Gain, gain; that seems to be the refrain of life in every activity of man. When a heap of grain is measured, the counting begins not with 'one', but instead by uttering the word, labha (gain)! The wise hold that there is another gain which is far more desirable—attaining the Presence of God, merging in the Supreme Bliss that God is, liberating oneself from the little pleasures which divert us from the pursuit of the highest pleasure, Divine Bliss. Become akin to God, His kith and kin. Do not aspire to be a wage-earner in God's household. Do not demand wages calculated and bargained for. The work done for wages will not be as sincere and joyful as that done through love and reverence. The brothers and the sons do not demand wages at so much per day as their right. They are looked after nicely and well by the Master of the household; everything is theirs, whether they demand or not.
-- Divine Discourse Dec 1966
The grace of God is immeasurable; He is full of love. Contemplate on Him as love, recite His name as the embodiment of love, revere Him as love.
Keuntungan, keuntungan; hal ini sepertinya terus diulang-ulang dalam hidup di setiap aktifitas manusia. Ketika setumpuk bijian-bijian di timbang, perhitungan bahkan tidak dimulai dengan menyebut angka "satu", tetapi dengan mengucapkan kata labha, yang berarti keuntungan! Namun, para bijaksana mengajarkan bahwa ada perolehan yang jauh lebih berharga – merasakan kehadiran Tuhan, menyatu dalam kebahagiaan Ilahi yang merupakan hakikat Tuhan, serta membebaskan diri dari kesenangan-kesenangan kecil yang sering mengalihkan perhatian kita dari pencarian kebahagiaan tertinggi yaitu kebahagiaan Tuhan. Inilah pencapaian sejati yang seharusnya menjadi tujuan hidup. Berusahalah untuk menjadi semakin dekat dengan Tuhan, menjadi sama dengan sifat-sifat-Nya, dan menyadari bahwa kita adalah bagian dari keluarga-Nya. Jangan memiliki harapan menjadi sekadar "pekerja bergaji" di rumah Tuhan. Jangan pula menuntut dan menghitung-hitung imbalan yang yang akan diterima. Pekerjaan yang dilakukan demi upah tidak akan memiliki ketulusan dan sukacita yang sama dengan pekerjaan yang dilakukan karena cinta kasih dan penghormatan. Seorang anak atau saudara tidak akan menuntut upah atau imbalan setiap hari sesuai hak mereka. Mereka dijaga dan dirawat dengan baik oleh kepala keluarga dengan penuh kasih; apapun yang ada di dalam rumah itu pada akhirnya juga menjadi bagian dari kehidupan mereka, baik mereka meminta maupun tidak.
-- Divine Discourse Desember 1966
Anugerah Tuhan tidak terbatas; Tuhan adalah penuh Kasih. Renungkanlah Tuhan sebagai kasih, lantunkan Nama-Nya sebagai perwujudan kasih, Hormatilah dan muliakanlah Tuhan sebagai Kasih.
No comments:
Post a Comment