh karena itu, kenalilah setiap makhluk dan setiap manusia, sebagai saudara, sebagai anak Tuhan, dan abaikanlah segala pemikiran serta prasangka yang membatasi, yang didasarkan pada status, warna kulit, golongan, tempat kelahiran, maupun kasta. Sai senantiasa mengingatkan dan membimbing engkau agar dapat berpikir, berbicara, dan bertindak dengan sikap cinta-kasih ini. Masyarakat tidak akan menemukan makna sejatinya jika hanya sibuk mengatur bagaimana hasil kekayaan alam dibagi—baik secara merata maupun tidak merata. Tujuan akhir yang seharusnya menginspirasi kehidupan masyarakat adalah menyadari dan mewujudkan dalam setiap tindakan serta keputusan sosial pemahaman tentang satu Atma yang Universal, serta kebahagiaan yang lahir dari kesadaran tersebut. Sai tidak pernah menginstruksikan, “Atma tidak mengalami kematian, oleh karena itu, hancurkanlah selubung fisik atau tubuh itu.” Tidak. Sai tidak pernah menganjurkan peperangan. Sebaliknya, Sai mengarahkan engkau untuk mengenali Atma sebagai kerabat yang paling dekat dengan dirimu, bahkan lebih dekat daripada anggota keluarga, kerabat sedarah, maupun keturunan yang paling engkau kasihi. Ketika hal ini dilakukan, engkau tidak akan mudah menyimpang dari jalan kebenaran, karena hanya jalan inilah yang dapat memelihara ikatan suci di antara seluruh makhluk.


- Divine Discourse, Mar 01, 1974

 “Engkau semua adalah Keilahian yang bersemayam dalam kulit dan tubuh manusia, yakni Atma yang bersemayam di dalam raga yang fana. Sadarilah kebenaran ini, maka ketakutan akan lenyap dan kebahagiaan tanpa batas akan memenuhi hidupmu.”

Sunday, August 9, 2026

Thought for the Day - 9th August 2026 (Sunday)



Fire is bound to exist where there is smoke. Without fire, there can be no smoke. Similarly, without God, there can be no world. How can there be life without God? It is impossible, totally impossible. Everything happens as per God’s Will. Here is a small example. When a cow gives birth to a calf, it licks the calf’s body with its tongue and makes it clean. As soon as the cow cleans the calf’s body, the calf stands up on its legs and goes to the cow’s udder to drink milk. Who has shown the udder to the calf and made it understand that milk is available at the udder? It is all predetermined by God. Without understanding such subtle truths, people foolishly argue that there is no God. When you do not know what the next thought that will arise in your mind, how can you understand God? Since people do not listen to good teachings, foolishness is on the rise.


-- Divine Discourse Jul 07, 1996

You must foster faith in God and know that He exists in all. That faith will plant in you humility, courage, and reverence.


Api pasti ada di tempat yang ada asap. Tanpa api, maka tidak mungkin ada asap. Sama halnya, tanpa adanya Tuhan maka tidak mungkin ada dunia. Bagaimana mungkin ada kehidupan tanpa Tuhan? Adalah tidak mungkin, sepenuhnya tidak mungkin. Segala sesuatu terjadi atas kehendak Tuhan. Ini sebuah contoh sederhana. Ketika seekor sapi melahirkan anak sapi, induk sapi akan menjilati tubuh anaknya dengan lidahnya dan membersihkannya. Begitu induk sapi membersihkan tubuh anaknya, anak sapi itu berdiri dan pergi ke ambing induk sapi untuk minum susu. Pertanyannya adalah, siapa yang menunjukkan ambing kepada anak sapi itu dan membuatnya mengerti bahwa susu tersedia di ambing? Semuanya telah ditentukan oleh Tuhan. Tanpa memahami kebenaran-kebenaran yang begitu halus, orang-orang dengan bodohnya berpendapat bahwa tidak ada Tuhan. ketika engkau tidak mengetahui apa bentuk pemikiran yang akan muncul di dalam benakmu, lantas bagaimana engkau dapat memahami Tuhan? Karena orang-orang tidak mendengarkan ajaran-ajaran yang baik, maka kebodohan semakin meningkat.


