Saturday, August 22, 2026

Thought for the Day - 22nd August 2026 (Saturday)





The Lord resides not only in the hearts of devotees, but also in the hearts of the evil-minded. Once, child Prahlada approached his mother Leelavati, and told her, "Mother, there is only one difference between me, who is a devotee of Hari and my father, who hates Hari. Ever contemplating the nectarous sweetness of the Lord, repeating His name and constantly remembering Him, I am immersed in the bliss of love of the Lord like one intoxicated. My father, in his hatred of Narayana, has turned his heart into stone and installed Him in it." The Lord, who dwelt in the heart of Prahlada, who loved Narayana, and the Lord who was in the heart of Hiranyakashipu, who hated Narayana, was one and the same. Drinking deep the nectar of Divine Love, Prahlada quenched his heart's thirst and found bliss. Installing the Lord in his stony heart, Hiranyakashipu was unable to allay his burning thirst and experienced endless worries! It is said, man must live in faith. The one who lives in faith experiences happiness. And the man who experiences this happiness will be far from restlessness and live in peace. 


-- Divine Discourse Sep 15, 1986

Through Love and Service, the mind is cleared of ego, and God is reflected therein. 


Tuhan bersemayam bukan hanya di dalam hati para bhakta, tetapi juga di dalam hati orang-orang yang berpikiran jahat. Pada suatu ketika, Prahlada kecil mendatangi ibunya, Leelavati, dan berkata: “Ibu, hanya ada satu perbedaan antara diriku, yang merupakan bhakta Hari, dan ayahku, yang membenci Hari. Aku senantiasa merenungkan kemanisan nektar kasih Tuhan, mengulang-ulang nama-Nya, dan terus-menerus mengingat-Nya, aku tenggelam dalam kebahagiaan kasih kepada Tuhan bagaikan seseorang yang mabuk oleh kebahagiaan. Ayahku, karena kebenciannya kepada Narayana, telah mengubah hatinya menjadi batu dan menempatkan-Nya di dalam hati itu. Tuhan yang bersemayam di dalam hati Prahlada yang mencintai Narayana, dan Tuhan yang ada dalam hati Hiranyakashipu yang membenci Narayana adalah satu dan sama. Dengan mereguk dalam-dalam nektar kasih Tuhan, Prahlada memuaskan dahaga hatinya dan mendapatkan kebahagiaan. Sebaliknya, Hiranyakashipu, yang menempatkan Tuhan di dalam hatinya yang telah menjadi batu, tidak mampu memadamkan dahaga batinnya yang membara dan justru mengalami kekhawatiran dan penderitaan yang tiada akhir! Dikatakan bahwa, manusia harus hidup dalam keyakinan. Seseorang yang hidup dalam keyakinan mengalami kebahagiaan. Dan seseorang yang mengalami kebahagiaan ini akan jauh dari kegelisahan dan hidup dalam kebahagiaan. 


-- Divine Discourse 15 September 1986

Melalui kasih dan pelayanan, pikiran dibersihkan dari ego, dan Tuhan terpantul di dalamnya.

No comments: