When a dumb person eats a sweet dish, he can only experience its sweetness but cannot express it in words. Likewise, Divinity can only be experienced and cannot be described. If somebody asks you to describe it, the only answer is silence. You should not waste your time and energy in unnecessary argumentation. Therefore, you should develop faith in God. It is utter foolishness to proffer arguments about the non-existence of God. Why do you say that He does not exist? You say God does not exist because He cannot be seen. Suppose there is a person who is six feet tall, fair-complexioned, bald-headed and weighs 80 kgs. These are all only his physical attributes, which you can see. Do the physical features alone convey the truth about that person? The real truth about the person is what you are not able to see with your physical eyes. These are his good or bad qualities like compassion, love, sympathy, hatred, forbearance, etc. Since you are not able to see these qualities, can you say that they are not there? It is an act of foolishness to say what you do not see does not exist. These qualities which you are not able to see determine his humanness or the lack of it. Therefore, it is foolishness to say that one cannot have faith in what is not seen.
-- Divine Discourse, Jul 07, 1996
God, as butter in milk, is visible when concretised by sadhana (spiritual striving)
Ketika seseorang yang bisu makan makanan yang manis, ia hanya dapat merasakan rasa manis makanan itu, tetapi tidak mampu mengungkapkannya dengan kata-kata. Demikian pula, Keilahian hanya dapat dialami dan tidak bisa dijelaskan. Jika seseorang meminta penjelasan yang sempurna tentang pengalaman itu, jawaban yang paling tepat adalah hening. Engkau seharusnya tidak menyia-nyiakan waktu dan energimu dalam perdebatan yang tidak perlu. Maka dari itu, engkau harus mengembangkan keyakinan pada Tuhan. Merupakan tanda dari kebodohan dengan mengemukakan argumen tentang tidak adanya Tuhan. Mengapa engkau mengatakan bahwa Tuhan itu tidak ada? Engkau mengatakan Tuhan itu tidak ada hanya karena Tuhan tidak bisa dilihat. Misalkan ada seseorang yang tingginya 180 sentimeter, berkulit cerah, berkepala botak, dan berbobot 80 kilogram. Semua itu adalah ciri-ciri fisik yang dapat engkau lihat dengan mata. Namun, apakah ciri-ciri fisik tersebut saja dapat menyampaikan kebenaran tentang orang tersebut? Kebenaran sejati dari orang tersebut justru terletak pada hal-hal yang tidak dapat engkau lihat dengan mata fisikmu. Semuanya itu adalah sifat-sifat baik atau buruknya seperti welas asih, kasih, simpati, kebencian, ketabahan, dan yang lainnya. Karena engkau tidak mampu melihat sifat-sifat ini, dapatkah engkau mengatakan bahwa sifat-sifat itu tidak ada? Merupakan sebuah tindakan bodoh dengan mengatakan bahwa apa yang tidak engkau lihat adalah tidak ada. Justru sifat-sifat itulah yang menentukan nilai kemanusiaannya atau ketiadaan nilai kemanusiannya. Maka dari itu, merupakan kebodohan dengan mengatakan bahwa seseorang tidak bisa memiliki keyakinan pada apa yang tidak terlihat.
-- Divine Discourse, 07 Juli 1996
Tuhan adalah seperti mentega tersembunyi di dalam susu dan baru tampak ketika diwujudkan melalui sadhana (latihan spiritual).
No comments:
Post a Comment