-- Divine Discourse, 07 Juli 1996

Engkau harus memupuk keyakinan pada Tuhan dan mengetahui bahwa Tuhan ada di dalam segala sesuatu. Keyakinan seperti itu akan menanamkan dalam dirimu kerendahan hati, keberanian, dan rasa hormat.


Saturday, August 8, 2026

Thought for the Day - 8th August 2026 (Saturday)



Remember you are the makers, the leaders and the guides of the India of tomorrow. Your shoulders have to be stronger than those of the present generation of leaders, for, as the years roll by, the burden is becoming heavier. Your hearts must become more expansive, your intelligence must become sharper and clearer, for you have great things to do, for your own selves and for humanity. Therefore, imbibe the ideals of duty, devotion and discipline. Devotion must be tested in the crucible of discipline. It must be directed along the lines of duty. Dharmaraja, the eldest of the Pandavas, was the very embodiment of devotion to Lord Krishna. But he had on both sides of him duty in the form of Arjuna and discipline in the form of Bheema. So, he was able to defeat his enemies and crown himself Emperor. Do not stuff your heads with the trivialities that fill the columns of periodicals, or absurd details of the personal lives of stars in any field. Don’t get excited with external events; or, depressed with events that appear like failures. Keep your head high over the flood waters; do not be carried away like stalks of straw.


-- Divine Discourse Jul 06, 1975

Be as devoted and disciplined as Arjuna. Be as intelligent and strong as Bheema. Be steadfast and sincere, like Dharmaraja. Then, no harm can come to you; you will achieve victory in all your efforts. 


Ingatlah bahwa engkau adalah pencetak, pemimpin, dan penuntun bangsa India ke depannya. Bahumu harus kuat daripada bahu para pemimpin generasi sekarang, karena seiring berjalannya waktu, beban akan semakin lebih berat. Hatimu harus menjadi lebih lapang, kecerdasanmu harus menjadi lebih tajam dan jernih, karena engkau memiliki hal-hal besar yang harus dilakukan, untuk dirimu sendiri dan juga untuk umat manusia. Maka dari itu, tanamkanlah idealisme tentang kewajiban, bhakti, dan disiplin. Bhakti harus diuji dalam penempaan disiplin. Bhakti harus diarahkan sesuai dengan kewajiban. Dharmaraja adalah saudara tertua dari para Pandawa, sejatinya merupakan perwujudan dari bhakti kepada Sri Krishna. Namun di kedua sisinya terdapat kewajiban dalam wujud Arjuna dan disiplin dalam wujud Bheema. Jadi, Dharmaraja mampu mengalahkan musuh-musuhnya dan mampu menjadi raja. Jangan penuhi kepalamu dengan hal-hal sepele yang memenuhi kolom-kolom majalah, atau detail-detail cerita konyol dari kehidupan pribadi para selebriti di bidang apa pun. Jangan menjadi terlalu bersemangat dengan kejadian-kejadian di luar diri; atau menjadi terlalu tertekan dengan kejadian-kejadian yang tampak seperti kegagalan. Tetaplah tegar, dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi masa-masa sulit; serta tidak terombang-ambing atau terseret oleh arus masalah. 


-- Divine Discourse 06 Juli 1975

Jadilah berbhakti dan disiplin seperti Arjuna. Jadilah cerdas dan kuat seperti Bheema. Jadilah teguh dan tulus, seperti Dharmaraja. Maka, tidak ada bahaya yang akan menimpamu; engkau akan meraih kemenangan dalam semua usahamu. 

Friday, August 7, 2026

Thought for the Day - 7th August 2026 (Friday)

 




Without the sanction of the Lord, man cannot achieve anything in the world. The divine is the basis for everything. Man, however, is filled with the conceit that he is the one who is doing everything. This pride is the cause of his failure. It is the cause of his restlessness, frustration and disappointment. Man today is basing his life on reliance on Nature, forgetting God. This is a grievous mistake. It is essential to realise that there is a basis, a foundation and that this whole world is based on it. Recognising this truth, one must conduct oneself. If you go to a cinema, you have a screen that is steady and unchanging, which may be compared to God, who is real and eternal. On this screen, many forms come and go. Man only sees and experiences the forms that appear and disappear, but fails to recognise the screen. The moving pictures have the screen as their basis. Without the screen, we will not be able to see these pictures. What understanding can one have if one sees only the forms and pictures? In the same manner, man today is trying to lead life by forgetting God and placing all his faith only in Nature. This is a grave mistake. We have to take refuge in God who is the Adhara (the basis) and then experience Nature which is the Adheya (the based upon). Faith in God is the primary requisite for man.

