People who go about this land will notice the large concourses that attend temples, partake in bhajan and namasankirtan where the glory of God is sung with demonstrative enthusiasm, and mill around venerable personalities who preach and teach the ways of God, and they infer that this is a sacred land full of pious individuals who tread the pilgrim path to Divinity. But these are hollow rituals, empty exercises, exhibitionistic picnics, or hikes; the pilgrims are more interested in shopping, both in the temple and the bazaars, than in stopping the ungodly habits to which they are attached! They are unaware of the basic truth of God, nor are they anxious to earn that awareness by the hard path of discipline. Without an intellectual grasp of the fundamentals of the Divine Principle, all vows, fasts, and vigils are imitative, routine, mechanical activities that involve a waste of time and energy. You must impress on your consciousness that Nature is alive since God is life; Nature appears everlasting since God is eternal; Nature is but a reflection of God! He lends the colour of order, purpose, and activity to inert Nature! Without the motivator, Nature is helpless and powerless.
-- Divine Discourse Feb 23, 1971
When you see everywhere, on every inch of ground, in every being, small or big, the footprint of God, Nature is seen as a manifestation that demands worship, rather than exploitation and enslavement.
Orang-orang yang bepergian ke berbagai penjuru negeri ini akan melihat kerumunan besar yang mendatangi kuil, mengikuti bhajan dan namasankirtan, tempat kemuliaan Tuhan dinyanyikan dengan penuh semangat dan ekspresi, serta berkerumun di sekitar tokoh-tokoh yang dihormati yang menyampaikan ajaran dan jalan menuju Tuhan. Dari semua itu, mereka kemudian menyimpulkan bahwa ini adalah negeri yang suci, yang dipenuhi orang-orang saleh yang menempuh jalan peziarahan menuju Ketuhanan. Namun, semua itu adalah ritual yang kosong, latihan spiritual tanpa makna, piknik yang bersifat pamer, atau sekadar perjalanan wisata; para peziarah justru lebih tertarik berbelanja, baik di lingkungan kuil maupun di pasar-pasar, daripada menghentikan kebiasaan-kebiasaan tidak baik yang selama ini masih mereka lakukan! Mereka tidak menyadari kebenaran mendasar tentang Tuhan, dan mereka juga tidak sungguh-sungguh berusaha memperoleh kesadaran tersebut melalui jalan disiplin yang penuh perjuangan. Tanpa pemahaman intelektual mengenai prinsip-prinsip dasar Ketuhanan, semua sumpah keagamaan, puasa, dan berjaga sepanjang malam hanya menjadi aktivitas yang bersifat meniru, rutin, dan mekanis, yang pada akhirnya hanya membuang waktu dan energi. Engkau harus menanamkan secara mendalam dalam kesadaranmu bahwa Alam itu hidup karena Tuhan adalah kehidupan; Alam tampak abadi karena Tuhan adalah kekal; dan Alam tiada lain adalah pantulan Tuhan! Tuhanlah yang memberikan keteraturan warna, tujuan, dan aktivitas kepada kepada Alam yang tidak berkesadaran. Tanpa penggerak yang menghidupkannya, Alam tidak berdaya dan tidak memiliki kekuatan!
-- Divine Discourse 23 Februari 1971
Ketika engkau melihat di mana-mana, pada setiap jengkal tanah, dalam setiap makhluk, kecil maupun yang besar, jejak Tuhan, maka Alam dilihat sebagai perwujudan Tuhan yang menuntut penghormatan, daripada dieksploitasi dan diperbudak.
No comments:
Post a Comment