Man is mortal; dust he is and to dust returneth. But, in him, there shines Atma, as a spark of the immortal flame. This is not a term of flattery invented by the Vedantins. The Atma is the one and only Source and Sustenance of every being. The Atma is God; the particular is the Universal, no less. Therefore, recognise in each being, in each man, a brother, the child of God, and ignore all limiting thoughts and prejudices based on status, colour, class, nativity and caste. Sai is ever engaged in warning you and guiding you so that you may think, speak and act in this attitude of Love. Society cannot justify itself by planning to divide the spoils gained out of Nature either in equal shares or unequal shares. The consummation that must inspire Society has to be—the establishment and elaboration in every social act and resolution, the knowledge of the One Universal Atma and the bliss that knowledge confers. Sai does not direct, “The Atma has no death, therefore, kill the physical sheaths, the bodies.” No. Sai does not encourage wars. Sai directs you to recognise the Atma as your closest kin, closer than the members of your family, your blood-relations and your dearest descendants. When this is done, you will never stray from the path of right, which alone can maintain that kinship.
- Divine Discourse, Mar 01, 1974
You are all ‘the Divine’ packed in human skin and bone, the Atma encased in the evanescent flesh. Know this, and you become fearless, happy without limit.
Manusia adalah makhluk yang fana; ia berasal dari debu dan pada akhirnya akan kembali menjadi debu. Namun, di dalam dirinya bersinar Atma, bagaikan percikan dari nyala api yang abadi. Ini bukanlah sekadar ungkapan pujian yang diciptakan oleh para Vedantin (penganut Vedanta). Atma adalah satu-satunya Sumber dan Penopang setiap makhluk. Atma adalah Tuhan; yang tampak sebagai pribadi sesungguhnya tidak terpisahkan dari Yang Universal. Oleh karena itu, kenalilah setiap makhluk dan setiap manusia, sebagai saudara, sebagai anak Tuhan, dan abaikanlah segala pemikiran serta prasangka yang membatasi, yang didasarkan pada status, warna kulit, golongan, tempat kelahiran, maupun kasta. Sai senantiasa mengingatkan dan membimbing engkau agar dapat berpikir, berbicara, dan bertindak dengan sikap cinta-kasih ini. Masyarakat tidak akan menemukan makna sejatinya jika hanya sibuk mengatur bagaimana hasil kekayaan alam dibagi—baik secara merata maupun tidak merata. Tujuan akhir yang seharusnya menginspirasi kehidupan masyarakat adalah menyadari dan mewujudkan dalam setiap tindakan serta keputusan sosial pemahaman tentang satu Atma yang Universal, serta kebahagiaan yang lahir dari kesadaran tersebut. Sai tidak pernah menginstruksikan, “Atma tidak mengalami kematian, oleh karena itu, hancurkanlah selubung fisik atau tubuh itu.” Tidak. Sai tidak pernah menganjurkan peperangan. Sebaliknya, Sai mengarahkan engkau untuk mengenali Atma sebagai kerabat yang paling dekat dengan dirimu, bahkan lebih dekat daripada anggota keluarga, kerabat sedarah, maupun keturunan yang paling engkau kasihi. Ketika hal ini dilakukan, engkau tidak akan mudah menyimpang dari jalan kebenaran, karena hanya jalan inilah yang dapat memelihara ikatan suci di antara seluruh makhluk.
- Divine Discourse, Mar 01, 1974
“Engkau semua adalah Keilahian yang bersemayam dalam kulit dan tubuh manusia, yakni Atma yang bersemayam di dalam raga yang fana. Sadarilah kebenaran ini, maka ketakutan akan lenyap dan kebahagiaan tanpa batas akan memenuhi hidupmu.”
No comments:
Post a Comment