-- Divine Discourse, Jun 25, 1989
Without the grace of the Lord, no one can enjoy the benefits of Nature.


Tanpa adanya persetujuan dari Tuhan, manusia tidak bisa mencapai apapun di dunia. Tuhan adalah dasar dari segala sesuatu. Manusia, bagaimanapun juga dipenuhi dengan kesombongan dengan merasa bahwa dirinya yang melakukan segalanya. Kesombongan ini adalah penyebab dari kegagalannya. Ini adalah penyebab dari kegelisahannya, frustasi dan rasa kecewa. Manusia hari ini mendasarkan hidupnya dengan tergantung pada alam, dan melupakan Tuhan. Hal ini merupakan kesalahan besar. Adalah mendasar dan sangat penting untuk menyadari bahwa ada dasar, landasan, dan bahwa seluruh dunia ini dibangun di atasnya. Dengan menyadari kebenaran ini, seseorang harus bertindak sesuai dengan prinsip yang telah ditetapkan. Jika engkau pergi ke bioskop, engkau melihat layar yang stabil dan tidak berubah, yang dapat dibandingkan dengan Tuhan, yang nyata dan kekal. Pada layar ini, begitu banyak bentuk muncul dan hilang. Manusia hanya melihat dan mengalami bentuk yang muncul dan hilang tersebut, namun tidak mampu menyadari keberadaan layar. Berbagai bentuk gambar yang bergerak memiliki layar sebagai dasar atau landasannya. Tanpa adanya layar maka kita tidak akan bisa melihat keseluruhan gambar tersebut. Pemahaman seperti apa yang dapat dimiliki seseorang jika ia hanya melihat bentuk-bentuk dan gambar-gambar itu? Sama halnya, manusia saat sekarang sedang mencoba untuk menjalani hidup dengan melupakan Tuhan dan menempatkan semua keyakinannya pada alam. Ini adalah kesalahan yang sangat besar. Kita harus berlindung kepada Tuhan yang merupakan _Adhara_ (dasar, penopang, atau landasan dari segala sesuatu) dan kemudian mengalami alam yang merupakan _Adheya_ (yang ditopang). Keyakinan pada Tuhan adalah syarat utama bagi manusia.

-- Divine Discourse, 25 Juni 1989
Tanpa adanya rahmat Tuhan, tidak ada seorangpun yang bisa menikmati manfaat dari alam.


Thursday, August 6, 2026

Thought for the Day - 6th August 2026 (Thursday)




The process of education must render the individual a happier and more useful person; it must also make him a better citizen, able and willing to further the progress of the nation to which he belongs. It must give up its present emphasis on the grant of degrees which are serving only as bowls, with which the graduates roam about the country asking for jobs to be deposited in them. Today, we hear a great deal about ‘duty’ and the responsibility to perform the duties concerning each group. This is all to the good. But the connotation of the words is not properly understood. The student thinks that his ‘duty’ is only to be punctual when he attends college or school, and to be attentive during the lectures and other academic exercises. The teachers too consider their duty done when they attend during prescribed hours and perform the assignments allotted to them. This misconception has to be given up. Education has to be welcomed as a sadhana (spiritual discipline) for the establishment of shanti (peace) in the individual heart as well as in society, including the common good of humanity. Education is a spiritual endeavour, over which Goddess Saraswati presides.


-- Divine Discourse Jul 06, 1975

Expand your Love so that you recognise God in every being. This is the goal, the purpose, and the fulfilment of Vidya (education).


