When Rama, Sita and Lakshmana went to the forest and reached Chitrakuta mountain, Rama told Lakshmana to put up a hut in a place of his choice. Hearing these words, Lakshmana felt hurt and bent down his head with grief. Noting this, Sita asked Lakshmana, “Why are you perturbed, Lakshmana? Your brother did not say anything harsh. Why do you feel so sad?” Lakshmana said, “O, Mother! Have I ever had any choice of my own? The likes of Rama are mine. I have surrendered myself to Rama. The command of Rama is what I want to carry out. While it is so, how can I withstand the impact of Rama asking me to put up the hut at a place of my choice? Does it not amount to separation from Rama?” That is the intensity of the feelings of a true devotee towards the Lord. Your thoughts should always be centred on God. The world is like a passing cloud. But the relationship between you and God is permanent and eternal.
-- Divine Discourse Oct 11, 1998
Unless man learns to surrender his ego with full satisfaction, in complete sincerity, with no reservations, to the Lord, he cannot realise Him, though He is resident in his own heart.
Ketika Sri Rama, Sita dan Lakshmana pergi ke hutan dan mencapai gunung Chitrakuta, Sri Rama mengatakan pada Lakshmana untuk membangun sebuah gubuk di tempat sesuai pilihannya. Mendengar arahan ini dari Sri Rama, Lakshmana menundukkan kepalanya dalam kesedihan. Menyadari akan hal ini, Sita menanyakan Lakshmana, “mengapa engkau menjadi gelisah, Lakshmana? Kakandamu tidak mengucapkan perkataan yang kasar sekalipun. Mengapa engkau merasa begitu sedih?” Lakshmana berkata, “O, Ibu! Apakah selama ini aku pernah memiliki pilihan sendiri? Rama adalah segalanya bagiku. Saya telah menyerahkan diriku sepenuhnya pada Rama. Perintah dari Sri Rama adalah yang aku kerjakan. Jika demikian, bagaimana saya bisa menerima kenyataan bahwa Rama memintaku mendirikan gubuk di tempat sesuai dengan pilihanku sendiri? Bukankah hal itu berarti aku harus berpisah dari Rama?” Demikianlah kuatnya perasaan seorang bhakta sejati terhadap Tuhan. Pikiranmu hendaknya selalu berpusat kepada Tuhan. Dunia ini bagaikan awan yang berlalu. Namun, hubungan antara dirimu dan Tuhan bersifat tetap dan abadi.
-- Divine Discourse 11 Oktober 1998
Kecuali manusia belajar untuk menyerahkan egonya dengan penuh kerelaan, ketulusan yang sempurna, dan tanpa menyisakan keraguan atau keterikatan apa pun kepada Tuhan, ia tidak akan mampu menyadari-Nya, meskipun Tuhan bersemayam di dalam hatinya sendiri.
No comments:
Post a Comment