Egoism and divinity are incompatible. An egoist can never aspire for the life divine. Ego should be completely annihilated in order to progress along the path of spirituality. However, self-confidence, as different from ego, is of supreme importance in spiritual progress. A man who has no faith in himself cannot have faith in God. Self-confidence and faith in God are always found in juxtaposition. They complement each other. Faith is a cardinal virtue, and faith in God is a prop in life. Though God dwells in everybody, unless one has faith in God, one cannot become divine. Some people might say that they will believe only after they experience. But that is like putting the cart before the horse. In spirituality, faith always precedes experience. “Vidya (learning) without shraddha (faith and earnestness) is futile”, said Swami Vivekananda. Shraddha is absolutely indispensable for Adhyatma-vidya (the science of the Self). Young men and women of the present day do have an abundance of shraddha. But, unfortunately, all their shraddha is diverted to dramas, novels, cinemas, radio, television, cricket and horse racing. This misplaced shraddha has resulted in their physical debilitation and mental corruption, with the result that they have not only lost faith in God but in themselves too.
-- Ch 26, Summer Showers, Jun 1979
Just as a man cannot say that he will jump into the water only after he has learned swimming, he cannot say that he will plunge himself into the depths of spiritual experience only after he has fully comprehended spirituality.
Egoisme dan Keilahian tidak dapat berjalan berdampingan. Seseorang yang dikuasai oleh ego tidak akan pernah memiliki keinginan untuk meraih kehidupan spiritual. Oleh karena itu, ego harus dikikis hingga tuntas agar seseorang dapat melangkah maju di jalan spiritual. Namun, kepercayaan diri berbeda dengan ego. Kepercayaan diri merupakan kualitas yang sangat penting dalam kemajuan spiritual. Seseorang yang tidak memiliki keyakinan pada dirinya sendiri tidak bisa memiliki keyakinan pada Tuhan. Kepercayaan diri dan keyakinan pada Tuhan selalu berjalan berdampingan. Keduanya saling melengkapi satu dengan lainnya. Keyakinan adalah sebuah nilai luhur yang utama, dan keyakinan pada Tuhan adalah penopang dalam hidup. Walaupun Tuhan bersemayam dalam diri setiap orang, kecuali seseorang memiliki keyakinan pada Tuhan, maka seseorang tidak bisa mencapai keilahian tersebut. Beberapa orang dapat berkata bahwa mereka akan percaya hanya jika setelah mereka mengalami. Namun pandangan seperti itu seperti menempatkan kereta di depan kuda. Dalam spiritual, keyakinan selalu mendahului pengalaman. “Vidya (belajar) tanpa shraddha (keyakinan dan kesungguhan hati) adalah sia-sia belaka”, kata Swami Vivekananda. Shraddha adalah bersifat mutlak diperlukan untuk Adhyatma-vidya (ilmu tentang Diri sejati). Para pemuda dan pemudi pada saat sekarang memiliki shraddha yang sangat besar. Namun, sangat disayangkan, semua keyakinan mereka diarahkan sepenuhnya pada drama, novel, film, radio, televisi, pertandingan kriket dan pacuan kuda. Kekeliruan dalam menempatkan sraddha ini telah mengakibatkan kelemahan fisik dan kerusakan mental mereka. Dampak yang terjadi dimana mereka tidak hanya kehilangan keyakinan kepada Tuhan, tetapi juga kepada diri mereka sendiri.
-- Ch 26, Summer Showers, Juni 1979
Sebagaimana seseorang tidak dapat berkata bahwa ia akan terjun ke dalam air hanya setelah ia belajar berenang, demikian pula seseorang tidak dapat berkata bahwa ia akan memasuki kedalaman pengalaman spiritual hanya setelah memahami spiritualitas sepenuhnya.
No comments:
Post a Comment