Proses pendidikan harus membentuk seseorang menjadi pribadi yang lebih bahagia dan lebih bermanfaat; pendidikan juga harus menjadikannya sebagai warga negara yang lebih baik, yang mampu dan bersedia memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsanya. Pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada perolehan gelar yang hanya sebagai "wadah" yang dibawa ke mana-mana untuk diisi dengan pekerjaan. Hari ini, kita mendengar banyak orang berbicara tentang ‘kewajiban’ dan tanggung jawab untuk menjalankan kewajiban yang berkaitan dengan setiap kelompok. Hal itu tentu baik. Namun, sering kali makna kedua istilah tersebut belum dipahami secara benar. Seorang pelajar mungkin menganggap bahwa ‘kewajibannya’ hanya datang tepat waktu ke kampus atau sekolah, mengikuti pembelajaran atau perkuliahan, serta memperhatikan dengan seksama selama pembelajaran dan kegiatan akademik lainnya. Para guru pun juga menganggap kewajiban mereka telah selesai ketika mereka hadir sesuai jam yang ditentukan dan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan kepada mereka. Kesalahpahaman ini harus ditinggalkan. Pendidikan harus diterima sebagai sadhana (disiplin spiritual) untuk mewujudkan shanti (kedamaian) dalam hati setiap individu maupun dalam masyarakat, termasuk untuk kebaikan bersama umat manusia. Pendidikan adalah sebuah usaha spiritual, yang berada di bawah naungan Dewi Saraswati.


-- Divine Discourse 06 Juli 1975

Perluaskan kasihmu hingga engkau menyadari Tuhan dalam setiap makhluk. Itulah tujuan, makna, dan puncak dari Vidya (pendidikan). 

Wednesday, August 5, 2026

Thought for the Day - 5th August 2026 (Wednesday)




Egoism and divinity are incompatible. An egoist can never aspire for the life divine. Ego should be completely annihilated in order to progress along the path of spirituality. However, self-confidence, as different from ego, is of supreme importance in spiritual progress. A man who has no faith in himself cannot have faith in God. Self-confidence and faith in God are always found in juxtaposition. They complement each other. Faith is a cardinal virtue, and faith in God is a prop in life. Though God dwells in everybody, unless one has faith in God, one cannot become divine. Some people might say that they will believe only after they experience. But that is like putting the cart before the horse. In spirituality, faith always precedes experience. “Vidya (learning) without shraddha (faith and earnestness) is futile”, said Swami Vivekananda. Shraddha is absolutely indispensable for Adhyatma-vidya (the science of the Self). Young men and women of the present day do have an abundance of shraddha. But, unfortunately, all their shraddha is diverted to dramas, novels, cinemas, radio, television, cricket and horse racing. This misplaced shraddha has resulted in their physical debilitation and mental corruption, with the result that they have not only lost faith in God but in themselves too.


-- Ch 26, Summer Showers, Jun 1979

Just as a man cannot say that he will jump into the water only after he has learned swimming, he cannot say that he will plunge himself into the depths of spiritual experience only after he has fully comprehended spirituality. 


Egoisme dan Keilahian tidak dapat berjalan berdampingan. Seseorang yang dikuasai oleh ego tidak akan pernah memiliki keinginan untuk meraih kehidupan spiritual. Oleh karena itu, ego harus dikikis hingga tuntas agar seseorang dapat melangkah maju di jalan spiritual. Namun, kepercayaan diri berbeda dengan ego. Kepercayaan diri merupakan kualitas yang sangat penting dalam kemajuan spiritual. Seseorang yang tidak memiliki keyakinan pada dirinya sendiri tidak bisa memiliki keyakinan pada Tuhan. Kepercayaan diri dan keyakinan pada Tuhan selalu berjalan berdampingan. Keduanya saling melengkapi satu dengan lainnya. Keyakinan adalah sebuah nilai luhur yang utama, dan keyakinan pada Tuhan adalah penopang dalam hidup. Walaupun Tuhan bersemayam dalam diri setiap orang, kecuali seseorang memiliki keyakinan pada Tuhan, maka seseorang tidak bisa mencapai keilahian tersebut. Beberapa orang dapat berkata bahwa mereka akan percaya hanya jika setelah mereka mengalami. Namun pandangan seperti itu seperti menempatkan kereta di depan kuda. Dalam spiritual, keyakinan selalu mendahului pengalaman. “Vidya (belajar) tanpa shraddha (keyakinan dan kesungguhan hati) adalah sia-sia belaka”, kata Swami Vivekananda. Shraddha adalah bersifat mutlak diperlukan untuk Adhyatma-vidya (ilmu tentang Diri sejati). Para pemuda dan pemudi pada saat sekarang memiliki shraddha yang sangat besar. Namun, sangat disayangkan, semua keyakinan mereka diarahkan sepenuhnya pada drama, novel, film, radio, televisi, pertandingan kriket dan pacuan kuda. Kekeliruan dalam menempatkan sraddha ini telah mengakibatkan kelemahan fisik dan kerusakan mental mereka. Dampak yang terjadi dimana mereka tidak hanya kehilangan keyakinan kepada Tuhan, tetapi juga kepada diri mereka sendiri.


-- Ch 26, Summer Showers, Juni 1979

Sebagaimana seseorang tidak dapat berkata bahwa ia akan terjun ke dalam air hanya setelah ia belajar berenang, demikian pula seseorang tidak dapat berkata bahwa ia akan memasuki kedalaman pengalaman spiritual hanya setelah memahami spiritualitas sepenuhnya.

Tuesday, August 4, 2026

Thought for the Day - 4th August 2026 (Tuesday)




When a dumb person eats a sweet dish, he can only experience its sweetness but cannot express it in words. Likewise, Divinity can only be experienced and cannot be described. If somebody asks you to describe it, the only answer is silence. You should not waste your time and energy in unnecessary argumentation. Therefore, you should develop faith in God. It is utter foolishness to proffer arguments about the non-existence of God. Why do you say that He does not exist? You say God does not exist because He cannot be seen. Suppose there is a person who is six feet tall, fair-complexioned, bald-headed and weighs 80 kgs. These are all only his physical attributes, which you can see. Do the physical features alone convey the truth about that person? The real truth about the person is what you are not able to see with your physical eyes. These are his good or bad qualities like compassion, love, sympathy, hatred, forbearance, etc. Since you are not able to see these qualities, can you say that they are not there? It is an act of foolishness to say what you do not see does not exist. These qualities which you are not able to see determine his humanness or the lack of it. Therefore, it is foolishness to say that one cannot have faith in what is not seen.


-- Divine Discourse, Jul 07, 1996

God, as butter in milk, is visible when concretised by sadhana (spiritual striving) 


Ketika seseorang yang bisu makan makanan yang manis, ia hanya dapat merasakan rasa manis makanan itu, tetapi tidak mampu mengungkapkannya dengan kata-kata. Demikian pula, Keilahian hanya dapat dialami dan tidak bisa dijelaskan. Jika seseorang meminta penjelasan yang sempurna tentang pengalaman itu, jawaban yang paling tepat adalah hening. Engkau seharusnya tidak menyia-nyiakan waktu dan energimu dalam perdebatan yang tidak perlu. Maka dari itu, engkau harus mengembangkan keyakinan pada Tuhan. Merupakan tanda dari kebodohan dengan mengemukakan argumen tentang tidak adanya Tuhan. Mengapa engkau mengatakan bahwa Tuhan itu tidak ada? Engkau mengatakan Tuhan itu tidak ada hanya karena Tuhan tidak bisa dilihat. Misalkan ada seseorang yang tingginya 180 sentimeter, berkulit cerah, berkepala botak, dan berbobot 80 kilogram. Semua itu adalah ciri-ciri fisik yang dapat engkau lihat dengan mata. Namun, apakah ciri-ciri fisik tersebut saja dapat menyampaikan kebenaran tentang orang tersebut? Kebenaran sejati dari orang tersebut justru terletak pada hal-hal yang tidak dapat engkau lihat dengan mata fisikmu. Semuanya itu adalah sifat-sifat baik atau buruknya seperti welas asih, kasih, simpati, kebencian, ketabahan, dan yang lainnya. Karena engkau tidak mampu melihat sifat-sifat ini, dapatkah engkau mengatakan bahwa sifat-sifat itu tidak ada? Merupakan sebuah tindakan bodoh dengan mengatakan bahwa apa yang tidak engkau lihat adalah tidak ada. Justru sifat-sifat itulah yang menentukan nilai kemanusiaannya atau ketiadaan nilai kemanusiannya. Maka dari itu, merupakan kebodohan dengan mengatakan bahwa seseorang tidak bisa memiliki keyakinan pada apa yang tidak terlihat.


-- Divine Discourse, 07 Juli 1996

Tuhan adalah seperti mentega tersembunyi di dalam susu dan baru tampak ketika diwujudkan melalui sadhana (latihan spiritual).

Monday, August 3, 2026

Thought for the Day - 3rd August 2026 (Monday)



The first step on the path of spirituality is the acquisition of anasuya or freedom from envy, jealousy, malice and covetousness. Asuya or jealousy should be completely rooted out of the human heart, and shraddha, or perseverance, should be cultivated instead. The Atma should be visualised through meditation. The sincere and persistent sadhaka will then certainly have spiritual experiences and mystical revelations. We may want to prepare delicious sambar. For this purpose, we may make use of fresh vegetables, good pulses (dal) and clean tamarind. Like Nala or Bhima, the cook may be an expert. But if the brass vessel used for cooking is not properly silvered or coated with tin, all the sambar cooked in it is bound to be poisonous. Similarly, though there are nine modes of worship, unless the devotee has a pure heart, none of them will be effective. Of what use is all the counting and telling of beads if the heart is tainted with envy, jealousy and malice?


-- Ch 26, Summer Showers, Jun 1979

If a magnet is to attract a piece of iron, the latter should be free from impurities and rust. Similarly, if the Atma is covered with the impurities of the mind, it will not be attracted to the Paramatma.


Langkah pertama dalam perjalanan spiritual adalah mengembangkan anasuya, yaitu keadaan batin yang bebas dari iri hati, kecemburuan, kebencian, dan ketamakan. Asuya atau iri hati harus dicabut hingga ke akarnya dari hati manusia, dan sebagai gantinya maka shraddha atau ketekunan harus dikuatkan. Selanjutnya, Atma hendaknya divisualisaikan melalui praktik meditasi. Seorang sadhaka (pencari spiritual) yang berlatih dengan tulus, tekun, dan tidak mudah menyerah, pada waktunya pasti akan memperoleh pengalaman-pengalaman spiritual serta penyingkapan kebenaran batin. Kita ingin memasak sambar yang lezat. Kita menggunakan sayuran yang segar, kacang-kacangan yang berkualitas, asam yang baik, dan bahkan kokinya adalah seorang ahli seperti Nala atau Bhima. Semua bahan dan keahlian itu sudah sempurna. Namun, apabila panci kuningan yang digunakan belum dilapisi timah dengan baik sehingga masih mengandung zat yang berbahaya, maka seluruh sambar yang dimasak akan menjadi beracun. Demikian pula, ada sembilan bentuk bhakti yang dapat dilakukan, akan tetapi, jika hati seorang bhakta masih dipenuhi iri hati, kecemburuan, atau kebencian, maka semua bentuk pemujaan itu tidak akan memberikan hasil yang semestinya. Apa gunanya menghitung japa mala, melafalkan Nama Tuhan berkali-kali, jika hati masih dipenuhi oleh iri hati, kecemburuan, dan kebencian?


-- Ch 26, Summer Showers, Juni 1979

Agar magnet dapat menarik sepotong besi, besi itu harus bebas dari kotoran dan karat. Demikian pula, apabila Atma masih tertutup oleh kekotoran pikiran, ia tidak akan tertarik kepada Paramatma.

Sunday, August 2, 2026

Thought for the Day - 2nd August 2026 (Sunday)



India stands forth as the teacher to humanity, thanks to the virtue, the fortitude, the moral strength of the women of the past and the present. You have to maintain these qualities and foster them so that she might hold her head high among the nations of the world. Establish the status of the mother in the home, as the upholder of spiritual ideals and therefore, the Guru of the children. Every mother must share in this effort—the expansion and steady manifestation of the God consciousness latent in every child. Children are the crops growing in the fields, to yield the harvest on which the nation has to sustain itself. They are the pillars on which the foundation of the nation’s future is built. They are the roots of the national tree, which has to give the fruits of work, worship and wisdom to the next generation. The Sri Sathya Sai Balvikas has been evolved in order to feed these roots, strengthen these foundation pillars and fertilise the growing crops. 


-- Divine Discourse Jul 10, 1974

The child‑mind is a tender creeper in search of a supporting ideal. Gurus should see that the support is straight and rooted deep


India tampil sebagai guru bagi umat manusia berkat kebajikan, keteguhan, dan kekuatan moral para perempuan, baik pada masa lampau maupun masa kini. Oleh karena itu, engkau harus menjaga kualitas-kualitas luhur tersebut dan dikembangkan agar bangsa ini tetap dapat berdiri dengan kepala tegak di tengah bangsa-bangsa di dunia. Di dalam keluarga, ibu menempati kedudukan yang mulia sebagai penjaga nilai-nilai spiritual dan karena itu menjadi Guru bagi anak-anaknya. Setiap ibu memiliki tanggung jawab untuk mengambil bagian dalam tugas suci ini, yaitu menumbuhkan dan mewujudkan secara bertahap kesadaran Tuhan yang telah ada secara laten di dalam diri setiap anak. Anak-anak bagaikan tanaman yang sedang bertumbuh di ladang, untuk menghasilkan panen yang menjadi penopang kehidupan bangsa. Mereka adalah tiang-tiang penyangga tempat masa depan bangsa dibangun. Mereka juga merupakan akar dari pohon kehidupan bangsa, yang pada waktunya harus menghasilkan buah berupa kerja, ibadah, dan kebijaksanaan bagi generasi berikutnya. Program Sri Sathya Sai Balvikas dikembangkan dengan tujuan memelihara akar-akar tersebut, memperkokoh tiang-tiang penyangga itu, serta menyuburkan tanaman yang sedang bertumbuh.


-- Divine Discourse Jul 10, 1974

Pikiran seorang anak bagaikan sulur tanaman yang masih lembut dan sedang mencari penyangga untuk bertumbuh. Para guru hendaknya memastikan bahwa penyangga itu tegak, kokoh, dan berakar kuat.

Saturday, August 1, 2026

Thought for the Day - 1st August 2026 (Saturday)




Anasuya, or absence of envy, jealousy & malice, is a prerequisite for gaining an intimate, immediate and personal experience of the omnipresent Divinity. Every spiritual aspirant must necessarily cultivate the quality of anasuya. It is a divine characteristic which makes a man’s personality pure and pellucid. Asuya or chronic jealousy is the source of all mental and physical ailments in this world. To acquire mental equipoise and inner tranquillity, man should make his heart pure by purging his mind of this psychological mania called jealousy. Man must first humanise himself before attempting to divinise himself. To feel jealous of others, even in trivial matters, suppresses humanitarian instincts of a person. People today, waste all their time and energy in blaming others without realising that to search for and find faults in others is the most grievous and ghastly sin! Arjuna was completely free from the deadly qualities of envy, jealousy and malice. Hence he acquired the appellation of anasuya and deserved the nectarous message of Bhagawad Gita from Krishna. 


-- Ch 26, Summer Showers, Jun 1979

Where there is love, there will be no room for jealousy and hatred, and where there is no jealousy and hatred, there is Ananda (real joy).


Anasuya, yaitu tanpa adanya sifat iri hati, kecemburuan, dan kebencian, merupakan syarat utama untuk memperoleh pengalaman yang dekat, nyata, dan pribadi akan Keilahian yang hadir di mana-mana. Setiap pencari spiritual hendaknya dengan sungguh-sungguh mengembangkan sifat anasuya. Anasuya adalah kualitas ilahi yang menjadikan kepribadian seseorang murni dan jernih. Sebaliknya, asuya atau iri hati yang bersifat kronis merupakan sumber berbagai penyakit mental maupun fisik di dunia ini. Untuk memperoleh keseimbangan mental dan ketenangan batin, manusia hendaknya menyucikan hatinya dengan membersihkan pikirannya dari kegilaan psikologis yang disebut kecemburuan. Manusia harus terlebih dahulu memanusiakan dirinya sebelum berusaha mewujudkan Keilahian dalam dirinya. Selama seseorang masih mudah iri terhadap orang lain, bahkan dalam hal-hal yang sepele, naluri kemanusiaannya akan semakin melemah. Orang-orang pada saat sekarang menyia-nyiakan semua waktu dan energinya dalam menyelahkan orang lain tanpa menyadari bahwa mencari dan menemukan kesalahan pada diri orang lain adalah dosa yang paling mengerikan dan keji! Arjuna sepenuhnya bebas dari sifat-sifat jahat yang mematikan seperti iri hati, cemburu dan kebencian. Karena itu Arjuna mendapatkan sebutan anasuya serta layak menerima pesan-pesan mulia Bhagawad Gita dari Krishna. 


-- Ch 26, Summer Showers, Jun 1979

Di mana ada kasih, di sana tidak ada tempat bagi iri hati dan kebencian, dan di mana tidak ada iri hati maupun kebencian, di sanalah Ananda (kebahagiaan sejati) bersemi.